cover
Contact Name
Made Gautama Jayadiningrat
Contact Email
jurnaladatdanbudayaindonesia@gmail.com
Phone
+6287762961886
Journal Mail Official
jurnaladatdanbudayaindonesia@gmail.com
Editorial Address
Jl. Udayana Kampus Tengah Singaraja, Bali, Indonesia 81116
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia
ISSN : 26156113     EISSN : 26156156     DOI : http://dx.doi.org/10.23887/jabi.v1i1
Jurnal ini memuat hasil penelitian dan pemikiran tentang adat istiadat dan budaya. Jurnal ini bertujuan untuk mewadahi artikel-artikel hasil penelitian dan hasil pengabdian kepada masyarakat dibidang adat dan kajian budaya.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 1 (2023)" : 6 Documents clear
FILSAFAH KEHIDUPAN TRITANGTU SUNDA DALAM FILM EKSPERIMENTAL ADAT “GAME OVER DRAMA” Wiki Riandi; Sandie Gunara; Erik Muhammad Pauhrizi
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 5 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v5i1.52492

Abstract

Creating an art work is a creative process of thinking and emotion in a practical and intuitive performance. Personal coding of the author in the creation of experimental film often leads to new interpretations. The empirical experience of tradition underlies the idea of creating a notable work. Sundanese Tritangtu philosophy, a tradition of the Sundanese, contributes to the formation of sundanese's creativity in working and understanding life. In this study, an experimental film entitled "Game over Drama" was interpreted heurmeneuticly with the concept of Tritangtu with the aim of making a systematic, factual visual description, and raising awareness of the Sundanese about the relationship between humans, nature and their gods. The analysis focused on the film visual content to reveal the Sundanese Tritangtu philosophy. The results of this study reveal that the Sundanese always consider that their lives will always depend on nature and their Creator and believe that their bodies are composed of elements of water, earth, air and fire which are natural elements. This view is a relationship manifestation between the Sundanese and the universe as well as a representation of the characters contained in their bodies. This research is expected to be a reference for exploring the values of local wisdom for filmmakers who try to raise local wisdom through experimental films.
EKSISTENSI KETUA ADAT DAYAK DESA PADA KOMUNITAS RUMAH BETANG Annisa Dwi Lestari; Dhea Frastika; Mita; Diaz Restu Darmawan
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 5 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v5i1.53999

Abstract

The Dayak Desa community in Betang House Ensaid Panjang Village, until now still maintains the existence of customs in the midst of their lives. This paper aims to reveal the existence of Ketua Adat in the midst of the current modernization period. The method used in this paper uses a qualitative method with data collection techniques by direct observation. The narratives in this paper are based on the results of in-depth interviews with informants formed in the data and information documentation. The focus of researchers in conducting mini research is on the existence of traditional leaders as seen from the seven elements of culture. The results showed that the Dayak Desa community living in Betang's house in Ensaid Panjang Village still maintained the function and existence of informal leaders. The election of the Ketua Adat Dayak Desa is based on community beliefs based on the charisma, authority and authority of the chosen figure. In addition to the figure of the traditional leader who is obeyed, the Dayak Desa community in Betang House in Ensaid Panjang Village really appreciates the house they use as a reference and guideline for customs in all their lives.
TAYANGAN FILM DOKUMENTER “THE BAJAU” KARYA WATCHDOC: SEBUAH KAJIAN ETNOPEDAGOGI Kadek Nara Widyatnyana
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 5 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v5i1.54917

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tayangan film dokumenter “The Bajau” karya Watchdoc melalui sudut pandang etnopedagogi serta melihat bagaimana problematika suku Bajo yang terdapat dalam tayangan film dokumenter “The Bajau”. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Data didapatkan dari tayangan film dokumenter “The Bajau” pada kanal youtube Watchdoc sekaligus digunakan sebagai subjek penelitian. Objek penelitian ini adalah nilai etnopedagogi dan problematika suku Bajo. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah simak. Empat teknik analisis data digunakan dalam penelitian ini yaitu identifikasi, reduksi, penyajian, dan penarikan simpulan. Hasil dalam penelitian ini menunjukan bahwa ada empat nilai etnopedagogi dari suku Bajo yang terdapat di dalam tayangan film dokumenter “The Bajau” yaitu: ritual penolak bala, cara hidup di laut, kerukunan sesama pelaut, dan pantangan. Selain itu, ada problematika yang ditemukan dan dapat pelestarian nilai-nilai kearifan lokal yang ada di dalam suku Bajo. Problematika tersebut antara lain yaitu ketidakselarasan suku Bajo dengan pemerintah daerah dan suku Bajo dengan perusahaan tambang sehingga dapat membuat pelestarian kearifan lokal menjadi terganggu.
PERSEPSI PETANI TERHADAP PELAKSANAAN TRADISI METHIK PARI DALAM RANGKA MENYAMBUT PANEN PADI DI DESA KARANGANYAR KECAMATAN AMBULU KABUPATEN JEMBER Nanda Ayu Artiani; Ratih Apri Utami; Silviani; Tafvian Devara Efendy
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 5 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v5i1.55484

