cover
Contact Name
Fritz Humphrey Silalahi
Contact Email
fritz.humphrey11@gmail.com
Phone
+628111897169
Journal Mail Official
ksmpmisentris@gmail.com
Editorial Address
Jl. Ciumbuleuit No.94, Hegarmanah, Kec. Cidadap, Kota Bandung, Jawa Barat 40141
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Sentris
Core Subject : Economy, Education,
International Politics and Security International Politics and Economy International Organizations and Regime Politics, Media, and Transnational Society
Articles 161 Documents
ANATOMI SEKURITISASI PANDEMI COVID-19: KOMPARASI ANTARA PAKISTAN DAN INDONESIA Alfin Febrian Basundoro; Lazarus Andja Karunia
Jurnal Sentris Vol. 2 No. 1 (2021): Jurnal Sentris
Publisher : Kelompok Studi Mahasiswa Pengkaji Masalah Internasional Unpar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/sentris.v2i1.4609.1-20

Abstract

COVID-19 yang melanda dunia hampir setahun terakhir mengakibatkan krisis yang masif di berbagai negara. Hingga Oktober 2020, WHO mencatat lebih dari 37 juta orang terkonfirmasi positif COVID-19 dengan lebih dari 11 juta kasus aktif.1 Tidak hanya sektor kesehatan masyarakat, pandemi ini juga menghancurkan sektor strategis lainnya, seperti ekonomi dan sosial-politik. Negara-negara di dunia dipaksa untuk melakukan rangkaian pembentukan kebijakan yang dapat seefektif mungkin mengurangi dampak pandemi terhadap warga negaranya, sekaligus mengatasi aneka permasalahan yang mengikuti pandemi tersebut dalam aneka sektor. Makalah ini berusaha menganalisis secara komparatif dua negara berkembang yang mengalami dampak pandemi COVID-19 yang cukup signifikan, yakni Pakistan dan Indonesia. Sejumlah kemiripan kedua negara, seperti masifnya jumlah penduduk, kolaborasi sipil-militer yang cukup signifikan, penerapan kunci sementara (lockdown) parsial, dan penerapan sejumlah kebijakan lain yang bertujuan untuk menyelamatkan ekonomi nasional menjadi pertimbangan pemilihan topik ini. Sekuritisasi yang dilakukan oleh kedua negara sebagai upaya untuk memosisikan pandemi COVID-19 sebagai isu keamanan nontradisional yang pelik juga menjadi sorotan global terkait bagaimana negara berkembang mengatasi pandemi, dan karenanya, menarik untuk dianalisis. Copenhagen School akan menjadi konsep dasar dalam menganalisis sekuritisasi kedua negara secarakomparatif, menekankan pada tahapan-tahapan sekuritisasi.3 Nantinya, penelitian ini akan membandingkan seberapa efektif tindakan sekuritisasi yang dilakukan oleh kedua negara dalam mengimplementasikan kebijakan penanganan pandemi COVID-19. Tidak hanya itu, penelitian ini juga mencakup apa saja faktor yang menentukan keberhasilan atau kegagalan sekuritisasi kedua negara. Orientasi penelitian akan cukup banyak berkutat pada hubungan sipil-militer kedua negara dan relasinya dalam desekuritisasi, juga sedikit menyentuh isu demokratisasi penanganan COVID-19.
Pendekatan Strategis dalam Persaingan: Interdependensi Finansial Amerika Serikat dan Tiongkok Zulaekha Amalia
Jurnal Sentris Vol. 2 No. 1 (2021): Jurnal Sentris
Publisher : Kelompok Studi Mahasiswa Pengkaji Masalah Internasional Unpar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/sentris.v2i1.4613.105-120

Abstract

China has become a challenge to the advancement of the United States. This is supported by facts that show the great dependence of the United States. Through China's financial and economic power, China was able to lock in the power of the United States in the international system. This condition can be a dangerous threat if the power is used as state instrument. Therefore, this article will aim to show how China's financial and economic influence can pose a threat to the United States and the world. Then, this article will present the financial interdependence that is viewed through the immense debt of the United States to China and its relation to world trade and an analysis of the threats caused by these powers. This article uses the concept of Power and Interdependence as described by Robert O. Keohane and Joseph S. Nye Jr. to be an analytical framework. This research is qualitative research based on case studies, which is reviewed through literature review from related data sources. The findings in this article show that China does indeed have a major influence on the sustainability of the United States and inevitably the two countries must have strong interdependence due to the threats they face.
Globalisasi dan Penerimaan LGBTQ+ di ASEAN: Studi Kasus Budaya Boys’ Love di Thailand Yasmin Nur Habibah; Januar Aditya Pratama; Mesagus Muhammad Iqbal
Jurnal Sentris Vol. 2 No. 1 (2021): Jurnal Sentris
Publisher : Kelompok Studi Mahasiswa Pengkaji Masalah Internasional Unpar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/sentris.v2i1.4615.87-103

