cover
Contact Name
Laelatul Qodaryani
Contact Email
jsdlbbsdlp@gmail.com
Phone
+6285641147373
Journal Mail Official
jsdlbbsdlp@gmail.com
Editorial Address
Balai Besar penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) Jln. Tentara Pelajar no 12, kampus Penelitian Pertanian Cimanggu, Ciwaringin, Bogor Tengah, Kota Bogor, Jawa Barat 16114
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Sumberdaya Lahan
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ini memuat artikel tinjauan (review) mengenai hasil-hasil penelitian yang telah diterbitkan, dikaitkan dengan teori, evaluasi hasil penelitian lain, dengan atau mengenai kebijakan. Ruang lingkup artikel tinjauan ini meliputi bidang: tanah, air, iklim, lingkungan pertanian, perpupukan dan sosial ekonomi sumberdaya lahan.
Articles 173 Documents
Dampak Perubahan Iklim terhadap Sumberdaya Air: Identifikasi, Simulasi, dan Rencana Aksi Popi Rejekiningrum
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 8, No 1 (2014)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v8n1.2014.%p

Abstract

Abstrak. Perubahan iklim saat ini telah terjadi secara global. Bukti-bukti tentang hal itu telah dilaporkan secara sistematis oleh Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC) dan The United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC). Perubahan iklim telah dan akan menyebabkan bahaya langsung berupa perubahan pola curah hujan, kenaikan suhu, kenaikan muka air, dan kejadian iklim ekstrim. Berbagai proses yang memicu perubahan iklim global dan perubahan iklim telah diterima banyak pihak sebagai keniscayaan yang dicirikan oleh pemanasan global, dengan dampak langsung terhadap daur hidrologi, sehingga perubahan iklim diyakini memberi dampak secara nyata terhadap sumberdaya air di banyak wilayah di dunia dengan konsekuensi luas pada kehidupan masyarakat dan lingkungan. Makalah ini membahas dampak perubahan iklim terhadap sumberdaya air di Indonesia melalui identifikasi dengan data dan fakta empirik terjadinya tren perubahan curah hujan dan debit aliran sungai‐sungai di Indonesia dan berbagai upaya antisipasi melalui adaptasi, serta Undang Undang dan Rencana Aksi yang terkait dengan pengelolaan sumberdaya air dalam menyikapi perubahan iklim global. Upaya-upaya tersebut diharapkan menjadi strategi untuk mengurangi kerentanan dan risiko perubahan iklim sektor sumberdaya air.Abstract. Climate change has been occurring globally. Evidence of it has been reported systematically by Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC) and the United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC). Climate change has and will cause immediate impact on changes in precipitation patterns, rising temperatures, sea level rise, and extreme climate events. The processes that lead to global climate change and climate change has been accepted by many as a necessity which is characterized by global warming, with a direct impact on the hydrological cycle, so that climate change is believed to significantly impact on water resources in many regions of the world with broad consequences on people's lives and the environment. This paper discusses the impact of climate change on water resources in Indonesia through identification with the scientific evidence of the empirical facts and data change trend in rainfall and river flow rivers in Indonesia, shows the various efforts to anticipate through adaptation, and Law and Action Plan related to water resources management in facing of global climate change. These efforts are expected to be a strategy to reduce vulnerability and risks of climate change on the water resources sector.
Aplikasi Teknik Computed Tomography (CT) Scan dalam Penelitian Porositas Tanah dan Perkembangan Akar Achmad Rachman
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 9, No 2 (2015)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v9n2.2015.%p

