cover
Contact Name
Aluddin
Contact Email
aluddin2222@gmail.com
Phone
+6285341982221
Journal Mail Official
jurnalterapeutik@gmail.com
Editorial Address
Jl. AH. Nasution No. G87 anduonohu, Kota kendari
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Terapeutik jurnal
ISSN : 23561653     EISSN : 2746749X     DOI : -
Core Subject : Health,
Terapeutik Jurnal merupakan jurnal yang memuat hasil-hasil penelitian maupun naskah konsep dalam bidang ilmu keperawatan dan kedokteran komunitas.
Articles 49 Documents
Changes In The Strength Of The Muscle Of Extremity Through Rom (Range Of Motion) Exercise In Stroke Patients In The Working Area Of Karangploso Health Center Of Malang District Hanifatus Sabira Astrid; Sumirah Budi Pertami; Budiono Budiono
TERAPEUTIK JURNAL : Jurnal Ilmiah Ilmu Keperawatan dan Kedokteran Komunitas Vol 5 No 02 (2019): Terapeutik Jurnal : Jurnal Ilmiah Ilmu Keperawatan dan Kedokteran Komunitas
Publisher : LPPM STIKes Karya Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stroke merupakan gangguan pada sistem saraf ditandai dengan serangan akut / mendadak yang mengakibatkan kelumpuhan pada salah satu sisi badan secara persisten dan menimbulkan kematian sel saraf (neuron). Stroke dapat menimbulkan dampak salah satunya terjadi gangguan muskuloskeletal yaitu penururnan kekuatan otot. Salah satu terapi alternatif dalam proses rehabilitasi pada pasien stroke yaitu Range Of Motion Exercise merupakan gerakan pada segmen tubuh terjadi sebagai akibat kontraksi otot atau gaya dari luar (external forces) yang menggerakkan tulang. Terapi ini sudah dikenal oleh terapis maupun tenaga kesehatan namun pada beberapa rumah sakit. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh ROM Exercise terhadap perubahan kekuatan otot ekstremitas atas pada pasien stroke. Desain penelitian ini adalah studi kasus deskripsi dengan jumlah sampel 2 subjek responden. Hasil observasi menunujukan kekuatan otot yaitu >3 dalam kategori baik, menunjukan adanya peningkatan signifikan antara skala kekuatan otot sebelum dan sesudah dilakukan ROM Exercise disebabkan oleh kontraksi otot dan pergerakan yang sering dilakukan sehingga masa otot bertambah dan membuat kekuatan otot meningkat serta memelihara mobilitas persendian. Diharapkan hasil penilitian ini, ROM Exercise bisa dijadikan petugas kesehatan sebagai salah satu tindakan perawatan yang efektif untuk pasien stroke yang mengalami kelemahan kekuatan otot pada bagian ekstremitas dan bertujuan untuk mempercepat pemulihan dengan teknik yang sesuai dan terjadwal. Abstract Stroke is a disorder of the nervous system characterized by an acute attack resulting in paralysis of one side of the body persistently and causing death of nerve cells (neurons). Stroke can cause one of the effects of musculoskeletal disorders that is the reduction of muscle strength. One alternative therapy in the rehabilitation process in stroke patients is the Range Of Motion Exercise is a movement in the body segment occurs as a result of muscle contraction or force from the outside (external forces) that move the bone. This therapy is already known by therapists as well as health workers but in some hospitals The purpose of this study to determine the effect of ROM Exercise on changes in upper extremity muscle strength in stroke patients. The design of this study is a case study description with a sample size of 2 subjects of respondents. The observation result showed that muscle strength was> 3 in good category, showed a significant increase between muscle strength scale before and after done ROM Exercise caused by muscle contractions and frequent movements so that muscle mass increases and increases muscle strength and maintains joint mobility. It is expected that the results of this study, ROM Exercise can be used as health care workers as one of the effective treatment measures for stroke patients who experience weakness of muscle strength in the extremities and aims to speed recovery by appropriate and unscheduled techniques.
