cover
Contact Name
Eman Sulaeman
Contact Email
misykah.bbc@gmail.com
Phone
+6281293975904
Journal Mail Official
misykah.bbc@gmail.com
Editorial Address
Jl. Widarasari III - Tuparev - Cirebon
Location
Kab. cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Misykah : Jurnal Pemikiran dan Studi Islam
ISSN : 25030973     EISSN : 27471640     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
Jurnal Misykah adalah jurnal yang diterbitkan oleh Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah (LP2I) IAI bunga Bangsa Cirebon. Jurnal Ini membahas tentang pemirkiran dan studi Islam. Jurnal Misykah terbit dua kali dalam satu tahun yaitu bulan Februari dan Agustus.
Articles 60 Documents
MA’HAD Al-JAMI’AH (Model Alternatif Pembelajaran Bahasa Arab di Perguruan Tinggi Islam) Asep Adi Ismanto
Misykah : Jurnal Pemikiran dan Studi Islam Vol 1 No 1 (2016): MISYKAH
Publisher : Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah IAI Bunga Bangsa Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini akan memfokuskan kajian pada sistem pembelajaran bahasa Arab ma’had al-jami’ah yang selama ini disinyalir sebagai sistem yang efektif dalam pembelajaran bahasa asing karena pembelajaran berlangsung secara alamiah seperti halnya seorang yang belajar bahasa ibunya atau bahasa pertamanya selama sehari penuh bahkan selama kurang lebih 24 jam dan sistem yang integral karena pembelajarannya menyentuh ranah kognitif, afektif dan psikomotorik secara bersamaan. Melalui tulisan ini akan diekplorasi lebih jauh berkenaan dengan sistem pembelajaran bahasa Arab ma’had’ al-jami’ah , seperti pengertian dan asal usul ma’had al-jami’ah, pola, prinsip-prinsip pembelajaran bahasa Arab model ma’had al-jami’ah, komponen pendukung pembelajaran bahasa Arab pada sistem ini serta impilkasinya dalam pembinaan kecakapan berbahasa Arab di perguruan tinggi islam dan sisi keunggulan dan kelemahan apa yang terdapat pada sistem ini.
Hadits dalam presfektif Ormas Persis Hajjin Mabrur
Misykah : Jurnal Pemikiran dan Studi Islam Vol 6 No 1 (2021): Misykah : jurnal Pemikiran dan Studi Islam
Publisher : Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah IAI Bunga Bangsa Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The emergence of reform as an impact of modernism with the slogan "return to the Koran and the Sunnah" marks the emergence of considerable attention to hadith, which is marked by the existence of hadith books that are used as curriculum teaching materials in surau, madrasah and pesantren. However, this invitation was not agreed upon by all Muslim circles because there were many parties who thought that the invitation was intended only for those whose positions were not yet on the path of the teachings of the Koran and Sunnah or the hadith of the Prophet, peace be upon him. In contrast to PERSIS, which is a modern movement in the form of a social organization engaged in education and religion in Indonesia, which echoes the slogan above. Therefore, the discussion of hadith in PERSIS's view is important. In this simple article the writer tries to explore the EXACT view of the concept of hadith or sunnah, its position, the authenticity of hadith as a source of Islamic law, and its application in exploring the law of a problem or case. The EXACT view of the hadith in the author's observations can be seen from the things determined by the Council of Hisbah as well as those stated by A. Hasan regarding the hadith. From the author's investigation that in general there is nothing really new, let alone considered deviating from the general provisions agreed upon by the number of hadith scholars from the definition, the position of hadith in tasyri and its relationship with the Koran, the classification of hadith to the method of mengistinbath. law with hadith evidence, therefore the writer sees that PERSIS's assumption is very rigid in seeing a problem, especially if it is related to religion is not correct. Because in reality it is not as stiff as expected. Abstrak Munculnya pembaharuan sebagai dampak modernisme dengan slogannya “kembali kepada Al-Quran dan sunnah” menandai munculnya perhatian yang cukup besar terhadap hadis, yang ditandai oleh adanya kitab-kitab hadis yang dijadikan bahan ajar kurikulum di surau, madrasah, dan pesantren. Namun ajakan tersebut tidaklah disepakati oleh semua kalangan umat Islam karena ada banyak pihak yang menganggap ajakan tersebut lebih diperuntukkan hanya bagi yang posisinya memang belum