cover
Contact Name
Irma Yuliani
Contact Email
ijougs@iainponorogo.ac.id
Phone
+6285854981814
Journal Mail Official
ijougs@iainponorogo.ac.id
Editorial Address
Jl. Pramuka, No. 156, Ronowijayan, Siman, Ponorogo
Location
Kab. ponorogo,
Jawa timur
INDONESIA
IJouGS: Indonesian Journal of Gender Studies
ISSN : 27457397     EISSN : 2745861X     DOI : https://doi.org/10.21154/ijougs
Core Subject : Humanities, Social,
IJouGS: Indonesian Journal of Gender Studies is a bilingual journal that published in June and December by The Institute for Research and Community Services of State Institute for Islamic Studies (IAIN) Ponorogo. The Journal is focus on the result from researches and studies of gender equities or inequities through in civil society, culture, education, lenguange, religions etc.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 6 No. 1 (2025)" : 5 Documents clear
Perempuan Dan Penguatan Ekonomi Keluarga: Studi Pada Istri Eks Narapidana Terorisme Binaan Yayasan Lingkar Perdamaian Lamongan Ririn Tri Puspita Ningrum
IJouGS: Indonesian Journal of Gender Studies Vol. 6 No. 1 (2025)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/ijougs.v6i1.11429

Abstract

Abstrak: Penelitian ini menitikberatkan pada kajian yang berkaitan dengan peran perempuan khususnya istri eks narapidana terorisme binaan Yayasan Lingkar Perdamaian Lamongan sehingga mereka dapat survive, bertahan hidup serta mampu menguatkan ekonomi keluarga meski dengan stereotip dan stigma negatif yang membatasi ruang geraknya di masyarakat. Relasi suami istri yang terbentuk menjadi faktor penting dalam penguatan keluarga karena tantangan yang dihadapi jauh berbeda seperti tekanan sosial dan ekonomi. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini mengambil data melalui teknik wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi kemudian dianalisis menggunakan teori gender dan ketahanan ekonomi. Hasil penelitian ini antara lain: Pertama, relasi keluarga yang terbangun mengalami pergeseran, artinya meskipun konstruksi patriarki melalui paradigma religius masih mengakar namun karena tuntutan agar kondisi ekonomi keluarga menjadi stabil, maka relasi tersebut lebih terbuka dengan keikutsertaan perempuan berkecimpung dalam ranah publik. Kedua, eksistensi jaringan terorisme ternyata tidak hanya karena faktor ideologi dan konsepsi mengenai negara-bangsa-agama, tetapi juga faktor ekonomi keluarga. Di bawah Yayasan Lingkar Perdamaian, para istri dan keluarga eks narapidana terorisme mendapatkan beberapa program penguatan seperti bidang pendidikan, psikologi keluarga, sosial dan ekonomi sehingga dapat mendukung program deradikalisasi dan rehabilitasi bagi mereka yang pernah terinfiltrasi jaringan terorisme. Kata Kunci: Penguatan Ekonomi, Radikalisme, Istri Eks Narapidana Terorisme, Yayasan Lingkar Perdamaian Lamongan
Nusyūz Suami Dan Keadilan Gender: Membaca Ulang QS 4:128 dan KHI 83-4 dengan Pendekatan Relativisme Budaya Rohman, Baeti
IJouGS: Indonesian Journal of Gender Studies Vol. 6 No. 1 (2025)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/ijougs.v6i1.11543

Abstract

Dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI), ketentuan nusyūz -pembangkangan dalam rumah tangga- hanya berlaku untuk istri dan diatur secara rinci oleh Pasal 80, 83, dan 84, dengan konsekuensi hukum berupa gugurnya hak nafkah istri. Sebaliknya, Al-Qur’an Surah (QS) An-Nisa (4): 128 secara jelas mengakui kemungkinan nusyuz yang dilakukan oleh suami, mencakup sikap kasar, tidak memenuhi kewajiban materi (nafkah) maupun non-materi (kasih sayang, hubungan intim), hingga ketidakadilan dalam poligami. Dengan demikian, di sini terjadi ketimpangan antara al-Quran dan KHI, sehingga dibutuhkan kajian ulang terhadap QS 4: 128 untuk mengaudiensi KHI pasal 80-84 sehingga tercipta peraturan yang didasarkan kepada ‘pandangan dunia al-Quran’ (Quranic worldview). Penelitian ini menggunakan pendekatan relativisme budaya untuk menganalisa data primer yang dikumpulkan melalui investigasi dari undang-undang serta konteks dan fitur linguistic QS 4: 128. Penelitian ini menemukan terjadinya kekosongan hukum positif mengenai nusyuz suami yang berpotensi menciptakan ketidakseimbangan dan ketidakadilan bagi istri yang menghadapi perilaku nusyuz dari suaminya. Kekosongan ini terjadi karena apabila pembangkangan dalam rumah tangga dilakukan oleh istri, maka disebut nusyuz, sementara apabila pembangkangan dilakukan oleh suami, maka disebut KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga). Ini menunjukkan kepada kerancuan pemahaman terhadap dua terminology ini, karena istri bisa saja melakukan KDRT, sementara suami bisa saja melakukan nusyūz. Penelitian ini memberi rekomendasi agar pengaturan hukum positif Indonesia perlu ditinjau ulang untuk mencerminkan prinsip keadilan Islam yang lebih inklusif dan seimbang, sebagaimana pandangan dunia al-Quran, guna memastikan perlindungan hukum yang setara bagi kedua belah pihak dalam perkawinan.
Women's Right and Alternative Solutions to Prevent Violence for Muslim Marriage Dispensation Couples in Ponorogo Fatmawati, Indah; Nur Armada, Ritus; Astono, Agustinus
IJouGS: Indonesian Journal of Gender Studies Vol. 6 No. 1 (2025)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/ijougs.v6i1.11600

