cover
Contact Name
Dr. Juniawan, S.P., M.Si
Contact Email
juniawanwi@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
sugiartosumas@kemnaker.go.id
Editorial Address
Sekterariat DPP Asosiasi Profesi Widyaiswara Indonesia: Gedung Atmodarminto, BPPK Kemenkeu Jl. Purnawarman No. 99, Kebayoran Baru, Jakarta
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Widyaiswara Indonesia
ISSN : 27227464     EISSN : 27212440     DOI : -
Jurnal Widyaiswara Indonesia (JWI) menerima naskah Karya Tulis Ilmiah (KTI) dari para widyaiswara se-Indonesia, pejabat fungsional tertentu, serta dari penulis umum lainnya, termasuk mahasiswa sarjana dan pascasarjana. Naskah KTI yang dapat diterbitkan pada Jurnal Widyaiswara Indonesia adalah naskah KTI berjenis kajian (research) dan berjenis ulasan (review), serta untuk naskah orasi calon widyaiswara ahli utama. JWI terbit secara berkala pada bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 04 (2024): Desember 2024" : 5 Documents clear
Importance Performance Analysis Terhadap Model Evaluasi Reaksi Kirkpatrick dengan Model SERVQUAL pada Pelatihan di Bidang Pemerintahan Desa Widianto, Heru; Halimah , Nur
Jurnal Widyaiswara Indonesia Vol. 5 No. 04 (2024): Desember 2024
Publisher : Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Profesi Widyaiswara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56259/jwi.v5i04.330

Abstract

Dalam Model Pengembangan Desain Pelatihan ADDIE (Analysis, Desaign, Develop, Implement, Evaluate), evaluasi merupakan salah satu tahapan penting yang berfungsi sebagai tolak ukur keberhasilan penyelenggaraan kegiatan pelatihan. Salah satu model evaluasi program pelatihan adalah model Kirkpatrick yang secara konseptual berpedoman pada tahapan belajar (reaction, learning, behaviour, result). Evaluasi reaksi pelatihan di Balai Besar Pemerintahan Desa di Malang belum sepenuhnya dilakukan secara maksimal. Selama ini, evaluasi reaksi yang telah dilakukan hanya bersifat normatif dan belum dapat menyajikan sebuah analisis yang dapat digunakan sebagai langkah kebijakan. Model SERVQUAL yang menitikberatkan pada 5 dimensi (Tangibles, Reliability, Responsiveness, Assurance, Empathy) diadopsi sebagai kerangka penelitian untuk mengukur tingkat kepuasan peserta pelatihan. Kuesioner disebarkan kepada 90 orang peserta pelatihan untuk kemudian dianalisa dengan menggunakan Importance Performance Analysis (IPA) guna mengetahui atribut apa saja yang perlu menjadi perhatian utama untuk dikaji dan diperbaiki dalam rangka meningkatkan pelayanan pelatihan. Dari hasil IPA diperoleh bahwa terdapat 3 atribut yang termasuk dalam kuadran I (concentrate here) meliputi TG.1 (Tangible) dengan pernyataan Ruangan kelas selama proses pelatihan dirasakan nyaman oleh peserta, TG.3 (Tangible) dengan pernyataan Pengajar menggunakan media pembelajaran yang modern dan menarik, dan AS.4 (Assurance) dengan pernyataan Pelatihan ini berdampak menumbuhkan rasa percaya diri peserta dalam menjalankan tugas kerja. Dari ketiga atribut tersebut ditelurusi kondisi riil di lapangan untuk dianalisa guna menghasilkan rekomendasi yang tepat. In the ADDIE Training Design Development Model (Analysis, Design, Develop, Implement, Evaluate), evaluation is one of the important stages that functions as a benchmark for the success of implementing training activities. One of the training program evaluation models is the Kirkpatrick model which is conceptually guided by the learning stages (reaction, learning, behavior, result). Evaluation of training reactions at the Balai Besar Pemerintahan Desa in Malang has not been fully implemented optimally. So far, reaction that have been carried out has only been normative and has not been able to present an analysis that can be used as a policy step. The SERVQUAL model which emphasizes 5 dimensions (Tangibles, Reliability, Responsiveness, Assurance, Empathy) was adopted as a research framework to measure the level of satisfaction of training participants. The questionnaire was distributed to 90 training participants to then be analyzed using Importance Performance Analysis (IPA) to find out what attributes need to be the main focus to be reviewed and improved in order to improve training services. From the results of IPA, it was obtained that there were 3 attributes included in quadrant I (concentrate here) including TG.1 (Tangible) with the statement The classroom during the training process was felt comfortable by the participants, TG.3 (Tangible) with the statement The teacher used modern and interesting learning media, and AS.4 (Assurance) with the statement This training has an impact on increasing participants' self-confidence in carrying out work tasks. From these three attributes, real conditions in the field were traced to be analyzed in order to produce appropriate recommendations.
Pengembangan Model Mentoring Sesama Jabatan dalam Meningkatkan Kinerja Organisasi di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Maluku Utara Arbi, Sadek
Jurnal Widyaiswara Indonesia Vol. 5 No. 04 (2024): Desember 2024
Publisher : Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Profesi Widyaiswara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56259/jwi.v5i04.331

