cover
Contact Name
Laelatul Qodaryani
Contact Email
jtibbsdlp@gmail.com
Phone
+6285641147373
Journal Mail Official
jtibbsdlp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Tanah dan Iklim
Core Subject : Agriculture,
Jurnal TANAH dan IKLIM memuat hasil-hasil penelitian bidang tanah dan iklim dari para peneliti baik dari dalam maupun dari luar Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian. Jurnal ini juga dapat memuat informasi singkat yang berisi tulisan mengenai teknik dan peralatan baru ataupun hasil sementara penelitian tanah dan iklim.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 43, No 2 (2019)" : 8 Documents clear
PENGARUH FAKTOR ALAMI DAN ANTROPOGENIK TERHADAP LUAS KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN DI KALIMANTAN Mareta, Lesi; Hidayat, Rahmat; Hidayati, Rini; Latifah, Arnida Lailatul
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 43, No 2 (2019)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v43n2.2019.147-155

Abstract

Abstrak. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia khususnya di Kalimantan menjadi ancaman bagi pembangunan berkelanjutan karena efeknya secara langsung bagi ekosistem, berkontribusi pada peningkatan emisi karbon dan berdampak pada keanekaragaman hayati. Karhutla dipengaruhi oleh faktor alami dan faktor antropogenik oleh aktivitas manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran pengaruh faktor alami dan antropogenik secara terpisah terhadap luas kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan. Pengaruh faktor alami dan antropogenik terhadap luas karhutla dianalisis dari data luaran model CMIP5 dengan teknik statistik Random Forests. Penelitian menggunakan data iklim dan data indeks karhutla. Data iklim terdiri dari variabel kelembaban relatif permukaan, suhu udara permukaan, dan curah hujan yang diperoleh dari luaran model MRI-CGCM3 CMIP5. Data indeks karhutla di Kalimantan diperoleh dari data Global Fire Emissions Database (GFED). Hasil analisis pada periode data tahun 1997 sampai dengan 2005 memperlihatkan karhutla terluas di Kalimantan terjadi pada tahun 1997 dan 2002. Variasi musiman historis luas karhutla di Kalimantan menunjukkan peningkatan pada bulan Juni, mencapai puncaknya pada bulan September dan mulai berkurang pada bulan November. Pada bulan Juni hingga Juli, faktor antropogenik bernilai positif yang berarti mengurangi kejadian kebakaran, sedangkan pada bulan Agustus hingga Oktober faktor antropogenik bernilai negatif, menyebabkan lebih banyak peristiwa karhutla.Abstract. Forest and land fires in Indonesia, especially in Kalimantan, are considered as a threat to sustainable development because of their direct effect on ecosystems, their contribution to increasing carbon emissions, and their impact on biodiversity. Forest and land fires are influenced by two main factors, namely climate conditions, and human activity (anthropogenic) factors. The objective of this research was to analyze the influence of natural and anthropogenic factors on the area of forest and land fires in Kalimantan. The anthropogenic effects on the area of burn scars can be analyzed by using the output of the CMIP5 model with statistical techniques, Random Forests. The data used are climate data and index data on forest and land fires in Kalimantan. Climate data consist of the variables: surface relative humidity, surface air temperature, and rainfall which were obtained from the output of the MRI-CGCM3 CMIP5 model. Indices of Forest and land fires in Kalimantan were obtained from Global Fire Emissions Database (GFED). The results of the analysis showed that extensive forest and land fires during the period of 1997 to 2005 in Kalimantan, occurred in 1997 and 2002. Historically extensive seasonal variations of Forest and land fires in Kalimantan increased in June, reaching the peak in September and decreased in November. Between June and July, anthropogenic factors positively influenced (causing less burned area), while from August to October had a negative effect (causing larger) burned areas.
EFFECTS OF BIO-NANO OSA APPLICATION ON FERTILIZER USE AND WATER CONSUMPTION EFFICIENCIES OF BLACK SOYBEAN GROWN ON RICE-FIELD Santi, Laksmita Prima; Goenadi, Didiek Hadjar; Barus, Junita; Dariah, Ai; Kalbuadi, Donny Nugroho
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 43, No 2 (2019)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v43n2.2019.109-116

