cover
Contact Name
Ira Vahlia
Contact Email
emteka@ummetro.ac.id
Phone
+6285768428721
Journal Mail Official
emteka@ummetro.ac.id
Editorial Address
Jalan Ki Hajar Dewantara Iringmulyo Metro Timur Lampung
Location
Kota metro,
Lampung
INDONESIA
EMTEKA: Jurnal Pendidikan Matematika
ISSN : 27465608     EISSN : 27465594     DOI : https://doi.org/10.24127
Core Subject :
Jurnal Pendidikan Matematika adalah jurnal penelitian di bidang pendidikan matematika memiliki fokus dan ruang lingkup R&D, Kuantitatif, Kualitatif, Korelasi dan Regresi, ICT based learning or IR 4.0, Scientific learning, Realistic Mathematics Education, Contextual Learning, Islamic studies on Mathematics, High order thinking skills (HOTS), Creative thinking, Critical thinking, dsb
Arjuna Subject : -
Articles 190 Documents
DESIGN AND DEVELOPMENT OF ROBLOX-BASED CRAFTEDU BLOX FOR CONSTRUCTING AND DECOMPOSING CUBE STRUCTURES Ahmad Rijal Hakim Fathulloh; Nuriana Rachmani Dewi
EMTEKA: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 7 No. 2 (2026): Article In Press
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/emteka.v7i2.11545

Abstract

Mathematics learning on cube geometry in elementary schools still faces challenges, particularly in students’ conceptual understanding and spatial visualization abilities. These challenges are influenced by the limited use of learning media that primarily rely on two-dimensional representations, restricting opportunities for conceptual exploration. This study aimed to (1) design Roblox-based CraftEdu Blox digital learning media for teaching the construction and decomposition of cube structures and (2) determine the validity and feasibility of the developed media through expert evaluation. The study employed a Research and Development (R&D) approach using the ADDIE model limited to the analysis, design, and development stages. The participants were 54 sixth-grade students at SD Negeri Palebon 03. Data were collected through observations, interviews, initial ability tests, and expert validation instruments. The results indicated that CraftEdu Blox was successfully developed as a three-dimensional virtual learning environment that supports conceptual exploration through direct interaction with geometric objects, structured navigation, and interactive learning and assessment features. Expert validation results showed feasibility percentages of 94.00% for language, 95.38% for material, and 93.85% for media aspects, all categorized as highly feasible. These findings indicate that Roblox-based CraftEdu Blox is highly suitable for elementary mathematics learning and has the potential to support students’ conceptual understanding and spatial visualization in constructing and decomposing cube structures. Pembelajaran matematika pada materi geometri kubus di sekolah dasar masih menghadapi berbagai tantangan, terutama pada pemahaman konsep dan kemampuan visualisasi spasial siswa. Tantangan tersebut dipengaruhi oleh keterbatasan penggunaan media pembelajaran yang masih didominasi representasi dua dimensi sehingga membatasi kesempatan siswa untuk melakukan eksplorasi konsep secara mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk (1) merancang media pembelajaran digital CraftEdu Blox berbasis Roblox pada materi mengonstruksi dan mengurai bangun kubus serta (2) mengetahui validitas dan kelayakan media yang dikembangkan melalui penilaian para ahli. Penelitian ini menggunakan pendekatan Research and Development (R&D) dengan model ADDIE yang dibatasi pada tahap analisis, desain, dan pengembangan. Subjek penelitian terdiri atas 54 siswa kelas VI SD Negeri Palebon 03. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, tes kemampuan awal, dan instrumen validasi ahli. Hasil penelitian menunjukkan bahwa CraftEdu Blox berhasil dikembangkan sebagai lingkungan belajar virtual tiga dimensi yang mendukung eksplorasi konsep melalui interaksi langsung dengan objek geometri, navigasi yang terstruktur, serta fitur pembelajaran dan evaluasi yang interaktif. Hasil validasi ahli menunjukkan persentase kelayakan sebesar 94,00% pada aspek bahasa, 95,38% pada aspek materi, dan 93,85% pada aspek media, yang seluruhnya berada dalam kategori sangat layak. Temuan ini menunjukkan bahwa CraftEdu Blox berbasis Roblox sangat layak digunakan dalam pembelajaran matematika sekolah dasar dan berpotensi mendukung pemahaman konsep serta kemampuan visualisasi spasial siswa pada materi mengonstruksi dan mengurai bangun kubus.
STUDENTS’ ERRORS IN SOLVING CALCULUS PROBLEMS ON INCREASING, DECREASING, AND CONCAVITY OF FUNCTIONS Rizki Harahap; Rama Nida Siregar
EMTEKA: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 7 No. 2 (2026): Article In Press
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/emteka.v7i2.11675