Hubungan Fungsi Afektif Keluarga Dengan Perilaku Kenakalan Remaja Di SMA Negeri 15 Konawe Selatan Nurfantri Nurfantri
TERAPEUTIK JURNAL : Jurnal Ilmiah Ilmu Keperawatan dan Kedokteran Komunitas Vol 3 No 02 (2017): Terapeutik Jurnal : Jurnal Ilmiah Ilmu Keperawatan dan Kedokteran Komunitas
Publisher : LPPM STIKes Karya Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masa remaja adalah masa peralihan, yang bukan hanya dalam arti psikologis, tetapi juga fisiknya. Peralihan dari anak ke dewasa ini meliputi semua aspek perkembangan yang dialami sebagai persiapan memasuki masa dewasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan fungsi afektif keluarga dengan perilaku kenakalan remaja di SMA Negeri 15 Konawe Selatan. Penelitian ini dilaksanakan dengan rancangan cross sectionaldengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Populasi adalah seluruh siswa (i) yang terdaftar sebagai pelajar di SMA Negeri 15 Konawe Selatan kelas II yang berjumlah 120 orang. Pemilihan sampel dalam penelitian ini ditentukan dengan cara simple random sampling. Uji statistik yang digunakan uji fixher exact test. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa remaja yang melakukan kenakalan remaja sebanyak 21 responden (38,2%) dan tidak melakukan kenakalan remaja sebanyak 34 responden (61,8%).Fungsi afektif keluarga baik sebanyak 19 responden (34,4%) dan kurang baik sebanyak 36 responden (65,6%).Terdapat hubungan antara fungsi afektif keluarga dengan perilaku kenakalan remaja di SMA Negeri 15 Konawe Selatan (p=0,001). Simpulan penelitian ini adalah orangtua yang memiliki anak (usia) remaja sebaiknya lebih meningkatkan daya kontrol terhadap perkembangan anak terlebih khusus dalam hal pergaulan anak, serta lebih memperhatikan lagi aktivitas dan intensitas komunikasi keluarga yang terjalin di dalam keluarga, karena kedua faktor itu sangat penting dalam mencegah terjadinya kenakalan remaja. The transition from child to adult covers all aspects of development experienced as a preparation for adulthood. This study aims to determine the relationship of affective function of families with behavior of juvenile delinquency in SMA Negeri 15 Konawe Selatan. This research was conducted with cross sectional design using quantitative approach. The population is all students (i) registered as students in SMA Negeri 15 Konawe Selatan class II which amounts to 120 people. The sample selection in this research is determined by simple random sampling. Statistical test used test fixher test. The result of this research shows that teenagers who do juvenile delinquency are 21 respondents (38,2%) and do not do juvenile delinquency as many as 34 respondents (61,8%) Good affective family function as much 19 respondents (34,4%) and less good as many as 36 respondents (65.6%) There is relationship between affective function of family with behavior of juvenile delinquency in SMA Negeri 15 Konawe Selatan (p = 0,001). The conclusion of this study is that parents who have children (age) adolescents should further increase the control of the child's development especially special in terms of intercourse of children, and more attention to the activity and intensity of family communication in the family, because both factors are very important in preventing the happening of juvenile delinquency.
