cover
Contact Name
Nelly
Contact Email
jurnalkharismata@gmail.com
Phone
+6282332575637
Journal Mail Official
jurnalkahrismata@gmail.com
Editorial Address
Jl. Letjen Suprapto VI No. 86 Jember, Jawa Timur
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta
ISSN : 26558653     EISSN : 26558645     DOI : 10.
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta merupakan jurnal ilmiah yagn diterbitkan secara online oleh Sekolah Tinggi Alkitab Jember yang bertujuan untuk memublikasi hasil penelitian para dosen di bidang teologi Kristen, baik di gereja, maupun pelayanan kristiani lainnya. Scope dalam KHARISMATA adalah: 1. Teologi Biblika 2. Teologi Sistematika 3. Teologi Praktika
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 2: Januari 2021" : 10 Documents clear
Mewartakan Injil pada Anak Usia 0-2 Tahun Menggunakan Metode Pembacaan Alkitab secara Nyaring di Masa Pandemi Karnawati Karnawati; Aji Suseno
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 3, No 2: Januari 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v3i2.58

Abstract

Pandemic causes Sunday school activities as a means of spreading the Gospel especially for children aged 0-2 years did not work properly. Parents as the party most responsible for the spiritual needs of children need the help of an appropriate way of spreading the gospel. The purpose of this research is to propose a method of evangelizing parents aged 0-2 years old in a pandemic situation with an appropriate method. This research uses a descriptive qualitative approach. The results of the study found that the method of reading the Bible text aloud is a method that is very easy to apply by parents or other family members, easy to learn, does not require expensive costs, and does not require complicated material preparation. Besides, from being a means of evangelism, the method of reading the Bible aloud can provide the following benefits: helping children's brain development more optimally, influencing the development of language and imagination, training the ability to listen attentively, increasing children's vocabulary, increasing emotional relationships between children and parents,  introduce the concept of Bible to children, and improve literacy culture in the family environment. AbstrakMasa pandemi menyebabkan kegiatan Sekolah Minggu sebagai sarana mewartakan Injil, khususnya kepada anak usia 0-2 tahun tidak berjalan sebagaimana mestinya. Orang tua sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas kebutuhan rohani anak perlu mendapat pertolongan sebuah cara yang tepat dalam mewartakan Injil. Tujuan penelitian ini adalah menggagas sebuah metode pewartaan Injil yang dapat dilakukan oleh orang tua kepada anak usia 0-2 tahun di tengah situasi pandemi dengan metode yang tepat. Penelitan ini meng-gunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Hasil penelitian ditemukan bahwa metode mem-bacakan teks Alkitab secara nyaring merupakan metode yang sangat mudah untuk diterap-kan oleh orang tua atau anggota keluarga yang lain, mudah dipelajari, tidak memerlukan biaya yang mahal, serta tidak memerlukan persiapan materi yang rumit. Selain sebagai sarana penginjilan, metode membacakan Alkitab secara nyaring dapat memberi manfaat: membantu perkembangan otak anak lebih optimal, mempengaruhi perkembangan bahasa dan imajinasi, melatih kemampuan mendengar dengan penuh perhatian, menambah kosa kata anak, meningkatkan hubungan emosi antara anak dan orang tua, mengenalkan konsep tentang buku Alkitab pada anak, serta meningkatkan budaya literasi dalam lingkungan keluarga.
Pentingnya Karakteristik Murid Kristus bagi Jemaat menurut Kisah Para Rasul 2:41-47 Nelly Nelly; Murni Yanti
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 3, No 2: Januari 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v3i2.50