Abstract

Calculus is a fundamental course in mathematics education; however, many students experience difficulties that lead to errors in problem solving. This study aimed to identify and analyze students’ errors in solving calculus problems involving increasing functions, decreasing functions, and function concavity. A qualitative descriptive case study approach was employed involving 22 fifth-semester mathematics education students at UIN Sheikh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan during the 2024/2025 academic year. Data were collected through four essay-test items and semi-structured interviews with six purposively selected students representing different error categories. The data were analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña, including data condensation, data display, and conclusion drawing. The findings revealed three categories of errors: conceptual, operational, and factual errors. Operational errors were the most dominant, particularly in derivative calculations, algebraic manipulations, and interval determination. Conceptual errors occurred when students misinterpreted the meaning of first and second derivatives in determining function behavior, whereas factual errors were related to the incorrect use of mathematical symbols and notation. The errors were mainly influenced by insufficient conceptual understanding, lack of carefulness, and ineffective problem-solving practices. These findings provide important implications for calculus instruction by highlighting the need to strengthen conceptual understanding alongside procedural fluency. The study contributes to the literature on calculus error analysis by providing an in-depth examination of students’ difficulties in applying derivative concepts to analyze increasing functions, decreasing functions, and function concavity. Kalkulus merupakan salah satu mata kuliah dasar dalam pendidikan matematika. Namun, banyak mahasiswa mengalami kesulitan yang menyebabkan terjadinya kesalahan dalam menyelesaikan masalah matematika. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis kesalahan mahasiswa dalam menyelesaikan soal kalkulus yang berkaitan dengan fungsi naik, fungsi turun, dan kecekungan fungsi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus deskriptif yang melibatkan 22 mahasiswa semester V Program Studi Pendidikan Matematika di UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan pada tahun akademik 2024/2025. Data dikumpulkan melalui empat butir soal uraian dan wawancara semi-terstruktur terhadap enam mahasiswa yang dipilih secara purposive untuk mewakili kategori kesalahan yang berbeda. Data dianalisis menggunakan model analisis interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña yang meliputi kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan adanya tiga kategori kesalahan, yaitu kesalahan konseptual, kesalahan operasional, dan kesalahan faktual. Kesalahan operasional merupakan jenis kesalahan yang paling dominan, terutama dalam perhitungan turunan, manipulasi aljabar, dan penentuan interval. Kesalahan konseptual terjadi ketika mahasiswa salah menafsirkan makna turunan pertama dan turunan kedua dalam menentukan perilaku fungsi, sedangkan kesalahan faktual berkaitan dengan penggunaan simbol dan notasi matematika yang tidak tepat. Kesalahan-kesalahan tersebut terutama dipengaruhi oleh kurangnya pemahaman konseptual, rendahnya ketelitian, serta praktik pemecahan masalah yang kurang efektif. Temuan penelitian ini memberikan implikasi penting bagi pembelajaran kalkulus dengan menekankan perlunya penguatan pemahaman konseptual yang seimbang dengan kelancaran prosedural. Penelitian ini berkontribusi pada kajian analisis kesalahan dalam kalkulus melalui penyajian analisis mendalam mengenai kesulitan mahasiswa dalam menerapkan konsep turunan untuk menganalisis fungsi naik, fungsi turun, dan kecekungan fungsi.
STUDENTS’ MATHEMATICAL COMMUNICATION SKILLS IN SOLVING DATA PRESENTATION PROBLEMS Arjuna Yahdil Fauza Rambe; Rama Nida Siregar; Mariam Nasution; Suparni
EMTEKA: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 7 No. 2 (2026): Article In Press
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/emteka.v7i2.11696

