cover
Contact Name
meddyan heriadi
Contact Email
meddyanheriadi@gmail.com
Phone
+6281279687634
Journal Mail Official
meddyanheriadi@gmail.com
Editorial Address
Pascasarjana IAIN Bengkulu. Jl. Raden Fatah Pagar Dewa Kota Bengkulu » Tel / fax : 081271987140 /
Location
Kota bengkulu,
Bengkulu
INDONESIA
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam
ISSN : 25273337     EISSN : 26850044     DOI : http://dx.doi.org/10.29300/mtq.v5i1
Jurnal ini berfokus pada filsafat dan pemikiran islam. Jurnal ini diterbitkan oleh prodi Filsafat Agama S2 Pascasarjana IAIN Bengkulu. Tujuan dari pendirian jurnal ini adalah untuk menjadi sarana publikasi karya tuis ilmiah khususnya di bidang filsafat dan pemikiran islam.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 1 (2019): Mei 2019" : 5 Documents clear
Upaya Guru Pendidikan Agama Islam dalam Menanamkan Nilai-Nilai Pendidikan Multikultural kepada Santri Mts. Pondok Pesantren Pancasila Bengkulu Redo Purnomo
Manthiq Vol 4, No 1 (2019): Mei 2019
Publisher : Sekolah Pasca Sarjana IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v4i1.2996

Abstract

Di sekolah umum maupun Pesantren dapat dijumpai  siswa-siswi, guru, pegawai atau staf  yang mempunyai keberagaman budaya masing-masing. Baik itu dari segi bahasa, adat istiadat, religi, tipe kesenian, dan lain- lain. Hal ini juga terdapat di Pondok Pesantren Pancasila Bengkulu yang memiliki santri yang berbeda suku, bahasa, dan adat istiadat seperti suku Rejang, Serawai, Lembak dan Jawa. Namun masalah yang penulis temukan pada saat observasi awal yaitu ditemukan tindakan saling olok antar bahasa. Masalah dalam penelitian ini, yaitu bagaimana Upaya Guru Pendidikan Agama Islam dalam Menanamkan Nilai-Nilai Pendidikan Multikultural Kepada Santri Mts. Pondok Pesantren Pancasila Bengkulu?   Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat dalam menanamkan nilai-nilai multikultural pada santri MTs Pondok Pesantren Pancasila Bengkulu 2) untuk mengetahui pentingnya penanaman nilai-nilai multikultural kepada santri MTs Pondok Pesantren Pancasila. Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif. Dengan teknik Pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi, serta menganalisis data dengan Reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini diketahui bahwa Upaya yang dilakukan oleh guru Pendidkan Agama Islam di MTs Pancasila Bengkulu dalam menanamkan nilai-nilai pendidikan multikultural terkhusus guru pendidikan agama Islam itu sendiri sudah berjalan dengan baik, mulai dari keterkaitan antara pembelajaran yang ada di sekolah. Kemudian, sistem demokrasi yang diberikan di kelas ketika ingin menyampaikan pendapat dan pembagian kelompok serta tidak adanya pembedaan gender. Faktor-faktor tersebut tidak lepas dari peran guru dan kepala sekolah, dalam menyikapi hal tersebut. Oleh sebab itu, guru berupaya bagaimana menarik santri untuk lebih memahami apa itu pendidikan multikultural sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, dengan memberikan program-program pendukung yang berkaitan dengan penanaman nilai-nilai Pendidikan Multikultural  di MTs Pancasila Kota Bengkulu. 
Filsafah Molimo sebagai Usaha Mengatasi Perceraian Sigit Susanto
Manthiq Vol 4, No 1 (2019): Mei 2019
Publisher : Sekolah Pasca Sarjana IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v4i1.2997