CHANGES IN THE STRENGTH OF THE MUSCLE OF EXTREMITY THROUGH ROM (RANGE OF MOTION) EXERCISE IN STROKE PATIENTS IN THE WORKING AREA OF KARANGPLOSO HEALTH CENTER OF MALANG DISTRICT Hanifatus Sabira Astrid; Sumirah Budi Pertami; Budiono Budiono
TERAPEUTIK JURNAL : Jurnal Ilmiah Ilmu Keperawatan dan Kedokteran Komunitas Vol 4 No 02 (2018): Terapeutik Jurnal : Jurnal Ilmiah Ilmu Keperawatan dan Kedokteran Komunitas
Publisher : LPPM STIKes Karya Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stroke is a disorder of the nervous system characterized by an acute attack resulting in paralysis of one side of the body persistently and causing death of nerve cells (neurons). Stroke can cause one of the effects of musculoskeletal disorders that is the reduction of muscle strength. One alternative therapy in the rehabilitation process in stroke patients is the Range Of Motion Exercise is a movement in the body segment occurs as a result of muscle contraction or force from the outside (external forces) that move the bone. This therapy is already known by therapists as well as health workers but in some hospitals The purpose of this study to determine the effect of ROM Exercise on changes in upper extremity muscle strength in stroke patients. The design of this study is a case study description with a sample size of 2 subjects of respondents. The observation result showed that muscle strength was> 3 in good category, showed a significant increase between muscle strength scale before and after done ROM Exercise caused by muscle contractions and frequent movements so that muscle mass increases and increases muscle strength and maintains joint mobility. It is expected that the results of this study, ROM Exercise can be used as health care workers as one of the effective treatment measures for stroke patients who experience weakness of muscle strength in the extremities and aims to speed recovery by appropriate and unscheduled techniques. Stroke merupakan gangguan pada sistem saraf ditandai dengan serangan akut / mendadak yang mengakibatkan kelumpuhan pada salah satu sisi badan secara persisten dan menimbulkan kematian sel saraf (neuron). Stroke dapat menimbulkan dampak salah satunya terjadi gangguan muskuloskeletal yaitu penururnan kekuatan otot. Salah satu terapi alternatif dalam proses rehabilitasi pada pasien stroke yaitu Range Of Motion Exercise merupakan gerakan pada segmen tubuh terjadi sebagai akibat kontraksi otot atau gaya dari luar (external forces) yang menggerakkan tulang. Terapi ini sudah dikenal oleh terapis maupun tenaga kesehatan namun pada beberapa rumah sakit. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh ROM Exercise terhadap perubahan kekuatan otot ekstremitas atas pada pasien stroke. Desain penelitian ini adalah studi kasus deskripsi dengan jumlah sampel 2 subjek responden. Hasil observasi menunujukan kekuatan otot yaitu >3 dalam kategori baik, menunjukan adanya peningkatan signifikan antara skala kekuatan otot sebelum dan sesudah dilakukan ROM Exercise disebabkan oleh kontraksi otot dan pergerakan yang sering dilakukan sehingga masa otot bertambah dan membuat kekuatan otot meningkat serta memelihara mobilitas persendian. Diharapkan hasil penilitian ini, ROM Exercise bisa dijadikan petugas kesehatan sebagai salah satu tindakan perawatan yang efektif untuk pasien stroke yang mengalami kelemahan kekuatan otot pada bagian ekstremitas dan bertujuan untuk mempercepat pemulihan dengan teknik yang sesuai dan terjadwal.