Abstract

Pengembangan kompetensi Aparatur Sipil Negara (ASN) merupakan mandat strategis untuk meningkatkan kinerja organisasi sektor publik. Salah satu bentuk pengembangan kompetensi nonklasikal yang relevan adalah mentoring. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pelaksanaan mentoring sesama jabatan serta persepsi ASN terhadap efektivitas mentoring dalam meningkatkan kinerja organisasi di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Maluku Utara. Metode penelitian menggunakan pendekatan campuran (mixed methods) dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, kuesioner, dan dokumentasi. Informan penelitian berjumlah 18 orang yang dipilih secara purposive. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mentoring sesama jabatan yang direncanakan dan dilaksanakan secara sistematis mampu mengatasi kesenjangan kompetensi, meningkatkan kepercayaan diri pegawai, dan berdampak positif pada kinerja organisasi. Persepsi responden terhadap proses mentoring berada pada kategori baik hingga sangat baik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa mentoring sesama jabatan efektif dijadikan sebagai model pengembangan kompetensi berkelanjutan di lingkungan birokrasi pemerintah. Competency development of civil servants is a strategic mandate to improve public sector organizational performance. One relevant form of non-classical competency development is mentoring. This study aims to analyze the implementation of peer mentoring and civil servants’ perceptions of its effectiveness in improving organizational performance at the Human Resources Development Agency of North Maluku Province. The research employed a mixed-methods approach using observation, in-depth interviews, questionnaires, and documentation. A total of 18 informants were selected through purposive sampling. The findings indicate that well-planned and systematically implemented peer mentoring can reduce competency gaps, increase employee self-confidence, and positively impact organizational performance. Respondents’ perceptions of the mentoring process ranged from good to very good. This study concludes that peer mentoring is an effective and sustainable model for competency development in government organizations.
Strategi Komunikasi Fasilitator Dan Iintegritas Kepemimpinan Birokrasi: Evaluasi Pelatihan Kepemimpinan Nasinal Tingkat II Di Sektor Kesehatan Gempari, Rarit
Jurnal Widyaiswara Indonesia Vol. 5 No. 04 (2024): Desember 2024
Publisher : Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Profesi Widyaiswara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56259/jwi.v5i04.333

