cover
Contact Name
Asep Maulana
Contact Email
annisajurnal207@gmail.com
Phone
+6281317321954
Journal Mail Official
asepmaulana@iain-jember.ac.id
Editorial Address
Jl. Mataram No.1, Karang Miuwo, Mangli, Kaliwates, Jember, East Java, Indonesia 68136
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
AN-NISA : Journal of Gender Studies
ISSN : 20860749     EISSN : 26544784     DOI : https://doi.org/10.35719/annisa.v12i1
Gender and religion Gender and education Gender and psychology Gender and law/ politic Gender and language/ literature Gender and culture Gender and other social studies Children Islamic Studies
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol. 12 No. 1 (2019)" : 7 Documents clear
UPAYA PERDAMAIAN PROSES PERCERAIAN MELALUI MEDIASI OLEH PENGADILAN AGAMA SEBAGAI FAMILY COUNSELING Fadili, Al; Sidiq, Mahfudz
An-Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman Vol. 12 No. 1 (2019)
Publisher : LP2M IAIN Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/annisa.v12i1.5

Abstract

One of the social problems in Jember is the high divorce rate. Divorce is chosen because it is considered as a solution to the problems that previously occurred in the family. On the other hand, many studies have shown that divorce could bring negative effects on husbands, wives and children. It means that divorce not only brings the positive effects because it ends the previous problem but also raises new problems. Therefore, it needs family counseling agencies that can help to solve the problem. Religious court is not a family counseling institution but in practice, it has effort to reconcile and resolve family problems through mediation, so it is important to understand the mediation effort of divorce in religious court as family counseling. This research used qualitative approach in descriptive type. The research location was in Religious Court of Jember. The used informant determination technique was Purposive technique. The used data collection methods were observation, interviews, and documentation. The data were analyzed by using Miles and Huberman model. The research results indicated that the mediation of divorce in religious court was an effort to solve family problems done by both husband and wife assisted by neutral and professional third party that was mediator. He did not take decision, but he helped families reach reconciliation. The mediation process was carried out with a problem solving approach with several steps, namely (1) establishing relationships with clients (2) identifying family problems, (3) doing caucus as needed, (4) giving advice, (5) offering reconciliation through written agreement, and (6) making formal agreement. Salah satu masalah sosial di Jember adalah tingginya angka perceraian. Perceraian dipilih karena dianggap sebagai solusi atas permasalahan yang sebelumnya terjadi dalam keluarga. Di sisi lain, banyak penelitian menunjukkan bahwa perceraian dapat berdampak negatif bagi suami, istri, dan anak. Artinya, perceraian tidak hanya membawa dampak positif karena mengakhiri masalah sebelumnya tetapi juga menimbulkan masalah baru. Oleh karena itu, diperlukan lembaga konseling keluarga yang dapat membantu menyelesaikan masalah tersebut. Pengadilan Agama bukanlah lembaga konseling keluarga tetapi dalam praktiknya memiliki upaya untuk mendamaikan dan menyelesaikan masalah keluarga melalui mediasi, sehingga penting untuk memahami upaya mediasi perceraian di pengadilan agama sebagai konseling keluarga. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe deskriptif. Lokasi penelitian di Pengadilan Agama Jember. Teknik penentuan informan yang digunakan adalah teknik Purposive. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mediasi perceraian di pengadilan agama merupakan upaya penyelesaian masalah keluarga yang dilakukan oleh suami dan istri dengan dibantu pihak ketiga yang netral dan profesional sebagai mediator. Dia tidak mengambil keputusan, tetapi dia membantu keluarga mencapai rekonsiliasi. Proses mediasi dilakukan dengan pendekatan pemecahan masalah dengan beberapa langkah, yaitu (1) menjalin hubungan dengan klien (2) mengidentifikasi masalah keluarga, (3) melakukan kaukus sesuai kebutuhan, (4) memberi nasihat, (5) menawarkan rekonsiliasi melalui kesepakatan tertulis, dan (6) membuat kesepakatan formal.
KEPEMIMPINAN PEREMPUAN PERSPEKTIF ISLAM DAN GENDER Hasanah, Hikmatul; Suprianik, Suprianik
An-Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman Vol. 12 No. 1 (2019)
Publisher : LP2M IAIN Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/annisa.v12i1.6

