cover
Contact Name
T Heru Nurgiansah
Contact Email
setiawan1000@gmail.com
Phone
+6281322551635
Journal Mail Official
nurgiansah@upy.ac.id
Editorial Address
Jl. IKIP PGRI I Sonosewu No.117, Sonosewu, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55182
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Kewarganegaraan
ISSN : 19780184     EISSN : 27232328     DOI : https://doi.org/10.31316/jk.v7i1.5299
Core Subject : Education, Social,
Jurnal Kewarganegaraan is published 2 times in 1 year in June and December. The scope of the article includes: 1. Pancasila Education 2. Citizenship Education 3. Social Sciences 4. Politic 5. Law
Articles 3,219 Documents
PENERAPAN FILOSOFI SUNDA “SOMÉAH HADÉ KA SÉMAH” DALAM INTERAKSI VIRTUAL Andika Ardiyansyah; Davina Naja Suryantoro; Pieter Sutrisna; Soraya Sekar Mustika A Kadir
Jurnal Kewarganegaraan Vol 5 No 2 (2021): 1 Juli - 31 Desember 2021
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/jk.v5i2.1958

Abstract

AbstrakTiap suku bangsa memiliki nilai budaya yang dipegang oleh masyarakatnya sebagai pegangan dalam berkehidupan sehari-hari, termasuk di dalamnya adalah interaksi sosial. Dalam berinteraksi sosial, masyarakat Sunda terkenal dengan keramahannya, sesuai dengan filosofi “Soméah Hadé ka Sémah” yang bermakna berbuat baik, ramah, dan sopan kepada setiap orang. Sesuai dengan perkembangan zaman, interaksi sosial kini tidak terbatas ruang dan waktu, memberikan kebebasan bagi tiap individu untuk dapat berinteraksi dengan orang lain. Namun, hal ini membuat orang lupa bahwa hakikatnya berinteraksi secara virtual sama dengan berinteraksi secara langsung. Ada nilai dan norma yang harus dipegang sebagai batasan dalam berinteraksi. Untuk itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perbedaan antara interaksi langsung dengan virtual. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dan ditujukan untuk membandingkan data yang diperoleh baik dari berbagai rujukan maupun dari lapangan. Hasil penelitian menunjukkan sebagian orang memanfaatkan kebebasan yang ada dalam interaksi virtual untuk berinteraksi dengan orang lain tanpa mempertimbangkan nilai yang berlaku di masyarakat. Hal ini didasari oleh kebebasan dan kerahasiaan identitas dalam interaksinya. Penelitian ini menunjukkan faktor-faktor yang mengakibatkan sebagian orang merasa abai terkait nilai di dunia digital. Harapannya, penelitian ini dapat menjadi pembanding dengan teori yang sudah ada dan sebagai rujukan dalam memecahkan masalah di masyarakat.Kata kunci: Interaksi, virtual, filosofi, soméah, identitas, komunikasi AbstractEach nation has cultural values its people hold as a grip on day-to-day living, including social interaction. In social interaction, sundanese are known for their hospitality, which fits the “Soméah Hadé ka Sémah” philosophy which means to be kind, gracious, and courteous to everyone. In keeping with the development of times, social interaction is now infinite in time and space, allowing freedom for each individual to interact with each other, but it makes one forgets that virtual interaction is essentially equivalent to face-to-face interaction. There are values and norms that must be held as boundaries in interacting. To that end, this study aims to examine the differences between direct and virtual interaction. Qualitative research methods are used to compare data obtained from both referrals and the field. Studies show that some people uses the freedom available in virtual interaction to interact with others without considering the values that prevail in society. This is caused by the freedom and anonymity it has. This study shows factors that have caused some people to neglect the values that exist in the digital world. Hopefully, it can appeal to existing theories and be used as a reference to solve problems in the society.Keywords: Interaction, virtual, philosophy, soméah, identity, communication
PENGARUH BUDAYA MAKAN DENGAN TANGAN TERHADAP PENYEBARAN COVID-19 DI KOTA BANDUNG Gregorius Kevin Setiawan; Ayodya Kuncoroadi Yudhitama Wardana; Aileen Devita Adjani; Zahra Salsabila
Jurnal Kewarganegaraan Vol 5 No 2 (2021): 1 Juli - 31 Desember 2021
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/jk.v5i2.1960

