cover
Contact Name
Laelatul Qodaryani
Contact Email
jsdlbbsdlp@gmail.com
Phone
+6285641147373
Journal Mail Official
jsdlbbsdlp@gmail.com
Editorial Address
Balai Besar penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) Jln. Tentara Pelajar no 12, kampus Penelitian Pertanian Cimanggu, Ciwaringin, Bogor Tengah, Kota Bogor, Jawa Barat 16114
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Sumberdaya Lahan
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ini memuat artikel tinjauan (review) mengenai hasil-hasil penelitian yang telah diterbitkan, dikaitkan dengan teori, evaluasi hasil penelitian lain, dengan atau mengenai kebijakan. Ruang lingkup artikel tinjauan ini meliputi bidang: tanah, air, iklim, lingkungan pertanian, perpupukan dan sosial ekonomi sumberdaya lahan.
Articles 173 Documents
Mechanisms of Releasing Fixed Potassium as Available Nutrient for Plant Growth on Smectitic Soils DEDI NUSYAMSI
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 5, No 2 (2011)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v5n2.2011.%p

Abstract

Smectitic soils have considerable prospects to be developed into agricultural land. The distribution of these soils is quite large, i.e. more than 2.12 million ha (approximately 2:12 million of Vertisols as well as Alfisols and Inceptisols which have vertic subgroup). Smectite mineral contributed significantly to the amount of soil negative charge and controled soil buffering capacity and soil K maximum sorption. Top soil (0-20 cm) of smectitic soils are generally clay-textured, neutral to alkaline in soil reaction, moderate to high in potential K, low to high in exchangeable K, and moderate to high in cation exchange capacity. Although soil total K was high, but most of the soil K was in an unexchangeable form so that it was not immediately available to plants. While soil buffering capacity and maximum sorption on K were high. One important aspect in the management of soil K is the use of K contained in the soil. This method is quite effective, particularly for smectitic soils. The use of contained K in soil can be through the mechanism of release from unexchangeable soil K pool to exchangeable soil K pool as well as desorption from exchangeable soil K pool to soluble soil K pool. After both rection take place then, the plants will easily absorb K for their growth.
Sistem Usahatani Berkelanjutan Berbasis Dinamika Unsur Hara pada Lahan Kering Masam I Gusti Putu Wigena; Andriati Andriati
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 10, No 1 (2016)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v10n1.2016.%p