berada pada jalur ajaran Al-Quran dan Sunah atau hadis Nabi, saw. Berbeda dengan PERSIS, yang merupakan salah satu gerakan modern yang berupa organisasi sosial yang bergerak pada bidang pendidikan dan keagamaan di Indonesia yang menggaungkan slogan di atas. Oleh karenanya pembahasan hadis dalam pandangan PERSIS menjadi penting. Dalam tulisan yang sederhana ini penulis mencoba menggali pandangan PERSIS terhadap konsep hadis atau sunah, kedudukannya, kehujjahan hadis sebagai sumber hukum Islam, dan penerepannya dalam menggali hukum suatu masalah atau kasus. Pandangan PERSIS terhadap hadis dalam pengamatan penulis dapat dilihat dari apa-apa yang ditetapkan oleh Dewan Hisbah maupun yang dikemukakan oleh A. Hasan terhadap hadis. Dari penelusuran penulis bahwa secara umum tidak terdapat hal yang benar-benar baru apalagi dianggap menyimpang dari ketentuan-ketentuan umum yang telah disepakati oleh jumhur ulama hadis dari mulai definisi, kedudukan hadis dalam tasyri dan hubungannya dengan Al-Quran, klasifikasi hadis sampai pada cara mengistinbath hukum dengan hujjah hadis, karenanya penulis melihat bahwa anggapan PERSIS sangat kaku dalam melihat suatu persoalan apalagi kaitannya dengan agama adalah tidak tepat. Karena pada kenyataanya tidaklah sekaku yang diperkirakan.
Pengaruh Penerapan Metode Inkuiri Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik Pada Mata Pelajaran PAI di Kelas XI SMAN 1 Susukan Maman Fatkhurokhman
Misykah : Jurnal Pemikiran dan Studi Islam Vol 5 No 2 (2020): Misykah : jurnal Pemikiran dan Studi Islam
Publisher : Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah IAI Bunga Bangsa Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research is motivated by the rapid progress of schools in this modern era, each school always makes learning innovations so that students do not feel bored and bored in class. Boredom and boredom are one of the obstacles in the learning process. Students become not enthusiastic in learning, the atmosphere becomes stiff and monotonous. This study aims to determine the effect of the implementation of the inquiry method on the critical thinking skills of class XI students at SMA N 1 Susukan. The number of samples, namely class XI IPA 4 as many as 34 students. The technique used in sampling is purposive sampling technique, namely the sampling technique used by the researcher if the researcher has certain considerations in taking the sample. The research instrument used tests and questionnaires. The collected data were processed using quantitative descriptive statistical analysis using categorization techniques. Based on the results of descriptive statistical analysis, it was found that the pretest average score was 58.70 while the postest score was 90.58. and the results of the t-test show that it has a value of t = 8.79 with a significant level of 2 tailed class XI IPA 4 0.000 from the results of the calculation of SPSS 20, the value of the t-test, when compared with the level (a) = 0.05 then <0.05 , so that the conclusion of the statistics taken is H1 accepted Abstrak Penelitian ini dilatar belakangi oleh begitu pesatnya kemajuan sekolah di era modern ini, setiap sekolah selalu melakukan inovasi pembelajaran sehingga peserta didik tidak merasa bosan dan jenuh dalam kelas. Kebosanan dan kejenuhan adalah salah satu penghambat dalam proses pembelajaran. Peserta didik menjadi tidak antusias dalam belajar, suasana menjadi kaku dan monoton. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh pelaksanaan metode inkuiri terhadap kemampuan berpikir kritis peserta didik kelas XI di SMA N 1 Susukan. Jumlah sampelnya yaitu kelas XI IPA 4 sebanyak 34 peserta didik. Tekhnik yang digunakan dalam pengambilan sampel yaitu dengan tekhnik Purposive sampling yaitu tekhnik sampling yang digunakan peneliti jika peneliti memiliki pertimbangan-pertimbangan tertentu dalam pengambilan sampelnya. Instrument penelitian ini menggunakan tes, dan angket. Data yang dikumpul diolah dengan menggunakan analisis statistik deskriptif kuantitatif dengan menggunakan teknik kategorisasi. Berdasarkan hasil analisis statistik deskriptif diperoleh skor rata-rata pretest adalah 58,70 sedangkan soal postest 90,58. dan hasil uji-t menunjukkan memiliki nilai t= 8,79 dengan tingkatan signifikan 2 tailed kelas XI IPA 4 0.000 dari hasil perhitungan SPSS 20 nilai dari uji-t, jika dibandingkan dengan taraf (a) =0,05 maka <0,05, sehingga kesimpulan dari statistika yang diambil adalah H1 diterima.
