cover
Contact Name
Laelatul Qodaryani
Contact Email
jtibbsdlp@gmail.com
Phone
+6285641147373
Journal Mail Official
jtibbsdlp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Tanah dan Iklim
Core Subject : Agriculture,
Jurnal TANAH dan IKLIM memuat hasil-hasil penelitian bidang tanah dan iklim dari para peneliti baik dari dalam maupun dari luar Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian. Jurnal ini juga dapat memuat informasi singkat yang berisi tulisan mengenai teknik dan peralatan baru ataupun hasil sementara penelitian tanah dan iklim.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 43, No 1 (2019)" : 8 Documents clear
EFEKTIVITAS BEBERAPA FORMULA PUPUK MAJEMUK NPK DALAM MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS PADI SAWAH (EFFECTIVENESS OF SEVERAL FORMULA OF NPK COMPOUND FERTILIZER FORMULAS IN INCREASING THE PRODUCTIVITY OF LOWLAND RICE) Kasno, Antonius; Nurjaya, Nurjaya; Rochayati, Sri
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 43, No 1 (2019)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v43n1.2019.71-81

Abstract

Abstrak. Formula pupuk yang ada pada umumnya tidak didasarkan pada karakteristik tanah dan kebutuhan tanaman, sehingga pupuk tidak efektif dan tidak efisien. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi formula pupuk majemuk dan efektivitasnya dalam meningkatkan produksi padi sawah. Penelitian dilakukan pada lahan sawah di Provinsi Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur di 7 lokasi pada musim hujan 2011/2012. Pada setiap provinsi penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan delapan perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan terdiri atas (A) NPK 15-15-15 (250 kg NPK, 150 kg Urea ha-1, 0 SP-36, dan 0 KCl), (B) NPK 20-10-10 (300 kg NPK, 100 kg Urea ha-1, 0 SP-36, 0 KCl), (C) NPK 30-6-8 (350 kg NPK ha-1, 0 Urea, 0 SP-36, dan 0 KCl), (D) pupuk tunggal berdasarkan status hara tanah, (E) NPK 15-15-15 berdasarkan status hara tanah, (F) NPK 20-10-10 berdasarkan status hara tanah, (G) NPK 30-6-8 berdasarkan status hara tanah, dan (H) kontrol, tanpa pemberian pupuk. Varietas padi yang digunakan di setiap lokasi percobaan sesuai varietas yang digunakan petani setempat. Pengamatan dilakukan terhadap sifat kimia tanah sebelum diberi perlakuan, berat gabah kering panen, dan relative agronomic effectiveness. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemupukan NPK baik majemuk maupun tunggal nyata meningkatkan hasil padi dari 4,92 untuk perlakuan kontrol menjadi 6,73 t ha-1 untuk perlakuan NPK 15-15-15. Berat gabah kering panen pada pemupukan NPK formula 15-15-15 lebih tinggi dari formula 20-10-10 dan 30-6-8, namun NPK 15-15-15 pada dosis uji tanah (perlakuan E) tidak berbeda nyata dibandingkan NPK 15-15-15 (perlakuan A). Dengan demikian secara agronomis pupuk NPK majemuk formula 15-15-15 lebih unggul. Rata-rata nilai RAE pada dosis pupuk NPK dari masing-masing formula adalah 107% untuk NPK 15-15-15 (perlakuan A), 98% untuk NPK 20-10-10 (perlakuan B) dan 92% untuk NPK 30-6-8 (perlakuan C). Rata-rata nilai RAE pada dosis pupuk berdasarkan status hara tanah untuk NPK 15-15-15 (perlakuan E), 20-10-10 (perlakuan F), dan 30-6-8 (perlakuan G) masing-masing adalah 104, 105 dan 109%.Abstract. Existing compound fertilizer formula is generally not based on soil characteristics and plant needs, leading to ineffective and inefficent fertilization. This study aimed at evaluating compound fertilizer formulas and their effectiveness in increasing rice production. The study was conducted on paddy fields in Banten, West Java, Central Java, and East Java provinces at 7 locations during the 2011/2012 rainy season. In each of these provinces, the study used a Randomized Complete Block Design with eight treatments and three replications. The treatment were: (A) NPK 15-15-15 (250 kg NPK, 150 kg Urea ha-1, 0 SP-36, and 0 KCl), (B) NPK 20-10-10 (300 kg NPK, 100 kg Urea ha-1, 0 SP-36, 0 KCl), (C) NPK 30-6-8 (350 kg NPK ha-1, 0 Urea, 0 SP-36, and 0 KCl), (D) single fertilizer based on status soil nutrients, (G) NPK 15-15-15 based on soil nutrient status, (F) NPK 20-10-10 based on soil nutrient status, (G) NPK 30-6-8 based on soil nutrient status, and (H) control, without fertilizer. Rice varieties used in each trial location were in accordance with the varieties used by local farmers. Observations were made on the chemical properties of the soil before being treated, crop grain yield, and the relative agronomic effectiveness (RAE). The results showed that fertilizing NPK both compound or single element, significantly increased rice yield from 4.92 for the control treatment to 6.73 t ha-1 for the NPK 15-15-15 treatment. Grain yield at the NPK 15-15-15 was higher than that of NPK 20-10-10 and 30-6-8, but NPK 15-15-15 based on soil test (treatment E) was not significantly different from NPK 15 -15-15 (treatment A). Thus, agronomically, NPK 15-15-15 was superior. The mean RAE was 107% for NPK 15-15-15 (treatment A), 98% for NPK 20-10-10 (treatment B) and 92% for NPK 30- 6-8 (treatment C). The mean RAE for treatments based on soil test for NPK 15-15-15) (treatment E), NPK 20-10-10 (treatment F), and NPK 30-6-8 (treatment G), were 104, 105 and 109%, respectively.
KECENDERUNGAN HUJAN EKSTREM DI UNIT PELAKSANA TEKNIS PENGELOLAAN SUMBERDAYA AIR DI PASURUAN, JAWA TIMUR Hidayat, M. Dian Nurul; Indarto, Indarto; Askin, M.; Andriyani, Idah; Tasliman, Tasliman
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 43, No 1 (2019)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v43n1.2019.21-31