Abstract

Abstrak: Perkembangan akar dan laju pergerakan air di dalam profil tanah sangat dipengaruhi oleh bentuk, ukuran, dan orientasi dari pori tanah. Tingginya variabilitas pori tanah, baik pada skala keruangan (spatial) maupun waktu (temporal), membutuhkan teknik pengukuran yang cepat dan dapat dilakukan berulangkali tanpa merusak obyek penelitian agar dihasilkan rekomendasi pengelolaan yang lebih tepat. Penggunaan X-ray computed tomography (CT) scan, yang digunakan dalam dunia kedokteran untuk mendiagnose penyakit pasien, dapat digunakan secara cepat dan akurat untuk mengkuantifikasi porositas dan sifat-sifat tanah lainnya serta perkembangan perakaran di dalam tanah. Kelebihan teknik CT scan dibanding teknik sebelumnya seperti kurva karakteristik air dan teknik irisan tipis adalah dapat mengkuantifikasi jumlah pori, pola distribusi keruangan, dimensi fraktal, dan bentuk pori dari gambar 3 dimensi (3-D) beresolusi tinggi yang dihasilkan. Makalah ini bertujuan untuk mereview penggunaan CT Scan dalam penelitian porositas tanah dan perakaran untuk mendapatkan pemahaman yang lebih detil tentang interaksi antara tanah dan akar. Dengan pemahaman yang lebih detil tersebut dapat ditentukan teknik pengelolaan tanah dan tanaman yang lebih baik untuk meningkatkan produktivtas pertanian.Abstract: Root development and water movement in the soil profile are highly affected by the shape, size and orientation of the soil pores. The high spatial and temporal variability of soil porosity required a quick and repeated non-distruptive technique to measure it in order to develop a more suitable land management recommendation. The use of computed tomography (CT) scan, which has been used for years in medical examination of patient, can be utilized in quantifying rapidly and accurately soil porosity and other soil characteristics as well as root development in the soil sample. The advantage of CT scan technique over other techniques such as soil water characterictis curve and thin section is the possibility to quantify the amount, spatial distribution, fractal dimension, and shape of the soil pores from 3-D high resolution image produced. The aim of this review is to offer a perspective on the possible application of CT scan technique in soil porosity and root studies to obtain more detail understanding of soil and root interactions. With that understanding, one can develop more accurate soil and crop management to improve agriculture productivity.
Keberlanjutan Inovasi Teknologi Lahan Rawa Pasang Surut : Prospek, Kendala dan Implementasi Mamat Haris Suwanda; Muhammad Noor
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v12n2.2018.117-131

Abstract

Abstrak. Masalah pangan yang dihadapi semakin berat dan kompleksnya ditengah semakin meningkatnya jumlah populasi penduduk dan konversi lahan. Sejak tahun 2018 melalui Program UPSUS PAJALE dan Program SERASI pemerintah di bawah Kementerian Pertanian berupaya meningkatkan produksi pangan, khsusunya beras secara nasional.  Dari luas 20,11 juta hektar lahan rawa pasang surut berpotensi sebagai sumber produksi padi seluas 9,53 juta hektar. Jika 50% saja dari lahan yang cocok tersebut dimanfaatkan, maka dapat dihasilkan sekitar 14,295 juta ton GKG per tahun. Dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk pengembangan lahan rawa pasang surut  hasil penelitian dan pengkajian cukup tersedia, baik dalam upaya peningkatan produktivitas dan produksi maupun peningkatan kapasitas dan kelembagaan petani. Implementasi hasil-hasil penelitian tersebut dalam skala luas (scalling up) memerlukan dukungan pemerintah baik pusat maupun daerah. Berdasarkan hasil penelitian dalam meningkatkan produksi tanaman pangan, khususnya padi diperlukan 10 komponen teknologi meliputi : (1) pengelolaan air, (2) penyiapan lahan dan, (3) pengolahan tanah, (4) penataan lahan, (5) ameliorasi, (6) pemupukan, (7) penggunaan varietas adaptif, (8) sistem tanam dan jarak tanam, (9) pengendalian hama dan penyakit tanaman, dan (10) panen dan pasca panen. Tulisan ini bertujuan untuk mengemukakan tentang perspektif keberlanjutan dari  inovasi teknologi lahan rawa pasang surut terkait dengan potensi dan kendalanya dalam implementasi ke depan.  