cover
Contact Name
Dr. Ir., Nurtati Soewarno, M.T
Contact Email
nurtati@itenas.ac.id
Phone
+6222-7272215
Journal Mail Official
terracotta@itenas.ac.id
Editorial Address
Tata Usaha Prodi Arsitektur Institut Teknologi Nasional Bandung - Itenas Gedung 17 Lantai 1 Jl. P.H.H. Mustofa No 23 Bandung - Jawa Barat 40124
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Arsitektur TERRACOTTA
ISSN : -     EISSN : 27164667     DOI : https://doi.org/10.26760/terracotta
Core Subject : Engineering,
Jurnal Arsitektur TERRACOTTA adalah Jurnal Ilmiah yang berisi tulisan yang diangkat dari hasil penelitian dan pengembangan teknologi dalam bidang-bidang utama : Perancangan Arsitektur (gedung), Stuktur dan Konstruksi, Teknologi Bangunan, Perencanaan Kota dan Asitektur Kota, Perumahan dan Permukiman, serta Teori-Metoda dan Sejarah Arsitektur.
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 3 (2020)" : 12 Documents clear
Keberlanjutan Aktivitas Sehari-hari Pengunjung Alun-alun Ujung Berung Pasca Perubahan Desain Rentang Waktu tahun 2014 dan tahun 2017 Septianto, Eggi; Putri, Damayanti Damayanti; Syafitri, Amanda Rahmalia; Haj, Ading Amirul; Karmelia, Annisa
Jurnal Arsitektur TERRACOTTA Vol 1, No 3 (2020)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/terracotta.v1i3.3230

Abstract

AbstrakPada tahun 2014 dilakukan revitalisasi dengan membuat perubahan fisik di hampir seluruh bagian alun-alun Ujung Berung. Perubahan desain ini membuat wajah fisik dan menciptakan bentukan ruang-ruang baru di beberapa lokasi. Penelitian ini bertujuan melakukan identifikasi terhadap aktivitas pengunjung sehari-hari setelah terjadi perubahan desain alun-alun  di tahun 2014. Metoda yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan melakukan studi litelatur juga wawancara terkait kondisi dan gambaran aktivitas alun-alun Ujung Berung sebelum revitalisasi (2014), lalu membuat identifikasi pada aktivitas pengunjung selama 1(satu)  minggu di waktu pagi, siang, sore dan malam hari setiap harinya juga mengukur dimensi ruang dan sarana penunjang di alun-alun Ujung Berung. Selanjutnya proses analisis dilakukan untuk identifikasi terpenuhinya kebutuhan aktivitas masyarakat dalam ruang-ruang hasil desain baru setelah revitalisasi dengan cara disesuaikan berdasarkan standar aktivitas ruang dan aktivitas yang ada. Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai rujukan bagaimana sebuah desain alun-alun yang baik sebagai ruang publik suatu kawasan yang tetap dapat digunakan untuk kegiatan sehari-hari masyarakat.Kata kunci: alun-alun, aktivitas, desain, ruang publik.  AbstractIn 2014, revitalization was carried out by making physical changes in almost all parts of the Ujung Berung square. This design change creates a physical form and creates the formation of new spaces in several locations. This study aims to identify the activities of daily visitors after a change in the design of the Alun-alun in 2014. The method used in this research is to conduct literature studies as well as interviews related to the conditions and description of the Alun-alun Ujung Berung activity before revitalization (2014), then make identification on visitor activities for 1 (one) week in the morning, afternoon, evening and night each day also measure the dimensions of space and supporting facilities in the Ujung Berung square. Furthermore, the analysis process is carried out to identify the fulfillment of the needs of community activities in the newly Alun-alun designed after the revitalization by adjusting them based on the existing standard of spatial activities and current activities. The results of this study can be used as a reference for how a good plaza design can be used as a public space for an area that can still be used for people's daily activities.Keywords: square, activity, design, public space
Koridor Karangwangi Sebagai ‘Main Street’ Kota Cirebon Indrayana, Yoyon
Jurnal Arsitektur TERRACOTTA Vol 1, No 3 (2020)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/terracotta.v1i3.4106

