cover
Contact Name
Fajar Rizki Widiatmoko
Contact Email
semitan@itats.ac.id
Phone
+6281222333864
Journal Mail Official
semitan@itats.ac.id
Editorial Address
Jl. Arief Rachman Hakim, No. 100, Kota Surabaya, Jawa Timur 60117 » Tel / fax : (031)5945043 / (031)5994620
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Prosiding Seminar Teknologi Kebumian dan Kelautan (SEMITAN
ISSN : -     EISSN : 26860651     DOI : -
Core Subject : Science,
Prosiding yang berisi hasil penelitian di bidang ilmu kebumian dan kelautan, diselenggarakan pada acara Seminar Teknologi Kebumian dan Kelautan (SEMITAN) yang dilaksanakan secara tahunan. Pemateri seminar merupakan akademisi dan praktisi yang bergerak di bidang Kebumian dan Kelautan. aim and scope: Earth Science Mining Engineering Marine Technology Environmental science
Articles 82 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 1 (2019)" : 82 Documents clear
AKUIFER REKAHAN DI KOMPLEKS METAMORF BAYAT Arhananta, Arhananta; Rkt, Anggita Mahyudani
Prosiding Seminar Teknologi Kebumian dan Kelautan Vol 1, No 1 (2019)
Publisher : Prosiding Seminar Teknologi Kebumian dan Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (975.116 KB)

Abstract

Penelitian ini terletak di daerah Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Batuan yang mendominasi daerah tersebut adalah batuan metamorf yang dipengaruhi struktur geologi, berupa sesar dan kekar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi geologi, pengaruh struktur geologi terhadap geometri akuifer di daerah tersebut. Metode yang digunakan antara lain surface mapping meliputi scanline dan pengambilan data hidrogeologi meliputi muka air tanah dan sampel air tanah. Daerah telitian terdiri dari satuan batuan metamorf sebagai akuifer rekahan, batuan sedimen karbonat klastik dan batupasir sebagai akuifer, batuan beku sebagai akuifug dan akuifer rekahan, lalu endapan kuarter sebagai akuifer bebas. Kontrol struktur geologi menjadi faktor yang penting dalam menentukan kondisi hidrogeologi daerah tersebut. Struktur geologi daerah telitian meliputi sesar dengan orientasi relatif Timur Laut-Barat Daya dan Barat Laut-Tenggara yang membagi geometri akuifer menjadi tiga area. Foliasi pada Komplek Jiwo Barat pada litologi epidot-glaukofan sekis dan pada Jiwo Timur pada litologi Filit dengan orientasi umum Timur Laut-Barat Daya yang mengontrol arah aliran air mengikuti arah orientasi foliasinya. Untuk kedepannya dilakukan penelitian baku mutu air tanah daerah akuifer rekahan metamorf dan akuifer bebas daerah Bayat
IDENTIFIKASI POTENSI BAHAN GALIAN PASIR DI KECAMATAN JABON, SIDOARJO MENGGUNAKAN METODE GEOLISTRIK SCHLUMBERGER Yuwanto, Sapto Heru; Wibowo, Handoko Teguh; Bahar, Hendra; Abdibar, Aleik Ainu
Prosiding Seminar Teknologi Kebumian dan Kelautan Vol 1, No 1 (2019)
Publisher : Prosiding Seminar Teknologi Kebumian dan Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (530.964 KB)

