cover
Contact Name
Sugeng Nugroho
Contact Email
stagaw.kototabang@bmkg.go.id
Phone
+62752-7446089
Journal Mail Official
megasains@gawbkt.id
Editorial Address
Jalan Raya Bukittinggi - Medan KM.17 Palupuh, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat 26151
Location
Kab. agam,
Sumatera barat
INDONESIA
Megasains
ISSN : 20865589     EISSN : 27232239     DOI : https://doi.org/10.46824/megasains
Core Subject : Science,
Buletin MEGASAINS diterbitkan oleh Stasiun Pemantau Atmosfer Global (GAW) Bukit Kototobang sebagai media apresiasi Karya Tulis Ilmiah (KTI) yang bersumber dari kegiatan penelitian berbasis ilmu-ilmu meteorologi, klimatologi, kualitas udara, dan geofisika (MKKuG), serta lingkungan.
Articles 214 Documents
Pendugaan Musim Tanam Tanaman Pangan Di Kabupaten Parigi Moutong Provinsi Sulawesi Tengah SOFIAN WIDIYANTO
Megasains Vol 11 No 1 (2020): Megasains Vol 11 No.1 Tahun 2020
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2058.745 KB) | DOI: 10.46824/megasains.v11i01.2

Abstract

Secara umum, ketersediaan air tanah mempengaruhi jadwal tanam pangan (padi, jagung, cabai, tomat dan kentang). Penyusunan neraca air dimaksudkan untuk meningkatkan produktivitas lahan kering melalui penentuan pola dan jadwal tanam yang sesuai dengan ketersediaan air tanah (KAT). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menduga musim tanam tanaman pangan (padi, jagung, kentang, cabai, tomat) di lahan kering dan basah berdasarkan model neraca air. Data yang digunakan dalam analisis ketersediaan air tanah meliputi curah hujan bulanan dari pos hujan di Kabupaten Parigi Moutong, data suhu udara dari stasiun Meteorologi Mutiara Palu dan Stasiun Meteorologi Lalos Toli-Toli sebagai acuan dalam teori Mock yang digunakan untuk mencari suhu di pos hujan tempat penelitian berdasarkan ketinggian, serta fisik tanah yang terdiri dari nilai kapasitas lahan (KL) dan titik layu permanen (TLP) wilayah Sulawesi Tengah, metode yang digunakan adalah neraca air lahan melalui perhitungan thornhwaite. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Kecamatan Palasa, Ampibabo dan Torue kurang cocok untuk tanaman padi karena ketersediaan air tanah di wilayah tersebut tidak mencukupi untuk tanaman padi, sebaiknya di wilayah tersebut dilakukan penanaman jenis tanaman yang tidak terlalu membutuhkan banyak air, seperti jagung, tomat, cabai dan kentang namun jika irigasi diwilayah tersebut dalam kondisi baik, wilayah tersebut dapat ditanami tanaman padi. Kecamatan Moutong, Siniu, Sausu, Suli, Toribulu, Tinombo Selatan, Dolago dan Baliara cocok untuk tanaman padi dan rata-rata di wilayah tersebut mempunyai 1 (satu) kali musim tanam
Perbandingan Model Kopel ECMWF System 4 Dan CFSV2 Untuk Prediksi Musim Di Indonesia Robi Muharsyah
Megasains Vol 11 No 1 (2020): Megasains Vol 11 No.1 Tahun 2020
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3471.137 KB) | DOI: 10.46824/megasains.v11i01.3

Abstract

Kajian ini bertujuan untuk membandingkan curah hujan harian keluaran langsung (raw) dari dua model kopel: European Center Medium Weather Forecast System 4 (S4) dan Climate Forecast System Version 2 (CFSv2) sebagai model prediksi musim operasional pada periode Juni, Juli dan Agustus (JJA) dan Desember, Januari dan Februari (DJF). Kemampuan kedua model diukur berdasarkan ketersediaan prediksi reforecast yang diverifikasi terhadap data observasi curah hujan Global Precipitation Climatology Project (GPCP) dan Southeast Asian Observation - Southeast Asian Climate Assessment and Dataset (SA-OBS SACAD) untuk wilayah Bumi Maritim Indonesia (BMI). Ukuran verifikasi yang dipakai berupa bias aktual, bias relatif, spread anggota ensemble dalam bentuk boxplot dan akumulasi curah hujan per musim, serta korelasi spasial. Hasilnya, untuk DJF, kemampuan kedua model cenderung overestimate untuk wilayah perairan di sekitar tipe-C. Sebaliknya, untuk prediksi curah hujan di daratan keduanya underestimate. Sementara itu, untuk JJA, bias kedua model saling berkebalikan khususnya di pulau Kalimantan. Kajian ini juga menggunakan metode post-processing statistik koreksi bias untuk mengetahui pengaruhnya terhadap semua anggota ensemble pada kedua model
Pengaruh Hotspot Terhadap Variabilitas Aerosol Bulan Februari Tahun 2016-2019 Tanti Tritama Okaem; Dodi Saputra; Fajri Zulgino
Megasains Vol 11 No 1 (2020): Megasains Vol 11 No.1 Tahun 2020
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2414.616 KB) | DOI: 10.46824/megasains.v11i01.5