Abstract

Abstrak. Peningkatan curah hujan ekstrem dengan durasi lebih lama dapat meningkatkan frekuensi dan besar bencana hidro-meteorologi yang terjadi pada suatu wilayah. Hujan ekstrem dengan durasi lebih lama dan merata pada suatu wilayah telah menyebabkan kejadian banjir bandang pada beberapa kota di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis kecenderungan dan perubahan hujan ekstrem (2-harian) dan menggambarkan sebaran spasial kecenderungan hujan ekstrem ke dalam peta tematik. Data hujan dari 64 stasiun di wilayah Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Sumberdaya Air (UPT-PSDA) di Kabupaten Pasuruan (periode rekaman data dari 1980 ? 2015), digunakan sebagai input utama. Data hujan 2-harian diolah dari data hujan harian. Analisis kecenderungan menggunakan Uji Mann-Kendall, Rank-Sum, dan Median Crossing test. Hasil uji Mann-Kendall menunjukkan kecenderungan signifikan hujan 2-harian terjadi pada 12 stasiun. Hasil uji Rank-Sum menunjukkan delapan stasiun hujan mengalami perubahan hujan 2-harian signifikan. Berdasarkan uji tersebut secara keseluruhan wilayah UPT PSDA Pasuruan tidak mengalami kecenderungan perubahan hujan ektrim pada periode 1980 sampai dengan 2015.Abstract. Increased extreme rainfall duration can increase the frequency and magnitude of hydro-meteorological related disaster events. The extreme rainfall events with more prolonged duration have caused flash flood events in several areas in Indonesia. The aims of the study were to analyze the trends and shifts of 2-days extreme rainfall and to describe the spatial distribution of rainfall trend into thematic map layers. Rainfall data from 64 stations in the area of Water Management Unit (UPT PSDA) at Pasuruan (recorded from 1980-2015), were used as the main input. The 2-days extreme rainfall data was processed from daily rainfall data. The trend analysis used Mann-Kendall, Rank-Sum, and Median Crossing Tests. The Mann-Kendall test resulted in a significant trend of 2-days extreme-rainfall occurred in 12 rainfall stations. The Rank-Sum test showed that eight rain gauge experienced a shift. Based on these tests, we conclude that the overall area of UPT PSDA Pasuruan has not experienced the changes in extreme rainfall events from 1980 to 2015.
Pengaruh Ketinggian Tempat terhadap Performa Fisiologis Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis Guineensis Jacq.) Eka Listia; Iput Pradiko; Muhdan Syarovy; Fandi Hidayat; Eko Noviandi Ginting; Rana Farrasati
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 43, No 1 (2019)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v43n1.2019.33-42