Abstract

Abstrak. Dari aspek sebaran dan luasan, lahan kering masam memiliki potensi sebagai sumber pangan, tetapi ketidak sesuaian sifat fisika dan kimia tanah dengan kebutuhan tanaman memerlukan teknologi pengelolaan yang spesifik. Sifat fisika tanah kering masam: kepadatan tanah tinggi, daya pegang air rendah, permeabilitas lambat, erosi dan aliran permukaan tinggi. Sifat kimia: kadar bahan organik, unsur hara, KTK dan KB rendah, kadar oxida besi dan aluminium tinggi. Pada kondisi yang demikian, tumpangsari merupakan sistem usahatani berkelanjutan alternatif melalui perbaikan sifat fisika dan kimia tanah. Perbaikan sifat fisika tanah antara lain penurunan BD, porositas, dan kapasitas lapang tanah pada tumpangsari ubikayu + jagung + kacang tanah masing-masing berkisar 2,18 g cm-3; 49,12%; dan 37,99%; pada monokultur berkisar 2,59 g cm-3; 42,35%; dan 28,24. Neraca karbon dan nitrogen pada tumpangsari masing-masing +1,5 t ha-1 dan + 10 kg ha-1 tahun-1; pada monokultur -7,0 t ha-1 tahun-1 dan -60 kg ha-1 tahun-1. Tanaman lorong (alley cropping) merupakan usahatani berkelanjutan alternatif lainnya melalui perbaikan sifat fisika dan kimia tanah seperti meningkatkan kemampuan dalam mengikat/menyediakan air/lengas untuk memperlancar dinamika unsur hara ke permukaan akar melalui proses aliran masa dan difusi, meningkatkan kandungan bahan organik tanah, dan sebagai sumber unsur hara. Perbaikan sifat fisika tanah antara lain B.D, ruang pori total (RPT), pori drainase cepat (PDC), air-tersedia pada tanaman lorong berkisar 1,08 g cm-3; 59,2%; 25,6%; dan 14,6%; tanpa tanaman lorong masing-masing berkisar 1,28 g cm-3; 51,7%; 13,7%; dan 11,3%. Neraca karbon dan nitrogen pada tanaman lorong berkisar 2,73 dan 0,20%; tanpa tanaman lorong berkisar 1,31 dan 0,07%. Hasil padi gogo, kacang tanah, dan kacang hijau pada tanaman lorong berkisar 12,8; 11,3 dan 5,3 ku ha-1 dan tanpa tanaman lorong masing-masing berkisar 7,7; 7,8; dan 2,9 ku ha-1.Abstract. Based on its wide and spread, acid dry land has a higher potential as food crops resources, but unsuitability condition of soil physical and chemical properties with crops requirement need the specific technology to provide the optimum crop yields. The soil physical properties are high compactness (BD >1.2 gr cm-3), low of water holding capacity, bed permeabilitiy, and rate of soil eorison and ruhoff is high. The soil chemical properties are low of organic matter content, nutrients content, cation exchange capacity, and base saturation, while concentration of iron and aluminum oxides are higher concentration. On this condition, mix cropping can be an alternative sustainable farming system through improvement of physical and chemical properties. Improvement of physical properties including BD, porosity, and field capacity on mix cropping of cassava + maize + peanut were around 2.18 g cm-3; 49.12%; dan 37.99%; while on monoculture around 2.59 g cm-3; 42.35%; and 28.24%. Carbon and nitrogen balance on the mix cropping farming system were around +1.5 t ha-1 year-1 and + 10 kg ha-1 year-1, while on monoculture around -7.0 t ha-1 year-1 and -60 kg ha-1 year-1. Alley cropping is another one of sustainable alternative farming system through improvement of physical and chemical properties such as increasing of water holding capacity to accelerate nutrients dynamic into root surface areas by mass flow and diffusion processes, soil organic matter, and as sources of plat nutrients. Improvement of soil physical including BD, total porous, drainage porous, and available wateron alley cropping were around 1.08 g cm-3;, 59.2%; 25.6%; dan 14.6%; while on non alley cropping system around 1.28 g cm-3; 51.7%; 13.7%; dan 11.3%. Carbon and nitrogen content on alley cropping were around 2.73 and 0.20%, while on non alley cropping system around 1.31 dan 0.07%. The upland rice, peanut, and mung bean yields on alley cropping system were around 12.8, 11.3, and 5.3 ku ha-1; while on non alley cropping system around 7.7, 7.8, and 2.9 ku ha-1.
Perspektif Pengembangan Tanaman Bawang Merah (Allium Ascolanicum L) di Lahan Gambut Raylander Smith Simatupang
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 16, No 1 (2022): Akan Terbit Resmi Pada Bulan Juli
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v16n1.2022.23-32

Abstract

Bawang merah (Allium ascalonicum L.) merupakan salah satu komoditas tanaman sayuran yang mempunyai nilai ekonomi tinggi, dan merupakan salah satu komoditas penyumbang inflasi. Upaya peningkatan produksi tetap dilakukan oleh pemerintah agar harga bawang merah lebih stabil. Bawang merah mengandung zat gizi yang bermanfaat bagi manusia dan banyak digunakan untuk bumbu masakan. Masalah yang sering dihadapi dalam pengembangan bawang merah adalah bibit berkualitas dan bermutu, hama dan penyakit serta lemahnya modal petani. Lahan gambut merupakan tipologi lahan yang potensial menjadi salah satu media dan cocok untuk pengembangan bawang merah meskipun capaian hasilnya masih rendah yakni 5,8 ton/ha. Meskipun demikian bawang merah sangat prospektif dikembangkan di lahan gambut. Inovasi teknologi budidaya bawang merah di lahan gambut sudah tersedia dan siap untuk diimplementasikan skala luas untuk mendukung upaya peningkatan produksi bawang merah nasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bawang merah varietas Sembrani, Maja Cipanas, Bima Brebes dan Trisula beradaptasi yang baik di lahan gambut dan menghasilkan masing-masing 18,7, 7,3, 7,2 dan 6,7 ton/ha umbi basah. Dukungan kebijakan berupa regulasi pihak terkait dapat mendukung pengembangan bawang merah di lahan gambut diperlukan. 
Cover JSL Vol.8(2) 2014 Jurnal Sumberdaya Lahan
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 8, No 2 (2014)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v8n2.2014.%p

Abstract

Cover JSDL Vol.8(2) 2014
Pemanfaatan Teknologi Penginderaan Jauh untuk Monitoring Kejadian Iklim Ekstrem di Indonesia Erna Sri Adiningsih; Parwati Sofan; Indah Prasasti
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 10, No 2 (2016)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v10n2.2016.%p