Abstract

Integritas kepemimpinan birokrasi di sektor kesehatan menjadi elemen krusial dalam menghadapi dilema etika dan tuntutan pelayanan publik. Pelatihan Kepemimpinan Nasional Tingkat II (PKN II) dirancang untuk memperkuat internalisasi nilai integritas di kalangan ASN melalui pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman dan refleksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas strategi komunikasi fasilitator GNIK, mengukur perubahan budaya akuntabilitas, serta mengidentifikasi tantangan implementasi nilai di lingkungan kerja. Metode yang digunakan adalah mixed methods, dengan analisis kuantitatif terhadap skor akuntabilitas dan transparansi, serta pendekatan kualitatif melalui wawancara dan studi kasus. Hasil menunjukkan bahwa strategi komunikasi seperti ceramah interaktif, storytelling autentik, dan coaching mampu meningkatkan kesadaran moral peserta secara signifikan. Skor budaya akuntabilitas meningkat dari 3,5 menjadi 4,9. Tantangan utama berasal dari tekanan struktural dan kurangnya relevansi studi kasus dengan konteks sektor kesehatan. Temuan ini mendukung teori experiential learning, kepemimpinan berbasis nilai, dan Deep Behavior System. Rekomendasi meliputi penyesuaian kurikulum pelatihan, penguatan sistem mentoring pasca-pelatihan, dan integrasi indikator integritas dalam sistem penilaian kinerja ASN.
Evaluasi Implementasi serta Dampak Pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Fasyankes pada Alumni Peserta Angkatan 2024 BBPK Ciloto Nina Hernawati
Jurnal Widyaiswara Indonesia Vol. 5 No. 04 (2024): Desember 2024
Publisher : Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Profesi Widyaiswara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56259/jwi.v5i04.334

Abstract

Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes) sebagai penyedia layanan kesehatan merupakan lingkungan kerja yang memiliki potensi bahaya yang dapat mengancam keselamatan dan kesehatan pekerja, pengunjung, maupun masyarakat sekitar. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan terkait penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Fasyankes. Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Ciloto telah menyelenggarakan Pelatihan K3 di Fasyankes sebanyak dua angkatan pada Tahun 2024. Untuk mengetahui keberhasilan pelatihan dilakukan Evaluasi Pasca Pelatihan (EPP) dengan menggunakan pendekatan Kirkpatrick’s Training Evaluation pada level 3 (perilaku) dan level 4 (hasil). Analisis data pada penelitian ini dilakukan secara deskriptif kuantitatif, dengan menggunakan instrumen berupa kuesioner dan link file dokumentasi. Jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 82 orang terdiri dari alumni peserta pelatihan, rekan kerja, dan atasan alumni. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa alumni telah mengimplementasikan hasil pelatihan K3 dengan baik dan konsisten, dibuktikan dengan nilai mean ≥ 3 pada seluruh penilaian (alumni, rekan kerja, dan atasan). Indikator dengan perilaku sangat baik meliputi pembudayaan PHBS, monitoring APD, kebersihan tangan, dan pengelolaan B3. Aspek yang masih perlu ditingkatkan adalah ergonomi pengaturan shift kerja, pengukuran faktor lingkungan (pencahayaan, udara, air), serta pengelolaan dan dekontaminasi peralatan medis. Hambatan utama dalam implementasi mencakup keterbatasan sarana prasarana, SDM, dan biaya. Dukungan terhadap penerapan hasil pelatihan tergolong baik hingga tinggi, dengan dukungan terbesar dari pimpinan, kebijakan, dan rekan kerja. Pelatihan K3 terbukti memberikan dampak positif terhadap kinerja organisasi, terutama pada penerapan standar K3 dan dukungan akreditasi, meskipun pembinaan Pos UKK dengan nilai mean 2,79 masih perlu diperkuat. Health Care Facilities are work environments with various potential hazards that may threaten the safety and health of workers, visitors, and surrounding communities. Strengthening the capacity of health personnel in implementing Occupational Safety and Health (OSH) is therefore essential. In 2024, Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Ciloto conducted two batches of OSH Training in Health Care Facilities. To assess training effectiveness, a Post-Training Evaluation was carried out using Kirkpatrick’s model at level 3 (behavior) and level 4 (results). The evaluation applied quantitative descriptive methods using questionnaires and documentation links. A total of 82 respondents participated, consisting of alumni, coworkers, and supervisors. Results indicate that alumni have implemented OSH training outcomes effectively, reflected by mean scores ≥ 3 across all respondent groups. Indicators showing very good performance include membudayakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), PPE monitoring, hand hygiene, and hazardous material (B3) management. Areas requiring improvement include work ergonomics, environmental factor measurements (lighting, air, and water), and the management and decontamination of medical equipment. Main barriers to implementation involve limitations in infrastructure, human resources, and funding. Support for applying the training outcomes is categorized as good to high, with the strongest support from leadership, policies, and coworkers. The training positively contributes to organizational performance, particularly in OSH standard implementation and accreditation support. However, the development of Pos Upaya Kesehatan Kerja (Pos UKK), with a mean score of 2.79, still requires strengthening.
Evaluasi Pasca Pelatihan Surveilans Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I) Angkatan 1-4 Tahun 2024 Simbolon, Fransiska R; Wahyudin, Wawan
Jurnal Widyaiswara Indonesia Vol. 5 No. 04 (2024): Desember 2024
Publisher : Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Profesi Widyaiswara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56259/jwi.v5i04.335

