cover
Contact Name
Dina Elisabeth Latumahina
Contact Email
dina.latumahina@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
dina.latumahina@gmail.com
Editorial Address
Jl. Indragiri No. 5, Kota Wisata Batu, Jawa Timur, Indonesia, 65301
Location
Kota batu,
Jawa timur
INDONESIA
Missio Ecclesiae
ISSN : 20865368     EISSN : 27218198     DOI : -
Missio Ecclesiae adalah jurnal open access yang menerbitkan artikel tentang praktek, teori, dan penelitian dalam bidang teologi, misiologi, konseling pastoral, kepemimpinan Kristen, pendidikan Kristen, dan filsafat agama melalui metode penelitian kualitatif dan kuantitatif. Kriteria publikasi jurnal ini didasarkan pada standar etika yang tinggi dan kekakuan metodologi dan kesimpulan yang dilaporkan.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 10 No. 1 (2021): April" : 5 Documents clear
MODEL KEMARTIRAN DALAM PENGINJILAN RASUL PAULUS BERDASARKAN KISAH PARA RASUL TERHADAP KELOMPOK KABAR BAIK DI MALANG Tri Hananto; Erni M.C. Efruan
Missio Ecclesiae Vol. 10 No. 1 (2021): April
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v10i1.124

Abstract

Penginjilan merupakan tindakan pelaksanaan Amanat Agung. Penginjilan selalu berkaitan erat dengan kemartiran. Setiap anak-anak Tuhan yang terlibat dalam penginjilan harus selalu siap dengan dampak yang diterima baik itu kesulitan, tantangan, penderitaan ataupun kematian. Martir identik dengan saksi. Martir Kristus berkaitan dengan tindakan dalam menjadi saksi Kristus baik dalam pewartaan maupun dalam sikap sehari-hari. Dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif mengenai kemartiran yang dialami oleh Rasul Paulus. Paulus bukan hanya berbicara tentang berita Injil kasih karunia, tetapi juga mengalami dampak dari pemberitaan Injil itu sendiri, masuk penjara, dianiaya bahkan sampai mati. Jadi tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui kemartiran penginjilan Rasul Paulus.
HARMONISASI POLA ASUH ORANG TUA DENGAN PENGAJARAN SEKOLAH MINGGU TERHADAP PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK USIA DINI BERDASARKAN NILAI-NILAI SPIRITUAL DI GKPB JEMAAT GALANG NING SABDA CICA BALI Judith Wangania; Jammes Juneidy Takaliuang
Missio Ecclesiae Vol. 10 No. 1 (2021): April
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v10i1.127

Abstract

Pertumbuhanan dan perkembangan karakter anak tidak terlepas dari tanggunjgawab orang tua dalam menerapkan pola asuh dalam keluarga dan juga pengajaran yang diberikan disekolah, termasuk sekolah minggu. Orang tua sebagai penanggungjawab utama dari pertumbuhan dan karakter anak, maupun guru-guru sekolah minggu, sama berperan penting dalam pembentukan karakter anak. Tetapi kenyataan yang terjadi adalah tidak adanya harmoni (Dishamorni) antara orang tua dan guru sekolah minggu. Tidak adanya harmoni ini terlihat dari sikap acuhnya orang tua terhadap pengajaran sekolah minggu yang diterima oleh anak-anak mereka. Disisi lain, kurangnya komunikasi guru-guru sekolah minggu dengan orang tua juga menjadi salah satu satu penyebab disharmoni. Tujuan penulisan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola asuh orang tua dengan pengajaran sekolah minggu, menentukan karakter anak usia dini berdasarkan nilai-nilai spiritual, menghasilkan model harmonisasi pola asuh orang tua dengan pembelajaran sekolah minggu pada pembentukan karakter anak usia dini berdasarkan nilai-nilai spiritual yang ada di GKPB Jemaat Galang Ning Sabda Cica Bali. Metode penelitian yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif, yaitu penelitian yang bertujuan untuk memperoleh pemahaman yang lebih luas dan mendalam tentang Model Harmonisasi Pola Asuh Orang Tua dan Pengajaran Sekolah Minggu Terhadap Pembentukan Karakter Anak Usia Dini Berdasarkan Nilai Spiritual di GKPB Galang Ning Jemaat Sabda Cica Bali. Hasil dari penelitian ini memperlihatkan bahwa Model Harmonisasi antara Pola Asuh Orang Tua di rumah dengan Pengajaran sekolah minggu yang dapat diterapkan adalah model komunikasi, model kerja sama, model sharing of life dan model pertemuan rutin.
YUDAISME IBU KEKRISTENAN: STUDI ANALISIS LITERATUR TERHADAP PENGAJARAN YUDAISME, PENGAJARAN YESUS DAN KITAB-KITAB YUDAISME Rully M. Simorangki; Erastus Sabdono; Sugeng Santoso; Benaditus Siowardjaja
Missio Ecclesiae Vol. 10 No. 1 (2021): April
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v10i1.131

