cover
Contact Name
Didik Harnowo
Contact Email
bpalawija@gmail.com
Phone
+62341-801468
Journal Mail Official
bpalawija@gmail.com
Editorial Address
Balitkabi. Jalan Raya Kendalpayak No 8, Malang.
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Buletin Palawija
Core Subject : Agriculture,
Buletin Palawija merupakan wadah bagi para peneliti aneka kacang dan umbi untuk mendiseminasikan hasil penelitiannya dalam bentuk naskah review (tinjauan), primer dan komunikasi pendek. Naskah review dan primer mencakup berbagai disiplin ilmu, yaitu pemuliaan tanaman dan plasma nutfah, fisiologi/budidaya, perlindungan, pascapanen, dan sosial-ekonomi termasuk kebijakan pengembangan tanaman palawija. Buletin Palawija bertujuan menyajikan karya penelitian yang dapat memberikan wawasan pada dunia ilmu pengetahuan secara nasional atau international, sehinga naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Artikel yang dimuat diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap literatur teoritis, metodologis, dan/atau inovatif dalam penelitian aneka kacang dan umbi.
Articles 223 Documents
Tungau Merah (Tetranychus Urticae Koch) pada Tanaman Ubikayu dan Cara Pengendaliannya Pramudianto1) .; Kurnia Paramita Sari2
Buletin Palawija Vol 14, No 1 (2016): Buletin Palawija Vol 14 No 1, 2016
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3357.805 KB) | DOI: 10.21082/bulpa.v14n1.2016.p36-48

Abstract

Produktivitas tanaman pangan sangat rentan terhadap perubahan iklim, termasuk tanaman ubikayu yang produktivitasnya sangat ditentukan oleh fluktuasi suhu dan curah hujan. Dampak perubahan iklim pada tanaman ubikayu adalah cekaman kekeringan dan serangan hama tungau merah Tetranychus urticae Koch. Hama ini pada kondisi kering perlu diwaspadai karena banyak menyerang tanaman ubikayu. Selain itu hama tungau bersifat polifag, sehingga peluang kejadian di lapang pada kondisi kekeringan sangat besar. Pada musim kering dan pada cuaca panas, tungau merah mampu berkembang dengan cepat. Penyebaran tungau merah secara cepat melalui bantuan angin dan aktivitas manusia. Serangan yang parah dapat menyebabkan pembentukan daun dan ruas batang terhambat, serta menurunkan produksi ubikayu. Selain itu, akibat serangan berat tungau merah dapat menurunkan kuantitas dan kualitas bahan tanam (stek). Serangan tungau merah dapat menyebabkan kehilangan hasil ubikayu 60–90%, dan pada tingkat serangan yang parah dapat menyebabkan kematian tanaman ubikayu. Pengendalian tungau merah pada tanaman ubikayu dapat dilakukan melalui kultur teknis, biologis, dan kimia. Pengendalian secara kultur teknis dilakukan melalui penanaman varietas tahan, pemupukan, dan pengairan. Pengendalian secara biologis dilakukan dengan mengandalkan musuh alami (predator) antara lain: genus Amblyseius, Metaseiulus, Phytoseiulus, Stethorus, dan Orius. Pengendalian secara kimiawi dilakukan dengan aplikasi insektisida. Penanaman varietas unggul ubikayu yang toleran tungau merah dapat meminimalisir dampak serangan hama tungau merah.
PENYEBARAN VARIETAS DAN PEMANFAATAN KEDELAI SEBAGAI BAHA BAKU INDUSTRI SERTA DAYA SAING KOMODITAS DI JAWA TIMUR Heriyanto Heriyanto
Buletin Palawija No 12 (2006): Buletin Palawija No 12, 2006
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bul palawija.v0n12.2006.p43-51

