cover
Contact Name
Laelatul Qodaryani
Contact Email
jtibbsdlp@gmail.com
Phone
+6285641147373
Journal Mail Official
jtibbsdlp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Tanah dan Iklim
Core Subject : Agriculture,
Jurnal TANAH dan IKLIM memuat hasil-hasil penelitian bidang tanah dan iklim dari para peneliti baik dari dalam maupun dari luar Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian. Jurnal ini juga dapat memuat informasi singkat yang berisi tulisan mengenai teknik dan peralatan baru ataupun hasil sementara penelitian tanah dan iklim.
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 45, No 2 (2021)" : 9 Documents clear
Populasi Bakteri Penambat Nitrogen pada Lahan Sub Optimal di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur Mandala, Marga; Rachmawati, Ayunda; Sari, Putri Tunjung; Indarto, Indarto
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 45, No 2 (2021)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v45n2.2021.109-116

Abstract

Abstrak. Lahan sub optimal merupakan lahan yang memiliki produktivitas rendah. Lahan sub optimal terbagi menjadi lahan basah dan lahan kering. Rendahnya hara menjadi faktor pembatas dalam pengembangan lahan kering menjadi wilayah pertanian. Nitrogen merupakan hara esensial yang sangat diperlukan tanaman. Penggunaan tanaman leguminosae yang mampu bersimbiosis dengan bakteri penambat nitrogen dapat meningkatkan ketersediaan nitrogen dalam tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui populasi bakteri penambat nitrogen dan hubunganya terhadap N-total tanah pada beberapa lokasi budidaya lahan kering. Penelitian dilakukan di lahan budidaya kacang panjang pada lima lokasi di Kabupaten Situbondo. Variabel Pengamatan meliputi : populasi bakteri penambat nitrogen, N-total, pH, C-organik dan C/N rasio. Hasil menunjukkan Lahan budidaya di Kecamatan Banyuglugur memiliki populasi bakteri dan nilai N-total tertinggi. Analisis korelasi regresi menunjukkan erdapat hubungan yang erat antara populasi bakteri penambat nitogen dengan N-total. Bakteri penambat nitrogen mempengaruhi ketersediaan nitrogen sebesar 61,72%, sedangkan 32,28 % dipengaruhi oleh faktor lain.Abstract. Sub optimal land has low productivity. Sub optimal land is divided into wetlands and dry lands. Low nutrients are a limiting factor in the development of dry land into agricultural areas. Nitrogen is an essential nutrient that is needed by plants. Legume plants can symbiosis with nitrogen fixing bacteria to increase the availability of nitrogen in the soil. This study aims to determine the population of nitrogen fixing bacteria and their relationship to soil N-total in several cultivation locations. The research was conducted in long bean cultivation at five locations in Situbondo Regency. Observation variables include: nitrogen fixing bacterial population, N-total, pH, C-organic and C / N ratio. The results showed that the cultivated land in Banyuglugur District had the highest bacterial population and N-total value. The regression correlation analysis showed that there was a close relationship between the nitogen-fixing bacterial population and total N. Nitrogen fixing bacteria affect nitrogen availability by 61.72%, while 32.28% was influenced by other factors.
Karakteristik Lahan Bera Dengan Umur Berbeda dan Pengaruhnya Terhadap Dekomposisi Serasah di Manokwari, Papua Barat Susanto, Slamet Arif; Qayim, Ibnul; Triadiati, Triadiati
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 45, No 2 (2021)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v45n2.2021.117-132