Abstract

AbstrakKoridor Karangwangi adalah salah satu Jalan protokol di kota Cirebon,yang merupakan gabungan dari 2(dua) ruas Jalan , yaitu Jalan Karanggetas dan Jalan Siliwangi. Koridor Karangwangi memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi dan peran yang sangat penting bagi kota Cirebon. Melihat sejarah yang dimiliki Koridor Karangwangi, ini dapat mejadi potensi yang sangat menarik untuk pengembangan ‘Main Street’ pada koridor Jalan dimaksud. Adanya folklore atau mitos pada koridor Karangwangi menjadikan koridor Karangwangi ini selalu berada dalam benak sebagian besar warga kota Cirebon khususnya. Koridor Karangwangi merupakan koridor utama yang bisa memberikan kesan pertama bagi pengguna Jalan atau pendatang dari luar kota saat memasuki kota Cirebon. Dengan demikian koridor ini semestinya menjadi ‘landmark’ yang memberikan informasi dan kesan yang baik tentang kota cirebon. Dengan kata lain koridor ini berpeluang untuk menjadi ‘Main Street’, simbol atau identitas bagi kota Cirebon.Pada era globalisasi seperti saat ini, adanya main street sebagai identitas kota atau citra kota dapat berfungsi sebagai penambah daya tarik wisata bagi kota. Main street menjadi sesuatu yang penting untuk memperkuat identitas dan wajah kota sehingga membuat kota tersebut menarik dan memiliki daya tarik bagi wisatawan.Kata kunci: koridor karangwangi, landmark, main street, identitas kota, wisata AbstraCTThe Karangwangi Corridor is one of the protocol roads in the city of Cirebon, which is a combination of 2 (two) roads, namely Jalan Karanggetas and Jalan Siliwangi. The Karangwangi Corridor has a very high historical value and a very important role for the city of Cirebon. Looking at the history of the Karangwangi Corridor, this can be a very attractive potential for the development of 'Main Street' in the intended road corridor. The existence of folklore or myths in the Karangwangi corridor has made the Karangwangi corridor always in the minds of most Cirebon residents in particular. The Karangwangi Corridor is the main corridor that can give a first impression to road users or migrants from outside the city when entering the city of Cirebon. Thus, this corridor should be a 'landmark' that provides information and a good impression of the Cirebon city. In other words, this corridor has the opportunity to become 'main street', a symbol of identity for the city of Cirebon. In the current era of globalization, the existence of the main street as a city identity or the image of a city can serve as an addition to tourist attraction for the city. The main street is something important to strengthen the identity and face of the city so that it makes the city attractive and attractive to tourists.Keywords: Karangwangi corridor, landmark, main street, city identity, tourism
Unsur Hijau pada Ruang Publik dan Sisa Halaman Rumah Kampung Cibunut RW 07 RT 05 Kota Bandung Hasim, Irfan Sabarilah
Jurnal Arsitektur TERRACOTTA Vol 1, No 3 (2020)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/terracotta.v1i3.4107