Masalah pokok yang menghambat implementasi teknologi  terdiri paling tidak atas tiga hal yaitu (1) kesesuaian teknis dari teknologi tersebut dengan kemampuan teknis petani, (2) kesesuaian teknis dari teknologi tersebut dengan sosial budaya petani setempat, (3) dukungan dari aspek kelembagaan petani dan pemerintah, termasuk pemerintah daerah. Keberlanjutan inovasi teknologi pertanian lahan rawa pada umumnya paling tidak ditentukan minimal oleh tiga aspek atau dimensi, yaitu aspek ekonomi, sosial dan aspek lingkungan.  Secara garis besar, maka implementasi keberlanjutan teknologi pengembangan rawa, termasuk keberhasilan Program SERASI  hanya dapat dicapai melalui (1) penyiapan infrastruktur pengelolaan air yang tepat sebagai kunci; (2) paket teknologi yang lengkap dan spesifik lokasi dari komponen teknologi penyiapan bibit, penyemaian sampai komponen pasca-panen (pengemasan), dan (3) model kelembagaan menyeluruh dari penyuluhan, permodalan, pengelolaan air, budidaya, pengolahan hasil, pemasaran, dan penyediaan sarana dan prarana produksi, termasuk alsintan.  Abstract. The problem of food faced is increasingly heavy and complex amidst the increasing population and land conversion. Since 2018 through the UPSUS PAJALE Program and the SERASI Program the government under the Ministry of Agriculture has sought to increase food production, especially rice nationally. Of the total 20.11 million hectares of tidal swamp land potentially as a source of rice production, 9.53 million hectares. If only 50% of the suitable land is utilized, it can produce around 14,295 million tons per year. The support of science and technology for the development of tidal swamp land from the results of research and studies is quite available both in an effort to increase productivity and production and increase the capacity and institutional capacity of farmers. In the implementation of scaling up results, the support of the central and regional governments is needed. The results of the research in increasing food crop production, especially rice showed that 10 components of technology were needed including : (1) water management, (2) land preparation and, (3) soil management, (4) land management, (5) amelioration, (6) fertilization , (7) use of adaptive varieties, (8) planting systems and spacing, (9) control of plant pests and diseases, and (10) harvest and post-harvest. This paper aims to suggest the sustainability perspective of tidal swamp technology innovation related to the potential and constraints in future implementation. The main problems that hinder the implementation of technology comprise at least three things, namely (1) the technical suitability of the technology with the farmers' technical capabilities, (2) the technical suitability of the technology with the local socio-cultural farmers, (3) support from the institutional and farm , including local government. The sustainability of technological innovation in swamp farming in general is at least determined by at least three aspects or dimensions, namely economic, social and environmental aspects. Broadly speaking, the implementation of the sustainability of swamp development technology, including the success of the SERASI Program can only be achieved through (1) the preparation of appropriate water management infrastructure; (2) complete and site-specific technology packages from the components of seedling preparation technology, seeding to post-harvest components (packaging), and (3) a comprehensive institutional model of extension, capital, water management, cultivation, yield processing, marketing, and provision facilities and production facilities, including Alsintan.
Prospect of Rice Estate Development in Merauke Regency: A View from Soil and Water Management Aspects I GUSTI MADE SUBIKSA
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 2, No 2 (2008)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v2n2.2008.%p