Abstract

Pasir adalah salah satu bahan galian tambang yang sangat dibutuhkan untuk pembangunan. Kabupaten Sidoarjo mempunyai potensi industri tambang pasir karena adanya Sungai Porong yang berhulu di pegunungan vulkanis di selatan Kabupaten Sidoarjo, untuk mengetahui potensi bahan galian pasir tersebut perlu adanya penelitian bawah permukaan, salah satunya dengan menggunakan metode geolistrik. Geolistrik tahanan jenis dengan konfigurasi elektroda schlumberger, adalah dengan cara arus listrik diinjeksikan ke dalam bumi melalui dua elektroda arus, kemudian beda potensial yang terjadi diukur melalui dua elektroda potensial. Dari hasil pengukuran arus dan beda potensial untuk setiap jarak elektroda yang berbeda kemudian dapat diturunkan variasi harga tahanan (hambatan) jenis masing-masing lapisan yang berada di bawah titik ukur (sounding point). Berdasarkan hasil analisis dan interpretasi nilai resistivitas, litologi daerah penelitian dibagi dalam 4 lapisan batuan, lapisan atas merupakan lapisan soil (tanah penutup) diperkirakan mempunyai ketebalan 0 – 2 meter, lapisan ke dua lapisan merupakan lapisan lempung diperkirakan mempunyai ketebalan 2 – 5 meter dan lapisan ke tiga dan keempat merupakan lapisan pasir yang bercampur dengan lempung yang diperkirakan mempunyai ketebalan ± 5 – 40 meter. Sebaran potensi bahan galian endapan pasir dominan berada di kedalaman ± 5 – 45meter, arah sebarannya sejajar dengan Sungai Porong atau Barat – Timur (E-W). Sand is one of the minerals that is needed for development. Sidoarjo Regency has the potential of the sand mining industry because of the existence of the Porong River which is tipped in the volcanic mountains in the south of Sidoarjo Regency. Geoelectric resistivity with Schlumberger electrode configuration, is by means of an electric current injected into the earth through two current electrodes, then the potential difference that occurs is measured through two potential electrodes. From the results of current measurements and potential differences for each different electrode distance can then be reduced variations in the value of resistance (resistance) type of each layer which is below the measuring point (sounding point). Based on the analysis and interpretation of resistivity values, the lithology of the study area is divided into 4 layers of rock, the upper layer is a layer of soil (soil cover) estimated to have a thickness of 0 - 2 meters, the second layer is a layer of clay is estimated to have a thickness of 2-5 meters and layers the third and fourth is a layer of sand mixed with clay which is estimated to have a thickness of ± 5 - 40 meters. The potential distribution of dominant sand deposits is at ± 5 - 45 meters, the direction of distribution is parallel to the Porong River or West - East (E-W).  
ANALISIS KESTABILAN LERENG DAN REKOMENDASI LERENG FINAL DI BLOK TUBAN PENAMBANGAN BATUGAMPING BAGIAN UTARA PT.SEMEN INDONESIA (PERSERO) Tbk Rahman, Romano Aulia; Jusfarida, Jusfarida
Prosiding Seminar Teknologi Kebumian dan Kelautan Vol 1, No 1 (2019)
Publisher : Prosiding Seminar Teknologi Kebumian dan Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.352 KB)

Abstract

PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk, Pabrik Tuban yang terletak di Desa Sumberarum, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, merupakan industri semen yang memiliki tambang batugamping sebagai salah satu bahan utama dari semen. Kestabilan lereng sangat penting dalam keselamatan kegiatan pertambangan, sehingga perlu dilakukan kajian dengan tujuan untuk menentukan desain geometri lereng dengan mempertimbangkan faktor keamanan, memperkirakan longsoran yang akan terjadi, dan penanggulangan dari resiko yang mungkin akan terjadi. Penelitian ini menggunakan Metode Pembobotan Rock Mass Rating (RMR), kemudian dilakukan perhitungan nilai Geological Strength Index (GSI) dan Slope Mass Rating (SMR). Sedangkan analisis kestabilan lereng menggunakan bantuan software Slide V6.0 dengan parameter masukan Mohr-Coulumb antara lain nilai kohesi, sudut geser dalam, bobot isi batuan dan kondisi air, kemudian bantuan software Dips 6.0 untuk mengetahui analisis jenis longsoran berdasarkan data diskontinuitas. Pada lokasi penelitian, dilakukan pengukuran pada 10 blok (lereng tambang) yang terbagi menjadi 18 lokasi scanline (SL), yang selanjutnya dilakukan analisis laboratorium dengan 4 parameter yaitu; kuat tekan batuan, sifat fisik batuan, kohesi dan sudut geser dalam. Berdasarkan pengolahan data parameter di atas maka diperoleh hasil sebagai berikut; rata-rata potensi kelongsoran yang terjadi berjenis longsoran baji, rata-rata nilai faktor keamanan adalah 5,15 (aman), dan rekomendasi kestabilan lereng adalah melakukan pengecekan lapangan secara periodik untuk mengetahui apakah ada bidang diskontinuitas baru, memantau kadar air tanah secara periodik di sekitar lereng, melakukan pengujian kembali sifat fisik dan mekanik batuan pada setiap lereng daerah penelitian, sehingga hasil analisis kestabilan lereng akan lebih maksimal.  Semen Indonesia Pte Ltd, Tuban Factory, is located in Sumberarum Village, Kerek District, Tuban Regency, East Java. It is a cement industry which has limestone mining as one of the main materials for cement. Basically, slope stability is very vital for the safety of mining activity. Therefore, a study intended for determining the geometric design of slope is necessary by considering the safety factor, estimating the possible slide, and preventing the possible risks. The researcher employed a weighting method of Rock Mass Rating (RMR) and then calculated the values of Geological Strength Index (GSI) and Slope Mass Rating (SMR). In terms of slope stability analysis, software Slide V6.0 was used through input parameters of Mohr-Coulumb such as cohesion value, internal shear angle, stone content weighting, and water condition. After that, software Dips 6.0 was applied for investigating the slide type based on the data of discontinuity. At the research site, the researcher measured 10 blocks (mining slope) which were divided into 18 locations of Scan Line (SL). Next, laboratory analysis was carried out using 4 parameters i.e. stone compressive strength, stone physical property, cohesion, and internal shear angle. The results of processing data on those parameters were as follows: the average potential slide was wedge failure type and the average safety factor was 5.15 (safe). Accordingly, recommendations for getting maximum results of slope stability are periodic field checking for recognizing new discontinuity field, periodic monitoring on the soil water content around the slope, as well as re-testing the physical and mechanical properties of stone at every slope in the research site.
OPTIMASI PRODUKSI BELT CONVEYOR UNTUK PENGANGKUTAN BIJIH EMAS DI PT. BUMISUKSESINDO SITE TUJUH BUKIT, KECAMATAN PESANGGARAN, KABUPATEN BANYUWANGI, JAWA TIMUR Utamakno, Lakon; Putri, Fairus Atika Redanto; Budiarto, Budiarto; Juliawan, I Kadek Putra
Prosiding Seminar Teknologi Kebumian dan Kelautan Vol 1, No 1 (2019)
Publisher : Prosiding Seminar Teknologi Kebumian dan Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1868.934 KB)

