cover
Contact Name
Iromi Ilham
Contact Email
ajj.antro@unimal.ac.id
Phone
+6282349345557
Journal Mail Official
ajj.antro@unimal.ac.id
Editorial Address
Gedung Program Studi Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Malikussaleh. Kampus Bukit Indah Jln. Sumatera No.8, Kec. Muara Satu Kota Lhokseumawe, Prov. Aceh, Indonesia.
Location
Kota lhokseumawe,
Aceh
INDONESIA
Aceh Anthropological Journal
ISSN : 26145561     EISSN : 27460436     DOI : 10.29103
Aceh Anthropological Journal (AAJ) accepts the results of empirical research as well as a scientific view of theoretical conceptual using the Anthropological perspective of researchers, academics, and anyone interested in Anthropology studies. These journals apply peer-reviewed process in selecting high quality article. Author’s argument doesn’t need to be in line with editors. The main scope of the submitted article is ethnographic research / qualitative research on topics related to certain ethnic / community communities, arts and cultures of specific communities, cultures and belief systems, ecological studies and their relationships with cultures, belief systems and humanity in Indonesia, in Aceh. The critical review should be concerned with the literature relating to anthropological studies
Articles 199 Documents
KETIKA KESAKRALAN SITUS PURBAKALA MULAI PUDAR (Studi Antropologi Budaya Terhadap Keberadaan Arca Antromorfis Bagi Masyarakat Pakpak Desa Mahala Kecamatan Tinada Kabupaten Pakpak Bharat Sumatera Utara) Siketeng, Lasmayanti
Aceh Anthropological Journal Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v1i1.359

Abstract

Artikel ini melihat Kesakralan Situs Purbakala yang Mulai Pudar, Studi Antropologi Budaya Terhadap Keberadaan Mejan di Desa Mahala Kecamatan Tinada Kabupaten Pakpak Bharat Sumatera Utara. Mejan adalah istilah yang menyatakan patung batu dalam bahasa Pakpak yang berbentuk manusia sedang menunggang gajah atau kuda pada umumnya digunakan sebagai objek berhala dan merupakan simbol kepahlawanan dan benteng pertahanan bagi masyarakat Pakpak. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis deskriptif, data yang digunakan seperti, observasi, wawancara. Observasi dilakukan untuk melihat situs purbakala dan aktivitas masyarakat di Desa Mahala. Tehnik analisis data dalam penelitian ini adalah teknik analisis interaktif dengan tahapan dimulai dari pemilihan masalah, pengumpulan data, menganalisis data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkaan bahwa ada beberapa hal yang menyebabakan terjadinya pergeseran pemahaman masyarakat terhadap situs purbakala seperti mejan saat ini. Pertama, masyarakat telah menyakini agama-agama besar yang telah diakui oleh Negara sehingga kepercayaan terhadap mejan hilang. Kedua, masyarakat telah memahami peraturan hokum yang berlaku di masyarakat. Ketiga, memudarnya pemahaman masyarakat terhadap mejan terkiks oleh kemajuan zaman yang semakin tahun semakin modern. Seiring berjalannya waktu dan kemajuan zaman fungsi mejan mulai berubah, mejan hanya menjadi benda-benda peninggalan yang bersejarah bagi masyarakat.
MOTHER AS WEAPON: REFLECTION ON FAMILIAL SUICIDE TERRORISM IN INDONESIA Sahrasad, Herdi; Tabrani, Dedy; Chaidar, Al; Zakaria, Mursyidin; Ansari, Teuku Syahrul
Aceh Anthropological Journal Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v3i1.2783