Abstract

AbstrakTanaman sangat penting untuk menunjang kehidupan sebagai penunjang kesehatan, pengendali iklim mikro, menyerap polusi bahkan berguna meningkatkan kualitas visual. Kehadiran tanaman di lingkungan perkotaan semakin sulit, mengingat lahan-lahan perkotaan semakin sempit terutama di lingkungan permukiman kota yang umumnya padat dan menyisakan sedikit ruang untuk tanaman. Berbeda dengan permukiman-permukiman padat pada umumnya, Kampung Cibunut RW 07 khususnya RT 05 Kota Bandung terlihat lebih asri, banyak sekali tanaman di lingkungan ini, meskipun lahan terbuka sedikit, gang juga tidak terlalu besar dan teras-teras rumah sangat terbatas. Melihat perkembangan yang sangat baik di Kampung Cibunut, maka penelitian ini layak untuk dilakukan dengan tujuan untuk mengidentifikasi jumlah dan jenis tanaman, serta cara dan metoda penanaman di ruang sempit dan mengetahui luas diameter tajuk tanaman. Digunakan metoda deskriptif kualitatif, data dikumpulkan melalui survey dan studi pustaka. Data primer diperoleh melalui observasi lapangan, pengukuran dan pencatatan langsung di lapangan. Setiap tanaman diberi nomor, dan dicatat kemudian seluruh data akan dimasukan ke dalam matrik untuk memudahkan perhitungan. Pembahasan dilakukan untuk mendapatkan ragam jenis tanaman, sistem dan cara penanaman, dan luas total tajuk tanaman. Diharapkan hasil dari penelitian ini dapat ditiru dan diterapkan di permukiman padat sejenis di kota Bandung agar dapat meningkatkan keasrian kawasan dan penyerapan polusi.Kata kunci : Tanaman, Unsur Hijau, Lahan sempit, permukiman padat. AbstraCTPlants are very important to support life as health support, control the microclimate, absorb pollution, and even improve visual quality. The presence of plants in urban environments is increasingly difficult, given that urban lands are increasingly narrow, especially in urban residential areas which are generally dense and leave little room for plants. Unlike the dense settlements in general, Kampung Cibunut RW 07, especially RT 05 Kota Bandung, looks more beautiful, there are lots of plants in this environment, although there is little open land, the alleys are not too big and the terraces of the houses are very limited. Seeing the excellent development in Cibunut Village, this research is feasible to do the aim of identifying the number and types of plants, as well as methods and methods of planting in narrow spaces and knowing the diameter of the plant canopy. Qualitative descriptive method is used, data is collected through surveys and literature studies. Primary data obtained through field observations, measurements, and direct notes in the field. Each plant is numbered, recorded and then all data will be entered into a matrix to facilitate calculation. Discussions were conducted to obtain various types of plants, planting systems and methods, and the total area of the plant canopy. It is hoped that the results of this research can be replicated and applied in similar dense settlements in the city of Bandung to increase the beauty of the area and the absorption of pollution. Keywords: Plants, Green Element, Narrow land, dense settlement.
Contemporary Sustainable pada Perancangan Superblok Gedebage Kota Bandung Ratnaningrum, Yuselita Intan
Jurnal Arsitektur TERRACOTTA Vol 1, No 3 (2020)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/terracotta.v1i3.4101