Abstract

PT. Bumi Suksesindo merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dibidang pertambangan emas yang berlokasi di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur. PT. Bumi Suksesindo mengoperasikan Ore Processing Plant ( OPP ) untuk pengolahan bijih ore dari mulut pit dengan 2 tahap yaitu crushing dan aglomerasi. PT. Bumi Suksesindo menggunakan belt conveyor untuk mengangkut bijih ore yang telah melalui tahap crushing, aglomerasi dan load out ke truk untuk diangkut menuju Heap Leach Operation ( HLO ). Sasaran produksi belt conveyor yang ditetapkan pada bulan Mei sebesar 139.500 ton atau 4500 ton/hari. Berdasarkan pengamatan dan perhitungan dilapangan terhadap weighter diketahui produksi nyata rata-rata belt conveyor pada bulan Mei hanya 104.267 ton atau 3.363 ton/hari. Maka tujuan dari penelitian ini adalah : 1) Menentukan produktivitas nyata dan teoritis dari belt conveyor pada OPP ; 2) Menganalisis efisiensi waktu kerja dari belt conveyor pada OPP ; 3) Menganalisis hambatan yang terjadi terhadap belt conveyor pada OPP ; 4) Merencanakan optimasi produksi dari belt conveyor pada OPP. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif kualitatif kuantitatif dengan teknik terapan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1) Berdasarkan hasil pengamatan terhadap kapasitas teoritis dan aktual pada belt conveyor 6, belt conveyor 7 dan belt feeder 2 diketahui bahwa efektivitas penggunaan pada CV 6 : 43,73 %, CV 7 : 43,73 % dan FDR 2 : 35,6 % sehingga dapat dilakukan penambahan laju umpan untuk dapat tercapainya sasaran produksi ; 2) Waktu kerja efektif per hari 335,65 menit/hari dari waktu kerja tersedia 480 menit/hari ; 3) Adanya waktu kerja terbuang sebesar 2,4 jam/hari yang disebabkan oleh adanya hambatan operation dan maintenance ; 4) Peningkatan produksi dapat dilakukan dengan 2 alternatif yaitu meningkatkan laju pengumpan sebesar 203,6 ton/jam atau menambah waktu kerja sebesar 128,7 menit/hari sehingga sasaran produksi 4500 ton/hari dapat tercapai.  Bumi Suksesindo Ltd is one of companies in gold mining, located at Sumberagung Village, Pesanggaran District, Banyuwangi Regency, East Java Province. This company operates Ore Processing Plant (OPP) to process ore from pit mouth through 2 phases namely crushing and agglomeration. It uses belt conveyor to haul ore which has passed the phases of crushing, agglomeration, and load out to truck which then transported to Heap Leach Operation (HLO). The production target of belt conveyor stated in May was by 139,500 tons or 4500 tons/day. Based on the observation and calculation toward weighter at field, the actual production of belt conveyor in May was averagely only 104,267 tons or 3,363 tons/day. Therefore, this research aimed at: 1) determining the actual and theoretical productivities of belt conveyor on OPP; 2) analyzing work time efficiency of belt conveyor on OPP; 3) analyzing obstacles of belt conveyor on OPP; 4) planning production optimization of belt conveyor on OPP. Qualitative-quantitative descriptive method using applied technique was employed in this research. The result of research demonstrated that: 1) the observation on theoretical and actual capacities of belt conveyor 6, feeder 1, and feeder 2 obtained the usage effectiveness of CV 6 : 43.73 %, CV 7 : 43.73 %, and FDR 2 : 35.6 %, therefore, additional feed rate can be carried out to achieve production target; 2) daily effective work time was 335.65 minutes/day of the available work time 480 minutes/day; 3) wasted wok time was 2.4 hour/day due to operation and maintenance obstacles; 4) production can be improved by 2 alternatives i.e. improving the feed rate by 203.6 tons/hour or giving additional work time by 128.7 minutes/day so as to reach production target by 4500 tons/day.
REKAMAN STASIUN GPS SEBAGAI PENDETEKSI PERGERAKAN TEKTONIK, STUDI KASUS: BENCANA TSUNAMI ACEH 26 DESEMBER 2004 Widiatmoko, Fajar Rizki; Zamroni, Akhmad; Siamashari, Muhammad Abdurrozak; Maulina, Afifah Nurul
Prosiding Seminar Teknologi Kebumian dan Kelautan Vol 1, No 1 (2019)
Publisher : Prosiding Seminar Teknologi Kebumian dan Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (529.715 KB)

