cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I) Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, NTB Principal Contact: Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd. (085239967417) Technical Support Contact: Randi Pratama M., M.Pd. (085781267181) Email: jurnalp4i@gmail.com
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
CENDEKIA : Jurnal Ilmu Pengetahuan
ISSN : 27748030     EISSN : 27744183     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 3 No. 3 (2023)" : 5 Documents clear
ISU GENDER DALAM PERSPEKTIF AGAMA DAN PERUNDANG-UNDANGAN HENNY YULIATI
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 3 No. 3 (2023)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v3i3.2400

Abstract

Eachreligion teaches that men and women have equal positions and roles so that in life they can walk side by side and complement each other. In the sense that the roles and jobs that men usually do can be done by women, and vice versa. Women's roles and jobs can also be men who do it. The existence of inequality of position and role between men and women in society stems from the wrong perception of "female nature" with the "role of women" which is always associated with religious rules or provisions. This error in understanding and interpreting the provisions that exist in religious norms and is not comprehensively causes misguidedness and is fatal in the application of society. This misinterpretation then leads to gender bias and leads to discrimination against women's rights. Whereas it has been explained previously in religious teachings, both Islamic and Christian that men and women are created with different types and with their own characteristics, but the treatment of Allah Almighty / God Almighty is not different for both, both are given the same duties and responsibilities as servants of His creation. Then in relation to the conditions of the times that are all regulated by provisions and legislation with reference to the 1945 Constitution article 27 paragraph (1) it is expressly stated that the state provides guarantees of equality, the position of citizens, one of which is the right to equality of position in law and government and is obliged to uphold the law and government with no exceptions. However, some laws and regulations are still considered gender biased, which then in the application in society there are gaps and inequalities in the roles between men and women in realizing their right to participate in advancing development. ABSTRAKSetiap agama mengajarkan bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai kedudukan dan peran yang setara sehingga dalam kehidupan bisa berjalan berdampingan dan saling melengkapi satu sama lain. Dalam artian peran dan pekerjaan yang biasa dilakukan laki-laki bisa dilakukan oleh perempuan, begitu juga sebaliknya. Peran dan pekerjaan perempuan pun bisa saja laki-laki yang mengerjakannya. Adanya ketimpangan kedudukan dan peran antara laki-laki dan perempuan di masyarakat berawal dari salahnya persepsi terhadap “kodrat perempuan” dengan “peran perempuan” yang selalu dikaitkan dengan aturan atau ketentuan agama. Kekeliruan dalam memahami dan menafsirkan ketentuan yang ada pada norma agama dan tidak secara komprehensif tersebut menyebabkan salah kaprah dan berakibat fatal dalam penerapan bermasyarakat. Penafsiran yang keliru ini kemudian mengarah kepada adanya bias gender dan berujung menimbulkan diskriminasi terhadap hak-hak kaum perempuan. Padahal telah dijelaskan sebelumnya dalam ajaran agama, baik itu Islam maupun Kristen bahwa lakilaki dan perempuan diciptakan dengan jenis yang berbeda dan dengan karakteristik masingmasing, namun perlakuan Allah SWT/Tuhan YME tidaklah berbeda terhadap keduanya, keduanya diberikan tugas dan tanggung jawab yang sama sebagai hamba ciptan-Nya. Kemudian kaitannya dengan kondisi zaman yang serba diatur oleh ketentuan dan perundangundangan dengan mengacu kepada UUD 1945 pasal 27 ayat (1) diungkapkan secara tegas bahwa negara memberikan jaminan persamaan, kedudukan warga negara, salah satunya adalah adanya hak atas persamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya. Meski demikian, beberapa peraturan perundangan masih dianggap bias gender yang kemudian dalam penerapan di masyarakat terjadi kesenjangan dan ketimpangan peran antara laki-laki dan perempuan dalam mewujudkan haknya untuk berpartisipasi memajukan pembangunan.
UPAYA PENATAAN ADMINISTRASI SEBAGAI LANGKAH PENINGKATAN PELAYANAN DI STT LEVINUS RUMASEB KAMPUS II WAMENA MALEO TABUNI; YESKIEL HELUKA; PER BAYAGE
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 3 No. 3 (2023)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v3i3.2420