Abstract

Surveilans Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I) merupakan komponen penting dalam sistem kesehatan masyarakat untuk mendukung deteksi dini dan respons penyakit berpotensi wabah. Pada Tahun 2024, BBPK Ciloto menyelenggarakan Pelatihan Surveilans PD3I bagi petugas puskesmas sebanyak empat angkatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas pelatihan tersebut menggunakan kerangka Kirkpatrick’s Four Levels of Training Evaluation, yang mencakup reaksi, pembelajaran, perilaku, dan hasil. Evaluasi dilakukan dengan pendekatan kuantitatif terhadap seluruh peserta pelatihan Tahun 2024 sebanyak 119 orang, dengan tingkat respons 68,9% (82 responden). Data dikumpulkan melalui pre-test, post-test, dan kuesioner penilaian mandiri secara daring, kemudian dianalisis secara deskriptif dan inferensial menggunakan uji Wilcoxon Signed-Ranks Test. Hasil menunjukkan tingkat kepuasan peserta yang sangat tinggi pada Level Reaksi, dengan skor rata-rata di atas 90 untuk aspek penyelenggaraan dan fasilitator. Pada Level Pembelajaran, terjadi peningkatan pemahaman peserta yang signifikan secara statistik pada seluruh angkatan (p < 0,001). Pada Level Perilaku, penerapan kompetensi surveilans menunjukkan capaian tinggi pada surveilans difteri dan pertusis (≥88%), namun masih rendah pada surveilans campak–rubella (52,7%) dan AFP (18,2%). Pada Level Hasil, pelatihan berkontribusi pada peningkatan kualitas dan ketepatan waktu pelaporan, tindak lanjut investigasi kasus, serta penguatan dukungan organisasi di puskesmas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pelatihan PD3I efektif meningkatkan kapasitas individu dan kinerja sistem surveilans di layanan kesehatan primer, namun memerlukan tindak lanjut terintegrasi melalui supervisi rutin oleh dinas kesehatan dan penguatan panduan kerja agar penerapannya lebih konsisten, khususnya untuk penyakit dengan kompleksitas tinggi. Surveillance of Vaccine-Preventable Diseases (VPD) is a critical component of the public health system to support early detection and timely response to outbreak-prone diseases. In 2024, the Ciloto Health Training Center (BBPK Ciloto) conducted VPD Surveillance Training for primary healthcare workers in four cohorts. This study aimed to evaluate the effectiveness of the training using Kirkpatrick’s Four Levels of Training Evaluation framework, encompassing reaction, learning, behavior, and results.A quantitative evaluation was conducted among all 119 training participants in 2024, with a response rate of 68.9% (82 respondents). Data were collected through online pre-tests, post-tests, and self-assessment questionnaires, and analyzed using descriptive statistics and the Wilcoxon Signed-Ranks Test. The results showed very high participant satisfaction at the Reaction Level, with mean scores above 90 for both training organization and facilitators. At the Learning Level, participants demonstrated a statistically significant improvement in knowledge across all cohorts (p < 0.001). At the Behavior Level, the application of surveillance competencies showed high performance in diphtheria and pertussis surveillance (≥88%), but remained low for measles–rubella surveillance (52.7%) and acute flaccid paralysis (AFP) surveillance (18.2%). At the Results Level, the training contributed to improvements in reporting quality and timeliness, case investigation follow-up, and strengthened organizational support at primary healthcare centers.This study concludes that the VPD surveillance training was effective in enhancing individual capacity and surveillance system performance at the primary healthcare level. However, sustained impact requires integrated follow-up through routine supervision by local health authorities and strengthened practical guidelines to ensure more consistent implementation, particularly for diseases with higher operational complexity.

Page 1 of 1 | Total Record : 5