Abstract

Geographic Position System (GPS) is an electronic instrument that is used to determine the position of coordinates, with the help of the triangulation of satellite signals it can be accurately determined the coordinates of the position. An embedded GPS station is built to track changes in station positions over a period of time. Changes in position over a period of time are calculated using the GPS kinematic method and summed up simply using the GPS velocity method. International GNSS Service (IGS) is a global GPS data provider service with time-per-second densities and millimeter accuracy. During the Aceh tsunami tragedy 26 December 2004 00.58'.53 "UTC there were 3 GPS stations, each located on a different tectonic plate, the JOGJ station located in Yogyakarta representing the Micro-Sunda plate, the ISSC station located in India representing the Indian plate, and the DGAR station located in the Maldives represents the Eurasian plate as a stable site. The results of data analysis showed that there were 4 phases of tectonic movements during the Aceh tsunami tragedy, anomalous movement phases, pressuring phases, release phases, and stabilization phases. The tectonism study using the GPS station data approach can be used as a parameter to detect plate movement data, especially a great hope for the development of earthquake detection studies.   Keywords: GNSS, GPS Kinematic, GPS Velocity, Plate movement, Tsunami trigger Geographic Position System (GPS) adalah suatu intrumen elektronik yang digunakan untuk mengetahui posisi kordinat, dengan bantuan triangulasi sinyal satelit maka dapat ditentukan posisi kordinat secara akurat. Stasiun GPS tertanam dibangun untuk mengetahui perubahan posisi stasiun dalam kurun waktu tertentu. Perubahan posisi dalam kurun waktu tertentu dihitung menggunakan metode GPS kinematic dan disimpulkan secara sederhana menggunakan metode GPS velocity. International GNSS Service (IGS) adalah layanan penyedia data GPS seluruh dunia dengan kerapatan waktu per-detik dan akurasi dalam milimeter. Pada tragedi bencana tsunami Aceh 26 Desember 2004 00.58’.53” UTC terdapat 3 stasiun GPS yang masing-masing berlokasi pada lempeng tektonik yang berbeda, stasiun JOGJ berlokasi di Yogyakarta mewakili lempeng Micro-Sunda, stasiun ISSC berlokasi di India mewakili lempeng Hindia - Australia, dan stasiun DGAR berlokasi di Maldives mewakili lempeng Eurasia sebagai stable site. Hasil analisa data menunjukan terdapat 4 fase gerakan tektonik selama tragedi tsunami Aceh, fase gerakan anomali, fase penekanan, fase pelepasan dari tekanan, dan fase penstabilan. Studi tektonisme menggunakan pendekatan data stasiun GPS bisa dijadikan parameter data pendeteksi pergerakan lempeng, terutama sebuah harapan besar pengembangan studi pendeteksi gempa bumi.Kata kunci: GNSS, GPS Kinematik, GPS Velocity, Pergerakan lempeng, Pemicu Tsunami
113 PERHITUNGAN SUMBERDAYA NIKEL LATERIT DENGAN METODE AREA OF INFLUENCE DAN INVERSE DISTANCE WEIGHTING PADA PT TANJUNG PUTIA KABUPATEN MOROWALI PROVINSI SULAWESI TENGAH Tama, Arga Satria; Nurkhamim, Nurkhamim; Rafuddin, Rafuddin
Prosiding Seminar Teknologi Kebumian dan Kelautan Vol 1, No 1 (2019)
Publisher : Prosiding Seminar Teknologi Kebumian dan Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (783.532 KB)