Abstract

Competition for quality among tertiary institutions today continues to increase, encouraging tertiary institutions to remain well-regarded by all parties, both in the internal and external environment of tertiary institutions. Using a descriptive qualitative approach, this research was conducted to review the academic services of STT Levinus Rumaseb Campus II Wamena using the SERVQUAL service quality evaluation model. The results of the SERVQUAL parameter measurements show good service quality, but there are notes regarding, among others, learning facilities, infrastructure, and students' access rights to the Academic Information System. These notes are then submitted as recommendations to universities to determine program priorities for the future. ABSTRAKPersaingan kualitas antar perguruan tinggi dewasa ini terus meningkat, mendorong perguruan tinggi untuk tetap baik dipandang oleh semua pihak baik di lingkungan internal maupun eksternal perguruan tinggi. Dengan pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian dilakukan untuk mengkaji kembali pelayanan akademik STT Levinus Rumaseb Kampus II Wamena menggunakan model evaluasi mutu pelayanan SERVQUAL. Hasil dari pengukuran parameter SERVQUAL menunjukkan kualitas pelayanan yang baik, namun terdapat catatan antara lain mengenai fasilitas belajar, sarana prasarana, dan hak akses mahasiswa terhadap Sistem Informasi Akademik. Catatan ini yang kemudian diajukan sebagai rekomendasi kepada perguruan tinggi untuk menentukan prioritas program untuk masa mendatang.
PEMANFAATAN NOVEL DUA GARIS BIRU KARYA LUCIA PRIANDARINI SEBAGAI MEDIA BANTU DALAM PENERAPAN MODEL STRUKTUR NARATIF PADA PEMBELAJARAN MENULIS TEKS CERPEN DI KELAS IX MUHAMMAD FAJAR RIKIDAYANTO; ASROPAH ASROPAH; NAZLA MAHARANI UMAYA
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 3 No. 3 (2023)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v3i3.2421

Abstract

Learning Indonesian, especially writing short story texts, is an important aspect of education at the SMP/MTs level. However, this learning is often still centered on educators and does not place students as constructors of knowledge. The 2013 curriculum (K 13) aims to equip students with various skills, including short story writing skills. However, in its implementation several challenges emerged, such as students' lack of courage to express their thoughts or experiences, difficulties in organizing story plots, and inappropriate learning methods. This study aims to describe the use of the novel Dua Garis Biru by Lucia Priandarini as an auxiliary medium in applying the narrative structure model to learning to write short story texts in class IX using the paired storytelling method as a learning strategy to have a positive impact on students' short story writing skills in class IX MTS Taqwiyatul Wathon. The paired storytelling method allows students to tell stories in pairs in front of their peers, which is expected to increase students' motivation and activeness in writing short story texts. ABSTRAKPembelajaran bahasa Indonesia, khususnya menulis teks cerpen, menjadi aspek penting dalam pendidikan di tingkat SMP/MTs. Namun, pembelajaran ini seringkali masih berpusat pada pendidik dan kurang menempatkan peserta didik sebagai konstruktor pengetahuan. Kurikulum 2013 (K 13) bertujuan untuk membekali peserta didik dengan berbagai keterampilan, termasuk keterampilan menulis cerpen. Namun, dalam implementasinya beberapa tantangan muncul, seperti peserta didik kurang berani untuk mengungkapkan pemikiran atau pengalaman mereka, kesulitan dalam mengorganisasi plot cerita, dan metode pembelajaran yang belum sesuai. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemanfaatan novel Dua Garis Biru karya Lucia Priandarini sebagai media bantu dalam penerapan model struktur naratif pada pembelajaran menulis teks cerpen di kelas IX dengan metode paired storytelling sebagai strategi pembelajaran untuk memberikan dampak positif keterampilan menulis teks cerpen peserta didik di kelas IX MTS Taqwiyatul Wathon. Metode paired storytelling memungkinkan peserta didik bercerita secara berpasangan di depan teman sebaya, yang diharapkan dapat meningkatkan motivasi dan keaktifan peserta didik dalam menulis teks cerpen.
PENGARUH PENDIDIKAN ISLAM DALAM KELUARGA DAN SEKOLAH TERHAD SIKAP KEBERAGAMAAN SISWA SDN KURANJI CIREBON AISYAH AISYAH
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 3 No. 3 (2023)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v3i3.2422

