cover
Contact Name
Singgih Subiyantoro
Contact Email
singgihsubiyantoro@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
singgihsubiyantoro@yahoo.com
Editorial Address
Pascasarjana Kependidikan UNS lantai 2
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Edudikara: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran
ISSN : 25410261     EISSN : 27459969     DOI : https://doi.org/10.32585/
Core Subject : Education,
Edudikara: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran merupakan jurnal ilmiah berskala nasional yang dikelola oleh Ikatan Profesi Teknologi Pendidikan Indonesia cabang Surakarta (IPTPI Surakarta). Edudikara terbit berkala per 3 bulan sekali, yakni Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 393 Documents
PERAN KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PENDIDIKAN DI SEKOLAH DASAR Moefty Mahendra
Edudikara: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 3 No. 1 (2018): March
Publisher : IPTPI Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/edudikara.v3i1.82

Abstract

Tujuan dalam penelitian ini untuk mendeskripsikan peranan, kendala, dan solusi kepemimpinan Kepala Sekolah dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Sekolah Dasar Negeri Kenep 01 Tahun Pelajaran 2016/2017. Jenis penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif. Subyek penelitian meliputi empat informan diantaranya kepala sekolah, guru dan karyawan, siswa serta penjaga sekolah. Alat pengumpulan data menggunakan observasi partisipasipasif, wawancara dan dokumentasi. Teknik dalam menganalisis data penelitian ini yaitu analisis interaktif yang meliputi reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan. Sementara itu dalam keabsahaan data menggunakan trianggulasi sumber, trianggulasi waktu dan trianggulasi teknik. Hasil penelitian menunjukan bahwa peran kepemimpinan kepala sekolah dasar negeri kenep 01 yaitu, mampu memberdayakan pendidik dan tenaga kependidikan, dapat menyelesaikan pekerjaan secara tepat waktu, mampu menjalin hubungan yang harmonis, tingkat kedewasaan pendidik dan tenaga pendidik, dapat bekerja secara kolaboratif dengan tim manajemen sekolah, produktif, dan akuntabel sesuai dengan ketentuan yang telah di tetapkan.Kendala kepemimpinan diantaranya faktor guru, siswa, dan saran prasarana. Kendala tersebut diatasi melalui pengorganisasian kepala sekolah terhadap guru dan siswa secara tegas dan disiplin sesuai tugas, pokok, dan fungsi masing-masing.
MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPEMAKE A MATCH SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR BAHASA JAWA Suparmi Suparmi
Edudikara: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 3 No. 1 (2018): March
Publisher : IPTPI Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/edudikara.v3i1.83

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar bahasa Jawamateri membaca huruf jawasiswa melalui model pembelajaran kooperatif tipe make a match pada siswa kelas IX A SMP Negeri 2 Sukoharjo semester I tahun pelajaran 2016/ 2017. Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan di kelas IX A SMP Negeri2 Sukoharjo semester I tahun pelajaran 2016/ 2017yang berjumah 32 siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes, observasi, dan dokumentasi.Tahap-tahap analisis data dalam penelitian ini adalah pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Indikator keberhasilan adalah nilai rata-rata tes siswa sekurang-kurangnya 80,0 dan banyak siswa dengan nilai di atas kriteria ketuntasan minimal (KKM) yaitu75,0 mencapai ≥ 85%.Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe make a match dapat meningkatkan hasil belajar bahasa Jawa materi membaca huruf Jawa siswa kelas IX A SMP Negeri 2 Sukoharjo. Sebelum tindakan/prasiklus,hasil belajar siswa yang mencapai KKM 15 siswa atau 46,9%, pada siklus I, 23 siawa atau 71,9% dan pada siklus II, 30 siswa atau 93,75%. Nilai rata-rata kelas sebelum tindakan/prasiklus sebesar 69,03 setelah tindakan siklus I sebesar 78,22 dan setelah tindakan siklus II sebesar 82,53.
PERSEPSI DAN MINAT SISWA SMA/SMK TERHADAP PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN Sri Hartati; A. Intan Niken Tari; Novian Wely Asmoro
Edudikara: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 3 No. 1 (2018): March
Publisher : IPTPI Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/edudikara.v3i1.84