Abstract

The article describes about the nuclear family (keluarga batih) suicide bombings. This kind of terrorism called the familial terrorism which carrying out the nuclear family. The world is shocked by the sacrifice of the lives of those who struggle pragmatically to achieve the paradise promised by God. However, a familial suicide bombing left a mark of significant lessons and explanations so that the world community understood why all this happened. So that the phenomenon of family suicide bombing shifts the landscape of extreme violence that occurred in Indonesia, which was previously dominated by men and the action is usually carried out alone or in groups in action, and does not involve family members especially children. Women are also considered to be adept at manipulating situations so that opponents are not easily suspected for security reasons. And do not forget, the trend shows that in Indonesia (Southeast Asia) terrorist threats involving women tend to increase, whether in the form of actions of married couples or with children, the tendency of such terrorism is 'trending'. Therefore, going forward, if this reflection is not too missed, civil society and the state must strive to prevent, be alert and overcome the increasing role of women in acts of terrorism because of the strong trend that women's roles are increasingly optimized and maximized by the terrorist actors in this sadistic, dramatic and brutal action.
INTERPRETASI AGAMA DALAM RUTINITAS KESEHARIAN MASYARAKAT KOTA LANGSA Febriandi, Yogi
Aceh Anthropological Journal Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v2i1.1150

Abstract

This article examines the interpretation of religious teachings in the daily routine of the people of Langsa, Aceh. Langsa is an area that applies Islamic law like Aceh in general. The Langsa religious culture is not different from other Aceh regions. It's just that Langsa, more displays the cosmopolitan region with various ethnicities and religions that have mingled together. In sociology, Langsa displays the criteria for a bureaucratic and semi-industrial middle city. in such conditions, it is interesting to see the interpretation of religion in the Langsa community to see the influence of bureaucratic and semi-industrial modern life. The study was conducted with a phenomenological method with additional data in the form of interviews with 2 informants. The results of the study indicate that the interpretation of religion in Langsa takes various forms. This is because of the difference in the experience of community interaction with social conditions which gives rise to a variety of interpretations. In general, the interpretation of religion in Langsa still shows the condition of the formality where religion as a demand in humans interacts with God, not with humans.
Fenomena Tukang Kredit Di Kampung (Studi Antropologi Ekonomi di Gampong Meunasah Blang Kecamatan Muara Dua Kota Lhokseumawe) Mardiana, Mardiana
Aceh Anthropological Journal Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v1i2.1141

Abstract

Artikel ini mengkaji tentang Fenomena Tukang Kredit Di Kampung, yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana fenomena tukang kredit kampung di Gampong Meunasah Blang Kecamatan Muara Dua Kota Lhokseumawe, dan bagaimana masyarakat tertarik pada transaksi tukang kredit tersebut. Kredit merupakan suatu fasilitas keuangan yang memungkinkan seseorang atau badan usaha untuk meminjam uang untuk membeli produk dan membayarnya kembali dalam jangka waktu yang ditentukan Dengan menggunakan metode penelitiannya adalah pendekatan kualitatif dan yang menjadi tekhnik pengumpulan data melalui observasi dan wawancara. Observasi yang dilakukan adalah obsevasi non-partisipasi, observasi dilakukan untuk melihat bagaimana cara transaksi jual beli kredit dan bagaimana cara mengatasi pembeli yang sulit membayar cicilannya. Sedangkan wawancara dilakukan untuk menanyakan beberapa pertanyaan kepada tukang kredit, pelanggan yang membeli barang secara kredit dan masyarakat yang tidak membeli barang secara kredit. Adapun tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk menjelaskan bagaimana pandangan masyarakat tentang fenomena perkreditan di Gampong Meunasah Blang. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa masyarakat kelas menengah kebawah di Gampong ini menyukai transaksi jual beli barang secara kredit dikarenakan penghasilan mereka yang kurang mampu membeli barang secara tunai atau kontan hal ini diketahui dengan banyaknya barang yang mereka beli secara kredit tidak membeli secara tunai dipasar atau toko-toko yang menjual barang-barang rumah tangga
PROBLEMATIKA DI BALIK PROSES RELOKASI KORBAN BENCANA DI SITI AMBIA Juhaina, Juhaina; Fasya, T. Kemal; Kamil, Ade Ikhsan
Aceh Anthropological Journal Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v3i1.2788

