JURNAL AL-AQIDAH
AL-AQIDAH contains the results of research on Philosophy, Islamic Philosophy and Thought . The main focus of the Jurnal includes: 1. Philosophy, 2. Islamic Philosophy, 3. Islamic Thought, 4. Theology, 5. Islamic theology, 6. Sufism.
Articles
8 Documents
Search results for
, issue
"Vol 11, No 2 (2019)"
:
8 Documents
clear
PENGUATAN ISLAM MODERAT DI ERA POST TRUTH: Telaah atas Situs Online Islami.co
Nurman, Silmi Novita
JURNAL AL-AQIDAH Vol 11, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (724.969 KB)
|
DOI: 10.15548/ja.v11i2.1421
Menjamurnya situs-situs Islam belakangan ini di satu sisi tentu memudahkan orang untuk mengakses informasi, namun di sisi lain dengan banyaknya situs tersebut masyarakat tidak lagi memiliki akses langsung terkait kebenaran dari informasi yang dihadirkan sehingga pembaca terlempar jauh dan dipaksa untuk mempercayainya. Kebenaran tidak terletak pada fakta yang ada, melainkan pada perspektif subjektif yang belakangan disebut post-truth, terlepas apakah informasi yang disuguhkan itu bernada provokasi atau caci-maki. Oleh karena itu, islami.co adalah situs Islam yang moderat sebagai counter-hegemony atas situs-situs yang sarat provokasi tersebut. Dengan mengusung menyebarkan dan mendukung tumbuhnya masyarakat yang penuh toleransi dan kedamaian, baldatun toyyibatun yang diberkahi Allah dan diimpikan semua manusia. Ini adalah bagian dari alasan bahwa Islam moderat perlu dimasifkan di era post-truth. Kata Kunci: Islam Moderat, Post-Truth dan Islami.co
NEGARA DALAM PEMIKIRAN MOHAMMAD NATSIR
Sukri, Alfahjri
JURNAL AL-AQIDAH Vol 11, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (731.702 KB)
|
DOI: 10.15548/ja.v11i2.1416
Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana pemikiran Mohammad Natsir tentang negara dan faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya pemikiran tersebut. Metode yang digunakan yaitu metode kualitatif dengan memberikan gambaran dan mengalisis pemikiran Natsir tentang negara. Data penelitian ini diperoleh dari analisis dokumen dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan, Negara dalam pemikiran Natsir berfungsi sebagai alat dalam menjalankan syariat Islam. Menurutnya, dengan Islam, negara akan memiliki akar yang kuat. Mengenai bentuk negara, Natsir tidak terpaku dengan bentuk negara apapu, baginya bentuk apa saja boleh asalkan syariat Islam dijalankan. Natsir juga tidak mensyaratkan seorang kepala negara menggunakan label khalifah dan tidak harus dari keturunan Quraish. Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi pemikiran Natsir mengenai negara yaitu pengaruh lingkungan kecil Natsir yang lahir di Minangkabau, pengaruh dari tokoh ulama nasional secara langsung dan tokoh ulama internasional secara tidak langsung (bacaaan), sosialisasi politiknya di organisasi dan partai Islam serta konteks politik Indonesia saat itu. Kata Kunci: Mohammad Natsir, Islam, Negara, Indonesia
DEMOKRASI BARAT: PROBLEM DAN IMPLEMENTASI DI DUNIA
Rozi, Shofwan;
Heriwanto, Heriwanto
JURNAL AL-AQIDAH Vol 11, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1034.799 KB)
|
DOI: 10.15548/ja.v11i2.1422
Tampaknya terjadi kecenderungan global di mana demokrasi tidak lagi sekedar menjadi wacana intelektual (intellectual discourse), melainkan obsesi politik berbagai negara, khususnya negara -negara berkembang. Indonesia adalah salah satu negara yang berpenduduk Muslim terbesar di dunia dan salah satu negara yang menganut sistem demokrasi terbesar ketiga di dunia setelah negara India dan Amerika Serikat. Dari berbagai pengalaman pemilihan umum dan penerapan demokrasi di negeri-negeri Islam atau di Barat sendiri, tampak jelas bahwa pemilu adalah alat penjajahan untuk kepentingan Barat. Dari berbagai pengalaman demokrasi negeri-negeri Islam tersebut kita juga bisa mengambil pelajaran bahwa demokrasi hanya menghantarkan perubahan rezim, bukan perubahan pada sistem. Jalan demokrasi ini demikian masif ditawarkan dan dipaksakan Barat di negeri-negeri Islam sebagai sebuah solusi atas berbagai krisis yang melanda. Demokrasi memuluskan liberalisasi ekonomi sebagai alat penjajahan Barat untuk merampok kekayaan alam negeri Islam. Demokrasi juga sebagai alat untuk mengokohkan boneka Barat dan melegitimasi penjajahan mereka atas dunia Islam. Kata Kunci: Demokrasi, Barat, Muslim, dan Problem
GERAKAN NEO-REVIVALISME ISLAM
Jamaldi, Jamaldi
JURNAL AL-AQIDAH Vol 11, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (703.866 KB)
|
DOI: 10.15548/ja.v11i2.1417
Gerakan neo-revivalisme Islam merupakan gerakan yang dilakukan oleh kaum modernis muslim dalam rangka mempersatukan dan memperkokoh masyarakat muslim. melalui upaya pembaharuan iman dan proses reinterpretasi warisan peradaban Islam masa lalu ke dalam dunia kontemporer. Kemunculan gerakan ini merupakan sebagai jawaban dari kondisi realitas dan modernitas di bawah pengaruh dominasi budaya Barat. Adapun karakteristik gerakan neo-revivalisme Islam ini pertama, menyoroti kondisi internal masyarakat Islam yang tidak terorgnisir secara sosio-politik. Kedua, upaya membuka kembali gaung pintu ijtihad dan berpegang teguh pada prinsip pokok ajaran Islam serta ketiga, pemurnian aqidah pokok Islam dari pengaruh faham yang merusak. Gerakan neo-revivalisme Islam di Pakistan oleh Abu A’la al-Maududi dalam organisasi “Jama’at al-Islami”, Hasan al-Banna melalui organisasi Ikhwanul Muslimin muncul di Mesir. Kata Kunci : Neo-revivalisme Islam, pembaharuan, pemurnian, tradisionalis konservatif