Abstract

AbstrakPandemi Covid-19 yang terus berlanjut menyebabkan krisis kesehatan pada banyak negara, termasuk Indonesia. Hal ini disebabkan oleh kemampuan virus yang menyebar dengan cepat. Kota Bandung, sebagai salah satu kota dengan jumlah penduduk yang padat juga terkena dampak dari pandemi ini. Untuk mengatasi pandemi, pemerintah Indonesia melakukan upaya seperti penerapan physical distancing, di mana pada aturan tersebut masyarakat diimbau untuk mencuci tangan dengan benar, menjauhi kerumunan, selalu menggunakan masker, dsb. Pandemi dan rasa khawatir masyarakat berpengaruh pada salah satu budaya bangsa Indonesia, yakni budaya makan dengan tangan. Budaya ini sudah dilakukan sejak dahulu kala dan dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat Indonesia. Pada penelitian ini, akan ditentukan pengaruh budaya makan dengan tangan terhadap penyebaran Covid-19 di Kota Bandung, beserta faktor lain yang memungkinkan terjadinya penyebaran Covid-19 tersebut. Penelitian ini dilakukan secara kualitatif dengan cara studi literatur, pencarian data dari sampel melalui pengisian kuesioner, dan analisis data secara korelasi parsial. Dari segi kuantitatif, analisis data dilakukan dengan menaksir data kebiasaan penduduk Kota Bandung dari data sampel melalui pencarian selang kepercayaan dengan taraf signifikansi 95%. Berdasarkan data dari 102 responden, didapatkan bahwa 15.7% responden pernah terjangkit Covid-19, 98% persen responden selalu menggunakan masker saat keluar rumah, dan 42.2% responden pernah berkerumun saat pandemi. Dengan penaksiran selang kepercayaan, didapatkan penduduk Kota Bandung yang pernah ataupun yang belum pernah terjangkit Covid-19 memiliki frekuensi makan dengan tangan “kadang-kadang”. Penduduk Kota Bandung yang pernah terjangkit Covid-19 mencuci tangan dengan benar sebelum makan, baik dengan tangan maupun peralatan makan, dengan frekuensi “kadang-kadang” sampai “sangat sering”, sedangkan yang tidak pernah terjangkit Covid-19 mencuci tangan dengan benar sebelum makan dengan frekuensi “sangat sering”. Dari hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa budaya makan dengan tangan tidak berpengaruh terhadap penyebaran Covid-19 di Kota Bandung. Hal yang mempengaruhi penyebaran Covid-19 adalah kebiasaan mencuci tangan, menggunakan masker, dan stay at home.Kata Kunci: covid-19; budaya; makan dengan tangan AbstractThe ongoing Covid-19 pandemic has caused a health crisis in many countries, including Indonesia. This is due to the ability of the virus to spread quickly.  The city of Bandung, as one of the cities with a dense population, has also been affected by this pandemic. To overcome the pandemic, the Indonesian government has made efforts such as implementing physical distancing, in which the public is advised to wash their hands properly, stay away from crowds, always wear masks, etc. The pandemic and people's worries have an effect on one of the Indonesian cultures, namely the culture of eating with hands.  This culture has been carried out since a very long time ago and is carried out from generation to generation by the people of Indonesia. In this study, it will determine the influence of the culture of eating with hands on the spread of Covid-19 in Bandung City, along with other factors that allow the spread of Covid-19.  This research was conducted qualitatively by means of a literature study, searching for data from samples through filling out questionnaires, and analyzing data by partial correlation.  From a quantitative point of view, data analysis was carried out by estimating the habit data of the population of Bandung from the sample data by searching for a confidence interval with a significance level of 95%.  Based on data from 102 respondents, it was found that 15.7% of respondents has been infected by Covid-19, 98% percent of respondents always used masks when leaving the house, and 42.2% of respondents had gone out in crowds during a pandemic. By using a confidence interval estimation, it was found that residents of Bandung City who have or have never been infected with Covid-19 have a frequency of eating with their hands "sometimes". Residents of Bandung City who have been infected with Covid-19 wash their hands properly before eating, both with hands and cutlery, with a frequency of "sometimes" to "very often", while those who have never been infected with Covid-19 wash their hands properly before eating.  with a "very frequent" frequency. From this, it can be concluded that the culture of eating with hands has no effect on the spread of Covid-19 in the city of Bandung. Things that affect the spread of Covid-19 are the habits of washing hands, wearing masks, and staying at home.Key Words: covid-19, culture, eat with hands
HUBUNGAN ANTARA KEBIJAKAN UU ITE DENGAN KEINGINAN MAHASISWA DALAM MENGKRITIK PEMERINTAH DI MEDIA SOSIAL Hansen Cahyadi; Joshua Levin Kurniawan; Daffa Rafi Dahana; Michelia Viki Zaneta
Jurnal Kewarganegaraan Vol 5 No 2 (2021): 1 Juli - 31 Desember 2021
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/jk.v5i2.1962

