cover
Contact Name
Bandiyah
Contact Email
jurnaldikbud1@gmail.com
Phone
+6281288370671
Journal Mail Official
jurnaldikbud@kemdikbud.go.id
Editorial Address
Sekretariat BSKAP Kemendikbud Gedung E, Jalan Jenderal Sudirman, Senayan Jakarta 10270 Telepon: (021) 57900405, Faksimile: (021) 57900405 Email: jurnaldikbud@kemdikbud.go.id; jurnaldikbud@yahoo.com
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan
ISSN : 24608300     EISSN : 25284339     DOI : https://doi.org/10.24832/jpnk.v5i1.1509
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan is a peer-reviewed journal published by Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Agency for Research and Development, Ministry of Education and Culture of Republic of Indonesia), publish twice a year in June and December. This journal publishes research and study in the field of education and culture, such as, education management, education best practice, curriculum, education assessment, education policy, education technology, language, and archeology.
Articles 535 Documents
Aplikasi Analisis (Path Analysis) Berdasarkan Urutan Penempatan Variabel Dalam Penelitian Sudaryono --
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 17 No. 4 (2011)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v17i4.36

Abstract

In quantitative research there is a method called path analysis that examines chronological cause and effect among variables. Since cause and effect play an important role guideline in which the analysis is applied, showing the path analysis components with applied corelation analysis among variables based on their chronological effect would give description how important the path analysis is to be acknowledged by reserachers. It’s objective is to examine direct and indirect effect a set of variables, as the cause variables towards other variables as the effect variables. The purpose this article is to enrich research methods that may be used to analysis the relation patern among the variables. Problem formulation of this article focuses on the question is path analysis effective for educational research and can it answer issues in educational research. Literature reviews and researchs using path analysis reveal that it is very effective and needs to be developed in educational research. ABSTRAKDalam suatu penelitian kuantitatif, suatu metode yang mengkaji urutan sebab akibat antara sejumlah variabel dalam suatu model penelitian disebut metode path analysis(analisis jalur). Dikarenakan pemikiran sebab akibat memainkan peranan atau aturan yang sangat penting di mana path analysistersebut diaplikasikan, maka dengan menampilkan unsur-unsur path analysisdengan menerapkan analisis korelasi di antara sesama variabel berdasarkan urutan pengaruhnya, akan memberikan gambaran betapa pentingnya analisis jalur ini untuk diketahui oleh peneliti. Tujuan analisis jalur adalah menerangkan akibat langsung dan tidak langsung seperangkat variabel, sebagai variabel penyebab, terhadap variabel lainnya yang merupakan variabel akibat. Selain itu tujuan penulisan ini adalah untuk menambah khasanah modelmodel penelitian yang dapat digunakan untuk menganalisis pola hubungan antar variabel. Rumusan masalah dalam tulisan memusatkan perhatian apakah analisis jalur sangat efektif digunakan dalam penelitian pendidikan dan menjawab pertanyaan permasalahan penelitian dengan baik. Hasil penelusuran literatur dan contoh-contoh penelitian yang menggunakan analisis jalur menunjukkan bahwa analisis jalur sangat efektif dan perlu dikembangkan dalam penelitian pendidikan.
Analisis Sumber Daya Manusia Pendidikan Tinggi Ida Kintamani DH
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 17 No. 4 (2011)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v17i4.37

Abstract

The purpose of this analysis is to understand the Higher Education (HE) Human Resources profile and quality, and determine the quality of HE by using the 2009/2010 data. The method used in this analysis is the documentation study and the survey. In addition, the use of key performance indicators from Education Strategic Plan 2010-2014 to assess the quality of HE. Results showed that although private institutions have reached 97.24% of HE, it only has 58.39% of the students and 71.83% lecturers. Based on 7 indicators, feasibility of lecturers to teach only 37.65%, full-time professors 67.82%, lecturers professors 3.59%, senior lecturer 19.84%, and most education personnel are high school graduated which is 34.82%. Based on the selected five composite indicators, the quality of PT is only 49.85 means that less than half. By looking at the results, they are advised to conduct further research regarding collection of data about the HE, especially teachers with all the details and whether the composite indicators used are appropriate to measure the quality of HE. ABSTRAKTujuan analisis SDM PT adalah untuk memahami profil SDM PT, mutu SDM PT, dan menentukan mutu PT dengan menggunakan data tahun 2009/2010. Metode yang digunakan dalam analisis ini adalah studi dokumentasi dan survai. Selain itu, digunakan indikator kinerja utama (IKU) dari Rencana Strategi Pendidikan tahun 2010-2014 untuk menilai mutu PT. Hasilnya menunjukkan bahwa walaupun lembaga PT Swasta sebesar 97,24% dari lembaga PT yang ada, namun mahasiswanya hanya sebesar 58,39% dan dosennya sebesar 71,83%. Berdasarkan 7 indikator, kelayakan dosen mengajar hanya 37,65%, dosen tetap sebesar 67,82%, dosen jabatan guru besar sebesar 3,59%, dosen senior sebesar 19,84%, dan tenaga kependidikan kebanyakan lulusan SM sebesar 34,82%. Berdasarkan 5 indikator komposit yang dipilih maka mutu PT hanya sebesar 49,85 berarti kurang dari separuh. Dengan melihat hasil seperti ini maka disarankan agar dilakukan penelitian lanjutan mengenai pendataan PT khususnya dosen dengan semua rinciannya dan apakah indikator komposit yang digunakan telah sesuai untuk mengukur mutu PT
Kajian Pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah Pada Pendidikan Menengah Suwandi --
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 17 No. 4 (2011)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v17i4.38