Peningkatan Pengetahuan Dalam Meningkatkan Produksi Asi Pada Klien Post Sectio Caesarea Di Ruang Laika Waraka Rumah Sakit Umum Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara Fildayanti Fildayanti
TERAPEUTIK JURNAL : Jurnal Ilmiah Ilmu Keperawatan dan Kedokteran Komunitas Vol 4 No 02 (2018): Terapeutik Jurnal : Jurnal Ilmiah Ilmu Keperawatan dan Kedokteran Komunitas
Publisher : LPPM STIKes Karya Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Produksi ASI dapat dipengaruhi oleh masalah payudara. Faktor lain yang mempengaruhi produksi ASI yaitu status kesehatan, umur dan paritas, asupan nutrisi dan cairan, faktor merokok, nyeri luka operasi disebabkan karena tindakan Sectio Caesarea, terkait faktor psikis ibu seperti kecemasan dapat menghambat produksi ASI. Tujuan studi kasus ini adalah menggambarkan peningkatan pengetahuan dalam meningkatkan produksi ASI pada klien post sectio caesarea Di Ruang Laika Waraka Rumah Sakit Umum Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan menggunakan pendekatan studi kasus. Subyek dalam penelitian ini adalah dua orang pasien post sectio caesarea dengan kriteria post sectio caesarea hari pertama, bersedia diberikan informed consent. Analisis data dilakukan secara deskriptif mengetahui peningkatan produksi ASI pasien post sectio caesarea setelah dilakukan intervensi keperawatan dengan memberikan pendidikan kesehatan. Hasil analisis menunjukan bahwa ada peningkatan tingkat pengetahuan. Pada subyek I sebelum dilakukan intervensi tingkat pengetahuan dengan skor nilai 4, setelah diberikan 2 kali intervensi pendidikan kesehatan secara berturut-turut menjadi 9, demikian dengan Subyek II terjadi peningkatan dari skor nilai 5 menjadi skor nilai 9 setelah diberikan 2 kali intervensi pendidikan kesehatan secara berturut-turut. Direkomendasikan perlunya kualitas pelayanan dalam hal pemberian pendidikan kesehatan mengenai cara peningkatan produksi ASI pada klien post sectio caesarea. Breast milk production can be affected by breast problems. Other factors that affect breast milk production are health status, age and parity, nutrient and fluid intake, smoking factors, surgical wound pain caused by Sectio Caesarea, related to maternal psychological factors such as anxiety can inhibit milk production. The purpose of this case study is to describe an increase in knowledge in increasing breastmilk production in post sectio caesarean clients in the Laika Waraka Room, Bahteramas General Hospital, Southeast Sulawesi Province. This type of research is descriptive using a case study approach. The subjects in this study were two post sectio caesarean patients with the criteria for post sectio caesarea on the first day, willing to give informed consent. Data analysis was carried out descriptively knowing the increase in ASI production of post sectio caesarean patients after nursing intervention by providing health education. The results of the analysis show that there is an increase in the level of knowledge. In subject I before the knowledge level intervention with a score of 4, after being given 2 times health education interventions were respectively 9, so with Subject II there was an increase from a score of 5 to a score of 9 after 2 consecutive health education interventions were given -accordingly The need for quality service is recommended in terms of providing health education on how to increase milk production in post sectio caesarea clients.
Pemberian Health Education Terhadap Penurunan Ansietas Pada Pasien Pre Operasi Di Ruang St. Yohana Rumah Sakit Santa Anna Kendari Wartini Wartini; Risnawati Risnawati
TERAPEUTIK JURNAL : Jurnal Ilmiah Ilmu Keperawatan dan Kedokteran Komunitas Vol 4 No 02 (2018): Terapeutik Jurnal : Jurnal Ilmiah Ilmu Keperawatan dan Kedokteran Komunitas
