cover
Contact Name
Dr. Ir., Nurtati Soewarno, M.T
Contact Email
nurtati@itenas.ac.id
Phone
+6222-7272215
Journal Mail Official
terracotta@itenas.ac.id
Editorial Address
Tata Usaha Prodi Arsitektur Institut Teknologi Nasional Bandung - Itenas Gedung 17 Lantai 1 Jl. P.H.H. Mustofa No 23 Bandung - Jawa Barat 40124
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Arsitektur TERRACOTTA
ISSN : -     EISSN : 27164667     DOI : https://doi.org/10.26760/terracotta
Core Subject : Engineering,
Jurnal Arsitektur TERRACOTTA adalah Jurnal Ilmiah yang berisi tulisan yang diangkat dari hasil penelitian dan pengembangan teknologi dalam bidang-bidang utama : Perancangan Arsitektur (gedung), Stuktur dan Konstruksi, Teknologi Bangunan, Perencanaan Kota dan Asitektur Kota, Perumahan dan Permukiman, serta Teori-Metoda dan Sejarah Arsitektur.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 3 (2021)" : 7 Documents clear
Karakteristik Fasad Gedung De Majestic Braga Karya C.P. Wolff Schoemaker Riany, Meta
Jurnal Arsitektur TERRACOTTA Vol 2, No 3 (2021)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/terracotta.v2i3.4710

Abstract

AbstrakC. P. Wolff Schoemaker adalah seorang arsitek Belanda yang menghasilkan banyak bangunan pada masa kolonialisasi Belanda. Hasil karyanya tersebar di berbagai kota besar di Indonesia, salah satunya adalah gedung De Majestic yang terletak di kawasan cagarbudaya jalan Braga Bandung. Lamanya beliau berprofesi sebagai arsitek telah menghasilkan berbagai fungsi bangunan baik bangunan milik pemerintahan maupun swasta. Disain bangunannya tampak similar terutama pada fasad bangunannya sehingga menarik untuk dikaji lebih dalam karakteristik dari elemen pembentuk fasadnya. Studi ini dimulai dengan mempelajari karya-karya beliau melalui buku, foto dan situs internet dan kemudian mempelajari lebih dalam pada karya beliau yang berada di kota Bandung. Perkembangan karya beliai dapat digolongkan ke dalam 3 periode waktu sejak tahun 1918 hingga 1940 an berdasarkan elemen-elemen pembentuk fasad bangunannya. Gedung de Majestic dipilih sebagai studi kasus karena fungsinya yang berbeda (bioskop) dan berlokasi di jl Braga yang kental dengan karakter Kolonial di kota Bandung. Bangunan ini merupakan hasil karya C.P Wolf Schoemaker pada periode ke 2 yang mulai memadukan arsitektur Eropa dan unsur lokal arsitektur Indonesia. Diharapkan dengan memahami sejarah bangunan dapat memberikan ide kepada para arsitektur muda untuk mencintai dan menerapkan ciri khas budaya lokal Indonesia yang unik, menarik, variatif pada karakter karya-karya mereka. Kata kunci: C.P. Wolff Schoemaker, Elemen Fasad Bangunan, Karakteristik Bangunan, Gedung De Majestic.
Konsep Bentuk Dasar Arsitektural Pada Gereja St. Yusuf Cirebon Theresia Pynkyawati; Azibanyu Tresna; M Fajari; Indra Pratama
Jurnal Arsitektur TERRACOTTA Vol 2, No 3 (2021)
Publisher : Itenas, Institut Teknologi Nasional Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/terracotta.v2i3.4735