Abstract

The Objective of this research is to find out: 1) The illustration of school base management implementation on the secondary school; 2) The obstacles in school based management implementation experienced by schools; 3) Suggestion from school in order to implement school based management better. Data was collected from a questionnaire, observation, documentation, interview, and Focus Group Discussions (FGD). From the result, it is concluded that: 1) Generally, school based management implementation in schools has run well; 2)The main issues in school based management implementation are lack of budget, minimum facility, incompetent human resources; and 3) The major suggestion from schools is that the center and local government increase the budget subsidy derives from block grant, deconcentration fund (including BOS/BKM), Ministry of Religious Affair, Provincial and regency budget for the distribution of educational budget to schools with some improvements particulary in the empowerment of provincial and regency educational offices. ABSTRAKTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: 1) gambaran pelaksanaan manajemen berbasis sekolah (MBS) pada pendidikan menengah; 2) kendala-kendala yang dihadapi pihak sekolah dalam pelaksanaan MBS; dan 3) saran-saran atau masukan pihak sekolah agar pelaksanaan MBS berjalan dengan baik. Penelitian ini menggunakan desain penelitian pengembangan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik kuesioner (angket), observasi, dokumentasi, wawancara dan focus group discussions FGD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: dapat diambil kesimpulan: 1) pelaksanaan MBS di sekolah menengah secara umum berjalan dengan baik; 2) kendala pelaksanaan MBS yang paling menonjol yaitu terbatasnya anggaran biaya, minimnya fasilitas yang dimiliki sekolah, serta masih rendahnya kualitas SDM; dan 3) Saran yang cukup menonjol dari pihak sekolah adalah agar pemerintah (pusat dan daerah) dapat meningkatkan bantuan/subsidi keuangan berupa dana block grant, dekonsentrasi (termasuk BOS/BKM), dana dari Depag, APBD Provinsi dan APBD Kota/Kabupaten. masih layak diterapkan untuk penyaluran dana pendidikan di sekolah dengan beberapa pembenahan, terutama dalam pemberdayaan Dinas Pendidikan Provinsi dan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota.
Wacana Khotbah Jumat di Surakarta: Suatu Kajian Linguistik Kultural Kundharu Saddhono; I Dewa Putu Wijana
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 17 No. 4 (2011)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v17i4.39

Abstract

Friday sermon is a means of religious endeavor used by Moslems to invite the community to do good things and avoid bad deeds. A person who conveys Friday sermon is called a preacher. A good speaking skill is needed in order to attract sympathy from the congregation or the people who listen to the sermon. The term ‘attract masses through speaking skill’ is called as rhetoric. In Friday sermons there are many aspects of language which are influenced by local cultural elements. Friday sermons as a discourse of course, can be analyzed from micro structural aspects related to grammatical aspect, lexical aspect, cohesion, and coherence. The macro structural aspects related to culture or cultural elements surrounding communities outside of language or linguistic aspects in which the participants related to the context, place and time, the channel used, the code used, the form of a message and its contents, events with nature, and tone of conversation. ABSTRAKKhotbah Jumat merupakan salah satu sarana yang digunakan umat Islam yang bertujuan untuk mengajak masyarakat untuk berbuat baik dan mencegah perbuatan buruk (sarana dakwah). Seorang yang menyampaikan dakwah disebut khotib. Agar dapat menarik simpati dari jemaah atau orang yang menyimak khotbah, diperlukan sebuah keterampilan berbicara yang baik. Istilah untuk menarik massa malalui keterampilan berbicara dimaknai sebagai retorika. Di dalam khotbah Jumat banyak terdapat aspek bahasa yang dipengaruhi oleh unsur kebudayaan setempat. Khotbah Jumat sebagai sebuah wacana tentunya dapat dianalisis dari aspek mikrostruktural yang berkaitan dengan aspek gramatikal, aspek leksikal, kohesi, dan koherensi. Adapun dari aspek makrostruktural berkaitan dengan unsur kebudayaan atau kultural masyarakat sekitar di luar aspek kebahasaan atau linguistik yang di dalamnya berkaitan dengan konteks yaitu partisipan, tempat dan waktu, saluran yang digunakan, kode yang digunakan, bentuk pesan beserta isinya, peristiwa dengan sifat, dan nada pembicaraan.
Bimbingan dan Konseling Sekolah H Kamaluddin
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 17 No. 4 (2011)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v17i4.40

