cover
Contact Name
Muhammad Ilham Akbar Alamsyah
Contact Email
231320043.muhammadilham@uinbanten.ac.id
Phone
+6285798995400
Journal Mail Official
hikmatul.luthfi@uinbanten.ac.id
Editorial Address
Jl. Syekh Moh. Nawawi Albantani, Kemanisan, Kec. Curug, Kota Serang, Banten
Location
Kota serang,
Banten
INDONESIA
Al-Fath
ISSN : 19782845     EISSN : 27237257     DOI : https://doi.org/10.32678/alfath
Al-Fath: published twice a year since 2007 (June and December), is a multilingual (Bahasa, Arabic, and English), peer-reviewed journal, and specializes in Interpretation of the quran. This journal is published by the Alquran and its Interpretation Department, Faculty of Ushuluddin and Adab, Sultan Maulana Hasanuddin State Islamic University of Banten INDONESIA. Al-Fath focused on the Islamic studies, especially the basic sciences of Islam, including the study of the Qur’an, Hadith, and Theology. Editors welcome scholars, researchers and practitioners of Alquran and its Interpretation, Hadith, and Theology around the world to submit scholarly articles to be published through this journal. All articles will be reviewed by experts before accepted for publication
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 12 No 1 (2018): Juni 2018" : 5 Documents clear
Makna Kafir dalam Alquran Noer Cholis Najib
Al-Fath Vol 12 No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v12i1.3170

Abstract

Kafir merupakan kata yang tidak asing lagi bagi umat Islam, namun kebanyakan dari umat Islam sendiri banyak yang tidak mengetahui makna kafir dan salah dalam mengartikan kafir dari kata kafir itu sendiri. Bahkan tidak mengetahuinya sama sekali, dan istilah kafir begitu akrab dipakai dengan ragam makna untuk kepentingannya. Perpecahan dan pertikaian yang berlarut-larut di kalangan umat Islam yang kemudian menjadi isu teologis yang serius, sehingga menyebabkan penyalahgunaan kata dan makna kafir dalam menghukumi seorang muslim menjadi semakin membesar sampai sekarang. Kufur adalah sifat dari orang kafir menurut Alquran yang berarti menutupi, mengingkari, dan mendustakan bahwa kafir adalah lawan dari pada iman yang tidak membenarkan di hatinya serta perbuatannya yang mengingkari dan menutupi serta mendustakan segala apa yang telah Allah berikan kepada mereka berupa ajaran dan agama Allah baik itu pada para rasul-Nya, ayat-ayat-Nya, kitab-kitab-Nya, malaikat-malaikat-Nya, dan hari akhir. Dalam Alquran istilah kafir dalam bentuk kata jadiannya sebanyak 525 kali dan enam kata jadian, meskipun tidak seluruhnya merujuk pada arti kafir secara istilah melainkan secara bahasa. 2). Menurut Sayyid Qutb kafir adalah orang-orang kecil dan kerdil yang mengingkari, menutupi dan mendustakan Allah, rasul-rasul-Nya, ajaran-Nya, serta apa yang telah Allah berikan kepada mereka. Kata kafir ini mengandung makna yang luas tidak hanya berbentuk pengingkaran terhadap Tuhan dan Rasul-Nya. Tetapi segala sesuatu yang hanya mementingkan kecintaannya terhadap duniawinya saja tanpa memikirkan kehidupannya setelah di dunia.
Nalar Tafsir Emansipatoris dalam Memahami Al-Qur'an Endang Saeful Anwar
Al-Fath Vol 12 No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v12i1.2922

Abstract

Al-Qur’an dengan segala keistimewaannya adalah kitab suci yang patut untuk dihormati. Dalam posisinya sebagai kitab suci inilah kemudian al-Qur’an menjadikan dirinya sebagai sebuah pedoman hidup yang absolut. Konsekuensi teologisnya adalah bahwa Al-Qur’a>n harus melebur dirinya untuk dipahami yang untuk kemudian diamalkan dan diyakini dalam kehidupan sehari-hari umat Islam. Dalam ungkapan singkatnya, William A. Graham, menyatakan bahwa al-Qur'an merupakan ,"A canonical writing is something people ready and study, a scripture something people live by and for"1. Quraish Shihab menyebutnya bahwa hal ini menunjukan al-Qur'an menempati posisi sentral dalam studi Islam.
Penafsiran Ayat-Ayat Astronomi Agama Fitri Purwati
Al-Fath Vol 12 No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v12i1.3024

