cover
Contact Name
Agni Susanti
Contact Email
agniesusanti2204@gmail.com
Phone
+6287722631615
Journal Mail Official
obstetrianestesi@gmail.com
Editorial Address
Department of Anesthesiology and Intensive Care Dr. Sardjito General Hospital Yogyakarta Jl.Jl. Kesehatan No.1, Senolowo, Sinduadi, Yogyakarta
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Anestesi Obstetri Indonesia
ISSN : -     EISSN : 2615370X     DOI : https://doi.org/10.47507/obstetri.v3i2
Core Subject : Health, Science,
We accept manuscripts in the form of Original Articles, Case Reports, Literature Reviews, both from clinical or biomolecular fields, as well as letters to editors in regards to Obstetric Anesthesia and Critical Care. Manuscripts that are considered for publication are complete manuscripts that have not been published in other national journals. Manuscripts that have been published in the proceedings of the scientific meeting can still be accepted provided they have written permission from the organizing committee. This journal is published every 6 months with 8-10 articles (March, September) by Indonesian Society of Obstetric Anesthesia and Critical Care (INA-SOACC).
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 7 No 1 (2024): Maret" : 8 Documents clear
Vasopressor Pilihan Untuk Anestesi Obstetri Isngadi, Isngadi
Jurnal Anestesi Obstetri Indonesia Vol 7 No 1 (2024): Maret
Publisher : Indonesian Society of Obstetric Anesthesia and Critical Care (INA-SOACC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47507/obstetri.v7i1.154

Abstract

Anestesi spinal adalah teknik anestesi yang direkomendasikan untuk tindakan seksio sesarea, akan tetapi dengan teknik anestesi spinal ini terdapat efek yang tidak diharapkan. Efek tidak diharapkan yang paling sering terjadi adalah hipotensi. Hipotensi akibat tindakan anestesi spinal akan berdampak terhadap fetomaternal berupa gangguan aliran darah ke uterus yang selanjutnya terjadi gangguan sirkulasi pada fetal sehingga bisa menyebabkan fetal hipoksi, bradikardi, dan asidosis. Hipotensi akibat anestesi spinal dapat memperburuk luaran pada fetomaternal, oleh karena itu perlu dilakukan pencegahan maupun pengobatan terjadinya hipotensi akibat anestesi spinal pada seksio sesarea tersebut. Sampai saat ini, sudah banyak vasopressor yang digunakan untuk mengatasi hipotensi akibat anestesi spinal, akan tetapi penelitian untuk mendapatkan vasopressor yang ideal masih terus berlangsung. Vasopressor yang ideal untuk pencegahan dan pengobatan hipotensi akibat anestesi spinal pada seksio sesarea masih diperdebatkan dan merupakan topik yang menarik dilakukan penelitian ilmiah dan penelitian klinis dibidang anestesi Obstetri. Efedrin, Norepineprin dan Fenilefrin merupakan tiga vasopressor yang sering digunakan untuk mengatasi hipotensi akibat tindakan anestesi spinal pada anestesi obstetri. Pada materi ini akan dibahas vasopressor pilihan untuk anestesi obstetri berdasarkan farmakokinetik, farmakodinamik dan aplikasi klinik. Berdasarkan hal tersebut, fenilefrin merupakan vasopressor pilihan utama untuk mengatasi hipotensi akibat anestesi spinal pada maternal dengan denyut jantung normal atau takikardi. Efedrin merupakan vasopressor pilihan untuk mengatasi hipotensi akibat anestesi spinal pada maternal dengan denyut jantung bradikardi. Norepineprin merupakan vasopressor alternatif untuk mengatasi hipotensi dan bradikardi akibat anestesi spinal yang tidak berespon terhadap Efedrin.
Regresi Optic Nerve Sheath Diameter sebagai Stratifikasi Perbaikan Outcome pada Pasien Preeklampsia Purwoko, Purwoko
Jurnal Anestesi Obstetri Indonesia Vol 7 No 1 (2024): Maret
Publisher : Indonesian Society of Obstetric Anesthesia and Critical Care (INA-SOACC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47507/obstetri.v7i1.155