Abstract

AbstrakIndonesia merupakan negara yang menganut sistem demokrasi sehingga kehidupan demokrasi tidak pernah lepas dari kehidupan bernegara. Sistem demokrasi yang ideal adalah sistem demokrasi yang mampu menjembatani masyarakat dengan pemerintahan. Salah satu bentuk kontribusi masyarakat terhadap proses pemerintahan negara adalah menyatakan kritik terhadap pemerintah. Di era digital ini, penyampaian kritik dapat dilakukan tidak hanya melalui media verbal, tetapi dapat dilakukan melalui media sosial. Meskipun media sosial dapat digunakan sebagai media untuk menyampaikan kritik terhadap pemerintah, polemik mengenai UU ITE masih menjadi pertimbangan untuk menyampaikan kritik karena adanya beberapa aturan dalam UU ITE yang menjadi alasan absensi mereka. Hal-hal tersebut mendorong kami untuk melakukan penelitian lebih lanjut terhadap mahasiswa sebagai bagian dari insan akademik yang sering menyampaikan opini atau kritik mereka dalam upaya demokrasi di Indonesia. Penelitian ini didasari dengan tujuan untuk mengetahui tingkat partisipasi mahasiswa dalam mengemukakan kritik terhadap pemerintah di media sosial. Penelitian ini dilakukan dengan metode penelitian kuantitatif melalui penyebaran kuesioner untuk melakukan survei dalam jangka waktu satu minggu. Diketahui bahwa ternyata mahasiswa lebih memilih media sosial sebagai media penyampaian kritik, tetapi mahasiswa hampir tidak pernah menyampaikan kritik karena UU ITE masih menjadi pertimbangan mereka. Meskipun begitu, mahasiswa tetap menyetujui pemberlakuan UU ITE dalam penyampaian kritik terhadap mahasiswa di media sosial.Kata Kunci : demokrasi ; kritik ; media sosial ; UU ITE ; kuesioner AbstractIndonesia is a country that adheres to a democratic system so that democratic life is never separated from state life. The ideal democratic system is a democratic system that can bridge the community with the government. One form of community contribution to the process of state governance is to express criticism of the government. In this digital era, the delivery of criticism can be done not only through verbal media but can be done through social media. Although social media can be used as a medium to convey criticism of the government, the polemic regarding the ITE Law is still a consideration for conveying criticism because several rules in the ITE Law are the reason for their absence. These things encourage us to conduct further research on students as part of academic people who often express their opinions or criticisms in the efforts of democracy in Indonesia. This research is based on the aim of knowing the level of student participation in expressing criticism of the government on social media. This research was conducted using quantitative research methods through distributing questionnaires to survey within one week. It is known that it turns out that students prefer social media as a medium for delivering criticism, but students rarely express criticism because the ITE Law is still their consideration. Even so, students still agree with the implementation of the ITE Law in conveying criticisms of students on social media.Keywords: Democracy; Criticism; social media; ITE Act; questionnaire
PENGARUH PENERAPAN PRINSIP GOOD GOVERNANCE TERHADAP PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN PUBLIK DI BADAN PERTANAHAN NASIONAL KABUPATEN PANDEGLANG Seftia Ira Anggraeni; Ronni Juwandi; Qotrun Nida
Jurnal Kewarganegaraan Vol 6 No 1 (2022): 1 Januari - 30 Juni 2022 (In Press)
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/jk.v6i1.1974