Abstract

A woman has great potential, as well as a man, it can be seen from the various roles of woman needed in society, including: the role of reproduction, economic, social, political and Islamic leadership. However, in Islamic leadership, most women are only members of the management in social organizations, because they are deemed not have brave characteristics like men, except the social organization that all of the members are women. this is because women's interests are not accommodated in various political decisions. Education is the main factor that determines the activeness of women as administrators of political parties, obstacle experienced by women in political parties, including through a number of issues such as; education, employment, justice and gender equality, domestic roles, patriarchal culture, religion and family relationship. Woman, who has the competence to lead the country, could be heads of state in the modern society context, because the modern government system is not same with monarchy system in classical times, where the head of state must control all state affairs. Whereas in the modern era, there are separate sections in shaping the performance of leader of state. Seorang perempuan memiliki potensi yang besar, demikian pula halnya dengan laki-laki, hal ini terlihat dari berbagai peran yang dibutuhkan perempuan dalam masyarakat, antara lain: peran reproduksi, ekonomi, sosial, politik dan kepemimpinan Islam. Namun dalam kepemimpinan Islam, sebagian besar perempuan hanya menjadi pengurus dalam organisasi kemasyarakatan, karena dianggap tidak memiliki sifat pemberani seperti laki-laki, kecuali organisasi kemasyarakatan yang semua anggotanya adalah perempuan. Hal ini dikarenakan kepentingan perempuan tidak terakomodir dalam berbagai keputusan politik. Pendidikan merupakan faktor utama yang menentukan keaktifan perempuan sebagai pengurus partai politik, kendala yang dialami perempuan di partai politik, diantaranya melalui sejumlah isu seperti; pendidikan, pekerjaan, keadilan dan kesetaraan gender, peran rumah tangga, budaya patriarki, agama dan hubungan keluarga. Perempuan yang memiliki kompetensi memimpin negara dapat menjadi kepala negara dalam konteks masyarakat modern, karena sistem pemerintahan modern tidak sama dengan sistem monarki pada zaman klasik, dimana kepala negara harus menguasai semua urusan kenegaraan. Padahal di era modern, terdapat bagian tersendiri dalam membentuk kinerja pemimpin negara.
PERAN KEPEMIMPINAN PEREMPUAN DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN BISNIS Mauliyah, Nur Ika; Sinambela, Ella Anastasya
An-Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman Vol. 12 No. 1 (2019)
Publisher : LP2M IAIN Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/annisa.v12i1.7