Abstract

Latar belakang: Di Indonesia preeklampsia menempati urutan kedua penyebab kematian ibu setelah perdarahan. Penyebab mortalitas preeklampsia paling banyak disebabkan peningkatan tekanan intrakranial (TIK). Pengukuran diameter selubung N-Opticus merupakan metode baru bagi pengukuran TIK non invasive. Optic Nerve Sheat Diameters (ONSD) terpilih menjadi salah satu indikator peningkatan TIK serta memiliki korelasi linier. Pengukuran ONSD dilakukan dengan ultrasonography (USG) karena lebih superior, sederhana, mudah dan obyektif.Tujuan: untuk memperkirakan penurunan diameter ONSD pada pasien preeklampsia sebelum dan sesudah melahirkan, mengingat ONSD merupakan indikator efektif yang cukup representatif untuk mendeteksi peningkatan TIK secara dini. Subjek dan Metode: Merupakan penelitian observasional analitik dengan metode cross sectional. Setelah disetujui oleh komite etik RSUD Dr. Moewardi, penelitian ini dilakukan pada 32 wanita hamil yang didiagnosa preeklampsia, yang mendapatkan terapi MgSO4. Hasil: Nilai mean ONSD hari ke 1 dan hari ke 2 sebesar 4,89 ± 0,69 (CI = 4,65 – 5,14) dan pada hari ke 3 menurun sebesar 4,60 ± 0,65 (CI = 4,37 – 4,84) dengan nilai P= 0,022, yang berarti ada perbedaan yang signifikan antara hari ke 1, hari ke 2 dan hari ke 3 pada ONSD, kemudian dilanjutkan uji Post Hoc Test untuk melihat perbedaan yang paling signifikan
Regional Anestesi Subarachnoidal Block pada Seksio Sesarea Emergensi dengan Preeklampsia Berat (PEB) Super Imposed HELLP Syndrome Supraptomo, RTH
Jurnal Anestesi Obstetri Indonesia Vol 7 No 1 (2024): Maret
Publisher : Indonesian Society of Obstetric Anesthesia and Critical Care (INA-SOACC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47507/obstetri.v7i1.156

Abstract

Angka Kematian Ibu di Indonesia terhitung 305:100.000 kelahiran dan 25% penyebabnya adalah hipertensi. Preeklampsia berat (PEB) adalah kondisi munculnya hipertensi dan proteinuria setelah usia kehamilan 20 minggu. PEB dapat diukur keparahannya dengan hipoalbumin dan dapat menyebabkan hemolisis. Sindrom HELLP merupakan komplikasi dari PEB. Sectio Caesarea Transperitoneal Profunda (SCTP) adalah persalinan buatan di mana janin dilahirkan melalui insisi dinding depan perut di segmen bawah rahim. Indikasi dilakukannya SCTP diantaranya adanya PEB disertai dengan tanda gawat ibu (Sindrom HELLP, tanda impending). Wanita 31 tahun G2P1A0 usia kehamilan 32+4 minggu dengan Preeklampsia Berat Superimposed, HELLP Syndrome hipoksia fetal, riwayat SC 11 tahun lalu, belum dalam persalinan, dengan konjungtivitis sinistra, hipoalbumin (2,8), status fisik ASA IIE direncanakan untuk dilakukan SCTP emergensi. Regional Anesthesia Subarachnoidal Block (RASAB) digunakan pada tindakan SCTP dengan kombinasi levobupivacaine dan fentanyl. Persalinan dengan SCTP menggunakan anestesi regional karena prosesnya cepat, nyaman selama operasi, kualitas analgesia lebih baik pada post operasi, dan fluktuasi hemodinamik lebih stabil. Levobupivacaine memblokade natrium channel neuronal yang mencegah depolarisasi dan bersifat reversibel pada saraf sensorik dan motorik. Kombinasi fentanyl menghasilkan efek blok sensorik lebih lama dengan onset spinal anestesi yang sama. Selain itu, ia juga memperpanjang durasi blok sensorik tanpa memperpanjang durasi blok motorik sehingga nyeri pada pasien dapat berkurang tanpa mengganggu fungsi motoriknya.
Manajemen Anestesi pada Pasien Atrial Septal Defect dan Hipertensi Pulmonal yang Menjalani Prosedur Seksio Sesarea Aji, Haffidz Wahyu; Isngadi, Isngadi
Jurnal Anestesi Obstetri Indonesia Vol 7 No 1 (2024): Maret
Publisher : Indonesian Society of Obstetric Anesthesia and Critical Care (INA-SOACC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47507/obstetri.v7i1.166

