cover
Contact Name
Frangky J. Paat
Contact Email
jurnalsr_agroekotek@unsrat.ac.id
Phone
+62895395272667
Journal Mail Official
jurnalsr_agroekotek@unsrat.ac.id
Editorial Address
Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulangi , Jl Kampus Bahu, Kec. Malalayang, Manado Sulawesi Utara 95115
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Jurnal Agroekoteknologi Terapan
ISSN : -     EISSN : 27970647     DOI : https://doi.org/10.35791/jat.v2i1.34060
Core Subject : Agriculture, Social,
Jurnal Agroekoteknologi Terapan adalah bagian dari Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulangi Manado 95115. Bertujuan untuk mempublikasikan akumulasi dari hasil-hasil penelitian yang berhubungan dengan ilmu dan teknologi pertanian terapan (applied agrotechnology).
Articles 207 Documents
Effect Of Pig Manure Incubation As Organic Fertilizer On The Growth Of Lettuce (Lactuca sativa L.) Yosia Ririn; Diane D Pioh; Ronny Nangoi
Jurnal Agroekoteknologi Terapan Vol. 3 No. 2 (2022): EDISI JULI-DESEMBER 2022
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/jat.v3i2.44885

Abstract

Manure is a fertilizer that comes from a mixture of livestock manure, urine, and leftover animal feed. The purpose of the study was to see how the growth of lettuce plants that were given pig manure were incubated. This study used a completely randomized design (CRD) with 9 treatments, namely T0 (control), T2 (0 weeks incubation without soaking), T1 (1 week incubation without soaking), T3 (2 weeks incubation without soaking), T4 (3 weeks incubation without soaking). without soaking), T5 (0 weeks of immersion incubation), T6 (1 week of soaking incubation), T7 (2 weeks of soaking incubation), T8 (3 weeks of soaking incubation), each treatment was repeated 3 times to obtain 27 experimental plants. Parameters observed were plant height, number of leaves, fresh weight, and root volume. Based on the results of the study it can be concluded that the application of organic fertilizer from pig manure which was incubated with immersion and without immersion had no significant difference to plant height, number of leaves, and root volume but significantly different to fresh weight of lettuce plants. Keywords: Organic fertilizer, manure, pig manure, incubation, lettuce plant. Abstrak Pupuk kandang adalah pupuk yang berasal dari campuran kotoran ternak, urine, dan sisa pakan ternak. Tujuan penelitian adalah untuk melihat bagaimana pertumbuhan tanaman selada yang diberi kotoran babi yang diinkubasi. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 9 perlakuan yaitu T0 (kontrol), T2 (inkubasi 0 minggu tanpa perendaman), T1 (inkubasi 1 minggu tanpa perendaman), T3 (inkubasi 2 minggu tanpa perendaman), T4 (3 minggu inkubasi tanpa perendaman). minggu inkubasi tanpa perendaman). tanpa perendaman), T5 (0 minggu inkubasi perendaman), T6 (1 minggu inkubasi perendaman), T7 (2 minggu inkubasi perendaman), T8 (3 minggu inkubasi perendaman), masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali sehingga diperoleh 27 percobaan. tanaman. Parameter yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah daun, berat segar, dan volume akar. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian pupuk organik dari kotoran babi yang diinkubasi dengan perendaman dan tanpa perendaman tidak memberikan perbedaan yang nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, dan volume akar tetapi berbeda nyata terhadap berat segar tanaman. tanaman selada. Kata kunci: Pupuk organik, pupuk kandang, kotoran babi, inkubasi, tanaman selada.
Study Of Irrigation Water Quality For Rice Fields In Kayawu Village, North Tomohon District, Tomohon City Melkison Sanggel; Sofia Wantasen; Adeleyda M. W. Lumingkewas; Frangky J. Paat
Jurnal Agroekoteknologi Terapan Vol. 4 No. 1 (2023): EDISI JANUARI-JUNI 2023
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/jat.v4i1.44890