Abstract

Bencana alam selalu memunculkan dampak pembangunan baru di wilayah tertentu. Pembangunan dikonsepsikan sebagai usaha untuk kemajuan ekonomi yang berarti keluar dari zona kemiskinan. Masyarakat harus saling mendukung dalam hal pembangunan, karena masyarakat menentukan keadaan sosial dan pembangunan suatu negara. Dari dampak bencana gempa yang ditimbulkan maka muncullah pembangunan daerah pascabencana untuk memulihkan kembali luka mayarakat. Namun, masyarakat terlihat gagap terhadap pembangunan tersebut, hal ini dapat dilihat dari tingkah laku masyarakat yang lebih memilih kembali ke lokasi awal bencana daripada menempati relokasi bantuan. Penelitian ini mengambil tema pembangunan pasca bencana, dengan pendekatan Antropologi Pembangunan. Studi Antropologi Pembangunan yang digunakan mengangkat judul “Rekonstruksi Kampung Siti Ambia Pascabencana” (Studi Antropologi Pembangunan di Kampung Siti Ambia, Kecamatan Singkil, Kabuaten Aceh Singkil). Metode yang dilakukan dalam penelitian ini ialah jenis sosial kualitatif. Kampung Siti Ambia adalah salah satu Kampung di Kecamatan Singkil yang terkena bencana gempa pada 28 Maret 2005. Dalam penelitian ini penulis menggunakan dua sumber data yakni, data primer dan data sekunder. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui mengapa masyarakat lebih memillih kembali ke tempat semula daripada menempati lokasi bantuan. Padahal lokasi bantuan jauh lebih baik daripada lokasi semula yang mereka tinggali. Dengan penelitian ini penulis berharap akan menambah wawasan mengenai pembangunan pasca gempa dalam studi Antropologi Pembangunan, serta memberi pandangan mengenai pembangunan terhadap masyarakat.
THE SYIAH TURMOIL IN A SHARIA SOIL: An Anthropological Study of Hidden Syiah Minority Entity in Contemporary Aceh Chaidar, Al
Aceh Anthropological Journal Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v2i2.1158

Abstract

Syiah had ever been a major Islamic denomination in Aceh for centuries. This research is not only about how much classical Sharia rules can be a reference to resolve political problems of majority and minority division, but also to examine the power of sharia in protecting and marginalising Syiah. Based mainly on classical Snouck Hurgronje ethnography, this study elaborate the the former sharia as a living law in old Aceh and comparing it with recent legal pluralism of Aceh nowadays. With a spectacular growing of traditional Dayah (conservative Sunnism) in present politics, and the transnational Salafi Wahabism intrusion into Aceh, the position of Syiah is at the most tip of the edge in society. Those who embraced or converted Syiah are living scatteredly all over Aceh by a unique ideo-syncretic way of survival. Achenese Syiah are now facing hardest situation in this Syafiidominated land and hardened with the rage of Wahabism
PENDEKATAN ANTROPOLOGI DALAM PENDIDIKAN ISLAMUNTUK MERAWAT KEMAJEMUKAN Siregar, Mustamar Iqbal
Aceh Anthropological Journal Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v2i1.1146

Abstract

This paper discusses the use of anthropological approaches in Islamic education. In this process, there is a serious effort to integrate and interconnect the two sciences while seeing how far the positive implications are for reformulating the curriculum and the learning process. So that the texture that will be seen from Islamic education is more multicultural. And normatively, Islamic teachings are no longer presented in their textual-partial, radical forms, but are more substantial-contextual. The final projection of methodological creations based on literature review is the emergence of Islamic education as commander for efforts to care for the plurality of the nation in Indonesia. So that the nature of universality and elasticity of Islam is very felt, both among its followers, as well as for allhumanity.
GENTRIFIKASI DAN PERGOLAKAN LAHAN DI KELURAHAN TANJUNG TONGAH KECAMATAN SIANTAR MARTOBA KOTA PEMATANGSIANTAR Anggraeni, Dwi; Fasya, Teuku Kemal; Nasution, Abdullah Akhyar
Aceh Anthropological Journal Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v3i2.2778