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan prinsip good governance terhadap peningkatan kualitas pelayanan publik di BPN (Badan Pertanahan Nasional) Kabupaten Pandeglang. Penelitian ini merupakan penelitian korelasi dengan pendekatan kuantitatif, dimana variabel independen adalah penerapan prinsip good governance dan variabel dependen adalah peningkatan kualitas pelayanan publik. Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat penerima pelayanan di BPN (Badan Pertanahan Nasional) Kabupaten Pandeglang yang diambil 100 orang untuk dijadikan sampel penelitian. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan angket tertutup. Teknik analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah teknik analisis korelasi product moment dan analisis regresi linier sederhana untuk mengetahui pengaruh penerapan prinsip good governance (X) sebagai variabel bebas terhadap peningkatan kualitas pelayanan publik (Y) sebagai variabel terikat. Hasil penenlitian ini menunjukan terdapat pengaruh yang signifikan antara penerapan prinsip good governance (X) terhadap peningkatan kualitas pelayanan publik (Y) di BPN (Badan Pertanahan Nasional) Kabupaten Pandeglang. Hal tersebut berdasarkan pengujian analisis korelasi pearson product moment, nilai pearson correlation sebesar 1,000 dengan taraf signifikansi sebesar 0,000. Dimana, apabila nilai korelasi product moment yakni thitung lebih besar daripada ttabel atau taraf signifikansi kurang dari 0,05 dan koefisien determinasi bernilai menandakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara Penerapan Prinsip Good Governance Terhadap Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik. Hasil penelitian ini juga diperkuat dengan uji t pada Analisis Linier Regresi Sederhana yang menunjukan bahwa thitung yaitu 4,910 lebih besar > ttabel yaitu 1,984.Kata Kunci : Good Governance, Kualitas Pelayanan Publik AbstractThis research is a correlation research with a quantitative approach, where the independent variable is the application of the principles of good governance and the dependent variable is the improvement of the quality of public services. The population in this study was the service recipient community at the BPN (National Land Agency) Pandeglang Regency, which were taken 100 people to be used as research samples. The data collection technique in this study used a closed questionnaire. The data analysis technique used to test the hypothesis is a product moment correlation analysis technique and simple linear regression analysis to determine the effect of applying the principles of good governance (X) as an independent variable to improving the quality of public services (Y) as the dependent variable. The results of this study indicate that there is a significant effect between the application of the principles of good governance (X) on improving the quality of public services (Y) at the BPN (National Land Agency) Pandeglang Regency. This is based on the Pearson product moment correlation analysis test, the Pearson correlation value is 1,000 with a significance level of 0.000. Where, if the product moment correlation value is tcount greater than ttable or the significance level is less than 0.05 and the coefficient of determination is worth indicating that there is a significant influence between the application of the principles of good governance on improving the quality of public services. The results of this study are also strengthened by the t-test on Simple Linear Regression Analysis which shows that tcount is 4.910 greater than ttable is 1.984.Keywords : Good Governance, Public Service Quality
KAITAN SILIH ASIH, SILIH ASAH, DAN SILIH ASUH DENGAN SILA KE-3 PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI NEGARA DAN FALSAFAH NEGARA Muhammad Fakhri Alhafizh; Caleb Effendi; Rouf Fathin Musthofa; Tsasyshaum Alna Najmura
Jurnal Kewarganegaraan Vol 5 No 2 (2021): 1 Juli - 31 Desember 2021
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/jk.v5i2.1975