Abstract

The success of God's work and ministry carried out by the early church centered on the characteristics of the early church who were disciples of Christ. The church today needs to pay attention to the principle developed by the early church, namely, the characteristics of the disciples of Christ. This article aims to show the important characteristics of Christ's disciples through reading Acts 2: 41-47. By using the descriptive analysis method, several characteristics mentioned in the text are obtained, namely: perseverance, prayer, and unity. In conclusion, believers, congregations, or those who call themselves disciples of Christ, must have characteristics that make them different from people who only follow God as a mere religious obligation.AbstrakKeberhasilan pekerjaan Tuhan dan pelayanan yang dilakukan oleh gereja mula-mula berpusat pada karakteristik jemaat mula-mula yang adalah murid Kristus. Gereja masa kini perlu memerhatikan prinsip yang dikembangkan oleh gereja mula-mula, yakni karakteristik murid Kristus. Artikel ini bertujuan untuk menunjukkan pentingnya karakteristik murid Kristus melalui pembacaan Kisah Para Rasul 2:41-47. Dengan menggunakan metode analsis deskriptif diperoleh beberapa karakteristik yang disebut pada teks tersebut, yakni: bertekun, berdoa, dan bersatu. Kesimpulannya, orang percaya, jemaat, atau yang menyebut dirinya sebagai murid Kristus, harus memiliki karakteristik yang menjadikannya berbeda dengan orang yang hanya mengikut Tuhan sebagai kewajiban agamawi belaka.
Metode Penginjilan Yesus Kristus Menurut Injil Lukas Frans Wonatorei; Marciano Antaricksawan Waani
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 3, No 2: Januari 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v3i2.54

Abstract

Evangelism can be conveyed properly and correctly when using methods. Jesus in Luke's gospel used various methods to be able to preach the gospel, with the aim that everyone who heard him could understand the gospel. This article uses a qualitative method with a literature study approach. The purpose of this research is that believers and pastors can preach the gospel using the methods that have been used by Jesus during His ministry on earth. The result of this research is that the evangelistic methods used by Jesus have various effects and make sinners know Jesus as Lord and Savior.AbstrakPenginjilan dapat tersampaikan dengan baik dan benar, bila menggunakan metode. Yesus dalam Injil Lukas menggunakan berbagai metode untuk bisa memberitakan Injil, dengan tujuan agar setiap orang yang mendengarkannya dapat memahami tentang Injil. Artikel ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur. Tujuan dari penelitian ini, agar orang-orang percaya serta para gembala dapat memberitakan injil dengan metode-metode yang telah dilakukan oleh Yesus pada masa pelayanan-Nya di dunia. Hasil dari penelitian ini, bahwa metode-metode penginjilan yang dipakai oleh Yesus menghasilkan berbagai dampak serta membuat orang berdosa mengenal Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.
Upaya Meningkatkan Etos Kerja Jemaat melalui Pengajaran Hakikat Kerja Menurut Kolose 3:22-24 Innawati Teddywono
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 3, No 2: Januari 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v3i2.48

Abstract

The Bible teaches about the nature of work as an activity that is meaningful for humans and others. That is why Christian workers must have a biblical work ethic in the world of work. This research uses a quantitative approach with a survey method. The research objective was to determine the level of understanding of the GPdI Wlingi congregation in Blitar regarding the nature of work according to Colossians 3:22-24 and the work ethic. This study found the magnitude of the influence of teaching about the nature of work according to Colossians 3: 22-24 on work variables among the GPdI Wlingi congregation, Blitar was 18.5%, while other causes explained the remaining 81.5% outside of this research model. It means that teaching about the nature of work, according to Colossians 3:22-24, must be taught and implemented by the church to improve its congregation's work ethic.AbstrakAlkitab memberikan pengajaran tentang hakikat kerja sebagai suatu aktivitas yang sangat bermakna bagi manusia dan sesamanya. Itulah sebabnya, pekerja Kristen harus memiliki etos kerja yang alkitabiah di tengah dunia kerja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Tujuan penelitian hendak mengetahui seberapa besar tingkat pemahaman jemaat GPdI Wlingi, Blitar, mengenai hakikat kerja menurut Kolose 3:22-24, dan terhadap etos kerja. Penelitian ini menemukan besarnya pengaruh ajaran tentang hakikat kerja menurut Kolose 3:22-24 terhadap variabel kerja di kalangan jemaat GPdI Wlingi, Blitar adalah 18,5%, sedangkan sisanya sebesar 81,5% dijelaskan oleh sebab-sebab lain di luar model penelitian ini. Ini berarti pengajaran tentang hakikat kerja menurut Kolose 3:22-24 harus diajarkan dan diimplementasikan oleh gereja untuk meningkatkan etos kerja jemaatnya. 
Mengaplikasikan Kisah Para Rasul 2-6 bagi Pertumbuhan Gereja di GPdI Elohim Sentani, Papua Sonny Manoach; Sutikto Sutikto
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 3, No 2: Januari 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v3i2.52