Abstract

Di Jawa Timur, benih kedelai yang diminati petani adalah biji kedelai warna kekuningan atau putih-kekuningan, ukuran biji sedang sampai besar, kondisi permukaan biji mengkilat dan daya hasilnya tinggi. Dari sisi penyebaran varietas menunjukkan bahwa varietas lokal dan unggul lama (Galunggung, Malabar, Orba, dan Wilis) masih digemari petani. Sebaran varietas unggul lama (khususnya Wilis) masih relatif tinggi, akan tetapi perkembangannya saat ini juga menunjukkan bahwa varietas unggul kedelai baru dengan ukuran biji besar mulai diadopsi petani. Oleh karena itu varietas unggul baru yang mempunyai karakter biji besar perlu lebih dipromosikan kepada petani. Persyaratan kedelai yang dikehendaki untuk bahan baku tahu dan tempe ternyata memiliki kesamaan dari aspek warna kulit biji, ukuran biji, dan ketebalan kulit biji; dan kedelai yang dikehendaki sebagai bahan baku adalah biji warna kuning atau kuning-kehijauan dan ukuran biji sedang atau besar.Uji coba produk jadi tahu dan tempe, menunjukkan bahwa industri tempe memilih kedelai biji besar sebagai bahan baku dan pilihan jatuh pada varietas unggul Argomulyo dan Burangrang. Sedangkan untuk industri tahu, kedelai biji sedang sampai besar juga diminati. Sementara untuk varietas unggul kedelai biji sedang pilihannya adalah varietas Kaba, Sinabung, dan Wilis. Daya kompetitif kedelai di Jawa Timur rendah, kondisi ini ditunjukkan dengan nilai indeks kompetitifnya kurang dari satu. Estimasi produksi kedelai agar mempunyai keunggulan kompetitif adalah sekitar 2700 kg per ha atau pada tingkat produksi yang dicapai saat ini, maka tingkat harga kedelai seharusnya Rp 4250.
PENYAKIT LAYU Ralstonia solanacearum PADA KACANG TANAH DAN STRATEGI PENGENDALIAN RAMAH LINGKUNGAN Mudji Rahayu
Buletin Palawija No 24 (2012): Buletin Palawija No 24, 2012
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.003 KB) | DOI: 10.21082/bulpa.v0n24.2012.p69-81

Abstract

Bacterial wilt caused by Ralstonia solanacearumis an important disease constraint of groundnut(Arachis hypogaea L.) in tropical and subtropical allover the world. It causing yield losses of 15–35%,and may reach over 65% in groundnut susceptiblevarieties. In Indonesia, the disease have been foundin some areas in North and West Sumatra, Lampung,West Java, Central Java, East Java, Bali, North andSouth Sulawesi. The wilt symptoms can be observedthree weeks after sowing. Infection of plants resultsin rapid wilting of stems and foliage, while leavesretain their green color.There is no desirable method for chemical controlof groundnut wilt, although some bactericidesthat effective against R. solanacearum have beenidentified and available commercially. Other controlstrategy by non-chemically include resistant varieties,healthy seeds, healthy cultivation, biologicalcontrol, and botanical control have been reduced thedisease. Other disease control strategies which ereenvironment-friendly are resistant variety, and theuse of bio control agents. Resistance variety is oneof the most effective means of controlling groundnutwilt and effective to control bacterial wilt in endemicarea and this method could be adopted byfarmer easily. Biocontrol agents i.e. antagonisticbacteria Psudomonas fluorescens (Pf) isolated fromlegumes rhizosphere showed inhibited effect againstbacterial wilt R. solanacearum. The plants extractof some plants such as lemon grass and nut sedgeroots, also showed suppressive effect against bacterialwilt of groundnut.
PEMBERDAYAAN ALFISOL DENGAN ZK-PLUS UNTUK MENINGKATKAN HASIL KACANG TANAH DI INDONESIA Sudaryono Sudaryono
Buletin Palawija No 1 (2001): Buletin Palawija No 1, 2001
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1341.689 KB) | DOI: 10.21082/bul palawija.v0n1.2001.p50-58