Abstract

AbstrakKepadatan penduduk yang terus meningkat akibat dari urbanisasi menyebabkan Kota Bandung menjadi kota termacet ke-14 se-Asia. Faktor dari kemacetan tersebut adalah meningkatnya jumlah pengguna kendaraan pribadi yang bertujuan untuk urbanisasi baik untuk tujuan kerja, pendidikan, atau berpindah tempat. Hal tersebut juga mendukung alasan Kota Bandung memiliki penumpukan dan pertumbuhan permukiman horizontal yang timpang dan tidak terencana. Superblok Gedebage merupakan suatu kawasan di konteks urban yang dirancang secara terpadu yang tata gunanya bersifat campuran yang diharapkan dapat menjadi solusi dari permasalahan di atas sebagai mana Gedebage direncanakan oleh pemerintah sebagai Kawasan Primer. Tujuan dari perancangan ini adalah untuk memberikan sebuah gagasan mengenai kawasan yang terpadu dan efisien tetapi tetap memberikan ruang, kenyamanan, dan dampak positif bagi pengguna dan lingkungan. Metode yang digunakan adalah analisis kualitatif deskriptif dan studi banding. Analisis kualitatif deskriptif digunakan pada literatur dan kebijakan yang berlaku. Analisis studi banding digunakan untuk membandingkan antara literatur dengan bangunan yang ada, dan membandingkan antara satu bangunan dengan yang lain. Contemporary Sustainable menjadi pilihan pendekatan pada perancangan ini yang diharapkan dapat memberikan rancangan yang sederhana tetapi tetap modern dan memberikan dampak yang positif bagi lingkungan dan penggunanya. Penggunaan green wall and roof, rain harvesting, kolam retensi dapat menjadi solusi dari permasalahan lingkungan.Kata kunci: superblok, kontemporer berkelanjutan, efisien, analisis kualitatif deskriptif AbstractThe increasing population density due to urbanization has caused Bandung City to become the 14th most congestive city in Asia. The factor of the traffic jam is the increasing number of private vehicle users aiming at urbanization for work, education, or relocation purposes. It also supports the reason that the city of Bandung has a build-up and uneven horizontal settlement growth. The Gedebage Superblock is an area in an urban context that is designed in an integrated manner with mixed-use that is expected to be the solution of the above permeation as planned by the government as the Primary Area. The purpose of this design is to provide an idea of an integrated and efficient area but still provide space, comfort, and positive impacts for users and the environment. The method used is the descriptive qualitative analysis and case studies. Descriptive qualitative analysis is used in the applicable literature and policy. Case study analysis is used to compare literature with existing buildings and compare one building to another. Contemporary Sustainable is the choice of approach to this design which is expected to provide a simple design but still modern and has a positive impact on the environment and its users. The use of green walls and roofs, rain harvesting, retention ponds can be a solution to the environmental problemsKeywords: superblock, contemporary sustainable, efficient, descriptive qualitative analysis
Perencanaan Kampung Bahari Sebagai Upaya Keberlanjutan, Perkampungan Nelayan Tambak Lorok, Semarang Anita, Juarni
Jurnal Arsitektur TERRACOTTA Vol 1, No 3 (2020)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/terracotta.v1i3.4102

Abstract

AbstrakPerkampungan nelayan Tambak Lorok di Semarang Utara merupakan kawasan rawan banjir karena kondisi permukaan tanah mengalami penurunan setiap tahun. Penduduk pun terus bertambah menyebabkan perkampungan semakin padat dan menjadi kumuh. Masyarakat melakukan penyesuaian rumah untuk menghindari banjir menyebabkan bentuk dan tinggi rumah beraneka ragam. Pada tahun 2015, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat melakukan program Penataan Kawasan Permukiman Nelayan dan Tepi Air di Tambak Lorok. Pemerintah Kota Semarang pun memasukkan Tambak Lorok dalam program Kampung Bahari untuk pembangunan keberlanjutan dan pengentasan kekumuhan dan kemiskinan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pembangunan keberlanjutan di kawasan pesisir dengan konsep Kampung Bahari di Tambak Lorok. Hal ini penting karena perkampungan ini bisa menjadi model percontohan di kawasan pesisir lain yang rawan banjir. Metoda penelitian bersifat kualitatif dan deskriptif dengan sumber data primer melalui survey dan data sekunder melalui berbagai studi pustaka. Hasil penelitian memberikan deskripsi tentang konsepsi Kampung Bahari, yaitu perkampungan  nelayan yang terintegrasi dengan pusat ekonomi dan perdagangan, industri perikanan, serta pusat wisata bahari. Keberlanjutannya harus didukung oleh infrastruktur seperti tanggul laut, kemudahan akses jalan, tersedianya air bersih, kelancaran drainase, pengelolaan  limbah dan sampah, tersedianya ruang terbuka hijau untuk keasrian kawasan pesisir. Pengelolaan perkampungan harus melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat setempat.Kata kunci: kampung bahari, keberlanjutan, perkampungan nelayan, Tambak Lorok AbstractTambak Lorok fishing village in North Semarang is a flood-prone area because the soil surface conditions have decreased every year. The population continued to grow, causing the village to become denser and slum. The communities adjusted their houses to avoid flooding causing the various shapes and heights of houses. In 2015, the Ministry of Public Works and Public Housing implemented a program of Fishermen Residential Area Arrangement and Waterfronts in Tambak Lorok. The Semarang City Government has included Tambak Lorok in the Kampung Bahari program for sustainable development and alleviating slums and poverty. This study aims to describe the sustainable development of coastal area with the concept of Kampung Bahari in Tambak Lorok. This is important because this village can be a pilot model in other coastal areas that are prone to flooding. The research method was qualitative and descriptive with primary data sources through surveys and secondary data through various literature studies. The results of the study provided a description of the conception of Kampung Bahari, a fishing village integrated with the center of economy and trade, the fishing industry, and the center of marine tourism. Its sustainability must be supported by infrastructure such as sea dikes, easy access to roads, availability of clean water, smooth drainage, waste and trash management, availability of green open spaces for the beauty of coastal areas. Village management must involve the central government, local government, and local communities. Keywords: maritime village, sustainability, fishing village, Tambak Lorok
Pengolahan Lahan Berkontur Pada Kawasan Ekowisata, Cijaringao, Bandung Utami, Utami; Nurhayati, Dwi; Dina, Fatimah Aulia; Yulistia F., Emalia
Jurnal Arsitektur TERRACOTTA Vol 1, No 3 (2020)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/terracotta.v1i3.4105

