cover
Contact Name
Sugeng Nugroho
Contact Email
stagaw.kototabang@bmkg.go.id
Phone
+62752-7446089
Journal Mail Official
megasains@gawbkt.id
Editorial Address
Jalan Raya Bukittinggi - Medan KM.17 Palupuh, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat 26151
Location
Kab. agam,
Sumatera barat
INDONESIA
Megasains
ISSN : 20865589     EISSN : 27232239     DOI : https://doi.org/10.46824/megasains
Core Subject : Science,
Buletin MEGASAINS diterbitkan oleh Stasiun Pemantau Atmosfer Global (GAW) Bukit Kototobang sebagai media apresiasi Karya Tulis Ilmiah (KTI) yang bersumber dari kegiatan penelitian berbasis ilmu-ilmu meteorologi, klimatologi, kualitas udara, dan geofisika (MKKuG), serta lingkungan.
Articles 214 Documents
Studi Variasi Spasial Parameter Seismotektonik Untuk Mengetahui Kondisi Stress Lokal Tektonik dan Tingkat Keaktifan Kegempaan Di Wilayah Sumatera Barat dan Sekitarnya Furqon Dawam Raharjo
Megasains Vol 7 No 2 (2016): Vol 7 No 2 (2016)
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46824/megasains.v7i2.199

Abstract

Variasi spasial parameter seismotektonik. a dan b value dapat menggambarkan kondisi stress tektonik dan tingkat keaktifan seimik disuatu wilayah. a dan b value merupakan tingkat aktivitas seismik dan karakterisitik seismotektonik di suatu wilayah. a value yang rendah mencerminkan tingkat keaktifan kegempaan yang rendah dan sebaliknya pada a value yang tinggi, sedangkan b value yang rendah dapat menggambarkan kondisi stress lokal tektonik yang tinggi dan sebalikanya pada b value tinggi. Pada studi ini, menggunakan katalog dari BMKG dan NEIC/USGS periode observasi 1 januari 1973 – 31 desember 2010 dengan batas koordinat 2 LU – 4 LS dan 94 BT – 104 BT meliputi wilayah Sumatera Barat dan sekitarnya. Untuk menentukan variasi spasial parameter seismotektonik menggunakan software ZMAP (Wiemer and Wyss, 2002). Dari analisis didapatkan variasi spasial b-value berkisar 0.6 – 2.0 dan nilai a- value berkisar 4 – 11. Kondisi stress lokal yang tinggi (low b-value) teramati disekitar Kep.Mentawai, pulau Nias bagian selatan dan disepanjang bukit barisan Sumatera Barat dan kondisi stress lokal yang rendah (high b- value) teramati dibagian barat-barat laut pulau Nias dan disepanjang bukit barisan Sumatera bagian utara. Sedangkan tingkat keaktifan kegempaan yang rendah terjadi di kep.Mentawai dan tingkat keaktifan kegempaan yang tinggi terjadi di barat-barat laut pulau Nias dan disepanjang bukit barisan Sumatera bagian utara
Kajian Klimatologis Banjir Kilat (Flash Flood) Singkawang Tanggal 21-22 Mei 2016 Firsta Zukhrufiana Setiawati; Wandayantolis
Megasains Vol 7 No 2 (2016): Vol 7 No 2 (2016)
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46824/megasains.v7i2.200