Abstract

God wishes the growth of the church as an implementation of the great commission of Jesus Christ. However, many churches are still not doing their best, so they are stagnating. Growth is meant not just a quantitative increase, but rather spiritual growth, number and management and outward expansion. A relevant strategy is needed in order to experience growth. This article aims to apply the growth strategy that the early church experienced, according to the text of Acts 2-6. This research was conducted using library research methods and field research methods. Build the theoretical basis of the exposition of the Book of Acts regarding the strategy of church growth. In addition, structured interviews were used, and through administrative documents, observations of congregants involved in local church services at GPdI Elohim, Sentani, Jayapura.Abstrak. Allah menghendaki pertumbuhan gereja sebagai implementasi dari amanat agung Yesus Kristus.  Namun banyak gereja masih belum melakukannya secara maksimal, sehingga mengalami stagnasi. Pertumbuhan yang dimaksud  bukan sekadar pertambahan kuantitatif, namun lebih kepada pertumbuhan rohani, jumlah dan menajemen dan ekspansi keluar. Diperlukan strategi yang relevan agar dapat mengalami pertumbuhan. Artikel ini bertujuan untuk menerapkan strategi pertumbuhan yang dialami gereja mula-mula, sesuai teks Kisah Para Rasul 2-6. Penelitian ini dilakukan dengan metode metode penelitian kepustakaan (library research) dan lapangan (field research). Membangun landasan teori dari eksposisi Kitab Kisah Para Rasul berkenaan dengan strategi pertumbuhan gereja. Selain itu, digunakan juga wawancara terstruktur, dan melalui dokumen administrasi, observasi terhadap jemaat yang terlibat dalam pelayanan gereja lokal di  GPdI Elohim, Sentani, Jayapura. 
Daud Meloncat-loncat dan Menari-nari: Aspek Teologis Bahasa Tubuh dalam Ibadah Kristiani Sonny Eli Zaluchu; Yesaya Bangun Ekoliesanto
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 3, No 2: Januari 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v3i2.60

Abstract

The use of expressive body languages, such as jumping and dancing, is often underestimated in Christian worship. Its existence is often labeled with the Charismatic church. This paper will discuss the use of dance and other expressive gestures in Christian worship based on the story of David jumping and dancing (2 Sam 6: 14-16). The method used in this paper is the study of literature. This study will analyze David's dance in the Old Testament and the essential meaning of Christian service. It may be concluded that David who jumped and danced could be used as a theological basis for body language in Christian Worship, as long as these expressive body languages are used responsibly with the faithful essential meaning of worship.AbstrakPenggunaan bahasa tubuh ekspresif, seperti meloncat-loncat dan menari-nari sering dipandang sebelah mata dalam ibadah Kristiani. Keberadaannya sering dilabelkan dengan gereja karismatik. Makalah ini akan membahas penggunaan tarian dan bahasa tubuh ekspresif lain dalam ibadah Kristiani berdasarkan kisah Daud yang meloncat-loncat dan menari-nari (2Sam 6:14-16). Metode yang digunakan adalah kajian literatur yang menganalisa tarian Daud dalam Perjanjian Lama dan esensi ibadah Kristiani. Berdasarkan studi literatur tersebut, dapat disimpulkan bahwa Daud yang meloncat-loncat dan menari-nari dapat digunakan sebagai dasar teologis bahasa tubuh di dalam ibadah Kristiani, dengan catatan bahwa hal ini dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan memiliki esensi ibadah yang benar. 
Kitab Mazmur: Inspirasinya bagi Kehidupan Manusia Menyejarah Priyantoro Widodo
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 3, No 2: Januari 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v3i2.59