Abstract

This study aims to determine the quality of irrigation water on paddy fields in Kayawu Village, North Tomohon District, Tomohon City. This research was carried out for two (2) months, from September to October 2021. This research was conducted using a survey method, a composite sampling technique. Research samples were taken at two locations, namely the first location upstream and the second location downstream of the rice field irrigation channel in Kayawu Village. Sampling of 3 liters of water at each location, then analyzed at the Laboratory of Research and Industrial Standardization of Manado. The data obtained were analyzed using descriptive statistics. The quality of irrigation water in terms of Parameters: Total Suspended Solid (TSS), the TSS content in the upstream part was 52.2 mg/L and in the downstream part 192 mg/L, still classified as good. Total Dissolved Solid (TDS), TDS levels in the upstream 142 mg/L and in the downstream 241 mg/L, are still relatively good. The levels of Nitrate (NO₃) NO₃ upstream are 6.31 mg/L and downstream are 4 mg/L, still relatively good. The levels of Nitrite (NO₂) NO₂ upstream are 0.00065 mg/L and 0.00065 mg/L in the Downstream, are still relatively good. The levels of Ammonia (NH₃) NH₃ upstream are 0.20 mg/L and in the Downstream are mg/L, are still relatively good. Chloride (Cl), the Cl content in the upstream is 5 mg/L and the downstream is 52 mg/L, is still relatively good. The temperature, at 23.7ºC upstream and 22.5ºC downstream, is still relatively good. The degree of acidity (pH) in the upstream is 7.12 and the downstream is 6.35, which is still relatively good. The results showed that the quality of irrigation water for rice fields in Kayawu Village, North Tomohon District, Tomohon City is still classified as good and meets the requirements as irrigation water in Kayawu, based on Government Regulation No. 22 year 2021. Keywords: Irrigation Water, Irrigation Water Quality, Water Quality Standards Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Kualitas air irigasi pada lahan sawah di Kelurahan Kayawu Kecamatan Tomohon Utara, Kota Tomohon. Penelitian ini dilaksanakan selama dua (2) bulan yaitu bulan September sampai bulan Oktober 2021. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survey, teknik pengambilan sampel composite sampling. Sampel penelitian diambil pada dua lokasi yaitu lokasi pertama bagian hulu dan lokasi kedua bagian hilir saluran irigasi areal persawahan di Kelurahan Kayawu. Pengambilan sampel air sebanyak 3 liter ditiap lokasi, kemudian dianalisis di Laboratorium Balai Riset dan Standardisasi Industri Manado. Data yang diperoleh dianalisi menggunakan statistik deskriptif.. Kualitas air irigasi di tinjau dari Parameter :Total Suspended Solid (TSS), kadar TSS pada bagian Hulu 52,2 mg/L dan pada bagian Hilir 192 mg/L, masih tergolong baik. Total Dissolved Solid (TDS), kadar TDS pada bagian Hulu 142 mg/L dan pada bagian Hilir 241 mg/L, masih tergolong baik. Nitrat (NO₃) kadar NO₃ bagian Hulu 6,31 mg/L dan pada bagian Hilir 4 mg/L, masih tergolong baik. Nitrit (NO₂) kadar NO₂ bagian Hulu 0,00065 mg/L dan pada bagian Hilir 0,00065 mg/L, masih tergolong baik. Amonia (NH₃) kadar NH₃ bagian Hulu 0,20 mg/L dan pada bagian Hilir mg/L, masih tergolong baik. Klorida (Cl), kadar Cl pada bagian Hulu 5 mg/L dan pada bagian Hilir 52 mg/L, masih tergolong baik. Suhu, pada bagian Hulu 23,7ºC dan pada bagian Hilir 22,5ºC, masih tergolong baik. Derajat Keasaman (pH) pada bagian Hulu 7,12 dan pada bagian Hilir 6,35, masih tergolong baik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kualitas Air Irigasi Areal Persawahan Di Kelurahan Kayawu Kecamatan Tomohon Utara Kota Tomohon masih tergolong baik dan memenuhi syarat sebagai Air Iigasi Di Kayawu, berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No. 22 tahun 2021. Kata kunci : Air irigasi, Kualitas Air Irigasi, Baku Mutu Air
Performance Test Of Teta22® Small-Scale Coconut Husk Processing Equipment Telinus Yigibalom; Dedie Tooy, MS, PhD; Leo Kalesaran
Jurnal Agroekoteknologi Terapan Vol. 3 No. 2 (2022): EDISI JULI-DESEMBER 2022
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/jat.v3i2.45345

