cover
Contact Name
Iromi Ilham
Contact Email
ajj.antro@unimal.ac.id
Phone
+6282349345557
Journal Mail Official
ajj.antro@unimal.ac.id
Editorial Address
Gedung Program Studi Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Malikussaleh. Kampus Bukit Indah Jln. Sumatera No.8, Kec. Muara Satu Kota Lhokseumawe, Prov. Aceh, Indonesia.
Location
Kota lhokseumawe,
Aceh
INDONESIA
Aceh Anthropological Journal
ISSN : 26145561     EISSN : 27460436     DOI : 10.29103
Aceh Anthropological Journal (AAJ) accepts the results of empirical research as well as a scientific view of theoretical conceptual using the Anthropological perspective of researchers, academics, and anyone interested in Anthropology studies. These journals apply peer-reviewed process in selecting high quality article. Author’s argument doesn’t need to be in line with editors. The main scope of the submitted article is ethnographic research / qualitative research on topics related to certain ethnic / community communities, arts and cultures of specific communities, cultures and belief systems, ecological studies and their relationships with cultures, belief systems and humanity in Indonesia, in Aceh. The critical review should be concerned with the literature relating to anthropological studies
Articles 198 Documents
Dilema Korban Dating Violence: Studi Kasus Persepsi Pribadi Perempuan Andari, Putri; Savitri, Nita; Rifai, Muhammad
Aceh Anthropological Journal Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v9i1.21525

Abstract

This study aims to explore the dilemma experienced by female victims of dating violence by examining the internal, external, and socio-cultural factors that prevent them from leaving abusive relationships. Employing a qualitative approach with ethnographic nuances, the research was conducted in Medan among late adolescent girls through observation and cultural theme analysis. The findings reveal that internal factors”such as the need for love, safety, esteem, and self-actualization (as proposed by Maslow), emotional dependency, fear of loss, and a lack of awareness of manipulative behaviors”significantly influence victims decisions to remain in harmful relationships. External factors, including the absence of a father figur, identity crises during adolescence, and the influence of social environments, further increase their vulnerability to emotional exploitation. In addition, socio-cultural factors also play a critical role in sustaining dating violence. Patriarchal norms, masculine dominance, and folklore surrounding female purity act as social controls that restrict women's autonomy and reinforce unequal gender relations. The intersection of these three dimensions”personal, social, and cultural”creates complex barriers that entrap victims in ongoing cycles of abuse, often without their full awareness. This study highlights the urgent need for comprehensive interventions, including relationship education, empowerment of adolescent girls, and the deconstruction of patriarchal values embedded in everyday life.Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk memahami dilema yang dialami perempuan korban dating violence (kekerasan dalam hubungan pacaran), dengan menelusuri faktor-faktor internal, eksternal, serta sosial budaya yang memengaruhi keputusan mereka untuk tetap bertahan dalam hubungan yang bersifat abusif. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan nuansa etnografi, penelitian dilakukan di Kota Medan terhadap remaja perempuan akhir melalui observasi dan analisis tema kultural. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor internal seperti kebutuhan dasar manusia (cinta, rasa aman, penghargaan), ketergantungan emosional, rasa takut kehilangan pasangan, serta ketidaksadaran akan kondisi manipulatif menjadi penghambat utama korban untuk keluar dari relasi yang merugikan. Sementara itu, faktor eksternal seperti kurangnya peran ayah, krisis identitas remaja, dan pengaruh lingkungan sosial memperkuat kerentanan korban terhadap eksploitasi emosional. Lebih lanjut, faktor sosial budaya juga berkontribusi signifikan terhadap normalisasi kekerasan dalam hubungan pacaran. Nilai-nilai patriarki, dominasi maskulinitas, serta keberadaan folklore tentang kesucian perempuan menjadi kontrol sosial yang mengekang dan menempatkan perempuan dalam posisi subordinat. Ketiga kategori faktor ini saling berkaitan dan membentuk kondisi yang membuat korban terus terjebak dalam siklus kekerasan tanpa menyadari bahwa hubungan tersebut telah merusak integritas diri mereka. Penelitian ini merekomendasikan pentingnya pendidikan relasi sehat, penguatan identitas diri, serta pembongkaran nilai-nilai patriarki dalam membangun sistem dukungan yang lebih adil dan transformatif bagi remaja perempuan.
Mpu Uteun: The Role and Challenges of Female Initiators in Preserving Forest Functions Fatia, Dara; Alfina, Melisa
Aceh Anthropological Journal Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v9i1.21608