Abstract

The Psalms are part of The Holy Canon. This book has four synonym names. Why is that? Inn addition, this book indicates the form of poetry and so it is called Psalms number 1 to 150. This unity of 150 poetry has what meaning and importance to the life of the Christian faithful? Research on this is based on the Christian Canonical Scriptures in their final form. In order to answer the two research questions above, the researcher used the biblical library research method with the literary criticism approach. The research of Psalms biblical literature is valuable written literary data as it is owned and maintained by the community of users, so the research on it also pays attention to this phenomenon. Synonymization of the mention of the Holly Book of the Canon of the Psalms in several translations indicates the importance of the Scriptures to be revitalized by the, of faith in their lives. The Psalms are still relevant for the life of the faithful in motivating to live historically on this earth. The historical life that is meant to be true and wise with the considerations of the mind, and be firm in the decision to live in the guidance and enlightenment of the Law of God.AbstrakKitab Mazmur merupakan bagian dari kitab Kudus Kanonik. Kitab ini memiliki sebutan sinonim yang jumlahnya ada empat. Mengapa demikian? Selain itu, kitab ini mengindikasikan bentuknya berupa syair atau puisi sehingga disebut Mazmur nomor 1 hingga 150. Kesatuan syair atau puisi yang jumlahnya 150 ini memiliki makna dan kepentingan apa bagi kehidupan umat beriman Kristen? Penelitian atas hal ini dilandasakan kepada teks Kitab Kudus Kanonik Kristen dalam bentuknya yang sudah final.  Dalam rangka menjawab dua pertanyaan penelitian di atas, peneliti menggunakan metode riset pustaka biblika dengan pendekatan kritik kesusasteraan. Riset kesusastraan biblika Mazmur sebagai data sastra tulis berharga sebagaimana dimiliki dan dipelihara oleh komunitas penggunanya, maka dalam penelitian atasnya pun dengan mengindahkan fenomena ini. Sinonimisasi penyebutan kitab Kudus Kanonik Mazmur dalam beberapa terjemahan mengindikasikan kepentingan Kitab Kudus itu untuk direlevansikan oleh komunitas beriman dalam kehidupannya. Kitab Mazmur masih relevan bagi kehidupan umat beriman dalam memotivasi untuk hidup menyejarah di bumi ini. Hidup menyejarah yang dimaksud harus secara benar dan bijaksana dengan pertimbangan akal-budinya, serta teguh dalam keputusan untuk hidup dalam tuntunan dan pencerahan oleh Taurat TUHAN.
Penciptaan Alkitabiah dan Evolusi: Berbagai Upaya untuk Merekonsiliasi Keduanya Yohanes Verdianto
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 3, No 2: Januari 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v3i2.19

Abstract

 Since Charles Darwin wrote his book on the theory of human evolution in 1859, the paradigm of Christians and even Christian theologians have partially endorsed it or at least tried to reconcile ideas about biblical creation and the theory of evolution. Attempts have been made in literary form by Christian theologians who strongly believe in the Bible but at the same time believe in evolution, in their effort to reconcile both. This paper attempts to examine the writings of several theologians on evolution and biblical creation, and then provide rebuttals regarding the views of those who try to reconcile six-day biblical creation with the millions of years of evolutionary theory, but override the authority of Scripture. The expected result in this paper is that the biblical authority and its validity in the story of God’s creation during the six days is literal and cannot be reconciled with the theory of evolution. This paper using a documentary research method, in which the primary resources are the theologians who believe in God and simultaneously believe in the theory of evolution. Secondary resources are needed as a comparison and provide input in connection with this research. AbstrakSejak Charles Darwin menulis bukunya tentang teori evolusi manusia pada tahun 1859, paradigma orang Kristen dan bahkan para teolog Kristen pun sebagian telah mendukungnya atau setidaknya mencoba menyelaraskan ide tentang penciptaan alkitabiah dan teori evolusi. Berbagai upaya telah dibuat dalam bentuk literatur oleh para teolog Kristen yang sangat memercayai Alkitab tapi di saat yang sama juga memercayai evolusi, dalam upaya mereka untuk menyelaraskan keduanya. Makalah ini mencoba untuk menelaah tulisan beberapa teolog sehubungan dengan hal tersebut dan memberikan sanggahan sehubungan dengan pandangan mereka yang mencoba menyelaraskan penciptaan alkitabiah selama enam hari dengan teori evolusi yang berlangsung jutaan tahun, namun dengan mengesampingkan otoritas Kitab Suci. Hasil yang diharapkan dalam makalah ini bahwa otoritas Alkitab dan keabsahannya dalam kisah penciptaan Allah selama enam hari literal adalah benar dan tidak dapat diselaraskan dengan teori evolusi. Makalah ini menggunakan metode studi literatur, di mana sumber utama adalah tulisan para teolog yang memercayai Allah dan secara bersamaan memercayai teori evolusi. Sumber sekunder diperlukan sebagai pembanding dan memberikan masukan sehubungan dengan penelitian ini.
Aplikasi Karakteristik Pemimpin Jemaat menurut Surat Titus di Lingkungan GPdI Wilayah I Manokwari Iyay Odja Jeremia; D. S. Budiono Santoso
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 3, No 2: Januari 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v3i2.51