Abstract

AbstrakPentingnya konservasi alamiah suatu kawasan pada saat ini merupakan suatu pemikiran yang penting ditengah isu penataan kawasan yang ramah lingkungan. Mengingat banyaknya pembangunan di suatu kawasan yang dilakukan tanpa mempertimbangkan aspek alamiah tapak. Salah satu kasus yang cukup penting diulas adalah pengolahan lahan berkontur. Bandung Utara memiliki karakteristik topografi tanah dengan kemiringan yang cukup besar bahkan beberapa memiliki kecuraman yang ekstrim. Berkembangnya kawasan Bandung Utara menjadi objek wisata atau villa pada saat ini merupakan suatu hal yang kadang kala tidak diperhatikan lagi. Skala prioritas pada aspek bisnis, menjadikan beberapa karakteristik lahan kontur alamiah mengalami perombakan besar-besaran. Akibatnya lingkungan alamiah menjadi rusak, erosi bahkan longsor. Penelitian terhadap kawasan ekowisata Cijaringao, kawasan Bandung Utara yang memiliki karakteristik topografi berkontur merupakan objek studi yang sesuai dengan tema tersebut. Tujuannya adalah menganalisa pengolahan dan pemanfaatan kontur pada fungsi wisata. Metode kuantiatif - normatif digunakan sebagai analisis pengolahan lahan kontur dengan mengujinya terhadap standar ideal pengolahan perancangan pada lahan berkontur. Harapannya,penelitian ini dapat membuka wawasan para perencana dalam merancang fasilitas (built environment) pada lahan berkontur.Kata Kunci : Kontur, lingkungan alamiah, ekowisata, Cijaringao ecoland AbstractThe importance of natural conservation of an area at this time is an important thought amid the issue of environmentally friendly zoning. Given the large number of developments in an area that are carried out without considering the natural aspects of the site. One of the important cases to review is contour land management. North Bandung has a characteristic topography of the land with a fairly large slope and some even have extreme steepness. The development of the north bandung area to become a tourist attraction or a villa at this time is something that is sometimes overlooked. The scale of priority in the business aspect has made some of the characteristics of the natural contour land underwent a major overhaul. As a result, the natural environment is damaged, erosion and even landslides. Research on the ecotourism area of Cijaringao, North Bandung which has a contour topographical characteristic is an object of study in accordance with this theme. The aim is to analyze the processing and utilization of contours in the tourism function. The quantitative - normative method is used as a contour tillage analysis by testing it against the ideal standard of design processing on contoured land. It is hoped that this research can open the insights of planners in designing built facilities on contoured land.Keywords: Contours, natural environment, ecotourism, Cijaringao ecoland
Pengolahan Lahan Berkontur Pada Kawasan Ekowisata, Cijaringao, Bandung Utami Utami; Dwi Nurhayati; Fatimah Aulia Dina; Emalia Yulistia F.
Jurnal Arsitektur TERRACOTTA Vol 1, No 3 (2020)
Publisher : Itenas, Institut Teknologi Nasional Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/terracotta.v1i3.4105