Abstract

Penyakit jantung merupakan penyebab yang berperan penting dalam morbiditas dan mortalitas selama masa kehamilan, proses persalinan, dan pasca persalinan. Salah satunya adalah atrial septal defect yang dapat menyebabkan beberapa komplikasi yang lebih serius seperti hipertensi pulmonal. Penyakit jantung dalam kehamilan yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko terjadinya perburukan kondisi pada maternal. Perempuan, 38 tahun, G4P3003Ab000 hamil 37-38 minggu dengan atrial septal defect sekundum besar L to R shunt 63%, hipertensi pulmonal, bekas seksio sesarea, dan risiko tinggi dari segi usia lebih dari 35 tahun. Pada pemeriksaan fisik terdapat tekanan darah sebesar 103/48 mmHg, SpO2 97% dengan room air, dan murmur. Pada pemeriksaan ekokardiografi didapatkan atrial septal defect secundum besar Left-Right Shunt (63%), Hipertensi pulmonal,regurgitasi mitral ringan, regurgitasi pulmonal ringan, regurgitasi trikuspid ringan dengan kemungkinan hipertensi pulmonal tinggi. Pasien mendapatkan terapi berupa revatiol, ranitidin, metokloperamid, dan paracetamol. Pasien dilakukan prosedur seksio sesarea dengan teknik anestesi combine spinal epidural dengan menggunakan bupivakain 0,5% 7,5 mg dan fentanyl 25 mcg. Pasien tidak mengalami komplikasi perioperatif. Managemen anestesi yang tepat dalam kehamilan dengan atrial septal defect dan hipertensi pulmonal untuk mencegah terjadinya sindrom Eisenmenger yang dapat meningkatkan risiko perburukan kondisi pada pasien
Hubungan Kegawatdaruratan dengan Teknik Anestesi pada Plasenta Akreta di RSUP H. Adam Malik Medan Fadinie, Wulan; Fajar Apsari, Ratih Kumala; Uyun, Yusmein; Widyastuti, Yunita; Kurniawaty, Juni
Jurnal Anestesi Obstetri Indonesia Vol 7 No 1 (2024): Maret
Publisher : Indonesian Society of Obstetric Anesthesia and Critical Care (INA-SOACC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47507/obstetri.v7i1.172

Abstract

Latar Belakang: Plasenta akreta dapat terjadi selama kehamilan karena implantasi plasenta yang tidak normal, dengan anestesi neuraksial saat ini lebih umum digunakan dalam persalinan seksio sesarea untuk kasus ini.Tujuan: Penelitian bertujuan untuk menilai hubungan antara kegawatdaruratan dan teknik anestesi pada kasus plasenta akreta di RSUP H. Adam Malik Medan.Subjek dan Metode:Melibatkan analisis deskriptif kohort retrospektif menggunakan data sekunder dari rekam medis pasien plasenta akreta di RSUP H. Adam Malik Medan dari 2020 hingga 2023.Hasil: Hasil dari 200 sampel terungkap adanya hubungan antara kegawatdaruratan dan teknik anestesi. Ditemukan bahwa kasus emergensi terjadi pada 70,6% dari pasien yang menggunakan anestesi umum dan 44,9% dari pasien yang menggunakan anestesi neuraksial. Sedangkan kasus elektif terjadi pada 29,4% dari pasien yang menggunakan anestesi umum dan 55,1% dari pasien yang menggunakan anestesi neuraksial.Simpulan: Pemilihan teknik anestesi, baik anestesi umum maupun neuraksial, dipengaruhi oleh kegawatdaruratan dalam persalinan seksio sesarea pada kasus plasenta akreta.
Konversi Epidural Labor Analgesia (ELA) menjadi Anestesi Epidural untuk Crash Seksio Sesarea pada Pasien Patent Ductus Arteriosus (PDA) dan Pulmonary Hypertension (PH) Pranata, Yoga; Fajar Apsari, Ratih Kumala
Jurnal Anestesi Obstetri Indonesia Vol 7 No 1 (2024): Maret
Publisher : Indonesian Society of Obstetric Anesthesia and Critical Care (INA-SOACC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47507/obstetri.v7i1.173

Abstract

Metode untuk mengatasi nyeri persalinan telah berkembang sejak tahun 1847. Epidural Labor Analgesia (ELA) tetap menjadi intervensi utama untuk mengatasi nyeri persalinan. ELA dapat dikonversi menjadi anestesi epidural untuk seksio sesarea bila diperlukan. Seorang wanita berusia 37 tahun hamil 32 minggu datang ke ruang gawat darurat dengan sesak napas. Selanjutnya diketahui pasien memiliki Patent Ductus Arteriosus (PDA) bidireksional dengan Pulmonary Hypertension (PH). Riwayat 2 kali persalinan sebelumnya tidak ada masalah. Pasien ini direncanakan partus pervaginam dengan ELA segera setelah pematangan paru janin. Kombinasi anestesi lokal konsentrasi rendah dan opioid diberikan sebagai dosis awal, dilanjutkan dosis intermiten setiap 3-6 jam. Setelah 22 jam, dilakukan crash seksio sesarea karena gawat janin. ELA dikonversi menjadi anestesi epidural untuk operasinya. Dosis anestesi lokal yang lebih tinggi diberikan saat persiapan operasi dilakukan. Vasopresor diberikan dalam dosis titrasi untuk menjaga agar resistensi vaskular sistemik tetap tinggi. Pasien stabil baik selama ELA maupun operasi. Skor Apgar bayi adalah 5/7. Setelah 48 jam di ICU, pasien dipindahkan ke HCU. ELA dapat dikonversi menjadi anestesi epidural untuk seksio sesaria emergensi. Konsentrasi anestesi lokal yang diberikan untuk operasi sedikit lebih tinggi dibanding untuk analgesia persalinan. Tujuannya bukan hanya untuk memberikan analgesia yang memadai tetapi juga untuk menjaga kestabilan hemodinamik pasien dengan PDA dan PH.
Penyakit Serebrovaskuler pada Preeklampsia Yulianti Bisri, Dewi; Bisri, Tatang
Jurnal Anestesi Obstetri Indonesia Vol 7 No 1 (2024): Maret
Publisher : Indonesian Society of Obstetric Anesthesia and Critical Care (INA-SOACC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47507/obstetri.v7i1.175

