cover
Contact Name
Sugeng Nugroho
Contact Email
stagaw.kototabang@bmkg.go.id
Phone
+62752-7446089
Journal Mail Official
megasains@gawbkt.id
Editorial Address
Jalan Raya Bukittinggi - Medan KM.17 Palupuh, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat 26151
Location
Kab. agam,
Sumatera barat
INDONESIA
Megasains
ISSN : 20865589     EISSN : 27232239     DOI : https://doi.org/10.46824/megasains
Core Subject : Science,
Buletin MEGASAINS diterbitkan oleh Stasiun Pemantau Atmosfer Global (GAW) Bukit Kototobang sebagai media apresiasi Karya Tulis Ilmiah (KTI) yang bersumber dari kegiatan penelitian berbasis ilmu-ilmu meteorologi, klimatologi, kualitas udara, dan geofisika (MKKuG), serta lingkungan.
Articles 214 Documents
DAMPAK PERUBAHAN IKLIM TERHADAP KEKERINGAN METEOROLOGIS DAN KESESUAIAN AGROKLIMAT JAGUNG DI PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT Nuga Putrantijo
Megasains Vol 6 No 1 (2015): Vol 6 No 1 (2019)
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46824/vbe49h31

Abstract

Perubahan iklim diprediksi berdampak pada kekeringan dan kesesuaian agroklimat berbagai tanaman pangan termasuk jagung yang merupakan komoditas unggulan di Nusa Tengara Barat (NTB). Namun penelitian tentang hal ini belum pernah dilakukan sebelumnya. Paper ini menyajikan hasil penelitian mengenai dampak perubahan iklim terhadap kekeringan meteorologis dan kesesuaian agroklimat jagung di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Penelitian ini dilaksanakan sejak bulan Juli 2014 sampai bulan Januari 2015 dengan menggunakan data hasil downscaling model iklim regional Conformal Cubic Atmospheric Model (CCAM_CSIRO) dengan resolusi 14 km. Hasil downscaling berisi data simulasi dan proyeksi iklim yang kemudian digunakan untuk menghitung luasan kekeringan meteorologis dengan metode Standardized Precipitation Index (SPI) serta kesesuaian agroklimat tanaman jagung di masa depan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi variasi perubahan curah hujan pada mid future (2040-2069) dan future (2070-2099), dengan variasi penurunan sekitar 30% - 40% dan kenaikan sekitar 10% - 20%. Sementara itu terjadi peningkatan temperatur sekitar 1,1°C - 1,6°C pada mid future dan 2°C - 3,2°C pada periode future. Kondisi ini akan berdampak pada perubahan luasan wilayah yang mengalami kekeringan meteorologis pada mid future yaitu wilayah yang sangat kering meningkat 22% - 29,4% sementara itu luas wilayah sangat basah turun sekitar 17,39%. kelas kesesuaian agroklimat untuk tanaman jagung diproyeksikan mengalami penurunan signifikan dengan kesesuaian S1 (sangat sesuai) 5,3%; S3 ( sesuai Marginal) menurun 10,5%; dan klasifikasi N (tidak sesuai ) menurun sekitar 54,7% demikian pula untuk kelas kesesuaian S2 (cukup sesuai) luasannya meningkat tajam sekitar 74,8% pada periode 2040-2069 dan 2070-2099 relatif terhadap baseline 1971-2000
JEDA HUJAN (DRY SPELL) DAN CURAH HUJAN BERBASIS PROBABILITAS PADA TIPOLOGI LAHAN KERING DI LOMBOK Mahrup
Megasains Vol 6 No 1 (2015): Vol 6 No 1 (2019)
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46824/x8t0s878