Abstract

Forest degradation in Aceh, particularly in Damaran Baru Village, has triggered ecological disasters that directly affect the lives of local communities, especially women. Motivated by environmental concern and a sense of responsibility, a group of women led by a female initiator established Mpu Uteun, a community-based forest protection initiative. This study aims to examine the roles and challenges faced by female initiators in preserving forest functions through the activities of Mpu Uteun. Using a qualitative case study approach, data were collected through participant observation, in-depth interviews, and documentation, with informants selected purposively. The findings reveal that Mpu Uteun plays a vital role in forest conservation through regular patrols, legal advocacy for social forestry permits, and community empowerment initiatives. However, their efforts are confronted by structural challenges, including gender bias, limited resources, and inadequate governmental support. This study highlights how women's leadership in environmental conservation not only overcomes social and institutional barriers but also redefines gender roles in sustainable natural resource governance.Abstrak: Kerusakan hutan di Aceh, termasuk di Kampung Damaran Baru, telah menimbulkan bencana ekologis yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat, khususnya perempuan. Berangkat dari kepedulian terhadap kondisi tersebut, sekelompok perempuan yang dipimpin oleh seorang inisiator membentuk Mpu Uteun, sebuah komunitas perlindungan hutan berbasis perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran dan tantangan yang dihadapi oleh perempuan inisiator dalam upaya pelestarian fungsi hutan melalui kelompok Mpu Uteun. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode studi kasus. Teknik pengumpulan data meliputi observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi, dengan informan yang dipilih secara purposif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok Mpu Uteun memiliki peran strategis dalam menjaga hutan melalui kegiatan patroli, advokasi perizinan hutan sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Namun, keberhasilan mereka tidak lepas dari berbagai tantangan struktural, seperti bias gender, keterbatasan sumber daya, dan minimnya dukungan pemerintah. Temuan ini menunjukkan bahwa kepemimpinan perempuan dalam konservasi hutan tidak hanya mampu mengatasi hambatan sosial, tetapi juga merekonstruksi peran gender dalam tata kelola sumber daya alam yang berkelanjutan.
Analisis Strategi Representasi Diri dan Personal Branding pada Beauty Content Creator di Instagram Reels Rifayani, Tsanaara Qinthara; Harahap, Junardi
Aceh Anthropological Journal Vol. 9 No. 2 (2025)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v9i2.22485