Abstract

Alfisol atau Tanah Mediteran merupakan kelompok tanah merah yang menduduki presentase tertinggi sebagai areal kacang tanah. Bahan induk Alfisol umumnya adalah batu kapur sehingga mempunyai pewaris sifat basis yang kuat. Dari analisis dan telaah percobaan lapang pada lahan tegal Alfisol basis ternyata miskin hara P, K, Mg, Fe, Zn, dan Cu serta dapat diemukakan bahwa: (1) Pemakaian ZK-Plus dengan bahan dasar abu produk samping pabrik Etanol mempunyai dampak peningkatan kesuburan hara tanah cukup lengkap, baik hara makro maupun mikro, (2) Peningkatan status hara K tersedia hingga taraf optimum pada tebal solum 10 cm memerlukan 10 t abu ZK-Plus/ha dengan hasil kacang tanah mecapai 2,7 t polong kering/ha dan efek residunya mampu menghasilkan kedelai 1,4 t/ha yang ditanam sesudah kacang tanah, dan (3) Penigkatan status hara K di atas 20% dari K tersedia selain kurang praktis pada aplikasi bahan pupuknya juga berpengaruh kurang baik berupa proses antargonistik antar unsur hara. Penambahan hara berdasarkan status hara dalam tanah dan dihitung menurut massa tanah sebenarnya pendekatan yang realistis. Namun pendekatan sering dianggap mahal secara teknis agronomis dan ekonomis yang mengedepankan gatra budidaya tanaman bermatra satu periode tanam. Implikasi penelitian yang mempunyai target luaran reklamasi dan rehabilitasi kesuburan lahan, pendekatan perbaikan massa tanah (soil basis) akan lebih cocok, sebaliknya untuk penelitian yang mendasarkan pada peningkatan efisien dan bersifat jangka pendek pendekatan berdasarkan pertumbuhan tanaman lebih cocok. Pemanfaatan ZK-Plus pada Alfisol memiliki kelayakan teknik kimiawi tanah sehingga menigkatkan kesuburan tanah. Pemberdayaan Alfisol untuk pengembangan agribisnis kacang memerlukan kajian komprehensis.
Komponen Teknologi Budidaya Kedelai di Lahan Kering Henny Kuntyastuti; Abdullah Taufiq
Buletin Palawija No 16 (2008): Buletin Palawija No 16, 2008
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (77.492 KB) | DOI: 10.21082/bul palawija.v0n16.2008.p1-17

Abstract

Sebagian besar kedelai di Indonesia diusahakan di lahan sawah. Hingga saat ini produksi kedelai belum bisa mencukupi kebutuhan domestik sehingga diperlukan peningkatan produksi. Perluasan areal ke lahan kering merupakan salah satu strategi untuk meningkatkan produksi kedelai. Tingkat kesuburan dan karakteristik lahan kering sangat beragam, dan oleh karenanya pengembangan kedelai ke lahan kering dihadapkan pada beragam masalah. Penelitian komponen teknologi budidaya kedelai di lahan kering masih belum seintensif di lahan sawah. Dalam makalah ini dibahas beberapa alternatif peningkatan produktivitas kedelai pada lahan kering dari aspek varietas, pengaturan jarak tanam, dan pengelolaan pemupukan. Informasi tersebut diharapkan dapat dijadikan acuan penelitian lebih lanjut dan pengelolaan kedelai di lahan kering.
Evaluasi Mutu Tahu dari Beberapa Varietas Unggul Kedelai dibuat oleh Beberapa Pengrajin Alvi Yani; Joko Susilo Utomo
Buletin Palawija Vol 17, No 1 (2019): Buletin Palawija Vol 17 no 1, 2019
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (157.112 KB) | DOI: 10.21082/bulpa.v17n1.2019.p21-29

Abstract

Varietas unggul kedelai nasional berpeluang besar sebagai bahan baku tahu yang sudah menjadi menu harian bagi penduduk Indonesia. Peningkatan produksi kedelai dalam negeri memerlukan informasi kesesuaian penggunaannya. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai kualitas tahu yang dibuat oleh pengrajin dari berbagai varietas unggul kedelai. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus – November 2016 di Kelurahan Gunung Sulah, Kecamatan Way Halim, Bandar Lampung yang merupakan sentra pengrajin tahu dan tempe. Penelitian disusun menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan perlakuan empat varietas kedelai: Anjasmoro, Grobogan, Argomulyo, dan Gepak Kuning, serta kedelai impor sebagai pembanding dan empat pengrajin sebagai ulangan. Analisis mutu tahu meliputi karakter fisik, kimia dan uji organoleptik yang melibatkan 25 orang panelis. Varietas/jenis kedelai tidak berpengaruh terhadap sifat fisiko-kimia tahu (rendemen, kekerasan, warna, kadar air, protein, lemak, karbohidrat, abu, serat kasar). Hal ini disebabkan oleh bervariasinya teknik atau kondisi pengolahan tahu oleh masing-masing pengrajin, meskipun tahap pengolahannya sama. Secara keseluruhan, sifat sensoris tahu dari varietas unggul kedelai disukai oleh panelis. Tidak ada perbedaan tingkat kesukaan aroma tahu mentah antara varietas unggul kedelai dengan kedelai impor, tetapi untuk parameter lainnya seperti warna, tekstur, dan penampilan tahu mentah, Varietas Argomulyo, Anjasmoro dan Gepak Kuning memberikan nilai kesukaan yang lebih tinggi. Untuk tahu rebus, Varietas Argomulyo dan Anjasmoro memberikan nilai kesukaan tertinggi dari semua kriteria organoleptik yang diujikan.
TANGGAP TANAMAN KACANG TANAH TERHADAP PEMBERIAN AMELIORAN PADA TANAH SALIN Afandi Kristiono; Sri Wahyuningsih; Abdullah Taufiq
Buletin Palawija Vol 13, No 1 (2015): Buletin Palawija Vol 13 No 1, 2015
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (114.589 KB) | DOI: 10.21082/bulpa.v13n1.2015.p55-63

