cover
Contact Name
Dina Elisabeth Latumahina
Contact Email
dina.latumahina@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
dina.latumahina@gmail.com
Editorial Address
Jl. Indragiri No. 5, Kota Wisata Batu, Jawa Timur, Indonesia, 65301
Location
Kota batu,
Jawa timur
INDONESIA
Missio Ecclesiae
ISSN : 20865368     EISSN : 27218198     DOI : -
Missio Ecclesiae adalah jurnal open access yang menerbitkan artikel tentang praktek, teori, dan penelitian dalam bidang teologi, misiologi, konseling pastoral, kepemimpinan Kristen, pendidikan Kristen, dan filsafat agama melalui metode penelitian kualitatif dan kuantitatif. Kriteria publikasi jurnal ini didasarkan pada standar etika yang tinggi dan kekakuan metodologi dan kesimpulan yang dilaporkan.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 4 No. 1 (2015): April" : 5 Documents clear
SINERGISME MISI PERKATAAN DAN PERBUATAN SUATU EKSPOSISI MAZMUR 19:1–15 Stevri Indra Lumintang
Missio Ecclesiae Vol. 4 No. 1 (2015): April
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v4i1.44

Abstract

Mamur 19:1-15 dibagi dalam dua bagian besar berdasarkan dua syair yang berbeda, namun sinergis, yaitu syair pertama dalam ayat 1–7, dan syair kedua dalam ayat 8–15. Sinergisnya kedua syair ini membahas tentang pujian-pujian kepada Allah. Dan secara terpisah namun berkaitan, maka syair pertama membahas tentang keagungan dan kebesaran penyataan Allah dalam karya penciptaan langit dan segala sesuatu yang ada di dalamnya (General Revelation); sedangkan syair kedua membahas tentang keagungan dan kebesaran penyataan Allah secara khusus dalam Hukum Taurat (Special Revelation). Keduanya bersinergi satu dengan yang lain, sebagai modus Allah menyatakan diri-Nya kepada manusia. Misi Allah adalah misi Allah menyatakan atau memperkenalkan diri-Nya kepada manusia. Ada dua modus misi penyataan Allah, yaitu modus penciptaan dan modus perkataan. Dengan kata lain, misi Allah adalah misi melalui aksi penciptaan dan misi melalui perkataan yang ditulis dan yang kemudian diberitakan. Gereja, dalam sejarahnya, jatuh hanya pada salah satu sisi misi Allah, sehingga membentuk kutub misi ekstrim kiri, yakni misi penciptaan (humanity) dan misi ekstrim kanan yakni misi pemberitaan Firman (spirituality), pada hal, Allah tidak bermaksud demikian. Penyusun Mazmur 19 mengajak dua kutub misi yang ekstrim untuk memformulasi misi yang seutuhnya, lepas dari kutub ekstrim dan berani untuk berangkulan dengan kutub yang lain, sehingga menghasilkan suatu bangunan misi yang seutuhnya. Misi Allah tidak berhenti pada misi penciptaan, sebagaimana Pemazmur yang menulis Mazmur 19 tidak hanya berhenti pada ayat 7, melainkan berlanjut pada misi pemberitaan, yaitu misi melalui Firman Tuhan, sebagaimana yang dikemukakan Pemazmur pada ayat 8 dan seterusnya. Misi yang hanya berhenti pada ayat 7 menghasilkan misi agama-agama, karena agama ada sebagai respon terhadap penyataan Allah secara umum. Inilah misi yang tidak bersingungan dengan tema keselamatan, pada hal, setelah penciptaan, dunia bukan hanya dinodai, melainkan dirusak oleh dosa manusia, sehingga misi penciptaan tidak mungkin lagi berlanjut. Misi penciptaan sesungguhnya berhenti pada kitab Kejadian pasal dua. Karena itu, Allah melanjutkan dengan misi, yaitu keselamatan dari dosa dengan cara memberikan Firman, yang membebaskan manusia dari dosa (Kej 3:15). Misi ini dimulai oleh Allah dengan memilih orang tertentu, seperti Abraham, sampai memilih bangsa tertentu, seperti Israel untuk menjadi alat misi. Misi ini dilaksanakan secara eksklusif oleh orang atau bangsa tertentu, namun untuk menjangkau orang atau bangsa secara inklusif. Dari uraian di atas, maka misi yang bersifat inklusif yaitu misi ALLAH melalui ciptaan-Nya, dan misi ini berlanjut pada misi yang bersifat eksklusif, yaitu misi TUHAN melalui Firman-Nya. Misi inklusif melalui penciptaan adalah misi universal, sedangkan misi ekslusif melalui firman adalah misi bersifat partikular. Allah hanya memberikan Firman-Nya (Taurat, Peraturan, Titah, Perintah, Takut akan Tuhan, dan Hukum) kepada umat pilihan-Nya. Karena itu, Mazmur 19:8-11 adalah himne pujian umat Allah, yaitu umat yang berkitab, yang memuji Allah karena mengenal Allah melalui Firman Allah. Lebih jauh lagi, misi penyataan Allah melalui alam semesta, hanya dapat dimengerti dan dialami melalui misi penyataan Allah secara khusus yaitu Firman Tuhan. Artinya, manusia dapat mengenal Allah melalui alam semesta dalam terang Firman Tuhan. Tanpa beriman kepada Firman, manusia tidak dapat mengenal Allah melalui alam semesta. Akhirnya, sekalipun dua modus tidak dapat dipisahkan, namun keduanya dapat dibedakan. Misi Allah menyatakan diri-Nya melalui penciptaan adalah bersifat umum karena dialamatkan kepada semua orang; sedangkan misi Allah menyatakan diri-Nya melalui Firman-Nya adalah bersifat tertentu, yaitu khusus kepada umat pilihan atau umat yang berkitab. Pengenalan akan Allah melalui Taurat Tuhan adalah lebih jelas atau lebih terang dibandingkan dengan pengenalan melalui alam. Karena pengenalan melalui Taurat Tuhan adalah bersifat obyektif, yaitu manusia mengenal berdasarkan wahyu Allah yang tertulis; sedangkan pengenalan akan Allah melalui alam adalah bersifat subyektif, yaitu manusia mengenal Allah berdasarkan sudut pandang dan latar belakang dari manusia itu sendiri melihat dan memaknai ciptaan Allah. Karena itu, penyataan Allah secara umum melalui alam melahirkan penyembahan dan pujian kepada Allah yang tidak dikenal atau penyembahan berhala. Sedangkan penyataan Allah secara khusus melalui Firman melahirkan ibadah kepada yang dikenal melalui hubungan. Karena itu, kekristenan bukan hanya suatu agama, melainkan lebih dari itu, yaitu hubungan dengan Allah. Kristen bukan hanya agama yang mengakui adanya Allah, melainkan mengenal Allah dan Tuhan dengan cara berhubungan secara intim.
KELUARGA KRISTEN YANG DIBERKATI TUHAN: OBSERVASI TERHADAP MAZMUR 133:1-3 Awasuning Manaransyah
Missio Ecclesiae Vol. 4 No. 1 (2015): April
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v4i1.45