Abstract

Abstrak. Monitoring iklim ekstrim dan dampaknya terhadap pertanian di Indonesia memerlukan data dan sarana pengamatan yang luas dan intensif. Teknologi penginderaan jauh dapat memberikan solusi dalam monitoring iklim ekstrim dan dampaknya secara luas dan cepat. Tulisan ini mengulas tentang pemanfaatan teknologi penginderaan jauh untuk monitoring cuaca dan iklim ekstrim serta dampaknya terhadap kekeringan dan banjir khususnya bagi sektor pertanian, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan di Indonesia dan beberapa negara lain. Beberapa modelyang telah dikembangkan dan diaplikasikan di Indonesia menggunakan data penginderaan jauh resolusi rendah dan menengah secara tunggal maupun gabungan. Beberapa variabel yang dikaji dan diulas antara lain suhu awan, laju curah hujan, suhu permukaan tanah, indeks vegetasi dan turunannya, indeks lengas tanah dan turunannya dapat merepresentasikan kondisi cuaca dan iklim ekstrim, serta kondisi lahan yang rawan kekeringan atau banjir khususnya di Pulau Jawa dan Bali. Ketelitian model yang telah dikembangkan hingga saat ini dengan data GMS, MTSAT, TRMM, QMorph, MODIS, AVHRR, Landsat-7, SPOT-4, dan ALOS umumnya memadai untuk level nasional hingga level kabupaten dengan koefisien keragaman rata-rata berkisar antara 60% hingga 80%. Meskipun demikian, ketelitian model yang telah dihasilkan dan diaplikasikan masih perlu ditingkatkan. Sistem monitoring berbasis penginderaan jauh memiliki prospek yang sangat baik untuk terus digunakan di masa depan dengan memanfaatkan data yang lebih baru seperti Himawari-8, NPP-VIIRS, Landsat-8, SPOT-6, dan SPOT-7.Abstract. Monitoring of extreme climate and its impacts on agriculture in Indonesia need a lot of data as well as wide and intensive observation network. Remote sensing technology could provide better solution for a broader and rapid monitoring system of extreme climate and its impacts. This paper describes the applications of remote sensing technology on monitoring extreme weather and climate and their impacts on droughts and floods especially in agricultural sector, based on previous research results conducted in Indonesia and several other countries. Some models which have been developed and applied in Indonesia used low and medium resolution data single and combined techniques. Some derived variables were reviewed such as cloud temperature, rainfall rate, land surface temperature, vegetation index and its derivatives, soil moisture index and its derivatives could represent extreme weather and climate condition, as well as land susceptibility to droughts and floods in Java and Bali islands. The accuracy of models using GMS, MTSAT, TRMM, QMorph, MODIS, AVHRR, Landsat-7, SPOT-4, and ALOS to date is generally sufficient at national to district levels with averaged determinant coefficients range between 60% and 80%. However, the accuracy of resulted and applied models still need to be enhanced. Remote sensing-based monitoring system has a good prospect to be continuously implemented in the future using newer data such as Himawari-8, NPP-VIIRS, Landsat-8, SPOT-6, and SPOT-7.
The Role of Organic Matter to Improve Phosphate Fertilization Efficiency on Acid Sulphate Soil ANI SUSILAWATI; ARIFIN FAHMI
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 5, No 1 (2011)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v5n1.2011.%p

Abstract

The large amount of acid sulphate soil area may be potential for agricultural development. Low soil pH, low to very low P availability and high Fe concentration are the dominant characteristics of acid sulphate soils. Low availability of P in acid sulphate soil may due to fixation process by iron and aluminum. Low N, low available K, and potential toxicityof Fe and Al are other characteristics of acid sulphate soil. Optimum agricultural management practices are required to leach the excess of Fe2+ and to maximize the P availability in order to obtain favourable conditions for rice growth. Rice straw application is part of technology for acid sulphate soil productivity improvement, a simple tecnology that sustainable and environmental friendly. Organic matter being a source of nutrients has also an important role in relation to P sorption capacity of soils through Fe chelation processes.
Pengelolaan Lahan Kering Beriklim Kering untuk Pengembangan Jagung di Nusa Tenggara Anny Mulyani; Mamat Haris Suwanda
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 13, No 1 (2019)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v13n1.2019.41-52