Abstract

Mathematical communication skills are an essential competency in mathematics learning because they help students organize information, represent data, and communicate ideas and problem-solving processes accurately. However, in data presentation topics, students still encounter difficulties in explaining solution procedures, creating visual representations, and using mathematical expressions correctly. This study aimed to analyze students' mathematical communication skills in solving data presentation problems based on the indicators of written text, drawing, and mathematical expression. This research employed a qualitative descriptive approach. The subjects were seventh-grade students of MTs Mamba’ul ‘Ulum, selected based on high, moderate, and low levels of mathematical communication skills. Data were collected through essay tests and semi-structured interviews and were analyzed using the Miles and Huberman model, which includes data reduction, data display, and conclusion drawing. The results showed that students in the high category were able to identify information, present data in tables and diagrams, and use mathematical expressions systematically and accurately. Students in the moderate category were able to communicate mathematical ideas fairly well, although they still made errors in representations and calculations. Meanwhile, students in the low category experienced difficulties in explaining procedures, presenting data visually, and constructing appropriate mathematical models. These findings indicate differences in mathematical communication skills across student categories, which influence the quality of mathematical problem-solving. Kemampuan komunikasi matematis merupakan kompetensi penting dalam pembelajaran matematika karena membantu siswa mengorganisasi informasi, merepresentasikan data, serta mengomunikasikan ide dan proses penyelesaian masalah secara tepat. Namun, pada materi penyajian data masih ditemukan siswa yang mengalami kesulitan dalam menjelaskan langkah penyelesaian, membuat representasi visual, dan menggunakan ekspresi matematis secara benar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan komunikasi matematis siswa dalam menyelesaikan soal penyajian data berdasarkan indikator written text, drawing, dan mathematical expression. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Subjek penelitian adalah siswa kelas VII MTs Mamba’ul ‘Ulum yang dipilih berdasarkan kategori kemampuan komunikasi matematis tinggi, sedang, dan rendah. Data dikumpulkan melalui tes uraian dan wawancara semi-terstruktur, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa kategori tinggi mampu mengidentifikasi informasi, menyajikan data dalam bentuk tabel dan diagram, serta menggunakan ekspresi matematis secara sistematis dan tepat. Siswa kategori sedang mampu mengomunikasikan ide matematika dengan cukup baik, meskipun masih melakukan kesalahan pada representasi dan perhitungan. Sementara itu, siswa kategori rendah mengalami kesulitan dalam menjelaskan prosedur, menyajikan data secara visual, dan menyusun model matematika. Temuan ini menunjukkan adanya perbedaan kemampuan komunikasi matematis yang memengaruhi kualitas pemecahan masalah matematika.
OPTIMIZING MATHEMATICAL PROBLEM SOLVING ABILITY THROUGH DEEP LEARNING INTEGRATION ORIENTED TOWARDS SELF-REGULATED LEARNING Hana Lastiar Olivia Sagala; Ramlah; Aditya Prihandhika
EMTEKA: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 7 No. 2 (2026): Article In Press
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/emteka.v7i2.11734

