cover
Contact Name
Bandiyah
Contact Email
jurnaldikbud1@gmail.com
Phone
+6281288370671
Journal Mail Official
jurnaldikbud@kemdikbud.go.id
Editorial Address
Sekretariat BSKAP Kemendikbud Gedung E, Jalan Jenderal Sudirman, Senayan Jakarta 10270 Telepon: (021) 57900405, Faksimile: (021) 57900405 Email: jurnaldikbud@kemdikbud.go.id; jurnaldikbud@yahoo.com
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan
ISSN : 24608300     EISSN : 25284339     DOI : https://doi.org/10.24832/jpnk.v5i1.1509
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan is a peer-reviewed journal published by Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Agency for Research and Development, Ministry of Education and Culture of Republic of Indonesia), publish twice a year in June and December. This journal publishes research and study in the field of education and culture, such as, education management, education best practice, curriculum, education assessment, education policy, education technology, language, and archeology.
Articles 543 Documents
Ketercapaian Kurikulum Merdeka dan Kesiapan Guru di Daerah Terdepan, Terluar, dan tertinggal(3-T) Saiman, Rifaid; Rusdianto; Kasman, Rifai
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 10 No. 1 (2025)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikdasmen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v10i1.5595

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan ketercapaian Kurikulum Merdeka dan kesiapan guru daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3-T) di Kecamatan Taliabu Timur Selatan. Penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif kualitatif yang melibatkan Informan penelitian dari kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang kurikulum dan tiga guru pada masing-masing sekolah. Penelitian dilaksanakan pada 12 sekolah di Kecamatan Taliabu Timur Selatan. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data melalui tahapan reduksi data, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kurikulum Merdeka belum diterapkan secara keseluruhan di sekolah-sekolah pada daerah 3-T Kabupaten Taliabu Timur Selatan karena keterbatasan fasilitas pendukung. Ketercapaian pada sekolah-sekolah yang telah menerapkan Kurikulum Merdeka ditinjau dari hasil belajar siswa belum menunjukkan perbedaan signifikan. Sebagian besar guru menyatakan ketidaksiapan terhadap implementasi Kurikulum Merdeka karena belum dibekali dengan program pelatihan dan pendampingan. Kesimpulan, ketercapaian dan kesiapan guru terhadap implementasi Kurikulum Merdeka di Kecamatan Taliabu Timur Selatan dalam praktiknya belum sesuai dengan target yang diharapkan sehingga diperlukan program pelatihan yang intensif dan pendampingan berkelanjutan bagi para guru, serta perbaikan fasilitas pendukung.
Dampak Kepemimpinan Digital Kepala Sekolah terhadap Integrasi Teknologi Guru di Sekolah Dasar Kasim, Meilani; Surya, Priadi
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 10 No. 1 (2025)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikdasmen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v10i1.5662

Abstract

Kepemimpinan kepala sekolah mempunyai peran yang krusial dalam mengarahkan dan memfasilitasi penggunaan teknologi di dalam kelas. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara kepemimpinan digital kepala sekolah dengan integrasi teknologi oleh guru. Penelitian dengan pendekatan kuantitatif deskriptif ini mengambil data melalui survei dari sampel yang terdiri dari 32 kepala sekolah dan 61 guru di Kabupaten Bone Bolango. Teknik analisis korelasi digunakan untuk mengidentifikasi hubungan antara kedua variabel tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepala sekolah memiliki kepemimpinan digital yang tinggi, khususnya dalam aspek kepemimpinan visioner dan pengembangan profesional, yang berdampak positif pada penggunaan teknologi oleh guru, terutama dalam komunikasi dan administrasi. Meskipun demikian, tantangan terkait kompetensi digital guru dan infrastruktur teknologi masih menjadi hambatan utama. Penelitian ini menegaskan bahwa kepemimpinan digital kepala sekolah memegang peran penting dalam mendukung adopsi teknologi oleh guru. Namun untuk meningkatkan efektivitasnya diperlukan peningkatan pelatihan digital dan peningkatan infrastruktur teknologi di sekolah
Peran Kurikulum dalam Pelestarian Bahasa Daerah: Studi Komparatif Kurikulum India dan Indonesia Mechwafanitiara Cantika, Varary; Susilana, Rudi; Johan, Riche Cynthia
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 10 No. 1 (2025)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikdasmen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v10i1.5685