Abstract

AbstrakPenelitian ini membahas tentang hubungan antara kearifan lokal Sunda, yaitu pandangan orang Sunda mengenai kehidupan yang berkonsep Silih Asih, Silih Asah, dan Silih Asuh, dengan Pancasila sebagai ideologi dan falsafah negara, khususnya Pancasila sila ke-3, yaitu "Persatuan Indonesia". Konsep kearifan lokal yang berbunyi Silih Asih, Silih Asah, dan Silih Asuh ini memiliki makna yaitu saling asah (belajar), asih (peduli), dan asuh (menyayangi). Makna ini pun memiliki pesan tersirat yang sama dengan Pancasila sila ke-3, "Persatuan Indonesia", yaitu ingin menanamkan sifat persatuan pada tiap-tiap individu. Judul penelitian ini adalah Kaitan Silih Asih, Silih Asah, dan Silih Asuh dengan Sila ke-3 Pancasila sebagai Ideologi Negara dan Falsafah Negara. Kemudian, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis dan mengetahui hubungan antara Pancasila, khususnya sila ke-3 dengan kearifan lokal Sunda, Silih Asih, Silih Asah, dan Silih Asuh. Metode pengumpulan data yang digunakan untuk penelitian ini adalah metode deskriptif atau content analysis. Teknik pengumpulan data yang digunakan untuk penelitian ini adalah observasi dan studi dokumen. Hasil yang kami peroleh dari riset ini adalah ada kaitan dari budaya Silih Asih, Silih Asah, dan Silih Asuh dengan Pancasila sila ke-3 yang dapat dilihat dari kesamaan makna dan tujuannya Keduanya memiliki makna untuk menjunjung tinggi kebersamaan, persatuan dan kesatuan bangsa. Lalu, keduanya juga memiliki tujuan untuk menciptakan kehidupan bermasyarakat yang harmonis. Terakhir, manfaat yang bisa didapatkan dari penelitian ini adalah kita dapat mengimplementasikan budaya Silih Asih, Silih Asah, dan Silih Asuh yang berkaitan dengan Pancasila sila ke-3 di kehidupan sehari-hari.kata kunci: kaitan, kearifan lokal Sunda, Pancasila sila ke-3 AbstractThis study discusses the relations between Sundanese local wisdom which is the Sundanese people's view of life with the concepts of Silih Asih, Silih Asah, and Silih Asuh, with Pancasila as the ideology and philosophy of the state, especially the 3rd Pancasila principle, “Persatuan Indonesia". The concept of local wisdom, Silih Asih, Silih Asah, and Silih Asuh has the meaning of mutual learning (asah), caring (asih), and loving (asuh). It also has the same implied message as the 3rd Pancasila principle, "Persatuan Indonesia", which is to instill the nature of unity in each individual. The title of this research is Kaitan Silih Asih, Silih Asah, dan Silih Asuh dengan Sila ke-3 Pancasila sebagai Ideologi Negara dan Falsafah Negara. Then, the purpose of this research is to analyze and find out the relations between Pancasila, especially the 3rd principle with Sundanese local wisdom, Silih Asih, Silih Asah, and Silih Asuh. The data collection method used for this research is descriptive method or content analysis. Data collection techniques used for this research are observation and document study. The results we obtained from this research, there are a link or relation between the culture of Silih Asih, Silih Asah, and Silih Asuh with the 3rd Pancasila principle which can be seen from the similarity of meanings and purpose. Both have the meaning to uphold togetherness, unity and national unity. Then, both of them also have the goal of creating a harmonious social life. Finally, the benefit that can be obtained from this research is we implement the culture of Silih Asih, Silih Asah, and Silih Asuh related to the 3rd Pancasila principle in everyday life.keywords: Relation, Sundanese local wisdom, The third Pancasila principle
PENERAPAN NILAI PANCASILA SILA KE-4 DALAM DINAMIKA KEHIDUPAN KULIAH ONLINE PADA MASA PANDEMI COVID-19 Aditya Anandita Dharma; Dwiki Ananda Ananda Classirio; Sarah Hanifah; Viorella Angelica Hadi Guntoro
Jurnal Kewarganegaraan Vol 5 No 2 (2021): 1 Juli - 31 Desember 2021
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/jk.v5i2.1976