Abstract

Pengamatan Aerosol merupakan salah satu program pengukuran yang dilakukan di Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tren konsentrasi Aerosol (Black Carbon, Particulate Matter (PM10) dan Scattering Coefficient) di Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang dan untuk melakukan penelitian terhadap dampak kemunculan titik panas di Sumatera dengan pemantauan Aerosol. Penelitian ini dilakukan menggunakan data pengamatan pada bulan Februari 2016-2019. Metode yang digunakan yaitu dengan pengamatan yang dilakukan selama 24 jam melalui instrumen Catcos Magee Scientific Aethalometer untuk pengamatan Black Carbon, BAM 1020 untuk pengamatan PM10, Ecotech M9003 Integrating Nephelometer untuk pengamatan Scattering Coefficient dan pantauan titik panas (hotspot) di pulau Sumatera diambil dari data harian titik panas dari Satelit MODIS (Terra, Aqua, dan SNPP) dengan tingkat kepercayaan diatas 70%. Hasil penelitian ini menunjukan konsentrasi PM 10 dan Aerosol Scattering Coeficient meningkat pada Februari 2019 dengan bertambahnya jumlah titik panas yaitu 367 titik dan arah pergerakan angin dominan dari timur dan timur laut. Sedangkan peningkatan titik panas pada tahun 2018 meningkatkan konsentrasi Black Carbon dan PM10
Variasi Suhu Udara, Suhu Titik Embun, dan Tekanan Udara Terhadap Gaya Angkat Pesawat di Bandara Supadio Pontianak Tahun 2016 I Dewa Gede Arya Putra
Megasains Vol 11 No 1 (2020): Megasains Vol 11 No.1 Tahun 2020
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1037.597 KB) | DOI: 10.46824/megasains.v11i01.6

Abstract

Cuaca memiliki peran sangat penting terhadap efisiensi penerbangan. Kerapatan udara rendah membuat pesawat membutuhkan landasan pacu yang panjang ketika lepas landas. Hal tersebut dapat meningkatkan beban kerja mesin untuk menambah kecepatannya di runway. Kondisi atmosfer selalu dinamis dan tidak dapat dikendalikan. Pesawat harus mendapatkan gaya angkat maksimal dengan memperhitungkan kondisi tertentu. Operator penerbangan hanya dapat menyesuaikan dengan kondisi meteorologi tersebut untuk memperhitungkan efisiensi penerbangan. Penelitian ini dilakukan di Bandara Supadio Pontianak menggunakan data observasi Stasiun Meteorologi Supadio Pontianak tahun 2016. Data yang digunakan meliputi meliputi suhu udara, suhu titik embun, dan tekanan udara. Berdasarkan hasil perhitungan didapatkan bahwa suhu udara memiliki pengaruh yang paling signifikan terhadap gaya angkat pesawat. Gaya angkat maksimum harian terjadi sekitar pukul 05.00 – 06.00 WIB dan gaya angkat minimum terjadi sekitar pukul 13.00 – 14.00 WIB. Gaya angkat terbesar bulanan terjadi pada bulan Januari dan terkecil pada bulan Agustus. Kata kunci: Gaya angkat, kerapatan udara, lepas landas.
Analisis Seismic GAP Sumatera Menggunakan Anomali Gravitasi Rahmat setyo yuliatmoko Rahmat
Megasains Vol 11 No 1 (2020): Megasains Vol 11 No.1 Tahun 2020
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1281.174 KB) | DOI: 10.46824/megasains.v11i01.7