Abstract

Upaya pelestarian bahasa daerah dalam kurikulum perlu mendapat perhatian serius dalam kebijakan pendidikan di berbagai negara saat ini termasuk kebijakan pendidikan di Indonesia dan India sebagai negara multikultural. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan kurikulum India dan kurikulum Indonesia dalam mendukung pelestarian bahasa daerah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis isi. Sumber data utama dengan memanfaatkan berbagai dokumen kurikulum dari kedua negara. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan kerangka analisis konten yang mencakup enam tahapan yaitu Mengidentifikasi unit analisis, pengambilan sampel, pencatatan atau pengkodean, reduksi data, menarik kesimpulan, dan menyusun narasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kurikulum India mengadopsi formula tiga bahasa yang terstruktur, sehingga berhasil meningkatkan literasi bahasa daerah melalui pendekatan yang terstandar. Sementara Kurikulum di Indonesia menawarkan fleksibilitas tinggi yang memungkinkan adaptasi lokal dalam penyusunan materi dan metode pembelajaran berbasis budaya. Namun fleksibilitas tersebut juga menjadi tantangan dalam memastikan konsistensi dan kualitas implementasi di seluruh wilayah. Kesimpulan, upaya pelestarian bahasa daerah diakomodasi dalam kurikulum India dengan kebijakan tiga bahasa yang terstruktur, sementara pada kurikulum Indonesia diakomodasi dengan mengandalkan fleksibilitas lokal yang menghadirkan peluang adaptasi sekaligus tantangan konsistensi pelaksanaan.
Teachers’ Competence in Implementing Thematic Social Studies Instruction: An Evaluative Study at Junior High School Level of Lumajang Regency Sutomo, Moh.; Musyarofah; Arifin, Miftah
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 10 No. 1 (2025)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikdasmen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v10i1.5759

Abstract

The effective implementation of thematic learning in Social Studies (IPS) at the junior secondary level requires teachers to possess interdisciplinary knowledge and advanced pedagogical skills. This study explores competency gaps among Social Studies teachers without formal Social Sudies qualifications in Lumajang Regency, Indonesia, and examines how these gaps affect thematic learning delivery. Using a qualitative phenomenological approach, data were collected through non-participant observations, structured questionnaires, and in-depth interviews with 30 teachers from SMP and MTs schools. The findings reveal significant disparities in subject matter expertise, instructional design, and classroom management, with only 50% of teachers meeting competency standards for thematic Social Studies teaching. Key factors underlying these gaps include diverse academic backgrounds, limited understanding of the thematic curriculum, and insufficient engagement in professional development activities. The study highlights the urgent need for targeted capacity-building programs, continuous professional learning opportunities, and collaborative teacher networks to bridge competency deficiencies. Furthermore, policy interventions are recommended to standardize teacher qualifications and support sustained professional growth. Addressing these challenges can improve the quality of thematic Social Studies instruction and improve student learning outcomes. This study provides an empirical foundation and policy recommendations for improving teacher competence within the context of an integrated curriculum which can be utilized by education stakeholders in Indonesia and in similar settings.
Implementasi Etika Jawa dalam Praktik Kepemimpinan Sekolah Roring , Timmy Ardian; Tondok, Marselius Sampe
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 10 No. 1 (2025)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikdasmen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v10i1.5873

Abstract

Kerukunan dan sikap hormat adalah kaidah dasar etika Jawa yang merupakan kunci untuk mewujudkan harmoni dalam kehidupan bermasyarakat orang Jawa. Di tengah tatanan sosial Jawa yang identik dengan hierarki, para pemimpin dalam masyarakat Jawa berupaya untuk menerapkan nilai dasar etika Jawa tersebut saat menjalankan peran mereka, termasuk kepala sekolah sebagai pemimpin unit satuan pendidikan. Penelitian ini bertujuan menggali bagaimana etika Jawa mewarnai gaya kepemimpinan kepala sekolah. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif-fenomenologi. Pengambilan data melalui wawancara mendalam semi-terstruktur dilakukan terhadap tiga partisipan yang kesemuanya adalah orang Jawa dan memiliki pengalaman memimpin sekolah. Analisis data dengan pendekatan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) menunjukkan bahwa kepala sekolah mengimplementasikan nilai/kaidah dasar etika Jawa dengan cara (1) mau berbaur dengan timnya, (2) tidak segan untuk ikut bergotong royong bersama timnya, (3) bersedia mendengarkan aspirasi timnya, (4) menerapkan sikap asah, asih, asuh, (5) menegur secara empat mata, dan (6) menjunjung (nilai) tradisi dengan menjadi figur yang mengayomi. Perilaku kepemimpinan tersebut mencerminkan sifat ideal pemimpin Jawa sebagaimana diuraikan dalam falsafah Hastabrata, serta selaras dengan ciri universal kepemimpinan yang demokratis dan transformasional. Penelitian ini menyimpulkan bahwa dalam praktik kepemimpinan, kepala sekolah menerapkan gaya kepemimpinan partisipatif dan humanis yang sejalan dengan prinsip adat Jawa dan gaya kepemimpinan universal.
Model Sistem Manajemen Pendidikan PAUD Berbasis Keadilan Akses dan Mutu di Wilayah Rural: Penelitian Kasus di Kabupaten Probolinggo Teguh Triwiyanto; Pramono; Muh. Arafik; Desi Eri Kusumaningrum; Henry Praherdhiono
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 11 No 1 (2026)
Publisher : Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah, Kemendikdasmen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v11i1.5890