Abstract

Abstrak. Karakteristik umur lahan bera memiliki peran penting dalam pengembalian hara melalui proses dekomposisi. Penelitian dekomposisi serasah dan cadangan karbon pada beberapa umur lahan bera telah dilakukan di Manokwari, Provinsi Papua Barat dari Juli 2020 sampai Januari 2021. Penelitian bertujuan menganalisis proses dekomposisi in situ serasah daun vegetasi lokal pada beberapa umur lahan bera, serta mengukur cadangan karbon dari vegetasi masing-masing lahan bera. Setiap umur lahan bera dipasang sebanyak 18 kantung serasah yang masing-masingnya berisi 20 g serasah daun dari vegetasi lokal lahan bera. Sebanyak tiga kantung serasah diambil setiap bulan dari masing-masing umur lahan bera, kemudian dikeringkan hingga bobot kering konstan. Cadangan karbon biomassa vegetasi dianalisis menggunakan persamaan alometrik berdasarkan diameter pohon setinggi dada (dbh). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kehilangan bobot serasah setelah 6 bulan dekomposisi pada lahan bera 5, 10, dan 15 tahun masing-masing mencapai 92,62%; 94,00%; dan 97,12%. Konstanta dekomposisi (tetapan kehilangan bobot serasah) pada lahan bera 5 dan 10 tahun tergolong rendah yakni 0,65 dan 0,94. Lahan bera 15 tahun memiliki konstanta dekomposisi yang tergolong sedang yakni 1,18. Cadangan karbon pada lahan bera 5, 10, dan 15 tahun masing-masing sebesar 7,57; 32,63; dan 141,33 ton/ha. Penurunan rasio C/N setelah 6 bulan dekomposisi pada lahan bera 5, 10, dan 15 tahun masing-masing sebesar 66,67%; 56,25%; dan 39,39%. Dekomposisi serasah pada lahan bera 5 tahun dipengaruhi oleh curah hujan, sedangkan pada lahan bera 15 tahun dipengaruhi oleh kelembapan tanah. Penelitian ini mengindikasikan bahwa umur lahan bera menyebabkan perbedaan komposisi vegetasi, sehingga berpengaruh pada proses dekomposisi dan banyaknya cadangan karbon. Abstract. The characteristics of the fallow land have an important role in the return of nutrients through decomposition process. Research on litter decomposition and carbon stock on different ages of fallow has been carried out in Manokwari, West Papua from July 2020 to January 2021. The aim of the study was to analyze the in situ decomposition process of leaves litterfall from local vegetation at several ages of fallow, and also measure the biomass carbon stock of each fallow land. A total 18 litterbags were installed, each containing 20 g leaves litterfall from the local vegetation of the fallow land. Three litter bags from each age fallow were taken every month and dried to constant mass. Biomass carbon stocks were analyzed using an allometric equation based on the diameter of the trees at breast height (dbh). The results showed that the litter mass loss at fallow 5, 10, and 15 years were 92.62%; 94.00%; and 97.12% respectively after 6-month decomposition. The slowest decay constants (constants of litter mass loss) were 0.65 and 0.94 at fallows 5 and 10 years respectively, whereas at fallow 15 years with k 1.18. Carbon stocks in fallow land of 5, 10, and 15 years were 7.57; 32.63; and 141.33 ton/ha, respectively. The decrease of C/N ratios at fallow 5, 10, and 15 years were 66.67%; 56.25%; and 39.39% respectively after 6 month decomposition. Litter decomposition was influenced by local rainfall on fallow land at 5 years old and soil moisture at 15 years old. This study indicates that the age of fallow lands lead to differences in the composition of vegetation, so that it affects decomposition process and the amount of carbon stocks.
Pencucian dan Pemupukan Tanah Sulfat Masam untuk Perbaikan Sifat Kimia dan Pertumbuhan Padi Jelly Amalia Santri; Azwar Maas; Sri Nuryani Hidayah Utami; Wahida Annisa
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 45, No 2 (2021)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v45n2.2021.95-108

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pencucian dan ameliorasi terhadap sifat kimia tanah dan air dalam menunjang pertumbuhan tanaman padi di lahan sulfat masam bukaan baru. Penelitian ini meliputi pembuatan kompos berbahan dasar tanaman lokal di kebun percobaan Belandean yang dilanjutkan dengan percobaan pot di rumah kaca Balittra Banjarbaru, Kalimantan Selatan pada bulan Februari sampai Mei 2019. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap (RAL) faktorial 2 faktor dan diulang sebanyak 3 ulangan. Faktor pertama adalah pemupukan (P), yaitu: (a) P0 = tanpa dipupuk,  (b) P1 = pemupukan NPK 50% dosis rekomendasi, (c) P2 = pemberian NPK 50% dosis rekomendasi + Kompos, (d) P3 = pemberian NPK 100% dosis rekomendasi + NPK anorganik sesuai kandungan kompos, dan (P4) = pemberian NPK 100% dosis rekomendasi. Faktor kedua adalah pencucian (D) dengan sistem, yaitu: (a) D0 = air hasil pencucian tidak dikembalikan, (b) D1 = air hasil pencucian dikembalikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pencucian dengan air hasil pencucian tidak dikembalikan membuat  nilai Eh, DHL serta kandungan Fe dan SO4 tanah lebih rendah jika dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Namun, nilai Al-dd dan H-dd tanah terendah terdapat pada perlakuan pengembalian air hasil pencucian dan pemupukan NPK 50% dosis rekomendasi dengan penambahan kompos bahan organik insitu. Perlakuan ini juga memiliki nilai produksi biomassa tertinggi jika dibandingkan dengan perlakuan lainnya.
Pemetaan Indeks Kualitas Tanah (IKT) pada Lahan Tegalan di Kabupaten Jember Ach Fauzan Mas'udi; Indarto Indarto; Marga Mandala
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 45, No 2 (2021)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v45n2.2021.133-144