Abstract

Character is a very principle thing related to leader or leadership. As a church leader, sometimes the characteristics are not always ideal as expected. There have been many cases related to the lack of characteristics of church leaders, especially in the Pentecostal Church in Indonesia, the Manokwari region. This research is a literature review of Titus' letters using descriptive-interpretive methods. The results of this study are recommended to be applied to 20 church leaders in the GPdI area of Manokwari.AbstrakKarakter merupakan hal yang sangat prinsip terkait pemimpin atau kepemimpinan. Sebagai pemimpin jemaat terkadang karakteristik tidak selalu ideal seperti yang diharapkan. Ada banyak kasus terjadi terkait kurangnya karakteristik pemimpin jemaat yang terjadi, khususnya di lingkungan Gereja Pantekosta di Indonesia wilayah I Manokwari. Penelitian ini merupakan kajian literatur atas surat Titus dengan menggunakan metode deskriptif-interpretatif. Hasil dari kajian ini direkomendasikan untuk diterapkan kepada 20 pemimpin jemaat yang ada di lingkungan GPdI wilayah I Manokwari.
Kualifikasi Pemimpin Jemaat Menurut 1 Timotius 3:1-7 bagi Gembala Sidang GPdI Wilayah Keerom Timur Yohosua Ohodo; Roberth Ruland Marini
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 3, No 2: Januari 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v3i2.53

Abstract

Paul has laid out clear qualifications regarding the things a church leader should have. Paul believes that the quality of church leaders who are developed seriously and responsibly in a person is something important and becomes a solid foundation for church leadership. The need for qualified church leaders is also felt to be very important for the Pentecostal Church in Indonesia in the East Keerom region, Papua. Therefore, a study is needed to determine the qualifications of church leaders according to 1 Timothy 3: 1-7. The method used in this research is qualitative with a descriptive analysis approach. The results of this study found that the pastors of the Pentecostal Church congregations in Indonesia in the East Keerom region, Papua have a good understanding of personality qualifications, qualifications for life in society, qualifications for spiritual life and ministry, but still do not understand well about life qualifications. in the middle of the family for a church leader. AbstrakPaulus meletakkan kualifikasi yang jelas dan tegas mengenai hal-hal yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin jemaat. Paulus percaya bahwa kualitas pemimpin jemaat yang dibangun dengan serius dan bertanggung jawab dalam diri seseorang merupakan sesuatu yang penting dan menjadi pondasi kokoh bagi kepemimpinan gereja. Kebutuhan untuk pemimpin jemaat yang berkualitas dirasakan pula sebagai hal yang sangat penting bagi Gereja Pentakosta di Indonesia yang ada di wilayah Keerom Timur, Papua. Oleh sebab itu diperlukan kajian untuk mengetahui kualifikasi pemimpin jemaat menurut 1 Timotius 3:1-7. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan analisis deskriptif. Hasil dari penelitian ini didapati para gembala sidang Gereja Pentakosta di Indonesia yang ada di wilayah Keerom Timur, Papua memiliki pemahaman yang baik mengenai kualifikasi kepribadian, kualifikasi kehidupan di tengah masyarakat, serta kualifi-kasi kehidupan rohani dan pelayanan, namun masih belum memahami dengan baik mengenai kualifikasi kehidupan di tengah keluarga bagi seorang pemimpin jemaat.  

Page 1 of 1 | Total Record : 10