Abstract

Penelitianinibertujuanuntukmengetahuipersepsi dan minat siswaSMA/SMK terhadapprodi THP.Penelitianinimerupakanpenelitiandeskriptifkuantitatif.Metode yang digunakandalampenelitianiniadalahmetodesurvei.Instrumen yang digunakanadalahangket atau kuesioner.selanjutnyadiujireliabilitasnyasebagai instrumen. PopulasidalampenelitianiniadalahseluruhsiswakelasXI dan XIIdenganjumlah sekitar 100siswa yang diambil dengan sampling dari beberapa sekolah yang berada di wilayah Sukoharja dan sekitarnya. Teknikanalisis data dilakukandengan analisis diskriptif statistik dan korelasi sederhana dengan bantuan program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi siswa SMA/SMK tentang Prodi Teknologi Hasil Pertanian (THP) didominasi kategori sedang (71,13 %), positif (15,47%) dan negatif (13,40% ), demikian pula minat siswa SMA/SMK terhadap THP adalah 17,53% tinggi, 69,07% sedang dan 13,04% rendah.Tidak terdapat korelasi antara persepsi dan minat siswa SMA/SMK terhadap Prodi Teknologi Hasil Pertanian (THP).
STRATEGI MENINGKATKAN EMOTION REGULATION PELAKU BULLYING MELALUI LAYANAN INFORMASI Mirnayenti Mirnayenti
Edudikara: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 3 No. 1 (2018): March
Publisher : IPTPI Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/edudikara.v3i1.85

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk membahas bagaimana strategi meningkatkan emotion regulastion pelaku bullying melalui layanan informasi.Pemikirandan perilaku individu sangat dipengaruhi oleh emosi itu sendiri. Siswa yang mengalami emosi negatif, namun memilikikemampuan dalamemotion regulastion akan tetap berpikir jernih. Perilakuyang ditunjukan tetap berdasarkan logika dan kesadaran untuk tidak merugikan orang lain. Adapun perilaku yang merugikan adalah perilaku bullying, sehiggga perlu dilakukan strategi untuk meningkatkan emotion regulastion pelaku bullying melalui layanan informasi.Pelaksanaan layanan informasi dilakukan melalui beberapa lima tahap pelaksanaanyaitu: a. perencanaan kegiatan, b. pelaksanaan mengoranisasikan kegiatan, c. evaluasi, d. tindaklanjut dan e. pelaporan.Format yang digunakan dalam layanan ini adalah klasikal.Materi yang dikembangkan akan diselaraskan dengan aspek-aspek emotion regulation. Adapun fungsi yang ditekankan dalam layanan adalah pemahaman tentang emotion regulationdan bullying, pencegahan akan terjadinya gejala-gejala dalam perilaku bullying, dan pengembangan terhadap emotion regulation.
KONSELING ISLAMI UNTUK MENINGKATKAN SELF-EFFICACY SISWA KELAS XI Aldila Fitri Radite Nur Maynawati
Edudikara: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 3 No. 4 (2018): December
Publisher : IPTPI Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/edudikara.v3i4.90

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui tingkat self-efficacy siswa Kelas XI MA Muhammadiyah Bekonang Sukoharjo dan efektifitas konseling Islami untuk meningkatkan self-efficacy siswa kelas XI MA Muhammadiyah Bekonang. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian eksperimen. Alat pengumpul dat apada penelitian ini yaitu skala psikologi. Pada penelitian ini awalnya peneliti menggunakan pretest terlebih dahulu baru diberikan treatment atau konseling Islami setelah itu baru lah posttest. Hasil penelitian terdapat 7 item skala self-efficacy yang tidak valid. Kemudian peneliti mengambil 3 siswa dengan skor self-efficacy terendah untuk diadakan treatmen atau konseling selama 2 kali pertemuan dengan pendekatan konseling Islami. Setelah itu dari ketiga siswa tersebut diberikan posttest dan hasilnya menunjukkan ada peningkatan sebesar 20 poin dari sebelum treatment. Sehingga dapatdisimpulkan tingkat self-efficacy siswa kelas XI adalah sedang dengan skor rerata 79.75, dan konseling Islami efektif untuk meningkatkan self-efficacy siswa kelas XI MA Muhammadiyah Bekonang.
PENGGUNAAN MODEL TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATIONUNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR ALGORITMA PERCABANGAN Eka Dwi Erinawati
Edudikara: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 3 No. 2 (2018): June
Publisher : IPTPI Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/edudikara.v3i2.91