Abstract

ABSTRAKGereja merupakan salah satu bangunan peribadatan yang dapat dijumpai di Indonesia. Bangunan ini merupakan wadah kegiatan spiritual umat kristiani yang mulai didirikan pada era pemerintah kolonial Belanda. Gereja mudah dikenali dari keberadaan menara dan bentuk geometri bangunannya. Sejalan dengan perkembangan zaman, berbagai bentuk gereja bermunculan sehingga bentuk gereja menjadi makin variatif. Gereja St. Yusuf Cirebon merupakan salah satu Gereja Katolik tertua di Jawa Barat yang didirikan pada era kolonial Belanda. Bangunan ini telah mengalami perubahan; ada tambahan massa bangunan untuk menampung lebih banyak jemaat meskipun demikian bentuk asli bangunan tidak berubahan. Oleh karenanya menarik untuk diteliti lebih dalam mengenai konsep bentuk dasar arsitektural dan elemen-elemen dasar yang diterapkan pada Gereja St. Yusuf Cirebon. Penelitian ini bertujuan untuk memahami konsep dasar bangunan secara arsitektural dan bagaimana Gereja St. Yusuf Cirebon menambah kapasitas ruang ibadah tanpa merubah tampilan fisik bangunannnya. Analisis dilakukan dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dan kuantitatif dengan cara mengumpulkan data hasil survey lapangan yang meliputi kondisi gereja sebelum dan setelah pengembangan sampai kondisi saat ini. Hasil analisa menunjukkan bahwa Gereja St. Yusuf Cirebon sebagai bangunan cagar budaya, mengalami berbagai perubahan baik pada ruang-luar maupun ruang-dalam, proporsi fasad bangunan tetapi tetap mempertahankan bentuk dan elemen-elemen dasar sebuah gereja eks kolonial. Kata kunci: Konsep Dasar Arsitektur, Bangunan Peribadatan, Ruang-luar dan Ruang-dalam.ABSTRACTThe Church is one of the religious buildings that can be found in Indonesia. This building is a spiritual activity place for Christians that began to established in the era of Dutch colonial goverment. The church is easily recognized by the existence of minaret and the geometric shape of the building. In line with the times, various design of church have emerged so that the shape of church has become more and more varied. The St Yusuf Cirebon church is the oldest Catholic church in West Java that was established in Dutch colonial era. This building had been changed, there is an additional building mass to accommodate more congregations, although the original building shape has not changed. Therefore it is interesting to study more deeply about the architectural basic concept and basic elements that are applied to the St Yusuf Cirebon church. This study aims to understand the architectural building concept and how the St Yusuf Cirebon church increases the capacity of prayer room without changing the physical appearance of the building. The analysis was conducted using qualitative and quantitative descriptive approach by collecting field survey’s data covering the condition of the church before and after the development to its current condition. The analysist shows that the St Yusuf Cirebon church as a cultural heritage building, has esperienced various changes both in the outer and inner room, the proportions of building facades but still maintains the shape and basic elements of an ex-colonial church.Keyword: Basic Architecture Concepts, Religious Building, Outer and Inner room.
Karakteristik Fasad Gedung De Majestic Braga Karya C.P. Wolff Schoemaker Meta Riany
Jurnal Arsitektur TERRACOTTA Vol 2, No 3 (2021)
Publisher : Itenas, Institut Teknologi Nasional Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/terracotta.v2i3.4710

Abstract

AbstrakC. P. Wolff Schoemaker adalah seorang arsitek Belanda yang menghasilkan banyak bangunan pada masa kolonialisasi Belanda. Hasil karyanya tersebar di berbagai kota besar di Indonesia, salah satunya adalah gedung De Majestic yang terletak di kawasan cagarbudaya jalan Braga Bandung. Lamanya beliau berprofesi sebagai arsitek telah menghasilkan berbagai fungsi bangunan baik bangunan milik pemerintahan maupun swasta. Disain bangunannya tampak similar terutama pada fasad bangunannya sehingga menarik untuk dikaji lebih dalam karakteristik dari elemen pembentuk fasadnya. Studi ini dimulai dengan mempelajari karya-karya beliau melalui buku, foto dan situs internet dan kemudian mempelajari lebih dalam pada karya beliau yang berada di kota Bandung. Perkembangan karya beliai dapat digolongkan ke dalam 3 periode waktu sejak tahun 1918 hingga 1940 an berdasarkan elemen-elemen pembentuk fasad bangunannya. Gedung de Majestic dipilih sebagai studi kasus karena fungsinya yang berbeda (bioskop) dan berlokasi di jl Braga yang kental dengan karakter Kolonial di kota Bandung. Bangunan ini merupakan hasil karya C.P Wolf Schoemaker pada periode ke 2 yang mulai memadukan arsitektur Eropa dan unsur lokal arsitektur Indonesia. Diharapkan dengan memahami sejarah bangunan dapat memberikan ide kepada para arsitektur muda untuk mencintai dan menerapkan ciri khas budaya lokal Indonesia yang unik, menarik, variatif pada karakter karya-karya mereka. Kata kunci: C.P. Wolff Schoemaker, Elemen Fasad Bangunan, Karakteristik Bangunan, Gedung De Majestic.
Fasade Bangunan Gedung SMPN 16 Kota Cirebon Fahrul Rozi; Iwan Purnama
Jurnal Arsitektur TERRACOTTA Vol 2, No 3 (2021)
Publisher : Itenas, Institut Teknologi Nasional Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/terracotta.v2i3.4800

Abstract

ABSTRAKKota Cirebon memiliki kawasan yang sangat erat kaitannya dengan bangunan kolonial yang ada di Kecamatan Lemah Wungkuk yaitu gedung SMP 16 Kota Cirebon. Bangunan ini diperkirakan dibangun pada tahun 1933 yang merupakan bekas asrama tentara Belanda. Bangunan ini memiliki fasad kolonial yang khas pada bagian muka bangunan yang menjadikan peneliti studi kasus. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik fasad bangunan SMPN 16 kota Cirebon. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan melakukan survei langsung ke lapangan dan mengumpulkan data-data yang dibutuhkan, kemudian disajikan dalam bentuk uraian setiap elemen pada bangunan tersebut. Semoga penelitian ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan tentang bangunan kolonial khususnya di kawasan Kota Cirebon.Kata kunci : fasade, arsitektur kolonial, kota cirebonABSTRACTCirebon City has an area that is closely related to colonial buildings in the Lemah Wungkuk sub-district, namely the SMP 16 Kota Cirebon building. This building was estimated to be built in 1933 which was a former Dutch army dormitory. This building has a typical colonial facade on the face of the building which makes the case study investigator. The purpose of this study is to reveal what are the characteristics of the building facade of SMPN 16 kota Cirebon. The method in this research uses descriptive method by surveying directly to the field and collecting data needed, then presented in the form of a description of each element in the building. Hopefully this research can add knowledge and insight about colonial buildings, especially in the Cirebon City area.Key words: facade, colonial architecture, Cirebon city 
Pertimbangan Kaidah Struktur Pada Transformasi Bentuk Arsitektur Bambang Subekti
Jurnal Arsitektur TERRACOTTA Vol 2, No 3 (2021)
Publisher : Itenas, Institut Teknologi Nasional Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/terracotta.v2i3.4724

Abstract

AbstrakKaidah struktur seringkali merupakan penghambat proses kreativitas arsitek dalam merancang bentuk bangunan. Banyak karya arsitektur yang hanya bermain pada kemasan saja, tanpa mempertimbangkan efisiensi struktur terutama pada rancangan gedung besar, baik gedung tinggi, maupun bentang lebar. Umumnya gedung tinggi walaupun fungsi dan tampilannya berbeda menggunakan struktur yang sama, yaitu struktur inti dan rangka (core and frames), yang dibedakan dari bentuk (aditif, substraktif, rotasi, repetisi), warna, jenis material, sehingga ketidakteraturan struktur disembunyikan demi mengejar bentuk bangunannya. Hal ini dikarenakan transformasi bentuk sebagai langkah eksplorasi arsitek dalam mewujudkan desainnya tidak menyertakan pertimbangan estetika struktur sebagai bagian dari proses kreatifnya. Pendekatan struktur masih terkesan penuh dengan rumus dan angka yang dianggap akan menghambat proses kreatif dalam olahan bentuk dan ruang. Oleh karenanya tidak sedikit rancangan yang memanipulasi bentuk luarnya dengan konstruksi tambahan, yang cenderung ornamental. Arsitek umumnya menghindar menampilkan struktur sebagai bagian dari estetika,  padahal analisis struktur merupakan proses yang harus dilalui dalam konsep perancangan demi terbangunnya sebuah rancangan gedung. Kajian ini adalah suatu model pendekatan struktur pada gedung tinggi dengan mengikuti tahapan dasar dalam proses analisis struktur. Diharapkan kajian ini dapat memberikan gambaran pendekatan kualitatif pada konsep struktur dan diterapkan dalam proses penyusunan konsep perancangan arsitektur sehingga dapat menghasilkan bentuk struktur yang baik.kata kunci: kaidah struktur, bangunan tinggi, kreativitas arsitek, estetika strukturAbstractRule of structure often is an inhibitor of the process of creativity of architects in designing building’s shape. Many architectural works only play on the packaging, without considering the efficiency of the structure, especially in the design of large buildings, both tall and wide-spanning buildings. Generally, tall buildings although their function and appearance are different use the same structure, namely the core and frame structure, which is distinguished from shape (additive, subtractive, rotation, repetition), color, type of material, so that structural irregularities are hidden in pursuit the building shape. This is because the transformation of form as exploration step in realizing the design architect does not include aesthetic considerations structures as part of the creative process. The structural approach still seems full of formulas and numbers which are considered to hinder the creative process in processing forms and spaces. Therefore many designs manipulate the outer shape with additional construction, which tends to be ornamental. Architects generally avoid presenting structures as part of aesthetics, whereas structural analysis is a process that must be passed in the design concept in order to construct a building design. This study is a structural approach model in tall buildings by following the basic step in the structural analysis process. It is hoped that this study can provide an overview of qualitative approach in structural concepts and could be applied in the process of architectural design concepts so that it could produce the right structural design.key words: rules of structure, tall building, architect creativity, aesthetic structures
Persepsi Masyarakat Cirebon Terhadap Elemen Fisik Perkotaan di Koridor Jalan Cipto Mangunkusumo Tedy Hartino Runny; Farhatul Mutiah
Jurnal Arsitektur TERRACOTTA Vol 2, No 3 (2021)
Publisher : Itenas, Institut Teknologi Nasional Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/terracotta.v2i3.4801

Abstract

ABSTRAKJalan Cipto Mangunkusumo merupakan salah satu daerah pusat aktivitas kegiatan masyarakat Kota Cirebon, letaknya strategis pada pusat kota sehingga menjadi jalur utama lalu lintas di Kota Cirebon. Namun, ada beberapa elemen kota yang pemanfaatannya kurang sesuai sehingga fungsi elemen kota yang ada di daerah tersebut kurang maksimal dan menimbulkan ketidaknyamanan oleh masyarakat yang beraktivitas atau melintasi di jalan tersebut. Dengan adanya persepsi masyarakat terhadap elemen fisik kota yang ada di koridor jalan tersebut, maka penelitian ini menggunakan teori Hamid Shirvani, teori ini yaitu teori yang menjelaskan tentang 8 elemen fisik pembentuk kota, elemen tersebut antara lain : penggunaan lahan (Land Use), bentuk dan massa bangunan (Building Form and Massing), sirkulasi dan parking (Circulation and Parking), ruang terbuka (Open Space), jalur pejalan kaki (Pedestrian Ways), papan penanda (Signages), pendukung aktivitas (Activity Support), preservasi (Preservation). Dari indikator 8 elemen fisik pembentuk kota maka metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan metode kualitatif dengan pengambilan data kuesioner online kepada 116 responden yang diambil secara random sampling. Maksud pengambilan sampling kepada responden tersebut yaitu giuna untuk mendapatkan data kesimpulan tentang persepsi masyarakat pada kesesuaian dan kurang kesesuaian terhadap 8 elemen fisik pembenetuk kota yang ada di koridor Jalan Cipto Mangunkusumo, diantara persepsi masyarakat pada elemen fisik kota yang sudah sesuai antara lain : penggunaan lahan, bentuk dan massa bangunan, jalur pejalan kaki, papan penanda, preservasi, dan persepsi masyarakat pada elemen fisik kota yang kurang sesuai antara lain : Sirkulasi dan area parkir, Ruang terbuka, Ruang pendukung aktivitas.Kata kunci : elemen fisik kota, kenyamanan kota, koridor jalan.ABSTRACTJalan Cipto Mangunkusumo is one of the central areas for community activities in Cirebon City. It is strategically located in the city center so that it becomes the main traffic lane in Cirebon City. However, there are some elements of the city whose utilization is not suitable so that the function of the urban elements in the area is not optimal and causes inconvenience to people who are active or crossing the road. With the public perception of the physical elements of the city in the corridor of the road, this study uses Hamid Shirvani's theory, this theory is a theory that explains the 8 physical elements that make up a city, these elements include: land use, shape and building mass (Building Form and Massing), circulation and parking (Circulation and Parking), open space (Open Space), pedestrian paths (Pedestrian Ways), signages (Signages), activity support (Activity Support), preservation (Preservation) . From the indicators of 8 physical elements that make up the city, the method used in this study is to use qualitative methods by taking online questionnaire data to 116 respondents who were taken by random sampling. The purpose of taking sampling of these respondents is to obtain conclusion data about people's perceptions of suitability and lack of conformity to the 8 physical elements that make up the city in the corridor of Jalan Cipto Mangunkusumo, among community perceptions on the physical elements of the city that are appropriate, among others: land use, the shape and mass of buildings, pedestrian paths, signboards, preservation, and people's perceptions of the physical elements of the city that are not suitable, including: circulation and parking areas, open spaces, space to support activities.Keywords : physical elements of the city, city convenience, road corridors.
Perbandingan Antara Alur Kerja BIM Dengan CAD Pada Proses Renovasi Rumah Tinggal Ardhiana Muhsin
Jurnal Arsitektur TERRACOTTA Vol 2, No 3 (2021)
Publisher : Itenas, Institut Teknologi Nasional Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/terracotta.v2i3.4899

Abstract

Building Information Modelling atau BIM menjadi topik pembicaraan bagi pelaku industri konstruksi yang diyakini dapat menambah efisisensi waktu pengerjaan proyek serta menghemat biaya proyek. Keberadaan konsep BIM ini juga semakin kuat dengan adanya peraturan dari Kementerian PUPR Nomor 22/PRT/M/2018 yang mensyaratkan penggunaan BIM dalam tender perencanaan diatas 2000 m2. Sejumlah pertanyaan muncul atas keraguan terhadap konsep BIM yang ditawarkan misalnya sejauh mana peningkatan efisiensi waktu pada proses perancangan dan juga tahap konstruksi. Konsep BIM yang juga mencakup tahapan renovasi sebagai bagian dari kegiatan pengelolaan bangunan turut menjadi pembahasan yang sering dibandingkan dengan alur kerja CAD tanpa menggunakan BIM. Selama ini dalam kegiatan renovasi, arsitek terkadang tidak memiliki data yang lengkap tentang bangunan yang akan dikerjakannya. Informasi yang hilang ini tidak jarang menuntun arsitek dan pemilik pada keputusan yang salah seperti mengganti ulang bahan penutup lantai karena kesulitan mendapatkan bahan yang sama atau bahkan lebih fatal lagi menyebabkan runtuhnya sebagian bangunan karena kesalahan dalam pembongkaran. Atas dasar hal tersebut, penelitian ini disusun dan menitikberatkan pada alur kerja tahapan renovasi dengan komparasi penggambaran digital dengan CAD yang tanpa BIM maupun menggunakan konsep BIM. Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan jawaban apakah konsep BIM dapat dipahami dan terlihat manfaatnya secara nyata

Page 1 of 1 | Total Record : 7