Abstract

Publikasi beberapa media lokal provinsi Kalimantan Barat menyebutkan bahwa tanggal 21-22 Mei 2016 di kota Singkawang terjadi banjir akibat jebolnya tanggul Semelagi. Hujan lebat disinyalir menjadi penyebab meningkatnya debit air daerah aliran sungai Semelagi, sehingga mengakibatkan tanggul jebol. Kejadian banjir ini dikabarkan merendam pemukiman warga di desa Semelagi Kecil seluas 1724 Ha, juga mengakibatkan terganggunya akses transportasi antar kabupaten/ kota. Penelitian ini dilakukan guna mengetahui tipe banjir di Singkawang tanggal 21-22 Mei 2016, berikut faktor penyebabnya. Untuk menelaah kejadian ini, penulis melakukan penelitian klimatologis dengan menggunakan data curah hujan pada 8 lokasi di tiga kabupaten yaitu kabupaten Sambas (Selakau, Salatiga); kabupaten Bengkayang (Ledo, Sanggau Ledo, Sei Duri) dan kota Singkawang (Singkawang Barat, Singkawang Tengah, Singkawang Timur). Data yang digunakan adalah data 3 hari yaitu tanggal 21, 22, 23 Mei 2016. Penelitian ini disusun dengan menggunakan metode studi kasus dan pendekatan kualitatif dengan mempertimbangkan topografi. Diketahui hujan lebat lebih dari 50 mm/hari yang terjadi di hampir seluruh lokasi data mengakibatkan peningkatan debit air di daerah aliran sungai Semelagi mengingat wilayah Semelagi merupakan wilayah yang memiliki elevasi paling rendah, sehingga diasumsikan menerima air limpahan dari wilayah sekitarnya. Hujan lebat disinyalir merupakan akibat dari kondisi dinamika atmosfer yang cukup mendukung, seperti OLR semakin rendah, SOI memasuki La Nina, kondisi perawanan yang mendukung dan meningkatnya anomali curah hujan di wilayah kejadian. Dan akhirnya diketahui bahwa banjir di Singkawang ini tergolong Flash Flood atau banjir kilat. Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat dijadikan perhatian bagi masyarakat, terutama masyarakat yang membangun pemukiman di daerah bantaran sungai
Simulasi DYMEX untuk Pendugaan Potensi Resiko Kehilangan Hasil oleh Hama Penggerek Batang Padi Kuning di Indramayu Eva Nurhayati
Megasains Vol 7 No 2 (2016): Vol 7 No 2 (2016)
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46824/megasains.v7i2.201

Abstract

Penggerek Batang Padi Kuning (PBK) merupakan salah satu hama utama pada tanaman padi yang memiliki intensitas serangan cukup tinggi pada areal sentra produksi padi, khususnya di wilayah Jawa Barat. Iklim merupakan salah satu faktor eksternal lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap pola dinamika populasinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan sistem informasi iklim melalui simulasi model DYMEX dalam rangka mengurangi tingkat resiko kehilangan hasil produksi padi oleh serangan hama PBK di wilayah Indramayu, Jawa Barat. Pendugaan resiko kehilangan hasil dapat diprediksi dari hasil pemodelan dinamika populasi hama PBK dengan membutuhkan input paramater iklim dan suhu ambang bawah perkembangan (To) untuk menggambarkan siklus hidup PBK dari tahap telur, larva, pupa hingga dewasa (imago). Uji kalibrasi dan validasi model menunjukkan adanya nilai koefisien determinasi (R2) antara hasil prediksi model dan observasi pada wilayah kajian yang baik sehingga dapat menggambarkan perkembangan, mortalitas, transfer individu dari satu tahap ke tahap kehidupan selanjutnya serta fekunditas dan reproduksi PBK. Informasi iklim yang dapat diberikan dari data keluaran model menunjukkan perkembangan fase imago akan lebih cepat bereproduksi pada kondisi suhu tinggi dan rendahnya intensitas curah hujan sehingga dapat memicu laju perkembangan larva yang dapat merusak tanaman padi pada berbagai stadia. Dengan demikian, potensi kehilangan hasil padi dapat diduga dengan baik melalui pemodelan dinamika populasi PBK
Pengaruh El Niño Dan La Niña Terhadap Curah Hujan Di Biak Selama 30 Tahun (1981-2010) Prayoga Ismail
Megasains Vol 7 No 2 (2016): Vol 7 No 2 (2016)
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46824/megasains.v7i2.202

