cover
Contact Name
Yohanes Hasiholan Tampubolon
Contact Email
jotampubolon@ymail.com
Phone
+62263-2323854
Journal Mail Official
tedeum@sttsappi.ac.id
Editorial Address
Kp. Palalangon RT 02 RW 09, Desa Kertajaya, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat Kotak Pos 10 Ciranjang 43282 Cianjur, Jawa Barat
Location
Kab. cianjur,
Jawa barat
INDONESIA
Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan)
ISSN : 22523871     EISSN : 27467619     DOI : http://doi.org/10.51828/td
Tujuan dari penerbitan jurnal ini adalah untuk memublikasikan hasil kajian ilmiah dan penelitian dalam lingkup kajian: 1. Penelitian teologi dan tinjauan Alkitabiah (Theological and Biblical research) 2. Pembangunan pedesaan (rural development) 3. Pendidikan kristen (Christian education) 4. Misi holistik (holistic mission) 5. Etika Kristen (Christian ethics).
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 1 No 1 (2011): Juli-Desember 2011" : 8 Documents clear
Sunat Sebagai Ergoon Nomou Chandra Gunawan
TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 1 No 1 (2011): Juli-Desember 2011
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu perdebatan yang alot dalam diskusi seputar teologi Paulus adalah mengenai arti frasa ergoon nomou. Ada banyak jurnal dan buku sudah dituliskan untuk memberikan alternatif pengertian terhadap frasa tersebut. Perdebatan mengenai hal tersebut muncul, salah satunya, karena interpretasi baru yang dilontarkan oleh kelompok New Perspective terhadap arti frasa tersebut. James D. G. Dunn, salah satu tokoh utama New Perspective, menegaskan bahwa arti dari frasa ergoon nomou terutama menunjuk pada hukum-hukum identitas. Ada tiga respons yang muncul terhadap pemikiran baru tersebut; Sebagian pakar mendukung atau menyatakan kesejajaran pandangannya dengan Dunn; sebagian pakar lain menolak pandangan tersebut dan tetap berpegang pada pandangan tradisional yang memandang arti dari frasa e;rgwn no,mou sebagai perbuatan baik/tuntutan hukum Taurat; dan sebagian pakar lain lagi menggabungkan kedua pandangan di atas.
Tanggapan Terhadap Demitologisasi Bultmann dalam Hubungannya dengan Konsep Kristologi Sunarto Sunarto
TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 1 No 1 (2011): Juli-Desember 2011
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51828/td.v1i1.67

Abstract

Salah satu topik teologi Kristen yang selalu menarik untuk dibahas adalah masalah Kristologi. Doktrin Kristologi bukan hanya menjadi pergumulan bagi gereja, teolog dan masyarakat Kristen pada masa kini, tetapi pergumulan ini sudah terjadi di era Gereja Purba. Pergumulan doktrin Kristologi telah menjadi perdebatan di kalangan teolog dan masyarakat Kristen, bahkan di luar Kristen pun ikut-ikutan untuk menanggapinya. Persoalan teologi Kristen pada masa kini dapat dikatakan karena berakar dari pemahaman Kristologi yang berbeda-beda. Munculnya bidat Arianisme juga berkaitan dengan masalah Kristologi. Arius memiliki pemahaman bahwa Allah Anak (Kristus) tidak setara dengan Allah Bapa dan pandangan Arius akhirnya dikutuk pada Konsili di Nicea 325 M. Pemahaman Kristologi yang berbeda-beda juga menyebabkan gereja menjadi terpolarisasi dalam berbagai dominasi, bahkan ratusan denominasi Kristen. Terpecahnya Gereja Timur (Gereja Ortodok) dan Gereja Barat (Katolik Roma) juga tidak terlepas dari perbedaan pemahaman tentangan masalah doktrin.
Keunikan Inkarnasi Kristus Cenglyson Tjajadi
TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 1 No 1 (2011): Juli-Desember 2011
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tidak dapat disangkal bahwa doktrin inkarnasi adalah dasar yang esensisi bagi doktrin keselamatan dalam kekristenan. Grudem mendefi-nisikan inkarnasi sebagai tindakan Allah Anak yang mengambil natur manusia bagi diri-Nya. Hal yang serupa juga diungkapkan oleh Paul Enns bahwa inkarnsi berarti “di dalam daging” dan menunjukkan pada tindakan di mana Putra Allah yang kekal mengambil bagi diri-Nya tambahan natur manusia, melalui kelahiran dari seorang anak dara. Allah yang mengambil natur manusia dalam inkarnasi Kristus merupakan keunikan dari kekristenan. Namum demikan konsep inkarnasi ini ternyata tidak menjadi monopoli kekristenan karena secara umum inkarnasi dapat berarti penjelmaan roh dalam wujud makhluk lain terutama manusia. Selain kekristenan yang mengenal konsep inkarnasi, agama Hindu juga mengenal konsep ini khususnya pada penjelamaan Visnu, salah satu dari trimurti (tiga dewa utama agama Hindu). Melalui makalah ini saya mencoba memperbandingkan antara inkarnasi Visnu dengan inkarnasi Kristus. Dengan perbandingan ini saya mencoba menunjukkan keunikan dari inkarnsi Kristus.
Respons Apologetis terhadap Limited Godism yang Membatasi Persona Allah Aeron Frior Sihombing
TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 1 No 1 (2011): Juli-Desember 2011
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51828/td.v1i1.69