Abstract

Preeklamsia, penyakit hipertensi yang mempengaruhi 5% hingga 8% kehamilan, adalah gangguan multisistem, dengan disfungsi pembuluh darah menjadi pusat penyakit. Pembuluh darah otak ibu sangat rentan terhadap efek samping preeklampsia. Komplikasi serebrovaskular jangka pendek dan jangka panjang dari preeklampsi termasuk sindrom ensefalopati reversibel posterior (posterior reversible encephalopathy syndrome/PRES), sindrom vasokonstriksi serebral reversibel (reversible cerebral vasoconstriction syndrome/RCVS), stroke hemoragik dan iskemik, penyakit vasokonstriksi serebral, dan demensia vaskular. Gangguan serebrovaskular akut, termasuk PRES, RCVS, stroke iskemik dan hemoragik, dan trombosis sinus vena serebral (cerebral venous sinus thrombosis/CVST), adalah komplikasi preeklampsia yang ditakuti yang dapat mengakibatkan kecacatan ibu permanen atau kematian. Risiko penyakit serebrovaskular akut pada kehamilan yang dipersulit oleh preeklampsi sebesar 1 dari 500 persalinan; sebagai perbandingan, risiko keseluruhan penyakit serebrovaskular akut terkait kehamilan adalah ≈30 per 100.000 persalinan. PRES adalah sindrom edema vasogenik dan kerusakan sawar darah otak, yang mempengaruhi struktur kortikal dan subkortikal dan semua daerah otak. Ada kecenderungan pada lobus parietal dan oksipital, kadang-kadang mengakibatkan gangguan penglihatan atau kebutaan kortikal. Hadir dengan keluhan sakit kepala thunderclap yang parah, RCVS menyebabkan vasospasme arteri sirkulus Willisi dan dapat dikaitkan dengan stroke iskemik dan subarachnoid hemorrhagic (SAH) nonaneurisma, biasanya di atas convexitas serebral.
Manajemen Anestesi pada Pasien Laparotomi Kista Ovarium Permagna dengan Teknik Rapid Sequence Induction Pardede, Annisaa Shafira; Hidayat, Nopian; Irawan, Dino
Jurnal Anestesi Obstetri Indonesia Vol 7 No 1 (2024): Maret
Publisher : Indonesian Society of Obstetric Anesthesia and Critical Care (INA-SOACC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47507/obstetri.v7i1.181

Abstract

Kasus kista ovarium permagna merupakan kasus yang jarang. Laporan kasus ini melaporkan manajemen anestesi pada pasien dengan kista ovarium permagna yang dilakukan tindakan laparotomi kistektomi dengan teknik anestesi umum. Pasien perempuan 51 tahun dikonsulkan dengan perut tampak membesar sejak lima belas tahun sebelum masuk rumah sakit. Saat ini pasien terasa sulit berjalan dan berbaring akibat masa yang sangat besar pada abdomen. Pasien direncanakan untuk menjalani laparotomi kistektomi dengan teknik anestesi umum. Tanda-tanda vital dan hasil pemeriksaan durante dan pasca laparotomi kistektomi dalam batas normal. Dalam berbagai literatur, anestesi umum selalu menjadi pilihan utama untuk pasien dengan massa abdomen yang besar. Periode praoperasi adalah periode yang paling penting pada pasien dengan massa abdomen yang besar. Anamnesis dan pemeriksaan fisik adalah langkah prosedur yang vital. Rapid Sequence Induction merupakan prosedur yang bertujuan untuk mengurangi kejadian aspirasi paru selama manajemen jalan napas. Hal ini dapat dicapai dengan meminimalkan waktu antara hilangnya refleks pelindung saluran napas akibat obat dan keberhasilan pemasangan serta penggembungan manset tabung trakea. Pengelolaan anestesi pada pasien kista ovarium permagna menggunakan teknik Rapid Sequence Induction memiliki keuntungan tersendiri, namun demikian tetap diperlukan pertimbangan dan pemahaman yang baik agar menghasilkan hasil keluaran yang optimal.

Page 1 of 1 | Total Record : 8