cover
Contact Name
Rizky Saputra
Contact Email
rizkysaputra@uinsu.ac.id
Phone
+6282257366060
Journal Mail Official
jurnalpsga.uinsu@gmail.com
Editorial Address
Center of Gender and Child Study Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan Jl. Williem Iskandar Pasar V Medan Estate
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Journal of Gender and Social Inclusion in Muslim Societies
ISSN : 26851520     EISSN : 27163733     DOI : -
Focus and Scope of JGSIMS: Study of Gender and Children in the Indonesian Context both from an Islamic perspective and gender study in general. Sub Themes Related to Gender and Children with the characteristics of crosscutting issues in various aspects such as Education, Law, Politics, Psychology, Religion, Literature, Sociology, Anthropology, Culture, and Religion.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1 (2021)" : 5 Documents clear
PEMAHAMAN BARU ASHGAR ALI ENGINEER TENTANG HAK-HAK PEREMPUAN DAN RELEVANSINYA TERHADAP PERKEMBANGAN ISLAM MODERN Khairul Mufti Rambe
Journal of Gender and Social Inclusion in Muslim Societies Vol 2, No 1 (2021)
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/jgsims.v2i1.9644

Abstract

Abstrak Salah satu permasalahan yang menjadi semangat perubahan nilai dari problematika dahulu untuk dirubah yang terkandung dalam al-Qur’an adalah peroblematika perbudakan. Al-Qur’an jelas sekali menyatakan bahwa Tuhan sangat memuliakan anak-cucu adam. Namun kondisi sosial pada saat itu tidak memungkinkan untuk menghilangkan perbudakan, sehingga al-Qur’an dengan penafsiran maknanya yang secara tekstual memperbolehkan perbudakan, kendati demikian, seiring dengan gejolak pembebasan yang ada, keberadaan perbudakan tersebut seakan-akan sirna sedikit demi sedikit. Demikian juga dengan kesetaraan peran laki-laki dan peremepuan. Tulisan ini membahas bagaimana pemikiran Ashgar Ali Engineer tentang hak-hak perempuan dan relevansinya terhadap perkemabangan Islam di era modern. Engineer hadir memberi pencerahan dalam agama Islam sebagai jalan pembebasan. Agama sebagai religius yang senantiasa menyatakan keterlibatan emosi yang tulus dengan visi moral dan spiritual untuk memperjuangkan hakikat kemanusiaan manusia. Semangat agama yang humanis, liberal dan progresif akan memberikan jalan menuju pada pembebasan manusia dari segala bentuk penindasan, kekerasan, ketidaksewenangan dan ketidakadilan yang menyebabkan kesengsaraan manusia. AbstractOne of the problems that became the spirit of changing values from the previous problem to being changed as stated in the Qur'an is the issue of slavery. The Qur'an clearly states that Allah has greatly honored the children and grandchildren of Adam. However, the social conditions at that time did not allow the abolition of slavery, so the Qur'an with a textual interpretation of its meaning allowed slavery, but along with the turmoil of liberation, the existence of slavery seemed to disappear little by little. . Likewise with the equal roles of men and women. This paper discusses how Ashgar Ali Engineer thinks about women's rights and their relevance to the development of Islam in the modern era. Engineers are here to provide enlightenment in Islam as a way of liberation. Religion as a religion that always expresses sincere emotional involvement with a moral and spiritual vision to fight for the nature of human humanity. Humanist, liberal and progressive religious spirit will give way to the liberation of human beings from all forms of oppression, violence, injustice and injustice that cause human misery.
PERAN TUHA PEUT GAMPONG PEREMPUAN DALAM QANUN KOTA LANGSA (STUDI KASUS DI GAMPONG BLANG KEC. LANGSA KOTA) Rabiul Tsani Agus; Anizar Anizar; Azwir Azwir
Journal of Gender and Social Inclusion in Muslim Societies Vol 2, No 1 (2021)
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/jgsims.v2i1.9695