Abstract

The counselor plays an important role in the education system. They are regarded as school psychology. Counseling must possess and target to expand and develop the student’s potentials. They must posses good public relations and alternative solutions to students.The counselor conducts planning, carry out the programme, monitor and evaluate, and take further actions in their counseling activities. The counselor is also responsible to provide career path to the students. To conclude, the counselor act as a problem solver to the students. The Ministry of Education has given full freedom to the counselor to develop the students’ potentials and provide effective guidance and counseling. ABSTRAKPenyuluh memainkan peranan penting dalam sistem pendidikan dan mereka dianggap sebagai psikolog sekolah. Penyuluhan harus mencangkup dan mempunyai sasaran untuk mengembangkan serta memperluas potensi-potensi siswa. Mereka harus memiliki kemampuan hubungan masyarakat hubungan masyarakat yang bagus dan solusi alternative kepada para siswa. Penyuluh melaksanakan perencanaan, menjalankan program, pengawasan dan evaluasi serta melaksanakan tindak lanjut dalam kegiatan penyuluhan. Penyuluhan juga bertanggung jawab dalam menginformasikan jalur-jalur karir kepada para siswa. Penyuluhan bertindak sebagai penyelesaian masalah solver para siswa. Menteri Pendidikan telah memberikan kebebasan penuh kepada penyuluhan untuk mengembangkan potensi siswa dan menyediakan bimbingan serta penyuluhan yang efektif.
Penyetaraan (Equating) Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) Dengan Teori Tes Klasik Arniati Prasedyawati Herkusumo
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 17 No. 4 (2011)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v17i4.41

Abstract

Since the enactment of the National Standard School Final Examination (UASBN) in school year 2007/2008, the province is authorized to construct exam questions based on the same lattice issued BSNP. No tests ever found two packages with different grain problem, although based on the same grid have the same difficulty level. Therefore, the evaluation of the National Exam level using several different test packets and measuring the same thing, need to be equated. The effect of equating scores on the packages used in this UN estimates that the slightest error of measurement can be known, and the scores obtained can be compared so that the test participants are not disadvantaged or advantaged because of getting an easier or more difficult test package accidentally. The purpose of this Research is to 1) determine the conversion of the value of the subjects to be tested nationally among province, among packages at UASBN.; 2) know the actual ability of the participants UASBN based on the conversion of the values that have been synchronised. In this research, the technique used is equipercentile equating with the use of the software Program for Common Item Equating (CIPE) version 2.0 ABSTRAKSejak diberlakukannya Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) pada tahun pelajaran 2007/2008, propinsi diberi kewenangan untuk menyusun soal-soal ujian berdasarkan kisi-kisi yang sama yang dikeluarkan BSNP. Para ahli pengukuran menyatakan bahwa tidak pernah ditemukan dua paket tes dengan butir soal yang berbeda walaupun berdasarkan kisi-kisi yang sama mempunyai tingkat kesukaran yang sama. Oleh karena itu dalam pelaksanaan evaluasi setingkat Ujian Nasional yang menggunakan beberapa paket tes yang berbeda dan mengukur hal yang sama, perlu dilakukan penyetaraan (equating). Dengan dilakukannya penyetaraan/equatingskor atas paket-paket yang digunakan dalam UASBN, maka estimasi kesalahan pengukuran yang sekecil apapun dapat iketahui, dan skor yang diperoleh dapat dibandingkan sehingga peserta tes tidak merasa dirugikan atau diuntungkan karena kebetulan mendapat paket tes yang lebih mudah atau yang lebih sukar. Tujuan Penelitian adalah menentukan konversi nilai mata pelajaran yang diujikan secara nasional antarprovinsi, antarpaket pada jenjang pendidikan Sekolah Dasar, dan mengetahui kemampuan sebenarnya dari peserta UASBN berdasarkan konversi skor yang telah disetarakan. Pada penelitian ini, teknik equatingyang digunakan adalah equipercentile equating dengan menggunakan software Common Item Program for Equating(CIPE) versi 2.0.
Bias Gender Dalam Prestasi Akademik Siswa: Studi tentang Perbandingan Prestasi Akademik Siswa Laki-laki dan Perempuan di SMA 12 Bekasi Rakhmat Hidayat
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 17 No. 4 (2011)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v17i4.42