Abstract

The chance to be a leader, open for anyone, both men and women. Although, it cannot be denied, culture still considers that women are weak, inconsistent and only concerned with feelings than logic, so they do not deserve to be a leader. As the world develops, the assumption is a little bit of changes, which gives women chance to be a leader. In the 21st century, women's progress in working world was increased dramatically, because the quality of women is sometimes more than men. Getting a quality and high education, giving women have chance to be leader in organizations / companies. Names such as Susi Pudjiastuti, Catherine Hindra Sutjahyo, Grace Tahir, Veronika Linardi, Mary Barra, Gini Rometty, Marillyn Hewson, Sheryl Sandberg, Marissa Mayer are some of the names of women who are able to lead companies and business decision makers. Work decision making is an condition for measuring leaders, women have feminine characteristics which make them able to take business decisions well, by considering rational, realistic, logical, and pragmatic. The mindset that considers leaders only carried out by men has changed step by step. Women can also have character of a leader, such as; give direction, speeches, rhetoric and ideas. Women are not completely weak, they are also able to be a strong foundation in building organizations/ companies. Kesempatan menjadi pemimpin, terbuka bagi siapa saja, baik pria maupun wanita. Meski tidak bisa dipungkiri, budaya masih menganggap perempuan lemah, tidak konsisten dan hanya mementingkan perasaan daripada logika, sehingga tidak pantas menjadi pemimpin. Seiring perkembangan dunia, asumsinya adalah sedikit perubahan, yang memberi peluang bagi perempuan untuk menjadi pemimpin. Pada abad ke-21, kemajuan perempuan dalam dunia kerja meningkat drastis, karena kualitas perempuan terkadang lebih dari laki-laki. Mendapatkan pendidikan yang berkualitas dan tinggi, memberikan perempuan kesempatan untuk menjadi pemimpin dalam organisasi / perusahaan. Nama-nama seperti Susi Pudjiastuti, Catherine Hindra Sutjahyo, Grace Tahir, Veronika Linardi, Mary Barra, Gini Rometty, Marillyn Hewson, Sheryl Sandberg, Marissa Mayer adalah beberapa nama perempuan yang mampu memimpin perusahaan dan pengambil keputusan bisnis. Pengambilan keputusan kerja merupakan salah satu syarat untuk mengukur pemimpin, perempuan yang memiliki sifat feminin sehingga mampu mengambil keputusan bisnis dengan baik, dengan mempertimbangkan rasional, realistis, logis, dan pragmatis. Pola pikir yang menganggap pemimpin hanya dilakukan oleh laki-laki berubah sedikit demi sedikit. Wanita juga bisa memiliki karakter seorang pemimpin, seperti; memberi arahan, pidato, retorika dan ide. Perempuan tidak sepenuhnya lemah, mereka juga mampu menjadi fondasi yang kuat dalam membangun organisasi / perusahaan.
MODEL PENGEMBANGAN BUDAYA RELEGIUS DI MADARASAH IBTIDAIYAH DALAM PENGUATAN KARAKTER SISWA Sultoniyah, Luluk; Royani, Ahmad
An-Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman Vol. 12 No. 1 (2019)
Publisher : LP2M IAIN Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/annisa.v12i1.8

Abstract

Moral decadence phenomenon among teenagers includes college student. Lately, it has disturbed many parties. The phenomenon could seen from juvenile deliquency, drug, and free relationship. Higher educational institution that shoud be moral development center and students moral, even in some cases being a moral decadence transit. Therefore, educational institution is not only expected as a place to get knowledge, but also could give enough stock in educating strong student morals to face globalization era. The development of religious culture in MI Al-Barokah An-Nur Ajung Jember is carried out by instilling systematic behavior or manners in practicing their religions, so that they have good personality, character, noble morality, and responsibility, both their relationship with Allah, with human beings and with the environment. therefore, the values developed at MI Al-Barokah An-Nur were emphasizing morality, achievement, discipline and environmental culture. Fenomena dekadensi moral di kalangan remaja termasuk mahasiswa. Belakangan ini hal itu meresahkan banyak pihak. Fenomena tersebut terlihat dari kenakalan remaja, narkoba, dan hubungan bebas. Perguruan tinggi yang seharusnya menjadi pusat pengembangan moral dan moral siswa, bahkan dalam beberapa kasus menjadi transit dekadensi moral. Oleh karena itu, lembaga pendidikan tidak hanya diharapkan sebagai tempat menimba ilmu, tetapi juga dapat memberikan bekal yang cukup dalam mendidik akhlak siswa yang kuat untuk menghadapi era globalisasi. Pengembangan budaya keagamaan di MI Al-Barokah An-Nur Ajung Jember dilakukan dengan menanamkan perilaku atau tata krama yang sistematis dalam mengamalkan agamanya, sehingga memiliki kepribadian, akhlak, akhlak yang mulia, dan tanggung jawab yang baik, baik hubungannya dengan Allah, maupun hubungan mereka dengan Allah. dengan manusia dan dengan lingkungan. Oleh karena itu nilai-nilai yang dikembangkan di MI Al-Barokah An-Nur adalah mengutamakan moralitas, prestasi, disiplin dan budaya lingkungan.
PEMENUHAN KEBUTUHAN DASAR ANAK OLEH ORANG TUA PASCA PERCERAIAN Ullabanati, Isa Vila Rizki; Sidiq, Mahfudz
An-Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman Vol. 12 No. 1 (2019)
Publisher : LP2M IAIN Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/annisa.v12i1.10