Abstract

Nikel laterite merupakan salah satu bahan tambang yang bernilai ekonomis. Olehnya itu penemuan sumbersumber baru nikel laterit sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan industri. Salah satu cara untuk menyelidiki endapan nikel laterite, diperlukan suatu metode estimasi yang akurat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sumberdaya nikel laterit yang terdapat pada blok X dengan menggunakan metode Area of influence dan Inverse distance weighting serta mengetahui perbedaan hasil estimasi dengan kedua metode tersebut.  Hasil perhitungan sumberdaya nikel dengan metode Area of influence diperoleh 1.357.817 ton dan dengan metode Inverse distance weighting (IDW) 1.322.750 ton, dengan selisih dari kedua metode tersebut sebesar 35.067 ton atau persentasi selisih sebesar 2 %.  Salah satu faktor yang menyebabkan perbedaan hasil estimasi sumberdaya dari kedua metode adalah jumlah titik yang berpengaruh dalam suatu blok. Perhitungan dengan metode Inverse distance weighting (IDW) dihitung berdasarkan titik data terdekat dengan titik yang ditaksir akan memberikan bobot lebih besar daripada titik data yang lebih jauh. Metode ini didasarkan pada estimasi titik dan tidak bergantung pada ukuran blok dan hanya memperhatikan jarak. Sedangkan pada perhitungan metode Area of influence tidak begitu memperhatikan struktur spasial dan data-data dari titik bor disekitarnya. Metode Area of influence ini juga kurang tepat digunakan pada endapan yang bervariasi, seperti endapan yang terdapat pada daerah penelitian. Dari hasil penelitian dengan menggunakan kedua metode, yang cocok digunakan perusahaan dalam mengestimasi sumberdaya adalah metode Inverse distance weighting (IDW)
PEMETAAN GEOLOGI DAN PENENTUAN LINGKUNGAN PENGENDAPAN BATUGAMPING BERDASARKAN ANALISIS PETROGRAFIS DI KECAMATAN SEMANDING DAN SEKITARNYA KABUPATEN TUBAN PROVINSI JAWA TIMUR F. Moreira, Joao Bosco; Yuwanto, Sapto Heru; Mahardjo, Eddy
Prosiding Seminar Teknologi Kebumian dan Kelautan Vol 1, No 1 (2019)
Publisher : Prosiding Seminar Teknologi Kebumian dan Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1252.791 KB)