Abstract

This article has the theme of land conversion or gentrification that occurred in Tanjung Tongah Village, Martoba District, Pematangsiantar City. In depth, this study will observe and analyze the background of the gentrification process at the research location. This research uses qualitative social methods that are descriptive in nature with observation techniques, in-depth interviews, documentation study and literature study. The results showed that there are several factors behind the occurrence of gentrification in Tanjung Tongah Village, including unclear land ownership status by the community, factors of urban development and urbanization as well as factors of economic turmoil experienced by land owners. Abstrak:  Artikel ini bertema alih fungsi lahan atau gentrifikasi yang terjadi di kelurahan Tanjung Tongah, Kecamatan Martoba, Kota Pematangsiantar. Secara mendalam penelitian ini akan mengamati dan menganalisis latarbelakang terjadinya proses gentrifikasi di lokasi penelitian. Penelitian ini menggunakan metode sosial kualitatif yang bersifat deskriftif dengan teknik observasi, wawancara mendalam, studi dokumentasi dan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa hal yang melatarbelakangi terjadinya gentrifikasi di Kelurahan Tanjung Tongah, di antaranya status kepemilikan lahan yang tidak jelas oleh masyarakat, faktor pembangunan kota dan urbanisasi serta faktor gejolak ekonomi yang dialami oleh masyarakat pemilik lahan.
Rabu Nehah (Studi Etnografi tentang Larangan Turun Kesawan pada Masyarakat Gampong Paloh Kayee Kunyet Kecamatan Nisam) Maulida, Rahmatul
Aceh Anthropological Journal Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v1i1.360

Abstract

Artikel ini berdasarkan penelitian yang dilakukan di Kecamatan Nisam khususnya di Gampong Paloh Kayee Kunyet dengan melihat larangan turun kesawah pada hari rabu di akhir bulan di masyarakat Gampong Paloh Kayee Kunyet. Tradisi Rabu Nehah masih tetap dijalankan oleh masyarakatnya walaupun masyarakat lain sudah tidak menjalankan tradisi ini, sehingga menjadi fenomena yang menarik untuk dikaji lebih mendalam. Artikel ini dilakukan di gampong Paloh Kayee Kunyet Kecamatan Nisam dengan judul “Rabu Nehah”. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif data dikumpulkan melalui wawancara dengan narasumber  Kuejrun Blang. Hasil artikel dapat disimpulkan bahwa tradisi adalah sesuatu yang tidak bisa dihilangkan dari masyarakat. Mengingat tradisi tersebut merupakan kegiatan yang telah dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat Gampong Paloh Kayee Kunyet dari dahulu hingga saat ini. Rabu Nehah adalah tradisi yang masih di jalankan oleh masyarakat Gampong Paloh Kayee Kunyet hingga saat ini pada setiap hari rabu di akhir bulan masyarakat Gampong Paloh Kayee Kunyet dilarang untuk beraktivitas turun kesawah seperti menabur benih, membuka lahan, menanam padi dan semuahal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan sawah terkecuali mereka yang memanen padidiperbolehkan untukturun kesawah. Tujuan dibuatnyarabu nehah ini adalah untuk menolak bala, sehingga masyarakat dapat terhinggar dari segala  sesuatu yang tidak diinginkan sesuai dengan wawancara penulis dengan beberapa masyarakat di Gampong Paloh Kayee Kunyet.    
EATING OUT SEBAGAI GAYA HIDUP (Studi Kasus Fenomena Remaja Kota Banda Aceh di Restoran Canai Mamak KL) Fajarni, Suci
Aceh Anthropological Journal Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v3i1.2784

Abstract

Kegiatan konsumsi mendorong seseorang untuk mereproduksi kehidupannya. Kondisi ini berimplikasi pada menjamurnya restoran, café-café, foodcourt, warung kopi, dan berbagai gerai makanan lainnya. Kajian ini diharapkan mampu mengembangkan wawasan terkait dengan perkembangan gaya hidup remaja Kota Banda Aceh yang mendapatkan kepuasan dan kesenangan yang muncul dari aktivitas eating out. Subjek penelitian adalah kaum remaja yang berusia 17 sampai dengan 30 tahun. Secara garis besar, penelitian ini menunjukkan bahwa eating out telah mewujud dalam kehidupan remaja Kota Banda Aceh dan menjadi kegiatan yang sudah biasa dilakukan sehingga menjadi gaya hidup (life style). Ia berhubungan dengan persoalan selera, habitus seseorang, lingkungan,dan interaksi sosial. Eating out juga dapat menjadi arena bertemunya bentuk-bentuk modal, habitus dan praktek sosial remaja.

Page 3 of 20 | Total Record : 199