Abstract

AbstrakDinamika dalam mengaktualisasikan nilai Pancasila ke dalam kehidupan berbangsa, dan bernegara adalah suatu kewajiban agar Pancasila selalu relevan dalam fungsinya sebagai pedoman untuk pengambilan kebijaksanaan dan pemecahan masalah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pada masa pandemi COVID-19 ini, dibutuhkannya kerjasama dari berbagai pihak untuk terus dapat menurunkan nilai-nilai dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara kepada generasi selanjutnya dengan baik. Makna dari adanya dinamika dalam aktualisasi nilai sila ke empat dari Pancasila pada kehidupan adalah selalu terjadinya perubahan dan pembaharuan dalam mentransformasikan nilai Pancasila ke dalam norma dan praktik hidup dengan menjaga konsistensi, relevansi, dan kontekstualisasi-nya. Sedangkan perubahan dan pembaharuan yang berkesinambungan terjadi apabila terdapat dinamika internal (self renewal) dan penyerapan terhadap nilai-nilai asing yang relevan untuk pengembangan dan pengayaan ideologi Pancasila. Salah satu kontribusi yang dapat dilakukan untuk mengaktualisasikan nilai tersebut adalah dengan mengajarkan Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraan. Data yang disajikan berasal dari kajian pustaka dan penelusuran literatur dari berbagai sumber yang relevan. Adapun metode yang dilakukan adalah dengan metode kualitatif. Hasil yang diperoleh berdasarkan temuan kajian pustaka dan penelusuran literatur menunjukkan bahwa di era globalisasi saat ini bahkan pandemi COVID-19, banyak masyarakat, generasi muda yang tidak mengindahkan bahkan mengetahui peranan penting Pancasila dan Kewarganegaraan di kehidupan berbangsa dan bernegara.Kata Kunci: Pendidikan, Pandemi Covid-19, Kehidupan, Berbangsa, Bernegara. AbstractDynamics in actualizing the value of Pancasila into the life of the nation, and state is an obligation that Pancasila is always relevant in its function as a guideline for wisdom taking and problem solving in the life of the nation and state. During the COVID-19 pandemic, cooperation from various parties is needed to continue to be able to reduce the dynamic values of national and state life to the next generation well. The meaning of the dynamics in the actualization of the fourth precept value of Pancasila in life is always a change and renewal in transforming the value of Pancasila into living norms and practices by maintaining consistency, relevance, and contextualization. While continuous change and renewal occur when there is an internal dynamic (self renewal) and absorption of foreign values relevant to the development and enrichment of Pancasila ideology. One of the contributions that can be made to actualize these values is to teach Pancasila and Citizenship Education. The data presented comes from literature studies and literature searches from a variety of relevant sources. The method is done by qualitative method. Results obtained based on the findings of literature studies and literature searches show that in the current era of globalization even the COVID-19 pandemic, many people, young people who do not heed even know the important role of Pancasila and Citizenship in the life of the nation and state.Keywords: Education, Covid-19 Pandemic, Life, Nationhood, Statehood.
KAJIAN VALIDITAS KLAIM CHINA ATAS WILAYAH LAUT CINA SELATAN INDONESIA Patrisius Bagus Alvito Baylon; Octavianus Bagaswara Adi; Linquinn Aiko; Inditha Roulina Silalahi; Satrio Hasian Sitanggang; Dimas Naufal Al Ghifari; Bernard Susanto; Laode Muhammad Syarifizal; Alfiannisa Nur Afifah; Qoulan Thoyyibah Sulaiman; Epin Saepudin
Jurnal Kewarganegaraan Vol 5 No 2 (2021): 1 Juli - 31 Desember 2021
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/jk.v5i2.1986

Abstract

AbstrakLewat nine dash line, China melakukan klaim atas wilayah Laut China Selatan, termasuk di dalamnya meliputi wilayah Indonesia. Dampak dari klaim tersebut adalah peningkatan aktivitas China di Laut China Selatan, seperti meningkatnya aktivitas kapal-kapal China di wilayah laut Indonesia. Penelitian ini bermaksud untuk melihat validitas klaim China atas wilayah Indonesia di Laut China Selatan. Klaim China didasarkan pada klaim historis berdasarkan aktivitas kelautan nelayan tradisional China di wilayah tersebut. Dalam mengatur wilayah yuridiksi di laut, terdapat hukum internasional untuk mengaturnya, yakni United Nation Convention on The Law of The Sea. Dalam hukum tersebut, telah diatur bahwa suatu negara berhak atas beberapa wilayah laut, seperti Zona Ekonomi Ekslusif, Landas Kontinen, dan Laut Teritorial. Klaim dan aktivitas yang dilakukan China di wilayah Laut China Selatan merupakan pelanggaran terhadap berapa pasal dalam UNCLOS sekaligus pelanggaran terhadap kedaulatan Indonesia yang memiliki hak atas wilayahnya di laut tersebut, beserta dengan sumber daya di dalamnya.Kata kunci: Laut China Selatan, UNCLOS, Indonesia, China AbstractChina claims the majority of the South China Sea as their territory using nine-dash line, including Indonesia’s sea territory. To strengthen the claim, China increases its activity in the region by sending its ships into Indonesia’s territory. China's claims over the region are based on a historical claim from their traditional fishermen's activity in that area. There is international law to regulate jurisdiction areas in the sea, such as The United Nations Convention on The Law of The Sea. The document regulates that a nation has a right over sea territories, such as Exclusive Economic Zone, Continental Shelf, and Territorial Sea. China's claim and activity over the region are a violation to several clauses in the UNCLOS and Indonesia’s sovereignty over the region, including are the resources in it.Keywords: South China Sea, UNCLOS, Indonesia, China
PENERAPAN DEMOKRASI BERKEADABAN DALAM KEBUDAYAAN DAN TRADISI SUKU BUGIS Gabriana Akhira Malik; Muhammad Sandi Putra Pratama Maso; Muhammad Ziyad Akbar; Salsabila Fathona
Jurnal Kewarganegaraan Vol 5 No 2 (2021): 1 Juli - 31 Desember 2021
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/jk.v5i2.1987