Abstract

The rise of short-form video platforms, specifically Instagram Reels, has transformed social media into a crucial, highly strategic stage for individuals to perform and negotiate their identities. This study critically analyzes the self-representation and personal branding strategies employed by Fani Rahmawati, a beauty content creator, on Instagram Reels to build a public image that is both credible and emotionally relatable. Utilizing a descriptive qualitative approach and virtual ethnography, the research delves into the subtle symbolic, social, and performative dynamics inherent in digital identity construction. Data collection relied on participative observation of Fani's Reels content (March–April 2024) and in-depth interviews with the creator, her videographer, and an active follower. Trustworthiness was ensured through source triangulation and member-checking. Thematic analysis, informed by Goffman's impression management and Jones and Pittman's strategic self-presentation, revealed five interconnected themes: visual consistency, an intimate communication style, constructed authenticity, emotional audience engagement, and the significant role of the production team. The findings indicate that Fani successfully fosters a "friendly older sister" persona by deliberately mixing aesthetic consistency, the use of informal, engaging language (ingratiation), and the calculated disclosure of personal narratives to establish high credibility. This branding process is shown to be less about individual spontaneity and more about a collective practice negotiated among the creator, her team, and the platform’s algorithmic demands. This research contributes to digital anthropology and media studies by arguing that personal branding on visual short-video platforms is a complex social performance rooted in strategic impression management, the cultivation of parasocial relationships, and crucial production collaboration. Abstrak: Meningkatnya popularitas platform video pendek, khususnya Instagram Reels, telah menjadikan media sosial sebagai panggung strategis yang penting bagi individu untuk menampilkan dan menegosiasikan identitas mereka. Penelitian ini menganalisis secara kritis strategi representasi diri dan personal branding yang dijalankan oleh Fani Rahmawati, seorang beauty content creator, di Instagram Reels guna membentuk citra publik yang kredibel dan memiliki kedekatan emosional. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan etnografi virtual, penelitian ini menggali dinamika simbolik, sosial, dan performatif yang tersirat dalam konstruksi identitas digital. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif terhadap konten Reels Fani (Maret–April 2024) dan wawancara mendalam dengan tiga informan kunci: kreator, videografer, dan pengikut aktif. Keabsahan data dijamin melalui triangulasi sumber dan member-checking. Analisis tematik, yang berlandaskan pada kerangka impression management Goffman dan strategic self-presentation Jones dan Pittman, mengidentifikasi lima tema utama yang saling terkait: konsistensi visual, gaya komunikasi akrab, autentisitas terkonstruksi, keterlibatan emosional audiens, serta peran signifikan tim produksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesuksesan Fani dalam membangun persona "kakak bersahaja" bersumber dari perpaduan strategis antara konsistensi estetika, penggunaan bahasa informal yang menarik (ingratiation), dan pengungkapan narasi personal yang diperhitungkan untuk menciptakan kredibilitas tinggi. Proses branding ini membuktikan bahwa ia bukan sekadar spontanitas individu, melainkan praktik kolektif yang dinegosiasikan antara kreator, timnya, dan tuntutan algoritmik platform. Studi ini berkontribusi pada kajian antropologi digital dan studi media dengan menegaskan bahwa personal branding di platform video pendek visual merupakan performa sosial yang kompleks, didorong oleh manajemen kesan strategis, pembentukan hubungan parasosial, serta kolaborasi produksi yang krusial.
Peran dan Makna Ritual Nyambai dalam Pelestarian Nilai Adat dan Identitas Budaya Masyarakat Lampung Azzahra, Ladya; Kariswan, Kariswan; Sari, Lisa Retno
Aceh Anthropological Journal Vol. 9 No. 2 (2025)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v9i2.19687

Abstract

The Nyambai ritual represents one of Lampung's distinctive cultural heritages that embody local customs, belief systems, and social cohesion. This study aims to explore the Nyambai ritual as a traditional practice that contributes to the preservation of cultural values, ancestral veneration, and collective identity among Lampung communities. Adopting a qualitative approach, this research employs a literature review method based on journal publications from 2015 to 2025. Data were analyzed using a qualitative content analysis technique through stages of data collection, reduction, and interpretation. Findings reveal that the Nyambai ritual encapsulates essential social values such as social harmony, respect for ancestors, adherence to local norms, spirituality, and cultural identity formation. Moreover, this ritual demonstrates adaptive dynamics in response to social and environmental transformations, enabling the community to innovate while maintaining the authenticity of tradition. The active involvement of younger generations ensures the continuity of Nyambai as a medium for intergenerational knowledge transmission. Consequently, the Nyambai ritual functions not only as a cultural and spiritual expression that connects the community with their ancestors and nature but also as a symbol of Lampung identity amid contemporary changes. Abstrak: Ritual Nyambai merupakan salah satu warisan budaya khas masyarakat Lampung yang merefleksikan sistem kepercayaan, nilai sosial, dan tatanan adat setempat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ritual Nyambai sebagai praktik tradisional yang berperan dalam pelestarian nilai budaya, penghormatan kepada leluhur, serta penguatan identitas kolektif masyarakat Lampung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan yang bersumber dari publikasi ilmiah periode 2015–2025. Analisis data dilakukan melalui tahapan pengumpulan, reduksi, serta interpretasi data menggunakan teknik analisis isi kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritual Nyambai mengandung nilai-nilai sosial penting seperti keharmonisan masyarakat, penghormatan terhadap leluhur, kepatuhan pada norma adat, spiritualitas, serta pembentukan identitas budaya. Selain itu, ritual ini menunjukkan dinamika dan adaptasi terhadap perubahan sosial dan lingkungan tanpa menghilangkan esensi tradisi. Keterlibatan aktif generasi muda menjadi faktor kunci dalam menjamin keberlanjutan ritual ini sebagai wahana pewarisan nilai budaya. Dengan demikian, ritual Nyambai tidak hanya berfungsi sebagai praktik budaya dan ekspresi spiritual, tetapi juga menjadi simbol identitas Lampung di tengah arus modernitas yang terus berkembang.
Analisis Komunikasi antar Budaya Mahasiswa Papua dengan Masyarakat Kota Lhokseumawe: - Mubarroq, Raveal; Masriadi, Masriadi; Muchlis, Muchlis; Zahari, Zahari
Aceh Anthropological Journal Vol. 9 No. 2 (2025)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v9i2.22875