Abstract

Abstrak. Wilayah Nusa Tenggara mempunyai lahan kering beriklim kering seluas 4,9 juta ha dengan curah hujan <2.000 mm/tahun dan bulan kering 5-10 bulan, bersolum tanah dangkal dan berbatu. Sebagian lahan tersebut sudah dimanfaatkan menjadi lahan pertanian terutama jagung, akibatnya produktivitas tanaman jagung rendah dibandingkan potensi genetiknya, yaitu sekitar 2,5 ton/ha di NTT dan 5,3 ton/ha di NTB dibanding dengan potensi genetiknya 9 ton/ha. Sejak tahun 2010-2015, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian telah mengembangkan inovasi teknologi pengelolaan lahan kering beriklim kering dan berbatu di beberapa kabupaten di NTT dan NTB, meliputi penyediaan sumberdaya air (dam parit, embung, tampung renteng mini, sumur dangkal), pengenalan varietas unggul baru dan budidaya tanaman pangan. Pembelajaran yang diperoleh menunjukkan bahwa penyediaan air menjadi titik ungkit untuk meningkatkan indeks pertanaman dan produktivitas tanaman. Inovasi teknologi yang dibutuhkan petani adalah, mudah diterapkan, biaya murah, dan efisien tenaga kerja mendorong berlanjutnya teknologi tersebut meskipun progam tersebut telah selesai. Pada tahun 2014-2018 telah dilaksanakan kegiatan pertanian konservasi melalui dana hibah barang dan jasa yang dikelola FAO. Prinsip dasar pertanian konservasi terdiri atas 3 pilar, yaitu olah tanah terbatas berupa lubang olah permanen, penutupan permukaan tanah, rotasi/tumpangsari. Lubang tanam tersebut diberi pupuk kandang atau kompos, dan ditanami jagung pada 4 penjuru lubang, dan ditumpangsarikan dengan berbagai kacang-kacangan atau tanaman merambat seperti labu kuning yang berfungsi sebagai penutup tanah dan penghasilan tambahan dari kacang-kacangan berumur pendek. Berdasarkan hasil analisis tanah sebelum dan sesudah implementasi pertanian konservasi menunjukkan bahwa pertanian konservasi dapat meningkatkan kesuburan tanah, retensi air dan meningkatkan produksi tanaman jagung. Abstract. The Nusa Tenggara region has upland area with dry climate of 4.9 million ha, less than 2,000 mm annual rainfall, 5-10 dry months, shallow and rocky soils. Some of the land has been used for agricultural development, especially corn, resulting in low corn productivity of around 2.5 tons / ha in NTT and 5.3 tons / ha in NTB as compared to it genetic potential 9 tons /ha. Since 2010-2015, Indonesian Agency of Agricultural Research and Development has developed innovation of soil management technology for upland with dry climates and and rocky soils in several districts in NTT and NTB. The innovation includes the provision of water resources (dam trenches, reservoirs, mini catchments, and shallow wells), introduction of new high yielding varieties and cultivation crops. The lessons learned show that water supply is the initial point to increase cropping index and crop productivity. Technological innovations needed by farmers are easy to implement, low cost, and labor efficient thereby encourage the continuation of the technology even though the program has been completed. In 2014-2018, conservation agriculture activities were carried out through grants of goods and services managed by Food Agriculture Organization (FAO). The basic principle of conservation agriculture consists of 3 pillars, namely limited tillage in the form of permanent planting holes, cover crops, rotation / intercropping. The planting hole is given manure or compost, and planted with corn in 4 corners, and intercropped with various nuts or vines such as pumpkin that serves as a soil cover and additional income from short-lived beans. Based on the results of soil analysis before and after the implementation of conservation agriculture, it shows that conservation agriculture can increase soil fertility, water retention and increase corn crop production.
Recommendation of Sustainable Landuse in Border Area East Kalimantan-Malaysia M HIDAYANTO; SUPANDI SABIHAM; S YAHYA; LE ISTIQLAL AMIEN
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 2, No 2 (2008)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v2n2.2008.%p