Abstract

Jember is a district with a high divorce rate in the East Java province. Divorcing leaves behind a victim which is the child of a divorced couple. Children who are victims of broken home usually have negative behavior both for themselves and the surrounding environment due to family conditions that are broke apart. In addition, the needs of broken home child unlike when the family is still intact. But the children's victim of the divorced parents in Tegalsari Village did not show deviant behavior like most children who were victims of broken home. The purpose of this study is to describe how to fulfill the basic needs of children by parents after divorce. The approach of this research is qualitative and uses descriptive type of research. Determination of informants in this study using a purposive technique. The technique of collecting data uses observation, interviews, and documentation. Data analysis used data reduction, data presentation, and conclusion or verification. The data validity technique used is in the form of source triangulation. The results showed that both divorced parents still met their children's needs even though they were not in one house. Needs fulfilled by parents are educational needs, health needs and needs of achievement. The way fathers and mothers fulfill their children's needs is somewhat different. Mothers in meeting their children's needs are more responsive, organized and resilient starting from simple things to serious problems. While the father in fulfilling his children's needs is less sensitive to the needs of his child. It means that the father in meeting the needs of his children seems serious when the problem is considered very important, for example a child who is seriously ill must be taken to the hospital and others. Jember merupakan salah satu kabupaten dengan tingkat perceraian yang tinggi di Provinsi Jawa Timur. Perceraian meninggalkan korban yang merupakan anak dari pasangan yang bercerai. Anak-anak yang menjadi korban broken home biasanya memiliki perilaku negatif baik terhadap diri sendiri maupun lingkungan sekitarnya akibat kondisi keluarga yang berantakan. Selain itu, kebutuhan anak broken home tidak seperti saat keluarga masih utuh. Namun anak-anak korban dari orang tua yang bercerai di Desa Tegalsari tidak menunjukkan perilaku menyimpang seperti kebanyakan anak yang menjadi korban broken home. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana pemenuhan kebutuhan dasar anak oleh orang tua pasca perceraian. Pendekatan penelitian ini adalah kualitatif dan menggunakan jenis penelitian deskriptif. Penentuan informan dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Teknik keabsahan data yang digunakan berupa triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua orang tua yang bercerai tetap dapat memenuhi kebutuhan anaknya meskipun tidak berada dalam satu rumah. Kebutuhan yang dipenuhi oleh orang tua adalah kebutuhan pendidikan, kebutuhan kesehatan dan kebutuhan berprestasi. Cara ayah dan ibu memenuhi kebutuhan anak mereka agak berbeda. Ibu dalam memenuhi kebutuhan anaknya lebih tanggap, teratur dan ulet mulai dari hal yang sederhana hingga masalah yang serius. Sedangkan ayah dalam memenuhi kebutuhan anaknya kurang peka terhadap kebutuhan anaknya. Artinya bapak dalam memenuhi kebutuhan anaknya nampak serius padahal masalah dianggap sangat penting, misalnya anak yang sakit parah harus dibawa ke rumah sakit dan lain-lain.
PERAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN SEBAGAI UPAYA MEREDAM PENYEBARAN HOAKS Zain, Mahmud
An-Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman Vol. 12 No. 1 (2019)
Publisher : LP2M IAIN Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/annisa.v12i1.11

Abstract

Nowadays everyone has a gadget and social media account, such as WhatsApp, Facebook, Twitter, Instagram, etc. This can make anyone addicted of technology and make them happy, comfortable, even stress. Therefore, school as a constitutional education obligate to anticipate the spreading of hoax. One of the ways is the role of educational psychology as education process of material learning related to technology. Technology supports all sorts of ability in managing the information gotten by students, such as; understanding, analysis, and critical thinking. Learning process of technology can used by teacher to give instruction in order that the students can managing the information, so that, they can behaving critically and avoiding of spreading of hoax. Saat ini setiap orang memiliki gadget dan akun media sosial, seperti WhatsApp, Facebook, Twitter, Instagram, dll. Hal ini dapat membuat siapa saja kecanduan teknologi dan membuat mereka senang, nyaman, bahkan stres. Oleh karena itu, sekolah sebagai pendidikan konstitusional wajib mengantisipasi penyebaran hoax. Salah satu caranya adalah dengan peran psikologi pendidikan sebagai proses pendidikan materi pembelajaran yang berkaitan dengan teknologi. Teknologi mendukung segala macam kemampuan dalam mengelola informasi yang diperoleh siswa, seperti; pemahaman, analisis, dan pemikiran kritis. Proses pembelajaran teknologi dapat dimanfaatkan oleh guru untuk memberikan arahan agar siswa dapat mengelola informasi, sehingga mereka dapat bersikap kritis dan terhindar dari penyebaran hoax.
POLA-POLA SOPHISTIKASI DALAM PENYALAHGUNAAN GADGET DI KALANGAN ANAK (Telaah Terhadap Penyimpangan Perilaku Anak Akibat Penggunaan Teknologi Informasi) Nawangsari, Dyah
An-Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman Vol. 12 No. 1 (2019)
Publisher : LP2M IAIN Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/annisa.v12i1.12

Abstract

80 percent of all internet users include children and adolescents are 15-19 year old. They use internet to find information, to connect with their friends and for entertainment. This is easy for gadget abuse. based on the survey conducted the National Commission for Child Protection about adolescent sexual behavior in 2007, there are 97% of teenagers in Indonesia have accessed pornography. The survey involved 4,726 respondents from middle and high school students among 13-17 years old in 12 major cities. This research aims to describe: (1) The form of gadget deviation as the impact of IT abuse for teenagers. (2) the reason of the deviation, (3) the effort of stake holder in managing the gadget deviation. By using a combination of quantitative and qualitative approache, the result of this research as follows: (1) Some gadget deviations that are often done by children such as: addicted to gadgets, accessing romantic nuances that lead to pornography and accessing violent shows. (2) The background of these deviations includes: the desire of children to be accepted in the community, efforts to build self-confidence, and efforts to find identity. (3) several attempts have made to overcome gadged abuse, both by parents, teachers and government. 80 persen dari semua pengguna internet termasuk anak-anak dan remaja berusia 15-19 tahun. Mereka menggunakan internet untuk mencari informasi, terhubung dengan teman-teman mereka dan untuk hiburan. Ini mudah untuk penyalahgunaan gadget. Berdasarkan survei yang dilakukan Komnas Perlindungan Anak tentang perilaku seksual remaja tahun 2007, terdapat 97% remaja di Indonesia yang telah mengakses pornografi. Survei tersebut melibatkan 4.726 responden dari siswa sekolah menengah dan menengah berusia 13-17 tahun di 12 kota besar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) Bentuk penyimpangan gadget sebagai dampak penyalahgunaan TI pada remaja. (2) alasan penyimpangan, (3) upaya stake holder dalam mengelola penyimpangan gadget. Dengan menggunakan kombinasi pendekatan kuantitatif dan kualitatif, hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Beberapa penyimpangan gadget yang sering dilakukan oleh anak-anak seperti: kecanduan gadget, mengakses nuansa romantis yang mengarah pada pornografi dan mengakses tayangan kekerasan. (2) Latar belakang penyimpangan tersebut meliputi: keinginan anak untuk diterima di masyarakat, upaya membangun rasa percaya diri, dan upaya menemukan jati diri. (3) Berbagai upaya telah dilakukan untuk menanggulangi penyalahgunaan, baik oleh orang tua, guru maupun pemerintah.

Page 1 of 1 | Total Record : 7