Abstract

Efforts to maximize the utilization of coconut derivative products are still being carried out in coconut production centers. North Sulawesi as one of the highest coconut-producing regions in Indonesia is still trying to increase the value of existing coconut products. One of the problems faced in increasing the value of coconuts is the decreasing number of workers who climb and peel coconuts. Coconut coir as a very significant part of the amount in one fruit still needs attention so that its value can be increased. Coconut coir has the potential to be utilized but requires processing equipment, which can decompose coconut coir into fiber (coco fiber) and dust (cocopeat). The problem is that decomposers are relatively difficult to obtain in this area, and if they are available, they have to be imported from other islands and they are expensive. For this reason, this research was made, namely to make and test the performance of coconut coir processing equipment. The research method was carried out experimentally, and the data obtained were analyzed descriptively. Experiments were carried out using the engine rotation speed: 500 rpm, 600 rpm, and 700 rpm. The raw material for coconut fiber used was 10 kg with three repetitions. From the results of the study, it was found that the best results were at a speed of 500 rpm which was able to produce the highest yield of 90.9 percent of total cocopeat and coco fiber, while at speeds above 500 rpm, namely 600 rpm and 700 rpm, the higher the coir material that became granules dust. The highest decomposition yield of coir into coco fiber was at 500 rpm, namely 95.68 kg/hour or as much as 765.44 kg/day (note: 1 day = 8 hours). To increase comfort, further research can be directed at ergonomic testing to increase the comfort and safety of using the tool. Keywords: Coconut husk, cocopeat, coco fiber, performance test, decomposition machine.   Abstrak Upaya pemanfaatan maksimal dari produk turunan kelapa masih terus dilakukan di daerah sentra produksi kelapa. Sulawesi Utara sebagai salah satu daerah penghasil kelapa tertinggi di Indonesia masih terus berupaya untuk meningkatkan nilai dari produk kelapa yang sudah ada. Salah satu permasalahan yang dihadapi dalam peningkatan nilai kelapa adalah semakin berkurangnya tenaga kerja yang pemanjat dan pengupas kelapa. Sabut kelapa sebagai bagian yang sangat signifikan jumlahnya dalam satu buah, masih perlu perhatian untuk dapat ditingkatkan nilainya. Sabut kelapa berpotensi untuk dimanfaatkan akan tetapi perlu alat pengolah, yang dapat menguraikan sabut kelapa menjadi serat (cocofiber) dan debu (cocopeat). Permasalahannya adalah alat pengurai relatif sulit didapat di daerah ini, dan bila ada harus didatangkan dari pulau lain serta harganya mahal. Untuk itulah penelitian ini dibuat yaitu membuat dan menguji kinerja alat pengolahan sabut kelapa.  Metode penelitian dilakukan secara  eksperimental, data yang didapatkan di lakukan analisis secara deskriptif. Percobaan dilakukan menggunakan kecepatan perputaran mesin: 500 rpm, 600 rpm, dan 700 rpm. Bahan baku sabut kelapa yang digunakan sebanyak 10 kg dengan tiga kali ulangan. Dari hasil penelitian didapati  bahwa hasil terbaik, adalah pada kecepatan 500 rpm yang mampu menghasilkan rendemen tertinggi sebesar 90,9 persen total cocopeat dan cocofiber, sedangkan pada kecepatan di atas 500 rpm, yakni 600 rpm dan 700 rpm, semakin tinggi bahan sabut yang menjadi butiran debu. Hasil penguraian tertinggi sabut menjadi serat sabut kelapa pada kecepatan 500 rpm, yaitu 95,68 kg/jam atau sebanyak 765,44 kg/hari (catatan:1 hari= 8 jam).   Untuk meningkatkan kenyamanan, penelitian lebih lanjut dapat di arahkan pada pengujian ergonomis untuk meningkatkan kenyamanan dan keamanan penggunaan alat. Kata Kunci: Sabut kelapa, cocopeat, cocofiber, uji kinerja, mesin pengurai
Manufacturing And Technical Testing Of Household-Scale Gasification System Stoves Made From Raw Coconut Husk Dedie Tooy, MS, PhD; Ireine A. Longdong; Frangky Paat; Herry F. Pinatik
Jurnal Agroekoteknologi Terapan Vol. 4 No. 1 (2023): EDISI JANUARI-JUNI 2023
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/jat.v4i1.45294