Abstract

Development problems of agriculture on border area require handling which more comprehensive and sustainable. Up to now, research results indicate that efforts has been done in handling various problems in agricultural sector, but still partial and is not be able to overcome complex problems. Therefore to overcome various development problems of agriculture on the border area need to be done in holisticaly, covers all aspect i.e. social, economics, ecology, and institution. Sebatik Island is one of state border area between Indonesia and Malaysia, located in Nunukan District, East Kalimantan Province. Up to now, cocoa is still the priority commodity, but its productivity is relatively low. Based on potency and constraint of land resources in Sebatik Island, sustainable recommendations to increase land productivity of cocoa i.e. (1) land and water conservation management, (2) using organic matter, (3) proportional fertilization, (4) using mulch, (5) integrated crop management, (6) integrated crop-livestock system, and (7) improvement of capacity of farmers institution
Evaluasi Kesesuaian Lahan Mineral dan Gambut untuk Peremajaan Tanaman Kelapa Sawit (Studi Kasus pada Beberapa Kebun Plasma di Provinsi Riau) I Gusti Putu Wigena; D. Subardja; Andriati Andriati
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 7, No 2 (2013)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v7n2.2013.%p

Abstract

Abstrak. Kesesuaian lahan sangat berkaitan dengan potensi perkebunan kelapa sawit plasma yang mampu berproduksi secara optimum dan berkelanjutan sehingga sangat diperlukan baik untuk pembangunan kebun baru maupun peremajaan (replanting). Untuk itu, dilakukan penelusuran kegiatan karakterisasi lahan mineral dan gambut serta evaluasi kesesuaiannya untuk peremajaan tanaman yang sudah tidak produktif di beberapa kebun plasma selama periode 3 tahun dari 2007-2009. Semua kebun bermitra dengan PTPN 5 yaitu kebun plasma Sei Pagar Kabupaten Kampar Kiri dengan agroekosistem gambut dangkal (<300 cm), Sei Galuh Kabupaten Kampar Kanan dengan agroekosistem gambut dalam (500-1200 cm), dan Sei Tapung Kabupaten Rokan Hulu dengan agroekosistem tanah mineral kering masam, Provinsi Riau. Gambut dangkal mendominasi kebun kelapa sawit plasma di Sei Pagar, memiliki kelas kesesuaian lahan cukup sesuai (S2), pembatas retensi unsur hara (nr) dengan produktivitas rata-rata > 24 t tbs ha-1 th-1. Selain itu, ditemui juga lahan berbahan induk alluvial masam bergambut yang memiliki kelas kesesuaian lahan cukup sesuai (S2), pembatas ketersediaan unsur hara rendah dan retensi unsur hara (ns,nr), dengan produktivitas rata-rata >20 t tbs ha-1 th-1. Gambut dalam terdapat di kebun plasma Sei Galuh, memiliki kelas kesesuaian lahan sesuai marginal (S3), pembatas perkembangan perakaran, ketersediaan unsur hara rendah, dan retensi unsur hara (rc,ns,nr) dengan produktivitas rata-rata <12 t tbs ha-1 th-1. Kebun kelapa sawit plasma di Sei Tapung didominasi oleh tanah mineral kering masam dengan topografi datar-berbukit, ada hubungan antara persentase lereng dengan kelas kesesuaian dan produktivitas kelapa sawit. Pada topografi datar (lereng 0-3%), kelas kesesuaian lahan cukup sesuai (S2), pembatas retensi unsur hara (nr), dengan produktivitas rata-rata >20,43 t tbs ha-1 th-1. Pada topografi berombak-bergelombang (lereng 3-8%), kelas kesesuaian lahan cukup sesuai (S2), pembatas retensi unsur hara dan bahaya erosi ringan (nr,eh), dengan produktivitas rata-rata >17,21 t tbs ha-1 th-1. Pada topografi berbukit (lereng>15%), kelas kesesuaian lahan sesuai marginal (S3), pembatas bahaya erosi, perkembangan perakaran, dan retensi unsur hara (eh,rc,nr) dengan produktivitas rata-rata <16,44 t tbs ha-1 th-1.Abstract. Land suitability evaluation has a significant correlation with the potential of smallholder oil palm plantation for optimum and sustainable production so that this activity become a prerequisite for both development of new plantation and replanting. Based on this reason, a review on the charachterization of mineral and peatland and its suitability evaluation for replanting of oil palm plantation on several smallholder oil palm plantation were conducted for the periode of 3 years, from 2007-2009. All plantation are under PTPN 5 partnership collaboration, namely Sei Pagar, Kampar Kiri Regency with shalow peat agroecosystem, Sei Galuh Kampar Kanan Regency with deep peat agroecosystem, and Sei Tapung Rokan Hulu Regency with mineral soil agroecosystem, Riau Province. The plantation areas are in Sei Pagar, dominated by shalow peatlands (<300 cm) with moderate suitability status (S2), and nutrients retention as a constraint (nr) and the average productivity is >24 t fruit bunches ha-1year-1. There is also found acidic clay alluvial as parent materials with moderate suitability status (S2), and root condition and nutrients retention (rc,nr) as constraints, and the average producitivity is >20 t fruit bunches ha-1 year-1. Deep peatlands (500-1200 cm) are located at Sei Galuh with marginal suitability status (S3), and root condition, nutrients supply, and nutrients retention as the constraint (rc, ns,nr), and average productivity <12 t fruit bunches ha-1year-1. Sei Tapung areas are dominated by upland acid mineral soils with plain-highly topography. In this location, and there is a significant correlation between slope degrees and land sutaibility status and oil palm productivity. On the plain topography (slope 0-3%), land suitability is a moderate (S2) and nutrients retention (nr) as constraint with average productivity >20,43 t fruit bunches/ha/year. The lands with undulating-rolling tofographiq (slope degree 3-8%), land suitability status was moderate suitable (S2), nutrients retention and slighty erosion hazard (nr,eh) as the constraints and average productivity is >17,21 t fruit bunches ha-1year-1. On the hilly topography areas (slope >15%), the lands are marginal suitability status (S3) with heavy erosion hazard, root condition, and nutrients retention as constraints, and average oil palm productivity is <16,44 t fruit bunches ha-1year-1.
Pengembangan dan Diseminasi Inovasi Teknologi Pertanian Mendukung Optimalisasi Pengelolaan Lahan Kering Masam Irawan Irawan; Ai Dariah; Achmad Rachman
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 9, No 1 (2015)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v9n1.2015.%p