Abstract

Jeda hujan (dry spell) dan probabilitas curah hujan sangat esensial bagi pertanian tadah hujan, dan lahan kering. Kedua parameter tersebut sebagai indikator penting status kekeringan dan memiliki relevansi dengan resiko tanaman di daerah tipologi lahan kering. Tujuan penelitian untuk mengetahu durasi jeda hujan (dry spell) dan curah hujan berbasis probabilitas di daerah tipe iklim D dan E Lombok bagian selatan. Penelitan Deskriptif telah dilakukan pada tahun 2014 dengan mengumpulkan data curah hujan harian dari 13 stasiun curah hujan yang ditetapkan secara “‘purposive sampling” mewakili daerah Lombok bagian selatan. Sifat bersyarat atas kejadian hari hujan atau hari tanpa hujan dianalisis menggunakan model rantai Markov level satu, menggunakan data curah hujan harian 16 tahun. Probabilitas curah hujan ditetapkan menggunakan rumus transformasi guna memenuhi sifat distribusi kurva normal. Penilaian tingkat kekeringan musim tanam dilakukan berbasis nilai indeks presipitasi standar (Standarized Precipitation Index, SPI) menggunakan data curah hujan musim tanam rentang 30 tahun. Hasil penelitain menunjukkan, bahwa jeda hujan dan curah hujan berbasis probabiltitas bervariasi secara spasial, dan temporal serta dipengaruhi oleh variasi indek presipitasi standar; jeda hujan semakin ke timur lebih panjang, dan curah hujan berkurang. Jeda hujan bersifat parabolik; selalu lebih panjang pada awal (Nopember) dan akhir musima tanam (April), dan relatif pendek di antaranya. Jeda hujan pada SPI-negatif lebih panjang daripada SPI-positif. Sifat musim tanam mengarah ke sifat kering, dengan harkat agak kering
DETEKSI PERUBAHAN IKLIM DARI DATA CURAH HUJAN BULANAN DI KALIMANTAN BARAT Leni Nazarudin
Megasains Vol 4 No 3 (2013): Vol 4 No 3 (2013)
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46824/d4fh3p37

Abstract

Telah dilakukan kajian untuk mendeteksi perubahan iklim dengan menggunakan data curah hujan bulanan dari 59 titik pengamatan di Kalimantan Barat. Uji statistik Mann-Kendall dan metode Sens digunakan dalam penelitian ini. Nilai tren tersebut ditampilkan dalam bentuk peta spasial dengan menggunakan metode interpolasi Inverse Distance Weighted (IDW). Hasil penelitian menunjukkan Kalimantan Barat mempunyai pola curah hujan bimodal (dua puncak hujan), dengan puncak pertama terjadi pada bulan April, dan puncak kedua terjadi pada bulan Desember. Curah hujan tahunan di sebagian besar wilayah Kalimantan Barat menunjukkan tren penurunan yang signifikan pada kisaran 1-70 mm/tahun. Curah hujan pada bulan-bulan kering (Juni dan Juli) meningkat secara signifikan sebesar 1-10 mm/bulan di sebagian besar wilayah. Sebaliknya, pada musim hujan (Maret, Mei dan November hingga Januari), curah hujan menurun secara signifikan di sebagian besar wilayah, terutama di bagian selatan dan barat.
HUBUNGAN ANTARA GEMPABUMI DENGAN ERUPSI GUNUNGAPI STUDI KASUS ERUPSI GUNUNG SINABUNG TAHUN 2010 DAN 2013 I Putu Dedy Pratama
Megasains Vol 4 No 3 (2013): Vol 4 No 3 (2013)
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46824/b62gbt27

Abstract

Aktivitas vulkanik tidak terlepas dari aktivitas seismik dan kondisi tektonik di kawasan sekitarnya. Tujuan dari makalah ini adalah untuk menyelidiki hubungan antara gempa bumi dan letusan gunung berapi. Hasilnya menunjukkan bahwa setelah gempa bumi Mw9.0 di Aceh pada tahun 2004, yang diikuti oleh gempa susulan besar berikutnya, telah menghasilkan perubahan tegangan Coulomb yang positif di wilayah tersebut. Perubahan tersebut memicu terganggunya Gunung Sinabung pada tahun 2010 yang sudah tidak aktif selama empat abad. Penampang melintang Gunung Sinabung sebelum erupsi tahun 2013 juga menunjukkan perubahan positif tegangan Coulomb di bagian bawah Gunung Sinabung hingga kedalaman 85 km dengan lobus hingga 5 x 10-3 batang
RASIO KOMPONEN UV, PAR DAN NIR TERHADAP RADIASI MATAHARI GLOBAL DI BUKIT KOTOTABANG TAHUN 2012 Yosfi Andri
Megasains Vol 4 No 3 (2013): Vol 4 No 3 (2013)
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46824/37qh9233