Abstract

Meskipun berbagai kebijakan telah diarahkan untuk meningkatkan akses dan mutu pendidikan anak usia dini (PAUD), implementasinya di wilayah rural masih menghadapi tantangan. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman yang lebih mendalam mengenai sistem manajemen PAUD yang mampu mengakomodasi karakteristik dan kebutuhan pendidikan usia dini di daerah rural. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui sistem manajemen pendidikan PAUD di wilayah rural Kabupaten Probolinggo dalam konteks keadilan akses dan mutu pendidikan, memahami pengalaman dan praktik guru serta kepala PAUD, serta merumuskan model konseptual manajemen PAUD yang sesuai dengan konteks lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus pada 37 lembaga PAUD di wilayah rural Kabupaten Probolinggo. Data diperoleh dari guru dan kepala PAUD melalui FGD dan studi dokumentasi, lalu dianalisis menggunakan teknik reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem manajemen PAUD di wilayah rural dipengaruhi oleh interaksi antara faktor geografis, sosial budaya, dan tingkat keterlibatan masyarakat. Temuan juga mengungkap bahwa guru dan kepala PAUD menghadapi berbagai tantangan dalam menerjemahkan prinsip pemerataan akses dan mutu ke dalam praktik pengelolaan dan pembelajaran sehari-hari. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merumuskan model manajemen PAUD konseptual dan kontekstual yang bertumpu pada kemitraan sekolah, keluarga, dan masyarakat yang didukung oleh kurikulum yang adaptif dan sensitif terhadap budaya lokal. Model ini diharapkan dapat menjadi rujukan dalam pengembangan kebijakan dan praktik pengelolaan PAUD untuk mendukung terwujudnya keadilan akses dan mutu pendidikan anak usia dini yang optimal di daerah rural. 
Inclusive Revolution: Children’s Right to Participation and Inclusivity in Child-Friendly Schools in Indonesia Muhammad Fajhriyadi Hastira; Aliyah Ahmad; Mustika Syaharuddin; Ali Maksum
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 10 No 2 (2025)
Publisher : Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah, Kemendikdasmen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v10i2.6428

Abstract

 This study aims to examine the implementation of child participation and inclusivity values within Child-Friendly School (CFS) program in Indonesia employing a hexahelix approach to highlight the gap between policy and practice. The CFS strategy is a national initiative to realize inclusive and participatory education in Indonesia, based on children’s rights and Sustainable Development Goals. This study applied a qualitative descriptive method through analysis of regulatory documents, guidelines, scientific literature, and collaborative data related to CFS implementation. Vygotsky’s theoretical framework on social constructivism and Bronfenbrenner’s ecological theory of child development were used to interpret the dynamics of CFS implementation. The findings indicate the difference in implementation across institutions, particularly in the aspects of child involvement and cross-sector coordination. The hexahelix approach strengthens the effectiveness of CFS through multi-stakeholder collaboration. The study recommends establishing a hexahelix collaboration forum at the local level and developing training programs for educators to optimize CFS principles. This study contributes to the academic gap in understanding and improving the implementation of CFS in Indonesia.
Kearifan Lokal Masyarakat Pulau Taliabu untuk Penguatan Delapan Dimensi Profil Lulusan Rifaid Saiman; Rifai Kasman; Rusdianto; Sufri Saleh
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 11 No 1 (2026)
Publisher : Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah, Kemendikdasmen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v11i1.6868