Abstract

Ironi, saat jika dahulu perceraian yang terjadi akibat suami menceraikan isteri. Sekarang terbalik, justru istri yang menggugat cerai. Sebanyak tiga per empat dari peristiwa perceraian itu bermunculan di kota-kota besar. Kebanyakan isteri yang menceraikan suami atau cerai gugat, bukan talak. Dari banyaknya peristiwa perceraian itu, diperkirakan 80 persen perceraian menimpa pada tatanan rumah tangga muda lima tahun. Perkembangan sosial budaya, secara tidak langsung berdampak pada pola pikir dan gaya hidup. Kondisi ini harus segera disikapi oleh semua pihak demi terwujudnya masyarakat yang bahagia dan sejahtera. Perubahan pola fikir dan gaya hidup masyarakat mendorong untuk berbuat kurang baik yang berakibat terjadinya perselisihan rumah tangga yang berujung kepada perceraian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian lapangan (field research). Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana filsafah molimo sebagai usaha mengatasi perceraian? Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguraikan filsafah molimo sebagai usaha mengatasi perceraian. Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah wawancara dan dokumentasi. Adapun dalam proses analisis, peneliti menggunakan analisis deskriptif-kualitatif. Berdasarkan pembahasan di atas dapat ditarik kesimpulan, bahwa ajaran Molimo, "mo" yang berarti moh atau tidak dan limo yang berarti lima, yang jika dimaknai berarti  tidak melakukan lima pantangan. Ajaran ini dikhususkan kepada kaum lelaki yang ingin mencapai hidup dalam damai di dunia maupun di akhirat. Kelima ajaran itu adalah: a). Moh Madat yang artinya tidak mau mengisap candu atau penggunaan obat-obatan terlarang, terutama yang dilarang oleh ajaran Agama. b). Moh Madon yang artinya tidak mau main perempuan. Hal yang wajib dihindari oleh para lelaki. c). Moh Mabuk yang artinya tidak boleh minum minuman keras atau hal yang memabukkan. d). Moh Maling yang artinya tidak mau mencuri, mengambil barang yang bukan haknya. e). Moh Main yang artinya tidak mau berjudi, dalam bentuk apapun.
Filsafat Al-Kindi dalam Memahami Teologi. Jumrohtul Wahda
Manthiq Vol 4, No 1 (2019): Mei 2019
Publisher : Sekolah Pasca Sarjana IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v4i1.2998

Abstract

 Manusia merupakan makhluk unik yang menjadi kajian filsafat sejak awal. Dengan mengkaji manusia, lahirlah banyak cabang ilmu pengetahuan yang bersumber dari manusia. Misalnya biologi, antropologi, psikologi, sosiologi, ilmu komunikasi, ekonomi, hukum, dan lain-lain. Bahkan, banyak teori yang lahir dari cabang-cabang ilmu tersebut. Untuk itu, penulis mengkaji tentang manusia perspektif Al-Kindi. Pemikiran Al-Kindi cukup besar dan mendasar terutama di bidang filsafat, fisika, metafisika, efistemologi, dan etika. Ia mempertemukan antara filsafat dan agama. Menurut Al-Kindi filsafat adalah ilmu tentang kebenaran atau ilmu yang termulia dan tertinggi martabatnya. Agama juga merupakan ilmu mengenai kebenaran.. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana penjelasan filsafat Al-Kindi dalam memahami teologi? Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan penjelasan filsafat Al-Kindi dalam memahami Teologi. Metode dalam Penelitian ini adalah libray research, artinya data-data yang digunakan berasal dari sumber kepustakaan baik itu primer maupun sekunder, baik berupa buku, ensiklopedi, jurnal, majalah dan karya lain yang dipublikasikan. Teknik Pengumpulan Data dalam penelitian ini dengan mengumpulkan leteratur baik sebagai sumber primer maupun sekunder untuk mendapatkan data yang berhubungan dengan masalah penelitian, kemudian melakukan analisis terhadap data-data yang diproleh. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah teknik analisis deskriptif yaitu usaha untuk mengumpulkan data dan menyusun suatu data, kemudian dilakukan analisis terhadap data tersebut. Analisis data deskriptif adalah  data yang dikumpulkan beberapa kata-kata dan gambar bukan dalam bentuk angka-angka. Selanjutnya  konten analisis adalah metodologi yang memanfaatkan seperangkat prosedur untuk menarik kesimpulan yang sahih dari sebuah dokumen. Konten analisis adalah teknik  apapun yang digunakan untuk menarik kesimpulan melalui usaha untuk menemukan karakteristik pesan dan dilakukan secara objektif dan sistematis.  Al-Kindi adalah filsuf pertama dalam Islam, yang menyelaraskan antara agama dan filsafat. Ia melicinkan jalan bagi Al-Farabi, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusdy. Ia memberikan dua pandangan berbeda. Pertama, mengikuti jalur ahli logika dan memfilsafatkan agama. Kedua, memandang agama sebagai sebuah ilmu ilahiah dan menempatkannya di atas filsafat. Ilmu ilaihiah  ini diketahui lewat jalur para Nabi. Akan tetapi, melalui penafsiran filosofis, agama menjadi selaras dengan filsafat.Persoalan metafisika telah dibicarakan oleh al-Kindi dalam beberapa risalahnya, antara lain risalah yang berjudul “tentang filsafat pertama” dan “tentang keesaan Tuhan dan berakhirnya benda-benda alam”.Tuhan adalah wujud sempurna yang tidak didahului oleh wujud lain, tidak berakhir wujud-Nya dan tidak ada wujud kecuali dengan-Nya.  Sesuai dengan paham yang ada dalam Islam, Tuhan bagi Al-Kindi adalah Pencipta bukan penggerak pertama sebagaimana pendapat Aristoteles.
Nilai Islami dari Cerita Rakyat Bengkulu yang Berjudul Sang Piatu Meddyan Heriadi
Manthiq Vol 4, No 1 (2019): Mei 2019
Publisher : Sekolah Pasca Sarjana IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v4i1.3000