Abstract

AbstrakPentingnya konservasi alamiah suatu kawasan pada saat ini merupakan suatu pemikiran yang penting ditengah isu penataan kawasan yang ramah lingkungan. Mengingat banyaknya pembangunan di suatu kawasan yang dilakukan tanpa mempertimbangkan aspek alamiah tapak. Salah satu kasus yang cukup penting diulas adalah pengolahan lahan berkontur. Bandung Utara memiliki karakteristik topografi tanah dengan kemiringan yang cukup besar bahkan beberapa memiliki kecuraman yang ekstrim. Berkembangnya kawasan Bandung Utara menjadi objek wisata atau villa pada saat ini merupakan suatu hal yang kadang kala tidak diperhatikan lagi. Skala prioritas pada aspek bisnis, menjadikan beberapa karakteristik lahan kontur alamiah mengalami perombakan besar-besaran. Akibatnya lingkungan alamiah menjadi rusak, erosi bahkan longsor. Penelitian terhadap kawasan ekowisata Cijaringao, kawasan Bandung Utara yang memiliki karakteristik topografi berkontur merupakan objek studi yang sesuai dengan tema tersebut. Tujuannya adalah menganalisa pengolahan dan pemanfaatan kontur pada fungsi wisata. Metode kuantiatif - normatif digunakan sebagai analisis pengolahan lahan kontur dengan mengujinya terhadap standar ideal pengolahan perancangan pada lahan berkontur. Harapannya,penelitian ini dapat membuka wawasan para perencana dalam merancang fasilitas (built environment) pada lahan berkontur.Kata Kunci : Kontur, lingkungan alamiah, ekowisata, Cijaringao ecoland AbstractThe importance of natural conservation of an area at this time is an important thought amid the issue of environmentally friendly zoning. Given the large number of developments in an area that are carried out without considering the natural aspects of the site. One of the important cases to review is contour land management. North Bandung has a characteristic topography of the land with a fairly large slope and some even have extreme steepness. The development of the north bandung area to become a tourist attraction or a villa at this time is something that is sometimes overlooked. The scale of priority in the business aspect has made some of the characteristics of the natural contour land underwent a major overhaul. As a result, the natural environment is damaged, erosion and even landslides. Research on the ecotourism area of Cijaringao, North Bandung which has a contour topographical characteristic is an object of study in accordance with this theme. The aim is to analyze the processing and utilization of contours in the tourism function. The quantitative - normative method is used as a contour tillage analysis by testing it against the ideal standard of design processing on contoured land. It is hoped that this research can open the insights of planners in designing built facilities on contoured land.Keywords: Contours, natural environment, ecotourism, Cijaringao ecoland
Keberlanjutan Aktivitas Sehari-hari Pengunjung Alun-alun Ujung Berung Pasca Perubahan Desain Rentang Waktu tahun 2014 dan tahun 2017 Eggi Septianto; Damayanti Damayanti Putri; Amanda Rahmalia Syafitri; Ading Amirul Haj; Annisa Karmelia
Jurnal Arsitektur TERRACOTTA Vol 1, No 3 (2020)
Publisher : Itenas, Institut Teknologi Nasional Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/terracotta.v1i3.3230