Abstract

Tafsir Ilmi Kementerian Agama yang berjudul Manfaat Benda-benda Langit merupakan sebuah kitab tafsir yang bernuansakan paradigma ilmiah dengan teks Alquran. Didalamnya terdapat pendapat para ulama dan ilmuwan yang dirancang dengan sangat apik yang tentunya membahas terkait ayat-ayat kauniyah, khususnya ayat-ayat astronomi. Tafsir Ilmi Kemenag RI dalam mengkaji sebuah ilmu pengetahuan modern terkait ayat-ayat astronomi, menjelaskan bahwa terdapat banyak manfaat yang dimiliki oleh benda langit tesebut. Diantaranya terdapat penjelasan bahwa bintang dapat dijadikan petunjuk saat malam hari didarat maupun di laut yang dapat dimanfaatkan oleh para pejalan kaki saat malam hari, selain itu ia juga dapat dimanfaatkan bagi pelaut untuk menemukan arah mata angin, dengan begitu bintang dapat dijadikan sebagai indikator navigasi.Tafsir Ilmi Kementerian Agama menggunakan metode tafsir tematik dan bercorak tafsir saintifik, sumber penafsirannya Alquran, asbabun nuzul, munasabah ayat, mengambil riwayatriwayat dalam penafsiran, dan disertai penelitian ilmiah. Penafsiran Tafsir Ilmi Kementerian Agama yang digunakan dalam menafsirkan ayat astronomi yaitu Terlebih dahulu menjelaskan beberapa fakta ataupun teori yang berkaitan dengan astronomi, mengumpulkan beberapa ayat-ayat yang berkaitan dengan astronomi, disertakan terjemahan dari beberapa ayat-ayat sains yang berkaitan dengan tema pembahasan, menjelaskan konteks penggalan ayat baik secara etimologi ataupun terminology, menjelaskan asbabun nuzul (turunnya ayat), mengemukakan penafsiran ayat-ayat astronomi yang disertai dengan penjelasan ilmu pengetahuan saintifik, mengambil riwayat-riwayat penafsiran dari ulama-ulama tafsir.
Konsep Neraka Jahannam dalam Alquran Mutia Fajarina
Al-Fath Vol 12 No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v12i1.3027

Abstract

Dalam Alquran, Allah Swt berulang-ulang berpesan bahwa kematian pasti akan datang, Setiap yang bernyawa akan merasakan mati dan di hari kiamat nanti disempurnakan balasan masing-masing, yang baik dibalas dengan yang baik, yaitu surga, yang buruk akan dibalas dengan yang buruk pula, yaitu neraka. Manusia akan terbagi menjadi dua kelompok setelah melewati proses hisab. Pertama ashabul-yamin, yakni kelompok kanan. Kelompok inilah yang akan mendapatkan surga. Kedua, ashabusy-syimal, kelompok kiri. Kelompok inilah yang akan mengalami kecelakaan atau kesengsaraan, kemudian mereka menuju kedalam neraka. Alquran menyebutkan berbagai nama-nama neraka, bermacam-macam siksaannya sebagai siksaan bagi musuh-musuh-Nya, penjara bagi orang-orang yang berbuat maksiat, kehinaan dan kerugian yang sangat besar dan tiada hal yang lebih buruk darinya.Neraka Jahannam merupakan nama neraka yang di perutukan sebagai tempat menimpakan azab yang abadi di hari kiamat kelak, sebagai tempat pembalasan bagi orang-orang kafir yang mendustakan hari pembalasan. Calon-calon penghuni neraka jahannam antara lain adalah: Kafirun, Musyrikun, Munafiqun, Murtaddun, Dallun, Fasiqun, Mufsidun, Mujrimun, Mu’tadun, dan Mutakabbirun. Dalam Alquran neraka jahannam disebutkan sebanyak 77 kali, dan ayat-ayat neraka jahannam di antaranya adalah: (QS. Al-Baqarah: 206), (QS. Ali ‘Imra>n: 12), (QS. Ali ‘Imra>n: 162), (QS. Ali ‘Imran: 197), (QS. An-Nisa’: 55), (QS. An-Nisa’: 93), (QS. An-Nisa’: 97), dan masih ada 70 ayat lagi.
Ayat Raḍā’ah dalam Perspektif Alquran dan Kesehatan Ridha Rifani
Al-Fath Vol 12 No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v12i1.3179

Abstract

wanita setelah mengalami proses melahirkan. Selain itu ASI merupakan asupan gizi paling baik bagi para bayi hingga Allah Swt mewajibkan kepada para ibu untuk menyusui bayi yang dilahirkannya. Allah Swt memerintahkan untuk menyusui setiap anak yang baru dilahirkan agar tumbuh dan berkembang dengan baik selama duatahun berdasarkanQS.Al-Baqarah/2:233, QS.An-Nisa/4:23, QS.Aț-Țalaq/ 28:6, QS.Qașaș/28:7. Bagaimana pun hubungan suami istri tetap saja anak menjadi prioritas dalam menjaganya denganbaik. Anak menjadi tanggungjawab seorang bapak apabila istri dari bapak tersebut sudah ditalak. Apabila bayi masih dalam penyusuan maka kewajiban ayah untuk memberikan upah kepada istrinya atau wanita yang menyusui bayi tersebut. Wanita yang menyusui bayi padahal ia bukan ibu kandungannya akan menyebabkan keharaman dalam menikah sebagaimana keharaman nasab. Ahli kesehatan menemukan bahwa ASI akan mempengaruhi perkembangan bayi baik dari fisik maupun psikis. Keutamaan ASI dalam menyusui sangat penting karena kandungan ASI yang sangat luar biasa dapat menyesuaikan keadaan bayi yang dibutuhkan oleh tubuh bayi.

Page 1 of 1 | Total Record : 5