Abstract

Rice estate development as instrument is targeting Merauke as a rice basket in the eastern part of Indonesia has been started by completing of Master Plan of Rice Estate Development. In the Master Plan, 206 cluster of production zone has been delineated, where each cluster consisted of about 5,000 ha. Rice estate development requires the appropriate land and water management planning to reach high land productivity and sustainable agriculture with minimal negative impacts to the environment. The appropriate soil and water management technologies are believed as key factors to develop this region, because most of the potential lands were swampy. The flat topography with unique and various climatic and hydrological characteristis lead to local specific land and water management. Site plan design model of rice estate should be integrated rice base crop livestock system. Since ruminant could make sinergic interaction with rice, the external input will be lower for sustainable agriculture. Amelioration, balance fertilization, and organic matter management will become technological components to determine the success of rice estate development. This paper explains the prospect of rice estate development from the view point of land and water management, organic matter, and balance fertilization in Merauke Regency, Papua.
Peran Ligan Organik terhadap Pembentukan Oksida Besi di Tanah Sulfat Masam Wahida Annisa; Eko Hanudin
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 7, No 1 (2013)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v7n1.2013.%p

Abstract

Abstrak. Besi oksida dalam tanah terdiri atas goetit (α-FeOOH) berwarna kuning/coklat, hematit (α-Fe2O3) berwarna merah, lepidokrosit (γ-FeOOH) berwarna kuning, maghemit (γ-Fe2O3), magnetit (Fe3O4) berwarna hitam dan ferrihidrit (5Fe2O3.9H2O atau Fe5HO8.4H2O) mempunyai tingkat reaktivitas yang berbeda-beda terhadap ion-ion dalam tanah yang dipengaruhi oleh muatan negatif dan positif dari permukaan besi oksida tersebut. Tanah sulfat masam merupakan salah satu jenis tanah di lahan rawa yang memiliki kandungan bahan sulfidik (pirit) cukup tinggi. Oksidasi senyawa pirit di tanah sulfat masam selain memasamkan tanah akan menghasilkan besi (III) koloidal yang kelamaan akan membentuk besi oksida goetit. Keberadaan ligan organik dalam tanah memiliki peranan yang cukup penting terhadap kristalisasi besi oksida dalam tanah. Semakin besar rasio ligan/Fe(II) dalam tanah maka kristalisasi besi oksida semakin terhambat. Pada tanah masam kehadiran ligan sitrat mempengaruhi terhadap sifat permukaan oksida Fe. Keberadaan asam organik yang merupakan ligan organik akan memberikan dampak terhadap pembentukan goetit dan hematit dari ferrihidrite.Abstract. Iron oxides in the soil consisted of goethite (α-FeOOH) with yellow or brown colour, hemathite (α-Fe2O3) with red, lepidocrocite (γ-FeOOH) with yellow, maghemite (γ-Fe2O3), magnetite (Fe3O4) with black and feryhidrite (5Fe2O3.9H2O or Fe5HO8.4H2O) have different levels of reactivity against different ions in the soil which is influenced by positive and negative charge of the surface of the iron oxide. Acid sulphate soil is one of the soils in wetlands that contain higher sulfidic materials (pyrite). Pyrite oxidation in acid sulphate soil is not only increasing acidity but also producing iron (III) colloidal, which over time will form the iron oxide goethite. The presence of organic ligands in soils has an important role to the crystallization of iron oxides in the soil. The greater the ratio of ligand/Fe (II) in the soil greatly inhibited the crystallization of iron oxide. The presence of citrate ligands in acid soils affects the surface properties of Fe oxides. The presence of organic acid as an organic ligand will affect the formation of goethite and hemathite from ferryhidrite.
Cover JSDL Vol. 11 No. 1 Juli 2017 Ika Mustika Sundari
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 11, No 1 (2017)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cover depan
The Dissemination Of Agricultural Land Resource Maps YIYI SULAEMAN; B. MINASNY; MAMAT H.S
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 5, No 1 (2011)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v5n1.2011.%p

Abstract

The Indonesian Center for Agricultural Land Resource Research and Development (ICALRD) is one of the institutes that operates under the Indonesian Agency for Agricultural Research and Development (IAARD), Indonesian Ministry of Agriculture. Its main function, among others, is to conduct agricultural land resource inventories. These activities have resulted in voluminous agricultural land resource (ALR) maps with various themes, extent and scales. A strategy is required to disseminate these data to prospective users. This paper aims to discuss the approach and method to propagate ALR maps to users. Indonesian ALR maps are composed of climatic, soil, and landform maps at various scales, themes, and extent and covering across the country. The dissemination approach includes promotion and socialization using conventional and net-based media, collaborations with national and international partners, and on-demand sale. Terms and requirements for public access to ALS maps are also presented.
Pemantauan dan Peringatan Dini Kekeringan Pertanian di Indonesia Elza Surmaini
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 10, No 1 (2016)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v10n1.2016.%p

