cover
Contact Name
Fritz Humphrey Silalahi
Contact Email
fritz.humphrey11@gmail.com
Phone
+628111897169
Journal Mail Official
ksmpmisentris@gmail.com
Editorial Address
Jl. Ciumbuleuit No.94, Hegarmanah, Kec. Cidadap, Kota Bandung, Jawa Barat 40141
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Sentris
Core Subject : Economy, Education,
International Politics and Security International Politics and Economy International Organizations and Regime Politics, Media, and Transnational Society
Articles 161 Documents
Kerja Sama Bilateral Indonesia dan Australia dalam IA-CEPA : Indonesia Gisella Linardy; Jeannifer Lauwren; Tasya Caroline; Jessica Friesca Hana Dayoh; Rotua Isaura Yemima
Jurnal Sentris 2021: Jurnal Sentris Edisi Khusus Diplomasi
Publisher : Kelompok Studi Mahasiswa Pengkaji Masalah Internasional Unpar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Selama beberapa tahun terakhir ini, hubungan diplomatik antara Indonesia dengan Australia khususnya di sektor ekonomi telah mengalami peningkatan yang signifikan melalui pertumbuhan perdagangan bebas dan investasi. Hubungan keduanya semakin diperkuat melalui pembentukan Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) yang sudah berlaku pada 5 Juli 2020. Analisis SWOT akan digunakan untuk mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang muncul selama pemberlakuan IA-CEPA. Tujuan dari analisis ini yaitu agar Indonesia dapat memaksimalkan keuntungannya sebagai partner dagang terbesar ke-13 bagi Australia dengan memanfaatkan hubungan baik di sektor pariwisata dan pendidikan untuk mempermudah keduanya dalam menjalin kerja sama. Pada saat yang bersamaan, Indonesia juga dapat mengurangi kemungkinan terjadinya kegagalan dalam IA-CEPA akibat defisit dalam neraca perdagangan Indonesia, pandangan negatif masyarakat Australia terhadap Indonesia, terutama jika ada kemungkinan terjadinya dominasi pasar Indonesia oleh produk Australia. Dengan menganalisis aktivitas diplomasi berikut, ditemukan bahwa hubungan diplomasi dalam IA-CEPA didasari oleh kepentingan ekonomi Indonesia dan Australia, dimana pelaksanaan diplomasi antara keduanya terus dipengaruhi oleh berbagai aspek berupa kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman. Kata Kunci: Indonesia, Australia, Indonesia-Australia Comprehensive Economic PartnershipAgreement (IA-CEPA), diplomasi bilateral, kerja sama ekonomi
Asian Games 2018 Sebagai Implementasi Diplomasi Publik Indonesia Dinda Chintami Wibowo; Ciecillia Michelle Savira; Andhini Retno Kinasih; Kayla Yaffa Renata; Rayhan Ananda; Danesh Keilana Pangestu
Jurnal Sentris 2021: Jurnal Sentris Edisi Khusus Diplomasi
Publisher : Kelompok Studi Mahasiswa Pengkaji Masalah Internasional Unpar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Asian Games 2018 pada mulanya direncanakan untuk diselenggarakan di Hanoi, Vietnam. Namun, hantaman resesi ekonomi membuat Vietnam mengundurkan diri sebagai tuan rumah Asian Games 2018 dan digantikan oleh Indonesia. Melalui lensa kepentingan nasional dari sudut pandang liberalisme, studi ini menemukan bahwa keinginan Indonesia untuk menjadi tuan rumah Asian Games 2018 beririsan dengan strategi diplomasi publik Indonesia yang memanfaatkan kepentingan bersama dari negara peserta Asian Games 2018 lainnya. Indonesia menggunakan Asian Games 2018 sebagai alat untuk membentuk nation branding-nya dengan mengimplementasikan diplomasi budaya yang merupakan salah satu dari lima pendekatan diplomasi publik. Kata Kunci: Diplomasi publik, Asian Games 2018, Indonesia, soft power, kepentingan nasional.
Tujuan Diplomasi Kesehatan Indonesia di Masa Pandemi COVID-19: Studi Kasus dalam Diplomasi Bilateral Indonesia dengan Fiji dan Kepulauan Solomon Yuliyanti Seva; Anastasia Cattleya Limantara; Elvira Gosal; Hanna Anindita Paramastuti; Ignatius Bintang Kriswicaksana; Zulaekha Amalia
Jurnal Sentris 2021: Jurnal Sentris Edisi Khusus Diplomasi