Abstract

Daerah penelitian terletak di Kecamatan Semanding dan sekitarnya, Kabupaten Tuban, Provinsi Jawa Timur, secara geografis daerah penelitian terletak pada koordinat 611000-616000 serta antara 9229000-9237000 menggunakan koordinat UTM. Dengan luas daerah penelitian 9 km x 6 km (54 km2). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lingkungan pengendapan batugamping yang ada pada daerah penelitian. Metode yang digunakan yaitu penelitian lapangan dengan pengambilan sampel batuan yang kemudian dilakukan analisis petrografi dan analisis paleontologi. Analisis petrografi dengan melihat komponen-komponen penyusun batugamping dan menentukan presentase dari masing-masing komponen. seperti non-skeletal grain, skeletal grain, mikrit dan sparit, dan mengacu pada klasifikasi Dunham 1962, sehingga dapat diketahui jenis batugamping yang ada pada daerah penelitian yaitu Wackestone dan Packstone. Dari hasil analisis petrografi yang dilakukan maka dapat diketahui daerah penelitian diendapkan pada lingkungan bagian dalam paparan atau laut terbuka. Dan analisis paleontologi dengan mengunakan metode foraminifera kecil bentonik/bentos, dan mengacu pada zona Bathymetri Tipsword 1966. Dari hasil analisis paleontologi yang dilakukan maka dapat diketahui daerah penelitian diendapkan pada lingkungan Bathymetri Neritik Tepi – Neritik TengahThe research area is located in Semanding District and surrounding areas, Tuban Regency, East Java Province. Geographically the research area is located at coordinates 611000-616000 and between 9229000-9237000 using UTM coordinates. With a research area of 9 km x 6 km (54 km2). This study aims to determine the limestone depositional environment in the study area. The method used is field research with rock sampling which is then carried out petrographic analysis and paleontological analysis. Petrographic analysis by looking at the components of limestone and determining the percentage of each component. such as non-skeletal grains, skeletal grains, micrites and sparites, and referring to the 1962 Dunham classification, so that the types of limestone in the study area can be identified, namely Wackestone and Packstone. From the results of petrographic analysis conducted, it can be seen that the study area was deposited on the inner environment of exposure or the open sea. And paleontological analysis using small bentonic / benthic foraminifera methods, and referring to the Bathswetry Tipsword zone 1966. From the results of the paleontological analysis carried out, it can be seen that the study area was deposited in the environment of the Neritic Bathymetry of the MiddleNeritic Bathites. 
NERACA DAN POTENSI SUMBERDAYA ANDESIT DI KABUPATEN BANYUMAS PROVINSI JAWA TENGAH Iqbal, M. Fadil; Pamungkas, Wisnu; Rauf, Abdul
Prosiding Seminar Teknologi Kebumian dan Kelautan Vol 1, No 1 (2019)
Publisher : Prosiding Seminar Teknologi Kebumian dan Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1060.777 KB)