Abstract

Abstrak. Kekeringan pertanian merupakan bencana alam yang sangat kompleks dan mempengaruhi daerah yang luas. Di Indonesia kejadian kekeringan terjadi hampir setiap tahun dan meningkat tajam pada kondisi El Niño yang menyebabkan penuruan produksi pertanian yang signifikan. Namun, sampai saat ini sistim pemantauan, peringatan dini dan diseminasi kekeringan yang komprehensif dan terintegrasi belum tersedia. Pemantauan kekeringan telah dilakukan dan dilaporkan oleh lembaga terkait seperti LAPAN dan BMKG, sedangkan pemantauan kekeringan pertanian dilakukan oleh Kementerian Pertanian. Dalam membangun sistim peringatan dini kekeringan pertanian, pemantauan saja belum memadai karena diperlukan komponen prediksi dan antisipasi dampaknya. Sampai saat ini prediksi kekeringan pertanian yang operasional untuk wilayah Indonesia belum tersedia. Balitbangtan sedang mengembangkan sistim prediksi bencana kekeringan dan banjir pada tanaman padi, namun belum operasional. Sistim peringatan dini kekeringan pertanian sangat diperlukan untuk menurunkan kehilangan produksi pangan. Tulisan ini memaparkan tentang berbagai definisi, indeks dan karakteristik kekeringan, pemantauan kekeringan, perkembangan terbaru mengenai deteksi dini kekeringan pertanian, dan pendekatan yang diperlukan dalam membangun sistim peringatan dini kekeringan pertanian di Indonesia. Informasi dan isu yang disampaikan pada tulisan ini dapat mendorong pengambil kebijakan untuk mengembangkan dan sistim pemantauan dan peringatan dini untuk mengatasi dampak kekeringan lebih efektif.Abstract. Agricultural drought is the most complex natural hazard and affects large areas then causes significant drops in food production. In Indonesia, paddy field drought occurs almost every year and extends during El Niño phenomena with severe consequences for agricultural production in Indonesia. However, up to now, a comprehensive, integrated drought monitoring, early warning and delivery system did not exist. Drought monitoring has already conducted dan reported by the relevant agencies namely BMKG and LAPAN, while agricultural drought monitoring is conducted by Ministry of Agriculture . For developing agricultural drought early warning systems, beside of monitoring components of prediction impact model on agriculture are also impartant. Currently, operational prediction of agricultural drought in Indonesia is not yet available. Balitbangtan is developing agricultural drought prediction for rice, but is not yet operational. If an effective early warning system for monitoring and predicting agricultural drought can be conducted and developed, decline in food crop production can be minimized. Information from issue presented in this article will help policy maker and planner to develop or improve drought monitoring and early warning system to tackle drought impact more effectively.
Potensi Pemanfaatan Biochar untuk Rehabilitasi Lahan Kering di Indonesia Neneng Laela Nurida
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 8, No 3 (2014): Edisi Khusus
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v8n3.2014.%p

Abstract

Abstrak. Pemanfaatan biochar merupakan salah satu upaya pengelolaan limbah pertanian yang prospektif untuk mendorong optimalisasi lahan-lahan suboptimal dan lahan terdegradasi. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan informasi tentang potensi biochar di bidang pertanian khususnya dalam upaya merehabilitasi lahan-lahan suboptimal di Indonesia. Di Indonesia, berbagai sumber bahan baku biochar berupa limbah pertanian tersedia cukup banyak yang diperkirakan mencapai 10,7 juta t th-1, di antaranya berupa sekam padi, kulit buah kakao, tempurung kelapa, tempurung kelapa sawit, tongkol jagung. Kualitas biochar yang diproduksi sangat tergantung pada jenis bahan baku, alat pembakaran, suhu pembakaran, dan lamanya pembakaran. Aplikasi biochar pada lahan pertanian berfungsi sebagai pembenah tanah yang mampu memperbaiki sifat kimia tanah (pH, kapasitas tukar kation, N-total, P-tersedia dan Aldd), sifat fisik tanah (Bulk density, porositas dan kemampuan tanah memegang air). Perbaikan kualitas sifat kimia dan fisik tanah tersebut berdampak pada ketersediaan hara dan air melalui kemampuan biochar meretensi hara dan air. Pada akhirnya, penambahan biochar berimplikasi pada peningkatan produktivitas tanaman pangan. Ke depan, diharapkan dengan aplikasi biochar akan semakin luas lahan-lahan suboptimal dan lahan terdegradasi yang dapat dipulihkan dan ditingkatkan produktivitasnya.Abstract. Biochar utilization is prospective land management to encourage optimization of sub-optimal land. The objective of this paper is to inform of potency of biochar in agricultural aspect especially for rehabilitating of degraded land in Indonesia. In Indonesia, the various sources of raw materials such as agricultural wastes available biochar is quite large reaching 10.7 million t / year, such as rice husks, cacao shell, coconut shell, oil palm shell, and corn cob, etc. Quality of biochar produced depends on the type of raw materials, equipment used, combustion temperature, and duration of combustion. Biochar application on agricultural land serves as soil amendment that can improve soil chemical properties (pH, cation exchange capacity, total-N, available P and Alexch), soil physical properties (bulk density, porosity and water holding capacity). Improvement soil physical and chemical properties impacted on the nutrient availability and water availability through nutrient and water retention. Finally the addition of biochar have been impacted for increasing crop productivity. It is expected that addition of biochar will recover widespread of suboptimal land and then land productivity can be increased.
Strategi Pemanfaatan Sumberdaya Lahan untuk Pencapaian Swasembada Beras Berkelanjutan Anny Mulyani; Dedi Nursyamsi; Muhammad Syakir
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 11, No 1 (2017)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v11n1.2017.11-22