Abstract

Penguatan delapan dimensi profil lulusan membutuhkan sumber belajar kontekstual yang terkait erat dengan pengalaman hidup mahasiswa. Namun, penelitian mengenai kearifan lokal sebagai sumber belajar masih terbatas, khususnya di wilayah perbatasan, terpencil, dan terbelakang (3-T). Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi kearifan lokal masyarakat Pulau Taliabu dalam mendukung delapan dimensi profil lulusan, yaitu capaian kompetensi, karakter, dan kemampuan holistik peserta didik setelah menyelesaikan pendidikan. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnosains di wilayah Taliabu Timur Selatan, Maluku Utara. Informan dipilih secara purposif, meliputi guru jenjang SD, SMP, dan SMA, serta tokoh masyarakat. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi terhadap kondisi sosial di sekolah serta wawancara mendalam. Data dianalisis secara induktif melalui tahapan reduksi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, sedangkan keabsahannya diuji menggunakan teknik triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berbagai bentuk kearifan lokal masyarakat Pulau Taliabu, seperti keberagaman etnis yang hidup rukun, gotong royong, pengetahuan tradisional tentang tumbuhan obat dan pertanian lokal, serta kriya berbasis alam, memiliki relevansi kuat dengan delapan dimensi profil lulusan seperti keimanan dan akhlak mulia, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi. Nilai-nilai lokal tersebut dapat diintegrasikan ke dalam berbagai mata pelajaran, sehingga memperkaya pembelajaran kontekstual dan penguatan karakter. Dengan demikian, pemanfaatan kearifan lokal masyarakat Pulau Taliabu dalam pendidikan berpotensi memperkuat delapan dimensi profil lulusan siswa, serta membantu mengatasi tantangan implementasi kurikulum di daerah terpencil. 
Pembelajaran Kontekstual Berbasis Kearifan Lokal: Studi Naratif tentang Resiliensi dan Adaptasi Guru di Pedalaman Tambrauw Anita Novita Machmud; Anwar Novianto; Firmansyah
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 11 No 1 (2026)
Publisher : Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah, Kemendikdasmen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v11i1.6920

Abstract

Pembelajaran kontekstual merupakan pendekatan penting untuk menciptakan pengalaman belajar yang bermakna, terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3-T) yang menghadapi keterbatasan infrastruktur, kondisi geografis yang menantang, serta keragaman sosial dan budaya yang khas. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi tantangan yang dihadapi oleh guru dalam menerapkan pembelajaran kontekstual, strategi yang dikembangkan untuk mengatasinya, serta refleksi profesional yang muncul dari pengalaman mengajar di daerah di wilayah 3-T. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain naratif yang melibatkan empat puluh guru sekolah dasar di Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan pendekatan naratif dan tematik. Temuan penelitian menunjukkan bahwa guru menghadapi tantangan, meliputi keterbatasan infrastruktur pendidikan, kondisi geografis yang sulit, rendahnya dukungan sebagian keluarga dan masyarakat, serta kompleksitas pengelolaan kelas rangkap (multigrade classrooms). Untuk mengatasi tantangan tersebut, guru mengembangkan berbagai strategi adaptif dengan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar, mengintegrasikan budaya lokal, bahasa daerah, cerita rakyat, tradisi masyarakat ke dalam pembelajaran, serta melibatkan orang tua dan tokoh masyarakat dalam proses pembelajaran. Kearifan lokal berfungsi sebagai fondasi penting untuk menciptakan pengalaman belajar yang bermakna sekaligus memperkuat identitas budaya siswa. Dengan demikian, pembelajaran kontekstual di daerah terpencil merupakan proses adaptif dan transformatif yang ditopang oleh resiliensi, kreativitas, dan refleksi profesional guru dalam mempromosikan pendidikan yang relevan, bermakna, dan berkelanjutan. Temuan ini berimplikasi pada pentingnya kebijakan kurikulum yang afirmatif dan program dukungan psikososial yang berkelanjutan bagi guru di wilayah 3-T.
Science Teacher Educators’ Perceptions of Science Education in Indonesia: Challenges, Systemic Barriers, and Pedagogical Gaps Ikmanda Nugraha; Dian Hendriana
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 11 No 1 (2026)
Publisher : Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah, Kemendikdasmen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v11i1.7071

Abstract

Science education in Indonesia continues to grapple with systemic and persistent challenges, particularly regarding teacher quality and the overall effectiveness of science teaching and learning. This study aims to examine Science Teacher Educators’ (STEs) perceptions of the current state of science education in Indonesia, the key challenges affecting its development, as well as the systemic factors influencing teacher preparation and classroom practice. Using a qualitative research design, semi-structured interviews were conducted with 19 STEs from a leading university in science education in Bandung, West Java, Indonesia. The data were analyzed using thematic analysis. The findings reveal that STEs perceived science education in Indonesia as still facing interconnected challenges, including inconsistent teacher professionalism, disparities in the quality of teacher preparation across institutions, limited opportunities for practical and inquiry-based learning, frequent curriculum changes without sustained policy direction, and skepticism toward international assessments. Overall, these findings highlight the complex interplay among institutional, policy, and cultural factors shaping science education in Indonesia and underscore the need to strengthen teacher education as a key strategy to improve the quality of science education.