Abstract

Abstarct. Rice-field, during the dry season, offers promising potential as food crop production area particularly for secondary crops such as black soybean. However, rice-field have some limitations to support crop productivity economically, due to low fertilizer efficiency and/or water usage. Silicate (Si) fertilizer in the form of bio-nano ortho silicic acid (OSA) has been proven to improve yield and water use efficiency of black soybean on the upland, but not on rice field. This study aimed to determine the effects of bio-nano OSA application on yield, fertilizer and water use efficiencies of Detam-1 black soybean grown at a Bantarwaru rice-field, Indramayu, West Java. Experiment was undertaken from August to November 2018 with treatments consisting of : (i) control (P0), (ii) farmers? standard practice (P1), (iii) P1 + 2 ton organic fertilizer ha-1 (P2), (iv) 50% P1 + 4 L bio-nano OSA ha-1 (P3), (v) 75% P1 + 4 L bio-nano OSA ha-1 (P4), and (vi) P1 + 4 L bio-nano OSA ha-1 (P5), in a randomized block design with three replications. The soil belongs to Alfisols with vertic property, i.e. cracking during the dry season. The results show that the application of bio-nano OSA was capable of improving yield of Detam-1 black soybean up to 26%, increasing water use efficiency up to 37%, and reducing NPK fertilizer dosages up to 50%. The highest yields of Detam-1 black soybean was 2.4-2.5-ton bean ha-1, achieved from the treatment of combination of 50-75% NPK fertilizer dosages and application of bio-nano OSA at 4 L ha-1 rate with optimum level of NPK dosage at 39.2%. By using bio-nano OSA and optimum dosage of NPK fertilizer, the farmer?s profit increased IDR 4,152,340 ha-1 per season compared to standard practice.Abstrak. Sawah tadah hujan pada musim kemarau menawarkan peluang yang prospektif untuk dimanfaatkan sebagai areal produksi tanaman pangan khususnya palawija seperti kedelai hitam. Namun, sawah tadah hujan secara umum memiliki masalah khusus untuk mendukung produktivitas tanaman di musim kemarau yaitu rendahnya efisiensi serapan hara dan/atau penggunaan air. Teknologi pupuk silika dalam formulasi bio-nano ortho-silicic acid (OSA) telah terbukti mampu meningkatkan hasil kedelai hitam dan efisiensi penggunaan air pada lahan tegalan tetapi tidak pada lahan sawah tadah hujan. Penelitian ini ditujukan untuk mempelajari pengaruh aplikasi pupuk Si (bio-nano OSA) terhadap produksi tanaman kedelai hitam Detam-1, efisiensi penggunaan pupuk, dan air pada sawah tadah hujan di Bantarwaru, Indramayu, Jawa Barat. Percobaan dilaksanakan di lahan petani pada bulan Agustus hingga Nopember 2018 dengan menguji perlakuan : (i) kontrol (P0), (ii) pemupukan standar petani (P1), (iii) P1 + 2 ton pupuk organik ha-1 (P2), (iv) 50% P1 + 4 L bio-nano OSA ha-1 (P3), (v) 75% P1 + 4 L bio-nano OSA ha-1 (P4), dan (vi) 100% P1 + 4 L bio-nano OSA ha-1 (P5), dalam rancangan acak kelompok dengan ulangan tiga kali. Tanah di lokasi percobaan tergolong ordo Alfisol dengan sifat vertik seperti timbulnya retakan saat musim kemarau. Hasil percobaan menunjukkan bahwa aplikasi bio-nano OSA mampu meningkatkan produksi kedelai hitam varietas Detam-1 hingga 26%, meningkatkan efisiensi penggunaan air hingga 37%, dan menghemat dosis pupuk NPK hingga 50%. Produktivitas kedelai hitam tertinggi sebesar 2,4?2,5 ton biji kering ha-1 diperoleh pada perlakuan kombinasi pupuk NPK 50-75% dari standar petani dan aplikasi bio-nano OSA 4 L ha-1 dengan dosis optimum pupuk NPK pada 39,2%. Tambahan keuntungan usaha tani kedelai hitam Detam-1 di Bantarwaru dengan aplikasi bio-nano OSA dan pemupukan NPK yang optimum dapat mencapai IDR. 4.152.340 ha-1 per musim jika dibandingkan perlakuan dosis pupuk standar.
C-organik Tanah di Perkebunan Kelapa Sawit Sumatera Utara: Status dan Hubungan dengan Beberapa Sifat Kimia Tanah Rana Farrasati; Iput Pradiko; Suroso Rahutomo; Edy Sigit Sutarta; Heri Santoso; Fandi Hidayat
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 43, No 2 (2019)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v43n2.2019.157-165