Abstract

Abstrak. Lahan pertanian eksisting penghasil bahan pangan terutama sawah dan lahan kering menjadi tumpuan harapan untuk memenuhi kebutuhan pangan 258,7 juta jiwa penduduk pada tahun 2017. Usaha pencapaian swasembada berkelanjutan dihadapkan pada (i) peningkatan jumlah penduduk sekitar 3,4 juta jiwa setiap tahun, (ii) konversi lahan sawah ke non pertanian dengan laju sekitar 96.500 ha tahun-1, sementara laju perluasan lahan sawah hanya sekitar 20.000-30.000 ha tahun-1, dan (iii) perubahan iklim global yang menyebabkan peningkatan intensitas dan frekuensi kejadian iklim ekstrim berupa kekeringan, kebanjiran, longsor, yang selanjutnya meningkatkan intensitas serangan hama/penyakit tanaman. Upaya dan strategi untuk mengatasi permasalahan tersebut diantaranya melalui, pertama, intensifikasi dengan inovasi teknologi pada 4 juta ha sawah irigasi teknis, 4,1 juta ha lahan sawah sub-optimal (tadah hujan, irigasi sederhana, sawah rawa) melalui perbaikan saluran irigasi dan sistem drainase, pemupukan berimbang, pengembangan varietas unggul, dan peningkatan Indeks Panen dari 1 menjadi 1,5. Kedua, pengendalian konversi lahan melalui kesepakatan berbagai pemangku kepentingan, kerjasama lintas kementerian/ lembaga serta antara pemerintah dengan swasta dan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya konversi lahan terhadap ketahanan pangan, kestabilan sosial, ekonomi dan politik. Ketiga,perluasan areal tanam di lahan perkebunan kelapa sawit muda (5,1 juta ha) dan karet (0,54 juta ha), serta pada perkebunan kelapa (2,15 juta ha). Tersedia varietas toleran naungan untuk padi gogo, jagung dan kedelai untuk mendukung usaha ini. Keempat, perluasan areal pertanian baru untuk tanaman pangan pada lahan potensial di lahan rawa (pasang surut, lebak, dan gambut) dan pada lahan basah non rawa untuk sawah irigasi dan tadah hujan, serta di lahan kering dengan lereng < 15% untuk tegalan. Keempat pendekatan ini diharapkan dapat mewujudkan swasembada pangan secara berkelanjutan.Abstract. Existing agricultural land for food crops, especially paddy fields and upland, is a very essential element for fulfilling the needs of food for258.7 million people in 2017. The efforts to achieve permanent self-sufficiency are challenged by (i) an increase in the population of approximately 3.4 million people each year, (ii) conversion of paddy field to non-agricultural land at a rate of about 96,500 ha year-1, while the rate of paddy field expansion is only about 20,000-30,000 ha year-1, and (iii) global climate change which causes the increase in intensity and frequency of extreme climatic events in the forms of droughts, floods, landslides, that in turns increase the incident of pest/disease attacks. Efforts and strategies are required to overcome them through first, intensification by applying technological innovations on 4 million ha of existing fully irrigated rice fields, 4.1 million ha of sub-optimal rice fields (rainfed, simple irrigation, swampland) with improved irrigation and drainage systems, balanced fertilization, improved varieties, and increased Harvesting Index from 1 to 1.5. Second, control of land conversion by establishing multi-stakeholder agreements, cooperation among related ministerials/institutionals, local governments, private sectors and communities to raise awareness of the risk of land conversion to food security, social, economic and political stability.Third, expansion of rice farming areas into young oil palm (5.1 million ha), rubber (0.54 million ha), as well as on coconut (2.15 million ha) plantations. Shade tolerant varieties are now available for upland rice, maize and soybeans to support this effort. Fourth, expansion of new agricultural areas for food crops on potential lands in swamp land (tidal swamp lands, fresh water swamp land and peat land), as well as on non swamp wetlands for irrigated and rain-fed rice fields, and on upland with slopes of <15% for annual upland crops. These four approaches are believed to enable achievement of sustainable food self-sufficiency.