Abstract

The coconut husk is the outermost part of the coconut fruit that covers the coconut shell whereas one coconut contains 35% husk. In several areas, including in North Sulawesi, a lot of coconut husk is still being thrown away or left in the garden. Coconut husk has a potentially utilized energy capacity. For this reason, the idea arose to make a stove for energy utilization from coconut husk waste with a gasification system. The purpose of this study was to design and technically test a household-scale coconut husk stove with a gasification system. The research method was carried out by design and experimental testing, then the resulting data were analyzed descriptively. In this study, two types of stoves were designed and manufactured which were practical for application on a household scale using a gasification system made from coconut coir. The first stove that uses an air blower can reach a temperature of 740 ℃ and is tested with 1.5 liters of water, so the water can boil for 9 minutes. The second stove, which does not use an air blower, can boil 1.5 liters of water for 11 minutes at a temperature of 608℃. Both stoves have a waiting time to produce gas that is not much different, which is about 3 minutes with an initial fuel mass of 300 g. The results of economic calculations show that the cost of making this stove is relatively cheap and easy to maintain. However, the raw material for coconut coir runs out quickly and requires several replenishments of raw materials. Keywords: Stove, household scale, gasification, coconut husk. Abstrak Sabut kelapa merupakan bagian terluar buah kelapa yang membungkus tempurung kelapa dimana dalam satu butir buah kelapa mengandung 35% sabut. Di beberapa daerah termasuk di Sulawesi Utara, sabut kelapa masih banyak yang dibuang atau dibiarkan saja di kebun. Sabut kelapa mempunyai kapasitas energi yang potensial dimanfaatkan. Untuk itulah timbul ide untuk membuat kompor sebagai pengganti kompor untuk pemanfaatan energi dari limbah sabut kelapa ini dengan sistem gasifikasi. Tujuan penelitian ini adalah membuat rancangan dan uji teknis kompor sabut kelapa skala rumah tangga dengan sistem gasifikasi. Metode penelitian dilakukan dengan pembuatan dan uji  teknis alat secara eksperimental, kemudian data yang dihasilkan di analisis secara deskriptif.  Dalam penelitian ini di buat dua tipe kompor yang diharapkan dapat diaplikasikan pada skala rumah tangga dengan menggunakan sistem gasifikasi berbahan baku sabut kelapa. Kompor yang pertama yang menggunakan penghembus udara dapat mencapai suhu 740℃ dan uji coba dengan air 1,5 liter, maka air tersebut dapat mendidih selama 9 menit. Kompor yang kedua, yang tidak menggunakan penghembus udara dapat mendidihkan air 1,5 liter selama 11 menit dengan suhu mencapai 608℃. Kedua kompor mempunyai waktu tunggu untuk menghasilkan gas tidak berbeda jauh, yaitu sekitar 3 menit dengan massa bahan bakar awal 300 g. Hasil perhitungan ekonomi menunjukkan bahwa biaya pembuatan kompor ini relatif murah dan mudah pemeliharaannya. Akan tetapi bahan baku sabut kelapa cepat habis dan memerlukan beberapa kali pengisian bahan bahan baku.  Kata Kunci: Kompor, skala rumah tangga, gasifikasi, sabut kelapa.
Effect Of Liquid Organic Fertilizer Kirinyuh (Chromolaena odorata) On Growth And Production Of Green Palm (Brassica juncea L.) Eunike Likuayang; Pemmy Tumewu; Langimanapa S. Demmasabu
Jurnal Agroekoteknologi Terapan Vol. 4 No. 1 (2023): EDISI JANUARI-JUNI 2023
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/jat.v4i1.44020