Abstract

Fenomena-fenomena yang terjadi di dalam kekristenan yaitu: ada seruan yang menyatakan bahwa Allah adalah mahakuasa dan tidak dapat dibatasi oleh apa pun, namun di sisi lain dikatakan bahwa Allah dapat digerakkan oleh orang percaya (Luk.18:1-8); pujian dan penyembahan dilakukan untuk dapat mengenal Allah, dan juga untuk dapat memuaskan kebutuhan spiritual maupun untuk menjawab masalah orang percaya; fenomena Allah berbicara kepada orang percaya secara khusus, yang disebut dengan rhema. Itu merupakan kehendak Allah secara khusus kepadanya; minyak urapan (Mrk.6:12), melaluinya orang percaya dapat disembuhkan dari berbagai penyakit, menyelamatkan orang percaya dari kecelakaan dan sebagai syarat atau kunci untuk pintu masuk ke dalam pintu surga; pemuja nama Yahweh menyatakan bahwa tiada nama Allah selain Yahweh. Sebab, nama ini adalah nama yang suci dan yang paling benar; marketing gereja, yang mana Injil telah dikomersialkan untuk keuntungan gereja. Injil telah diperdagangkan, sehingga menghasilkan untung dan untuk menambah jumlah anggota jemaat.
Pandangan-Pandangan tentang sumber Dosa dan Dosa Asal, Aplikasi dalam Kehidupan Materi dan Imateri dari Seorang Kristen yang Saleh Edwin Gandaputra Yen
TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 1 No 1 (2011): Juli-Desember 2011
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam kesalehan seorang Kristen, siapa yang bisa berkata dengan bangga bahwa dirinya tidak berdosa? Dalam aplikasi kehidupan materi, banyak orang Kristen yang mengetahui tentang dosa, tapi tidak mampu melawan keterikatan dosa. Kesalehan seseorang dapat dilihat (salah satunya) dari aplikasi pengetahuan tentang dosa di dalam kemenangan demi kemenangan melawan keterikatan dosa. Baik para teolog, hamba-hamba Tuhan, para deaken, para penatua, para pengurus gereja, para aktivis gereja maupun jemaat biasa, semuanya bergumul dengan satu kata yaitu DOSA. Apakah Saudara adalah seorang Kristen yang saleh? Seberapa hebat Anda dalam menang terhadap dosa? Tulisan ini dimulai dari pengetahuan tentang sumber dosa, mengatasi dosa menurut pandangan-pandangan yang sudah diuraikan, pengetahuan tentang dosa asal, dilihat dari beberapa sudut pandang dan (yang penting dari) sudut pandang Alkitab dan diapilikasikan dalam kehidupan rohani seorang Kristen serta (secara spesial) penulis yang baru dan terus menerus belajar menjadi seorang teolog di Asia memberanikan diri untuk mengemukakan pandangannya tentang sumber dosa.
Sikap Hidup dari Sudut Pandang Etika Kristen Yusman Liong
TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 1 No 1 (2011): Juli-Desember 2011
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perubahan zaman yang pesat telah memberikan dampak yang besar pada masyarakat pluralis perkotaan. Hal ini terlihat dari perubahan-perubahan sikap hidup masyarakat yang semula sangat terikat dengan agama, budaya, sekarang telah beralih menjadi masyarakat yang sekuler, yang tidak lagi berpedoman pada nilai dan moral agama. Oleh sebab itu, masyarakat pluralis perkotaan lebih menyukai perkara atau persoalan yang tadinya rumit dengan berbagai upacara dan tatakramanya telah berubah menjadi lebih menyukai persoalan itu menjadi hal yang praktis. Pasangan muda yang menikah akan lebih menyukai upacara yang sederhana daripada harus mengikuti upacara secara adat ataupun agama. Pesta dengan upacara adat biasanya akan memakan waktu seminggu, sedangkan memakai upacara pemberkatan Gerejawi harus terlebih dahulu mengikuti pembinaan pra nikah yang memakan waktu selama tiga bulan.
Perkawinan, Perceraian dan Perkawinan Ulang Hadi P. Sahardjo
TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 1 No 1 (2011): Juli-Desember 2011
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51828/td.v1i1.72