Abstract

This study explores the dynamics of intercultural communication among Papuan students in Lhokseumawe, Aceh, a region where two contrasting cultural systems meet: the egalitarian and expressive Papuan culture and the Islamic-based Acehnese social order. Employing a qualitative approach through interviews and participant observation with seven informants, the research applies Young Yun Kim’s Integrative Theory of Cross-Cultural Adaptation to analyze stages of adjustment experienced by the students. Findings reveal a gradual intercultural communication process encompassing four major phases: culture shock, initial adjustment, active adaptation, and integration. The most salient barriers involve linguistic gaps, dress norms, and differing perceptions of religious values. Nevertheless, local peers and the academic environment play a crucial role in facilitating smoother adaptation. The Papuan students demonstrate a strong adaptive capacity, integrating local norms while preserving their cultural identity. The study highlights that successful intercultural communication in religiously governed contexts like Aceh depends largely on mutual empathy, openness, and sustained social support. Abstrak: Penelitian ini menelaah dinamika komunikasi antarbudaya mahasiswa Papua di Kota Lhokseumawe, Aceh, dalam konteks pertemuan dua sistem nilai yang berbeda: budaya Papua yang egaliter dan ekspresif dengan budaya Aceh yang berlandaskan Syariat Islam dan norma sosial yang ketat. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara dan observasi terhadap tujuh informan, penelitian ini mengkaji tahapan adaptasi yang dialami mahasiswa Papua berdasarkan teori Integrative Cross-Cultural Adaptation dari Young Yun Kim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses komunikasi lintas budaya berlangsung secara bertahap melalui empat fase utama: culture shock, penyesuaian awal, adaptasi aktif, dan integrasi. Hambatan utama muncul pada perbedaan bahasa, cara berpakaian, serta persepsi terhadap norma agama, namun interaksi dengan teman lokal dan lingkungan kampus berperan signifikan dalam mempercepat proses adaptasi. Mahasiswa Papua menunjukkan kemampuan adaptif yang tinggi dengan menginternalisasi nilai lokal tanpa kehilangan identitas budaya asal. Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan komunikasi antarbudaya di wilayah berkarakter religius seperti Aceh sangat dipengaruhi oleh empati, keterbukaan, dan dukungan sosial lintas kelompok.
Non-Muslim Community Resistance to Worship House Regulations in Sanggaberu, Aceh Singkil Mardayanti, Lisa; Fajarni, Suci; Majid, Abdul
Aceh Anthropological Journal Vol. 9 No. 2 (2025)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v9i2.23150