Abstract

The research was carried out in the village of Ranoketang Atas, sub-district. Touluaan, district. Southeast Minahasa which took place on August 11 to October 5, 2021. The study used a factorial completely randomized design (CRD) with factor I being the concentration of liquid organic fertilizer kirinyuh (A) which consisted of 3 treatment levels A1 = liquid organic fertilizel kirinyuh 100 ml /liter of water, A2 = liquid organic fertilizel kirinyuh 150 ml/liter of water, A3 = liquid organic fertilizel kirinyuh 200 ml/liter of water and Factor II is the time of administration of liquid organic fertilizel kirinyuh (B), which consists of 3 levels: B1 = 7 days after transplanting, B2 = 7 and 14 days after transplanting, B3 = 7, 14, 21 days after transplanting. Each treatment was repeated 3 times to obtain 27 experimental units. The variables observed were the increase in plant height and number of leaves at the age of 28 and 56 days after transplanting of mustard greens, leaf length, leaf width, and fresh weight of mustard plants observed at harvest. The results showed that there was no interaction between concentration and time of application of organic fertilizer liquid kirinyuh on all observed variables. The single concentration of kirinyuh liquid organic fertilizer had no effect on the increase in plant height, the addition of organic fertilizer had an effect on the increase in the number of mustard leaves. concentration of kirinyuh 150 ml/liter of water was the best for increasing the number of mustard leaves. Keywords : Green Mustard Plant. POC Kirinyuh. Abstrak Penelitian dilaksanakan di desa Ranoketang Atas, kecamatan. Touluaan, kabupaten. Minahasa tenggara yang berlangsung pada 11 Agustus sampai dengan 5 Oktober 2021. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial dengan faktor I adalah konsentrasi pupuk organik cair (POC) kirinyuh (A) yang terdiri dari 3 taraf perlakuan A1 = POC Kirinyuh 100 ml/liter air, A2 = POC Kirinyuh 150 ml/liter air, A3 = POC Kirinyuh 200 ml/liter air dan Faktor II adalah waktu pemberian POC Kirinyuh (B), yang terdiri dari 3 taraf : B1 = 7 hari setelah pindah tanam, B2 = 7 dan 14 hari setelah pindah tanam, B3 = 7, 14, 21 hari setelah pindah tanam. Setiap perlakuan  diulangi sebanyak 3 kali sehingga diperoleh 27 satuan percobaan. Variabel yang diamati adalah Pertambahan tinggi tanaman dan pertambahan jumlah daun pada umur 28 dan 56 hari setelah pindah tanam  (HSPT) sawi, panjang daun, lebar daun, dan berat segar tanaman sawi diamati saat panen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi antara konsentrasi dan waktu pemberian pupuk organik cari kirinyuh terhadap semua variabel yang diamati. Secara tunggal konsentrasi pupuk organik cair kirinyuh tidak berpengaruh pada pertambahan tinggi tanaman, pemberian pupuk organik berpengaruh pada pertambahan jumlah daun sawi. Konsentrasi POC kirinyuh 150 ml/Liter air terbaik pada pertambahan jumlah daun tanaman sawi. Kata kunci : Tanaman Sawi Hijau. POC Kirinyuh.
Utilization Of Medicinal Plants In West Mapanget Village, Mapanget District, Manado City Fitria; Euis F. S Pangemanan; Marthen Th Lasut
Jurnal Agroekoteknologi Terapan Vol. 4 No. 1 (2023): EDISI JANUARI-JUNI 2023
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/jat.v4i1.45669

Abstract

Traditional medicinal plants are types of plants that are believed by humans to treat several diseases and have been used for generations until now.  This study aims to identify the types of medicinal plants and know how to use and process them.  The method used in this study is the method of observation and interviews using a questionnaire.  Sampling using purposive sampling technique to 30 respondents, namely people who use medicinal plants. There are 27 species of plants from 17 families that are used as traditional medicine, with the most members being lamiaceae (4 species).  the benefits of medicinal plants, namely: treating internal wounds such as dead blood, healing body aches and lowering blood pressure, curing kidney disease, smoothing menstruation or menstruation in women, treating diabetes and high blood pressure, curing coughs and high blood pressure, treating pain stomach, back pain and itching, relieves tingling, cures coughs, ulcers, heart disease and canker sores treats poisoning, treats the liver, smoothes chapters, stops blood when injured, promotes urination, cures cholesterol and stomach acid, treats boils and headaches. How to use: drink before eating, after eating, and taped/pasted  Method of processing: boiled, brewed, pounded, crushed, glued/pasted. Keywords: medicinal plants, West Mapanget Abstrak Tumbuhan obat tradisional adalah jenis tumbuhan yang dipercaya oleh manusia yang berfungsi untuk mengobati beberapa penyakit dan telah digunakan secara turun-temurun sampai saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis tumbuhan obat dan mengetahui cara penggunaan dan pengolahannya. Metode yang digunakan pada penelitian adalah metode observasi dan wawancara menggunakan kuesioner. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling terhadap 30 responden yaitu masyarakat yang menggunakan tumbuhan obat. Terdapat 27 jenis tumbuhan dari 17 famili yang dimanfaatkan sebagai obat tradisional, dengan anggota terbanyak lamiaceae (4 jenis). manfaat tumbuhan obat yaitu: mengobati luka dalam seperti darah mati, menyembuhkan badan pegal-pegal, dan menurunkan tekanan darah, menyembuhkan penyakit ginjal, melancarkan haid atau datang bulan pada perempuan, mengobati sakit gula dan darah tinggi, menyembuhkan  batuk dan darah tinggi, mengobati sakit perut, sakit belakang dan gatal-gatal, menghilangkan kesemutan, menyembuhkan batuk, maag, penyakit jantung dan sariawan mengobati keracunan, mengobati liver, untuk melancarkan bab, menghentikan darah ketika luka,  melancarkan kencing, menyembuhkan kolesterol dan asam lambung, mengobati bisul dan sakit kepala. Cara penggunaan: diminum sebelum makan, sesudah makan dan direkatkan/tempelkan. Cara pengolahannya: direbus, diseduh, ditumbuk, dilumatkan, direkatkan/tempelkan. Kata kunci : tumbuhan obat, Mapanget Barat
The Influence Of Morinda Citrifolia Fruit As Liquid Organic Fertilizer (Poc) For The Growth And Yield Of Shallots (Allium Ascalonicum L.) fadlika mawali; Selvie Tumbelaka; Tommy D. Sondakh; Ronny Nangoi
Jurnal Agroekoteknologi Terapan Vol. 4 No. 1 (2023): EDISI JANUARI-JUNI 2023
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/jat.v4i1.46203