Publisher : LPPM STIKes Karya Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada umumnya klien post apendektomi memiliki lama rawat inap selama 3 hari. Mobilisasi dini sangat penting dilakukan untuk mengembalikan proses metabolisme tubuh sehingga klien dapat beraktivitas sesegera mungkin. Latihan mobilisasi dilakukan untuk mencegah komplikasi, mencegah dekubitus, merangsang peristaltik serta mengurangi nyeri. Tujuan studi kasus ini adalah menggambarkan penatalaksanaan mobilisasi dini pada pasien Post Operasi Appendiktomi Di Ruang Laika Waraka Rumah Sakit Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara pada tanggal 16-28 Juli 2018. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan menggunakan pendekatan studi kasus. Subyek dalam penelitian ini adalah dua orang pasien post apendektomi dengan kriteria pasien dengan jenis bedah elektif (terencana) maupun cito, bersedia menjadi responden. Analisa data di lakukan secara deskriptif tentang perubahan dalam mobilisasi pasien post operasi apendektomi setelah dilakukan intervensi keperawatan dengan menerapkan teknik mobilisasi dini. Hasil analisis menunjukan bahwa pelaksanaan mobilisasi pada pasien post operasi apendiktomi belum dapat dilakukan sepenuhnya dimana subyek I tahapan pelaksanaan mobilisasi dini miring ke kiri dan ke kanan, duduk dan mulai mulai berjalan pada hari kedua dengan bantuan, sedangkan pada subyek II menekuk kaki, miring ke kiri dan ke kanan, duduk dan mulai mulai berjalan pada hari kedua dengan bantuan. Direkomendasikan perlunya mobilisasi dini kepada klien post sectio caesarea agar dapat mempercepat proses penyembuhan luka post operasi. Pre-Appendectomy Patients In general, post-appendectomy clients have a length of stay of 3 days. Early mobilization is very important to restore the body's metabolic processes so that the client can move as soon as possible. Mobilization exercises are carried out to prevent complications, prevent pressure sores, stimulate peristalsis and reduce pain. The purpose of this case study is to describe the management of early mobilization in postoperative appendectomy patients in the Laika Waraka Room, Bahteramas Hospital, Southeast Sulawesi Province on 16-28 July 2018. This type of research is descriptive using a case study approach. The subjects in this study were two post-appendectomy patients with the criteria of patients with elective (planned) and cito types of surgery, willing to be respondents. Data analysis was carried out descriptively regarding changes in the mobilization of postoperative appendectomy patients after nursing interventions were carried out by applying early mobilization techniques. The results of the analysis showed that the implementation of mobilization in postoperative appendectomy patients could not be fully carried out where subject I in the stages of implementation of early mobilization tilted left and right, sat down and started walking on the second day with assistance, while in subject II bending the legs, tilted to the left and to the right, sat down and started to start walking on the second day with assistance. It is recommended the need for early mobilization for post sectio caesarea clients in order to speed up the postoperative wound healing process. Operation.
Penerapan Massage Punggung Pada Penderita Hipertensi Untuk Menurunkan Intensitas Nyeri Kepala Di Ruang Laika Waraka Rumah Sakit Umum Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara Desi Nalinda; Aluddin Aluddin
TERAPEUTIK JURNAL : Jurnal Ilmiah Ilmu Keperawatan dan Kedokteran Komunitas Vol 4 No 02 (2018): Terapeutik Jurnal : Jurnal Ilmiah Ilmu Keperawatan dan Kedokteran Komunitas
Publisher : LPPM STIKes Karya Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hipertensi atau penyakit darah tinggi sebenarnya adalah suatu gangguan pada pembuluh darah yang mengakibatkan suplai oksigen dan nutrisi, yang dibawa oleh darah terhambat sampai ke jaringan tubuh yang membutuhkan. Hipertensi sering kali disebut sebagai pembunuh gelap (Silent Killer), karena termasuk penyakit yang mematikan tanpa disertai dengan gejala-gejalanya lebih dahulu sebagai peringatan bagi korbannya. Tujuan studi kasus ini penerapan teknik massage punggung pada penderita hipertensi untuk mengurangi intensitas nyeri kepala di Ruang Laika Waraka Rumah Sakit Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara. Desain studi kasus deskriptif menggunakan pendekatan studi kasus. Berdasarkan hasil studi kasus yang dilakukan oleh peneliti pada Penderita hipertensi di Ruang Laika Waraka Rumah Sakit Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara dengan subyek studi kasus yang di teliti sebanyak 2 orang responden didapatkan hasil adanya penurunan tingkat nyeri kepala pada pasien hipertensi sesudah di berikan massage punggung. Subjek I sebelum di berikan massage punggung skala nyeri 6 menjadi skala nyeri 2 sesudah diberikan massage punggung