Abstract

The establishment of houses of worship in Aceh Singkil exposes persistent tensions between religious freedom and diversity governance rooted in local regulations. This study analyzes the resistance strategies of the non-Muslim community in Sanggaberu to establish the GKPPD church and assesses how Aceh Qanun No. 4/2016 and Governor Regulation No. 25/2007 operate in practice. Adopting a qualitative single-case design with observation, in-depth interviews, and document review, purposively selected informants (non-Muslim leaders, Muslim leaders, and residents) were thematically analyzed. Findings indicate that complex licensing requirements—thresholds of users/supporters and multilayered recommendations—intertwine with majority social resistance, producing delays and failed permits despite formal compliance. In response, the community deploys three non-confrontational strategies: legal-advocacy through official licensing channels and legal consultation; socio-cultural dialogue and deliberation across faiths; and internal solidarity and spiritual reinforcement via rotational worship in temporary tents to sustain religious practice and cohesion. The gap between administrative compliance and social reality enables policy to function as an instrument of majority domination; therefore, more transparent and inclusive governance, alongside strengthened mediation capacities of FKUB and village authorities, is essential for harmonization. Abstrak: Pendirian rumah ibadah di Aceh Singkil menyingkap ketegangan antara kebebasan beragama dan tata kelola keberagaman yang berlandaskan regulasi lokal. Studi ini menganalisis strategi resistensi komunitas non-Muslim di Sanggaberu untuk mendirikan GKPPD serta memeriksa bagaimana Qanun Aceh No. 4/2016 dan Pergub NAD No. 25/2007 bekerja pada aras praktik. Menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus melalui observasi, wawancara mendalam, dan telaah dokumen, informan dipilih secara purposif (pemuka non-Muslim, pemuka Muslim, dan warga), lalu data dianalisis secara tematik. Hasil menunjukkan bahwa kerumitan perizinan—ambang jumlah pengguna/pendukung dan rekomendasi berlapis—berkelindan dengan resistensi sosial mayoritas, sehingga memicu penundaan bahkan kegagalan izin meski persyaratan formal dipenuhi. Menjawab kondisi ini, komunitas menggerakkan tiga strategi non-konfrontatif: jalur legal-advokasi melalui kanal perizinan dan konsultasi hukum; pendekatan sosio-kultural berbasis dialog dan musyawarah lintas iman; serta penguatan solidaritas dan spiritualitas internal melalui ibadah bergilir di tenda darurat untuk menjaga kohesi dan keberlanjutan praktik keagamaan. Kesenjangan antara kepatuhan administratif dan realitas sosial membuat kebijakan mudah berfungsi sebagai instrumen dominasi mayoritas; karena itu, tata kelola yang lebih transparan, inklusif, dan berbasis keadilan substantif, berikut penguatan kapasitas mediasi FKUB dan otoritas desa, menjadi prasyarat harmonisasi.
Tradisi Ratik Tolak Bala dan Ketahanan Pangan Masyarakat Koto Gadang VI Koto Septriani, Septriani; Gani, Maulid Hariri; Aziz, Basyarul; Arianto, Tomi
Aceh Anthropological Journal Vol. 9 No. 2 (2025)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v9i2.23811

Abstract

The food security of the Koto Gadang VI Koto community in Agam Regency, West Sumatra, is frequently threatened by crop failures caused by pests such as rats and planthoppers. This study aims to describe how the ratik tolak bala tradition functions as a cultural strategy for maintaining local food security. Employing a qualitative descriptive-analytical approach, the research collected data through participant observation, in-depth interviews with traditional and religious leaders, farmers, and field documentation. Data analysis used the interactive model of Miles and Huberman (reduction, display, conclusion drawing) and was interpreted through C.A. Van Peursen’s framework of tradition (mystical, ontological, and functional stages). The findings reveal that ratik tolak bala originated as a communal response to pest attacks threatening rice crops—the main food source. The ritual consists of two stages: ratik duduak (collective chanting in the mosque) and ratik tagak (processional chanting around the village), accompanied by the application of paureh, a herbal mixture of local plants, and field sanitation activities. Led by a mursyid (religious teacher), the ritual effectively reduced pest infestations, restored harvest yields, and ensured stable household rice stocks. Theoretically, the practice reflects a transition from mystical belief to functional rationality consistent with FAO’s four food security pillars: availability, access, utilization, and stability. Abstrak: Ketahanan pangan masyarakat Nagari Koto Gadang VI Koto di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, kerap terancam akibat gagal panen yang disebabkan oleh serangan hama seperti tikus dan wereng. Penelitian ini bertujuan menjelaskan bagaimana tradisi ratik tolak bala berfungsi sebagai strategi budaya masyarakat dalam menjaga ketahanan pangan lokal. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif analitis. Data dikumpulkan melalui observasi partisipan, wawancara mendalam dengan tokoh adat, tokoh agama, petani, serta dokumentasi lapangan. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan, serta ditafsirkan melalui kerangka teori C.A. Van Peursen (mistis, ontologis, dan fungsional). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ratik tolak bala berawal dari upaya masyarakat menghadapi serangan hama yang mengancam sumber pangan. Tradisi ini dilaksanakan melalui dua tahapan utama, yaitu ratik duduak (dzikir di masjid) dan ratik tagak (dzikir keliling kampung), diikuti dengan penggunaan ramuan paureh dari dedaunan lokal dan pembersihan lahan pertanian. Pelaksanaan ritual yang dipimpin mursyid ini terbukti mampu menekan serangan hama, memulihkan hasil panen, dan menjaga keberlanjutan stok pangan rumah tangga. Secara teoritis, tradisi ini menunjukkan peralihan dari keyakinan mistis menuju fungsi rasional yang selaras dengan prinsip ketahanan pangan FAO: ketersediaan, akses, pemanfaatan, dan stabilitas.
Work Ethic and Cultural Identity of Kaili Doi Fishermen: A Thematic Analysis In Towale Village, Central Sulawesi Akramullah, Ahmad
Aceh Anthropological Journal Vol. 9 No. 2 (2025)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v9i2.24178