Abstract

PAI teachers are professional educators, their presence in interactions with students cannot be replaced, even in certain situations. In addition to teaching and educating teachers must be able to actualize the potential of their students. PAI teachers must be role models for students, because basically the teacher is a representation of a group of people in a community or society who are expected to be admired and imitated. Likewise, parents who are the first educators at home are certain that their attitudes and behavior are imitated by their children, therefore the author is interested in knowing how much influence Islamic education has in families and schools on the religious attitudes of students at SDN Kuranji, Cirebon city. The purpose of this study was to obtain an overview of how much influence Islamic education has in families and schools on the religious attitudes of students at SDN Kuranji, Cirebon City. This research uses a quantitative approach with data analysis using the Pearson Product Moment formula. The results of this study concluded that Islamic education obtained from families and schools is very influential as evidenced by the religious attitude of students who always and often pray as much as 96%, the majority of students always and often pray when sick is 88%, the majority of students always and often read the Qur'an 'an as much as 85.4%, the majority of students always and often pray on time as much as 78.7%, the majority always and often do Duha prayers as much as 74.6%, the majority always and often perform Ramadan fasting 85.4%, the majority always and often donate at school as much as 86.7, the latter the majority often and always congregate in carrying out the five daily prayers as much as 90%. % and 86.6% of students' religious attitudes were very good, this was because the parents of students and PAI teachers set an example in worship and good religious attitudes in their students. The religious attitude of children grows from the family, school, and community environment which has proven to have a significant effect on students' religious attitudes. ABSTRAKGuru PAI merupakan pendidik profesional, kehadirannya dalam interaksi dengan peserta didik tidak dapat digantikan, sekalipun dalam situasi tertentu. Selain mengajar dan mendidik guru harus mampu mengaktualisasikan potensi peserta didiknya. Guru PAI harus menjadi teladan bagi peserta didik, karena pada dasarnya guru adalah representasi dari sekelompok orang pada suatu komunitas atau masyarakat yang diharapkan dapat digugu dan ditiru. Begitu pula dengan orang tua merupakan pendidik pertama di rumah sudah pasti sikap dan perilakunya ditiru oleh anaknya maka dari itu penulis tertarik untuk mengetahui seberapa banyak pengaruh pendidikan Islam dalam keluarga dan sekolah terhadap sikap keberagamaan siswa SDN Kuranji kota Cirebon. Tujuan Penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran tentang seberapa banyak pengaruh pendidikan Islam dalam keluarga dan sekolah terhadap sikap keberagamaan siswa SDN Kuranji kota Cirebon Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisa data menggunakan rumus Pearson Product Moment. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa pendidikan Islam yang didapatkan dari keluarga dan sekolah sangat berpengaruh terbukti dengan sikap keberagamaan siswa yang selalu dan sering melaksanakan shalat sebanyak 96 %, Mayoritas siswa selalu dan sering shalat dalam keadaan sakit 88%, mayoritas siswa selalu dan sering membaca al Qur’an sebanyak 85,4 %, mayoritas siswa selalu dan sering mengerjakan sholat tepat waktu sebanyak 78,7 %, mayoritas selalu dan sering mengerjakan sholat duha sebanyak 74,6%, mayoritas selalu dan sering menjalankan puasa ramadhan 85,4%, mayoritas selalu dan sering bersodaqoh di sekolah sebanyak 86,7, yang terakhir mayoritas sering dan selalu berjama’ah dalam melaksanakan shalat lima waktu sebanyak 90%, Rata-rata hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Siswa SDN Kuranji kurang taat dalam beribadah hanya sebagian kecil yaitu 13,4 % dan 86,6 % sikap keberagamaan siswa sangat baik, hal ini disebabkan karena orang tua siswa dan guru PAI memberikan teladan dalam beribadah dan sikap keberagamaan yang baik pada siswanya. Sikap keberagamaan anak tumbuh dari lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat terbukti berpengaruh signifikan terhadap sikap keberagamaan siswa.
UPAYA MENINGKATKAN KEDISIPLINAN GURU MELALUI KETELADANAN KEPALA SEKOLAH DI MTsN 2 SIMEULUE SEPTIMI HARTATI NATALIA
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 3 No. 3 (2023)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v3i3.2452