Abstract

Abstrak. C-organik tanah pada perkebunan kelapa sawit dapat dijadikan salah satu parameter keberlanjutan ekosistem dan kesuburan tanah. Perubahan sifat kimia tanah yang dinamis tidak lepas dari proses biogeokimia dari mineralisasi dan pelapukan bahan organik menjadi C-organik tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji status C-organik tanah serta kaitannya dengan sifat kimia tanah lainnya dalam kurun waktu 5 tahun dari tahun 2009 sampai tahun 2014 di perkebunan kelapa sawit Sumatera Utara, dengan jenis tanah Inceptisols dan Ultisols. Metode pengambilan sampel menggunakan purposive random sampling. Data dianalisis menggunakan uji komparatif T- paired antara kebun yang diamati pada tahun 2009 dan 2014 untuk melihat perubahan nilai C-organik, dan parameter sifat kimia tanah. Uji korelasi dilakukan untuk melihat keterkaitan antara C-organik dengan parameter sifat kimia tanah lainnya, yaitu kadar N, kejenuhan Al, pH, dan kapasitas tukar kation (KTK). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 25 kebun pengamatan, nilai C-organik dari 3 kebun meningkat dan 6 kebun menurun secara signifikan, sedangkan 16 lainnya tidak berbeda nyata. Dalam periode 5 tahun, kandungan C-organik tanah cenderung fluktuatif namun tetap berada pada kelas yang sama dengan kisaran rendah hingga sedang (<1,75%). Peningkatan nilai C-organik hanya berkorelasi linier dan nyata dengan N pada tanah Inceptisols (r = 0,392). Sedangkan, pada tanah Ultisols, peningkatan C-organik tanah secara nyata diikuti dengan penurunan nilai pH (r = -0,141). 
Kemampuan Konsorsium Bacillus pada Pupuk Hayati dalam Memfiksasi N2, Melarutkan Fosfat dan Mensintesis Fitohormon Indole 3-Acetic-Acid Muhimatul Husna; Sugiyanta Sugiyanta; Etty Pratiwi
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 43, No 2 (2019)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v43n2.2019.117-125