Abstract

Abstrak. Peranan lahan kering masam dalam mendukung pembangunan pertanian nasional sangat penting, baik untuk pemenuhan kebutuhan pangan nasional maupun untuk pengembangan tanaman perkebunan. Tingkat produktivitas yang dicapai pada lahan kering masam masih lebih rendah dibanding potensinya, sehingga pendekatan optimamalisasi harus menjadi salah satu prioritas pembangunan pertanian ke depan. Mengingat tingkat kesuburan tanah pada lahan kering masam umumnya tergolong rendah, maka diperlukan berbagai masukan inovasi teknologi, baik untuk menanggulangi faktor pembatas lahan maupun untuk mengoptimalkan produktivitasnya. Pengembangan inovasi teknologi pengelolaan lahan kering masam telah menghasilkan beberapa teknologi unggulan, antara lain teknologi pengayaan unsur P dan K, teknik pemberian kapur, dan teknologi konservasi tanah dan air. Permasalahan diseminasi inovasi teknologi pertanian umumnya terkait dengan kesenjangan adopsi teknologi, kesenjangan hasil dan kendala sosial-ekonomi petani. Sebagian besar petani lahan kering masam mengelola lahannya secara subsisten, produktivitasnya rendah, senjang hasil dan adopsi teknologi masih tinggi, dan keberlanjutannya tidak diperhatikan sehingga berdampak terhadap terjadinya proses degradasi lahan. Guna memecahkan masalah tersebut dari aspek diseminasi diperlukan model diseminasi inovasi berbasis teknologi informasi yang dapat memanfaatkan berbagai bentuk media diseminasi dan saluran komunikasi para pemangku kepentingan yang terkait. Diseminasi melalui pendekatan model spektrum diseminasi multi channel (SDMC) memungkinkan inovasi teknologi pertanian hasil penelitian dapat didistribusikan secara cepat kepada para penggunanya.Abstract. The role of upland acid soils in supporting national agricultural development is very important to fulfill national food needs as well as to develop estate plantations. The level of productivity achieved on upland acid soils was still lower than its potential, so the optimation approach should be one of the priorities of the agricultural development in the future. Since the level of soil fertility on upland acid soils is generally low, then it is needed the input of various technological innovations, both to overcome the limiting factor of land as well as to optimize its productivity. Development of technological innovation management on upland acid soils has produced some prospective technologies, such as enrichment of P and K elements technology, the technique of lime application, as well as soil and water conservation technology. Most of dissemination problems related to adoption and yield gaps, and farmers’ socio-economic aspect. Most of the upland acid soils farmers managed the land in subsistence, low soil productivity, high gap on yield and technology adoption, and its continuation of farming development was not noted, hence gave impact to land degradation processes. To overcome such problems in perspective of dissemination aspect, it needs innovation dissemination model based on required information technology which utilizes a variety of dissemination means and communication channels of related stakeholders. Dissemination through multi-media channel systems approach may allow agricultural technology innovations to distribute quickly to its users.