cover
Contact Name
Dina Elisabeth Latumahina
Contact Email
dina.latumahina@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
dina.latumahina@gmail.com
Editorial Address
Jl. Indragiri No. 5, Kota Wisata Batu, Jawa Timur, Indonesia, 65301
Location
Kota batu,
Jawa timur
INDONESIA
Missio Ecclesiae
ISSN : 20865368     EISSN : 27218198     DOI : -
Missio Ecclesiae adalah jurnal open access yang menerbitkan artikel tentang praktek, teori, dan penelitian dalam bidang teologi, misiologi, konseling pastoral, kepemimpinan Kristen, pendidikan Kristen, dan filsafat agama melalui metode penelitian kualitatif dan kuantitatif. Kriteria publikasi jurnal ini didasarkan pada standar etika yang tinggi dan kekakuan metodologi dan kesimpulan yang dilaporkan.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 8 No. 2 (2019): Oktober" : 6 Documents clear
PELAYANAN TERHADAP JEMAAT LANJUT USIA SEBAGAI PENGEMBANGGAN PELAYANAN KATEGORIAL Elvin Paende
Missio Ecclesiae Vol. 8 No. 2 (2019): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v8i2.99

Abstract

Lanjut usia adalah mereka yang rata-rata telah memasuki usia 60 tahun ke atas. Dalam usia seperti ini setiap orang mengalami perubahan-perubahan yang mengarah pada kemunduran-kemunduran, baik dari segi fisik maupun rohani. Perubahan fisik akan mempengaruhi segi psikologis, sosiologis, dan pneumatologis para lanjut usia, sehingga mereka akan mengalami perasaan rendah diri karena merasa tidak mampu dan tidak berguna lagi.Hal tersebut akan membuat mereka menutup diri, akibatnya mereka merasa kesepian. Masalah ini akan terasa lebih berat lagi oleh karena memang para lanjut usia akan ditinggalkan oleh anak-anak yang telah terpencar ke berbagai tempat untuk membangun rumah tangga sendiri (sidron “sarang kosong”). Dalam keadaan demikian para lanjut usia cenderung untuk berdiam diri di rumah saja, suatu kondisi yang menjadi penyebab timbulnya masalah baru bagi para lanjut usia. Mereka akan menjadi asing bagi linkungan dan dilupakan orang, akibatnya mereka tertolak dan kehilangan harga diri. Oleh karena itu pelayanan gereja terhadap para lanjut usia haruslah ditempatkan sebagai satu pelayanan kategorial dan serius ditangani oleh pekerja dan hamba Tuhan khusus yang sungguh memahami persoalan atau permasalahan lanjut usia.Pelayanan kategorial tersebut akan membuat gereja terikat secara moril pada penanganan yang serius dan bertanggung jawab terhadap para lanjut usia yang menjadi anggota jemaat. Itu berarti pelayanan kategorial akhirnya memberikan keseimbangan dalam perhatian dan aksi penatalayanan dalam seluruh gerak pelayanan gereja.
PELAYANAN KONSELING KRISTEN KEPADA PASANGAN SUAMI ISTERI DALAM MENYELESAIKAN KONFLIK KELUARGA Agus Suryo Jarot Yudhono
Missio Ecclesiae Vol. 8 No. 2 (2019): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v8i2.100