Abstract

Penelitian ini membahas tentang hubungan tiga komponen radiasi matahari (Ultra Violet (UV), Near Infra-red (NIR) dan Radiasi Aktif Fotosintesis (PAR)) dengan radiasi global yang diukur di Bukit Kototabang pada tahun 2012. Hubungan tersebut dilakukan oleh menghitung perbandingan antara radiasi global dengan masing-masing komponen radiasi matahari, serta dengan menentukan nilai koefisien korelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkiraan komponen radiasi matahari global adalah 5% UV, 55% NIR dan 45% PAR. Selain itu, rasio antara UV dan radiasi matahari global menunjukkan bahwa kandungan uap air di Bukit Kototabang relatif tinggi
KAJIAN HUBUNGAN ANTARA DISTRIBUSI GEMPA SUSULAN ACEH 26 DESEMBER 2004 TERHADAP DISTRIBUSI PERUBAHAN TEKANAN COULOMB (COULOMB STRESS CHANGE) Sabar Ardiansyah
Megasains Vol 4 No 3 (2013): Vol 4 No 3 (2013)
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46824/tnbc3g33

Abstract

Selama beberapa tahun terakhir, para ilmuwan fokus mempelajari interaksi antara distribusi gempa susulan dan perubahan tegangan coulomb, serta interaksi antara satu gempa besar dengan kejadian gempa lainnya yang letaknya berdekatan. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengkaji sebaran gempa susulan gempa Aceh bulan Desember 2005 dari perubahan pola tegangan coulomb. Data utama gempa bumi beserta parameter keruntuhannya diperlakukan sebagai masukan untuk menganalisis perubahan tegangan coulomb, dengan bantuan paket perangkat lunak Coulomb v3.3. Hasilnya menunjukkan hal itu Sebesar 49,8% gempa susulan gempa Aceh tanggal 26 Desember 2004 tersebar pada wilayah yang dihitung perubahan tegangan coulomb positifnya, sedangkan sisanya terletak pada perubahan tegangan coulomb negatif.
Analisis Siklogenesis Siklon Tropis Dahlia Menggunakan Citra Satelit Himawari Endriani, Zenita; Fauziah, Annisa
Megasains Vol 11 No 1 (2020): Megasains Vol. 11 No.1 Tahun 2020
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46824/megasains.v11i01.1

Abstract

Siklon tropis merupakan suatu sistem tekanan rendah yang muncul di lintang tropis yang terbentuk dan berkembang di wilayah lautan luas, dampak dari adanya siklon tropis jika melintas mendekati daratan adalah dapat menyebabkan kerusakan dan bencana di beberapa wilayah. Indonesia menjadi salah satu wilayah yang terdampak adanya Siklon Tropis. Untuk memprakirakan kemunculan dan kekuatan dari siklon tropis dibutuhkan analisis, baik dari pembentukan hingga tahap meluruh (siklogenesis). Dalam penelitian ini penulis menggunakan satelit Himawari-8 dan teknik Dvorak untuk menganalisis Siklon Tropis Dahlia yang baru-baru ini melewati wilayah perairan selatan Indonesia. Penulis menganalisis siklogenesis dahlia dari lapisan bawah hingga lapisan atas troposfer. Adapun parameter yang dianalisis baik dari pola struktur pembentukan awan, vortisitas, kelembaban udara dan windshear vertikal. Hasil analisis menunjukkan terjadinya pola perubahan struktur pembentukan awan dari hari ke hari, vortisitas maksimum menunjukkan nilai yang sangat signifikan ketika terbentuknya mata badai, kelembaban maksimum terjadi pada sabuk pumpunan awan, windshear vertikal yang cenderung bernilai lemah selama pertumbuhan siklon serta pembentukan konvergensi yang semakin terpola ketika tahap matang dan perlahan semuanya meluruh ketika tahap punah
Pendugaan Musim Tanam Tanaman Pangan Di Kabupaten Parigi Moutong Provinsi Sulawesi Tengah WIDIYANTO, SOFIAN
Megasains Vol 11 No 1 (2020): Megasains Vol. 11 No.1 Tahun 2020
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46824/megasains.v11i01.2