Abstract

Pengajaran Yudaisme sering dipandang sebelah mata, seolah-olah sebagai suatu pengajaran yang tidak memiliki nilai-nilai yang baik sama sekali. Sedangkan pengajaran Yesus yang hari ini dikenal sebagai kekristenan menganggap dirinya sebagai pengajaran yang jauh lebih mulia daripada pengajaran Yudaisme. Sikap yang seperti itu adalah sikap intoleran, bahkan sombong. Sikap seperti itu membutakan mata banyak orang Kristen sehingga mereka tidak menyadari bahwa sesungguhnya Yudaisme mewariskan banyak kebenaran yang menjadi fondasi yang kuat bagi kekristenan. Bahkan sesungguhnya yang diajarkan oleh Yesus adalah Yudaisme. Kitab-kitab Yudaismelah yang memberikan pengharapan kepada orang Kristen hari ini tentang akan datangnya hari kemenangan Allah. Di mana nantinya setelah kemenangan itu, orang Kristen akan tinggal bersama dengan Allah. Kitab-kitab mereka pula yang pada akhirnya akan memperkenalkan kepada orang Kristen bahwa Yesus adalah Mesias, Yang Diurapi, yang penuh dengan Roh dan kerajaanNya akan berlangsung selamanya. Kajian ini menjawab pertanyaan : “Apakah memang benar bahwa pengajaran Yudaisme pasti berbeda dengan pengajaran Yesus? Apa saja kitab-kitab Yudaisme dan ajaran apa yang diwariskan?”
MODEL JEMAAT RUMAH BERDASARKAN SURAT FILIPI SEBAGAI STRATEGI MISI UNTUK MENUJU JEMAAT GKE SAMPIT YANG MISIONER Eltarani; Dina Elisabeth Latumahina
Missio Ecclesiae Vol. 10 No. 1 (2021): April
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v10i1.132

Abstract

Gereja ada karena misi. Sebagai gereja yang diutus, ia tidak melaksanakan misinya sendiri tetapi gereja berfungsi sebagai pelaksana misi Allah. Pernyataan ini menyiratkan bahwa gereja tidak dapat menyangkal tugas misionernya. Oleh karena itu, kesadaran dan pelaksanaan tugas misionaris harus menjadi prioritasnya. Dalam menjalankan tugas misioner ia tidak mementingkan dirinya sendiri tetapi ia ada untuk orang lain. Untuk menjadi jemaat misioner diperlukan pola pembinaan dan pelayanan yang strategis guna mempersiapkan anggota gereja agar mampu menjalankan misi Allah. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif, yaitu penelitian yang bertujuan untuk memperoleh pemahaman yang lebih luas dan mendalam tentang Model Jemaat Rumah Berdasarkan Surat Paulus untuk Menuju Jemaat Gereja Kalimantan Evangelis Sampit yang Misioner. Tujuan penulisan disertasi ini adalah untuk menemukan model Jemaat Rumah dalam konteks Jemaat GKE Sampit sebagai strategi misi. Jemaat Rumah sebagai model pelayanan dengan persekutuan sosial yang dapat berfungsi sebagai pola yang fleksibel untuk memenuhi kebutuhan pelayanan secara pribadi serta mempersiapkan anggota gereja untuk melaksanakan tugas misioner. Jemaat Rumah juga dapat berfungsi sebagai sarana untuk membina mereka, tidak hanya untuk terlibat dalam pelayanan, tetapi terutama untuk memampukan mereka mengaktualisasikan imannya dalam kehidupan sehari-hari dan berfungsi sebagai gereja di dunia.
SUBORDINASIONISME ALLAH TRITUNGGAL DALAM PENGAJARAN PLURALISME Fanny Yapi Markus Kaseke
Missio Ecclesiae Vol. 10 No. 1 (2021): April
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v10i1.133

Abstract

Subordinasionisme Allah Tritunggal Dalam Pengajaran Pluralisme. Artikel ini mengulas tentang salah satu ajaran dari sekian ajaran yang beragam tentang Allah Tritunggal, yakni subordinasionisme. Kemudian hari, ajaran subordinasionisme digunakan kalangan pluralis untuk menyokong pendapat mereka. Tujuan artikel ini adalah menganalisa ajaran tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian theologia filosofika dengan pendekatan apologetika. Pendekatan apologetika yang digunakan adalah dengan apologetika presuposisional. Subordinasionisme dalam Allah Tritunggal sebenarnya tidak ada. Perbedaan yang terlihat dalam Allah Tritunggal sebenarnya hanya menyangkut fungsi tiga pribadi Allah yang berbeda-beda dalam hubungan dengan ciptaan (opera ad extra). Konsep subordinasi yang dikemukakan kaum pluralis sebenarnya hanyalah upaya untuk “menganulir” ajaran Kristen bahwa Allah Tritunggal yang esa itu terdiri dari tiga pribadi (hypostasis), yakni Allah Bapa, Allah Anak (yaitu Yesus Kristus), dan Allah Roh Kudus. Karena apabila Yesus Kristus dapat dibuktikan bukan Allah, maka itu berarti ajaran pluralisme mengenai adanya kebenaran dalam semua agama adalah benar, dan sebaliknya ajaran Kristen (ortodoksi) keliru. Pluralisme bukan sekedar konsep sosiologis, melainkan lebih merupakan “doktrin” theologis yang didasarkan pada relativisme yang bersumber pada pandangan dunia atomis, maupun pandangan oseanis, sedangkan keunikan dan finalitas Kristus dianggap sebagai sebuah mitos yang perlu ditinggalkan.

Page 1 of 1 | Total Record : 5