Abstract

Liquid organic fertilizer is organic fertilizer in liquid form and is generally an organic substance dissolved in a solvent such as water. Organic fertilizers are not only in solid form in liquid form like inorganic fertilizers. This study aims to study the effect of noni liquid organic fertilizer on the growth and yield of shallot plants and to determine the best dosage of noni liquid organic fertilizer on the growth and yield of shallot plants. This study used a completely randomized design (CRD). In this experiment there were 4 treatments, namely P0 : 0% POC (without treatment), P1 : 10% liquid fertilizer made from noni, P2 : 20% liquid fertilizer made from noni, P3 : 30% liquid fertilizer made from noni. Each treatment was repeated 4 times to obtain 16 experimental plants. Parameters observed were plant height, number of tillers, number of leaves, fresh weight and dry weight. Noni fruit as POC did not significantly affect the growth and yield of shallots. The best concentration that can be used for shallots is 20% POC of noni fruit. Keywords. Organic fertilizer, POC, noni fruit, red onion Abstrak Pupuk organik cair adalah pupuk organik yang berbentuk cair dan umumnya merupakan bahan organik yang dilarutkan dalam suatu pelarut seperti air. Pupuk organik tidak hanya berbentuk padat dalam bentuk cair seperti halnya pupuk anorganik. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh pupuk organik cair mengkudu terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah serta menentukan dosis pupuk organik cair mengkudu yang terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Pada percobaan ini terdapat 4 perlakuan yaitu P0 : 0% POC (tanpa perlakuan), P1 : 10% pupuk cair berbahan mengkudu, P2 : 20% pupuk cair berbahan mengkudu, P3 : 30% pupuk cair berbahan mengkudu. Setiap perlakuan diulang sebanyak 4 kali sehingga diperoleh 16 tanaman percobaan. Parameter yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah anakan, jumlah daun, berat segar dan berat kering. Buah mengkudu sebagai POC tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan hasil bawang merah. Konsentrasi terbaik yang dapat digunakan untuk bawang merah adalah 20% POC buah mengkudu. Kata kunci. Pupuk organik, POC, buah mengkudu, bawang merah
Biology Of Corcyra Cephalonica Stainton (Lepidoptera: Pyralidae) On Several Types Of Feed Media Yulio Runtu; Jackson F. Watung; Robert W. Tairas
Jurnal Agroekoteknologi Terapan Vol. 4 No. 1 (2023): EDISI JANUARI-JUNI 2023
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/jat.v4i1.46476

