cover
Contact Name
Acep Aripudin
Contact Email
staialfalah19@gmail.com
Phone
+6222-7948748
Journal Mail Official
staialfalah19@gmail.com
Editorial Address
Jalan Kapten Sangun No.6, Panenjoan, Bandung, Jawa Barat 40395
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS)
ISSN : 00000000     EISSN : 27155374     DOI : -
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) menerima dan mempublikasikan artikel ilmiah hasil penelitian dengan tema kajian keislaman pendekatan sejarah, sosial, budaya, pendidikan, sains, politik dan ekonomi dan kajian Quran. AJIQS menerapkan sistem Double Blind Peer Review dan diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Falah Cicalengka Bandung dua kali terbit setiap tahunnya. Tujuan AJIQS untuk memfasilitasi dan mempublikasikan tulisan-tulisan ilmiah dalam bentuk artikel dari para peneliti dalam maupun luar negeri. Artikel dapat ditulis dalam bahasa Inggris, Indonesia atau Arab yang mengacu pada aturan penulisan yang dijadikan pijakan AJIQS.
Articles 4 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 1 (2023): Asyahid" : 4 Documents clear
The Curriculum of Religious Education of Schools  in the Countries Around the World Mukhsin
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol. 5 No. 1 (2023): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62213/xrxdxz12

Abstract

Religion has many meaningful values for human being life. All of them need it although they are from communists. The communists, in fact however, need beliefs with other name outside of religion name. The study aims to find differences and similarities regarding the implementation of the religious education curriculum in schools in countries around the world. The approach of study is a qualitative-descriptive method by studying related library sources and the results of research of previous researchers from various countries, and then concluding the research data. The study concludes that religious values are eternal and universal ones for all people. The people in one country and ones in other countries are different in believing what they believe and behave. But they are same in getting meaning of religious values urgency for their life. So they desire to bring these down to their generation through education or teaching process. Many countries all over the world pay attention to this urgency. They enter religious education into schools’ curriculum that must be studied by all students of schools.  Key words: curriculum, religious education, schools’ education   Abstrak Agama mempunyai banyak nilai yang bermakna bagi kehidupan manusia. Semuanya membutuhkannya meski dari komunis. Namun kaum komunis justru membutuhkan kepercayaan dengan nama lain di luar nama agama. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan perbedaan dan persamaan mengenai penerapan kurikulum pendidikan agama di sekolah-sekolah di negara-negara di dunia. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif-deskriptif dengan mempelajari sumber-sumber kepustakaan terkait dan hasil penelitian para peneliti terdahulu dari berbagai negara, kemudian menyimpulkan data penelitiannya. Kajian tersebut menyimpulkan bahwa nilai-nilai agama bersifat abadi dan universal bagi semua orang. Masyarakat di suatu negara dan masyarakat di negara lain berbeda dalam mempercayai apa yang mereka yakini dan berperilaku. Namun mereka sama dalam memahami urgensi nilai-nilai agama bagi kehidupan mereka. Sehingga mereka ingin mewariskannya kepada generasinya melalui proses pendidikan atau pengajaran. Banyak negara di dunia menaruh perhatian terhadap urgensi ini. Mereka memasukkan pendidikan agama ke dalam kurikulum sekolah yang wajib dipelajari oleh seluruh siswa sekolah. Kata kunci: kurikulum, pendidikan agama, pendidikan sekolah
Da'wah Through Cultural Acculturation Susana, Rina Rahadian
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol. 5 No. 1 (2023): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62213/qhzwed50