Abstract

Sering kali ditemukan kasus-kasus pelecehan seksual, kekerasan fisik, dan lain sebagainya di masyarakat kita. Hal ini menjadi bukti degradasi moral yang dimiliki bangsa ini. Oleh karena itu, sastra dapat menjadi solusi dalam pembinaan karakter generasi penerus bangsa. Karena dengan sastra seseorang akan memetik pesan atau pelajaran berharga tanpa paksaan atau tekanan.  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguraikan nilai-nilai islam yang terdapat dalam cerita rakyat Bengkulu. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif. Instrumen yang dipakai adalah instrumen dokumentasi pada sebuah buku kumpulan cerita rakyat karya mahasiswa Tadrs Bahasa Indonesia IAIN Bengkulu. Teknik pengolahan data yang digunakan adalah teknik analisis ekstrinsik prosa.  Kesimpulan dalam penelitian ini antara lain terdapat beberapa nilai islami yang di kandung dalam cerita Sang Piatu, yaitu: a). Semangat menuntut ilmu, yang terlihat dari karakter Sang Piatu yang tetap untuk mengaji meskipun ejekan terus menderanya ; b). Sikap patuh pada guru, yang tampak dari tindakan sang piatu yang tak pernah mengeluh meskipun ia ditempatkan di tempat yang khusus ketika mengaji; c). Sikap sabar, yang terlihat dari bagaimana sang piatu tak menghiraukan ejekan dar teman sebayanya; d). Ikhlas bersedekah yang terlihat dari bagaimana usaha sang piatu untuk mencari buah nangka yang akan ia berikan untuk sang guru; dan e) Sikap Penyayang yang tampak dari karakter guru mengaji yang tak memarahi muridnya dan tetap menerima buah nangka tersebut meskipun sang piatu salah menyebutkan jumlah biji nangka.
Ketidaksetaran Gender Biografi Princess Karya Jean P. Sasson Ade Bayu Saputra
Manthiq Vol 4, No 1 (2019): Mei 2019
Publisher : Sekolah Pasca Sarjana IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v4i1.2995

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan fenomena ketidaksetaraan gender yang terdapat dalam biografi Princess karya Jean P. Sasson. Peneitian ini menggunakan metode deskriptif analisis. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik dokumentasi. Instrumen yang digunakan adalah alat bantu berupa kartu data, dengan peneliti sebagai penafsir data. Sedangkan teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan tahapan analisis data model Miles dan Huberman, dengan langkah-langkah reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biografi Princess karya Jean P. Sasson memiliki wujud fenomena ketidaksetaraan gender dalam beberapa domain, yaitu domain domestik, politik, dan domain hukum yang termanifestasikan dalam berbagai bentuk ketidakadilan, yaitu marginalisasi, subordinasi, stereotip, dan kekerasan. Wujud ketidaksetaraan gender dalam domain domestik, meliputi1) laki-laki memiliki hak absolut terhadap istri dan anak-anak perempuannya; (2) nilai kelahiran anak masih diukur dengan ada tidaknya organ laki-laki; (3) kaum laki-laki selalu mengabaikan dan merendahkan kaum perempuan; (4) pendidikan anak laki-laki lebih diutamakan; dan (5) perempuan hanya ditugaskan mengurus masalah dalam rumah tangga. Domain politik meliputi (1) setiap warga negara laki-laki mendapatkan jaminan kesejahteraan; dan (2) perempuan tidak memiliki tempat untuk menyampaikan pendapatnya. Pendapat perempuan jarang didengarkan, perempuan hanya bertugas menjalankankan hasil keputusan laki-laki. Sedangkan domain hukum yaitu (1) penghormatan pada laki-laki yang mengeksekusi istri atau anak perempuannya; (2) kewajiban perempuan untuk menjaga keperawanannya; (3) kebebasan mutlak bagi laki-laki untuk berpoligami; (4) perempuan saudi dilarang bergaul dengan laki-laki non muslim; dan (5) hukuman mati bagi perempuan jika melakukan perbuatan zina.

Page 1 of 1 | Total Record : 5