Publisher : Kelompok Studi Mahasiswa Pengkaji Masalah Internasional Unpar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sejak pandemi COVID-19 menghantam dunia di awal tahun 2020, banyak negara mengalami berbagai pergolakan dalam penempatan prioritas kebijakan nasionalnya, salah satunya dalam sektor hubungan luar negeri mereka. Indonesia merupakan salah satu negara yang tidak luput dari pergolakan tersebut. Masalah kesehatan kini menjadi salah satu kebijakan prioritas Indonesia tidak hanya di tingkat domestik, namun juga internasional. Dalam praktik diplomasi, Indonesia kini mulai aktif dalam kegiatan Diplomasi Kesehatan, termasuk dalammenjalin hubungan dengan negara-negara di kepulauan Pasifik seperti Fiji dan Kepulauan Solomon. Posisi hubungan bilateral Indonesia dengan Fiji dan Kepulauan Solomon ini menarik jika dilihat dari sisi praktik Diplomasi Kesehatan. Indonesia biasanya berada dalam posisi penerima bantuan, bukan sebagai pemberi bantuan. Melalui lensa Rational Choice Theory (RCT), dapat dilihat bahwa kebijakan Indonesia untuk memberikan bantuan kepada kedua negara ini merupakan keputusan yang rasional karena membawa keuntungan yang dapat dibuktikan melalui dampak pada sektor kemanusiaan, perekonomian, serta turutmeningkatkan solidaritas dalam kawasan. Kata Kunci: Diplomasi kesehatan, Indonesia, Rational Choice Theory, RCT, Diplomasi Bilateral, Fiji, Kepulauan Solomon.
Peran Penting Diplomasi Multilateral Indonesia Melalui Kerangka ASEAN dalam Proses Penyelesaian Konflik Laut China Selatan Rosa Virginia Adela; Chrisa Grace Nada; Yoshe Angela; Gabriella Permana; Rahel Shininta; Sean Gaudialmo
Jurnal Sentris 2021: Jurnal Sentris Edisi Khusus Diplomasi
Publisher : Kelompok Studi Mahasiswa Pengkaji Masalah Internasional Unpar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konflik di Laut China Selatan atau Laut Natuna Utara adalah konflik yang melibatkan China dan sejumlah negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dan telah berlangsung dalam kurun waktu yang cukup lama. Hingga kini, belum ada upaya penyelesaian konkret atas konflik ini. Dalam menghadapi konflik ini, Indonesia telah melakukan beberapa upaya unilateral. Namun, upaya yang dilakukan Indonesia belum sepenuhnya efektif. Melalui diplomasi multilateral di ASEAN, Indonesia bersama negara-negara ASEAN lainnya telah menempuh sejumlah upaya damai, termasuk melalui pembuatan The Declaration of Conduct(DOC) dan Code of Conduct (COC). Melalui mekanisme analisis SWOT pada studi ini, tampak bahwa upaya diplomasi multilateral melalui kerangka ASEAN telah bekerja secara lebih efektif, meski masih memiliki kekurangan. Diplomasi multilateral melalui kerangka ASEAN dapat menjadi alternatif untuk mewadahi kepentingan nasional Indonesia dan negara-negara ASEAN lainnya yang terlibat dalam konflik ini. Kata Kunci: Diplomasi multilateral, Indonesia, Konflik Laut China Selatan, ASEAN.
Mengukur Efektivitas Preventive Diplomacy Indonesia Di ASEAN Dalam Menanggapi Konflik Kudeta Militer Myanmar 2021 Gabriella Alva Cayetha; Deandra Silka Aurellia; Cheryl Jemima Faustine; Marline Kurniawan; Nadia Suhairy; Veronica Anastasia Kartono
Jurnal Sentris 2021: Jurnal Sentris Edisi Khusus Diplomasi
Publisher : Kelompok Studi Mahasiswa Pengkaji Masalah Internasional Unpar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada tanggal 1 Februari 2021, dunia internasional dikejutkan dengan jatuhnya pemerintahan Myanmar ke dalam kudeta dan junta militer lewat penangkapan Aung San Suu Kyi, Presiden Win Myint dan para pemimpin National League for Democracy (NLD) oleh pihak militer Tatmadaw. Melihat konflik ini, Indonesia yang merupakan ‘tetua dari ASEAN’ menginisiasikan preventive diplomacy dalam ASEAN yang menghasilkan five point consensus. Penelitian ini akan menganalisis apakah tindakan preventive diplomacy Indonesia di dalam ASEAN untuk menghadapi kudeta militer Myanmar efektif yang diukur melalui konsep indikator keberhasilan preventive diplomacy di ASEAN oleh Amanda Huan dan Ralf Emmers. Faktor yang melatarbelakangi ketidakefektifan preventive diplomacy Indonesia datang ketertarikan great power yang sangat minim, krisis legitimasi yang dimiliki badan preventive diplomacy di ASEAN maupun kredibilitas Indonesia sebagai ‘tetua’ yang bersifat subjektif, dan bentuk perjanjian five point consensus yang didasari oleh prinsip non-interference dan consensus based approach. Analisis menunjukkan bahwa preventive diplomacy yang telah dilakukanIndonesia bersifat sama sekali tidak efektif dan gagal. Keywords: preventive diplomacy, kudeta militer Myanmar, ASEAN, diplomasi
Nasionalisme Inggris dan Kekerasan Berbasis Kebencian terhadap Muslim Studi Kasus English Defence League Muhammad Naufal Hanif; Ignatius Satria Wibisono; Dedi Yusuf; Muhammad Valdy Akbar Zam; Nigel Januar Hartono
Jurnal Sentris Vol. 2 No. 2 (2021): Jurnal Sentris
Publisher : Kelompok Studi Mahasiswa Pengkaji Masalah Internasional Unpar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/sentris.v2i2.4641.177-191