Abstract

Secara umum, ketersediaan air tanah mempengaruhi jadwal tanam pangan (padi, jagung, cabai, tomat dan kentang). Penyusunan neraca air dimaksudkan untuk meningkatkan produktivitas lahan kering melalui penentuan pola dan jadwal tanam yang sesuai dengan ketersediaan air tanah (KAT). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menduga musim tanam tanaman pangan (padi, jagung, kentang, cabai, tomat) di lahan kering dan basah berdasarkan model neraca air. Data yang digunakan dalam analisis ketersediaan air tanah meliputi curah hujan bulanan dari pos hujan di Kabupaten Parigi Moutong, data suhu udara dari stasiun Meteorologi Mutiara Palu dan Stasiun Meteorologi Lalos Toli-Toli sebagai acuan dalam teori Mock yang digunakan untuk mencari suhu di pos hujan tempat penelitian berdasarkan ketinggian, serta fisik tanah yang terdiri dari nilai kapasitas lahan (KL) dan titik layu permanen (TLP) wilayah Sulawesi Tengah, metode yang digunakan adalah neraca air lahan melalui perhitungan thornhwaite. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Kecamatan Palasa, Ampibabo dan Torue kurang cocok untuk tanaman padi karena ketersediaan air tanah di wilayah tersebut tidak mencukupi untuk tanaman padi, sebaiknya di wilayah tersebut dilakukan penanaman jenis tanaman yang tidak terlalu membutuhkan banyak air, seperti jagung, tomat, cabai dan kentang namun jika irigasi diwilayah tersebut dalam kondisi baik, wilayah tersebut dapat ditanami tanaman padi. Kecamatan Moutong, Siniu, Sausu, Suli, Toribulu, Tinombo Selatan, Dolago dan Baliara cocok untuk tanaman padi dan rata-rata di wilayah tersebut mempunyai 1 (satu) kali musim tanam
Perbandingan Model Kopel ECMWF System 4 Dan CFSV2 Untuk Prediksi Musim Di Indonesia Muharsyah, Robi
Megasains Vol 11 No 1 (2020): Megasains Vol. 11 No.1 Tahun 2020
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46824/megasains.v11i01.3

Abstract

Kajian ini bertujuan untuk membandingkan curah hujan harian keluaran langsung (raw) dari dua model kopel: European Center Medium Weather Forecast System 4 (S4) dan Climate Forecast System Version 2 (CFSv2) sebagai model prediksi musim operasional pada periode Juni, Juli dan Agustus (JJA) dan Desember, Januari dan Februari (DJF). Kemampuan kedua model diukur berdasarkan ketersediaan prediksi reforecast yang diverifikasi terhadap data observasi curah hujan Global Precipitation Climatology Project (GPCP) dan Southeast Asian Observation - Southeast Asian Climate Assessment and Dataset (SA-OBS SACAD) untuk wilayah Bumi Maritim Indonesia (BMI). Ukuran verifikasi yang dipakai berupa bias aktual, bias relatif, spread anggota ensemble dalam bentuk boxplot dan akumulasi curah hujan per musim, serta korelasi spasial. Hasilnya, untuk DJF, kemampuan kedua model cenderung overestimate untuk wilayah perairan di sekitar tipe-C. Sebaliknya, untuk prediksi curah hujan di daratan keduanya underestimate. Sementara itu, untuk JJA, bias kedua model saling berkebalikan khususnya di pulau Kalimantan. Kajian ini juga menggunakan metode post-processing statistik koreksi bias untuk mengetahui pengaruhnya terhadap semua anggota ensemble pada kedua model
Pengaruh Hotspot Terhadap Variabilitas Aerosol Bulan Februari Tahun 2016-2019 Okaem, Tanti Tritama; Saputra, Dodi; Zulgino, Fajri
Megasains Vol 11 No 1 (2020): Megasains Vol. 11 No.1 Tahun 2020
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46824/megasains.v11i01.5