Abstract

ENSO (El Niño-Southern Oscillation) merupakan anomali memanas atau mendinginnya suhu permukaan laut yang terjadi di Samudera Pasifik ekuatorial. ENSO memiliki dua fase: El Niño dan La Niña. Penelitian tentang pengaruh aktivitas ENSO selama periode 1981-2010 ini difokuskan di wilayah Biak yang memiliki tipe curah hujan ekuatorial. Data curah hujan bulanan Biak selama periode 1981-2010 adalah hasil observasi Stasiun Meteorologi Frans Kaisiepo Biak. Aktivitas ENSO dan telekoneksinya terhadap variabilitas curah hujan bulanan di wilayah tersebut telah dikaji dengan analisis respon curah hujan bulanan terkait aktivitas ENSO melalui perbandingan curah hujan bulanan normal dan komposit kejadian ENSO. Pada saat aktivitas El Niño, curah hujan bulanan Biak cenderung mengalami penurunan hingga mencapai 42,55% yaitu terjadi pada bulan Oktober. Aktivitas La Niña cenderung memberikan pengaruh positif terhadap curah hujan bulanan Biak hingga mencapai 54,27% yang terjadi pada bulan September. Pengaruh El Niño dan La Niña paling besar terhadap curah hujan musiman terjadi pada bulan SON atau musim transisi dari musim kemarau ke musim penghujan. Analisis korelasi antara curah hujan bulanan Biak dengan indeks Niño 3.4 selama periode 1981-2010 mengungkap bahwa aktivitas ENSO secara umum memberikan pengaruh negatif terhadap curah hujan bulanan Biak dengan koefisien korelasi tertinggi terjadi pada bulan Oktober yang mencapai -0,55. Angka ini mengindikasikan korelasi antara kedua variabel cukup kuat
Jeda hujan (dry spell) dan curah hujan berbasis probabilitas pada tipologi lahan kering di Lombok Mahrup
Megasains Vol 7 No 1 (2016): Vol 7 No 1 (2016)
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46824/megasains.v7i1.204

Abstract

Jeda hujan (dry spell) dan probabilitas curah hujan sangat esensial bagi pertanian tadah hujan, dan lahan kering. Kedua parameter tersebut sebagai indikator penting status kekeringan dan memiliki relevansi dengan resiko tanaman di daerah tipologi lahan kering. Tujuan penelitian untuk mengetahui durasi jeda hujan (dry spell) dan curah hujan berbasis probabilitas di daerah tipe iklim D dan E Lombok bagian selatan. Penelitan Deskriptif telah dilakukan pada tahun 2014 dengan mengumpulkan data curah hujan harian dari 13 stasiun curah hujan yang ditetapkan secara “‘purposive sampling” mewakili daerah Lombok bagian selatan. Sifat bersyarat atas kejadian hari hujan atau hari tanpa hujan dianalisis menggunakan model rantai Markov level satu, menggunakan data curah hujan harian 16 tahun. Probabilitas curah hujan ditetapkan menggunakan rumus transformasi guna memenuhi sifat distribusi kurva normal. Penilaian tingkat kekeringan musim tanam dilakukan berbasis nilai indeks presipitasi standar (Standarized Precipitation Index, SPI) menggunakan data curah hujan musim tanam rentang 30 tahun. Hasil penelitain menunjukkan, bahwa jeda hujan dan curah hujan berbasis probabiltitas bervariasi secara spasial, dan temporal serta dipengaruhi oleh variasi indeks presipitasi standar; jeda hujan semakin ke timur lebih panjang, dan curah hujan berkurang. Jeda hujan bersifat parabolik; selalu lebih panjang pada awal (Nopember) dan akhir musim tanam (April), dan relatif pendek di antaranya. Jeda hujan pada SPI-Negatif lebih panjang daripada SPI-Positif. Sifat musim tanam mengarah ke sifat kering dengan harkat agak kering
Pemanfaatan citra satelit Landsat 5 untuk menganalisis kejadian longsor Mei 2008 di Desa Paya Ateuk - Aceh Selatan Eko Cahyo Pristiwantoro
Megasains Vol 7 No 1 (2016): Vol 7 No 1 (2016)
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46824/megasains.v7i1.205

Abstract

Tulisan ini membahas penggunaan citra satelit landsat 5 multitemporal untuk menganalisis perubahan lahan akibat kejadian longsor di Paya Ateuk Aceh Selatan pada Mei 2008. Citra satelit yang di gunakan adalah citra tahun 2007 dan 2009. Metode change vector analisis (CVA) dan image differencing dengan analisis komponen utama kehijaua, kecerahan dan kebasahan dan komponen indeks vegetasi NDVI, BI dan NDWI di gunakan dalam jurnal ini. Diketahui bahwa perubahan lahan akibat longsor bisa di deteksi menggunakan metode CVA dan image differencing, metode CVA dapat digunakan untuk stratifikasi berbagai jenis perubahan tutupan lahan akibat tanah longsor. Menggunakan klasifikasi multispektral komponen NDVI diketahui bahwa luas lahan terbuka akibat longsor adalah 1.170 m2, yaitu dengan panjang longsoran 1.823 m, pada slope ata kemiringan lahan 25-40% hingga >40 %
Seismic Gap di Sesar Geser Sumatera Telly Kurniawan
Megasains Vol 7 No 1 (2016): Vol 7 No 1 (2016)
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46824/megasains.v7i1.206