Abstract

Pelayanan konseling Kristen kepada pasangan suami-isteri dalam menyelesaikan konflik keluarga adalah langkah penting yang harus segera dilakukan oleh setiap pelaku gereja (hamba Tuhan) yang berperan sebagai konselor. Sebab ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan bahwa pelayanan konseling Kristen kepada pasangan suami-isteri dalam menyelesaikan konflik adalah penting dan maka dapat ditarik simpulan sebagai berikut: (1) Pelayanan konseling Kristen sebagai representatif Tuhan Yesus Kristus, Sang Konselor Agung, seharusnya pelayanan konseling Kristen dilakukan dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab sebagai bentuk meneladani figure Tuhan Yesus dalam melakukan konseling kepada umat manusia. Sehingga peran pelayanan konseling Kristen kepada jemaat khususnya kepada pasangan suami-isteri dalam menyelesaikan konflik keluarga memberikan dampak yang besar secara rohani, dimana setiap jemaat dan keluarga Kristen tetap kokoh di dalam iman dan mampu menyelesaikan konflik keluarga dengan baik sesuai prinsip-prinsip Alkitabiah; (2) Pelayanan konseling Kristen kepada pasangan suami-isteri dalam menyelesaikan konflik keluarga perlu mendapat perhatian khusus bagi gembala jemaat, gembala bertanggungjawab untuk memperhatikan langsung kegiatan pelayanan konseling Kristen tersebut karena seluruh pembinaan kerohanian jemaat, termasuk pelayanan konseling Kristen menjadi tanggung jawab seorang gembala jemaat. Jika gembala jemaat tidak aktif ada di tempat, maka pendelegasian kepada para pengerja gereja yang telah ditunjuk oleh gembala jemaat untuk melayani konseling Kristen kepada jemaat bisa dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dengan penuh tanggung jawab; (3) Pelayanan konseling Kristen kepada pasangan suami-isteri dalam menyelesaikan konflik keluarga menjadisolusi yang tepat di tengah-tengah perubahan dan perkembangan jaman yang semakin kompleks. Sekaligus persoalan dan permasalahan yang dihadapi oleh setiap keluarga juga semakin kompleks sehingga dengan adanya pelayanan konseling Kristen mampu membantu memberikan jawaban dan jalan keluar bagi keluarga yang menghadapi konflik keluarga; (4) Bentuk keseriusan pelayanan konseling Kristen terhadap keluarga dalam menyelesaikan konflik perlu diwujudkan dengan proaktif. Sehingga gereja sebagai pelaku/konselor dari pelayanan konseling Kristen dapat berkontribusi dan berdampak terhadap keluarga yang sedang dalam menghadapi konflik sehingga keutuhan dan keharmonisan keluarga bisa tetap terjaga dengan baik; dan (5) Diperlukan kerjasama yang baik antara pihak gereja (gembala dan para pengerja) dengan seluruh jemaat, khususnya kepada pasangan suami-isteri dalam menyelesaikan konflik keluarga untuk aktif melakukan konseling Kristen jika memerlukan konseling dalam menyelesaikan permasalahan maupun konflik keluarga yang tidak dapat terselesaikan secara pribadi. Maka pasangan suami-isteri perlu melibatkan pihak gereja untuk melakukan konseling Kristen dalam menyelesaikan permasalahan atau konflik keluarga.
STRATEGI PELAYANAN PASTORAL KONSELING SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN ANTUSIASME JEMAAT DALAM BERIBADAH Florentina Sianipar
Missio Ecclesiae Vol. 8 No. 2 (2019): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v8i2.101