Abstract

Lahan tegalan berpotensi sebagai salah satu alternatif dalam meningkatkan produksi tanaman. Fenomena yang terjadi saat ini adalah petani di lahan tegalan cenderung mengabaikan prinsip konservasi lingkungan. Indeks kualitas tanah (IKT) dapat digunakan untuk menilai dampak pengelolaan lahan. Penelitian ini dilakukan di lahan tegalan di Kabupaten Jember, Indonesia. Data yang dibutuhkan meliputi data jenis tanah, kelerengan, tata guna lahan, dan data analisis kualitas tanah. Analisis data menggunakan software SPSS 25.0, Excel 2016, dan Arc-MAP 10.4. Pemetaan kualitas tanah memiliki empat tahapan utama, (1) pembuatan petak satuan lahan, (2) analisis sifat tanah, (3) analisis komponen utama dengan metode PCA, dan (4) penilaian indeks kualitas tanah (IKT). Berdasarkan hasil analisis, terdapat tiga komponen utama dalam penilaian indeks kualitas tanah lahan tegalan yaitu karbon organik, lempung, dan pH. Lahan tegalan di daerah Jember terbagi menjadi tiga kelas, yaitu rendah (1,3%), sedang (63,9%), dan baik (34,7%). Secara umum kualitas tanah Tegalan di Kabupaten Jember termasuk dalam kategori sedang. Rekomendasi pengelolaan untuk lahan tegalan adalah penambahan bahan organik.
Dosis dan efek residu biochar kulit buah kakao dalam peningkatan sifat tanah dan produktivitas jagung di lahan kering masam Lampung Timur Neneng Leila Nurida
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 45, No 2 (2021)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v45n2.2021.145-154

Abstract

Dosis biochar yang diberikan ke dalam tanah menjadi aspek penting  dan merupakan salah satu faktor yang menentukan efektivitas pemberian biochar. Efektivitas biochar terlihat sangat nyata bila diapliksikan pada tanah-tanah di wilayah tropikal dibandingkan pada tanah di wilayah sub tropical. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh beberapa taraf dosis biochar kulit buah kakao terhadap penurunan kemasaman tanah yang ditunjukkan dengan penurunan kemasaman tanah, peningkatan  kandungan hara makro dan hasil jagung di lahan kering masam terdegradasi. Penelitian dilaksnakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanah di KP Taman Bogo, Kecamatan Probolinggo, Kabupaten Lampung Timur. Penelitian dilaksanakan selama tiga musim tanam yaitu Pebruari-Mei 2015 (musim tanam pertama), Juli-Nopember 2015(musim tanam kedua) dan Nopember 2015-Pebruari 2016 (musim tanam ketiga). Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok, 4  ulangan. Perlakuan yang diuji adalah dosis biochar kulit buah kakao 0; 5;10;15;25 dan 40 t ha-1 dan tanaman indikator berupa jagung varietas Pioneer 27.  Parameter yang diamati pH, P dan K , Ca, Mg dan Al3+ serta berat pipilan kering. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian biochar kulit buah kakao dosis 15-40 tha-1 mampu memperbaiki sifat tanah seperti pH tanah, kandungan  Al3+ kandungan P dan K potensial kandungan Ca dan Mg serta rasio Ca/Al. Respon paling konsisten terjadi pada pemberian biochar kulit bua kakao 40 t ha-1.  Hasil jagung diperoleh dengan dosis mulai  15 t ha− 1 memberikan efek residu hingga musim ketiga, peningkatan hasil tertinggi terjadi pada musim tanam ketiga yaitu 32,9% (15 t ha− 1), 60,4% (25 t ha− 1) dan 61,3% (40 t ha− 1). Hasil jagung pipilan kering berkorelasi erat dengan kandungan Al3+ (r2=0,8312; p< 0,001). Dosis biochar kulit buah kakao dengan dosis 15-40 t ha-1 sangat prospektif untuk ameliorasi lahan kering masam dan peningkatan produktivitas jagung, namun terdapat efek memudar dari sifat tanah pada musim tanam ketiga.
Estimated Stored Carbon Stock in Tea Plantation at Various Elevation Dewi Nur Rokhmah; Nana Heryana
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 45, No 2 (2021)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v45n2.2021.155-162