dalam waktu 4 hari. Subjek II sebelum di berikan massage punggung skala nyeri 7 menjadi skala nyeri 2 sesudah diberikan massage punggung dalam waktu 4 hari. Kesimpulan jika massage punggung mampu mempengaruhi perubahan skala nyeri kepala pada penderita hipertensi dengan tetap mempertahankan massage punngung dalam memenuhi kebutuhan kenyamanan (rasa nyeri). Hypertension or high blood pressure is actually a disorder of the blood vessels that results in the supply of oxygen and nutrients, which are carried by blood blocked to the body tissues that need it. Hypertension is often referred to as a dark killer (Silent Killer), because it includes a deadly disease without accompanied by symptoms in advance as a warning to the victim. The purpose of this case study is the application of back massage techniques for hypertensive patients to reduce the intensity of headache in the Laika Waraka Room of Bahteramas Hospital in Southeast Sulawesi Province. Descriptive case study design uses a case study approach. Based on the results of a case study conducted by researchers in patients with hypertension in the Laika Waraka Room of Bahteramas Hospital in Southeast Sulawesi Province with 2 case study subjects examined, there were 2 respondents who obtained the results of a decrease in headache in hypertensive patients after being given back massage. Subject I before giving a back massage of the pain scale 6 to a pain scale 2 after being given back massage within 4 days. Subject II before being given a massage back pain scale 7 to a pain scale 2 after being given back massage within 4 days. Conclusion if back massage is able to influence the scale changes in headache in hypertensive patients while maintaining a permanent massage in meeting comfort needs (pain).
Manajemen Latihan Nafas Dalam Terhadap Penurunan Tekanan Darah Penderita Hipertensi Di Ruang Lavender Rumah Sakit Umum Daerah Kota Kendari Subandri Subandri; Muhammad Syahwal
TERAPEUTIK JURNAL : Jurnal Ilmiah Ilmu Keperawatan dan Kedokteran Komunitas Vol 4 No 02 (2018): Terapeutik Jurnal : Jurnal Ilmiah Ilmu Keperawatan dan Kedokteran Komunitas
Publisher : LPPM STIKes Karya Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hipertensi ditandai dengan peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg. Tindakan keperawatan yang dapat dilakukan adalah dengan teknik nafas dalam sebagai metode non farmakologi, jika diterapkan dengan baik akan memberikan efek relaksasi pada penderita. Mekanisme relaksasi nafas dalam diaplikasikan perawat dengan mengajarkan cara melakukan napas dalam dan bagaimana menghembuskan napas secara perlahan, dengan frekuensi pernafasan 6-10 kali/menit sehingga terjadi peningkatan rengang kardiopulmonari, selain dapat menurunkan intensitas nyeri, teknik tersebut dapat meningkatkan ventilasi paru dan meningkatkan suplai oksigen dalam darah. Tujuan penelitian ini adalah memberikan gambaran tentang manajemen latihan nafas terhadap penurunan tekanan darah pasien hipertensi. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan metode pendekatan studi kasus. Subjek studi kasus adalah penderita hipertesi yang sedang menjalani perawatan di ruang Lavender Lavender RSUD Kota Kendari. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan membandingkan kemampuan subjek dalam melakukan relaksasi nafas dalam disertai pengukuran tekanan darah sebelum dan setelah dilakukan relaksasi nafas dalam. Hasil penelitian terhadap 2 orang subjek diperoleh kesimpulan bahwa manajemen relaksasi nafas dalam yang dilakukan selama 3 hari mulai tanggal 15 - 18 Juli tahun 2018 dapat menurunkan tekanan darah penderita hipertensi Tn.H dari 170/100mmHg yang berangsur menurun hingga 140/90mmHg dan tekanan darah Ny.I dari 150/100mmHg menjadi 130/90mmHg. Disarankan kepada masyarakat yang mempunyai anggota keluarga penderita hipertensi agar dapat melakukan manajemen nafas dalam sebagai bentuk penanganan non farmakologis. Hypertension is characterized by an increase in systolic blood pressure of more than 140 mmHg and a diastolic blood pressure of more than 90 mmHg. Nursing action that can be done is with deep breathing techniques as a non-pharmacological method, if applied properly will give a relaxing effect on the patient. The deep relaxation mechanism of the breath is applied by the nurse by teaching how to breathe deeply and