Abstract

Budaya di Indonesia cukup beragam dan banyak, karena Indonesia terdiri dari ribuan pulau dengan keragaman suku, ras, agama, dan lainnya. Budaya yang ada muncul dari zaman nenek moyang yang terus menurun secara turun temurun. Salah satu budayanya adalah tradisi methik pari. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tahapan tradisi methik pari di Desa Karanganyar Kecamatan Ambulu dan untuk mengetahui persepsi petani terhadap pelaksanaan tradisi methik pari di Desa Karanganyar Kecamatan Ambulu. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif untuk menjelaskan secara detail terkait fenomena. Subyek penelitian yang dipilih adalah para petani yang melakukan tradisi methik pari di Desa Karanganyar Kecamatan Ambulu yang kemudian dilakukan pengumpulan data melalui metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Data yang diperoleh selanjutnya akan dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman yang nantinya akan divalidasi dengan triangulasi. Hasil penelitian ini digunakan untuk dapat mengetahui tahapan dan persepsi petani terhadap tradisi methik pari.
RELASI ADAT DAN AGAMA DALAM TRADISI BAARAK NAGA PADA WALIMAH PERKAWINAN MASYARAKAT BANJAR Habibah Fiteriana
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 5 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v5i1.57305

Abstract

Abstrak Sebagai kodrat makhluk sosial, manusia tentu tidak dapat terlepas dari ketergantungan untuk hidup bersama orang lain. Manusia lahir di tengah-tengah masyarakat, dan tidak mungkin hidup kecuali di tengah-tengah masyarakat pula. Hal inilah yang turut membangun naluri manusia untuk hidup bersama dan terus melestarikan keturunannya. Adapun cara untuk mewujudkan hal tersebut ialah dengan melakukan perkawinan yang sah. Pada masyarakat Banjar, prosesi perkawinan yang digunakan masih berpedoman pada adat yang berlaku sebagai warisan budaya turun-temurun. Selain itu, pelaksanaannya juga dilakukan dengan penuh kehati-hatian agar memenuhi persyaratan yang telah ditentukan oleh fiqih. Sebagai bagian dari proses kehidupan yang sangat berarti bagi pribadi seseorang, sudah sewajarnya apabila prosesi perkawinan tersebut ditandai dengan sesuatu yang sifatnya istimewa, khas, dan unik. Sebagaimana yang akan dijelaskan dalam tulisan ini yaitu tradisi baarak naga pada perkawinan masyarakat Banjar. Tradisi baarak naga membawa perpaduan antara ketentuan adat sebagai panduan tidak tertulis dengan hukum perkawinan Islam sebagai ketentuan formal. Keduanya dipatuhi dan dilaksanakan secara turun-temurun tanpa pergesekan sehingga akhirnya menghasilkan hubungan yang harmonis dan lestari di masyarakat bahkan hingga saat ini. Kata Kunci: Adat dan Agama; Tradisi Baarak Naga; Masyarakat Banjar.
EKSISTENSI TENUN ENDEK BULELENG DI ERA POSTMODERN I Nyoman Sila
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 5 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v5i1.62044

Abstract

Pada era postmodern, teknologi dan globalisasi mengubah banyak aspek kehidupan manusia, keberadaan tenun endek Buleleng menjadi semakin penting sebagai warisan budaya yang harus dilestarikan. Dalam hal ini, dikaji tentang eksistensi tenun endek Buleleng di era postmodern dan mengkaji upaya dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan nilai budaya dan seni terkait produk tenun endek Buleleng. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Subjek penelitian terdiri dari perajin tenun endek di Buleleng. Keabsahan data dalam penelitian menggunakan teknik triangulasi. Data dianalisis dengan langkah langkah:1) menelaah data, 2) reduksi data, 3) menyajikan data, 4) menyimpulkan. Hasil penelitian menunjukkan eksistensi tenun endek Buleleng di era postmodern mengikuti perkembangan teknologi mulai dari alat, bahan, warna, dan juga melakukan inovasi pada motif untuk mendapatkan kualitas produk yang baik. Bahan tenun pada awalnya menggunakan bahan yang terbuat dari benang sutra, maka diganti atau dicampur dengan bahan katun. Sedangkan pewarna yang digunakan awalnya menggunakan pewarna alam, diganti dengan pewarna buatan. Ragam hias atau motif tenun yang pada awalnya menerapkan motif-motif tradisional seperti pepatran, tumbuh-tumbuhan, dan motif geometris, saat ini sudah banyak dikembangkan motif-motif yang menstilir dari lingkungan alam sekitar. Untuk menumbuhkembangkan kembali tradisi tenun di daerah Buleleng menggelar festifal endek, peragaan busana, pameran melibatkan para perajin pada pameran baik yang diselenggarakan oleh Pemkab Buleleng maupun ikut even skala provinsi dan nasional.

Page 1 of 1 | Total Record : 6