Abstract

Corcyra cephalonica is one of the insect pests that attack food commodities in storage houses. The use of different feed media will affect the biology of C. cephalonica. This study aims to determine the biological differences of C. cephalonica by using several types of feed media. This study used a completely randomized design (CRD) method with 3 treatments and repeated 4 times consisting of A = 500 grams of rice bran feed media, B = 500 grams of corn bran media, and C = 500 grams of mixed bran feed media. The results showed that the number of eggs produced in rice bran was 388.25 grains, corn bran 346.00 grains, and mixed bran 344.50 grains. The egg stage in each treatment feed medium occurred for 3-4 days. The larval stage of rice bran occurred for 31.00 days, corn bran for 25.00 days and mixed bran 28.00 days. Pupa stage in rice bran occurred for 9.50 days, corn bran 7.50 days and mixed bran 8.50 days. The female stage of rice bran occurred for 6.25 days, maize bran 9.50 days and mixed bran 8.25 days. Meanwhile, the male stage of rice bran took 6.00 days, maize bran 8.75 days and mixed bran 7.25 days. The length of eggs produced by C. cephalonica on rice bran feed media ranged from 0.26-0.35 mm, corn bran ranged from 0.29-0.38 mm and mixed bran ranged from 0.28-0.37 mm. The sex ratio produced on rice bran feed media was 1:0.79, corn bran 1:1.12 and mixed bran 1:0.76. The developmental life span of C. cephalonica in rice bran was 44.50 days, maize bran 36.75 days and mixed bran 40.50 days. Keywords: Biology, Corcyra cephalonica, feed media Abstrak Corcyra cephalonica merupakan salah satu serangga hama yang menyerang komoditas pangan di gudang penyimpanan. Penggunaan media pakan berbeda akan mempengaruhi biologi C. cephalonica. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan biologi C. cephalonica dengan menggunakan beberapa jenis media pakan. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan di ulang sebanyak 4 kali yang terdiri dari A = media pakan dedak padi 500 gram, B = media dedak jagung 500 gram dan C = media pakan dedak campuran 500 gram. Hasil penelitian menunjukkan untuk jumlah telur yang dihasilkan pada dedak padi sebanyak 388,25 butir, dedak jagung 346,00 butir dan dedak campuran 344,50 butir. Stadium telur di setiap media pakan perlakuan terjadi selama 3-4 hari. Stadium larva pada dedak padi terjadi selama 31,00 hari, dedak jagung selama 25,00 hari dan dedak campuran 28,00 hari. Stadium pupa pada dedak padi terjadi selama  9,50 hari, dedak jagung 7,50 hari dan dedam campuran 8,50 hari. Stadium imago betina pada dedak padi terjadi selama 6,25 hari, dedak jagung 9,50 hari dan dedak campuran 8,25 hari. Sedangkan untuk stadium imago jantan pada dedak padi terjadi selama 6,00 hari, dedak jagung 8,75 hari dan dedak campuran 7,25 hari. Panjang telur yang dihasilkan oleh C. cephalonica pada media pakan dedak padi berkisar 0,26-0,35 mm, dedak jagung berkisar 0,29-0,38 mm dan dedak campuran berkisar 0,28-0,37 mm. Nisbah kelamin yang dihasilkan pada media pakan dedak padi yakni 1:0,79, dedak jagung 1:1,12 dan dedak campuran 1:0,76. Lama perkembangan hidup C. cephalonica pada dedak padi terjadi selama 44,50 hari, dedak jagung 36,75 hari dan dedak campuran 40,50 hari. Kata Kunci: Biologi, Corcyraa cephalonica, Media Pakan
Development Snack Bar Composite Flour of Goroho Banana (Musa Acuminata), Purple Yams (Ipomoea Batatas L.) And Green Bean (Vigna Radiata) Erny J.N. Nurali; Eka T. P. Ruindungan; Mercy I.R. Taroreh; Dekie Rawung; Joachim J. E. Ossoe
Jurnal Agroekoteknologi Terapan Vol. 4 No. 1 (2023): EDISI JANUARI-JUNI 2023
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/jat.v4i1.46478