Abstract

This research serves to analyze increasing teacher discipline through the example of the school principal at MTsN 2 Simeulue. This study uses a qualitative method. The results of this research conclude that the role of the principal through his example is the most important thing in improving teacher discipline, because the principal is someone who is emulated, imitated and encouraged by teachers as a leader. as a leader in a school, the head has several functions including: the principal as an educator or educator, the principal as a manager who is essentially a planner, organizer, and supervisor, the principal as an administrator who is responsible for the smooth running, implementation and teaching of the school, the principal as a supervisor who can develop and assist teachers in improving their competence, the principal as a leader who sets an example, the principal as an innovator who must have a strategy to establish harmony in the school environment and be able to develop innovative learning models, and the final function of the principal is as a motivator which has strategies to provide motivation to teachers in carrying out their duties and functions. In this research, there are benefits felt at school, namely that teachers at MTsN 2 Simeulue can change their undisciplined habits to become people who are disciplined and respect their time on duty. ABSTRAKPenelitian ini berfungsi untuk menganalisa tentang peningkatan kediplinan guru melalui keteladanan kepala sekolah pada MTsN 2 Simeulue. Penelitian ini menggunakan métode kualitatif. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa peranan kepala sekolah melalui keteladannya adalah suatu hal yang paling penting dalam meingkatkan kedisiplinan guru, karena kepala sekolah merupakan orang yang dicontoh, ditiru dan diguguh oleh Guru sebagai pimpinan. sebagai pemimpin dalam suatu sekolah, kepala memiliki beberapa funsi diantaranya: Kepala sekolah sebagai edukator atau pendidik, kepala sekolah sebagai manager yang pada hakekatnya seorang perencana organisator, dan pendali, kepala sekolah sebagai administrator yang bertanggung jawab atas kelancaran, pelaksanaan dan pengajaran disekolah, kepala sekolah sebagai supervisor dimana dapat membina dan membantu guru dalam meningkatkankan kompetensinya, kepala sekolah sebagai leader yang memberi keteladan, kepala sekolah sebagai inovator yang harus memiliki sstrategis untuk menjalin keharmonisan dalam lingkungan sekolah dan mampu mengembangkan model pembelajaran yang inovasi, dan fungsi terakhir kepala sekolah adalah sebagai motivator yang memiliki strategi untuk memberikan motivasi pada guru dalam melakukan tugas dan fungsinya. Dalam penelitian ini terdapat manfaat dirasakan disekolah yaitu guru-guru yang ada pada MTsN 2 Simeulue dapat merubah kebiasaannya yang tidak disiplin menjadi orang yang disiplin dan menghargai waktu pada tugasnya.

Page 1 of 1 | Total Record : 5