Abstract

Tema “Keluarga Kristen yang Diberkati Tuhan” di atas merupakan tujuan dari setiap keluarga Kristen, yakni untuk mengalami kerukunan dan kebahagiaan dalam keluarga. Di sisi lain, penulis juga melihat bahwa saat ini, ada begitu banyak keluarga Kristen yang mengalami konflik antara suami dengan istri dan antara orangtua dengan anak-anak. Oleh karena itu, ada banyak keluarga Kristen mengalami keretakan dalam rumah tangga bahkan perceraian antara suami dengan istri. Dengan memahami konsep keluarga Kristen yang hidup bersama dalam kerukunan yang diberkati Tuhan, saya berharap bahwa kualitas keluarga akan lebih baik, sehingga mereka akan mampu bertahan hidup di era ini, dengan hidup berjalan bersama-sama dengan Tuhan, bersekutu dalam keluarga, membaca Alkitab, berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Tuhan bersama-sama setiap hari.
BERJALAN BERSAMA ALLAH: REFLEKSI THEOLOGIS BERDASARKAN PENGALAMAN ABRAHAM, ISHAK, DAN YAKUB; SUATU PELAJARAN BAGI GEREJA MASA KINI Morris Phillips Takaliuang
Missio Ecclesiae Vol. 4 No. 1 (2015): April
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v4i1.47