Konsep Ibn Al-‘Arabĭ dan Ranggawarsita Tentang Manusia Muhammad Luthfi Ubaidillah
Misykah : Jurnal Pemikiran dan Studi Islam Vol 5 No 1 (2020): Misykah : jurnal Pemikiran dan Studi Islam
Publisher : Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah IAI Bunga Bangsa Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Human nature is a study that is always interesting to discuss in various cultures and religions. This paper seeks to present human nature in the view of the great figure of Sufism, namely Ibn al-'Arabi and the great figure of Javanese literature and mysticism, namely Ranggawarsita. In terms of thinking, these two figures have become icons in their world of thought. Ibn al-'Arabî became a pioneer of wujudiah teachings in the world of Sufism. Meanwhile, Ranggawarsita has a mindset that cannot be compared with other poets in the world of Javanese poet thought. Abstrak Hakikat manusia menjadi suatu kajian yang selalu menarik untuk diperbincangkan di berbagai budaya dan agama. Tulisan ini berupaya menyajikan hakikat manusia dalam pandanga tokoh besar tasawuf yaitu Ibn al-‘Arabi dan tokoh besar kesusasteraan dan kebatinan Jawa yaitu Ranggawarsita. Dalam hal pemikiran kedua tokoh ini menjadi ikon dalam dunia kepemikiran mereka. Ibn al-‘Arabî menjadi pelopor ajaran wujudiah dalam dunia sufisme. Sedangkan Ranggawarsita memiliki kepemikiran yang tidak dapat dibandingkan dengan pujangga-pujangga lain dalam dunia pemikiran pujangga Jawa.
Model Integrasi Islam, Sains Dan Budaya Pesantren hamdan adib
Misykah : Jurnal Pemikiran dan Studi Islam Vol 6 No 2 (2021): Misykah : jurnal Pemikiran dan Studi Islam
Publisher : Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah IAI Bunga Bangsa Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kesadaran masyarakat akan kebutuhan manusia yang beriman, beraklak dan cerdas serta memahami ilmu pengetahuan menuntut pesantren untuk melengkapi pendidikan agama yang diajarkannya dengan pendidikan umum. Hal ini berdampak pada inovasi pesantren yang membentuk lembaga baru berupa sekolah formal dan rekonstruksi sistem dan pelajaran yang ada didalam pesantren sendiri. Maka dari itu dibutuhkan pesantren yang memiliki integrasi yang kuat antara Islam sains dan budaya yang ada di dalam pesantren. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan dan menganalisis model integrasi Islam sains dan budaya Pesantren. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Library research. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Integrasi yang diberikan pondok pesantren masih bersifat semu atau belum terkonstruk secara sempurna sehingga hasil yang diberikan belum maksimal, hanya ada beberapa pondok pesantren yang sudah bisa memberikan hasil yang maksimal dalam integrasi antara kedua ini, namun meniscayakan lemahnya salah satu keilmuan sehingga dalam integrasi yang dilakukan seharusnya ada kajian yang mendalam. Abstract Public awareness of the needs of human beings who have faith, character and intelligence and understand science requires pesantren to complement the religious education it teaches with general education. This has an impact on the innovation of Islamic boarding schools that form new institutions in the form of formal schools and the reconstruction of systems and lessons that exist within the pesantren itself. Therefore, a pesantren is needed that has a strong integration between Islamic science and culture in the pesantren. The purpose of this study is to describe and analyze the model of the integration of Islamic science and Islamic boarding school culture. The method used in this research is library research. The results of the study indicate that the integration provided by Islamic boarding schools is still pseudo or not perfectly constructed so that the results provided are not optimal, there are only a few Islamic boarding schools that have been able to provide maximum results in the integration between these two, but necessitate the weakness of one of the sciences so that in The integration carried out should have an in-depth study.