Abstract

The clash and resistance with local cultures forced Islam to find a symbol that was in line with the cultural capture capabilities of the local community. Islam's ability to adapt to local culture makes it easier for Islam to penetrate the lowest levels of society. As a result, Islamic culture was greatly influenced by peasant culture and inland culture, so that Islamic culture experienced a transformation not only because of the geographical distance between Arabia and Indonesia, but also because there were cultural distances. This process of cultural compromise certainly carries quite a few risks, because in certain circumstances it often tolerates interpretations that may deviate somewhat from pure Islamic teachings. This research aims to determine the relationship between da'wah and local culture and the negotiation of Islam with local culture. The research results show that the character of Indonesian Islam which dialogues with community traditions is accommodating to community traditions or local community culture rather than eradicating local community practices. Islam and societal traditions are placed in an equal position to have creative dialogue so that one of them is not in a subordinate position, which results in mutually weakening attitudes. This combination of Islam and community traditions is a richness of local interpretation so that Islam does not appear empty of true reality. Islam does not have to be perceived as Islam in Arabia. Keywords: Indonesian culture, Islam, tradition, transformation.   Abstrak Benturan dan resistensi dengan kebudayaan-kebudayaan setempat memaksa Islam untuk mendapatkan simbol yang selaras dengan kemampuan penangkapan kultural dari masyarakat setempat. Kemampuan Islam untuk beradaptasi dengan budaya setempat, memudahkan Islam masuk ke lapisan paling bawah dari masyarakat. Akibatnya, kebudayaan Islam sangat dipengaruhi oleh kebudayaan petani dan kebudayaan pedalaman, sehingga kebudayaan Islam mengalami transformasi bukan saja karena jarak geografis antara Arab dan Indonesia, tetapi juga karena ada jarak-jarak kultural. Proses kompromi kebudayaan seperti ini tentu membawa resiko yang tidak sedikit, karena dalam keadaan tertentu seringkali mentoleransi penafsiran yang mungkin agak menyimpang dari ajaran Islam yang murni. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui relasi dakwah dan budaya lokal dan negosiasi Islam dengan budaya lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter Islam Indonesia yang berdialog dengan tradisi masyarakat bersikap akomodatif terhadap tradisi masyarakat atau kultur masyarakat setempat ketimbang memberantas praktik-praktik lokal masyarakat. Islam dan tradisi masyarakat ditempatkan dalam posisinya yang sejajar untuk berdialog secara kreatif agar salah satunya tidak berada dalam posisi yang subordinat, yang berakibat pada sikap saling melemahkan. Perpaduan antara Islam dengan tradisi masyarakat ini adalah sebuah kekayaan tafsir lokal agar Islam tidak tampil hampa terhadap realitas yang sesungguhnya. Islam tidak harus dipersepsikan sebagai Islam yang ada di Arab. Kata kunci: budaya Indonesia, Islam, tradisi, transformasi.
Transformation of Islamic Political Movements in Indonesia in the Reformation Era Yani, Ahmad
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol. 5 No. 1 (2023): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62213/0jhbz881