Abstract

Pemilihan Allah untuk berjalan bersama Dia, penyataan diri-Nya, ikatan perjanjian dan pemberian berkat-berkat-Nya, pada zaman Perjanjian Baru ini tidak terbatas lagi pada golongan-golongan rohaniawan semata, tetapi Allah dalam kemurahan-Nya dan kedaulatan-Nya telah membentuk suatu partner kerja bagi rasul-rasul-Nya, nabi-nabi-Nya atau murid-murid-Nya untuk mewujudkan rancangan-Nya pada akhir zaman ini, suatu golongan manusia rohani yang bergelar Imamat orang percaya (1Ptr 2:9). Baik rasul-rasul-Nya atau murid-murid-Nya pada satu sisi maupun para imam-imam Perjanjian Baru pada sisi lain, Allah telah mengaruniakan semua kekayaan kemuliaan-Nya kepada kita, agar kita semua baik Yahudi maupun non Yahudi, budak atau merdeka telah diterima di dalam keluarga Allah dan persekutuan dengan Dia dan berita Injil-Nya, supaya kita bersama-sama dan bersatu menikmati segala kekayaan sorgawi itu dan menyampaikan kepada dunia ini agar dunia percaya kepada Kristus dan taat kepada kehendak-Nya (Yoh 17:20-21; Ef 2:12-22). Oleh karena itu setiap orang percaya kepada Kristus yang berasal dari latar belakang dan status sosial serta golongan apapun mendapat tempat yang pantas dan proposional di dalam keluarga Allah dan kerajaan Allah. Mereka turut mengambil bagian dalam hidup berjalan bersama Allah pada satu sisi, dan pada sisi lain menerapkan cara hidup seperti ini dalam dinamika dan romantika hidup setiap hari. Dan justru inilah tugas gereja dan hamba Tuhan nuntuk mengajarkan cara hidup seperti ini kepada mereka melalui strategi dan program yang relevan, kontekstual, dan efektif. Baik tugas intern ke dalam persekutuan gereja maupun ke luar kepada lingkungan di luar gereja. dan dalam kebersamaan dengan orang-orang percaya kita memenangkan dunia ini bagi Kristus (Mat 28:18-20; Mrk 16:15-18; Kis 1:8).
DIPANGGIL UNTUK DIUTUS Maria Hanie Endojowatiningsih
Missio Ecclesiae Vol. 4 No. 1 (2015): April
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v4i1.48

Abstract

Profil Yunus menarik untuk disimak, karena Yunus bisa dikatakan sebagai misionari pertama yang dicatat di dalam Perjanjian Lama. Di tengah pelayanannya sebagai nabi di kerajaan Israel Utara, Tuhan mengutus dia untuk pergi ke Niniwe dengan tugas yang jelas, yakni menyampaikan pesan Tuhan yang sangat penting. Dalam 2Raja-raja 14:25 disebutkan bahwa Yunus bin Amitai dari Gat-Hefer, menubuatkan bahwa Yerobeam II, raja Israel Utara (793-753 SM) akan mengambil kembali daerah milik Israel yang telah diduduki bangsa Aram, karena saat itu pemerintahan Aram melemah, di bawah Raja Benhadad II. Dan pemerintahan Israel Utara saat itu sangat kuat atau jaya di bawah Yerobeam II, meskipun raja itu tidak hidup takut akan Tuhan, dan memerintah sangat lama (2 Raja-raja 14:23-24).
RELEVANSI PERJANJIAN LAMA BAGI KEHIDUPAN GEREJA MASA KINI Evendy Tobing
Missio Ecclesiae Vol. 4 No. 1 (2015): April
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v4i1.49

Abstract

Pertanyaan mendasar bagi kita dalam mempelajari Perjanjian Lama adalah: apakah Perjanjian Lama masih relevan bagi kehidupan kita masa kini? Jika Perjanjian Lama masih relevan, bagaimana menerapkannya? Untuk memahami relevansi Perjanjian Lama bagi kehidupan dan pelayanan gereja masa kini, maka dalam tulisan singkat ini penulis memaparkan antara lain: probelamatika studi Perjanjian Lama, Isu-isu theologis yang berkembang mengenai relavansi Perjanjian Lama sepanjang sejarah, landasan theologis sebagai dasar relevansitas Perjanjian Lama untuk masa kini serta pengajaran-pengajaran berharga dari Perjanjian Lama yang relavan bagi kehidupan dan pelayanan gereja masa kini

Page 1 of 1 | Total Record : 5