Abstract

Snack bars are an emergency food source of energy because they contain sufficient calories and complete nutrition. The purpose of this research is to (1) Analyzed the nutritions content (moist, ash, protein, fat, carbohydrate dan crude fiber) of the snack bar made from composite flour of goroho plantain, purple sweet potato, and mung beans, (2) evaluate the sensory preferences of snack bars which is made from composite flour of goroho plantain, purple sweet potato, and mung beans preferred. This research was used a completely randomized design (CRD) with various treatments of goroho banana flour, purple sweet potato flour, mung bean flour, namely A (25% : 45% : 30%), B (35% : 35% : 30%) , C (45% : 25% 30%), D (55% : 15% : 30%). The result showed that the nutritional content of the composite flour snack bar of goroho plantain, purple sweet potato, and green beans have an average value of moist (11.82% - 15.09%), ash (2.31% - 3.03%) , protein (10.96% - 12.71%), fat (8.23% - 8.99%), carbohydrates (62.63% - 63.86%), crude fiber (2.17% - 3.15%) and total calories 375,5 kkal – 383,39 kkal with a preference for color is 4.58 - 5.3 (slightly like), aroma is 4.70 - 4.84 (slightly like), taste is 4.17 - 4.96 (neutral - moderately like), and texture is 3.60 – 4.41 (neutral). Keywords: Snack bar, Goroho Plantain Flour, Purple Sweet Potato Flour, Mung Bean Flour . Abstrak Snack bar merupakan pangan darurat sumber energi karena mengandung kalori yang cukup dan gizi yang lengkap. Tujuan penelitian ini untuk (1) menganalisis kandungan gizi (kadar air, kadar abu, kadar protein, kadar lemak, kadar karbohidrat, kadar serat kasar dan total kalori) snack bar tepung komposit pisang goroho, ubi jalar ungu dan kacang hijau (2) mengevaluasi tingkat kesukaan produk snack bar tepung komposit pisang goroho, ubi jalar ungu dan kacang hijau. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan variasi tepung pisang goroho, tepung ubi jalar ungu, tepung kacang hijau, yaitu A (25% : 45% : 30%), B (35% : 35% : 30%), C (45% : 25% 30%), D (55% : 15% : 30%). Hasil kandungan gizi snack bar tepung komposit pisang goroho, ubi jalar ungu, dan kacang hijau memiliki nilai rata-rata yaitu kadar air (11,82% - 15,09%), kadar abu (2,31% - 3,03%), kadar protein (10,96% - 12,71%), kadar lemak (8,23% - 8,99%), karbohidrat (62,63% - 63,86%), serat kasar (2,17% - 3,15%) dan total kalori 375,5 kkal – 383,39 kkal dengan tingkat kesukaan terhadap warna 4,58 - 5,3 (agak suka), aroma 4,70 - 4,84 (agak suka), rasa 4,17 - 4,96 (netral - agak suka), dan tekstur 3,60 – 4,41 (netral). Kata kunci: Snack Bar, Tepung Pisang Goroho, Tepung Ubi Jalar Ungu, Tepung Kacang Hijau
The Effect Of Several Concentrations Of Growth Regulatory Substance (ZPT) Auxin NAA (Naphthalene Acetic Acid) On The Root Growth Of Vanila (Vanila planifolia Andrew) Cuttings Raesita Dorhayne Timburas; Arthur G. Pinaria; Edy F. Lengkong
Jurnal Agroekoteknologi Terapan Vol. 4 No. 1 (2023): EDISI JANUARI-JUNI 2023
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/jat.v4i1.44100

Abstract

Vanilla cultivation is generally propagated vegetatively, namely by stem cuttings, but the growth potential is still very low, so special treatment is required, such as giving growth regulators (ZPT) which can stimulate growth. ZPT which is often found in the market is Auxin which functions to stimulate growth and stimulate cell division and enlargement. The use of auxin NAA growth regulator causes faster and longer root formation, forming a strong, compact and fibrous root system. This study was an experimental study using a completely randomized design (CRD) consisting of 7 treatments and 5 replications so that the number of plants was 35 plants. The observed variables measured were root growth time, root length, and root dry weight. The results of the research statistically showed that the ZPT NAA treatment had a significant effect on the root appearance and root length variables, but had no significant effect on the root length variable. Keywords: Vanilla, ZPT, Auxin NAA Abstrak Budidaya vanili umumnya diperbanyak secara vegetatif yaitu dengan stek batang, namun potensi tumbuhnya masih sangat rendah sehingga diperlukan perlakuan khusus seperti pemberian zat pengatur tumbuh (ZPT) yang dapat merangsang pertumbuhan. ZPT yang banyak dijumpai di pasaran adalah Auksin yang berfungsi untuk merangsang pertumbuhan dan merangsang pembelahan dan pembesaran sel. Penggunaan zat pengatur tumbuh auksin NAA menyebabkan pembentukan akar lebih cepat dan lama, membentuk sistem perakaran yang kuat, kompak dan berserat. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 7 perlakuan dan 5 ulangan sehingga jumlah tanaman adalah 35 tanaman. Variabel pengamatan yang diukur adalah waktu tumbuh akar, panjang akar, dan berat kering akar. Hasil penelitian secara statistik menunjukkan bahwa perlakuan ZPT NAA berpengaruh nyata terhadap variabel kenampakan akar dan panjang akar, namun tidak berpengaruh nyata terhadap variabel panjang akar. Kata kunci: Vanili, ZPT, Auxin NAA

Page 8 of 21 | Total Record : 207