Abstract

Of the many cases of dispensation from marriage, it is known that the bride-to-be is already pregnant, while the man as the groom-to-be is willing to marry for responsible reasons. Of course, this is considered morally right, but if viewed from a gender perspective, even if the marriage takes place, a series of accompanying problems will arise, including divorce, violence and gender injustice against women. From the data that the researchers found at the Religious Court class 1A in Ponorogo Regency, from 2021 to 2022 there were 345 cases of dispensation of marriage, of which more than 125 cases were filed because the prospective bride was pregnant. Furthermore, from the reports of the Women and Children Protection Unit (PPA) POLRES Ponorogo, it was also found that there were approximately 9 cases of violence against female partners who did dispensation of marriage. This is certainly interesting to study considering the cases that occurred showed that there was both physical and sexual violence that occurred in underage marriages. This study aims to examine women's rights by looking at the role of men and alternative solutions in preventing acts of violence against women in marriage dispensation couples with a gender perspective. Furthermore, the research was carried out by interviews and direct observation and also supported by existing secondary data. From this research, it can be concluded that the role of men must be taken into account by being responsible for marrying the woman they are pregnant with in preventing violence, while alternative solutions must continue to be actualized by maximizing the role of stakeholders in preventing violence against women.
Rekonstruksi Gender Dalam Islam : Studi Kritis Atas Tafsir Tradisional Perspektif Feminisme Sholikhah, Zumrotus
IJouGS: Indonesian Journal of Gender Studies Vol. 6 No. 1 (2025)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/ijougs.v6i1.11623

Abstract

Penafsiran tradisional terhadap ayat-ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan perempuan seringkali mencerminkan bias gender yang dihilangkan pada struktur sosial patriarki tempat para mufassir klasik hidup dan bekerja. Secara historis, penafsiran ini telah menempatkan perempuan dalam peran subordinat, baik di ranah domestik maupun publik, yang menyebabkan kewajaran dalam pemahaman Islam. Penelitian ini bertujuan untuk menafsirkan rekonstruksi penafsiran Al-Qur'an berdasarkan feminisme Islam sebagai pengembangan pemahaman Islam yang berkeadilan gender. Dengan menggunakan metode observasi pustaka, penelitian ini mengeksplorasi karya-karya feminis Muslim kontemporer seperti Amina Wadud, Asma Barlas, dan Fatima Mernissi, serta menganalisis ulang ayat-ayat Al-Qur'an yang secara tradisional dihasilkan melalui lensa patriarki. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pendekatan feminis Islam dapat mendekonstruksi penafsiran yang bias melalui kritik epistemologis dan hermeneutika kontekstual yang menekankan prinsip-prinsip keadilan, kesetaraan, dan pengalaman hidup perempuan. Implikasinya meliputi perubahan paradigma dalam hubungan gender dalam keluarga, penguatan peran perempuan dalam pendidikan dan keilmuan Islam, serta reformasi hukum Islam agar lebih responsif terhadap keadilan sosial. Rekonstruksi ini berfungsi sebagai langkah krusial melepaskan nilai-nilai Al-Qur'an menuju masyarakat Muslim modern yang berkeadilan gender.
Apakah Ayat Nāsikh Lebih Menjamin Keadilan Gender Ketimbang Ayat Mansūkh? Pendekatan Uṣūl Fiqh dan Maqāṣid al-Sharī‘ah terhadap QS al-Baqarah (2): 234 dan 240 Idzharul Haq, Kukuh Prasetyo
IJouGS: Indonesian Journal of Gender Studies Vol. 6 No. 1 (2025)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/ijougs.v6i1.11628

Abstract

Abstrak Penelitian ini mengkaji ulang hubungan antara QS. Al-Baqarah: 234 dan QS. Al-Baqarah: 240 dalam konteks teori nasakh-mansukh. Mayoritas ulama klasik menyatakan bahwa QS. 2:240 telah dimansukh oleh QS. 2:234, karena adanya perbedaan dalam penetapan masa ‘iddah bagi perempuan yang ditinggal wafat suaminya. Namun demikian, ayat 240 secara substantif justru menawarkan perlindungan lebih besar bagi perempuan melalui anjuran pemberian nafkah dan tempat tinggal selama satu tahun. Dari perspektif keadilan gender, ayat ini lebih berpihak kepada perempuan dibanding ayat 234 yang hanya menetapkan masa tunggu empat bulan sepuluh hari tanpa jaminan nafkah. Fakhruddin al-Rāzī dalam tafsir Mafātīḥ al-Ghayb menolak anggapan adanya nasakh antara dua ayat tersebut dan memilih pendekatan harmonisasi hukum. Oleh karena itu, penelitian ini menekankan pentingnya pendekatan usul fikih yang responsif terhadap maqāṣid al-sharī‘ah dan keadilan sosial, guna mengkaji ulang klaim nasakh dan mempertimbangkan maslahat kelompok rentan dalam konstruksi hukum Islam.

Page 1 of 1 | Total Record : 5