Abstract

Abstrak. Saat ini, tercatat lebih dari 10.000 hektar tanaman kelapa sawit di Indonesia telah dikembangkan pada lahan dengan ketinggian tempat lebih dari 600 m di atas permukaan laut (dpl). Budidaya kelapa sawit di dataran tinggi dihadapkan pada beberapa faktor pembatas seperti rendahnya suhu, tingginya kelembaban dan curah hujan, serta terbatasnya lama penyinaran matahari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik fisiologis tanaman kelapa sawit yang dibudidayakan di empat lokasi dengan ketinggian tempat yang berbeda yaitu: 50, 368, 693, dan >865 m dpl. Penelitian dilakukan pada tanaman kelapa sawit berumur 7-8 tahun. Peubah yang diamati adalah peubah lingkungan/iklim serta performa fisiologis tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik fisiologis tanaman seperti laju fotosintesis, laju transpirasi, konsentrasi CO2 interseluler, dan dimensi stomata dari tanaman kelapa sawit yang dibudidayakan pada dataran tinggi lebih rendah dibanding proses fisiologis tanaman kelapa sawit yang dibudidayakan pada dataran yang lebih rendah. Akan tetapi tingkat prolin dan aktivitas enzim nitrate reductase yang lebih tinggi dimiliki oleh tanaman yang berada pada dataran tinggi. Penelitian ini menegaskan bahwa karakteristik fisiologi tanaman kelapa sawit yang optimum terdapat pada tanaman yang berada pada dataran dengan ketinggian kurang dari 600 m dpl.Abstract. Nowadays, more than 10,000 hectares of oil palm plantations in Indonesia have been cultivated at the altitude of > 600 m above sea level (asl). The cultivation of oil palm in the higher altitude is subjected to several limiting factors such as low temperature, high humidity and rainfall, and also short daily duration of solar radiation. This study was conducted to evaluate the physiological characteristics of oil palm planted at four altitudes: 50, 368, 693, and 865 m asl. The study was employed for 7-8 years old oil palm. The environmental (climate) and physiological performance variables were measured. The results showed that oil palm planted at the higher altitudes had lower rates of photosynthesis, transpiration, lower intercellular CO2 concentration and lower stomata dimension compared to oil palm cultivated at the lower altitudes. However, the proline level and the activity of nitrate reductase of palm cultivated on the higher altitudes were higher than that of the palm cultivated at the lower altitudes. This research results reconfirm that, the optimum physiological characteristics of oil palm were observed at the altitude of less than 600 m asl.
PENINGKATAN PRODUKTIVITAS KELAPA SAWIT DI LAHAN GAMBUT MELALUI PEMANFAATAN KOMPOS TANDAN BUAH KOSONG DAN BERBAGAI DEKOMPOSER Masganti, Masganti; Nurhayati, Nurhayati; Widyanto, Hery
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 43, No 1 (2019)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v43n1.2019.13-20

Abstract

Abstrak. Masalah utama yang dihadapi dalam pengembangan perkebunan kelapa sawit rakyat antara lain adalah rendahnya produktivitas karena kelapa sawit sebagian besar dibudidayakan di lahan gambut yang rendah kesuburan tanahnya serta relatif rendahnya input hara. Peningkatan produktivitas kelapa sawit di lahan gambut dapat dilakukan melalui penggunaan amelioran dari tandan buah kosong yang dibuat menggunakan dekomposer. Penelitian dilaksanakan pada Januari-Desember 2016 di lahan kebun kelapa sawit milik petani yang berumur sekitar lima tahun di Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau, Indonesia. Penelitian bertujuan untuk menentukan jenis dekomposer yang terbaik untuk pembuatan kompos tandan buah kosong sehingga dapat meningkatkan produktivitas kelapa sawit yang dibudidayakan di lahan gambut. Penelitian menguji berbagai dekomposer yang digunakan dalam pembuatan kompos tandan buah kosong (K-td) tanpa dekomposer, Dekomposer sd (K-sd), Dekomposer bm (K-bm), Dekomposer ol (K-ol), Kompos tp (K-tp), dan dekomposer em (K-em). Perlakuan ditata dalam rancangan acak kelompok (RAK) dengan tiga ulangan. Pengamatan dilakukan terhadap sifat kimia tanah sebelum aplikasi pemupukan pertama dan setelah 6 bulan kemudian, kualitas kompos, dan respon tanaman kelapa sawit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertambahan pelepah daun tidak dipengaruhi oleh perlakuan, tetapi pertambahan berat pelepah, dan produktivitas sangat dipengaruhi oleh perlakuan. Produktivitas tertinggi (1,87 ton ha-1 bulan-1) dihasilkan dari penggunaan amelioran K-sd, yaitu kompos tandan buah kosong mengandung mikroba aerob perombak lignin, selulosa, protein, lipid, asam amino, dan mengandung tricoderma.Abstract. The main problem in smallholder plantation is low productivity because oil palm is cultivated mostly in degraded peatlands with low external inputs. Increased productivity of palm oil in degraded peatlands can be done through amelioration and using decomposers. This research was conducted in January-December 2016 in a smallholder 5-year old oil palm plantation Pelalawan District, Riau Province, Indonesia. The study aimed to determine the best type of decomposer to improve the growth and productivity of oil palm cultivated in degraded peatlands. The research tested several decomposers which were involved in composting empty fruit bunches, i.e. without decomposer (K-td), K-sd decomposer, K-bm decomposer, Decomposer K-ol, K-tp Compos, and K-em dekomposer. The treatments were arranged in a randomized block design (RAK) with three replications. Observations were made on soil chemical properties before amelioration and six months after amelioration, compost quality, and plant responses. The results showed that leaves leaf growth was not affected by treatment, but the weight of midrib, and the productivity was strongly influenced by the treatment. The highest productivity (1.87 ton ha-1 month-1) was obtained from the use of ameliorant K-sd, i.e. empty fruit bunch compost containing aerobic microbes of lignin, ceLlulose, protein, lipid, and amino acid decomposers, as well as tricoderma.
PERBANDINGAN BERBAGAI TEKNIK ESTIMASI KEBUTUHAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KOTA BANDAR LAMPUNG Hesty, Rein Susinda; Gunawan, Andi; Prasetyo, Lilik Budi; Munandar, Aris
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 43, No 1 (2019)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v43n1.2019.59-70

Abstract

Abstrak. Meningkatkan kualitas ekologis suatu kota dapat dilakukan dengan membentuk ruang terbuka hijau. Perumusan kebijakan ruang terbuka hijau secara berkelanjutan dipengaruhi oleh berbagai kriteria, di mana indikator-indikator dalam kriteria tersebut saling terkait. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kebutuhan luas ruang terbuka hijau dalam mewujudkan tata kota berkelanjutan di Kota Bandar Lampung. Indikator dalam menentukan kebutuhan ruang terbuka hijau antara lain adalah jumlah populasi, luas lahan, dan emisi CO2. Berdasarkan populasi pada tahun 2017, kebutuhan ruang terbuka hijau sesuai program pemerintah adalah 2.673 ha, sedangkan luas ruang terbuka hijau hanya ada 2.475 ha sehingga ada perbedaan kekurangan ruang terbuka hijau sebesar 197 ha. Lebih jauh, Kota Bandar Lampung berdasarkan luasnya membutuhkan ruang terbuka hijau seluas 5.916 ha. Tingkat emisi CO2 di Kota Bandar Lampung pada tahun 2017 adalah sebesar 9.118 Gg th-1 sedangkan prediksi total emisi CO2 pada tahun 2024 adalah 133.202 Gg CO2-1 th-1. Sehingga luasan yang ruang terbuka hijau yang dibutuhkan adalah sebesar 156 ha. Angka ini akan meningkat sejalan dengan pertumbuhan penduduk. Untuk itu luas ruang terbuka hijau perlu disesuaikan secara berkala untuk penyerapan emisi CO2 dan keserasian kota.Abstract. Improving the ecological quality of a city can be done by creating green open space. The formulation of a green open space policy for harmonious city is influenced by various interrelated factors. This study aimed to estimate the area of green open space in realizing sustainable green open space in Bandar Lampung City. Indicators in determining the needs of green open space were the population, land area, and CO2 emissions. Based on the population in 2017, the green open space requirement as targeted by the local government was 2,673 ha, while the extent of existing green open space was is only 2,475 ha, hence a need for 197 ha more green open space area. Bandar Lampung City based on its area requires a green open space of 5,916 ha. The level of CO2 emissions in Bandar Lampung City in 2017 was 9,118 Gg/year, while the predicted total CO2 emissions in 2024 is 133.202 Gg/CO2/year and hence the city require additional green open space of 156 ha. This number will increase in line with population growth. For this reason, the area of green open space needs to be adjusted regularly for the absorption of CO2 emissions and the harmony of the city.
Penentuan Waktu Tanam dan Kebutuhan Air Tanaman Padi, Jagung, Kedelai dan Bawang Merah di Provinsi Jawa Barat dan Nusa Tenggara Timur Kharmila S. Hariyanti; Tania June; Yonni Koesmaryono; Rahmat Hidayat; Aris Pramudia
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 43, No 1 (2019)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v43n1.2019.83-92

Abstract

Abstrak. Padi, jagung, kedelai dan bawang merah merupakan komoditas pangan unggulan di Indonesia. Jagung dan bawang merah umumnya ditanam sesudah padi atau kedelai di lahan sawah tadah hujan sehingga rentan terhadap kekeringan. Oleh sebab itu informasi iklim khususnya curah hujan dan suhu sangat penting dalam menentukan waktu tanam dan kebutuhan air yang tepat bagi tananam. Tujuan penelitian adalah menentukan waktu tanam dan kebutuhan air tanaman padi, jagung, kedelai, dan bawang merah berdasarkan analisis neraca air tanaman, serta menyusun peta waktu tanam di dua provinsi sentra produksi pangan Indonesia yaitu Jawa Barat dan Nusa Tenggara Timur agar risiko penurunan produksi karena kekeringan dapat diturunkan. Berdasarkan hasil analisis neraca air tanaman di 16 wilayah, tanaman yang ditanam pada tanah bertekstur debu memiliki waktu tanam rata-rata 13 dasarian, relatif lebih panjang dari tanah bertekstur lempung, liat dan pasir dengan waktu tanam berturut-turut: 10, 9 dan 5 dasarian. Wilayah dengan tekstur tanah pasir memiliki periode waktu tanam relatif lebih pendek karena tanah ini tidak dapat menahan air lebih lama di dalam tanah yang menyebabkan cekaman air lebih cepat terjadi. Tanaman padi lebih rentan terhadap kekeringan jika dibandingkan dengan tiga tanaman lainnya sehingga risiko kehilangan hasil juga relatif lebih tinggi. Kebutuhkan irigasi tanaman padi pada periode tanam Mei-Agustus dapat mencapai 4,9 mm hari-1 di provinsi Nusa Tenggara Timur. Karakteristik curah hujan Jawa Barat memiliki bulan basah > 7 bulan sehingga memungkinkan waktu tanam lebih lama yaitu (pada tanah bertekstur) debu: 10-15 dasarian, lempung: 8-14 dasarian, liat: 8-13 dasarian dan pasir: 4-7 dasarian. Nusa Tenggara Timur dengan kondisi iklim lebih kering (bulan kering > 7 bulan) umumnya tidak direkomendasikan untuk menanam padi gogo dan disarankan untuk menanam jagung untuk menekan risiko kehilangan hasil.Abstract. Rice, maize, soybean and shallot are among the most important food crops in Indonesia. Maize and shallots are generally planted after rice or soybeans on rainfed agriculture and hence they are prone to drought. Therefore, climate information, especially rainfall and temperature is very important in determining the planting time and water Requirements for these crops. The research objective was to determine the planting time and water requirements of rice, maize, soybeans, and shallots based on crop water balance analysis, as well as to arrange cropping map in West Java and East Nusa Tenggara provinces so that the risks of decreased yield due to drought could be minimized. Based on the results of water balance analysis at 16 areas, the average planting periode on soil with silt texture was 13 decades (130 days), relatively longer than those of loam, clay and sand texture soils, with consecutive planting periods of: 10, 9 and 5 decades. Areas with sand soil had a relatively shorter planting period because of low water holding capacity which causes water stress occurs more quickly. Rice plants are more susceptible to drought compared to the other three crops. Irrigation water requirements for rice in May to August could reach 4.9 mm day-1 in the East Nusa Tenggara province. Based on the rainfall characteristics of West Java, the recommendations for cropping periods are 10-15 decades for silt, 8-14 decades for loam, 8-13 decades for clay and 4-7 decades for sand textured soil. East Nusa Tenggara with a drier climatic conditions is not recommended for planting rice on upland and is recommended for maize with a lower risk of low yield.
Analisis Karakteristik Kekeringan Lahan Padi Sawah di Wilayah Utara Provinsi Jawa Barat Mamenun Mamenun; Trinah Wati
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 43, No 1 (2019)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v43n1.2019.43-57

