cover
Contact Name
Dina Elisabeth Latumahina
Contact Email
dina.latumahina@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
dina.latumahina@gmail.com
Editorial Address
Jl. Indragiri No. 5, Kota Wisata Batu, Jawa Timur, Indonesia, 65301
Location
Kota batu,
Jawa timur
INDONESIA
Missio Ecclesiae
ISSN : 20865368     EISSN : 27218198     DOI : -
Missio Ecclesiae adalah jurnal open access yang menerbitkan artikel tentang praktek, teori, dan penelitian dalam bidang teologi, misiologi, konseling pastoral, kepemimpinan Kristen, pendidikan Kristen, dan filsafat agama melalui metode penelitian kualitatif dan kuantitatif. Kriteria publikasi jurnal ini didasarkan pada standar etika yang tinggi dan kekakuan metodologi dan kesimpulan yang dilaporkan.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 4 No. 2 (2015): Oktober" : 5 Documents clear
MAKNA PENDERITAAN ORANG SALEH MENURUT KITAB AYUB Dora Hutasoit
Missio Ecclesiae Vol. 4 No. 2 (2015): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v4i2.50

Abstract

Hukum providensia Tuhan, seringkali diinterpresentasikan terlalu dangkal: Orang saleh diberkati, orang fasik dihukum. Akibatnya pada hakikatnya kata saleh dan menderita tidak dapat bertemu. Kendati demikian, justru kitab Ayub memaparkan bahwa kedua hal itu bertemu di dalam pengalaman hidup Ayub.
MENYEMBAH TUHAN: SUATU STUDI EXEGETIS MAZMUR 100 Gustaf R. Rame
Missio Ecclesiae Vol. 4 No. 2 (2015): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v4i2.51

Abstract

Mazmur 100 dikategorikan dalam jenis mazmur korban ucapan syukur yang terdiri dari dua bait yakni: bait pertama ayat 1-3, dan bait kedua ayat 4-5 masing-masing bait terdiri dari dua undangan dan alasan yang kuat mengapa harus menyembah TUHAN. Karena hubungan kedua bait sangat erat, maka mazmur ini sering dinyanyikan dengan berbalas-balasan dalam suatu jemaah atau sebagai nyanyian perarakan masuk ke dalam bait suci. Tetapi juga sebagai pengakuan iman kepada Allah sebagai Raja yang harus dilayani dan dimuliakan. Pesan utama dari Mazmur 100 adalah bahwa keselamatan tidak lagi dikhususkan kepada Israel saja melainkan keselamatan itu adalah bersifat universal, dimana tidak ada lagi diskriminasi dan pengurangan peran dari pihak lain untuk memuji dan menyembah TUHAN terhadap orang-orang dari segala bangsa di dunia yang telah ditebus TUHAN. Dengan demikian di dalam Mazmur 100 ini, Israel melihat hubungan TUHAN dengan bangsa-bangsa secara baru dan karena itu Israel juga harus memperbaharui pula. Karena hanya TUHAN-lah Allah dan tidak ada yang lain, maka hanya ada satu umat dan satu ibadah.
THEODICY : MENGGUGAT KEADILAN ALLAH? Dina Elisabeth Latumahina
Missio Ecclesiae Vol. 4 No. 2 (2015): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v4i2.52