Abstract

AbstrakLembaga Tuha Peut Gampong adalah badan permusyawaratan Gampong yang berfungsi mengayomi adat istiadat, membuat peraturan Gampong, menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat setempat serta melakukan pengawasan secara efektif terhadap penyelenggaraan Pemerintahan Gampong. Artinya Tuha Peut sebagai lembaga adat dalam masyarakat Aceh memiliki otoritas dalam menjaga eksistensi adat istiadat secara turun temurun, dan menyelesaikan sengketa dalam masyarakat melalui peradilan adat. Tuha Peut juga sebagai badan perwakilan Gampong merupakan wahana untuk mewujudkan demokratisasi, keterbukaan, dan partisipasi rakyat dalam sistem penyelenggaraan Pemerintahan Gampong. Unsur dalam lembaga Tuha Peut ini adalah perempuan, selain tokoh ulama, pemuka adat, dan cerdik cendikiawan. Tulisan ini membahas peran Tuha Peut Perempuan di Gampong Blang Kec. Langsa dalam Qanun Kota Langsa. Jenis penelitian ini yaitu penelitian kualitatif, dengan teknik pengumpulan data menggunakan wawancara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Tuha Peut Perempuan di Gampong Blang Kec. Langsa Kota berperan dalam pengembangan adat istiadat, terutama dalam melestarikan tradisi atau kebiasaan-kebiasan dalam masyarakat, seperti prosesi pernikahan dan upacara adat lainnya. Sedangkan Tuha Peut Perempuan dalam Qanun Kota Langsa Nomor 6 Tahun 2010 tentang Pemerintahan Gampong berperan sebagai pengembangan adat istiadat, penyelesaian perkara, pemgambilan keputusan, seperti yang di sebutkan dan dijelaskan dalam pasal 35 dan 36. AbstractThe Tuha Peut Gampong Institution is a Gampong deliberative body that functions to protect customs, make Gampong regulations, accommodate and channel the aspirations of the local community and carry out effective supervision of the implementation of the Gampong Government. This means that Tuha Peut as a traditional institution in Acehnese society has the authority to maintain the existence of customs from generation to generation, and resolve disputes in society through customary courts. Tuha Peut as well as the Gampong representative body is a vehicle for realizing democratization, openness, and people's participation in the Gampong Government administration system. Elements in the Tuha Peut institution are women, in addition to clerics, traditional leaders, and intellectuals. This paper discusses the role of Tuha Peut Perempuan in Gampong Blang, Kec. Langsa in the Qanun of Langsa City. This type of research is qualitative research, with data collection techniques using interviews. The results of this study indicate that Tuha Peut Perempuan in Gampong Blang, Kec. Langsa Kota plays a role in the development of customs, especially in preserving traditions or customs in society, such as wedding processions and other traditional ceremonies. Meanwhile, Tuha Peut Perempuan in Langsa City Qanun Number 6 of 2010 concerning Gampong Government plays a role in developing customs, resolving cases, making decisions, as mentioned and explained in chapters 35 and 36.
PERLINDUNGAN ANAK PERSPEKTIF HUKUM ISLAM (Sosiologi Hukum Islam Sebagai Pendekatan Pengkajian) Muazzul Muazzul; Andi Hakim Lubis
Journal of Gender and Social Inclusion in Muslim Societies Vol 2, No 1 (2021)
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/jgsims.v2i1.9639

Abstract

AbstrakKekerasan terhadap anak di Indonesia pun masih cukup tinggi. "Survei Kekerasan Terhadap Anak Indonesia 2013" dari Kementerian Sosial memperlihatkan bahwa kekerasan yang dialami anak laki-laki lebih besar dibandingkan anak perempuan. Jumlahnya mencapai hampir separuh populasi anak laki-laki, tepatnya 7.061.946 anak atau 47,74 persen. Pada anak perempuan, prevalensinya mencapai 17,98 persen (2.603.770 anak). Dilihat berdasarkan jenisnya, anak-anak Indonesia cenderung mengalami kekerasan emosional dibandingkan fisik. Sebanyak 70,98 persen anak laki-laki dan 88.24 persen anak perempuan pernah mengalami kekerasan fisik. Untuk kategori kekerasan emosional, sebanyak 86,65 persen anak laki-laki dan 96,22 persen anak perempuan menyatakan pernah mengalaminya. Anak-anak yang mengalami kekerasan tidak semuanya mendapatkan perlindungan secara hukum, hal ini dikarenakan keterbatasan lembaga hukum dan perlindungan anak, selain itu, pihak-pihak yang menjadi korban tidak ingin masalahnya diselesaikan secara hukum melainkan menganggap hal tersebut adalah hal biasa dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu mendeskripsikan serta menganalisis bagaimana hukum Islam memandang perlindungan anak sekaligus dilihat dari sudut pandang sosiologi hukum islam. Pendekatan ilmu sosial merupakan penerapan ajaran Islam yang dilakukan di dalam kehidupan manusia. Pendekatan ini digunakan untuk memahami pola keagamaan seseorang dalam lingkungan masyarakat. Gejala tersebut bersifat lahir diteliti dengan menggunakan ilmu sosial seperti halnya sosiologi, antropologi dan lain-lain. Dengan menggunakan pendekatan sosiologis ini bertujuan untuk mengupas perilaku keagamaan seseorang dalam kehidupan bermasyarakat. Melalui pendekatan tersebut, maka agama dapatdengan mudah dipahami oleh masyarakat, karena turunnya suatu agama disebabkan untuk kepentingan sosial. AbstractViolence against children in Indonesia is still quite high. "Survey of Violence Against Indonesian Children 2013" from the Ministry of Social Affairs shows that the violence experienced by boys is greater than that of girls. The number reaches almost half of the male population, to be exact 7,061,946 children or 47.74 percent. In girls, the prevalence reached 17.98 percent (2,603,770 children). Judging by the type, Indonesian children tend to experience emotional violence compared to physical. A total of 70.98 percent of boys and 88.24 percent of girls have experienced physical violence. For the category of emotional violence, as many as 86.65 percent of boys and 96.22 percent of girls stated that they had experienced it. Children who experience violence do not all get legal protection, this is due to the limitations of legal institutions and child protection, in addition, the parties who are victims do not want the problem to be solved legally but consider it a normal thing in everyday life. This study uses a qualitative approach, namely describing and analyzing how Islamic law views child protection as well as from the perspective of the sociology of Islamic law. The social science approach is the application of Islamic teachings in human life. This approach is used to understand a person's religious pattern in the community. These symptoms are outwardly researched using social sciences such as sociology, anthropology and others. By using this sociological approach, it aims to explore a person's religious behavior in social life. Through this approach, religion can be easily understood by the community, because the decline of a religion is due to social interests.
IDENTITAS ETNIK DALAM PERILAKU FATHERING Nurhayani Nurhayani
Journal of Gender and Social Inclusion in Muslim Societies Vol 2, No 1 (2021)
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/jgsims.v2i1.9638