Abstract

AbstrakDalam kebudayaan Bugis kuno atau dapat disebut juga masa pra-Islam dan kolonial, terdapat suatu karya sastra yang berisi filosofi atau ajaran mengenai berbagai aspek kehidupan termasuk sistem politik dan kemasyarakatan yang dinamakan Lontarak Bugis. Pada naskah Lontarak ini banyak ditemukan hal-hal yang sebangun dengan nilai-nilai demokrasi dan hak asasi manusia (HAM) sebagaimana kita kenal sekarang. Lontarak Bugis ini juga menjadi sumber referensi dan refleksi bagi para pemegang otoritas kekuasaan di era Bugis purba. Penelitian ini bertujuan untuk memvalidasi kesesuaian antara demokrasi berkeadaban dengan kebudayaan salah satu suku di Indonesia, yaitu suku Bugis. Pengumpulan data dilakukan dengan studi literatur. Suku Bugis yang telah menerapkan demokrasi berkeadaban sejak abad 15 dan 16 membuktikan bahwa mereka menggunakan asas-asas demokrasi berkeadaban sebelum dunia barat menjadikannya pedoman dalam kehidupan bermasyarakat. Suku Bugis mempunyai sistem adat mengenai bentuk demokrasi dalam menyuarakan suara rakyat yang disebut sistem norma Pangngadereng. Dari penelitian ini, diharapkan dapat menambah pengetahuan masyarakat terutama mahasiswa ITB mengenai sistem demokrasi di salah satu daerah di Indonesia. Selain itu, sistem demokrasi di kebudayaan Bugis dapat menjadi contoh untuk masyarakat lain dalam menerapkan sistem demokrasi di daerahnya.Kata Kunci: Suku Bugis, Demokrasi Berkeadaban, Kebudayaan AbstractIn ancient Bugis culture or it can also be called the pre-Islamic and colonial period, there is a literature work that contains philosophy or teachings regarding various aspects of life including the political and social system called Lontarak Bugis. In this Lontarak manuscript, many things are found that are congruent with the values of democracy and human rights as we know it today. This Bugis Lontarak is also a source of reference and reflection for the authorities in the ancient Bugis era. This study aims to validate the compatibility between civilized democracy and the culture of one of the tribes in Indonesia, namely the Bugis. Data was collected by means of a literature study. The Bugis who have implemented civilized democracy since the 15th and 16th centuries have proven that they used the principles of civilized democracy before the western made them a guide in their social life. The Bugis tribe has a customary system regarding the form of democracy in voicing the people’s voice which is called the Pangngadereng norm system. From this research, it is hoped that it can increase public knowledge especially ITB students about the democratic system in one of the tribes in Indonesia. Furthermore, the democratic system in Bugis culture can be an example for other communities in implementing the democratic system in their area.Keywords: Bugis Tribe, Civilized Democracy, Culture
PENGGUNAAN SUMBER BELAJAR DENGAN PENDEKATAN MULTILITERASI SISWA KELAS IX-C SMP NEGERI 27 TEBO PADA MATA PELAJARAN PPKN Reski Wilarsih; Dona Sariani; Irwan Irwan
Jurnal Kewarganegaraan Vol 5 No 2 (2021): 1 Juli - 31 Desember 2021
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/jk.v5i2.1994