Abstract

Informasi mengenai keberadaan seismic gap dapat dilakukan dengan beberapa metode, seismic gap sebelumnya merupakan zona aktif gempa namun sekarang tidak adanya aktifitas gempa, hal tersebut menjadi berbahaya karena adanya penimbunan stress, sehingga jika terjadi gempa maka akan bisa dipastikan gempa yang dihasilkan akan cukup besar. Hal tersebut menjadi perhatian yang serius dalam mitigasi gempabumi terutama di daerah yang banyak penduduknya. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan zona seismic gap dengan data seismik dan dianalisis dengan data anomali gravitasi. Berdasarkan hasil analisis, Berdasarkan hasil analisis, zona seismic gap berada pada zona transisi anomali gravitasi menengah ke rendah hal ini menandakan perbedaan densitas batuan di daerah transisi tersebut dan adanya punggungan bawah laut sehingga daerah tersebut mengalami locking stress. Gaya tekanan dari lempeng maupun dari aktifitas sesar lokal pada batuan tertahan dalam waktu yang cukup lama, sehingga berpotensi terjadinya gempa besar
Diurnal Rainfall On Tropical Cyclone Cempaka And Dahlia As Observed By TRMM REZA BAYU PERDANA
Megasains Vol 11 No 2 (2020): Megasains Vol.11 No.2 Tahun 2020
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.641 KB) | DOI: 10.46824/megasains.v11i2.8

Abstract

Dua siklon tropis teramati di perairan bagian selatan Indonesia pada akhir 2017, menjadi siklon tropis pertama dan kedua yang terjadi di wilayah tanggung jawab Indonesia setelah siklon tropis Bakung pada 2010. Siklon tropis Cempaka terbentuk di perairan sebelah selatan Provinsi Jawa Tengah dan menyebabkan curah hujan tinggi di wilayah selatan pulau Jawa. Siklon tropis Dahlia terbentuk di sebelah selatan Provinsi Banten dengan pengaruh yang lebih kecil terhadap curah hujan di daratan disebabkan jarak yang lebih jauh. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui siklus harian curah hujan yang terjadi pada kedua siklon tropis tersebut, serta siklus harian yang terjadi pada wilayah terdampak saat terjadi siklon tropis. Data yang digunakan pada penelitian ini adalah curah hujan rata-rata per tiga jam dari Tropical Rainfall Measurement Mission (TRMM), khususnya data 3B42RT. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis time series. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ketika terjadi siklon tropis, curah hujan mencapai puncak pada malam sampai dini hari, kemudian melemah pada pagi sampai sore hari. Pada daerah terdampak di daratan, puncak hujan terjadi pada siang dan malam hari, dan melemah pada sore dan dini hari.
Analisis Indeks Kerapatan Vegetasi Untuk Identifikasi Kejadian Dan Potensi Puting Beliung Di Wilayah Kabupaten Klaten zauyik nana ruslana ayik
Megasains Vol 11 No 2 (2020): Megasains Vol.11 No.2 Tahun 2020
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3817.964 KB) | DOI: 10.46824/megasains.v11i02.9

Abstract

Dengan melakukan analisa citra landsat 8 yaitu Citra Satelit Landsat 8 OLI/TIRS yaitu berupa citra yang diperoleh dari USGS (United State Geological Survey) dengan pengolahan pertama dengan software ENVI untuk meningkatkan ketajaman dan kejelasan citra satelit, kemudian dilakukan pengolahan dengan ArcGIS 10.4 untuk menghasilkan peta NDVI dengan dua klasifikasi yaitu  klasifikasi kerapatan dan vegetasi serta titik kejadian puting beliung di wilayah Kabupaten Klaten sesuai hasil pengolahan citra satelit Landsat 8 menjadi peta NDVI didapat bahwa di hampir seluruh wilayah Kabupaten Klaten lebih sedikit vegetasi dengan kerapatan tinggi, yang lebih banyak adalah lahan terbuka seperti sawah/ladang dan pemukiman penduduk. Kejadian puting beliung di wilayah Kabupaten Klaten berdasarkan data tahun 2018–2019 terjadi pada bulan Desember–April. Dengan semakin sedikitnya vegetasi yang kerapatannya tinggi dan semakin meningkatnya pemukiman penduduk dan lahan terbuka, maka potensi puting beliung akan semakin meningkat selain karena faktor lain seperti suhu udara, tekanan udara dan awan kumulonimbus. Manfaat yang diperoleh adalah dapat sebagai pertimbangan dalam membangun dan penataan infrastruktur yang lebih hijau dan berkesinambungan, serta sebagai mitigasi dan adaptasi terhadap wilayah yang paling rawan terdampak puting beliung di Kabupaten Klaten
Pemetaan Karakteristik Periode Ulang Curah Hujan Maksimum Di Kota Manado Muhammad Tahmid
Megasains Vol 11 No 2 (2020): Megasains Vol.11 No.2 Tahun 2020
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (627.828 KB) | DOI: 10.46824/megasains.v11i02.11