Abstract

This article has two purposes for writing. Firstly, explain the differences in academic achievement between students of men and women on the subjects of Physics, Sociology and Indonesian? Secondly, to explain the tendency of academic achievement differences between boys and girls on the subjects of Physics, Sociology and Bahasa Indonesian. It can be concluded that the subjects of Physics, women have higher grades than men. On the subject of Sociology and the Indonesian language, there were no significant differences between men and women. The results of this study was influenced by developments or changes in the mindset that embraced the values of society regarding women’s position in society. This study use a quantitative approach with secondary data analysis methods (ADS). Data collection method used is the method of documentation. It should be done early gender socialization to students about gender equality in an effort to minimize the occurrence of gender bias. ABSTRAKArtikel ini memiliki dua tujuan penulisan. Pertama, menjelaskan perbedaan prestasi akademik antara siswa laki-laki dan perempuan pada mata pelajaran Fisika, Sosiologi dan Bahasa Indonesia? Kedua, menjelaskan kecenderungan perbedaan prestasi akademik antara siswa laki-laki dan perempuan pada mata pelajaran Fisika, Sosiologi dan Bahasa Indonesia. Dapat disimpulkan bahwa pada mata pelajaran Fisika, perempuan mempunyai nilai yang lebih tinggi dibanding laki-laki. Pada mata pelajaran Sosiologi dan Bahasa Indonesia, tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara laki-laki dan perempuan. Hasil penelitian ini dipengaruhi oleh perkembangan pola pikir atau perubahan nilai-nilai yang dianut masyarakat berkaitan posisi perempuan dalam masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode analisis data sekunder (ADS). Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode dokumentasi. Perlu dilakukan sosialisasi gender sejak dini kepada pelajar tentang kesetaraan gender dalam upaya meminimalisir terjadinya bias gender.
Peningkatan Kompetensi Guru Melalui Lesson Study: Kasus Di Kabupaten Bantul JM Tedjawati
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 17 No. 4 (2011)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v17i4.43

Abstract

The purpose of this writing is find out about the implementation of lesson study program, especially in terms of: 1) The implementation of lesson study program, 2) The role of school principals and heads of education offices in the implementation of lesson study program, and 3) The impact of the implementation of lesson study program. It’s objective is to address the problems being faced today, to what extent the implementation of lesson study can be applied in the classroom and the impact of the lesson study program. Analysis findings show that: 1) Lesson study program can be implemented because of the support of cooperation between teachers, principals, and the role of coordinator in preparing the program. For teachers, the program is very useful in the classroom, while increasing the ability of competence. Teachers are required to be able to do lesson planning, teaching practice, as well as receive input from other teachers or facilitators, or principal, 2) The existence of support from school principals and heads of education offices in lesson study program. The role of principals, among others, support in the implementation, mentoring, and financing activities of lesson study. The role of head of educational office including the provision of training and certification for teachers, approved the use of the funds for lesson study program, and 3) The impact lesson study program for teachers is the increasing ability of teachers. They are more innovative in teaching with variety in the methods and more relevant towards student’s ability. In addition, theachers quality and quantity increase in implementing the Classroom Action Research (PTK). ABSTRAKTujuan penulisan ini dimaksudkan untuk mengetahui pelaksanaan program lesson study, khususnya dalam hal: 1) Pelaksanaan program lesson study; 2) Peran kepala sekolah dan kepala dinas pendidikan dalam pelaksanaan program lesson study; dan 3) Dampak pelaksanaan program lesson study. Temuan analisis ini menunjukkan bahwa:  1) Program lesson study dapat dilaksanakan karena adanya dukungan kerja sama antar guru, kepala sekolah, dan peran koordinator dalam menyusun program. Bagi guru, program ini sangat bermanfaat dalam pembelajaran di kelas, sekaligus dapat meningkatkan kemampuan kompetensinya. Guru dituntut untuk dapat melakukan perencanaan pembelajaran, mempraktikan pembelajaran tersebut, serta menerima masukan dari guru lain ataupun fasilitator atau kepala sekolahnya; 2) Adanya dukungan dari kepala sekolah dan kepala dinas pendidikan dalam program lesson study. Peran kepala sekolah antara lain dukungan dalam pelaksanaan, pendampingan, dan pendanaan kegiatan lesson study. Peran kepala dinas antara lain pemberian pelatihan dan sertifikat bagi guru, menyetujui penggunaan dana BOS untuk program lesson study; dan 3) Dampak program lesson studybagi guru adalah meningkatnya kemampuan guru. Mereka lebih inovatif dengan metode pembelajaran lebih bervariasi dan lebih relevan terhadap tingkat kemampuan siswa serta meningkatnya kualitas serta kuantitas guru dalam melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
Kemampuan Tim Pengembang Kurikulum Merancang Kegiatan Pembelajaran dan Penilaian Yang Mengembangkan Keterampilan Berpikir Kompleks (Suatu survai terhadap TPK di 4 kabupaten) Mutiara O Panjaitan
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 17 No. 5 (2011)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v17i5.44