Abstract

Ameliorasi adalah salah satu cara untuk mengatasi masalah salinitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ameliorasi terhadappertumbuhan dan hasil kacang tanah pada tanah salin. Penelitian dilaksanakan di rumah kaca Balitkabi pada bulan Maret – Juni 2014. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok faktorial. Faktor I adalah dua tingkat salinitas tanah (tanah dengan DHL 2,0–2,3 dS/m dan DHL 2,8–3,2 dS/m). Faktor II adalah pemberian amelioran (kontrol, 120 kg K2O/ha, 2,5 t/ha dolomit, 2,5 t/ha gipsum, 2,5 t/ha pupuk kandang). Varietas kacang tanah yang digunakan adalah Domba (tipe Valencia). Peubah yang diamati meliputi tinggi tanaman, bobot kering tajuk dan akar, indeks kandungan klorofil, hasil dan komponen hasil, analisis tanah sebelum tanam dan sesudah panen serta analisis tanaman saat panen. Hasil penelitian menunjukkan pertumbuhan kacang tanah terhambat dan gagal membentuk polong meskipun pada perlakuan salinitas rendah (2,0–2,3 dS/m). Pemberian amelioran 120 kg/ha K2O, dolomit, gipsum, dan pupuk kandang dengan dosis 2,5 t/ha meningkatkan kandungan hara K, Ca, dan Mg serta memperbaiki keseimbangan K/Na, Ca/Na, dan Mg/Na, tetapi tidak efektif memperbaiki pertumbuhan dan hasil kacang tanah. Berdasarkan data tersebut, tampaknya diperlukan pencucian garam di daerah perakaran untuk menurunkan tingkat salinitas agar sesuai untuk pertumbuhan tanaman.
ANTIXENOSIS MORFOLOGIS SALAH SATU FAKTOR KETAHANAN KEDELAI TERHADAP HAMA PEMAKAN POLONG Suharsono, Suharsono
Buletin Palawija No 11 (2006): Buletin Palawija No 11, 2006
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (37.115 KB) | DOI: 10.21082/bul palawija.v0n11.2006.p29-34

Abstract

Antixenosis, anitibiosis, dan toleran adalah perwujudan sifat ketahanan tanaman terhadap hama. Ketiga sistem tersebut dapat bekerja secara bersama-sama atau secara tersendiri tergantung kepada jenis hama dan jenis tanaman. Ketiga sistem tersebut dapat diekspresikan dalam bentuk morfologi misalnya adanya trikoma yang panjang, kaku, rapat dengan struktur yang tidak beraturan, kulit permukaan daun, batang dan polong yang tebal dan keras. Secara kimiawi diwujudkan oleh adanya senyawa yang beracun, atau senyawa yang mempengaruhi perilaku serangga hama untuk menemukan inangnya. Pada tanaman kedelai dapat ditemukan berbagai karakter morfologi yang tersebar di seluruh permukaan daun, batang, dan polong yang beragam menurut varietas atau jenis kedelai. Karakter-karakter tersebut merupakan ciri fenotipik yang dimiliki oleh masing-masing jenis kedelai, dan karakter fenotipik tersebut terbukti mempunyai sumbangan yang sangat berarti bagi sistem pertahanan kedelai terhadap hama pemakan polong kedelai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketahanan kedelai terhadap hama pengisap polong Riptortus linearis dipengaruhi oleh ketebalan kulit polong dan kerapatan trikoma. Trikoma yang rapat dan panjang mengurangi banyaknya luka tusukan stilet pengisap polong. Banyaknya luka tusukan stilet pada biji galur-galur IAC-100, dan IAC-80-596-2 sejumlah 3–6 luka tusukan lebih rendah daripada luka tusukan stilet pada varietas Wilis yang menderita luka tusukan stilet lebih tinggi, yaitu 10–15 luka tusukan. Selain itu karakter trikoma tersebut juga berpengaruh terhadap preferensi peneluran hama penggerek polong Etiella zinckenella. Hubungan antara karakteristik trikoma polong dengan peneluran hama penggerek polong Etiella zinckenella menunjukkan bahwa peletakan telur dipengaruhi oleh adanya trikoma. Pada varietas Wilis dengan kerapatan trikoma 5–11/mm 2 , jumlah telur penggerek polong yang diletakkan/ tanaman mencapai 98,3 butir, sedangkan pada galur IAC-100 dan IAC-80-596-2 dengan kerapatan trikoma 15–20/mm 2 telur yang diletakkan berkisar antara 3–5 telur/tanaman. Hal ini juga tercermin dari kerusakan polong yang ditimbulkan. Berdasarkan hasil serangkaian penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwa antixenosis terhadap hama pengisap dan penggerek polong kedelai terdapat pada galur IAC-100 dan IAC-80-596-2, yang selanjutnya dapat dipakai sebagai tetua untuk membentuk varietas tahan terhadap kedua hama tersebut. 
STATUS DAN PROSPEK PENERAPAN ALAT PENGERING DI TINGKAT PENANGKAR BENIH KEDELAI Patriyawaty, N.R.; Tastra, I.K.
Buletin Palawija No 22 (2011): Buletin Palawija No 22, 2011
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (870.111 KB) | DOI: 10.21082/bulpa.v0n22.2011.p96-106