Abstract

Kegiatan pertambangan di Kabupaten Banyumas kini semakin meluas diantaranya adalah kegiatan pertambangan andesit, granit, dan sirtu, sejalan dengan perkembangan pembangunan yang semakin meningkat. Diantara kegiatan pertambangan tersebut, potensi andesit di Kabupaten Banyumas ini cukup besar. Bahan galian andesit yang bernilai ekonomis dan layak tambang ini yang menarik para investor untuk menanamkan modalnya, maka sektor pertambangan diharapkan dapat menjadi andalan penunjang perekonomian di daerah khususnya peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Sumberdaya andesit di Kabupaten Banyumas yang tersebar di 5 (lima) kecamatan yang ada di Kabupaten Banyumas yaitu Kecamatan Karanglewas, Kecamatan Kedungbanteng, Kecamatan Kebasen, Kecamatan Wangon, dan Kecamatan Jatilawang dengan jumlah sumberdaya andesit total yaitu 488.362.846 m3 atau 1.206.256.230 ton. Produksi Andesit di Kabupaten Banyumas dari 2013 hingga 2016 yaitu 645.767 ton yang terdiri dari Kecamatan Karanglewas 186.169 ton, Kecamatan Kedungbanteng 87.972 ton, Kecamatan Kebasen 220.462 ton, Kecamatan Wangon 62.807 ton, dan Kecamatan Jatilawang 88.357 ton. Berdasarkan petunjuk teknis neraca sumberdaya alam spasial nasional, data sumberdaya kemudian dirupiahkan dengan mengalikan sebagai harga dasar andesit yang belum dilakukan pengolahan seharga Rp 70.000,00/m3 berdasar pada Pergub Jawa Tengah tahun 2017 maka neraca sumberdaya Andesit di Kabupaten Banyumas memiliki nilai aktiva sebesar Rp 34.185.399.220.000,- dan pasiva sebesar Rp18.301.080.000,- sehingga didapat saldo akhir sumberdaya Andesit sebesar Rp 34.167.089.140.000,-. Oleh sebab itu, sangat direkomendasikan untuk Pemerintah Daerah Kabupaten Banyumas memberikan bimbingan teknis kepada penambang andesit tentang pengolahan andesit guna menunjang Pendapatan Asli Daerah disektor pertambangan dan memberi peluang tenaga kerja untuk penduduk sekitar.  Mining activities in Banyumas Regency are now increasingly widespread, including andesite, granite, rock and sand materials, in line with the development of ever-increasing development. Among the mining activities, the potential of andesite in Banyumas Regency is quite large. This economical and feasible mining of andesite material that attracts investors to invest, the mining sector is expected to become the mainstay of economic support in the region especially the increase of locally revenue. Andesite resources in Banyumas Regency spread in 5 (five) sub districts in Banyumas District, Karanglewas Subdistrict, Kedungbanteng Sub-District, Kebasen Sub-District, Wangon Sub-District, and Jatilawang Sub-District with total andesite resources of 488,362,846 m3 or 1,206,256,230 tons. Andesite production from 2013 to 2016 is 645.767 ton that consist of Karanglewas Sub-District 186.169 ton, Kedungbanteng Sub-District 87.972 ton, Kebasen Sub-District 220.462 ton, Wangon Sub-District 62.807 ton, and Jatilawang Sub-District 88.357 ton.  Based on the technical guidance of the national spatial natural resource balance, the resource data then converted to rupiah by multiplying as the base price of andesite that has not been done processing price is Rp 70.000,00 / m3 based on Jawa Tengah Governor Regulation in 2017 then the Andesite resource balance in Banyumas Regency has asset value equal to Rp 34.185.399.220.000,- and liabilities of Rp18.301.080.000,- so that obtained the final balance of Andesite resources of Rp 34.167.089.140.000,-. Therefore, it is strongly recommended for Banyumas Regency Government to provide technical guidance to andesite miners about andesite processing to support Local Revenue in mining sector and provide employment opportunities for local people. 
ANALISA RISIKO KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA (K3) BONGKAR MUAT DI PELABUHAN MAYANGAN, PROBOLINGGO Utama, Gradian Wahyu; Santosa, Pramudya Imawan
Prosiding Seminar Teknologi Kebumian dan Kelautan Vol 1, No 1 (2019)
Publisher : Prosiding Seminar Teknologi Kebumian dan Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (533.845 KB)

Abstract

Kesehatan dan Keselamatan Kerja pada kapal, merupakan hal yang sangat penting bagi pekerja kapal saat proses bongkar muat ikan di Pelabuhan. Kegiatan yang terjadi dalam proses bongkar muat ikan di Pelabuhan Mayangan. Hasil ini telah mengidentifikasi resiko, menentukan tingkat risiko dan mitigasi risiko yang memengaruhi proses bongkar muat ikan di Pelabuhan Mayangan, Probolinggo. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di Pelabuhan Mayangan Probolinggo, untuk mengetahui risiko-risiko saat bongkar muat ikan di Pelabuhan..Data yang di pakai yaitu survey saat aktivitas bongkar muat ikan berlangsung dan mewawancarai dengan pihak pelabuhan, dan pekerja saat bongkar muat secara langsung. Metode penelitian dalam penulisan skripsi ini menggunakan metode Job Safety Analysis (JSA) dan hasil dari Job Safety Analysis (JSA) terdapat kategori risiko tinggi, risiko sedang dan risiko rendah dalam proses bongkar muat ikan di Pelabuhan.  Hasil penelitianmenunjukanbahwarisiko yang terjadisaat bongkar muat ikan yaitu kurangnyakewaspadaan, kurangtelititerhadapalat-alatbongkarmuat. Dari hasilanalisadapatdisimpulkanrisikotertinggi dan perlumendapatkanperhatianadalah tertusuk ganco dan kedinginan yang luar biasa saat di dalam palkah.
UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2017 SEBAGAI UPAYA PERLINDUNGAN DAN PENYELAMATAN LINGKUNGAN TERHADAP BAHAYA MERKURI Sumarjono, Erry; Utamakno, Lakon
Prosiding Seminar Teknologi Kebumian dan Kelautan Vol 1, No 1 (2019)
Publisher : Prosiding Seminar Teknologi Kebumian dan Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1520.222 KB)