Abstract

Gereja selama ini belum memiliki strategi dalam menerapkan pelayanan pastoral konseling terhadap jemaat yang antusiasme ibadahnya rendah. Gereja selama ini juga kurang tanggap dalam memberikan perhatian dan tindak lanjut terhadap ketidakhadiran jemaat pada jam-jam ibadah di gereja. Hamba Tuhan dan pengerja gereja belum memiliki rencana untuk memantau alasan-alasan atas ketidakhadiran jemaat dalam setiap kegiatan peribadahan di gereja. Kegiatan bezuk baru dilakukan setelah rentang waktu yang terlalu lama yaitu satu sampai dua bulan tidak hadir. Sementara itu, masalah lemahnya antusiasme sering terjadi dalam diri jemaat yang tengah memiliki persoalan dan krisis yang belum tertangani. Gereja seharusnya jangan hanya fokus pada tata liturgi dan pelayanan altar, tetapi perlu lebih memperhatikan kebutuhan psikologis jemaat yang sering membutuhkan pertolongan untuk menghadapi krisis-krisis dalam hidupnya. Gereja jarang memiliki seorang hamba Tuhan konselor cakap dan terlatih yang dapat menerapkan strategi pelayanan pastoral konseling bagi jemaat. Gembala seringkali tidak mengetahui secara persis kondisi keseharian jemaat yang sewaktu-waktu memerlukan pelayanan pastoral konseling.Disinilah letak perlunya gereja memperlengkapi para pelayan untuk bisa melayani jemaat secara menyeluruh. Gereja perlu memiliki figur hamba Tuhan konselor yang dapat melakukan pelayanan pastoral konseling secara efektif. Hal tersebut dapat dilakukan melalui pembekalan dan peningkatan kapasitas bagi hamba Tuhan yang memiliki talenta dan kerinduan menjadi konselor Kristen. Tidak kalah pentingnya bagi gembala untuk lebih memperhatikan pelayanan pastoral konseling pada jemaat dengan mengatur waktu untuk melakukan kunjungan pastoral ke rumah jemaat dan untuk melakukan pelayanan konseling. Penerapan strategi pelayanan pastoral konseling yang tepat akan membantu gereja untuk mengurai masalah lemahnya antusiasme jemaat untuk beribadah. Gembala belum memiliki rencana program, target dan sasaran kerja yang jelas untuk melaksanakan peran pelayanan pastoral. Fasilitas-fasilitas yang ada di gereja seharusnya juga bisa dipergunakan untuk menunjang pelayanan pastoral konseling secara lebih efektif. Termasuk adanya tim pelayanan seharusnya dapat dikoordinir supaya dapat bekerjasama dengan baik. Penerapan strategi pelayanan pastoral konseling dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: melibatkan tim yang dimiliki gereja, menguatkan kapasitas hamba Tuhan konselor, melakukan peran pelayanan pastoral konseling secara tepat, menetapkan sasaran dan target pelayanan serta melakukan monitoring dan evaluasi terhadap hasil pelayanan. Gereja perlu memotivasi dan mengajak seluruh jemaat dan pelayan Tuhan untuk memiliki hubungan pribadi yang indah dengan Tuhan. Jemaat didoktrin untuk memprioritaskan ibadah lebih dari apapun dalam hidupnya dan diarahkan hatinya untuk tetap berjalan dalam pimpinan Roh Kudus. Gereja jangan sampai kehilangan api semangat dan antusiasme dalam beribadah dan menyembah Tuhan Sang Gembala Agung. Pengajaran tentang apa itu ibadah, bagaimana motivasi yang benar dalam beribadah dan tentang antusiasme dalam menyembah Tuhan perlu sering disampaikan kepada jemaat baik melalui khotbah secara tematis, melalui tulisan-tulisan dalam media gereja atau dengan cara-cara lain. Melalui pengajaran dari gereja, jemaat diajak untuk menyadari perilaku-perilaku yang salah dalam beribadah dan komitmen kerohaniannya diharapkan dapat mengalami pembaharuan. Pengajaran yang berulang-ulang dan mendalam akan mendukung keberhasilan penerapan strategi dalam pelayanan pastoral konseling, sebab proses konseling itu sendiri selalu berupaya menolong jemaat untuk memiliki pengetahuan rohani yang benar akan Allah.
SIKAP ETIS KRISTEN TERHADAP PERCERAIAN MENURUT MARKUS 10:9 Jefry Lodewyck
Missio Ecclesiae Vol. 8 No. 2 (2019): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v8i2.102