Abstract

Penangkar benih mempunyai nilai strategis dalam memenuhi kebutuhan benih kedelai nasional (33.000– 64.000 ton/tahun) guna mendukung sasaran program swasembada kedelai tahun 2014. Upaya pengadaan benih yang dilakukan penangkar benih adalah dengan cara membeli dari petani kooperator yang menjadi kelompok dari penangkar benih kedelai sistem Jabalsim (Jalur benih antar lapang dan musim). Salah satu kendala penangkar benih kedelai yang aktif dalam sistem Jabalsim adalah adanya sebagian panen kedelai (29,9%) jatuh pada musim hujan, sehingga mutu benihnya rendah akibat keterlambatan pengeringan. Saat ini sistem penjualan jasa pengeringan belum berkembang dibandingkan penjualan jasa perontokan, karena harga mesinnya relatif mahal dibandingkan dengan mesin perontok. Untuk itu perlu inovasi pengeringan yang semakin terjangkau penjual alsintan atau penangkar benih kedelai dan petani koperatornya. Dalam kondisi kecilnya akses teknologi pengeringan bagi petani kedelai skala kecil (pemilikan lahan 0,25–0,5 ha), pengeringan kedelai brangkasan tipe rak yang disinergikan dengan ataupun tanpa unit penjualan jasa energi pengering mempunyai prospek diterapkan di tingkat petani koperator penangkar benih hingga kadar air siap rontok (18–20 % bb). Berdasarkan beberapa pilihan alat pengering yang ada saat ini, alat pengering tipe bak model Balitkabi dengan sumber energi gas LPG lebih prospektif diterapkan di tingkat penangkar benih kedelai. Untuk dapat mengeringkan biji/benih kedelai dari petani koperator dari kadar air 18–20 % bb hingga 11% bb mutu benih yang dihasilkan masih memenuhi standar benih sebar (daya tumbuh minimum 70% bb).
Pemberdayaan Alfisol untuk Pengembangan Sentra Area Tanam dan Agribisnis Kacang Tanah di Indonesia Sudaryono Sudaryono
Buletin Palawija No 4 (2002): Buletin Palawija No 4, 2002
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bul palawija.v0n4.2002.p84-99

