cover
Contact Name
Ira Vahlia
Contact Email
emteka@ummetro.ac.id
Phone
+6285768428721
Journal Mail Official
emteka@ummetro.ac.id
Editorial Address
Jalan Ki Hajar Dewantara Iringmulyo Metro Timur Lampung
Location
Kota metro,
Lampung
INDONESIA
EMTEKA: Jurnal Pendidikan Matematika
ISSN : 27465608     EISSN : 27465594     DOI : https://doi.org/10.24127
Core Subject :
Jurnal Pendidikan Matematika adalah jurnal penelitian di bidang pendidikan matematika memiliki fokus dan ruang lingkup R&D, Kuantitatif, Kualitatif, Korelasi dan Regresi, ICT based learning or IR 4.0, Scientific learning, Realistic Mathematics Education, Contextual Learning, Islamic studies on Mathematics, High order thinking skills (HOTS), Creative thinking, Critical thinking, dsb
Arjuna Subject : -
Articles 174 Documents
DESIGN AND DEVELOPMENT OF ROBLOX-BASED CRAFTEDU BLOX FOR CONSTRUCTING AND DECOMPOSING CUBE STRUCTURES Ahmad Rijal Hakim Fathulloh; Nuriana Rachmani Dewi
EMTEKA: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 7 No. 2 (2026): Article In Press
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/emteka.v7i2.11545

Abstract

Mathematics learning on cube geometry in elementary schools still faces challenges, particularly in students’ conceptual understanding and spatial visualization abilities. These challenges are influenced by the limited use of learning media that primarily rely on two-dimensional representations, restricting opportunities for conceptual exploration. This study aimed to (1) design Roblox-based CraftEdu Blox digital learning media for teaching the construction and decomposition of cube structures and (2) determine the validity and feasibility of the developed media through expert evaluation. The study employed a Research and Development (R&D) approach using the ADDIE model limited to the analysis, design, and development stages. The participants were 54 sixth-grade students at SD Negeri Palebon 03. Data were collected through observations, interviews, initial ability tests, and expert validation instruments. The results indicated that CraftEdu Blox was successfully developed as a three-dimensional virtual learning environment that supports conceptual exploration through direct interaction with geometric objects, structured navigation, and interactive learning and assessment features. Expert validation results showed feasibility percentages of 94.00% for language, 95.38% for material, and 93.85% for media aspects, all categorized as highly feasible. These findings indicate that Roblox-based CraftEdu Blox is highly suitable for elementary mathematics learning and has the potential to support students’ conceptual understanding and spatial visualization in constructing and decomposing cube structures. Pembelajaran matematika pada materi geometri kubus di sekolah dasar masih menghadapi berbagai tantangan, terutama pada pemahaman konsep dan kemampuan visualisasi spasial siswa. Tantangan tersebut dipengaruhi oleh keterbatasan penggunaan media pembelajaran yang masih didominasi representasi dua dimensi sehingga membatasi kesempatan siswa untuk melakukan eksplorasi konsep secara mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk (1) merancang media pembelajaran digital CraftEdu Blox berbasis Roblox pada materi mengonstruksi dan mengurai bangun kubus serta (2) mengetahui validitas dan kelayakan media yang dikembangkan melalui penilaian para ahli. Penelitian ini menggunakan pendekatan Research and Development (R&D) dengan model ADDIE yang dibatasi pada tahap analisis, desain, dan pengembangan. Subjek penelitian terdiri atas 54 siswa kelas VI SD Negeri Palebon 03. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, tes kemampuan awal, dan instrumen validasi ahli. Hasil penelitian menunjukkan bahwa CraftEdu Blox berhasil dikembangkan sebagai lingkungan belajar virtual tiga dimensi yang mendukung eksplorasi konsep melalui interaksi langsung dengan objek geometri, navigasi yang terstruktur, serta fitur pembelajaran dan evaluasi yang interaktif. Hasil validasi ahli menunjukkan persentase kelayakan sebesar 94,00% pada aspek bahasa, 95,38% pada aspek materi, dan 93,85% pada aspek media, yang seluruhnya berada dalam kategori sangat layak. Temuan ini menunjukkan bahwa CraftEdu Blox berbasis Roblox sangat layak digunakan dalam pembelajaran matematika sekolah dasar dan berpotensi mendukung pemahaman konsep serta kemampuan visualisasi spasial siswa pada materi mengonstruksi dan mengurai bangun kubus.
STUDENTS’ ERRORS IN SOLVING CALCULUS PROBLEMS ON INCREASING, DECREASING, AND CONCAVITY OF FUNCTIONS Rizki Harahap; Rama Nida Siregar
EMTEKA: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 7 No. 2 (2026): Article In Press
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/emteka.v7i2.11675