Abstract

Semua orang percaya harus memahami dan meyakini bahwa Allah sumber kasih (Roma 5:8). Adalah penting untuk setiap manusia memahami, dan mengalami kasih Allah dalam pengalaman nyata sehari-hari (Ibr. 2:9). Allah sebagai desainer pernikahan, telah mendesain pernikahan sebagai satu lembaga ciptaan Allah yang tertua dalam dunia ini. Sebelum ada satu bangsa, kerajaan, bahkan gereja, Allah terlebih dahulu menciptakan satu unit keluarga. Kasih dalam hubungan Adam dan Hawa begitu harmonis meniktmati kasih Tuhan di dalam Taman Eden. Pernikahan adalah suatu hal yang unik, juga indah dan kudus.Alkitab memberikan gambaran hubungan suami istri seperti hubungan Kristus sebagai mempelai laki-laki dengan orang-orang percaya sebagai mempelai perempuan (Efesus 5:22-23). Kegagalan hubungan suami-istri yang diikuti perceraian adalah salah satu dari sekian banyak realitas yang terjadi dalam kehidupan manusia. Yang penting membedakan antara kedua fenomena itu: Keinginan seorang istri atau seorang suami untuk bercerai adalah akibat dari kegagalan hubungan kasih. Kasih berperan penting dalam kelangsungan hidup pernikahan karena kasih menutupi banyak sekali dosa (1 Pet.4:8). Karena kasih juga membuat seseorang rela berkorban (Ams.17:17), bahkan memberikan nyawanya. Perceraian bukanlah jalan akhir untuk penyelesaian masalah dalam pernikahan. Masih ada mujizat bagi orang yang percaya kepadaNya. Seungguhnya tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menyelamatkan dan pendengaranNya tidak kurang tajam untuk mendengar (Yes. 59:1). Hubungan suami-istri yang harmonis sangat bergantung kepada pengertian kedudukan suami dan istri menurut Alkitab, dan bagaimana baik suami maupun istri menempatkan diri sesuai dengan pengertian itu.
IMPLIKASIPRAKTIS-RELASIONAL DOKTRIN TRITUNGGAL: REFLEKSI INJILI Manintiro Uling
Missio Ecclesiae Vol. 8 No. 2 (2019): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v8i2.149

Abstract

Orang Kristen ada dan hadir di tengah-tengah dunia yang plural. Sebab, pluralitas itu niscaya dalam hidup manusia. Realitas kemajemukan tidak bisa dihindari dan ditolak, sehingga berbeda itulah hidup, menerima perbedaan itulah indahnya hidup. Hidup bersama, meskipun berbeda dalam banyak hal, saling menerima satu dengan yang lain, demikianlah semestinya hidup dijalani. Akan menjadi Ironis, jika gaya hidup yang eksklusif, tertutup, dan isolatif, bahkan separatis yang ditampilkan. Namun faktanya, fenomena hidup yang eksklusif, tertutup dan cenderung hanya mau berbaur dengan yang sefaham, segolongan, dan sekeyakinan saja menjadi ciri khas sekelompok orang yang ekstrem atau singkatnya yang biasa disebut dengan gerakan radikalisme dan fundamentalisme.
SIGNIFIKANSI PERNIKAHAN KRISTEN BAGI PASANGAN YANG BELUM DIBERKATI DI GEREJA Meldaria Manihuruk
Missio Ecclesiae Vol. 8 No. 2 (2019): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v8i2.180

Abstract

Pernikahan adalah persekutuan ekslusif seumur hidup antara seorang pria dan seorang wanita. Konsep dasar pernikahan pertama kali dimulai di taman Eden, yakni Ketika Allah membawa Hawa kepada Adam. Pernikhan merupaka suatu tahap dimana seorang laki-laki dan perempuan dipersatukan oleh Allah dan diikat secara sah oleh ikatan kasih, hukum, perlindungan untuk menikmati hubungan seksual secara sah dan hubungan sebagai suami isteri yang berlaku sampai seumur hidup. Namun dalam kehidupan Kristen masa kini banyak pasangan yang tidak memenuhi konsep pernikahan yang alkitabiah sebagaimana dikehendaki Allah. Beberapa pasangan telah hidup bersama namun belum diberkati di gereja. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan mencari dan mengidentifikasi masalah yang diteliti serta pengevaluasiannya. Melalui data yang dianalisa dan diinterpretasi maka ditemukan bahwa: pertama, pernikahan Kristen berdasarkan Alkitab adalah hakikat pernikahan bagi keluarga yang belum diberkati. Kedua, pemahaman yang benar mengenai pernikahan Kristen bagi keluarga yang belum diberkati sehingga dapat mengerti pernikahan Kristen. Ketiga, dalam penelitian terhadap pernikahan Kristen, banyak keluarga yang belum memahami pernikahan menurut Alkitab, oleh sebab itu penting bagi keluarga untuk memahami dan melakukan dengan benar pernikahan menurut Alkitab sesuai dengan kehendak Allah.

Page 1 of 1 | Total Record : 6