Abstract

Curah hujan dengan intensitas yang tinggi atau ekstrem mempunyai banyak dampak pada berbagai sektor. Salah satu dampak yang disebabkan oleh curah hujan tersebut adalah ancaman potensi banjir yang bisa mengganggu kehidupan masyarakat hingga menimbulkan korban jiwa. Penelitian ini menggunakan data curah hujan harian maksimum tahunan dari stasiun BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) dan pos hujan yang berada di Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sebaran potensi kejadian curah hujan maksimum tahunan yang terjadi pada setiap periode ulang 10, 20, 30, 40, dan 50 tahun di Kota Manado yang diharapkan bisa digunakan untuk referensi kajian awal penanggulangan bencana alam yang terjadi akibat intensitas curah hujan yang tinggi. Hasil dari pengolahan curah hujan harian maksimum tahunan dengan metode iwai kadoya menunjukkan bahwa pada umumnya nilai curah hujan di Kota Manado menunjukkan kenaikan pada setiap periode ulang 10, 20, 30, 40, dan 50 tahun dengan rentang nilai curah hujan 240 mm/hari hingga 520 mm/hari.Curah hujan terendah terjadi pada periode ulang 10 tahunan dengan kisaran 240 mm/hari pada wilayah Kota Manado bagian Tengah, sedangkan curah hujan tertinggi terjadi pada periode ulang 50 tahunan dengan kisaran 520 mm/hari pada wilayah Kota Manado bagian Selatan
Koreksi Instrumen pada Seismometer Broadband Trilium-120p dan Short-Period DS-04A Co-Located di Stasiun Geofisika Denpasar (Studi Kasus : Gempabumi Lombok 31 Maret 2016) I Putu Dedy Pratama
Megasains Vol 12 No 1 (2021): Megasains Vol.12 No.1 Tahun 2021
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.503 KB) | DOI: 10.46824/megasains.v12i1.12

Abstract

Dalam penjalarannya sinyal seismik yang terekam oleh alat merupakan konvolusi dari sumber, penjalaran, efek lokal, dan yang menjadi pengaruh terbesar adalah respon instrumen.Oleh karena itu, sangat penting untuk menghilangkan respon instrumen pada rekaman seismogram untuk mendapatkan getaran tanah yang sesungguhnya. Penulis menggunakan rekaman gempabumi Lombok pada 31 Maret 2016 pukul 09:34:43 UTC magnitude 4,7 koordinat 8.480 LS dan 116.020 BT dengan kedalaman 10 km yang terekam oleh seismometer Broadband Trilium-120P dan Short-period DS-04A yang terpasang co-located di Stasiun Geofisika Denpasar. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan nilai korelasi kedua sinyal dari alat yang berbeda sehingga dapat menginterpretasikan getaran tanah sesungguhnya.Untuk memperoleh nilai getaran tanah yang sesungguhnya diperlukan informasi poles dan zeros guna mendapatkan nilai dari fungsi transfer yang selanjutnya didekonvolusi dengan sinyal seismogram. Hasil penghilangan pengaruh respon instrumen menunjukan kemiripan antara sinyal Broadband dan Short-period secara kualitatif dan peningkatan nilai normalisasi korelasi sinyal secara kuantitatif.Perubahan spektrum frekuensi pada sinyal setelah dekonvolusi menunjukan hasil kemiripan antara sinyal setelah koreksi instrumen dibandingkan dengan sebelum koreksi instrumen.
Perbandingan Dampak El Nino Kuat 2015/16 Dan 1997/98 Terhadap Curah Hujan Di Provinsi Bali - Indonesia I Wayan Andi Yuda
Megasains Vol 11 No 2 (2020): Megasains Vol.11 No.2 Tahun 2020
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (902.058 KB) | DOI: 10.46824/megasains.v11i2.13