Abstract

The condition of traditional fishermen in Towale Village is still concerning, but their enthusiasm and efforts never fade in carrying out their activities as traditional fishermen. The purpose of this study is to determine how the work ethic of traditional fishermen as a cultural identity of kaili fishermen in Towale Village, Central Sulawesi. This study uses a qualitative method with a descriptive type. This research was conducted in Towale Village, Central Sulawesi. Informants in this study numbered 6 people consisting of 1 key informant and 5 regular informants. The determination of informants used purposive sampling. The data collection techniques were carried out through observation, interviews, and documentation. After data collection, the researcher selected and grouped data in accordance with the research objectives, and focused on data that were considered important, so as to provide a clearer picture. Next, the author made more details and explanations of the data that had been found to more easily achieve the research objectives. The results of this study indicate that the work ethic of traditional fishing communities is related to the work motivation of each individual to achieve a certain goal or ideal so that the fishermen's work ethic is formed by the motivation and drive that radiates from their fundamental attitude towards work. Upholding honesty is a noble work ethic that is absolutely necessary and non-negotiable, if you want to become a superior professional with noble morals. The fishing community in Towale Village certainly also has its own motivation that makes them diligent and sincere in working and producing something valuable. Abstrak: Tujuan Nelayan tradisional di Desa Towale keadaannya masih memperihatinkan namun, semangat dan usaha mereka tidak pernah pudar dalam melakukan aktivitas sebagai nelayan tradisional. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tentang bagaimana etos kerja nelayan tradisional sebagai identitas kultural pada nelayan kaili doi di Desa Towale Sulawesi Tengah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan tipe deskriptif. Penelitian ini dilakukan di Desa Towale Sulawesi Tengah. Informan dalam penelitian ini berjumlah 6 orang yang terdiri dari 1 informan kunci dan 5 informan biasa. Penentuan informan menggunakan porposive sampling. Adapun teknik pengumpulan data di lakukan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Setelah pengumpulan data, peneliti memilih dan mengelompokkan data yang sesuai dengan tujuan penelitian, serta memfokuskan pada data-data yang dianggap penting, sehingga dapat memberikan gambaran yang lebih jelas. Selanjutnya, penulis membuat secara lebih rinci dan penjelasan terhadap data yang telah ditemukan agar lebih mudah mencapai tujuan penelitian.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Etos kerja masyarakat nelayan tradisional berkaitan dengan motivasi kerja setiap individu untuk mencapai suatu tujuan atau cita-cita tertentu sehingga etos kerja para nelayan terbentuk oleh adanya motivasi dan dorongan yang terpancar dari sikap hidupnya yang mendasar terhadap kerja. Menjunjung tinggi kejujuran merupakan etos kerja mulia yang mutlak di perlukan dan tidak dapat ditawar lagi, kalau ingin menjadi profesional unggul berakhlak mulia. Masyarakat nelayan di Desa Towale tentunya juga memiliki motivasi sendiri-sendiri yang membuat mereka tekun dan ikhlas dalam bekerja dan menghasilkan sesuatu yang berharga.