Abstract

Pengamatan Aerosol merupakan salah satu program pengukuran yang dilakukan di Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tren konsentrasi Aerosol (Black Carbon, Particulate Matter (PM10) dan Scattering Coefficient) di Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang dan untuk melakukan penelitian terhadap dampak kemunculan titik panas di Sumatera dengan pemantauan Aerosol. Penelitian ini dilakukan menggunakan data pengamatan pada bulan Februari 2016-2019. Metode yang digunakan yaitu dengan pengamatan yang dilakukan selama 24 jam melalui instrumen Catcos Magee Scientific Aethalometer untuk pengamatan Black Carbon, BAM 1020 untuk pengamatan PM10, Ecotech M9003 Integrating Nephelometer untuk pengamatan Scattering Coefficient dan pantauan titik panas (hotspot) di pulau Sumatera diambil dari data harian titik panas dari Satelit MODIS (Terra, Aqua, dan SNPP) dengan tingkat kepercayaan diatas 70%. Hasil penelitian ini menunjukan konsentrasi PM 10 dan Aerosol Scattering Coeficient meningkat pada Februari 2019 dengan bertambahnya jumlah titik panas yaitu 367 titik dan arah pergerakan angin dominan dari timur dan timur laut. Sedangkan peningkatan titik panas pada tahun 2018 meningkatkan konsentrasi Black Carbon dan PM10

Filter by Year

2013 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 15 No 1 (2024): Megasains Vol. 15 No. 1 Tahun 2024 Vol 14 No 2 (2023): Megasains Vol.14 No.2 Tahun 2023 Vol 14 No 2 (2023): Megasains Vol. 14 No. 2 Tahun 2023 Vol 14 No 1 (2023): Megasains Vol.14 No.1Tahun 2023 Vol 13 No 2 (2022): Megasains Vol.13 No.02 Tahun 2022 Vol 13 No 1 (2022): Megasains Vol.13 No.1 Tahun 2022 Vol 12 No 2 (2021): Megasains Vol. 12 No. 2 Tahun 2021 Vol 12 No 2 (2021): Megasains Vol.12 No.2 Tahun 2021 Vol 12 No 1 (2021): Megasains Vol.12 No.1 Tahun 2021 Vol 11 No 01 (2020): Megasains Vol 11 No.01 Tahun 2020 Vol 11 No 2 (2020): Megasains Vol.11 No.2 Tahun 2020 Vol 11 No 2 (2020): Megasains Vol. 11 No. 2 Tahun 2020 Vol 11 No 1 (2020): Megasains Vol. 11 No.1 Tahun 2020 Vol 11 No 1 (2020): Megasains Vol 11 No.1 Tahun 2020 Vol 10 No 02 (2019): Megasains Vol.10 No.02 Tahun 2019 Vol 10 No 2 (2019): Megasains Vol. 10 No. 2 Tahun 2019 Vol 10 No 2 (2019): Vol 10 No 2 (2019) Vol 10 No 1 (2019): Vol 10 No 1 (2019) Vol 10 No 1 (2019): Megasains Vol. 10 No. 1 Tahun 2019 Vol 9 No 1 (2018): Vol 9 No 1 (2018) Vol 9 No 1 (2018): Megasains Vol. 9 No. 1 Tahun 2018 Vol 8 No 1 (2017): Megasains Vol. 8 No. 1 Tahun 2017 Vol 8 No 1 (2017): Vol 8 No 1 (2017) Vol 7 No 3 (2016): Vol 7 No 3 (2016) Vol 7 No 3 (2016): Megasains Vol. 7 No. 3 Tahun 2016 Vol 7 No 2 (2016): Megasains Vol. 7 No. 2 Tahun 2016 Vol 7 No 2 (2016): Vol 7 No 2 (2016) Vol 7 No 1 (2016): Vol 7 No 1 (2016) Vol 7 No 1 (2016): Megasains Vol. 7 No.1 Tahun 2016 Vol 6 No 3 (2015): Vol 6 No 3 (2015) Vol 6 No 3 (2015): Megasains Vol. 6 No.3 Tahun 2015 Vol 6 No 1 (2015): Vol 6 No 1 (2019) Vol 6 No 1 (2015): Megasains Vol. 6 No.1 Tahun 2015 Vol 4 No 3 (2013): Vol 4 No 3 (2013) Vol 4 No 3 (2013): Megasains Vol. 4 No.3 Tahun 2013 More Issue