Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Di 3 SMPN Kabupaten Pacitan Mukodi, Mukodi; Habiburrahman, Muhammad; Devinta , Clara; Lestari, Linda Ayu; Rahmadani , Novalia Indah; Hidayah, Khusnul; Riski Yudha , Nur; Listiani , Dina; Halimah , Nur; Kholis , Nur; Aris Aprianto , Edi; Ayu Saputri , Siska; Novla , Debby; Citra Arsetya , Jasmin; Ngainur Roqim , Walil; Keptiana, Dyah; Saputra, Iwan
Jurnal Penelitian Pendidikan Vol 16 No 2 (2024): Jurnal Penelitian Pendidikan
Publisher : LPPM Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21137/jpp.2024.16.2.9

Abstract

Penelitian ini bermula dari kegelisahan akademik dan keperhatinan yang mendalam atas tumpang tindih kurikulum yang ada dan persoalan pelaksanaan Kurikulum Merdeka Belajar yang belum terlaksana secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis pelaksanaan kurikulum merdeka belajar pada mata pelajaran Bahasa Indonesia SMPN 3 Pacitan, SMPN 5 Ngadirojo Satu Atap Kab. Pacitan, dan SMPN 1 Kebonagung. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Objek penelitian ini adalaha SMPN 3 Pacitan, Kab. Pacitan, SMPN 5 Ngadirojo Satu Atap, dan SMPN 1 Kebonagung. Informan kuncinya adalah kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru dan peserta didik. Teknik pengumpulan data, berupa; observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis datanya menggunakan pisau analisis Miles & Huberman dan diolah dengan alat bantu software ATLAS.ti9. Hasil riset menunjukkan bahwa; (1) SMPN 3 Pacitan; (2) SMPN 5 Ngadirojo Satu Atap Kab. Pacitan; (3) SMPN 1 Kebonagung telah melaksanakan kurikulum merdeka, khususnya pada mata Pelajaran Bahasa Indonesia secara bertahap sesuai dengan kapasitas, kemampuan, dan kearifan lokal (ciri khas) di masing-masing sekolah. Efektifitas pelaksanaan implementasi kurikulum merdeka pada mapel Bahasa Indonesia di ketiga objek riset tersebut, bertumpu pada kuatnya leadership di sekolah, sehingga aliran distribusi kebijakan bisa terselesaikan secara optimal. P5 menjadi penciri yang autentik di masing-masing sekolah tersebut. Kurikulum merdeka pada mapel Bahasa Indonesia telah diterapkan di SMPN 3 Pacitan, SMPN 5 Ngadirojo Satu Atap Kab. Pacitan, SMPN 1 Kebonagung secara efektif dan proporsional sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan pemerintah.
Importance Performance Analysis Terhadap Model Evaluasi Reaksi Kirkpatrick dengan Model SERVQUAL pada Pelatihan di Bidang Pemerintahan Desa Widianto, Heru; Halimah , Nur
Jurnal Widyaiswara Indonesia Vol. 5 No. 04 (2024): Desember 2024
Publisher : Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Profesi Widyaiswara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56259/jwi.v5i04.330

Abstract

Dalam Model Pengembangan Desain Pelatihan ADDIE (Analysis, Desaign, Develop, Implement, Evaluate), evaluasi merupakan salah satu tahapan penting yang berfungsi sebagai tolak ukur keberhasilan penyelenggaraan kegiatan pelatihan. Salah satu model evaluasi program pelatihan adalah model Kirkpatrick yang secara konseptual berpedoman pada tahapan belajar (reaction, learning, behaviour, result). Evaluasi reaksi pelatihan di Balai Besar Pemerintahan Desa di Malang belum sepenuhnya dilakukan secara maksimal. Selama ini, evaluasi reaksi yang telah dilakukan hanya bersifat normatif dan belum dapat menyajikan sebuah analisis yang dapat digunakan sebagai langkah kebijakan. Model SERVQUAL yang menitikberatkan pada 5 dimensi (Tangibles, Reliability, Responsiveness, Assurance, Empathy) diadopsi sebagai kerangka penelitian untuk mengukur tingkat kepuasan peserta pelatihan. Kuesioner disebarkan kepada 90 orang peserta pelatihan untuk kemudian dianalisa dengan menggunakan Importance Performance Analysis (IPA) guna mengetahui atribut apa saja yang perlu menjadi perhatian utama untuk dikaji dan diperbaiki dalam rangka meningkatkan pelayanan pelatihan. Dari hasil IPA diperoleh bahwa terdapat 3 atribut yang termasuk dalam kuadran I (concentrate here) meliputi TG.1 (Tangible) dengan pernyataan Ruangan kelas selama proses pelatihan dirasakan nyaman oleh peserta, TG.3 (Tangible) dengan pernyataan Pengajar menggunakan media pembelajaran yang modern dan menarik, dan AS.4 (Assurance) dengan pernyataan Pelatihan ini berdampak menumbuhkan rasa percaya diri peserta dalam menjalankan tugas kerja. Dari ketiga atribut tersebut ditelurusi kondisi riil di lapangan untuk dianalisa guna menghasilkan rekomendasi yang tepat. In the ADDIE Training Design Development Model (Analysis, Design, Develop, Implement, Evaluate), evaluation is one of the important stages that functions as a benchmark for the success of implementing training activities. One of the training program evaluation models is the Kirkpatrick model which is conceptually guided by the learning stages (reaction, learning, behavior, result). Evaluation of training reactions at the Balai Besar Pemerintahan Desa in Malang has not been fully implemented optimally. So far, reaction that have been carried out has only been normative and has not been able to present an analysis that can be used as a policy step. The SERVQUAL model which emphasizes 5 dimensions (Tangibles, Reliability, Responsiveness, Assurance, Empathy) was adopted as a research framework to measure the level of satisfaction of training participants. The questionnaire was distributed to 90 training participants to then be analyzed using Importance Performance Analysis (IPA) to find out what attributes need to be the main focus to be reviewed and improved in order to improve training services. From the results of IPA, it was obtained that there were 3 attributes included in quadrant I (concentrate here) including TG.1 (Tangible) with the statement The classroom during the training process was felt comfortable by the participants, TG.3 (Tangible) with the statement The teacher used modern and interesting learning media, and AS.4 (Assurance) with the statement This training has an impact on increasing participants' self-confidence in carrying out work tasks. From these three attributes, real conditions in the field were traced to be analyzed in order to produce appropriate recommendations.