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar Algoritma percabangan pada Mata Pelajaran Pemrograman Dasar bagi siswa Sekolah Menengah Kejuruan Kompetensi Keahlian Multimedia tahun pelajaran 2017/2018. Jenis Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas. Kegiatan penelitian ini dilakukan dalam dua siklus. Data yang diperoleh berupa nilai tes pada siklus I dan nilai tes pada siklus II. Hasil evaluasi belajar dari siklus II mengalami peningkatan yang sangat signifikan yaitu rata-rata kelasnya dari 2,63 pada siklus I menjadi 2,97 atau mengalami peningkatan sebesar 0,34 dan ketuntasan belajar klasikal meningkat dari 48,48 persen pada siklus I menjadi 90,91 persen atau mengalami peningkatan sebesar 42,43 persen. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa secara teoritik dan empirik melalui pembelajaran dengan penggunaan metode pembelajaran kooperatif model TAI dapat meningkatkan hasil belajar siswa Kompetensi Keahlian Multimedia Sekolah Menengah Kejuruan
PERAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DALAM KELUARGA TERHADAP PERILAKU ANAK Talizaro Tafonao
Edudikara: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 3 No. 2 (2018): June
Publisher : IPTPI Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/edudikara.v3i2.92

Abstract

Tujuan pendidikan Agama Kristen dalam keluarga adalah untuk mengajarkan tentang hubungan manusia dengan Tuhan serta ciptaan-Nya.Pendidikan Agama Kristen dapat dilakukan di dalam keluarga, sekolah dan tempat ibadah tanpa dibatasi ruang dan waktu.Selain itu, peran pendidikan Agama Kristen harus mengajarkan tentang kehidupan yang nyata kepada anak-anak, agar anak-anak mengerti tentang tujuan kehidupan ini.Pendidikan Agama Kristen dalam keluarga sangat penting diterapkan oleh orang tua di zaman sekarang.Salah satu peran pendidikan Agama Kristen dalam keluarga saat ini adalah mengupayakan kerjasama ayah dan ibu dalam mendidik anak serta menciptakan keharmonisan dalam keluarga.Oleh karena itu, keluargamerupakan lingkungan yang paling utama dalam melakukan pembentukan sosial kepada anak-anak. Jadi, peranan orang tua dalam mengasuh anak-anak sangatlah penting, bukan hanya anak belajar dan mengalami pertumbuhan di dalam keluarga, tetapi seluruh anggota keluarga dapat saling belajar dari yang lain melalui interaksi satu sama lain.Akan tetapi, semuanya itu tidak lepas dari keteladanan orangtua dalam keluarga.
MENGENAL GENERASI MILINEAL GUNA KESIAPAN TENAGA PENDIDIK DAN DOSEN DI INDONESIA Muh Husyain Rifai
Edudikara: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 3 No. 2 (2018): June
Publisher : IPTPI Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/edudikara.v3i2.93