Abstract

The tea plant is a plantation crop that has been widely cultivated in Indonesia and provides potential as a carbon dioxide absorption to decrease global warming. However, the potential for carbon dioxide absorption at various altitudes where tea is grown is not widely known. The research objective was to estimate the potential biomass, carbon stock, and CO2 (carbon dioxide) uptake of tea plants at several planting elevations. The research was conducted in the PTPN VIII garden in Parakan Salak afdeling, Sukabumi, West Java and the Integrated Laboratory, Industrial and Freshener Crops Research Institute, Sukabumi, West Java in March 2018. The research was carried out using a survey method and the determination of sample plants at each height by purposive method random sampling. Data were collected at an elevation of 400, 600, and 800 m above sea level (asl) respectively. The results showed that the carbon stocks of tea plants at an elevation of 400, 600, 800 m asl were 6.82 kg/plant, 6.36 kg/plant, and 3.13 kg/plant, respectively. Meanwhile, the absorption of carbondioxide from tea palnts at an elevation of 400, 600, 800 m asl was 25.02 kg/plant, 23.36 kg/plant, and 11.47 kg/plant, respectively.
EFEKTIVITAS PUPUK ORGANIK DAN PUPUK HAYATI CAIR TERHADAP PEMULIHAN TANAH TERDEGRADASI DI DESA SUCOPANGEPOK Ganestri, Rakhmaghfiroh Geonina; Winarso, Sugeng; Asyiah, Iis Nur
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 45, No 2 (2021)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v45n2.2021.175-185

Abstract

ABSTRAK. Keberlanjutan produksi padi bergantung pada pemberian input yang digunakan, khususnya pupuk. Selain pupuk sudah menjadi kebutuhan, aplikasi pupuk yang tidak tepat dapat mengakibatkan degradasi tanah. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengembalikan kesuburan pada tanah terdegradasi yaitu pemberian nutrisi tambahan berupa pupuk. Pupuk yang dapat digunakan yaitu pupuk organik dari kombinasi biochar, kotoran ayam, limbah ikan dan pupuk hayati cair sebagai bionematisida dan biopestisida. Pupuk organik dan pupuk hayati ini diharapkan dapat mencukupi unsur hara pada lahan yang telah terdegradasi. Penilitian ini bertujuan untuk menilai efektivitas pupuk organik dan pupuk hayati cair terhadap pemulihan tanah terdegradasi. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kesuburan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Jember dan pada lahan sawah di Desa Sucopangepok. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok dengan 2 faktor dan 5 ulangan. Hasil menunjukkan bahwa perlakuan dengan pemberian pupuk hayati cair dan dosis pupuk organik 10 ton/ha efektif mampu menaikkan nilai N tanah sebesar 47,87%, menaikkan nilai P tanah tiga kali lebih besar, dan menaikkan nilai KTK tanah sebesar 2,6% dari perlakuan kontrol. Perlakuan dengan pemberian pupuk hayati cair dan dosis pupuk organik 5 ton/ha efektif mampu menaikkan nilai K tanah sebesar 40,22% dan menaikkan nilai C-Organik sebesar 75,44% dari perlakuan kontrol. Perlakuan tanpa pemberian pupuk hayati cair dan dosis pupuk organik 10 ton/ha efektif mampu menaikkan nilai pH sebesar 2,82% dari perlakuan kontrol.ABSTRACT. Sustainability of rice production depends on the provision of inputs used, especially fertilizers. In addition to fertilizers that have become a necessity, improper application of fertilizers can lead to soil degradation. One way that can be done to restore fertility in degraded soils is the provision of additional nutrients in the form of fertilizers. Fertilizers that can be used are organic fertilizers from a combination of biochar, chicken manure, fish waste and liquid biofertilizers as bionematicides and biopesticides. Organic fertilizers and biological fertilizers are expected to meet the nutrients in degraded land. This study aims to assess the effectiveness of organic fertilizers and liquid biofertilizers on the recovery of degraded soils. This research was conducted at the Laboratory of Soil Fertility, Faculty of Agriculture, University of Jember and on rice fields in Sucopangepok Village. This study used a randomized block design with 2 factors and 5 replications. The results showed that the treatment with liquid biofertilizer and organic fertilizer dose of 10 tons/ha was effective in increasing the N value of the soil by 47.87%, increasing the P value of the soil three times, and increasing the CEC value of the soil by 2.6% from the treatment. control. Treatment with liquid biofertilizer and organic fertilizer dose of 5 tons/ha was effective in increasing the K value of the soil by 40.22% and increasing the C-Organic value by 75.44% from the control treatment. The treatment without the application of liquid biofertilizer and a dose of 10 tons/ha of organic fertilizer was effectively able to increase the pH value by 2.82% from the control treatment. 
Analysis of Soil Physics Quality Index in Terms of Soybean Crop Productivity Putri, Savitri Khairunnisa; Baskoro, Dwi Putro Tejo; Rachman, Latief Mahir
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 45, No 2 (2021)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v45n2.2021.163-173