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan fenomena El Nino 2015/16 dan 1997/98 dari segi indeks dan dampak keduanya terhadap curah hujan di Provinsi Bali - Indonesia. Metode analisis yang digunakan berupa metode Korelasi Pearson dan statistik deskriptif terhadap data Indeks Nino 3.4 yang dikonversi menjadi Oceanic Nino Index (ONI) dan data curah hujan bulanan di 22 titik penakar hujan Provinsi Bali. Hasil penelitian menunjukan El Nino 2015/16 (indeks tertinggi 2.37) sedikit lebih kuat daripada El Nino 1997/98 (indeks tertinggi 2.33). Berdasarkan siklus hidupnya, El Nino 2015/16 lebih lama bertahan dibandingkan dengan El Nino 1997/98. Hubungan antara El Nino dengan curah hujan Bali diketahui lebih kuat pada periode September-Oktober-Nopember (SON) dibandingkan dengan periode Desember–Januari–Februari (DJF). Kemudian setelah dilakukan perbandingan antara kedua kejadian El Nino Kuat tersebut, ternyata dampak penurunan curah hujan di Provinsi Bali saat El Nino Kuat 2015/16 (-6% s/d -46%) tidak separah dampak penurunan curah hujan saat fenomena El Nino Kuat 1997/98 (-18% s/d -72%)

Page 3 of 22 | Total Record : 214


Filter by Year

2013 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 15 No 1 (2024): Megasains Vol. 15 No. 1 Tahun 2024 Vol 14 No 2 (2023): Megasains Vol. 14 No. 2 Tahun 2023 Vol 14 No 2 (2023): Megasains Vol.14 No.2 Tahun 2023 Vol 14 No 1 (2023): Megasains Vol.14 No.1Tahun 2023 Vol 13 No 2 (2022): Megasains Vol.13 No.02 Tahun 2022 Vol 13 No 1 (2022): Megasains Vol.13 No.1 Tahun 2022 Vol 12 No 2 (2021): Megasains Vol.12 No.2 Tahun 2021 Vol 12 No 2 (2021): Megasains Vol. 12 No. 2 Tahun 2021 Vol 12 No 1 (2021): Megasains Vol.12 No.1 Tahun 2021 Vol 11 No 01 (2020): Megasains Vol 11 No.01 Tahun 2020 Vol 11 No 2 (2020): Megasains Vol.11 No.2 Tahun 2020 Vol 11 No 2 (2020): Megasains Vol. 11 No. 2 Tahun 2020 Vol 11 No 1 (2020): Megasains Vol 11 No.1 Tahun 2020 Vol 11 No 1 (2020): Megasains Vol. 11 No.1 Tahun 2020 Vol 10 No 02 (2019): Megasains Vol.10 No.02 Tahun 2019 Vol 10 No 2 (2019): Vol 10 No 2 (2019) Vol 10 No 2 (2019): Megasains Vol. 10 No. 2 Tahun 2019 Vol 10 No 1 (2019): Vol 10 No 1 (2019) Vol 10 No 1 (2019): Megasains Vol. 10 No. 1 Tahun 2019 Vol 9 No 1 (2018): Megasains Vol. 9 No. 1 Tahun 2018 Vol 9 No 1 (2018): Vol 9 No 1 (2018) Vol 8 No 1 (2017): Vol 8 No 1 (2017) Vol 8 No 1 (2017): Megasains Vol. 8 No. 1 Tahun 2017 Vol 7 No 3 (2016): Megasains Vol. 7 No. 3 Tahun 2016 Vol 7 No 3 (2016): Vol 7 No 3 (2016) Vol 7 No 2 (2016): Vol 7 No 2 (2016) Vol 7 No 2 (2016): Megasains Vol. 7 No. 2 Tahun 2016 Vol 7 No 1 (2016): Vol 7 No 1 (2016) Vol 7 No 1 (2016): Megasains Vol. 7 No.1 Tahun 2016 Vol 6 No 3 (2015): Megasains Vol. 6 No.3 Tahun 2015 Vol 6 No 3 (2015): Vol 6 No 3 (2015) Vol 6 No 1 (2015): Vol 6 No 1 (2019) Vol 6 No 1 (2015): Megasains Vol. 6 No.1 Tahun 2015 Vol 4 No 3 (2013): Vol 4 No 3 (2013) Vol 4 No 3 (2013): Megasains Vol. 4 No.3 Tahun 2013 More Issue