Abstract

The one of dangerous heavy metal among the others that had negative effect to the environment and human’s health is Mercury. The environmental could be degradation from the quality when Mercury have got in to them and out of to the threshold value limit. Characteristics of Mercury are very dangerous, Mercury have many characteristics : toxic, persistent, bioaccumulation, and it’s could transfer from one place to far away by hydrological cycle. The administrative country boundary, geological and geographical condition could not be an effective factor to prevent the effects of Mercury. The important case that could be getting up the conscious of human is Minamata Disease. Minamata is a village in Kumamoto, Japan which there were many thousands of the victims of Mercury in 1953. P.T. Chisso Corporation, a chemical industry had gotten out the waste contained Mercury to the Minamata Bay that cause disease to the people who lived in Minamata Bay. Minamata Disease is the biggest one of environmental case in Japan, Niigata Minamata Disease was the other case. After the case of Minamata disease, The Disease that caused by Mercury was still occurring in many countries in the world, for example ; Guatemala, Rusia also Indonesia. The effect of Mercury to the environment and human is not a local or regional problem, but it is a global problem that it needed the international action to manage the Mercury. Because of the dangerous characteristic of Mercury, There are no countries could be handle by itself to protect their citizen from the negative effects of Mercury. Countries around the world must have been built cooperation among them to manage all abot Mercury (trade, mining etc) Indonesia is one of countries which sign in The Minamata Convention on Mercury in Kumamoto, Japan in October 10th 2013. Minamata Convention on Mercury is a agreement of many countries in the world to prevent and save the environmental and human health from the negative effects of Mercury. The government of Indonesia had been made the regulation to follow up the agreement, it’s Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2017. This regulation is to legitimate The Minamata Convention on Mercury and it has been the real action to prevent negative effects of Mercury. Merkuri merupakan salah satu logam berat yang sangat berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Merkuri yang terlepas ke dalam lingkungan, melalui proses biogeokimia dapat masuk ke dalam rantai makanan dan membahayakan kesehatan manusia. Sifat-sifat Merkuri yang dapat membahayakan lingkungan menyebabkan keberadaan Merkuri di lingkungan harus dapat dikontrol melalui upaya-upaya nyata. Merkuri bersifat toksik, persisten, bioakumulasi dan dapat berpindah dalam jarak jauh di atmosfer melalui siklus hidrologi, sehingga tidak ada batasan-batasan geografis, geologis maupun administratif yang dapat membatasi pergerakan dan perpindahan Merkuri di lingkungan. Kasus fenomenal yang memicu kesadaran manusia terhadap bahaya keracunan yang disebabkan oleh Merkuri adalah permasalahan penyakit minamata (Minamata Disease) yang menimpa penduduk kota Minamata di Kumamoto, Jepang tahun 1953. Penyakit tersebut disebabkan oleh keracunan Merkuri yang terkandung dalam limbah industri yang dibuang oleh pabrik kimia P.T. Chisso Corporation. Minamata Disease mulai dikenal dan muncul di wilayah lain yaitu Niigata Minamata Disease, kasus-kasus tersebut merupakan dua bencana polusi terbesar di Jepang.Permasalahan-permasalahan keracunan Merkuri terjadi di negara-negara lain misalnya ; Guatemala, Rusia termasuk Indonesia. Permasalahan yang ditimbulkan oleh Merkuri terhadap lingkungan bukanlah suatu permasalahan lokal ataupun regional, Merkuri merupakan permasalahan global yang memerlukan penanganan bersama dengan melakukan kerjasama secara internasional. Sifat-sifat bahaya yang dimiliki oleh Merkuri menyebabkan suatu negara tidak dapat bertindak sendiri untuk melindungi warganegaranya terhadap bahaya yang dapat ditimbulkan oleh Merkuri. Oleh Karena itu, diperlukan kerjasama antarnegara secara global untuk mengatur pengadaan, penggunaan, pengelolaan dan penanganan Merkuri. Pemerintah Indonesia merupakan salah satu negara yang ikut menandatangani Konvensi Minamata Mengenai Merkuri (Minamata Convention on Mercury) tanggal 10 Oktober 2013 di Kumamoto, Jepang. Konvensi Minamata merupakan kesepakatan negara-negara untuk melindungi dan menyelamatkan lingkungan hidup dari bahaya Merkuri. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2017 mengenai Pengesahan Minamata Convention on Mercury (Konvensi Minamata mengenai Merkuri) merupakan wujud peran aktif Pemerintah Indonesia untuk upaya perlindungan dan penyelamatan lingkungan terhadap bahaya Merkuri.