Abstract

Bangkitnya nasionalisme Inggris telah dicatat dan diteliti secara baik sejak dekade 1990-an, terlebih pasca-hasil Brexit, dengan catatan mengenai identitas Inggris yang mengambil bentuk ketidakamanan finansial, nostalgia atas masa lalu imperial, xenofobia, dan anti-elitisme. Pada waktu yang sama, kekerasan berbasis kebencianterhadap komunitas Muslim di berbagai kawasan Inggris juga telah diarsipkan dan dikaji dengan baik, dengan penjelasan mengenai motif pelaku mengarah pada penemuan individu-individu yang terperangkap dalam ketidakpercayaan mendalam terhadap non-Inggris dan ketakutan akan kehilangan identitasnya sebagai orang Inggris. Meskipun kedua fenomena ini memiliki fitur-fitur yang sangat mirip, jarang ditemukan penjelasan yang mengarah pada usaha untuk menghubungkan kedua fenomena kontemporer di lanskap identitas politik Inggris ini. Menggunakan contoh English Defence League yang sangat kontroversial serta pemimpinnya Tommy Robinson pada puncak aktivitas mereka di akhir dekade pertama abad ke-21, kami menemukan bahwa terdapat setidaknya korelasi kuat antara kedua fenomena dan kemungkinan nasionalisme Inggris sebagai salah satu penyebab penting yang secara langsung mengarah kepada kejadian-kejadian kejahatan berbasis kebencian untuk kaum minoritas di Inggris. Kata Kunci: nasionalisme Inggris, English Defence League, kekerasan kebencian, Islamofobia
Limbah Medis pada COVID – 19 di Indonesia: Faktor Kompleksitas dan Upaya Reformasi Dovana Hasiana; Triani Safira; Laode Muhamad Fathun
Jurnal Sentris Vol. 2 No. 2 (2021): Jurnal Sentris
Publisher : Kelompok Studi Mahasiswa Pengkaji Masalah Internasional Unpar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/sentris.v2i2.4999.152-165