Abstract

AbstrakSetiap individu akan belajar dari kondisi yang ada dalam lingkungan budayanya. Informasi karakteristik etnik dalam suatu budaya tertentu akan dipelajari dan tertanam dan saat dewasa, disadari atau tanpa disadari akan mempengaruhi individu melakukan identifikasi dalam rangka memperkuat identitas etnik yang melekat pada dirinya. Seorang laki-laki saat menjadi seorang ayah mentransmisi segala nilai-nilai budaya dalam dirinya dalam bentuk sikap dan perilaku pengasuhan pada anaknya sebagai peneguhan identitas etnik yang terlekat dalam dirinya. Inilah yang melatarbelakangi penelitian untuk mengetahui identitas etnik dalam perilaku pengasuhan oleh para ayah pada etnik Batak dan para ayah etnik Minang. Hasil penelitian menunjukkan bagaimana identitas etnik tergambar dalam perilaku pengasuhan yang dilakukan baik oleh para ayah suku Batak maupun para ayah suku Minang sesuai dengan identitas etnik yang melekat.AbstractEach individual will learn from the conditions that exist in his cultural environment. Information on ethnic characteristics in a particular culture will be studied and embedded to influence individuals to identify in order to strengthen the ethnic identity attached to them. A man when he becomes a father transmits all the cultural values in him in the form of attitudes and nurturing behavior to his children as a confirmation of the ethnic identity inherent in him. This is the background of research to determine ethnic identity in parenting behavior of Batak ethnic fathers and Minang ethnic fathers. The results of the study show how ethnic identity is reflected in the parenting behavior carried out by both Batak tribal fathers and Minang tribal fathers according to the inherent ethnic identity.
PENANGGULANGAN KEJAHATAN SEKSUAL PADA ANAK YANG BERHADAPAN DENGAN HUKUM DI ERA GLOBALISASI Azmiati Zuliah
Journal of Gender and Social Inclusion in Muslim Societies Vol 2, No 1 (2021)
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/jgsims.v2i1.9642

Abstract

Abstrak Globalisasi merupakan fenomena global yang merambah ke seluruh dunia dan mempengaruhi sendi kehidupan seluruh lapisan masyarakat termasuk pada anak-anak di Indonesia dengan membawa berbagai konsekwensi sebagai akibat globalisasi baik segi positif maupun negatif. Seiring dengan perkembangan jaman, dalam bidang teknologi, informasi dan komunikasi mengalami perkembangan yang sangat pesat, perkembangan informasi tanpa batas telah membuka wawasan pengetahuan baru dan bentuk-bentuk peradaban baru dalam masyarakat, kehausan masyarakat akan perkembangan informasi yang terus bergerak dinamis memaksa masyarakat untuk terus berburu informasi-informasi terbaru. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana penegakan hukum terhadap kejahatan seksual padaoleh anak di era globalisasi dan bagaimana upaya penanggulangan kejahatan yang dilakukan pada Anak yang Berhadapan dengan Hukum. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian yuridis normatif dan yuridis empiris bersifat kualitatif. Hasil penelitian ada banyak aspek positif yang dapat dimanfaatkan oleh anak-anak untuk menunjang tumbuh kembang dan belajar mereka dengan kecanggihan teknologi saat ini, akan tetapi banyak juga aspek negatif yang harus diwaspadai. Tindakan kriminal terhadap anak akibat mengakses media sosial mencapai ratusan bahkan ribuan anak , diantaranya  kasus-kasus kejahatan seksual seperti sodomi, pornografi, perkosaan, pencabulan yang pelaku justu dilakukan oleh  anak. Pada era modern ini orangtua dengan mudahnya memberikan anak akses telepon genggam atau smartphone , akibatnya anak anak sudah bisa dengan leluasa mengakses segala info, mulai berita, hiburan, permainan, bahkan, situs orang dewasa. Harapan kepada orangtua harus dapat memberi pengawasan yang baik terhadap anak juga kepada pemerintah dapat mensosialisasikan dan memberikan pelatihan literasi digital yang baik terhadap anak dan orangtua.

Page 1 of 1 | Total Record : 5