Abstract

Abstrak. Bakteri Bacillus sp. non patogenik memiliki potensi sebagai pupuk hayati. Pupuk hayati di Indonesia sebagian besar terdiri atas konsorsium beberapa macam mikroba. Pupuk hayati yang diuji, “Pupuk X” terdiri atas 10 spesies bakteri Bacillus sp. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas Pupuk X dalam melarutkan fosfat, memfiksasi N2 dan mensintesis fitohormon Indole-3-Acetic Acid (IAA), serta mengujinya secara in planta pada bibit padi.  Kemampuan melarutkan fosfat diuji pada media Pikovskaya padat dengan mengamati munculnya zona bening di sekeliling koloni. Kemampuan memfiksasi N2 secara kualitatif dan kuantitif masing-masing diuji pada media NFB padat dan Acetylene Reduction Assay. Kemampuan sintesis IAA diukur secara kolorimetri pada λ 530 nm, sedangkan pengaruh pupuk hayati cair terhadap bibit tanaman padi diuji secara in planta menggunakan bibit padi varietas IPB3S. Sedikitnya terdapat enam spesies bakteri Bacillus pada pupuk hayati yang digunakan memperlihatkan morfologi koloni berbeda, dengan total populasi mencapai 7,6×1011 cfu ml-1 dan ukuran sel-sel Bacillus sp. bervariasi antara 2,39-3,01 µm. Pada pupuk hayati ini terdeteksi aktivitas nitrogenase sebesar 0,05685 µm ml-1 jam-1. Konsorsium Bacillus ini dapat melarutkan fosfat dari sumber Ca3(PO4)2 dengan indeks pelarut fosfat 2,6. Fosfat terlarut tersebut disebabkan karena produksi empat jenis asam organik oleh Bacillus sp., yaitu asam asetat, asam oksalat, asam laktat, dan asam malat dengan konsentrasi sekitar 0,01-1,02 mg l-1. Konsentrasi IAA pada pupuk hayati cair terdeteksi sebesar 3,0065 µg ml-1. Inokulasi Pupuk X pada bibit padi dapat meningkatkan jumlah akar lateral 42,8% yang berpotensi meningkatkan serapan hara dalam tanah.Abstract. Non-pathogenic Bacillus sp. has the potential as a biofertilizer. Biofertilizers in Indonesia mostly consist of a consortium of several kinds of microbes. Liquid biofertilizer, “Biofertilizer X” is a compound fertilizer consists of ten species of Bacillus sp. This research was aimed at evaluating the ability of the Bacillus consortium in Biofertilizer X to dissolve phosphate, fix N2 and synthesize Indole-3-Acetic Acid (IAA) phytohormone, as well as its effect on rice seedling. The ability to dissolve phosphate was tested on solid Pikovskaya media by observing the appearance of a clear zone around the bacterial colony. The ability to fix N2 qualitatively and quantitatively was tested on solid NFB media and Acetylene Reduction Assay, respectively. The ability of IAA synthesis was measured by colorimetry at λ 530 nm, while the effect of liquid biofertilizers on rice seedlings was tested in planta using IPB3S variety rice seedling. There were at least six species of Bacillus in liquid biofertilizers showing different colony morphologies. The total population reached 7.6 × 1011 cfu ml-1 and the size of Bacillus sp. varied between 2.39-3.01 µm. Nitrogenase activity of this biofertilizer was detected at 0.05685 µm ml-1 h-1. This Bacillus consortium solubilized  phosphate from Ca3(PO4)2 source with solubilizing index of 2.6. This solubilization was attributable to the  the production of four types of organic acids by Bacillus sp., namely acetic acid, oxalic acid, lactic acid, and malic acid with concentrations of 0.01-1.02 mg mg l-1. IAA concentrations in this  biofertilizers were detected at 3.0065 µg ml-1. Inoculation of this biofertilizers increased the number of lateral roots of rice seedlings by 42.8% and these lateral roots have the potential to increase nutrient uptake in the soil.
VARIASI KARAKTERISTIK BIOFISIK LAHAN GAMBUT DENGAN BEBERAPA PENGGUNAAN LAHAN, DI SEMENANJUNG KAMPAR, PROVINSI RIAU Suratman, Suratman; Widiatmaka, Widiatmaka; Pramudya, Bambang; Purwanto, Muhammad Yanuar J.; Agus, Fahmuddin
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 43, No 2 (2019)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v43n2.2019.97-108

Abstract

Abstrak. Lahan gambut merupakan sumberdaya alam yang perlu dilindungi karena mempunyai pengaruh besar terhadap kelestarian sumberdaya alam yang telah menjadi permasalahan global. Lahan gambut juga mempunyai potensi ekonomis yang dalam pengelolaanya sering menimbulkan dampak perubahan terhadap berbagai karakteristik biofisik lahannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dinamika karakteristik biofisik lahan akibat adanya perubahan penggunaan lahan di Semenanjung Kampar, Riau. Dinamika karakteristik lahan dilakukan melalui kompilasi data sekunder dari tahun 1990, dilengkapi data primer yang diamati di lapangan sampai tahun 2018. Untuk mengetahui dinamika tipe tutupan lahan dilakukan interpretasi citra dari tahun 1984 sampai 2018, dan ground check di lapangan. Hasil kajian menunjukkan bahwa dari tahun 1990 sampai 2018 terjadi penyusutan luas lahan gambut sebesar 2.054 ha (6,94%) dari luas semula 29.590 ha. Perubahan tutupan lahan berpengaruh terhadap dinamika karakteristik biofisik lahannya. Dari 1984 hingga 2016 seluruh hutan di areal penelitian telah habis kecuali hutan yang bercampur dengan semak belukar termasuk rumput rawa tinggal 990 ha (3,59%). Perubahan terutama menjadi areal perkebunan, hutan tanaman industri (HTI), kebun campuran, semak belukar dan pemukiman. Perubahan areal hutan menjadi perkebunan dan HTI dimulai tahun 1991 seluas 357 ha (1,3%). Saat ini luasnya 17.390 ha (63,15%). Dari tahun 2013 hingga 2018 telah terjadi perubahan karakteristik biofisik lahan. Nilai pH rata-rata meningkat, tertinggi tahun 2016 pada lahan tanaman pangan dan perkebuanan. Kadar C organik selama dua tahun terakhir terjadi penurunan, tertinggi pada semak belukar, rata-rata 4,29%, kemudian perkebunan, HTI, dan tanaman pangan, rata-rata 0,32 ? 3,52%. Kadar serat cenderung menurun dan kadar abu cenderung naik pada areal perkebunan, HTI, dan tanaman pangan. Kejenuhan basa rata-rata meningkat pada areal tanaman pangan, perkebunan dan HTI. Subsidensi selama 5 tahun terakhir antara 10 sampai 28 cm, terbesar pada tanaman karet dan terkecil pada areal HTI.Abstract. Peatland is a natural resource that need to be protected because it influences the sustainability of natural resources that has becomes a global problem. However, peatland also has economic potential, which in its management often results in changes to various aspects of the biophysical land characteristics. This research aimed at evaluating the dynamics of biophysical land characteristics due to land use changes in the Kampar Peninsula, Riau. The dynamics of the land characteristics was evaluated using secondary data compilation from 1990 and supplemented with primary field data in 2018. Land cover type was interpreted using multi temporal images from 1984 to 2018, ground check, and review of field information. The results of the study show that from 1990 to 2018 there was 2,054 ha (6.94%) reduction of peatlands area from the original area of 29,589 ha. The land use changes have lead to biophysical land characteristics changes. From 1984 to 2016 all of the forest areas have disappeared except for only 990 ha (3.59%) forests mixed with shrubs and swamp grass. Major changes were to plantations, industrial forest plantations (HTI), mixed gardens, shrubs, and settlement. The encroachment of 357 ha (1.30%) plantation and HTI into forest areas began in 1991. Currently there are 17,390 ha (63.15%) of these land covers. From 2013 to 2018 there have been changes in soil characteristics. Soil pH increased, the highest in 2016 on food crops and plantation areas. Organic C content decreased 4.29% in shrubs; and 0.32 ? 3.52% in plantations, HTI, and food crops; fiber content tended to decrease and ash content tended to increase in plantations, HTI, and food crop areas; base saturation increased in food crop, plantations and HTI areas. Subsidence in last 5 years was between 10 and 28 cm, the highest in rubber plantation and the smallest in HTI.
Teknik Isotop 15N untuk Mengevaluasi Pengaruh Biochar dan Bakteri Penambat Nitrogen terhadap Serapan Nitrogen Tanaman Padi Sawah Taufiq Bachtiar; Nurrobifahmi Nurrobifahmi; Ania Citraresmini; Anggi Nico Flatian
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 43, No 2 (2019)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v43n2.2019.139-145

Abstract

Abstrak.  Penelitian ini dilakukan untuk menguji pengaruh dari biochar yang berasal dari cangkang kelapa sawit dan juga keefektifan bakteri penambat N pada tanaman padi sawah varietas MIRA 1, dengan menggunakan teknik  isotop 15N.  Rancangan penelitian yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap dengan 3 ulangan. Perlakuan yang diberikan meliputi K0 = Kontrol; K1 = NPK; B1 = Biochar 2 t ha-1; B2 = Biochar 4 t ha-1; B3 = Biochar 2 t ha-1 + NPK;        B4 = Biochar 4 t ha-1 + ½ NPK; B5 = Biochar 2 t ha-1 + pupuk hayati ABC; B6 = Biochar 4 t ha-1 + pupuk hayati ABC; B7 = Biochar 2 t ha-1 + pupuk hayati ABC + ½ NPK;  B8 = Biochar 4 t ha-1 + pupuk hayati ABC + ½ NPK; B9 = pupuk hayati ABC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian perlakuan B8 (biochar 4 t ha-1 disertai dengan pupuk hayati ABC dan NPK ½ rekomendasi) mampu memberikan nilai serapan N dan hasil tanaman tertinggi. Teknik 15N menunjukan bahwa sumbangan N tertinggi diperoleh dari perlakuan pupuk K1 (pemupukan NPK 100%). Biochar pada sawah memiliki efek pada peningkatan berat kering biji dan jerami, dan jika disertai dengan pupuk hayati, formula ABC + biochar dapat mengurangi penggunaan pupuk NPK hingga 50%.Abstract.  The aim of the research was to assess the impact of biochar derived from coconut shell and the effectivity of nitrogen fixing bacteria for the lowland rice, MIRA 1 variety, by using 15N isotope technique. The research design was complete randomized design with 3 replications. The treatments included: K0 = control; K1 = NPK; B1 = Biochar 2 t ha-1; B2 = Biochar  4 t ha-1; B3 = Biochar  2 t ha-1 + NPK; B4 = Biochar 4 t ha-1 +  ½ NPK; B5 = Biochar 2 t ha-1 + Biofertilizer ABC; B6 = Biochar 4 t ha-1 + Biofertilizer ABC; B7 = Biochar 2 t ha-1 + Biofertilizer ABC + ½ NPK; B8 = Biochar 4 t ha-1 + Biofertilizer ABC + ½ NPK; B9 = Biofertilizer ABC. The result shows that B8 treatment resulted in the highest nitrogen uptake and crop yield. The 15N isotope technique showed that the highest nitrogen supply was derived from K1 treatment (100% NPK fertilizer application. Biochar on paddy fields has an effect on increasing dry weight of grain and dry weight of straw, and if accompanied by biofertilizer of ABC formula + biochar, it can reduce the use of NPK fertilizer by 50%.
Sifat Fisik Tanah dan Hubungannya dengan Kapasitas Infiltrasi DAS Tamiang Cut Azizah Jakfar; Hidayat Pawitan; Bambang Dwi Dasanto; Iwan Ridwansyah; Muh Taufik
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 43, No 2 (2019)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v43n2.2019.167-173

Abstract

Abstrak. Daerah Aliran Sungai (DAS) Tamiang merupakan wilayah rawan bencana dan digolongkan sebagai DAS kritis di Indonesia karena rawan banjir. Mitigasi banjir memerlukan analisis kuantifikasi limpasan yang diprediksi dari curah hujan dikurangi kapasitas infiltrasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi parameter fisik tanah dan hubungannya dengan kapasitas infiltrasi DAS Tamiang. Parameter fisik tanah yang dianalisis adalah tekstur tanah, berat jenis, kadar air, permeabilitas dan porositas. Hasil penelitian menunjukkan tekstur tanah didominasi clay sehingga Hydrologic Soil Grups (HSG) termasuk dalam kapasitas infiltrasi sedang, berat jenis tanah 0,9-1,5 g cm-3, nilai kadar air  pada musim kemarau 20-78 % (volume), nilai permeabilitas termasuk kategori sedang dan agak cepat (3-8 cm jam-1), dan nilai porositas 44-68%. Distribusi parameter fisik tanah menunjukkan kualitas yang kurang baik untuk kapasitas infiltrasi DAS Tamiang. Hasil penelitian dapat digunakan pada perencanaan pengelolaan sumberdaya air yang memerlukan data tanah untuk penelitian terkait. Abstract. The Tamiang River Basin is one of a disaster-prone and considered as a critical area in Indonesia due to vulnerability to flood. Flood mitigation requires an analysis of runoff quantification derived from the difference between rainfall and infiltration capacity. This study aimed to determine the distribution of soil physical parameters and their relationship to the infiltration capacity of the Tamiang watershed. Soil physical parameters analyzed were soil texture, bulk density, moisture content, permeability and porosity. The results showed the texture of the soil was predominantly clay so that the Hydrologic Soil Grups (HSG) was included in the medium infiltration capacity group, soil bulk density was 0.9-1.5 g cm-3, water content in the dry season was 20-78% (by volume), permeability belonged to medium and fairly fast categories (3-8 cm hour-1), and the porosity is was 44-68%. The distribution of soil physical parameters indicate somewhat poor infiltration capacity of the Tamiang watershed. The results of this study can be used in water resources management planning that requires soil data for related research
Pengaruh Amelioran terhadap Perbaikan Sifat Tanah dan Produksi Cabai Rawit (Capsicum frutescens) pada Lahan Bekas Tambang Timah Umi Haryati; Sutono Sutono; I Gusti Made Subiksa
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 43, No 2 (2019)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v43n2.2019.127-138