Abstract

Tulisan ini berisi tentang generasi millenial yang tengah tumbuh menjadi dewasa pada tahun 2018 yang memilikikarakteritik berbeda dari generasi lainnya. Seorang pendidik maupun dosen yang mengajar di perguruan tinggi harus mengetahui karakter dan kebiasaan yang melekat pada generasi ini yang saat ini menjadi mahasiswa. Generasi milienal adalah suatu kelompok demografi setelah Generasi X yang lahir pada awal 1980-an dan pertengahan tahun 1990-an dan berakhir pada tahun 2000-an. Milenial kadang-kadang disebut sebagai "Echo Boomers" karena adanya 'booming' (peningkatan besar) tingkat kelahiran di tahun 1980-an dan 1990-an. Generasi ini memiliki karakter; (1) User Generated Content (UGC)lebih dipercaya oleh kaum millennials ketimbang informasi satu arah, (2)Memiliki akun sosial media sebagai alat komunikasi dan pusat informasi; (3) Minat membaca secara konvensional kini sudah menurun karena lebih memilih membaca lewat smartphone;dan (4) Memilih ponsel daripada televisi, sebab menonton acara televisi bukan lagi menjadi sebagai hiburan karena apapun bisa mereka temukan di smartphone.Dalam menghadapi generasi ini, kita di tuntut untuk mampu dalam penguasaan ilmu dan teknologi yang senantiasa mengikuti kemajuan zaman.Kurikulum pembelajaran juga diselaraskan dengan permintaan dunia kerja yang menuntut kemampuan psikomotor dan tidak lagi mendasarkan pada aspek kognitif.
COOPERATIVE LEARNING: LANDASAN PSIKOLOGIS , KONSEP, KARAKTERISTIK, MANFAAT DAN RISIKO PENGGUNAANYA Singgih Subiyantoro; Usman M.
Edudikara: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 3 No. 2 (2018): June
Publisher : IPTPI Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/edudikara.v3i2.94

Abstract

Pembelajaran kooperatif telah digunakan di Amerika sejak tahun 1990an. Sekitar 93% sampel guru di Amerika melaporkan bahwa mereka menggunakan pembelajaran kooperatif, dengan 81% menggunakan secara rutin. Pembelajaran kooperatif sedikit berbeda dengan konsep pembelajaran kolaboratif. Pembelajaran kooperatif sebagai proses interaksi mutual untuk mencapai tujuan spesifik atau mengembangkan produk akhir. Sedangkan pembelajaran kolaboratif menekankan pada interasksi social dan tanggung jawab bersama. Dalam pembelajaran kooperatif siswa dapat memaksimalkan pembelajaran mereka masing-masing saat mereka bekerja sama (Johnson, Johnson, & Smith, 2006). Hingga saat ini pembelajaran kooperatif masih sangat relevan dengan kondisi pembelajaran saat ini, khususnya di Indonesia. Oleh karena itu, pada artikel ini akan di bahas lebih lanjut mengenai landasan, konsep, karakteristik dan aplikasi dari pembelajaran kooperatif.
KAJIAN KRITIS TERHADAP STANDARISASI PENDIDIKANDI INDONESIA Suparmin Suparmin
Edudikara: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 3 No. 2 (2018): June
Publisher : IPTPI Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/edudikara.v3i2.95

Abstract

Beberapa negara di dunia, termasuk Indonesia mengasumsikan bahwa pengembangan standarisasi, jaminan kualitas dan akreditasi harus di pahami sebagai respon negara terhadap situasi semakin kompleks yang disebabkan oleh banyaknya institusi pendidikan tinggi swasta. Akreditasi di gunakan untuk mengendalikan sistem pendidikan tinggi dan untuk menjaga standar kualitas minimal. Berdasarkan alasan-alasan tersebut maka Visi pemerintah Indonesia saat ini adalah untuk meningkatkan daya saing globalnya dan memperoleh posisi terhormat di antara negara-negara lain.Akan tetapi visi tersebut belum tercapai secara maksimal. Berdasarkan hasil Laporan Ekonomi Dunia, kontribusi pendidikan tinggi terhadap daya saing Indonesia hanya mencapai 4,5 (dari 7) dalam aspekpendidikan tinggi dan pelatihanpada 2017-2018(Moeliodihardjo, Soemardi, & Kurnia, 2017).Pendidikan tinggi tidak dapat berkontribusi secara berarti dalam meningkatkan daya saing Indonesia tanpa peningkatan kualitas yang signifikan.