Abstract

Alfisol atau tanah Mediteran merupakan kelompok tanah merah yang menduduki persentase tertinggi sebagai areal kacang tanah. Bahan induk Alfisol umumnya adalah batu kapur sehingga mempunyai pewaris sifat basis yang kuat. Hasil telaah percobaan di rumah kaca maupun lapangan, lahan Alfisol memiliki potensi persoalan miskin hara P, K, S, Mg, Fe, Zn dan Cu, nir-imbang (inbalance) K/Ca+Mg, dan miskin bahan organik tanah. Sumber daya lahan Alfisol merupakan kimah (asset) yang besar untuk pengembangan agribisnis kacang tanah atau tanaman pangan pada umumnya. Komponen teknologi budidaya kacang tanah pada Alfisol dapat dirakit secara lengkap (utuh). Komponen teknologi pokok budidaya kacang tanah yang perlu mendapat perhatian meliputi : (1) Kebutuhan air optimal kacang tanah adalah 400 mm/musim tanam, (2) Tambahan N untuk pertumbuhan awal kacang tanah adalah 20–35 kg N/ha, (3) Tambahan pupuk P sebesar 50 kg P 2 O 5 /ha. P-alam merupakan sumber alternatif yang efektif dan ekonomis, (4) Tambahan pupuk K sekitar 25–50 kg K 2 O/ha. ZK-Plus merupakan sumber K alternatif yang efektif dan ekonomis, (5) Alfisol basis tanggap terhadap pemupukan S. Takaran 100 kg ZA/ha atau 100 kg S elementer/ha cukup efektif untuk memperbaiki keharaan S dan pH tanah, (6) Ada peluang peningkatan hasil kacang tanah melalui PPC daun dikombinasikan dengan ajuvan (perata dan perekat), dan (7) Pemakaian 20 t pupuk kandang/ha pada Alfisol marginal memiliki pengaruh nyata terhadap peningkatan hasil kacang tanah. Pemanfaatan Alfisol sebagai sentral area tanam kacang tanah memiliki kelayakan teknis dan perspektif agribisnis yang kuat. Agribisnis kacang tanah memiliki spektrum agroindustri hulu yang luas.

Page 9 of 23 | Total Record : 223


Filter by Year

2001 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 1 (2022): Buletin Palawija Vol 20 No 1, 2022 Vol 19, No 2 (2021): Buletin Palawija Vol 19 No 2, 2021 Vol 19, No 1 (2021): Buletin Palawija Vol 19 No 1, 2021 Vol 18, No 2 (2020): Buletin Palawija Vol 18 No 2, 2020 Vol 18, No 1 (2020): Buletin Palawija Vol 18 No 1, 2020 Vol 17, No 2 (2019): Buletin Palawija Vol 17 no 2, 2019 Vol 17, No 1 (2019): Buletin Palawija Vol 17 no 1, 2019 Vol 16, No 2 (2018): Buletin Palawija Vol 16 no 2, 2018 Vol 16, No 1 (2018): Buletin Palawija Vol 16 No 1, 2018 Vol 15, No 2 (2017): Buletin Palawija Vol 15 No 2, 2017 Vol 15, No 1 (2017): Buletin Palawija Vol 15 No 1, 2017 Vol 14, No 2 (2016): Buletin Palawija Vol 14 No 2, 2016 Vol 14, No 1 (2016): Buletin Palawija Vol 14 No 1, 2016 Vol 13, No 1 (2015): Buletin Palawija Vol 13 No 1, 2015 No 29 (2015): Buletin Palawija No 29, 2015 No 28 (2014): Buletin Palawija No 28, 2014 No 27 (2014): Buletin Palawija No 27, 2014 No 26 (2013): Buletin Palawija No 26, 2013 No 25 (2013): Buletin Palawija No 25, 2012 No 24 (2012): Buletin Palawija No 24, 2012 No 23 (2012): Buletin Palawija No 23, 2012 No 22 (2011): Buletin Palawija No 22, 2011 No 21 (2011): Buletin Palawija No 21, 2011 No 20 (2010): Buletin Palawija No 20, 2010 No 19 (2010): Buletin Palawija No 19, 2010 No 18 (2009): Buletin Palawija No 18, 2010 No 17 (2009): Buletin Palawija No 17, 2009 No 16 (2008): Buletin Palawija No 16, 2008 No 15 (2008): Buletin Palawija No 15, 2008 No 14 (2007): Buletin Palawija No 14, 2007 No 13 (2007): Buletin Palawija No 13, 2007 No 12 (2006): Buletin Palawija No 12, 2006 No 11 (2006): Buletin Palawija No 11, 2006 No 10 (2005): Buletin Palawija No 10, 2005 No 9 (2005): Buletin Palawija No 9, 2005 No 7-8 (2004): Buletin Palawija No 7-8, 2004 No 5-6 (2003): Buletin Palawija No 5 & 6, 2003 No 4 (2002): Buletin Palawija No 4, 2002 No 3 (2002): Buletin Palawija No 3, 2002 No 2 (2001): Buletin Palawija No 2, 2001 No 1 (2001): Buletin Palawija No 1, 2001 More Issue