Abstract

Melihat kondisi-kondisi di atas, sangatlah penting bagi Gereja-gereja Tuhan dan hamba-hamba Tuhan di Indonesia memikirkan secara serius untuk memberikan pemahaman yang benar kepada setiap orang Kristen mengenai cara dan sikap yang benar ketika menghadapi masalah. Martyn Lloyd dalam bukunya Ketika Iman Diadili, mengatakan bahwa untuk menjawab pertanyaan dan kebingungan sekitar theodicy, harus ada pendekatan yang benar karena sebagian besar masalah dan kebingungan dalam kehidupan orang Kristen adalah cara pendekatan yang tidak benar. Yang dimaksud dengan pendekatan yang benar adalah cara berpikir rohani bukan rasional. Cara berpikir yang sesuai dengan cara Tuhan melalui firmanNya dan bukan cara manusia yang dianggap logis yang sesuai dengan rasio atau otaknya. Misalnya: manusia sering ingin mendapatkan jawaban yang gamblang dan cepat terhadap masalah tertentu,namun Alkitab tidak selalu mengajarkan manusia tentang satu cara. Manusia juga sering panik dan cepat mengambil kesimpulan salah bila hal-hal yang tidak diharapkan terjadi atau jika menurutnya Allah memperlakukannya dengan cara yang ‘aneh.’ Dalam setiap keadaan, kita harus mengetahui cara bertindak yang tepat. Berpikir secara rohani juga artinya bahwa orang Kristen harus melihat keadilan Allah dari perspektif-Nya sendiri karena KedaulatanNya dan bukan dari perspektif manusiawinya yang bagaimanapun sangat terbatas. Jika orang Kristen mempunyai perspektif yang benar tentang keadilan Allah seperti yang dinyatakan dalam firman-Nya, mereka mampu menghadapi kesulitan apapun yang Allah izinkan tanpa meragukan keadilan dan kasih-Nya. Yang pasti adalah: Hati Allah sungguh-sungguh remuk ketika umat-Nya sedang mengalami penderitaan yang dalam karena kita sangat berharga bagi-Nya (Yes 43:4; Mzm 8:5). Dia mengasihi kita dengan kasih yang tak terbatas. Dia ada di sana, di tempat kita di siksa, dipenjara, di rumah kita yang terbakar atau hanyut atau yang tinggal puing-puing, atau di antara keluarga kita yang hilang. Bagaimana kita dapat memahami Allah dengan keadaan seperti ini? Tidak lain, harus berpegang dan percaya akan sifat-sifat-Nya yang tidak berubah bahkan ketika Dia tidak dapat dipahami. Sebagai orang beriman, kita perlu mempercayai ada waktunya Allah, bahkan ketika segala sesuatunya terlihat begitu terlambat. Masalah bisa datang silih berganti baik terhadap pribadi maupun kelompok, persekutuan atau gereja, anggota atau masyarakat dan lain-lain. Tetapi Allah tidak pernah mengingkari firman dan janji-Nya sendiri. Pada waktu dan cara-Nya-lah, Dia pasti menunjukkan keadilan-Nya bagi orang yang terus berharap kepada-Nya. Oleh karena itu : Let’s God to be God ! Amin !
KONSEP GEMBALA MENURUT YEHEZKIEL 34:1-16 SERTA IMPLIKASINYA BAGI GEMBALA JEMAAT Simon Petrus Siahaan
Missio Ecclesiae Vol. 4 No. 2 (2015): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v4i2.53

Abstract

Kemajuan suatu gereja baik secara kwalitas maupun secara kwantitas tidak bisa dilepaskan dari sikap gembala atau pemimpinnya terhadap domba-domba-Nya atau jemaat-Nya. Seorang pemimpin mau tidak mau dituntut untuk hidup menjadi panutan bagi yang dipimpin (jemaat). Dan seorang pemimpin bukanlah seorang penguasa. Seringkali dapat dilihat bagaimana jikalau seorang pemimpin atau gembala itu sangat memperhatikan jemaatnya, memberi makanan rohani sesuai dengan Firman Tuhan, mengarahkan, melindungi, dan mengasihi jemaatnya, maka secara otomatis jemaatnya pun mengasihi pemimpinya. Akan tetapi jikalau seorang pemimpin atau gembala yang memiliki sifat yang kasar, tamak, kejam dan bengis serta tidak bertanggung jawab, maka dapat dibayangkan bagaimana reaksi dari jemaatnya atau orang yang dipimpin (“domba-dombanya”).
PERAN ORANG PERCAYA DALAM MEWUJUDKAN KEADILAN SOSIAL Jammes Juneidy Takaliuang
Missio Ecclesiae Vol. 4 No. 2 (2015): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v4i2.54

Abstract

Peran serta orang Kristen dalam mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia bukan hanya partial, tetapi harus holistik. Karena tujuan pencapaian ini adalah manusia seutuhnya yang pada prinsipnya adalah keselarasan hubungan antara manusia dengan Tuhan-nya, antara sesama manusia serta lingkungan alam sekitarnya, keserasian hubungan antara bangsa-bangsa dan juga keselarasan antara cita-cita hidup di dunia dan mengejar kebahagian di akhirat. Jadi orang Kristen adalah agen untuk mewujudkan cita-cita mulia ini dengan berlandaskan kepada Kristus yang adalah sumber keadilan, serta status orang Kristen yang adalah warga kerajaan surga seperti yang digambarkan oleh Rasul Paulus dalam Filipi 3:20. Implementasi dari warga kerajaan surga adalah menjadi warga negara Indonesia yang benar dan bertanggung jawab, sehingga jelas bahwa orang Kristen harus mengambil peran dalam menentukan arah bangsa ini. Sikap skeptis dan pesimistis bukanlah bagian dalam diri orang Kristen. Lebih jelas lagi dalam ranah praksis orang Kristen wajib: 1) Memiliki perbuatan yang luhur, yang tercermin dalam sikap dan suasana kekeluargaan serta gotong royong; 2) Menjalankan sikap adil terhadap sesama dengan cara menghormati hak-hak orang lain; 3) Sistem balancing yaitu menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban; 4) Tidak menciptakan dehumanisasi melalui pereduksian harkat dan martabat manusia; 5) Memiliki cara hidup dan gaya hidup sederhana (menentang sifat hedonisme dan materialisme yang menonjolkan spirit individualisme); dan 6) Bekerja keras, memiliki integritas diri yang tinggi, kreatif dan inovatif serta nasionalis.

Page 1 of 1 | Total Record : 5