Abstract

Abstrak. Lahan bekas tambang timah merupakan lahan yang terdegradasi berat dan memerlukan amelioran (pembenah tanah) untuk rehabilitasinya. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh amelioran terhadap produktivitas tanah dan hasil tanaman cabai rawit pada lahan bekas tambang timah. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (Randomized Block Design) dengan 6 perlakuan dan 4 ulangan. Adapun perlakuannya adalah: Kontrol (tanpa amelioran) (B-0), Pupuk kandang 25 t ha-1 (B-1), Biochar Accasia mangium 25 t ha-1 (B-2), Biochar sekam 25 t ha-1 (B-3), Biochar Accasia mangium + pupuk kandang (1:1) 25 t ha-1 (B-4), Biochar sekam + pupuk kandang (1:1) 25 t ha-1 (B-5). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanah pada lahan bekas tambang mempunyai sifat fisik yang kurang baik untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Tanah tersebut mempunyai bulk density (BD) dan particle density (PD) yang cukup tinggi, ruang pori total (RPT), pori air tersedia dan pori drainase lambat yang rendah serta pori drainase cepat yang tinggi . Dengan demikian tanah mempunyai kapasitas memegang air (water holding capacity) yang rendah. Campuran biochar sekam dan pupuk kandang (1:1) memberikan hasil tanaman tertinggi (8,7 t ha-1); nyata lebih tinggi dari perlakuan tanpa pemberian amelioran (1,7 t ha-1). Amelioran biochar Accasia mangium atau biochar sekam yang dicampur dengan pupuk kandang (1:1), memberikan hasil tanaman yang lebih baik dibandingkan dengan pemberian amelioran tersebut secara tunggal.Abstract. Tin mined land is highly degraded land with low soil fertility status and hence requires ameliorant for fertility improvement. This research aimed to study the effects of ameliorant on soil physical and chemical properties and cayenne pepper yield in tin mined land. The experimental design used was Randomized Block Design with six treatments and four replications. The treatments were: control (without ameliorant) (B0), 25 t ha-1 cattle manure (B1), 25 t ha-1 Acacia mangium biochar (B2), 25 t ha-1 rice husk biochar (B3), Acacia mangium biochar + cattle manure (1:1) 25 t ha-1 (B-4), and rice husk biochar + cattle manure (1:1) 25 t ha-1 (B-5). The results showed that the soil physical and chemical properties of the tin mined land were so poor to support plant growth. The soil had a high bulk density (BD) and particle density (PD), low total pore space, low percentage of available water pores, and high percentage of rapid drainage pore. The mixture beetwen biochar of rice husk and cattle manure (1:1) gave the highest crop yield of 8.7 t ha-1; and it was significantly higher than that of the treatment without ameliorants of 1.7 t ha-1. Application of Acacia mangium biochar or rice husk biochar mixed with cattle manure (1:1) gave a higher yield than that of individual biochar without cattle manure. 

Page 1 of 1 | Total Record : 8