Abstract

Abstrak. Sifat fisika tanah merupakan salah satu sifat tanah yang menentukan kualitas suatu tanah serta salah satu penentu kesuburan tanah, serta berperan dalam pertumbuhan dan produksi tanaman, sehingga perlu ditentukan indeks kualitas fisika tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui indeks kualitas fisika tanah (IKFT) pada tanaman kedelai berdasarkan perlakuan yang diberikan dan untuk mengetahui hubungan indeks kualitas fisik tanah dengan produktivitas kedelai. Lokasi penelitian ini berada di Kebun Percobaan Pacet, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Sifat fisik tanah yang digunakan untuk menentukan IKFT adalah tekstur, bulk density, porositas, pori drainase, air tersedia, permeabilitas, dan stabilitas agregat. Setiap parameter fisika tanah menggunakan skor dalam rentang 0 sampai 5. Penetapan IKFT pada lahan dapat menunjukkan berbagai kualitas sifat fisika tanah yang diwakili oleh beberapa sifat fisika tanah. Indeks kualitas fisika tanah (IKFT) pada masing-masing unit yang ditanami kedelai, yaitu berkisar antara 0,74-0,91 dengan kategori agak baik (P10) sebagai kontrol, baik (P1-P7 dan P9), dan sangat baik (P8). Indeks kualitas fisika tanah memiliki hubungan linier positif sedang antara IKFT dengan produktivitas kedelai (R = 0,4223) yang berarti semakin tinggi indeks kualitas fisika tanah maka produktivitas kedelai semakin tinggi.Kata kunci: sifat fisika tanah, indeks kualitas fisika tanah, tanaman kedelai Abstract.  Soil physical properties are one of the soil properties that determine the quality of a soil as well as one of the determinants of soil fertility, as well as contributing to plant growth and production, so it is necessary to determine the physical quality index of the soil. This study aims to determine the soil physical quality index (SPQI) in soybean plants based on the treatment given and to determine the relationship between soil physical quality index and soybean productivity. This research location was at the Pacet Experimental Garden, Cianjur Regency, West Java Province. The physical properties of the soil used to determine the SPQI are texture, bulk density, porosity, drainage pores, available water, permeability, and aggregate stability. Each soil physics parameter uses a score in the range of 0 to 5. Determination of SPQI on land can show various qualities of soil physical properties which are represented by several soil physical properties. The soil physical quality index (SPQI) of each unit planted with soybeans, which ranged from 0.74-0.91 with categories slightly good (P10) as a control, good (P1-P7 and P9), and very good (P8). Soil physical quality index has a moderate positive linear relationship between SPQI and soybean productivity (R = 0.4223) which means that the higher the soil physical quality index, the higher the soybean productivity.Key word: soil physical properties, soil physical quality index, soybean plant
Cover Vol 45 No 2 2021 Laelatul Qodaryani
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 45, No 2 (2021)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cover Vol 45 No 2 2021

Page 1 of 1 | Total Record : 9