Wasathiyyah Sebagai Pilar Peradaban Muhammadun Muhammadun
Misykah : Jurnal Pemikiran dan Studi Islam Vol 5 No 1 (2020): Misykah : jurnal Pemikiran dan Studi Islam
Publisher : Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah IAI Bunga Bangsa Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sharia has the aim of bringing convenience and eliminating distress. Through the concept of wasathiyyah (moderation) it is not permissible for muftis, judges or legal experts to choose severe decisions in cases where lighter alternatives can be sought. According to Wahbah az-Zuhaili, this concept can be realized by considering a balanced person's rights and obligations towards others, the material and spiritual world; a balance between forgiveness and resistance, sympathy and hatred for extremism in all its forms. The root of almost all social problems is a constant deviation from this path. It is Wasathiyyah who is most likely to bring stability and calm. Because he is a manifestation of the essence of moral honor and glory of Islam. Furthermore, Islam also promotes these values ​​not only among Muslims, but also in their relations with other religious communities and nations. So that wasathiyyah, is a pillar and preserver of civilization Abstrak Syariah memiliki tujuan untuk membawa kemudahan serta menghilangkan kesusahan. Melalui konsep wasathiyyah (moderasi) tidak boleh bagi mufti, hakim atau ahli hukum memilih putusan berat pada kasus-kasus yang dapat dicari alternatif lebih ringan. Menurut Wahbah az-Zuhaili> konsep tersebut dapat diwujudkan dengan mempertimbangkan secara seimbang hak dan kewajiban seseorang terhadap orang lain, dunia material dan spiritual ; keseimbangan antara memaafkan dan melakukan perlawanan, simpatik dan kebencian terhadap ekstrimisme dalam segala wujudnya. Akar pada hampir semua masalah sosial adalah selalu adanya penyimpangan dari jalan ini. Wasathiyyah lah yang paling mungkin membawa stabilitas dan ketenangan. Karena ia merupakan wujud dari esensi kehormatan moral dan kemuliaan Islam. Lebih lanjut, Islam juga menyerukan nilai-nilai tersebut tidak hanya di kalangan kaum muslimin, namun juga dalam hubungan mereka dengan komunitas agama dan bangsa lain. Sehingga wasathiyyah, merupakan pilar dan pemelihara peradaban
Peran Budaya Pesantren Dalam Membentuk Karakter Santri di Pondok Ilmu Derma Agung maulana sahali
Misykah : Jurnal Pemikiran dan Studi Islam Vol 6 No 2 (2021): Misykah : jurnal Pemikiran dan Studi Islam
Publisher : Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah IAI Bunga Bangsa Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pesantren merupakan sistem pendidikan tertua yang khas terutama di Indonesia yang berkarakter dan cukup membanggakan karena pesantren merupakan suatu lembaga pendidikan yang mengajarkan agama Islam dan memberikan kontribusi bagi pembangunan dan pembentukan manusia seutuhnya. Tujuan dari penelitian ini adalah: pertama, untuk mengetahui budaya apa saja yang ada di PIDERMA. Kedua untuk mengetahui bagaimana budaya pesantren yang diterapkan di PIDERMA. Ketiga untuk mengetahui faktor apa saja yang menjadi pendukung dan penghambat dalam membentuk karakter santri. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif, dimana dalam pungimpulan data menggunakan interview, observasi, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan serta data dilapangan menunjukkan bahwa pengasuh dan pengurus piderma telah berusaha secara optimal untuk merealisasikan proses penerapan budaya dalam membentuk karakter santri dengan cara membagi tugas kepada Ustdaz/Ustadzah serta pengurus lainya yang berpengalaman dan memberikan materi-materi yang sangat menunjang di bidang akhlak. Memberikan contoh dalam penerapan membiasakan santri untuk mengerjakan sholat jama’ah, membaca Al-Qur’an, musyawarah, khitobahan, marhabanan, cocogan, deres, ro’an dan yang terpenting adalah mampu mengamalkan ilmu yang telah didapatkannya. Penerapan budaya pesantren Piderma dalam membentuk karakter santri ini berjalan dengan baik dan berhasil meskipun masih ada beberapa sebagian santri yang melanggar tata tertib yang telah ditetapkan oleh pondok ilmu derma agung. Abstract Pesantren is the oldest education system that is unique, especially in Indonesia, which has character and is quite proud because pesantren is an educational institution that teaches Islam and contributes to the development and formation of a whole person. The aims of this research are: first, to find out what cultures exist in PIDERMA. Second, to find out how the pesantren culture is applied in PIDERMA. Third, to find out what are the supporting and inhibiting factors in shaping the character of the santri. This study uses a qualitative research type, where the data collection uses interviews, observations, and documentation. Based on the results of research and discussion as well as data in the field, it shows that the caregivers and administrators of piderma have tried optimally to realize the process of implementing culture in shaping the character of students by dividing tasks to Ustadz/Ustadzah and other experienced administrators and providing materials that are very supportive in the field of education. morals. Giving examples in the application of getting students to do congregational prayers, reading the Qur'an, deliberation, khitobahan, marhabanan, cocogan, deres, ro'an and most importantly being able to practice the knowledge that has been obtained. The application of the Piderma Islamic boarding school culture in shaping the character of the santri went well and was successful, although there were still some students who violated the rules set by the Pondok Ilmu Derma Agung.