Abstract

Sumatera mempunyai sistem tektonik yang menarik untuk dikaji, karena terdapat sistem subduksi yang mengakibatkan dibawah daratan Sumatera terdapat 19 segmen patahan yang memanjang mulai dari Banda Aceh hingga ke Selat Sunda. Tujuan penelitian ini adalah menentukan nilai aktivitas seismik (a) dan nilai kerapuhan batuan (b) pada setiap segmen sepanjang sesar sumatera, dengan menggunakan metode Gutenberg-Richter pada database gempabumi BMKG dan ISC (International Seismological Center) dari mulai 01-01-1964 sampai 31-05-2012. Segmen Barumun dan Segmen Aceh mempunyai nilai a = 4.809 dan 4.770, paling tinggi dibanding segmen lainnya dibawah daratan Sumatra ini, nilai a paling tinggi ini berarti Segmen Barumun dan Segmen Aceh mempunyai tingkat aktifitas seismik paling tinggi, sedangkan Segmen Sumpur dan Sianok di Sumatera Barat mempunyai nilai b yang rendah yaitu 0.237 dan 0.382. Rendahnya nilai b tergambar jelas dengan adanya zona seismic gap di wilayah ini. Nilai b terendah ini berarti nilai kerapuhannya paling kecil sehingga mempunyai elastisitas yang cukup tinggi dan mampu menyimpan stress yang besar, sebelum akhirnya dilepaskan sebagai gempabumi. Jadi Segmen Sumpur dan Sianok merupakan segmen yang perlu diwaspadai, karena batuan pada segmen ini bisa sewaktu-waktu mempunyai potensi gempa dengan kekuatan yang sangat besar. Pengambilan lokasi penelitian pada setiap segmen sesar Sumatera dikarenakan wilayah ini merupakan Megathrust dan dipermukaannya sudah banyak pemukiman, sehingga diharapkan dengan mengetahui lokasi yang mempunyai aktifitas seismik yang tinggi dan nilai kerapuhan batuan yang rendah, dapat dijadikan rujukan untuk keperluan mitigasi diwilayah tersebut
Penentuan normal musim hujan di Indonesia berdasarkan frekuensi curah hujan dasarian Wandayantolis
Megasains Vol 7 No 1 (2016): Vol 7 No 1 (2016)
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46824/megasains.v7i1.207

Abstract

Umumnya klimatologis menganggap bahwa penyusunan normal iklim cukup dengan merata-ratakan data dalam periode minimal 30 tahun. Konsep merata-ratakan data juga diterapkan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dalam menyusun normal musim yang diperoleh dengan merata-ratakan curah hujan pada masing-masing dasarian (10 hari) dalam periode 30 tahun. Melalui kajian ini disajikan penentuan normal musim dengan menghitung frekuensi terjadinya curah hujan total 50mm dalam masing-masing dasarian. Hasilnya kemudian dibandingkan dengan normal musim yang dihitung dengan cara merata-ratakan curah hujan. Secara umum pada kajian ini disimpulkan bahwa dengan menggunakan distribusi frekuensi “central tendency” atau pusat kejadian dari penentuan normal musim terlihat lebih jelas periodesasinya, normal musim yang dihitung dengan cara frekuensi memberikan deviasi yang lebih kecil terhadap awal musim aktual dan panjang musim kemarau menghasilkan periode yang lebih panjang setiap tahunnya dibandingkan dengan cara rata-rata
Proyeksi model WRF-Chem kualitas udara dan kondisi atmosfer di Sumatera Barat Ramadhan Nurpambudi
Megasains Vol 7 No 1 (2016): Vol 7 No 1 (2016)
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46824/megasains.v7i1.208

Abstract

WRF-Chem adalah bentuk model WRF (Weather Research and Forecasting) yang dikombinasikan dengan perhitungan kimia yang digunakan untuk menyimulasikan emisi, transpor, percampuran, dan transformasi dari gas dan aerosol secara meteorologis. Penelitian ini menggunakan parameterisasi PBL10 (TEMF Scheme) dan PBL99 (MFR Scheme) yang kemudian dibandingkan dengan data observasi dari Stasiun Meteorologi Tabing Padang untuk data kecepatan angin dan dari GAW Kototabang untuk data karbon monoksida. Hasil yang didapat adalah parameter PBL yang paling mendekati keadaan sebenarnya untuk pengukuran kecepatan angin adalah PBL99 (TEMF Scheme). Walaupun begitu, masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai pemodelan di daerah Padang
Pengukuran radiasi matahari UVB di Bukit Kototabang periode Januari-Desember 2015 Yosfi Andri
Megasains Vol 7 No 1 (2016): Vol 7 No 1 (2016)
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46824/megasains.v7i1.209