Abstract

Mathematical problem-solving ability is an essential competency in mathematics learning; however, research conducted during 2022–2025 consistently indicates that junior high school students’ problem-solving ability remains in the low category. Students tend to apply formulas without understanding the problem context and rarely verify their solutions. This study aims to examine: (1) whether there is a significant difference in mathematical problem-solving ability between students taught using the Deep Learning approach and those taught using a conventional approach; and (2) whether the improvement in mathematical problem-solving ability of students using the Deep Learning approach is better than that of students using the conventional approach. This study employed a quantitative method with a quasi-experimental design (Nonequivalent Pretest-Posttest Control Group Design), involving 61 eighth-grade students at SMP Negeri 1 Jatiwangi: 31 students in the experimental class (VIII-E) and 30 students in the control class (VIII-H). Data were collected through essay tests based on Polya’s problem-solving indicators and analyzed using independent samples t-test and Welch’s T’ test via IBM SPSS Statistics 26.0. The results show that: (1) there is a significant difference in posttest scores between the two classes (sig./2 = 0.0115 < 0.05), with the experimental class mean (56.42) higher than the control class (51.33); and (2) the improvement of the experimental class (N-Gain = 0.3013; moderate category) is significantly better than the control class (N-Gain = 0.1920; low category), based on Welch’s T’ test (sig./2 = 0.0015 < 0.05). These findings confirm that the Deep Learning effectively enhances students’ mathematical problem-solving ability. Kemampuan pemecahan masalah matematika merupakan kompetensi penting dalam pembelajaran matematika; namun, penelitian yang dilakukan selama tahun 2022–2025 secara konsisten menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan masalah siswa SMP masih berada pada kategori rendah. Siswa cenderung menerapkan rumus tanpa memahami konteks masalah dan jarang memverifikasi solusi mereka. Penelitian ini bertujuan untuk menguji: (1) apakah terdapat perbedaan signifikan dalam kemampuan pemecahan masalah matematika antara siswa yang diajar menggunakan pendekatan Deep Learning dan siswa yang diajar menggunakan pendekatan konvensional; dan (2) apakah peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang menggunakan pendekatan Deep Learning lebih baik daripada siswa yang menggunakan pendekatan konvensional. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain kuasi-eksperimental (Desain Kelompok Kontrol Non-ekuivalen Pretest-Posttest), yang melibatkan 61 siswa kelas delapan di SMP Negeri 1 Jatiwangi: 31 siswa di kelas eksperimen (VIII-E) dan 30 siswa di kelas kontrol (VIII-H). Data dikumpulkan melalui tes esai berdasarkan indikator pemecahan masalah Polya dan dianalisis menggunakan uji t sampel independen dan uji T Welch melalui IBM SPSS Statistics 26.0. Hasil menunjukkan bahwa: (1) terdapat perbedaan signifikan pada skor posttest antara kedua kelas (sig./2 = 0,0115 < 0,05), dengan rata-rata kelas eksperimen (56,42) lebih tinggi daripada kelas kontrol (51,33); dan (2) peningkatan kelas eksperimen (N-Gain = 0,3013; kategori sedang) secara signifikan lebih baik daripada kelas kontrol (N-Gain = 0,1920; kategori rendah), berdasarkan uji T Welch (sig./2 = 0,0015 < 0,05). Temuan ini menegaskan bahwa Deep Learning secara efektif meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa.
bahasa inggris Indri Margaretha; Duano Sapta Nusantara; Rohati Rohati
EMTEKA: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 7 No. 2 (2026): Article In Press
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/emteka.v7i2.11303

Abstract

Despite the growing integration of Artificial Intelligence (AI) in education, there remains a critical gap in research that specifically synthesizes how AI tutors interact with diverse learning styles to influence students' numeracy literacy. Previous studies tend to address AI in education or learning styles in isolation, without examining their intersecting effects on numeracy outcomes. This study aims to map the profile of students' numeracy literacy across learning styles when using an AI tutor, analyze student interaction patterns with AI tutor features, and identify factors influencing numeracy literacy outcomes. A Systematic Literature Review (SLR) was conducted following PRISMA guidelines, analyzing 14 peer-reviewed articles published between 2018 and 2025 from Scopus and ScienceDirect databases. Bibliometric analysis using VOSViewer identified four conceptual clusters with "numeracy literacy," "learning style," "artificial intelligence," and "ChatGPT" as central nodes. Findings reveal that AI tutors demonstrate significant potential to improve numeracy literacy with gains of 28.7%–32% across studies by adapting to Visual, Auditory, Read/Write, and Kinesthetic (VARK) learning preferences, with visual learners showing the highest gains. This review provides a novel synthesis by integrating AI tutor effectiveness with learning style perspectives in numeracy literacy, offering theoretical and Meskipun integrasi kecerdasan buatan (AI) dalam pendidikan semakin meluas, masih terdapat kesenjangan penelitian mensintesis bagaimana AI tutor berinteraksi dengan berbagai gaya belajar untuk memengaruhi literasi numerasi siswa. Studi-studi sebelumnya cenderung mengkaji AI dalam pendidikan atau gaya belajar secara terpisah, tanpa meneliti efek persilangannya terhadap hasil numerasi. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan profil literasi numerasi siswa ditinjau dari gaya belajar dalam penggunaan AI tutor, menganalisis pola interaksi siswa dengan fitur AI tutor, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi hasil literasi numerasi. Systematic Literature Review (SLR) dilakukan mengacu pada panduan PRISMA , dengan menganalisis 14 artikel jurnal ilmiah yang diterbitkan antara tahun 2018- 2025 dari database Scopus dan ScienceDirect. Analisis bibliometrik menggunakan VOSViewer mengidentifikasi empat klaster konseptual dengan "literasi numerasi," "gaya belajar," "kecerdasan buatan," dan "ChatGPT" sebagai simpul sentral. Temuan menunjukkan bahwa AI tutor memiliki potensi signifikan dalam meningkatkan literasi numerasi dengan peningkatan 28,7%–32% lintas studi melalui adaptasi terhadap preferensi belajar Visual, Auditori, Read/Write, dan Kinestetik (VAK), dengan siswa visual menunjukkan peningkatan tertinggi. Tinjauan ini memberikan sintesis baru dengan mengintegrasikan efektivitas AI tutor dan perspektif gaya belajar terhadap literasi numerasi, sekaligus menawarkan implikasi teoritis dan praktis dalam mengembangkan strategi pembelajaran berdiferensiasi yang terintegrasi AI.
PROFIT OPTIMIZATION OF KURING TOFU PRODUCTION IN SEMARANG USING THE SIMPLEX METHOD Miftahur Rohmah; Annisa Fitriani; Muhamad Gani Rohman
EMTEKA: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 7 No. 2 (2026): Article In Press
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/emteka.v7i2.11358

Abstract

The tofu industry continues to grow as part of the food business sector in Indonesia. However, tofu producers often make production decisions under limited raw materials, production capacity, and processing time, while production costs may change over time. Therefore, an optimization model is needed to help determine a production plan that can generate maximum profit. This study aims to determine the optimal production volume and maximum profit for white tofu and yellow tofu at Kuring Tofu Factory, Tengaran, Semarang Regency. This study applies linear programming using the simplex method, supported by POM-QM for Windows. Data were collected through interviews and direct observations related to raw material use, production capacity, production time, and profit from each product. The results show that the optimal solution is achieved by producing 20 batches of white tofu (X₁ = 20) and no yellow tofu (X₂ = 0), with a maximum profit of Rp10,566,000 per day. Compared with the factory’s current profit of approximately Rp10,000,000 per day, this model provides an additional profit of Rp566,000 per day, or 5.66%. The manual calculation produced the same result as POM-QM for Windows, indicating that the simplex method is consistent in determining the optimal production plan. These findings show that the simplex method can support production planning and resource allocation in tofu production businesses. Industri tahu terus berkembang sebagai bagian dari sektor usaha makanan di Indonesia. Namun, produsen tahu sering kali mengambil keputusan produksi dengan keterbatasan bahan baku, kapasitas produksi, dan waktu pengolahan, sementara biaya produksi dapat berubah dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, diperlukan model optimasi untuk membantu menentukan rencana produksi yang dapat menghasilkan keuntungan maksimum. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan volume produksi optimal dan keuntungan maksimum pada produksi tahu putih dan tahu kuning di Pabrik Tahu Kuring, Tengaran, Kabupaten Semarang. Penelitian ini menerapkan pemrograman linear menggunakan metode simpleks dengan bantuan POM-QM for Windows. Data dikumpulkan melalui wawancara dan observasi langsung terkait penggunaan bahan baku, kapasitas produksi, waktu produksi, dan keuntungan dari setiap produk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa solusi optimal dicapai dengan memproduksi tahu putih sebanyak 20 kali produksi (X₁ = 20) dan tidak memproduksi tahu kuning (X₂ = 0), dengan keuntungan maksimum sebesar Rp10.566.000 per hari. Dibandingkan dengan keuntungan pabrik saat ini yang sekitar Rp10.000.000 per hari, model ini memberikan tambahan keuntungan sebesar Rp566.000 per hari atau 5,66%. Perhitungan manual menghasilkan hasil yang sama dengan POM-QM for Windows, yang menunjukkan bahwa metode simpleks konsisten dalam menentukan rencana produksi optimal. Temuan ini menunjukkan bahwa metode simpleks dapat mendukung perencanaan produksi dan alokasi sumber daya pada usaha produksi tahu
ETHNOMATHEMATICAL EXPLORATION OF MARTABAK TELUR PREPARATION: A REPRESENTATION OF GEOMETRIC TRANSFORMATION CONCEPTS Nabila Firda Rahmalia; Fuad Luky Atmaja
EMTEKA: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 7 No. 2 (2026): Article In Press
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/emteka.v7i2.11455

Abstract

The gap between formal mathematics and cultural reality often creates cognitive barriers in geometry learning. This study aims to uncover the concepts of geometric transformation embedded in the production process of Tegal-style Martabak Telur. This research employs a qualitative exploratory approach with a case study design. Data were collected from three Martabak Telur vendors, selected via purposive sampling, using systematic participatory observation and high-precision visual documentation. The data were analyzed using the Miles and Huberman interactive model (reduction, presentation, and verification). The results indicate that the Martabak Telur making process is a concrete representation of dynamic geometry, encompassing: dilation in the dough-flattening technique, rotation and translation in managing heat distribution on the pan, and reflection in the symmetry of the cutting process. These findings hold significant pedagogical value as a foundation for Realistic Mathematics Education (RME), effectively bridging abstract geometric concepts through meaningful cultural contexts. Kesenjangan antara matematika formal dan realitas budaya sering kali menimbulkan hambatan kognitif dalam pembelajaran geometri. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap konsep transformasi geometris yang terdapat dalam proses pembuatan Martabak Telur khas Tegal. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif eksploratif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan dari 3 (tiga) orang penjual Martabak Telur sebagai informan kunci yang dipilih melalui purposive sampling, melalui observasi partisipatif sistematis dan dokumentasi visual berpresisi tinggi. Data dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pembuatan Martabak Telur merupakan representasi konkret dari geometri dinamis, yang meliputi: dilatasi pada teknik meratakan adonan, rotasi dan translasi dalam mengelola kematangan di wajan, serta refleksi pada simetri pemotongan produk. Temuan ini memiliki signifikansi pedagogis sebagai landasan pengembangan Realistic Mathematics Education (RME), yang efektif menjembatani konsep geometris abstrak melalui konteks budaya yang bermakna bagi siswa.
ANALYSIS OF UNDERSTANDING OF MATHEMATICAL CONCEPTS IN HOTS QUESTIONS ON CIRCLES AT ISLAMIC BOARDING SCHOOLS Fahrul Purnama; Indra Budiman; Dani Firmansyah
EMTEKA: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 7 No. 2 (2026): Article In Press
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/emteka.v7i2.11555

Abstract

This study aims to explore in depth students’ mathematical conceptual understanding in solving Higher Order Thinking Skills (HOTS) problems on the topic of circles and to identify the error patterns and problem-solving strategies that emerge in an Islamic boarding school context. Mathematics learning in Islamic boarding schools presents unique challenges because students are required to balance academic learning with intensive religious and boarding-school activities, which may influence their learning experiences and conceptual understanding. The study employed a qualitative descriptive design supported by quantitative descriptive statistics. The participants were nine twelfth-grade students from a pesantren-based senior high school in Indramayu, who completed a HOTS-based conceptual understanding test and semi-structured interviews. Data were analyzed through the stages of reduction, presentation, and conclusion drawing, with source triangulation used to ensure data credibility. The results showed that 22% of students were classified in the high category, 56% in the medium category, and 22% in the low category, with an average score of 53 and a standard deviation of 26. Students in the high category were able to determine circle equations, center points, radii, intersection points, and visual representations accurately. In contrast, students in the medium category experienced difficulties in elimination, factorization, and visualization processes, while students in the low category struggled with algebraic operations and substitution procedures. These findings indicate that most students still require support in applying conceptual understanding to HOTS-based contextual problems. This study contributes to mathematics education by providing an in-depth description of students’ conceptual understanding, error patterns, and problem-solving strategies when solving HOTS-based circle problems in an Islamic boarding school setting. Penelitian ini bertujuan mengungkap tingkat pemahaman konsep matematis siswa pesantren dalam menyelesaikan soal Higher Order Thinking Skills (HOTS) pada materi lingkaran serta memetakan karakter kesalahan dan strategi penyelesaian yang digunakan. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang didukung analisis deskriptif kuantitatif dengan subjek sembilan siswa kelas XII pada salah satu SMA berbasis pesantren di Indramayu. Pengelompokan siswa ke dalam kategori tinggi, sedang, dan rendah dilakukan berdasarkan indikator pemahaman konsep matematis yang meliputi kemampuan menyatakan kembali konsep, merepresentasikan konsep, menerapkan prosedur, dan menyelesaikan masalah. Data dikumpulkan melalui enam soal uraian kontekstual dan wawancara semiterstruktur. Instrumen penelitian telah melalui proses validasi ahli sebelum digunakan. Data dianalisis melalui tahap reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan dengan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 22% siswa berada pada kategori tinggi, 56% kategori sedang, dan 22% kategori rendah, dengan rata-rata skor 53 dan simpangan baku 26 yang menunjukkan adanya variasi kemampuan dan heterogenitas pemahaman konsep di antara siswa. Siswa kategori tinggi mampu menentukan persamaan lingkaran, pusat, jari-jari, posisi titik, dan titik potong kurva secara tepat. Siswa kategori sedang masih mengalami kesulitan pada proses eliminasi, pemfaktoran, dan visualisasi, sedangkan siswa kategori rendah mengalami kesulitan pada operasi aljabar dasar dan substitusi. Temuan ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa masih memerlukan penguatan pemahaman konsep untuk menyelesaikan soal HOTS secara efektif. Oleh karena itu, diperlukan strategi pembelajaran yang dapat memperkuat penalaran aljabar, kemampuan visualisasi, dan pemahaman konsep matematis guna meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal HOTS.
PENGEMBANGAN LKPD BERBASIS AUGMENTED REALITY UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR GEOMETRIK MURID KELAS V SEKOLAH DASAR Kurnia Nabilah Far'hah; Puri Pramudiani
EMTEKA: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 7 No. 2 (2026): Article In Press
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/emteka.v7i2.11600

Abstract

This study focused on the design and implementation of an Augmented Reality (AR)-integrated student worksheet (LKPD) aimed at improving fifth-grade students’ geometric thinking skills, particularly in learning about cubes and rectangular prisms. The research employed a Research and Development (R&D) approach using the ADDIE model, which consists of Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation stages. The participants were 29 fifth-grade students from a public elementary school in Bekasi, Indonesia. Data were collected through observations, interviews, validation sheets, and pretest–posttest instruments. The validation results showed that the material aspect obtained 90% in the very valid category, the media aspect obtained 76% in the valid category, and the language aspect obtained 75% in the valid category. The results also indicated a significant improvement in students’ geometric thinking skills, with the mean score increasing from 58.86 on the pretest to 86.00 on the posttest. Furthermore, the Wilcoxon Signed Rank Test showed a significance value of p < 0.05, indicating a statistically significant difference between pretest and posttest scores. The effect size result (r ≈ 0.88) was categorized as very large, demonstrating a strong impact of the developed learning media on students’ geometric thinking skills. These findings indicate that the AR-based student worksheet is valid and effective in improving students’ geometric thinking skills. Therefore, the AR-based woorksheet can serve as an innovative learning medium for supporting mathematics learning in elementary schools.
THE EFFECT OF GEOGEBRA-ASSISTED DISCOVERY LEARNING ON MATHEMATICAL CONCEPT UNDERSTANDING IN STATISTICS LEARNING Masroh Saragih; Elfira Rahmadani
EMTEKA: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 7 No. 2 (2026): Article In Press
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/emteka.v7i2.11660

Abstract

This study aims to determine the effect of the Discovery Learning model assisted by GeoGebra on students' mathematical conceptual understanding ability in Statistics (Measures of Central Tendency) for Grade X students at SMA Negeri 1 Air Joman in the 2025/2026 Academic Year. This research employed a quantitative approach using a quasi-experimental method with a Pretest-Posttest Control Group Design. The population consisted of all Grade X students, comprising 6 classes with a total of 206 students. The samples were Class X-2 as the experimental class and Class X-4 as the control class. After the learning process was completed, the posttest results showed that the experimental class achieved higher scores than the control class. Therefore, it can be concluded that students' mathematical conceptual understanding taught through the Discovery Learning model assisted by the GeoGebra application is better than that of students taught through the direct instruction model. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model discovery learning berbantuan geogebra terhadap kemampuan pemahaman konsep matematis siswa pada materi Statistika (Ukuran Pemusatan Data) Kelas X SMA Negeri 1 Air Joman Tahun Ajaran 2025/2026. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif, menggunakan metode penelitian quasy experiment dengan desain penelitian adalah Pretest-Posttest Control Group Design. Populasi pada penelitian ini seluruh siswa kelas X yang berjumlah 6 kelas sebanyak 206 siswa. Sampel yang diambil kelas X-2 sebagai kelas eksperimen dan kelas X-4 sebagai kelas kontrol. Setelah proses pembelajaran selesai dilaksanakan, diperoleh hasil posttest kelas eksperimen lebih tinggi dibanding kelas kontrol. Dengan demikian diperoleh kesimpulan bahwa kemampuan pemahaman konsep matematis siswa menggunakan model Discovery Learning berbantuan Aplikasi Geogebra lebih baik dibandingkan menggunakan model pembelajaran langsung.