Abstract

Calculus is a fundamental course in mathematics education; however, many students experience difficulties that lead to errors in problem solving. This study aimed to identify and analyze students’ errors in solving calculus problems involving increasing functions, decreasing functions, and function concavity. A qualitative descriptive case study approach was employed involving 22 fifth-semester mathematics education students at UIN Sheikh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan during the 2024/2025 academic year. Data were collected through four essay-test items and semi-structured interviews with six purposively selected students representing different error categories. The data were analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña, including data condensation, data display, and conclusion drawing. The findings revealed three categories of errors: conceptual, operational, and factual errors. Operational errors were the most dominant, particularly in derivative calculations, algebraic manipulations, and interval determination. Conceptual errors occurred when students misinterpreted the meaning of first and second derivatives in determining function behavior, whereas factual errors were related to the incorrect use of mathematical symbols and notation. The errors were mainly influenced by insufficient conceptual understanding, lack of carefulness, and ineffective problem-solving practices. These findings provide important implications for calculus instruction by highlighting the need to strengthen conceptual understanding alongside procedural fluency. The study contributes to the literature on calculus error analysis by providing an in-depth examination of students’ difficulties in applying derivative concepts to analyze increasing functions, decreasing functions, and function concavity. Kalkulus merupakan salah satu mata kuliah dasar dalam pendidikan matematika. Namun, banyak mahasiswa mengalami kesulitan yang menyebabkan terjadinya kesalahan dalam menyelesaikan masalah matematika. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis kesalahan mahasiswa dalam menyelesaikan soal kalkulus yang berkaitan dengan fungsi naik, fungsi turun, dan kecekungan fungsi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus deskriptif yang melibatkan 22 mahasiswa semester V Program Studi Pendidikan Matematika di UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan pada tahun akademik 2024/2025. Data dikumpulkan melalui empat butir soal uraian dan wawancara semi-terstruktur terhadap enam mahasiswa yang dipilih secara purposive untuk mewakili kategori kesalahan yang berbeda. Data dianalisis menggunakan model analisis interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña yang meliputi kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan adanya tiga kategori kesalahan, yaitu kesalahan konseptual, kesalahan operasional, dan kesalahan faktual. Kesalahan operasional merupakan jenis kesalahan yang paling dominan, terutama dalam perhitungan turunan, manipulasi aljabar, dan penentuan interval. Kesalahan konseptual terjadi ketika mahasiswa salah menafsirkan makna turunan pertama dan turunan kedua dalam menentukan perilaku fungsi, sedangkan kesalahan faktual berkaitan dengan penggunaan simbol dan notasi matematika yang tidak tepat. Kesalahan-kesalahan tersebut terutama dipengaruhi oleh kurangnya pemahaman konseptual, rendahnya ketelitian, serta praktik pemecahan masalah yang kurang efektif. Temuan penelitian ini memberikan implikasi penting bagi pembelajaran kalkulus dengan menekankan perlunya penguatan pemahaman konseptual yang seimbang dengan kelancaran prosedural. Penelitian ini berkontribusi pada kajian analisis kesalahan dalam kalkulus melalui penyajian analisis mendalam mengenai kesulitan mahasiswa dalam menerapkan konsep turunan untuk menganalisis fungsi naik, fungsi turun, dan kecekungan fungsi.
STUDENTS’ MATHEMATICAL COMMUNICATION SKILLS IN SOLVING DATA PRESENTATION PROBLEMS Arjuna Yahdil Fauza Rambe; Rama Nida Siregar; Mariam Nasution; Suparni
EMTEKA: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 7 No. 2 (2026): Article In Press
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/emteka.v7i2.11696