Entitas Manusia Dalam Quran Serta Implikasinyanya Dalam Pendidikan Dan Mitigasi Covid –19 Yoyoh Badriyyah; Eman Sulaeman
Misykah : Jurnal Pemikiran dan Studi Islam Vol 6 No 2 (2021): Misykah : jurnal Pemikiran dan Studi Islam
Publisher : Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah IAI Bunga Bangsa Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini ini mengkaji soal entitas manusia dalam Alquran dan implikasinya dalam dunia pendidikan dan mitigasi dari covid 19. Kajian terhadap entitas manusia dalam alquran menjadi hal yang penting melihat posisinya sangat dasar dalam pemberian layanan pendidikan dan mitigasi covid 19. Tujuan dari penelitian ini menemukan suattu konsep dalam mitigasi wabah covid-19 dari pendekatan pendidikan dan pemahaman diri manusia atas dirinya sebagai makluk biologis dan psikologis. Penelitian ini termasuk deskriptif kualitatif, dengan metode penelitian yaitu analisis teks / pustaka. Sedangkan objek kajiannya yaitu ayat-ayat Alquran serta teks-teks yang berkaitan dengan pendidikan dan covid-19. Dalam analaisis ayat, peneliti menggunakan pendekatan tematik, dimulai dari menghimpun ayat-ayat Al-Quran yang berkatian dengan entitas manusia, mengklasifikasikan dan menafsirkan dari sudut pandang pendidikan dan kesehatan. Hasil penelitian, diperoleh: pertama, manusia -dalam padangan Alquran- merupakan entitas yang terbangun oleh dua komponen dasar yaitu komponen biologis dan makluk psikologis; Kedua, kesadaran diri manusia sebagai makluk biologis dan psikologis berimplikasi terhadap pendidikan, bahwa kedua aspek tersebut perlu mendaptkan layanan pendidikan secara kuat dan seimbang supaya mampu menghadapi berbagai persoalan baik yang menyangkut fisik atau imunitas (seperti wabah covid) maupun psikis (seperti stres, kecemasan dan ketakutan); ketiga, pemulihan wabah covid-19,- dalam konteks pemahaman esensi manusia sebagai makluk biologis dan Psikologis- perlu didekati dengan dua hal, yaitu penguatan psisik / imunitas seperti pengobatan dan vaksinasi, serta pendidikan / penguatan psikis seperti pembiasaan berdzikir, berdoa, hiburan dan konsulting bagi pasen isoman. ABTRAC This study examines the human entity in the Qur'an and its implications in the world of education and mitigation of covid 19. The study of the human entity in the Qur'an is important considering its very basic position in providing educational services and mitigating covid 19. The purpose of this study is to find a concept in mitigating the covid-19 outbreak from an educational approach and human self-understanding of himself as a biological and psychological being. This research is descriptive qualitative, with research method that is text/library analysis. While the object of study is the verses of the Koran and texts related to education and COVID-19. In the verse analysis, the researcher uses a thematic approach, starting from collecting the verses of the Koran related to human entities, classifying and interpreting it from the point of view of education and health. The results of the study, obtained: first, humans -in the view of the Koran- are entities that are built by two basic components, namely biological components and psychological beings; Second, human self-awareness as biological and psychological beings has implications for education, that both aspects need to receive strong and balanced educational services in order to be able to deal with various problems, both related to physical or immunity (such as the covid outbreak) and psychologically (such as stress, anxiety and depression). Fright); third, the recovery from the covid-19 outbreak, - in the context of understanding the essence of humans as biological and psychological beings - needs to be approached with two things, namely physical strengthening/immunity such as treatment and vaccination, as well as education/psychic strengthening such as habituation of dhikr, prayer, entertainment and counseling. for isoman patients.