Abstract

Abstrak. Kejadian kekeringan di Indonesia disebabkan karena menurunnya curah hujan dalam jangka waktu lama dan sering dipicu oleh kejadian El Niño. Curah hujan pada tahun El Niño dapat menurun 150-200 mm/bulan yang berimplikasi pada penurunan produksi pangan. Kondisi iklim, karakteristik kekeringan, dan korelasi karakteristik kekeringan terhadap luas lahan padi sawah terkena kekeringan dan gagal panen (puso) telah dianalisis di wilayah utara Provinsi Jawa Barat menggunakan indeks presipitasi terstandarisasi (SPI/Standardized Precipitation Index). Data curah hujan bulanan periode 1987 – 2017 dari 30 pos hujan digunakan untuk menghitung SPI3 dan SPI6 serta turunannya. Hasil interpolasi Inverse Distance Weighted (IDW) untuk mengisi data kosong <10% menunjukkan terdapat korelasi 0,6 hingga 0,96 antara hasil interpolasi dengan observasi. Wilayah utara Provinsi Jawa Barat mempunyai pola hujan monsun dengan tipe iklim Oldeman didominasi tipe C3 dan D3. Berdasarkan indeks SPI3 dan SPI6, jumlah kejadian kekeringan tertinggi masing-masing mencapai 18 dan 15 kejadian, durasi kekeringan terpanjang selama 14 bulan dan 22 bulan, tingkat keparahan kekeringan terkuat mencapai 28,9 dan 34,50 dan intensitas tertinggi 2,90 dan 2,53. Karakteristik kekeringan tersebut didominasi pos hujan di Kab. Indramayu dan Majalengka yang terjadi pada periode El-Niño kuat (1997/1998 dan 2015/2016). Korelasi positif antara durasi, tingkat keparahan, intensitas kekeringan terhadap lahan terkena kekeringan dan puso terdapat di sebagian besar pos hujan utara Jawa Barat dengan korelasi bervariasi hingga 0,77 pada SPI3 dan hingga 0,86 pada SPI6. Karakteristik kekeringan untuk lahan padi sawah, diharapkan dapat dimanfaatkan dalam sistem monitoring dan peringatan dini kekeringan serta risiko bencana untuk mencegah gagal panen dan kerugian yang lebih besar.Abstract. Drought occurance in Indonesia is caused by long time decrease of rainfall and triggered by El Niño events. El Niño could reduced rainfall up to 150-200 mm/month and have implications to decreased food production. Climate condition, drought characteristics, and correlation between drought characteristics and the affected paddy field area as well as crop failure (puso) have been analysed for the northern part of West Java province using Standardized Precipitation Index (SPI). Monthly rainfall data in 1987-2017 period from 30 selected rainfall stations were used to calculate SPI3 and SPI6 and its derivatives. The interpolation result of Inverse Distance Weighted (IDW) to fill out <10% empty data showed correlation of 0,6 to 0,96 between observation and interpolated data. The northern part of West Java province has a monsoonal rainfall pattern with Oldeman climate type dominated by C3 and D3. Based on SPI3 and SPI6, the highest drought event reached 18 and 15 events, the longest drought duration were 14 and 22 months, the strongest drought severity reached 28,9 and 34,50, and the highest drought intensity were 2,90 and 2,53. Those drought characteristics are dominated by rainfall stations in Indramayu and Majalengka district that occurred in strong El-Niño period. Positive correlation between duration, severity, intensity and affected area and puso varied in magnitude up to 0,77 on SPI3 and up to 0,86 on SPI6. The drought characteristics for paddy field can be used for drought risk assessment and drought early warning to prevent crop failures and losses.
Parameterisasi Sifat Biofisik Lahan Sawah dengan Menggunakan Citra Radar Resolusi Tinggi: Studi Kasus di Kab. Indramayu Jawa Barat Muhammad Hikmat; Baba Barus; Muhammad Ardiansyah; Budi Mulyanto
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 43, No 1 (2019)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v43n1.2019.1-12