Abstract

During the New Order era, there were only 3 political parties. After the New Order ended, proposals for the formation of political parties emerged. Before the 1999 elections were held, there were 181 political parties founded by various components of the nation. Of this number, 42 of them are Islamic parties. After passing the screening stage, only 48 parties were eligible and registered as participants in the 1999 elections, of which 20 were Islamic parties. Basic facts show that an important shift has occurred in Indonesia, namely a shift from state to political society, from bureaucrats to politicians. An equally dramatic change was the emergence of the da'wah movement and political Islam as the main force that attracted attention after being on the fringes of state power for so long. This research aims to determine the characteristics of Islamic parties, the history of Islamic politics, and the transformation of Islamic politics in the Reformation era. The research results show that the initial concept of a group changes, following the flow of local politics, but in fact it is a tool to achieve its goals and mission. Joining the Islamic group does not mean forgetting or abandoning its initial goals but could be an opportunity to gain wider public sympathy for the organization's expansion. There are strong indications of the emergence of symptoms of "post-Islamism" in the Islamic movement in Indonesia as an implication of globalization. This means that the opportunity for the "post-Islamism" movement to strengthen is also quite strong in Indonesia. The main characteristic of the post-Islamism movement is their pragmatic, realistic tendency, willing to compromise with political realities that are not completely ideal and in accordance with the pure ideological scheme that they believe in and imagine. Keywords: party, political, ideological, Islam, post-Islamism.   Abstrak Pada masa Orde Baru, partai politik hanya ada 3. Setelah Orde Baru berakhir, usulan pembentukan partai politik bermunculan. Sebelum Pemilu 1999 digelar, tercatat sebanyak 181 partai politik didirikan oleh berbagai komponen bangsa. Dari jumlah tersebut, 42 di antaranya merupakan partai-partai Islam. Setelah melewati tahap penyaringan, hanya 48 partai yang berhak dan terdaftar sebagai peserta Pemilu 1999, di mana 20 di antaranya merupakan partai Islam. Fakta dasar menunjukkan bahwa terjadi pegeseran penting di Indonesia, yaitu pergeseran dari state ke political society, dari birokrat ke politisi. Perubahan yang juga dramatis adalah munculnya gerakan dakwah dan Politik Islam sebagai kekuatan pokok yang menyedot perhatian setelah sekian lama berada di pinggiran kekuasaan negara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik partai Islam, sejarah politik Islam, dan transformasi politik Islam era Reformasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep awal suatu kelompok berubah, mengikuti alur perpolitikan lokal, tetapi sebetulnya itu adalah alat untuk mencapai tujuan dan misinya. Bergabungnya kelompok Islam tersebut bukan berarti melupakan atau meninggalkan tujuan awalnya tetapi bisa jadi sebagai ajang untuk meraih simpati masyarakat yang lebih luas demi ekspansi organisasi. Terdapat indikasi kuat munculnya gejala “post- Islamism” dalam gerakan Islam di Indonesia sebagai implikasi globalisasi. Hal ini berarti bahwa peluang menguatnya gerakan “post-Islamisme” juga cukup kuat di Indonesia. Ciri utama gerakan post-Islamisme adalah kecenderungan mereka yang pragmatis, realistis, bersedia untuk kompromi dengan realitas politik yang tak sepenuhnya ideal dan sesuai dengan skema ideologis murni yang mereka yakini dan bayangkan. Kata kunci: partai, politik, ideologis, Islam, post-Islamisme.
Early Marriage in Urban Society: Problems and Solutions Karami, Gergian Abi
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol. 5 No. 1 (2023): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62213/a76f8g20

Abstract

This research entitled "Early Marriage in Urban Society: Problems and Solutions" is interested in raising this theme because the phenomenon of early marriage often occurs among teenagers in Bandung urban society. This research uses a descriptive qualitative approach. Interviews, observations and documentation were used to collect data. This research aims to provide information and understanding to the public about the impact of early marriage and efforts to prevent early marriage. The negative side of early marriage outweighs the positive side. Because the possibility of early childhood marriage has a negative impact on teenagers and families. Early marriage can have a negative impact on maternal health, low education, divorce and poverty. Some of the causes of early child marriage are economic and educational. Empowering children with information, educating and providing insight to parents about creating a good environment, improving the quality of formal education for children, and providing health and reproductive education to children are ways that can prevent the increase in early child marriage. Keywords: Early Marriage, Efforts, Impact   Abstrak Penelitian ini berjudul "Pernikahan Dini Dalam Masyarakat Urban: Masalah dan Solusi" tertarik untuk mengangkat tema ini karena fenomena pernikahan dini yang sering terjadi di kalangan remaja di masyarakat urban Bandung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Wawancara, observasi, dan dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan informasi dan pemahaman kepada masyarakat tentang dampak pernikahan dini dan upaya untuk mencegah pernikahan dini. Sisi negatif pernikahan dini lebih banyak daripada sisi positifnya. Karena itu, kemungkinan pernikahan anak usia dini berdampak negatif pada remaja dan keluarga. Pernikahan dini dapat berdampak negatif pada kesehatan ibu, pendidikan yang rendah, perceraian, dan kemiskinan. Beberapa penyebab perkawinan anak usia dini adalah ekonomi dan pendidikan. Memberdayakan anak dengan informasi, mendidik dan memberikan wawasan kepada orang tua tentang menciptakan lingkungan yang baik, meningkatkan kualitas pendidikan formal bagi anak, dan memberikan edukasi kesehatan dan reproduksi kepada anak adalah cara-cara yang dapat mencegah meningkatnya pernikahan anak usia dini. Kata Kunci: Pernikahan Dini, Upaya, Dampak

Page 1 of 1 | Total Record : 4