WACANA MARTABAT TUJUH DI JAMBI
Muzakir, Ali
JURNAL AL-AQIDAH Vol 11, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (853.334 KB)
|
DOI: 10.15548/ja.v11i2.1423
Memasuki abad ke-17 merupakan periode yang normatif bagi pembentukan pikiran dan praktik tasawuf dan tarekat. Guru-guru sufi terlibat aktif tidak hanya dalam mengintelektualisasi berbagai disiplin ilmu-ilmu keislaman tetapi juga gerakan reformasi praktik-praktik tasawuf yang harmonis dengan akidah dan syari’ah. Tulisan ini menganalisis karya-karya ulama Jambi yang turut merespon doktrin-doktrin tasawuf yang dipandang rumit tersebut. Pendekatan kajian ini adalah bersifat kronologi pemikiran tentang doktrin martabat tujuh dari sejak awal diperkenalkan hingga penyebarannya. Dalam konteks pemikiran Islam di Indonesia, kajian tentang ulama-ulama Jambi masih sangat jarang. Untuk itu, tulisan ini akan mengungkap beberapa karya ulama Jambi baik yang masih dalam bentuk manuskrip maupun cetak yang belum banyak dikenal. Tujuannya adalah sebagai teropong untuk melihat seberapa besar pengaruh pemikiran Islam dari pusat-pusat wacana Islam (the center of Islamic discourse), seperti Aceh, Palembang, dan Minangkabau, terhadap wilayah-wilayah lainnya di Indonesia. Keywords: Tasawuf, Tarekat, Martabat Tujuh, Zayn al-Jambi
THE HISTORY OF KHILAFIAH IN INDONESIA
Wisliy, Wisliy
JURNAL AL-AQIDAH Vol 11, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (783.906 KB)
|
DOI: 10.15548/ja.v11i2.1418
The appearing Khilafiah in Indonesian Islamic History because of the side opinion of Ulama – Moslem Theologian – in using a nash as be an evidence in distinction of the rule of figh usage. It’s always influenced by the time and the condition, for instance among modernists and traditionalists acknowledge al Qur’an and as Sunnah are interpretable; while it’s also insisted by the aspect of government’s politics as a need such as it’s happening until today. This writing uses the method of library research by using historical and content analysis approach. Key word : Khilafiah, Theology, Decision, Politics.
PEMIKIRAN TEOLOGI ISLAM MODERN PERSPEKTIF SAYYID AHMAD KHAN
Putri, Widdia
JURNAL AL-AQIDAH Vol 11, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (848.849 KB)
|
DOI: 10.15548/ja.v11i2.1419
This paper departs from the assumption that the study of Islamic theology does not touch aspects of reality, so it is still a hot debate among Islamic thinkers. Although theology has progressed from classical to modern– whose discussion has touched on aspects of reality, this assumption never disappears. If classical Islamic theology is incapable of confronting the problem of reality, then modern Islamic theology is able to answer the problem of reality. Sayyid Ahmad Khan is one of the modern Islamic theologians who contributed his thoughts for the betterment of his people. The concept of modern Islamic theology put forward by Sayyid Ahmad Khan became a revival of the spirit of Islam that was lost in India. This is evidence that theological problems can overcome worldly problems. The thought of modern Islamic theology Sayyid Ahmad Khan is first, placing reason in a high position; this is in line with the thought of Muktazilah. But for him, freedom of reason has limits. Second, human actions. Regarding this Sayyid Ahmad Khan is in line with the understanding of Qadariyyah. According to him, human progress depends on the extent to which humans use the resources that God has given him. Third, the law of cause and effect (sunnatullah), according to him Islam is the religion that is most in accordance with natural law because natural law is God's creation and the Qur'an is His word, of course both are in line and there is no contradiction. Keywords: Modern Islamic Theology, Sayyid Ahmad Khan, Islamic Awakening
TEOLOGI MAUT VS TEOLOGI PEMBEBASAN ASGHAR ALI ENGINEER
Rido Putra;
Putra, Rido;
Amril, Amril
JURNAL AL-AQIDAH Vol 11, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (417.164 KB)
|
DOI: 10.15548/ja.v11i2.1420
This article describes the actions of resistance carried out by groups of adherents of "theology of death". Death theology is a theology that asks to die, but does not dare to live, outside us is wrong. Indonesia as a heterogeneous country is certainly not friendly with theology of death. If this theology develops rapidly, it will not be closed to spend Pancasila as the basis of a state that has umbrella for religion which is commonly prepared to hang from the pillars of history. Death theology received a response from contemporary Muslim theologians, one of the figures being Asghar Ali Engineer from India. Engginner's ideas are famous for "liberation theology". Engineers offer three praxis agreements in theology, namely: the concept of monotheism, the concept of faith, and the concept of jihad. These three concepts lead to the values of appreciation. This finding could be implicated in the terminology of Engginner's liberation theology as an attempt to refute the inhuman death theology with this one planet. Keywords: Death Theology, Ali Liberation Theology, Engineer Asghar, Pluralism