Abstract

AbstrakPada tahun 2014 dilakukan revitalisasi dengan membuat perubahan fisik di hampir seluruh bagian alun-alun Ujung Berung. Perubahan desain ini membuat wajah fisik dan menciptakan bentukan ruang-ruang baru di beberapa lokasi. Penelitian ini bertujuan melakukan identifikasi terhadap aktivitas pengunjung sehari-hari setelah terjadi perubahan desain alun-alun  di tahun 2014. Metoda yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan melakukan studi litelatur juga wawancara terkait kondisi dan gambaran aktivitas alun-alun Ujung Berung sebelum revitalisasi (2014), lalu membuat identifikasi pada aktivitas pengunjung selama 1(satu)  minggu di waktu pagi, siang, sore dan malam hari setiap harinya juga mengukur dimensi ruang dan sarana penunjang di alun-alun Ujung Berung. Selanjutnya proses analisis dilakukan untuk identifikasi terpenuhinya kebutuhan aktivitas masyarakat dalam ruang-ruang hasil desain baru setelah revitalisasi dengan cara disesuaikan berdasarkan standar aktivitas ruang dan aktivitas yang ada. Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai rujukan bagaimana sebuah desain alun-alun yang baik sebagai ruang publik suatu kawasan yang tetap dapat digunakan untuk kegiatan sehari-hari masyarakat.Kata kunci: alun-alun, aktivitas, desain, ruang publik.  AbstractIn 2014, revitalization was carried out by making physical changes in almost all parts of the Ujung Berung square. This design change creates a physical form and creates the formation of new spaces in several locations. This study aims to identify the activities of daily visitors after a change in the design of the Alun-alun in 2014. The method used in this research is to conduct literature studies as well as interviews related to the conditions and description of the Alun-alun Ujung Berung activity before revitalization (2014), then make identification on visitor activities for 1 (one) week in the morning, afternoon, evening and night each day also measure the dimensions of space and supporting facilities in the Ujung Berung square. Furthermore, the analysis process is carried out to identify the fulfillment of the needs of community activities in the newly Alun-alun designed after the revitalization by adjusting them based on the existing standard of spatial activities and current activities. The results of this study can be used as a reference for how a good plaza design can be used as a public space for an area that can still be used for people's daily activities.Keywords: square, activity, design, public space
Koridor Karangwangi Sebagai ‘Main Street’ Kota Cirebon Yoyon Indrayana
Jurnal Arsitektur TERRACOTTA Vol 1, No 3 (2020)
Publisher : Itenas, Institut Teknologi Nasional Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/terracotta.v1i3.4106

Abstract

AbstrakKoridor Karangwangi adalah salah satu Jalan protokol di kota Cirebon,yang merupakan gabungan dari 2(dua) ruas Jalan , yaitu Jalan Karanggetas dan Jalan Siliwangi. Koridor Karangwangi memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi dan peran yang sangat penting bagi kota Cirebon. Melihat sejarah yang dimiliki Koridor Karangwangi, ini dapat mejadi potensi yang sangat menarik untuk pengembangan ‘Main Street’ pada koridor Jalan dimaksud. Adanya folklore atau mitos pada koridor Karangwangi menjadikan koridor Karangwangi ini selalu berada dalam benak sebagian besar warga kota Cirebon khususnya. Koridor Karangwangi merupakan koridor utama yang bisa memberikan kesan pertama bagi pengguna Jalan atau pendatang dari luar kota saat memasuki kota Cirebon. Dengan demikian koridor ini semestinya menjadi ‘landmark’ yang memberikan informasi dan kesan yang baik tentang kota cirebon. Dengan kata lain koridor ini berpeluang untuk menjadi ‘Main Street’, simbol atau identitas bagi kota Cirebon.Pada era globalisasi seperti saat ini, adanya main street sebagai identitas kota atau citra kota dapat berfungsi sebagai penambah daya tarik wisata bagi kota. Main street menjadi sesuatu yang penting untuk memperkuat identitas dan wajah kota sehingga membuat kota tersebut menarik dan memiliki daya tarik bagi wisatawan.Kata kunci: koridor karangwangi, landmark, main street, identitas kota, wisata AbstraCTThe Karangwangi Corridor is one of the protocol roads in the city of Cirebon, which is a combination of 2 (two) roads, namely Jalan Karanggetas and Jalan Siliwangi. The Karangwangi Corridor has a very high historical value and a very important role for the city of Cirebon. Looking at the history of the Karangwangi Corridor, this can be a very attractive potential for the development of 'Main Street' in the intended road corridor. The existence of folklore or myths in the Karangwangi corridor has made the Karangwangi corridor always in the minds of most Cirebon residents in particular. The Karangwangi Corridor is the main corridor that can give a first impression to road users or migrants from outside the city when entering the city of Cirebon. Thus, this corridor should be a 'landmark' that provides information and a good impression of the Cirebon city. In other words, this corridor has the opportunity to become 'main street', a symbol of identity for the city of Cirebon. In the current era of globalization, the existence of the main street as a city identity or the image of a city can serve as an addition to tourist attraction for the city. The main street is something important to strengthen the identity and face of the city so that it makes the city attractive and attractive to tourists.Keywords: Karangwangi corridor, landmark, main street, city identity, tourism
Unsur Hijau pada Ruang Publik dan Sisa Halaman Rumah Kampung Cibunut RW 07 RT 05 Kota Bandung Irfan Sabarilah Hasim
Jurnal Arsitektur TERRACOTTA Vol 1, No 3 (2020)
Publisher : Itenas, Institut Teknologi Nasional Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/terracotta.v1i3.4107