Abstract

Abstrak. Sifat biofisik lahan berperan penting dalam perencanaan penggunaan lahan maupun perencanaan teknis pengelolaan lahan. Oleh sebab itu identifikasi secara cepat dan akurat sifat biofisik lahan menjadi penting. Citra radar resolusi tinggi sudah banyak digunakan untuk berbagai tujuan, antara lain untuk identifikasi tutupan lahan, analysis geologi dan analisis cuaca. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi penggunaaan citra RADAR resolusi tinggi untuk mengevaluasi sifat-sifat biofisik lahan sawah. Penelitian dilakukan pada areal pesawahan di Kabupaten Indramayu menggunakan citra Radarsat 2 resolusi tinggi (quad polarization) dengan empat polarisasi (HH, HV, VH, VV). Sifat-sifat biofisik lahan yang dianalisis meliputi: salinitas tanah, bobot aktual tanaman, bobot kering tanaman, tinggi tanaman, kekasaran permukaan tanah, dan kelembaban tanah. Data yang dikumpulkan dibedakan atas kelompok lahan sawah yang ditanami padi dan lahan sawah bera. Data yang digunakan terdiri dari 27 set data biofisik lahan sawah yang ditanami padi, dan 49 set data lahan sawah bera. Hasil menunjukkan bahwa dari keenam sifat biofisik lahan yang dianalisis, kelembaban tanah merupakan sifat biofisik lahan yang dideteksi lebih baik dibandingkan sifat-sifat biofisik lahan lainnya, baik dalam kondisi lahan ditanami padi maupun lahan bera. Tetapi model-model persamaan antara sifat-sifat biofisik lahan dan koefisien hamburan balik dari citra Radar resolusi tinggi ini memiliki nilai R2 yang rendah. Hal ini mengindikasikan bahwa pendugaan sifat biofisik lahan dengan nilai koefisien hamburan balik secara langsung tidak dapat digunakan pada lahan sawah.Abstract. The land biophysical properties are important in land use and technical planning in the field. Therefore, rapid and accurate identification of the land biophysical properties is an important step. In the past, the high resolution RADAR images have been used for land cover identification, weather analysis, and geological analysis. This study aims to evaluate the use RADAR images to detect biophysical properties of paddy fields. This research was carried out on paddy fields in Indramayu Regency using high resolution (quad polarization) Radarsat 2 imagery with four polarizations (HH, HV, VH, VV). The analyzed land biophysical properties included soil salinity, actual plant biomass, plant biomass (dry weight), plant height, soil surface roughness and soil moisture. The data were collected from 27 data sets of land planted with rice and 49 data sets from bare lands. The result show that of the six biophysical properties, soil moisture was the biophysical property which was detected better than the others, both on land planted with rice and bare land. But the equation models between biophysical properties and backscattering coefficient had a low R2 value. This indicates that the method to estimate soil biophysical properties using backcsaccter coefficient directly can not be applied for paddy soil.

Page 1 of 1 | Total Record : 8