Abstract

Sebenarnya sudah sangat banyak tulisan yang membahas maslah perkawinan, perceraian dan perkawinan kembali. Namun penulis terdorong untuk kembali mengangkat topik ini sebagai bahan perenungan bagi setiap orang Kristen, khususnya para hamba Tuhan. Anda boleh setuju ataupun tidak dengan apa yang penulis paparkan di sini. Tetapi ini suatu fakta yang kita hadapi saat ini. Dari tahun ke tahun, perceraian bukannya berkurang, tetapi justru semakin menunjukkan peningkatan. Hal ini juga sering melanda kehidupan jemaat Tuhan. Akhirnya gereja diperhadapkan dengan masalah yang sulit antara yang “harus” merupakan perintah Allah dengan “keharusan” untuk menghadapi anggota jemaatnya yang tertimpa kasus semacam itu. Meskipun yang menjadi pokok pembahasan dalam tulisan ini adalah tentang perceraian dan perkawinan ulang, namun untuk menjembatani keterkaitan dan guna mendapatkan suatu konsep yang runtut, maka selain masalah perceraian juga akan dibahas dua hal yang terkait erat dengan masalah perceraian, yaitu tentang perkawinan dan perkawinan kembali (remarriage).
Kisah Ester Nenny Natalina Simamora
TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 1 No 1 (2011): Juli-Desember 2011
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51828/td.v1i1.73

Abstract

Pendidikan sering dipandang sebagai suatu kebutuhan penting bagi anak-anak usia sekolah saja. Faktanya, pendidikan bukan hanya penting bagi anak-anak usia sekolah atau mahasiswa saja, tetapi juga penting bagi semua orang, termasuk kelompok usia dewasa, atau yang sering disebut sebagai orang dewasa. Namun, tidak banyak orang dapat memahami pentingnya pendidikan bagi orang dewasa, termasuk gereja. Bahkan banyak anggapan di masyarakat bahwa orang dewasa bukan saatnya lagi untuk dididik dan belajar, tetapi saatnya menjadi pengajar atau pendidik yang mengajar atau mendidik orang lain. Perlu suatu kesadaran bahwa orang dewasa tetap membutuhkan pendidikan sesuai kebutuhannya. Jika gereja ingin melibatkan orang dewasa secara aktif dalam kehidupan bergereja, maka gereja seharusnya tetap terbuka terhadap pentingnya pendidikan orang dewasa dalam jemaatnya. Sidjabat menjelaskan bahwa dalam konteks gereja, pendidikan orang dewasa adalah praktik pendidikan dari, oleh dan untuk, serta bersama dengan orang dewasa, dengan dasar, tujuan dan dinamika yang berlandaskan pada iman Kristen.

Page 1 of 1 | Total Record : 8