Abstract

AbstrakTanaman sangat penting untuk menunjang kehidupan sebagai penunjang kesehatan, pengendali iklim mikro, menyerap polusi bahkan berguna meningkatkan kualitas visual. Kehadiran tanaman di lingkungan perkotaan semakin sulit, mengingat lahan-lahan perkotaan semakin sempit terutama di lingkungan permukiman kota yang umumnya padat dan menyisakan sedikit ruang untuk tanaman. Berbeda dengan permukiman-permukiman padat pada umumnya, Kampung Cibunut RW 07 khususnya RT 05 Kota Bandung terlihat lebih asri, banyak sekali tanaman di lingkungan ini, meskipun lahan terbuka sedikit, gang juga tidak terlalu besar dan teras-teras rumah sangat terbatas. Melihat perkembangan yang sangat baik di Kampung Cibunut, maka penelitian ini layak untuk dilakukan dengan tujuan untuk mengidentifikasi jumlah dan jenis tanaman, serta cara dan metoda penanaman di ruang sempit dan mengetahui luas diameter tajuk tanaman. Digunakan metoda deskriptif kualitatif, data dikumpulkan melalui survey dan studi pustaka. Data primer diperoleh melalui observasi lapangan, pengukuran dan pencatatan langsung di lapangan. Setiap tanaman diberi nomor, dan dicatat kemudian seluruh data akan dimasukan ke dalam matrik untuk memudahkan perhitungan. Pembahasan dilakukan untuk mendapatkan ragam jenis tanaman, sistem dan cara penanaman, dan luas total tajuk tanaman. Diharapkan hasil dari penelitian ini dapat ditiru dan diterapkan di permukiman padat sejenis di kota Bandung agar dapat meningkatkan keasrian kawasan dan penyerapan polusi.Kata kunci : Tanaman, Unsur Hijau, Lahan sempit, permukiman padat. AbstraCTPlants are very important to support life as health support, control the microclimate, absorb pollution, and even improve visual quality. The presence of plants in urban environments is increasingly difficult, given that urban lands are increasingly narrow, especially in urban residential areas which are generally dense and leave little room for plants. Unlike the dense settlements in general, Kampung Cibunut RW 07, especially RT 05 Kota Bandung, looks more beautiful, there are lots of plants in this environment, although there is little open land, the alleys are not too big and the terraces of the houses are very limited. Seeing the excellent development in Cibunut Village, this research is feasible to do the aim of identifying the number and types of plants, as well as methods and methods of planting in narrow spaces and knowing the diameter of the plant canopy. Qualitative descriptive method is used, data is collected through surveys and literature studies. Primary data obtained through field observations, measurements, and direct notes in the field. Each plant is numbered, recorded and then all data will be entered into a matrix to facilitate calculation. Discussions were conducted to obtain various types of plants, planting systems and methods, and the total area of the plant canopy. It is hoped that the results of this research can be replicated and applied in similar dense settlements in the city of Bandung to increase the beauty of the area and the absorption of pollution. Keywords: Plants, Green Element, Narrow land, dense settlement.

Page 1 of 2 | Total Record : 12