Abstract

Pengamatan fluks Radiasi Matahari UVB permukaan bumi merupakan salah satu program pengukuran yang dilakukan di Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang. Stasiun ini telah mengoperasikan pengukuran radiometer UVB untuk melakukan monitoring. Hasil pengukuran untuk periode tahun 2015 memperlihatkan variasi diurnal radiasi UVB mencapai maksimum pada sekitar pukul 12.00 WIB, dengan intensitas sebesar 5,5 Wm-2. Sementara itu untuk variasi hariannya, kondisi maksimum terjadi pada tanggal 20 Februari 2015 sedangkan nilai minimum pada tanggal 18 Februari 2015. Untuk variasi bulanan, nilai tertinggi UVB terjadi di bulan November sementara nilai minimum di bulan Oktober. Nilai Radiasi Matahari UVB memiliki korelasi linier positif dengan Radiasi Matahari Global

Page 11 of 22 | Total Record : 214


Filter by Year

2013 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 15 No 1 (2024): Megasains Vol. 15 No. 1 Tahun 2024 Vol 14 No 2 (2023): Megasains Vol.14 No.2 Tahun 2023 Vol 14 No 2 (2023): Megasains Vol. 14 No. 2 Tahun 2023 Vol 14 No 1 (2023): Megasains Vol.14 No.1Tahun 2023 Vol 13 No 2 (2022): Megasains Vol.13 No.02 Tahun 2022 Vol 13 No 1 (2022): Megasains Vol.13 No.1 Tahun 2022 Vol 12 No 2 (2021): Megasains Vol. 12 No. 2 Tahun 2021 Vol 12 No 2 (2021): Megasains Vol.12 No.2 Tahun 2021 Vol 12 No 1 (2021): Megasains Vol.12 No.1 Tahun 2021 Vol 11 No 01 (2020): Megasains Vol 11 No.01 Tahun 2020 Vol 11 No 2 (2020): Megasains Vol.11 No.2 Tahun 2020 Vol 11 No 2 (2020): Megasains Vol. 11 No. 2 Tahun 2020 Vol 11 No 1 (2020): Megasains Vol 11 No.1 Tahun 2020 Vol 11 No 1 (2020): Megasains Vol. 11 No.1 Tahun 2020 Vol 10 No 02 (2019): Megasains Vol.10 No.02 Tahun 2019 Vol 10 No 2 (2019): Megasains Vol. 10 No. 2 Tahun 2019 Vol 10 No 2 (2019): Vol 10 No 2 (2019) Vol 10 No 1 (2019): Vol 10 No 1 (2019) Vol 10 No 1 (2019): Megasains Vol. 10 No. 1 Tahun 2019 Vol 9 No 1 (2018): Megasains Vol. 9 No. 1 Tahun 2018 Vol 9 No 1 (2018): Vol 9 No 1 (2018) Vol 8 No 1 (2017): Vol 8 No 1 (2017) Vol 8 No 1 (2017): Megasains Vol. 8 No. 1 Tahun 2017 Vol 7 No 3 (2016): Vol 7 No 3 (2016) Vol 7 No 3 (2016): Megasains Vol. 7 No. 3 Tahun 2016 Vol 7 No 2 (2016): Megasains Vol. 7 No. 2 Tahun 2016 Vol 7 No 2 (2016): Vol 7 No 2 (2016) Vol 7 No 1 (2016): Vol 7 No 1 (2016) Vol 7 No 1 (2016): Megasains Vol. 7 No.1 Tahun 2016 Vol 6 No 3 (2015): Vol 6 No 3 (2015) Vol 6 No 3 (2015): Megasains Vol. 6 No.3 Tahun 2015 Vol 6 No 1 (2015): Vol 6 No 1 (2019) Vol 6 No 1 (2015): Megasains Vol. 6 No.1 Tahun 2015 Vol 4 No 3 (2013): Vol 4 No 3 (2013) Vol 4 No 3 (2013): Megasains Vol. 4 No.3 Tahun 2013 More Issue