Abstract

AbstrakBerdasakan hasil observasi awal yang dilakukan peneliti di SMP Negeri 27 Tebo menunjukkan masalah pada penggunaan sumber belajar dengan pendekatan multiliterasi siswa. Masalah yang dimaksud yaitu pada penggunaan sumber belajar untuk mendukung pembelajaran khususnya pada mata pelajaran PPKn, di mana siswa masih berpedoman pada Lembar Kerja Siswa (LKS) dan buku paket yang dimiliki siswa dari sekolah, tanpa didukung dengan referensi lain. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penggunaan sumber belajar dengan pendekatan multiliterasi siswa kelas IX-C SMP Negeri 27 Tebo. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 27 Tebo pada 07 September s/d 07 November 2020. Informan penelitian ini adalah guru mata Pelajaran PPKn, waka bidang kurikulum, dan siswa kelas IX-C (8 orang). Metode pengumpulan data pada penelitian ini adalah pengumpulan data kualitatif yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan sumber belajar dengan pendekatan multiliterasi siswa kelas IX-C SMP Negeri 27 Tebo pada mata pelajaran PPKn masih berpedoman pada buku cetak dan LKS dari pemerintah. Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa Penggunaan sumber belajar dengan pendekatan multiliterasi siswa kelas IX-C SMP Negeri 27 Tebo pada mata pelajaran PPKn belum efektif. Sumber belajar yang digunakan masih berpedoman pada buku cetak dan LKS dari pemerintah.Kata Kunci: Sumber Belajar, Multiliterasi, Pembelajaran PPKn AbstractBased on the results of initial observations made by researchers at SMP Negeri 27 Tebo showed problems in the use of learning resources with a multiliteration approach of students. The problem in question is the use of learning resources to support learning, especially in VAT subjects, where students are still guided by Student Worksheets (LKS) and package books owned by students from school, without being supported by other references. The purpose of this study is to describe the use of learning resources with the multiliteration approach of students of class IX-C of State Junior High School 27 Tebo. This research was conducted at SMP Negeri 27 Tebo on September 07 to November 7, 2020. Informants of this study are teachers of PPKn subjects, waka curriculum field, and students of class IX-C (8 people). The method of data collection in this study is qualitative data collection, namely observation, interview, and documentation. This research data analysis technique is qualitative descriptive. The results showed that the use of learning resources with the multiliteration approach of students of class IX-C of State Junior High School 27 Tebo in VAT subjects is still guided by printed books and LKS from the government. The conclusion of this study is that the use of learning resources with the multiliteration approach of students of class IX-C of State Junior High School 27 Tebo on VAT subjects has not been effective. The learning resources used are still guided by printed books and LKS from the government. Keywords: Learning Resources, Multiliteration, VAT Learning
MEDIA SOSIAL SEBAGAI SARANA UNTUK MEMBANGUN KARAKTER MASYARAKAT YANG BERLANDASKAN NILAI PANCASILA Kalisha Latifa Kartawijaya; Kyla Aisha Humaira; Marcellino Wijaya; Muhammad Gavin Wicaksono
Jurnal Kewarganegaraan Vol 5 No 2 (2021): 1 Juli - 31 Desember 2021
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/jk.v5i2.2004

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengembangkan nilai-nilai pancasila dalam penggunaan media sosial. Seiring berjalannya waktu, manusia terus menghasilkan perkembangan demi meningkatkan kemudahan dan kualitas hidup pada masyarakat. Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi salah satu perkembangan dunia yang tidak dapat dihindari. Sebagai salah satu aspek paling esensial dalam masyarakat; teknologi komunikasi menjadi salah satu teknologi yang perkembangannya paling berdampak secara keseluruhan pada gaya hidup masyarakat. Media sosial merupakan sarana komunikasi dari hasil perkembangan IPTEK yang memiliki pengaruh sangat besar terhadap kebudayaan manusia. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui serta menganalisis bagaimana sosial media dapat menjadi sarana penyaluran dan pengembangan karakter masyarakat berbudaya sesuai dengan nilai pancasila. Dengan mengetahui pengaruh penggunaan sosial media yang dirasakan oleh masyarakat, kami dapat menentukan kesesuaian pengembangan sosial media yang ada dengan nilai pancasila. Hasil penelitian ini merupakan rumusan dari data yang diperoleh dan diharapkan dapat menjadi acuan bagi masyarakat bangsa Indonesia untuk menggunakan media sosial berlandaskan nilai - nilai  Pancasila.Kata kunci: Media sosial, Pancasila, IPTEK, Budaya, Masyarakat AbstractThis research aims to develop the values of Pancasila in the use of social media. Over time, humans continue to produce developments to improve the ease and quality of life in society. The development of science and technology becomes one of the world's developments that cannot be avoided. As one of the most essential aspects of society; Communication technology becomes one of the technologies whose development has the most overall impact on people's lifestyles. Social media is a means of communication from the results of the development of science and technology that has a very large influence on human culture. The purpose of this research is to know and analyze how social media can be a means of channeling and developing the character of cultured communities in accordance with the values of Pancasila. By knowing the influence of social media use felt by the community, we can determine the suitability of existing social media development with the value of Pancasila. The results of this study are a formulation of the data obtained and are expected to be a reference for the people of the Indonesian nation to use social media based on pancasila values.Keywords: Social media, Pancasila, Science and Technology, Culture, Society