how to exhale slowly, with a respiratory frequency of 6-10 times / minute resulting in an increase in cardiopulmonary stress, in addition to reducing pain intensity, this technique can increase pulmonary ventilation and increase oxygen supply in the blood. The purpose of this study is to provide an overview of the management of breathing exercises to reduce blood pressure in hypertensive patients. This type of research is descriptive with a case study approach method. The subject of the case study was hypertensive patients who were undergoing treatment in the Lavender Lavender room of Kendari City Hospital. Data analysis was carried out descriptively by comparing the subject's ability to relax the breath with blood pressure measurements before and after relaxation of the deep breath. The results of the study of 2 subjects concluded that deep breathing relaxation management conducted for 3 days from July 15 to 18 in 2018 could reduce blood pressure of hypertensive patients Mr. H from 170 / 100mmHg which gradually decreased to 140 / 90mmHg and blood pressure. .I from 150 / 100mmHg to 130 / 90mmHg. It is suggested to people who have family members with hypertension to be able to carry out deep breath management as a form of non-pharmacological treatment.
Penerapan Terapi Aktivitas Range Of Motion (ROM) Dalam Manajemen Hambatan Mobilitas Fisik Pada Lansia Penderita Rematik Di PSTW Minaula Kendari Sarni Dwilianti; Siti Umrana
TERAPEUTIK JURNAL : Jurnal Ilmiah Ilmu Keperawatan dan Kedokteran Komunitas Vol 4 No 02 (2018): Terapeutik Jurnal : Jurnal Ilmiah Ilmu Keperawatan dan Kedokteran Komunitas
Publisher : LPPM STIKes Karya Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perubahan patologis pada rheumatoid arthritis, yang sering terjadi pada lansia menyebabkan hambatan mobilitas fisik. Masalah mobilitas yang terjadi pada lansia dapat diatasi dengan memberikan intervensi berupa latihan range of motion (ROM). Tujuan studi kasus ini adalah menggambarkan penerapan terapi aktifitas Range of Motion (ROM) dalam manajemen hambatan mobilitas fisik pada lansia penderita rematik Di PSTW Minaula Kendari. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan menggunakan pendekatan studi kasus. Subyek dalam penelitian ini adalah dua orang lansia penderita rematik dengan kriteria berusia di atas 60 tahun, mengalami hambatan mobilitas fisik, memiliki riwayat penyakit osteoarthritis, bersedia diberikan intervensi ROM, tidak mengalami gangguan mental, dislokasi dan fraktur. Analisa data di lakukan secara deskriptif tentang perubahan dalam manajemen mobilitas fisik pasien rematik setalah di lakukan intervensi keperawatan dengan menggunakan terapi Range of Motion (ROM). Hasil penelitian menunjukan bahwa adanya peningkatan derajat kekuatan otot. Sesudah dilakukan terapi ROM, derajat kekuatan otot pasien derajat 2 hingga derajat 4. Direkomendasikan perlu adanya pengawasan secara konsisten dalam pemberian terapi aktivitas Range Of Motion (ROM) sehingga terapi ini dapat berjalan dengan optimal. Pathological changes in rheumatoid arthritis, which often occur in the elderly, cause obstacles to physical mobility. Mobility problems that occur in the elderly can be overcome by providing interventions in the form of range of motion (ROM) exercises. The purpose of this case study is to describe the application of activity therapy Range of Motion (ROM) in the management of physical mobility barriers to elderly rheumatoid sufferers in PSTW Minaula Kendari. This type of research is descriptive using a case study approach. The subjects in this study were two elderly rheumatoid sufferers with criteria over the age of 60 years, experiencing physical mobility barriers, having a history of osteoarthritis, being willing to be given ROM intervention, not experiencing mental disorders, dislocation and fracture. Data analysis was carried out descriptively about changes in the management of physical mobility of rheumatic patients after nursing interventions using the Range of Motion (ROM) therapy. The results showed that there was an increase in the degree of muscle strength. After ROM therapy, the degree of muscle strength of patients is 2 to 4 degrees. It is recommended to have consistent supervision in the provision of therapy for Range Of Motion (ROM) activities so that this therapy can run optimally.