Abstract

Mathematical communication skills are an essential competency in mathematics learning because they help students organize information, represent data, and communicate ideas and problem-solving processes accurately. However, in data presentation topics, students still encounter difficulties in explaining solution procedures, creating visual representations, and using mathematical expressions correctly. This study aimed to analyze students' mathematical communication skills in solving data presentation problems based on the indicators of written text, drawing, and mathematical expression. This research employed a qualitative descriptive approach. The subjects were seventh-grade students of MTs Mamba’ul ‘Ulum, selected based on high, moderate, and low levels of mathematical communication skills. Data were collected through essay tests and semi-structured interviews and were analyzed using the Miles and Huberman model, which includes data reduction, data display, and conclusion drawing. The results showed that students in the high category were able to identify information, present data in tables and diagrams, and use mathematical expressions systematically and accurately. Students in the moderate category were able to communicate mathematical ideas fairly well, although they still made errors in representations and calculations. Meanwhile, students in the low category experienced difficulties in explaining procedures, presenting data visually, and constructing appropriate mathematical models. These findings indicate differences in mathematical communication skills across student categories, which influence the quality of mathematical problem-solving. Kemampuan komunikasi matematis merupakan kompetensi penting dalam pembelajaran matematika karena membantu siswa mengorganisasi informasi, merepresentasikan data, serta mengomunikasikan ide dan proses penyelesaian masalah secara tepat. Namun, pada materi penyajian data masih ditemukan siswa yang mengalami kesulitan dalam menjelaskan langkah penyelesaian, membuat representasi visual, dan menggunakan ekspresi matematis secara benar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan komunikasi matematis siswa dalam menyelesaikan soal penyajian data berdasarkan indikator written text, drawing, dan mathematical expression. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Subjek penelitian adalah siswa kelas VII MTs Mamba’ul ‘Ulum yang dipilih berdasarkan kategori kemampuan komunikasi matematis tinggi, sedang, dan rendah. Data dikumpulkan melalui tes uraian dan wawancara semi-terstruktur, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa kategori tinggi mampu mengidentifikasi informasi, menyajikan data dalam bentuk tabel dan diagram, serta menggunakan ekspresi matematis secara sistematis dan tepat. Siswa kategori sedang mampu mengomunikasikan ide matematika dengan cukup baik, meskipun masih melakukan kesalahan pada representasi dan perhitungan. Sementara itu, siswa kategori rendah mengalami kesulitan dalam menjelaskan prosedur, menyajikan data secara visual, dan menyusun model matematika. Temuan ini menunjukkan adanya perbedaan kemampuan komunikasi matematis yang memengaruhi kualitas pemecahan masalah matematika.
OPTIMIZATION OF MATHEMATICAL PROBLEM-SOLVING ABILITY THROUGH THE INTEGRATION OF DEEP LEARNING APPROACHES ORIENTED TOWARDS SELF-REGULATED LEARNING Hana Lastiar Olivia Sagala; Ramlah; Aditya Prihandhika
EMTEKA: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 7 No. 2 (2026): Article In Press
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/emteka.v7i2.11734

Abstract

Mathematical problem-solving ability is an essential competency in mathematics learning; however, research conducted during 2022–2025 consistently indicates that junior high school students’ problem-solving ability remains in the low category. Students tend to apply formulas without understanding the problem context and rarely verify their solutions. This study aims to examine: (1) whether there is a significant difference in mathematical problem-solving ability between students taught using the Deep Learning approach and those taught using a conventional approach; and (2) whether the improvement in mathematical problem-solving ability of students using the Deep Learning approach is better than that of students using the conventional approach. This study employed a quantitative method with a quasi-experimental design (Nonequivalent Pretest-Posttest Control Group Design), involving 61 eighth-grade students at SMP Negeri 1 Jatiwangi: 31 students in the experimental class (VIII-E) and 30 students in the control class (VIII-H). Data were collected through essay tests based on Polya’s problem-solving indicators and analyzed using independent samples t-test and Welch’s T’ test via IBM SPSS Statistics 26.0. The results show that: (1) there is a significant difference in posttest scores between the two classes (sig./2 = 0.0115 < 0.05), with the experimental class mean (56.42) higher than the control class (51.33); and (2) the improvement of the experimental class (N-Gain = 0.3013; moderate category) is significantly better than the control class (N-Gain = 0.1920; low category), based on Welch’s T’ test (sig./2 = 0.0015 < 0.05). These findings confirm that the Deep Learning effectively enhances students’ mathematical problem-solving ability. Kemampuan pemecahan masalah matematika merupakan kompetensi penting dalam pembelajaran matematika; namun, penelitian yang dilakukan selama tahun 2022–2025 secara konsisten menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan masalah siswa SMP masih berada pada kategori rendah. Siswa cenderung menerapkan rumus tanpa memahami konteks masalah dan jarang memverifikasi solusi mereka. Penelitian ini bertujuan untuk menguji: (1) apakah terdapat perbedaan signifikan dalam kemampuan pemecahan masalah matematika antara siswa yang diajar menggunakan pendekatan Deep Learning dan siswa yang diajar menggunakan pendekatan konvensional; dan (2) apakah peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang menggunakan pendekatan Deep Learning lebih baik daripada siswa yang menggunakan pendekatan konvensional. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain kuasi-eksperimental (Desain Kelompok Kontrol Non-ekuivalen Pretest-Posttest), yang melibatkan 61 siswa kelas delapan di SMP Negeri 1 Jatiwangi: 31 siswa di kelas eksperimen (VIII-E) dan 30 siswa di kelas kontrol (VIII-H). Data dikumpulkan melalui tes esai berdasarkan indikator pemecahan masalah Polya dan dianalisis menggunakan uji t sampel independen dan uji T Welch melalui IBM SPSS Statistics 26.0. Hasil menunjukkan bahwa: (1) terdapat perbedaan signifikan pada skor posttest antara kedua kelas (sig./2 = 0,0115 < 0,05), dengan rata-rata kelas eksperimen (56,42) lebih tinggi daripada kelas kontrol (51,33); dan (2) peningkatan kelas eksperimen (N-Gain = 0,3013; kategori sedang) secara signifikan lebih baik daripada kelas kontrol (N-Gain = 0,1920; kategori rendah), berdasarkan uji T Welch (sig./2 = 0,0015 < 0,05). Temuan ini menegaskan bahwa Deep Learning secara efektif meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa.