cover
Contact Name
Hendra Susanto
Contact Email
hesus@stiqsi.ac.id
Phone
+6281232233243
Journal Mail Official
jurnal@stiqsi.ac.id
Editorial Address
Pondok Pesantren Al-Ishlah, Sendangagung Paciran Lamongan Jawa Timur
Location
Kab. lamongan,
Jawa timur
INDONESIA
Al-I'jaz: Jurnal Studi Al-Qur'an, Falsafah, dan Keislaman
ISSN : 27221652     EISSN : 27211347     DOI : https://doi.org/10.53563/ai.v3i1
Core Subject : Religion, Education,
Focus Al-I jaz adalah jurnal yang terbit dua kali dalam setahun (Juni dan Desember), yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran dan Sains Al-Ishlah (STIQSI) Sendangagung Paciran Lamongan Jawa Timur. Fokus jurnal ini adalah untuk mendiseminasikan kajian akademis tentang Pemikiran Keislaman terkait Al-Qur’an, Falsafah dan Isu Keislaman Klasik dan Kontemporer, serta untuk memfasilitasi dialog akademis antara para akademisi dan peneliti yang berminat dalam kajian pemikiran keislaman terkait Al-Quran, Falsafah dan Isu Keislaman Klasik dan Kontemporer. Scope Al-I jaz memiliki ruang lingkup kajian dan penelitian yang mengkover beragam bidang terkait kajian Pemikiran Keislaman seperti: Tafsir, Hadits, Fiqh, Sejarah Islam, Hukum, Al-Quran dan Tafsir, Tasawuf, Ilmu Kalam, Politik, dan Filsafat serta Isu Keislaman Klasik dan Kontemporer (seperti relasi jender, demokrasi, Hak Azasi Manusia, Ekspresi dan Praktik Hidup masyarakat Muslim di seluruh dunia).
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 4 No 2 (2022): December" : 6 Documents clear
AYAT-AYAT TENTANG KECANTIKAN DI DALAM AL-QUR’AN : (Perspektif Tafsir dan Analisis Semiotika Charles Sanders Peirce) Nevia Ika Utami; Nailul Izzati
Jurnal Al I'jaz Vol 4 No 2 (2022): December
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Dan Sains Al-Ishlah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53563/ai.v4i2.72

Abstract

Kajian ini membahas tentang kecantikan dalam al-Qur’an dengan menggunakan analisis Semiotika Charles Sanders Peirce. Kajian ini terinspirasi atas banyaknya fenomena konsep kecantikan di mana pada manusia identik dengan perempuan yang harus berkulit putih, halus, postur tubuh tinggi, hidung mancung, rambut lurus, dan lain sebagainya. Kemudian, dikaji lebih jauh dari sisi bagaimana al-Qur’an menginformasikan dan mewacanakannya. Lafal kecantikan difokuskan pada tiga lafal, yakni al- Jama>l, al- H}usn, dan T{a>>ba. Kemudian, diambil lima ayat sebagai contoh analisis ayat-ayat yang berkaitan dengan kecantikan. Penelitian ini bersifat kepustakaan murni (library research) dengan pendekatan analisis semiotika, ada beberapa langkah dalam proses analisis: Memasukkan unsur-unsur teori triadik Semiotika Charles Sanders Peirce Melihat perspektif dari dua kitab tafsir yakni Ma‘alimu at-Tanzi>l karya al-Bagawi dan tafsir Anwa>r at-Tanzi>l wa Asra>r at-Ta’wi>l karya al-Bai?awi Membandingkan hasil analisa teori dan pandangan mufasir Beberapa relevansi yang bisa dikemukakan dari data analisis lafal-lafal kecantikan dalam al-Qur’an secara konseptual adalah sebagai berikut: Kecantikan perempuan adalah kecantikan yang secara fisik cantik dan berkaitan erat dengan kualitas amal perbuatan yang baik dari perempuan tersebut. Kecantikan fisik perempuan itu menakjubkan. Konsep kecantikan manusia terlihat dari Allah SWT yang telah memberikan nikmat kepada manusia dengan bentuk yang sebaik-baiknya. Kecantikan diukur dari fisik dan juga kualitas perempuan, dan yang paling penting adalah dari kualitasnya. Konsep kecantikan itu ketika manusia menganggap atau merasa nyaman pada sesuatu yang dilihat.
KONSEP PENGABDIAN DALAM AL-QUR’AN: (KAJIAN AYAT-AYAT MANUSIA SEBAGAI ‘ABD ) Fuji Lestari; Firdha Ning Fajrillah
Jurnal Al I'jaz Vol 4 No 2 (2022): December
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Dan Sains Al-Ishlah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53563/ai.v4i2.79

Abstract

Dalam upaya pencarian makna hakikat pengabdian dalam Al-Qur’an, Hal ini tidaklah bermaksud meninggalkan serangkaian sumber yang bersifat tekstual, namun sebaliknya, penafsiran Al-Qur’an yang kontekstualis akan menambah pengetahuan serta mempermudah pengambilan solusi dalam permasalahan-permasalahan dunia kontemporer yang selalu berkembang seperti tema tentang status manusia sebagai hamba Allah SWT. Dalam tulisan ini penulis bermaksud menguak kenyataan bahwa manusia sebagai penyembah dan pengabdi Allah SWT. Sehingga manusia tidak akan pernah lupa apa hakikat penciptaannya di alam semesta ini. Berdasarkan ranah penelitian maka pencarian seberapa banyak ayat-ayat Al-Qur’an menjelaskan masalah pengabdian atau ‘Abd yang disandangkan kepada manusia. Tulisan ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research), adapun pendekatan yang digunakan dengan deskriptif- analisis konten (content analysis approach) analisis deskriptif. Hasil bahwa manusia sebagai ‘Abd harus senantiasa memperhatikan apa yang diperintahakan dan apa yang dilarang oleh Allah guna manusi lebih terarah dalam menjalankan kehidupannya di alam ini. Banyaknya sarana yang bisa dijadikan praktek latihan untuk menjadi makhluk penyembah yang sesuai ajaran dan nilai-nialo Al-Qur’an. Di dalam pesantren misalnya, manusia yang memahami bagaimana pesantren dibangun atas dasar perjuangan para ahli ilmu agama guna menjadikan generasi yang mampu dan selalu dekat dengan nilai-nilai Al-Qur’an. Tak heran jika santri setelah menyelesaiakn studi formal maupun non-formalnya selalu dipersilahkan oleh sang pendiri pesantren untuk ikut andil (mengabdikan diri di pesantren) dalam memperjuangkan nilai-nilai kepesantrenan dalam mengamalkan ilmunya selama menjalani sebagai santri. pengabdian menjadikan manusia lebih tertata hidupnya dalam mengaplikasikan konsep pengabdiannya. Kata Kunci : Manusia, ‘Abd, Al-Qur’an
MENGELABORASI PEMAHAMAN IBNU KATHIR DAN MUH. ABDUH PADA SURAH AL ‘ASR AYAT 1-3 Nia Aryani
Jurnal Al I'jaz Vol 4 No 2 (2022): December
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Dan Sains Al-Ishlah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53563/ai.v4i2.88

Abstract

Manusia diberikan ruang oleh Allah dalam menjalani aktivitaskehidupannya. Ruang tersebut berupa waktu yang akan dihisabpada akhir hayatnya. Namun, faktanya tidak semua manusiamengetahui bagaimana mengisi atau memanfaatkan waktudengan baik. Padahal, al-Qur'an telah menjelaskan bagaimanaagar manusia tidak mendapat ke-rugian dalam kehidupannya.Bila hal ini terus terjadi, maka sungguh manusia mendapatkankerugian yang amat besar. Tulisan ini bertujuan untukmenganalisis makna penafsiran al-Qur'an surah al-'Asrayat 1-3.Tokoh Mufass?r yang diteliti adalah Ibn Kats?r dengan kitabnyaTafs?r al-Qur'?n al-'Adz?m dan Muhammad 'Abduh dengan kitabtafsirnya Al-Qur'?n al-Kar?m Juz 'Amm?. Kedua tafsir ini dipilihkarena memiliki perbedaan corak dan metode dalam mengungkapmakna al-Qur'an. Karena perbedaan ini, maka penulismemposisikan diri sebagai penganalisis penafsiran al-Qur'ansurah al-'Asr ayat 1-3. Kemudian, setelah dianalisis, penulis akanmendeskripsikan dan mengkomparasikan hasil penafsiran keduatokoh tersebut.
PENDIDIKAN ULUL ALBAB DALAM AL-QUR’AN Heru Siswanto; Suparno Suparno
Jurnal Al I'jaz Vol 4 No 2 (2022): December
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Dan Sains Al-Ishlah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53563/ai.v4i2.89

Abstract

Pendidikan merupakan kebutuhan dasar manusia yang sangat penting untuk saat ini dan akan datang dalam rangka meningkatkan keintelektualan dan keagungan akhlak manusia. Bahwa dengan pendidikan manusia akan dibimbing, dibina, diarahkan untuk memperoleh ilmu pengetahuan dengan berbagai macam metode. Sehingga manusia mampu memahami berbagai fenomena alam yang diciptakan Allah. Pendidikan Ulul Albab ini ialah pendidikan untuk mencapai kecakapan hidup yang inovatif berdasarkan kewajiban atau keharusan yang lahir dari fitrah manusia. Oleh sebab itu, sebagai acuan pendidikan hal yang pertama adalahmenjadikan manusia memiliki pengetahuan yang benar dan pilihan terhadap suatu perubahan ke arah kebaikan. Oleh sebab itu, insan Ulul Albab ialah sosok manusia yang selalu berusaha keras dalam setiap aktivitasnya untuk mengambil hikmah yang Allah ciptakan di jagat raya ini, dan selalu bisa mengobati dirinya sendiri bila mana ia jatuh menghadapi masalah dengan mengharap pertolongan Allah. Ulul Albab ini akan mampu menciptakan suasana kondusif (menunjang), dan mampu memberikan faedah atau manfaat baik diri pribadi maupun kepada bangsa Negara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pendidikan Ulul Albab adalah suatu model pendidikan yang mengembangkan fitrah manusia pendidikan yang lebih menekankan pada keintelektualan dan akhlak dengan berbagai macam metode yang sesuai dengan kondisi. Dengan tujuan agar mampu menjadikan manusia yang tangguh memiliki ilmu pengetahuan yang luas baik dari segi imtaq dan iptek.Profesional dalam semua bidang ilmu pengetahuan, selalu kreatif dan inovatif dalam menghadapi perubahan dan permasalahan yang menjunjung tinggi nilai ketauhidan dan sunnah Rasul. Pada bagian akhir penulis menarik suatu kesimpulan bahwa pendidikan UlulAlbab adalah pendidikan yang mencakup pengembangan seluruh aspek fitrah peserta didik; aspek spiritual, intelektual, imajinasi, fisik, ilmiah dan bahasa, baik secara individual maupun kolektif dan mendorong semua aspek tersebut berkembang ke arah kebaikan dan kesempurnaan. Tujuan akhir pendidikan ini terletak pada perwujudan ketundukan yang sempurna kepada Allah, baik secara pribadi, komunitas, maupun seluruh umat manusia.
MANAJEMEN KONFLIK NABI MUHAMMAD SAW : (Analisis Teks Sirah Ibnu Hisham dan Sirah Nabawi Ibnu Kathir) Fathurrofiq rofiq
Jurnal Al I'jaz Vol 4 No 2 (2022): December
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Dan Sains Al-Ishlah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53563/ai.v4i2.90

Abstract

How the Prophet Muhammad managed the conflicts challanged his revealing massage is the main issue disscussed in this paper. Of course the conflict trigered by the brutal rejection of unbelievers to thethe Prophet teachings. Nevertheless, it didn’t mean that the conflicts was never come from the follower of the prophet at all. While the conflict rising from the followers threatened the segregetion and uncorfortable communication among them, the conflicts rising from the unbelivers cause the fatal condition even the war break. As The Prophet, Muhammad respond the conflict in all cost. But the special one is his ways, his manner to deal with such conflict. He never gave up to motivate his follower to keep alert, he never fail in hopeless in all nightmare condition he faced. His strategy to conduct the conflict, minimally, devided into two: 1)unapproachable integrity dealing with the belief, 2)flexible decission dealing with the socio-political bussiness. Let’s see the former in the case of ritual negosition offered by Quraish unbelievers to the Prophet then the later to the Hudaibiyah compropmy. This paper based on the reading on work of Ibnu Hisham: Sirah Nabawi and work of Ibnu Kathir: Sira Rasul. The both works are translated into English. So the explanation of this paper based on these work either in Arabic or in English.
STUDI KOMPARASI PERUMPAMAAN DALAM KAJIAN ULUM ALQURAN DAN BAHASA INDONESIA Yiyin Isgandi
Jurnal Al I'jaz Vol 4 No 2 (2022): December
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Dan Sains Al-Ishlah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53563/ai.v4i2.91

Abstract

Artikel ini mendeskripsikan persamaan dan perbedaan pembahasan perumpamaan dalam Ulum al-Qur’an dan Bahasa Indonesia dalam definisi, tema kajian dan pembagian macam-macamnya, serta fungsikesusastraan dan kebermanfaatannya dalam kehidupan manusia. Dengan menggunakan kajian pustaka dan metode deskriptif komparatif, penelitian ini mendeskripsikanadanya kesamaan dalam definisi, penggunaan kata pembentuk perumpamaan, dan fungsinya dalam kesusastraan. Perumpamaan adalah persamaan atau perbandingan antara dua objek yang berbeda. Perumpamaan terbentuk kadang menggunakan kata pembentuk yang jelas dan kadang samar. Fungsinya dalam kesusastraan untuk mendekatkan yang abstrak kepada yang kongkrit, menjadikan kalimat lebih indah, bermakna, berkesan, dan menarik.Perbedaan keduanya dalam fokus kajian, pembagian macam-macam perumpamaan, dan kebermanfaatan dalam kehidupan manusia. Perumpamaan masuk dalam pembahasan gaya bahasa dan peribahasa di Bahasa Indonesia, sedangkan di Ulum al-Qur’an menjadi kajian tersendiri. Perumpamaan di Ulum al-Qur’an terbagi menjadi tiga berdasarkan jelas atau tidaknya perumpamaan. Sedangkan dalam Bahasa Indonesia tidak ada pembagian spesifik, tapi masuk pada pembagian jenis majas dan bentuknya yang sangat bervariasi berdasarkan jelas dan tnb idaknya perumpmaan, juga cara dan tujuannya. Kebermanfaatan perumpamaan di Ulum al-Qur’an untuk pembelajaran di kehidupan manusia karena firman Allah. Sedangkan di Bahasa Indonesia untuk pelajaran hidup atau hanya sekedar keindahan dalam kalimat saja.

Page 1 of 1 | Total Record : 6