Efektivitas Penerapan Terapi Inhalasi Nebulizer pada Anak yang Menderita Bronchopneumonia di Ruang Mawar Anak RSU Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara Dyah Saraswati; Herman Herman
TERAPEUTIK JURNAL : Jurnal Ilmiah Ilmu Keperawatan dan Kedokteran Komunitas Vol 4 No 02 (2018): Terapeutik Jurnal : Jurnal Ilmiah Ilmu Keperawatan dan Kedokteran Komunitas
Publisher : LPPM STIKes Karya Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bronchopneumonia suatu peradangan pada parenkim paru yang terlokalisir yang biasanya mengenai bronkiolus dan juga mengenai alveolus disekitarnya, yang sering menimpa anak-anak, bayi, dan balita, yang disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing. Nebulizer adalah alat yang dapat mengubah obat yang berbentuk larutan menjadi aerosol atau uap yang sangat halus secara terus menerus dengan tenaga yang berasal dari udara yang dipadatkan atau gelombang ultrasonik agar bisa di hisap ke dalam saluran pernapasan dan paru-paru. Tujuan studi kasus mengetahui efektivitas penerapan terapi inhalasi nebulizer pada anak yang mengalami bronchopneumonia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Subjek studi kasus ini adalah klien bronchopneumonia yang dirawat di Ruang Lambu Barakati II RSUD Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara yang berjumlah III subjek. Penelitian dilakukan sejak tanggal 9 sampai 21 Juli 2018. Setelah dilakukan penerapan terapi inhalasi nebulizer pada penderita bronchopneumonia, hasilnya keluhan yang dialami klien dapat teratasi. Dapat disimpulkan bahwa penerapan terapi inhalasi nebulizer efektif untuk mengatasi keluhan yang dialami klien yang menderita bronchopneumonia. Saran bagi masyarakat, perlu diberikan informasi tentang penggunaan nebulizer serta keefektifan terapi inhalasi nebulizer khususnya dalam mengatasi masalah atau keluhan yang di alami oleh penderita Bronchopneumonia. Bronchopneumonia is an inflammation of the localized lung parenchyma which usually affects the bronchioles and also about the surrounding alveoli, which often affects children, infants and toddlers, which is caused by various etiologies such as bacteria, viruses, fungi and foreign objects. Nebulizer is a device that can convert a drug in the form of a solution into a very fine aerosol or steam continuously with energy derived from compressed air or ultrasonic waves so that it can be sucked into the respiratory tract and lungs. The purpose of the case study was to find out the effectiveness of the application of nebulizer inhalation therapy in children with bronchopneumonia. The method used in this research is descriptive method with a case study approach. The subject of this case study was a client of bronchopneumonia who was treated in the Lambu Room in Barakati II, Bahteramas Public Hospital, Southeast Sulawesi Province, which amounted to three subjects. The study was conducted from 9 to 21 July 2018. After the application of nebulizer inhalation therapy in patients with bronchopneumonia, the results of complaints experienced by clients can be resolved. It can be concluded that the application of nebulizer inhalation therapy is effective to overcome complaints experienced by clients suffering from bronchopneumonia. Suggestions for the community, need to be given information about the use of nebulizer and the effectiveness of nebulizer inhalation therapy, especially in dealing with problems or complaints experienced by patients with Bronchopneumonia.