Transformasi Kebudayaan dalam Prespektif Al-Quran Hajjin Mabrur
Misykah : Jurnal Pemikiran dan Studi Islam Vol 5 No 1 (2020): Misykah : jurnal Pemikiran dan Studi Islam
Publisher : Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah IAI Bunga Bangsa Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Al-Qur'an is the guidance of mankind throughout the ages in living their lives in order to get happiness, prosperity, and glory as well as safety in this world and the hereafter. Al-Qur'an. If it is seen from who is speaking, it is fitting for mankind not to look for other references in all their activities except for the al-Qur'an, in the sense that all their activities are based on or are in line with the values ​​of the Qur'an. It is very appropriate to do this because it is Allah who is the Creator, the One who knows the human self both physically and mentally. History has proven that anyone who sticks to the practice of the Qur'an istiqomah they get good luck and glory, especially if those who stick to the practice of the Qur'an are a group of humans then extraordinary positive changes will occur soon. The Qur'an in technical practice guides mankind by placing 'amal as central to the meaning of human existence. This view puts humans in a dynamic position, the dynamics lies in human existence in the form of culture. Culture as a form of human existence is constantly in process, namely the process of asserting existence, both individually and collectively. As a holy book that is more concerned with charity than ideas, we will not find the equivalent word in Arabic, al-hadhoroh, or al-tsaqofah, because the word refers to culture as a product. On the other hand, the word charity as a human activity which refers to culture as a process is actually one of the main teachings. 'Charity or work is a rational and effective human effort that is used by him to control his environment and nature. 'Charity or cultural activity is a life activity that is realized, understood and planned and is closely related to values. We can see that culture in the Koran is seen more as a human process to manifest the totality of himself in life, which is called 'amal. Viewing culture as a process is putting culture as the existence of human life. From the description above, it can be concluded that the Qur'an has a central position and is very significant in the process of cultural transformation in its community. Abstrak Al-Qur’an adalah pedoman umat manusia sepanjang zaman dalam menempuh kehidupannya agar mendapatkan kebahagiaan kesejahteraan, kemulyaan, dan kejayaan serta keselamatan di dunia dan akhirat. Al-Qur’an. jika dilihat dari siapa yang berbicaranya maka sudah sepatutnya umat manusia tidak mencari acuan lain dalam segala aktifitasnya kecuali kepada al-Qur’an, dalam artian segala aktifitasnya didasarkan atau sejalan dengan nilai-nilai al-Qur’an. Hal tersebut pantas sekali dilakukan karena yang berbicara adalah Allah Sang Maha Pencipta, Dzat yang paling mengetahui diri manusia baik lahirnya maupun batinnya. Sejarah telah membuktikan siapapun yang berpegang teguh dengan mengamalkan al-Qur’an secara istiqomah mereka mendapatkan keberuntungan dan kejayaan apalagi jika yang berpegang teguh mengamalkan al-Qur’annya adalah sekelompok manusia maka perubahan positif yang luar biasa akan segera terjadi. Al-Qur’an dalam praktek teknisnya membimbing umat manusia dengan meletakkan ‘amal sebagai sentral bagi makna keberadaan manusia. pandangan ini menempatkan manusia pada posisi yang dinamis, dinamikanya terletak pada eksistensi manusia yang berupa kebudayaan. Kebudayaan sebagai wujud eksistensi manusia terus menerus berada dalam proses, yaitu proses pernyataan keberadaan, baik yang bersifat individual, maupun kolektif. Sebagai kitab suci yang lebih mementingkan amal dari pada gagasan, maka kata padanan kebudayaan dalam bahasa arab yaitu al-hadhoroh, atau al-tsaqofah memang tidak akan kita temukan didalamnya, karena kata tersebut menunjuk kepada kebudayaan sebagai produk. Sebaliknya, kata amal sebagai kegiatan manusia yang menunjuk pada kebudayaan sebagai proses, justru merupakan salah satu ajaran pokok . ‘Amal atau karya adalah upaya manusia yang rasional dan efektif yang dipergunakan olehnya untuk menguasai lingkungan serta alamnya. ‘amal atau aktivitas budaya merupakan aktivitas hidup yang disadari, dimengerti dan direncanakan serta berkait erat dengan nilai-nilai. Kita dapat melihat bahwa kebudayaan dalam Al-Qur’an lebih dipandang sebagai proses manusia mewujudkan totalitas dirinya dalam kehidupan, yang disebut ‘amal. Memandang kebudayaan sebagai proses adalah meletakkan kebudayaan sebagai eksistensi hidup manusia. Dari gambaran di atas memberikan kesimpulan bahwa al-Qur’an memiliki posisi sentral dan sangat signifikan dalam proses transformasi budaya di lingkungan umatnya
Konsep Pendidikan Karakter Menurut Syaikh Musthafa Al-Ghalayaini Dalam Kitab ‘Idhatun Nasyi’in Habib Abdul Muhyi
Misykah : Jurnal Pemikiran dan Studi Islam Vol 6 No 2 (2021): Misykah : jurnal Pemikiran dan Studi Islam
Publisher : Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah IAI Bunga Bangsa Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak karakter remaja yang semakin memperhatikan. Maka upaya yang bisa dilakukan untuk memperbaiki itu semua tidak lepas dari peran pendidikan karakter.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konsep pendidikan karakter menurut syaikh Musthafa al-Ghalayaini dalam kitab ‘Idhatun Nasyi’in dan relevansinya terhadap nilai-nilai karakter peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep pendidikan karakter, nilai-nilai karakter, relevansi terhadap nilai-nilai karakter siswa menurut syaikh muasthafa al-ghalayaini dalam kitab ‘idhatun nasyi’in. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research). Penelitian ini menghasilkan beberapa temuan, yaitu: Pertama, pendidikan karakter menurut syaikh Musthafa al-Ghalayaini sebagaimana pendidikan karakter pada umumnya, yaitu menanamkan akhlak yang utama, budi pekerti yang luhur serta didikan yang mulia dalam jiwa anak-anak, sejak kecil sampai ia menjadi orang yang kuasa untuk hidup dengan kemampuan usaha dan tenaganya sendiri. Kedua, nilai-nilai pendidikan karakter yang ada dalam kitab ‘Idhatun Nasyi’in, diantaranya : percaya diri; sabar dan tabah hati; ikhlas; optimis; berani; solidaritas; jujur; religius; cinta damai; cinta tanah air; toleransi dan saling menghargai; kedermawanan; dapat dipercaya; tolong menolong, memaksimalkan pekerjaan; tawakal; dan mandiri. Ketiga, konsep pendidikan karakter menurut syaikh Musthafa al-Ghalayaini memiliki relevansi terhadap corak pendidikan di Indonesia. Abstract teenage characters who are increasingly paying attention. So efforts that can be made to improve it all cannot be separated from the role of character education. This study aims to describe the concept of character education according to Shaykh Musthafa al-Ghalayaini in the book 'Idhatun Nasyi'in and its relevance to the character values ​​of students. This study aims to determine the concept of character education, character values, relevance to student character values ​​according to Shaykh Muasthafa al-Ghalayaini in the book 'idhatun nasyi'in. This research is a library research (library research). This study produced several findings, namely: First, character education according to Shaykh Musthafa al-Ghalayaini as character education in general, namely instilling the main character, noble character and noble upbringing in children's souls, from childhood until they become adults. who has the power to live with his own effort and power. Second, the values ​​of character education contained in the book 'Idhatun Nasyi'in, including: self-confidence; patient and steadfast; sincere; optimistic; brave; solidarity; honest; religious; love peace; love for the homeland; tolerance and mutual respect; generosity; can be trusted; help, maximize work; trustworthiness; and independent. Third, the concept of character education according to Shaykh Musthafa al-Ghalayaini has relevance to the style of education in Indonesia. Both in concepts, character values ​​and the purpose of education itself, namely for the creation of individuals with noble character or virtuous character.