Abstract

The objective of research is to obtain the information about the ability of Curriculum Development Team (TPK) of districts in designing learning activities and assessments contain complex thinking skills that include critical thinking, problem solving, and creative thinking. Based on the results of analysis using the Table of The Cognitive Process Dimension and Gubbin’s Matrix of Thinking Skills, known that only 24.58% TPK capable of designing learning tasks and assessments containing complex thinking skills, and of that number only 31% are able to design a creative thinking task. ABSTRAKTujuan penelitian dimaksudkan untuk memperoleh informasi tentang kemampuan TPK di empat kabupaten dalam merancang kegiatan pembelajaran dan penilaian bermuatan keterampilan berpikir kompleks yang meliputi berpikir kritis, pemecahan masalah, dan berpikir kreatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan Tabel The Cognitive Process Dimension dan Gubbin’s Matrix of Thinking Skills, diketahui hanya 24.58% TPK yang mampu merancang kegiatan pembelajaran dan penilaian bermuatan keterampilan berpikir kompleks, dan dari jumlah tersebut hanya 31% yang mampu merancang tugas berpikir kreatif.
Rintisan Pengembangan Pendidikan Karakter di Satuan Pendidikan Sutjipto --
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 17 No. 5 (2011)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v17i5.45

Abstract

This study describes the development model the values of character education in the educational unit stub year 2010 organized by the Curriculum Centre. Studies descriptive studies shaped by critical discourse analysis, where the main data processed by the program activities, implementation activities, and reports results of activities throughout the pilot implementation of character education unit of the nation. Information collected through various sources such as documentation, focus group discussion, and direct involvement of researchers in pilot activities. Data analysis techniques are used, namely description, and interpretation. The study results indicate that the pilot general education units successfully apply character values that can be observed by naked eye directly (tangible) such as religious, caring environment (clean, neat, safe, comfortable, beautiful, shady and cool), discipline, empathy, employment same time, polite, friendly, smiling, greeting, and sapa. The success is derived from the phases of activity that is organized, coordinated, and conditioned, through the socialization model development and training policies, the implementation of internships in the education unit terpetik experience (best practice), the preparation level of the education curriculum, and supervision. ABSTRAKStudi ini menggambarkan model pengembangan nilai-nilai pendidikan karakter pada satuan pendidikan rintisan tahun 2010 yang diselenggarakan oleh Pusat Kurikulum. Studi berbentuk kajian deskriptif dengan analisis wacana kritis, di mana data utama diolah berdasarkan program kegiatan, pelaksanaan kegiatan, dan laporan hasil kegiatan di seluruh satuan pendidikan rintisan implementasi karakter bangsa. Informasi dikumpulkan melalui berbagai sumber seperti dokumentasi, fokus grup diskusi, dan keterlibatan langsung peneliti dalam kegiatan rintisan. Teknik analisis data yang dipergunakan, yaitu deskripsi, dan interpretasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa satuan pendidikan rintisan umumnya berhasil menerapkan nilai-nilai karakter yang dapat diamati secara kasat mata langsung (tangible) seperti religius, peduli lingkungan (bersih, rapi, aman, nyaman, indah, teduh dan sejuk), disiplin, empati, kerja sama, sopan santun, ramah, senyum, salam, dan sapa. Keberhasilan tersebut diperoleh dari adanya tahapan kegiatan yang terorganisir, terkoordinasi, dan terkondisi, melalui sosialisasi kebijakan pengembangan model dan pelatihan, pelaksanaan magang di satuan pendidikan pengalaman terpetik (best practice), penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan, dan supervisi.

Page 6 of 54 | Total Record : 535