Abstract

Pandemi telah mengubah tatanan hubungan internasional. Di antara semua perubahan yang terjadi pada pandemi, perubahan lingkungan merupakan salah satu perubahan yang disoroti oleh para aktor hubungan internasional. Perubahan lingkungan di masa pandemi menjadi semakin kompleks seiring dengan bertambahnya jumlah limbah medis yang tidak diikuti dengan fasilitas yang memadai untuk mengelolanya. Tulisan ini berupaya untuk menganalisis faktor-faktor penyebab kompleksnya pengelolaan limbah medis dan upaya reformasi pengelolaan limbah medis di Indonesia pada masa pandemi COVID-19. Apabila dianalisis dengan kerangka teori, penulis menemukan bahwa akar permasalahan dari pengelolaan limbah medis adalah pendekatan yang digunakan, yaitu pendekatan Ancillary dan Top-Down, yang terlihat dengan adanya standarisasi pengelolaan limbah medis, yang pada akhirnya membuat kebijakan lingkungan hidup menjadi lebih sulit untuk diimplementasikan. Oleh karena itu, pembenahan pengelolaan limbah medis harus dilakukan dengan pendekatan holistik, dimana isu lingkungan dipandang sebagai komponen strategis dan diperlukannya kolaborasi oleh lima pemangku kepentingan yaitu pemerintah, lembaga, akademisi, industri dan masyarakat berdasarkan kerangka Penta-Helix. Kata kunci: COVID – 19, Indonesia, Keamanan Lingkungan, Pengelolaan Limbah Medis
Klaster Industri Budaya sebagai Dasar Manuver Politik Korea Selatan Asinauli Tamba
Jurnal Sentris Vol. 2 No. 2 (2021): Jurnal Sentris
Publisher : Kelompok Studi Mahasiswa Pengkaji Masalah Internasional Unpar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/sentris.v2i2.5003.192-213

Abstract

Pada Juli tahun 2016, Korea Selatan bersepakat dengan aliansi militernya, Amerika Serikat untuk memasang Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) di wilayahnya. Adapun kepentingan Amerika Serikat adalah untuk menyebarkan pengaruh dan menjaga stabilitas kawasan Asia Timur. Sementara, kepentingan Korea Selatan adalah untuk melindungi negaranya dari praktik uji coba nuklir Korea Utara di Semenanjung Korea. Namun pemasangan THAAD ditolak oleh Tiongkok yang menganggap instrumen itu memicu ketegangan di kawasan dan menghambat dominasinya. Dalam menunjukkan ketidaksetujuannya pada kerjasama pertahanan anti-misil THAAD antara Korea Selatan dan Amerika Serikat, Tiongkok memberikan sanksi ekonomi berupa boikot khususnya pada produk-produk industri kebudayaan milik Korea Selatan. Pada Oktober 2017, Korea Selatan menyetujui permintaan Tiongkok untuk mengubah kebijakan THAAD melalui poin-poin yang tercantum dalam Three NOs. Perubahan yang drastis dan signifikan pada politik luar negeri Korea Selatan menjadi hal yang dipertanyakan dalam penelitian ini. Penelitian ini menggunakan teori neorealisme sebagai logika berpikir dan mengemukakan bahwa hallyu atau industri kebudayaan sebagai alasan utama manuver politik yang dipilih Korea Selatan sebagimana boikot Tiongkok sebagai pangsa pasar utama hallyu telah melumpuhkan perekonomian Korea Selatan. Korea Selatan memilih strategi bandwagoning ditengah ancaman demi dapat mempertahankan produksi dan persebaran produk-produk kebudayaan yang tengah menjadi sumber devisa utama nagi negara. Adapun penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data yang berupa studi kepustakaan. Kata Kunci: Korea Selatan, Tiongkok, Amerika Serikat, THAAD, Boikot, Industri Budaya, Hallyu.
Dua Jalur Penanganan Pengungsi: Analisis Diplomasi Migrasi di Asia Tenggara Arrizal Anugerah Jaknanihan; Muhammad Anugrah Utama; Felice Valeria Thessalonica
Jurnal Sentris Vol. 2 No. 2 (2021): Jurnal Sentris
Publisher : Kelompok Studi Mahasiswa Pengkaji Masalah Internasional Unpar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/sentris.v2i2.5013.132-151

Abstract

Diskursus dalam isu migrasi di Asia Tenggara umumnya didominasi oleh perspektif keamanan. Involuntary migration, baik pengungsi maupun pencari suaka, kerap dipandang sebagai ancaman keamanan dan ekonomi negara penerima, terutama sejak Krisis Pengungsi Asia Tenggara pada 2015. Meskipun demikian, beberapa negara seperti Indonesia, Thailand, dan Malaysia cenderung bersikap akomodatif terhadap pengungsi. Kondisi tersebut kontras mengingat di Asia Tenggara, hanya Kamboja, Timor Leste, dan Filipina yang meratifikasi Konvensi Pengungsi 1951. Tulisan ini berupaya untuk menganalisis upaya penanganan pengungsi tersebut sebagai fenomena ‘diplomasi migrasi,’ yaitu utilisasi kebijakan migrasi negara untuk memenuhi tujuan diplomasi serta diplomasi masyarakat sipil untuk memengaruhi kebijakan negara. Cakupan riset ini ialah analisis di tingkat kawasan (Asia Tenggara) yang berfokus pada dua aktor yaitu negara-negara anggota ASEAN dengan aktor-aktor non-negara, khususnya masyarakat sipil. Melalui kerangka teori Diplomasi Migrasi dan Multi-Track Diplomacy, tulisan ini berargumen bahwa terdapat upaya diplomasi migrasi di Asia Tenggara yang dilangsungkan melalui dua jalur utama, yaitu secara formal melalui negara dan informal melalui masyarakat sipil yang memengaruhi negara. Diplomasi migrasi dilakukan secara berkesinambungan melalui interaksi antara dua aktor tersebut. Selain untuk membentuk citra baik, kebijakan pengungsi juga turut meningkatkan posisi tawar negara untuk mencapai kepentingan ekonomi dan politik lainnya. Pada bagian akhir, tulisan ini merekomendasikan kebijakan yang lebih akomodatif dengan memberi sokongan kepada organisasi internasional dan kelompok masyarakat sipil yang melakukan penanganan terhadap pengungsi secara lebih otonom. Kata kunci: Pengungsi, Rohingya, Diplomasi Migrasi, Asia Tenggara, Masyarakat Sipil
Dampak Covid-19 : Membayangkan Kembali Wajah Pendidikan di Indonesia Rifqi Ananta Haidar; Fenti Agustina
Jurnal Sentris Vol. 2 No. 2 (2021): Jurnal Sentris
Publisher : Kelompok Studi Mahasiswa Pengkaji Masalah Internasional Unpar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/sentris.v2i2.5081.121-131

Abstract

Pandemi covid-19 telah mengagetkan seluruh dunia dan berdampak pada banyak sektor di negara-negara salah satunya sektor pendidikan. Proses belajar siswa telah berubah dari pembelajaran tradisional menjadi proses pembelajaran berbasis online. Di Indonesia telah dilaksanakan sejak 16 Maret 2020. Indonesia menghadapi tantangan yang cukup berat untuk memastikan proses pembelajaran siswa tetap berjalan, terutama dalam hal kesiapan sistem pendidikan dalam mengadaptasi budaya online. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui dan mendalami implementasi sistem pendidikan di Indonesia pada masa pandemi covid-19 serta memahami peran media digital dalam sistem pendidikan di era pandemi. Tulisan ini menggunakan pendekatan yang mengumpulkan data berbasis dokumen dan berbasis internet dan dianalisis menggunakan perspektif dan teori Hubungan Internasional. Ditemukan bahwa, Indonesia memiliki banyak tantangan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran online. Namun demikian, negara ini terus meningkatkan kualitas sistem pendidikannya. Kata Kunci: Indonesia; Pendidikan; Covid-19; Pembelajaran daring.

Page 9 of 17 | Total Record : 161