Abstract

The global push for LGBTQ + still faces many challenges, especially in Eastern regions, and Southeast Asia is no exception. Most national laws identify LGBTQ + people as a psychiatric disorder who deserve certain penalties. This phenomenon certainly has an impact on how society accepts these people socially. According to research conducted by the Pew Research Center, public acceptance of the LGBTQ + movement has increased since 2002, even in countries that can be described as quite conservative, Thailand is no exception. The culture which became an industrial asset, namely ladyboys, is also an indication of Thailand's acceptance of the LGBTQ+ movement. Now, since 2018, the Thai film industry with the theme Boys' Love (BL) has received a lot of support from film and drama lovers, especially in ASEAN countries. In this paper, we will discuss the development of BL culture in Thailand, which then has the potential to have an impact on public acceptance of ASEAN member countries regarding LGBTQ + issues. Based on the analysis with the queer theory perspective, it is found that BL culture—which is often seen as the impact of socio-cultural globalization—can be a force that "triggers" the fluidity of society in terms of sexuality, even in the cultural environment of Southeast Asia which is known to be conservative.
Defensive Realism’s Perspective on Rising China’s Behavior as A Status Quo State Vincentia Vahistha Hirrya Jyalita
Jurnal Sentris Vol. 2 No. 1 (2021): Jurnal Sentris
Publisher : Kelompok Studi Mahasiswa Pengkaji Masalah Internasional Unpar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/sentris.v2i1.4621.73-86

Abstract

China’s rise through rapid development especially in the economic sector have prompted debates on whether it seeks to overtake the United States (U.S.) and strive for domination. However, China insists that it has no such intentions since it benefits from the current system and wishes to pursue peaceful development. This paper will analyze why China is not seeking to displace the U.S. and alter the international order despite claims from offensive realism that states are revisionist as they pursue domination to guarantee its survival under anarchy. This paper argues that defensive realism can better explain the case and that China is a status quo state unlike claims from offensive realism. The writer conducted the study with defensive realism’s perspective and utilized indicators from Steve Chan, Weixing Hu, and Kai He to determine whether China is a status quo state. The results show that defensive realism can fill the gap left by offensive realism and that China is indeed a status quo state. Kebangkitan China yang ditandai dengan perkembangan pesat, terutama dalam bidang ekonomi, telah memicu perdebatan tentang apakah China berusaha untuk mengambil alih kekuasaan Amerika Serikat (A.S.) dan mendominasi tatanan global. Namun, China bersikeras dalam mengklaim bahwa tidak ada niat seperti itu karena mendapatkan keuntungan dari sistem saat ini dan lebih ingin mengejar pembangunan secara damai. Artikel ini akan menganalisis mengapa China tidak berusaha untuk menggantikan A.S. maupun mengubah tatanan global, meskipun ada klaim dari offensive realism bahwa setiap negara adalah revisionist karena mereka memperluas kekuasaannya untuk menjamin kelangsungan hidupnya di bawah sistem dunia yang anarki. Dalam artikel ini, penulis berpendapat bahwa defensive realism dapat menjelaskan kasus ini dengan lebih baik dan China adalah negara status quo tidak seperti klaim dari offensive realism. Penulis melakukan studi dengan perspektif defensive realism dan menggunakan indikator dari Steve Chan, Weixing Hu, dan Kai He untuk menentukan apakah China merupakan negara status quo. Hasilnya menunjukkan bahwa defensive realism dapat mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh offensive realism dan bahwa China memang negara status quo.
NATO in The Very Cold War: Why the US Needs Nato in the Arctic Sharon Sebastian Effendy; Bernadeth Franchika; Vanessa Anthea Kusuma
Jurnal Sentris Vol. 2 No. 1 (2021): Jurnal Sentris
Publisher : Kelompok Studi Mahasiswa Pengkaji Masalah Internasional Unpar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/sentris.v2i1.4622.21-37

Abstract

Global warming and climate change resulting in the melting of sea ice within the Arctic have subsequently opened the possibility to explore and exploit the region. Previously seen as simply a region full of ice, the Arctic is believed to possess abundant natural resources, with an estimated 13% of undiscovered oil, 30% of natural gas resources in the world, as well as the opening of a new sea route which will be able to serve as a shortcut for countries to exchange goods - attracting states to pay closer attention to the region, be it militarily, politically, or economically, the United States being one of them. The increase in presence and power among Arctic and non-Arctic countries, especially Russia and China, has inarguably created a state of security dilemma among all parties involved, which is why if the US would like to seek a larger presence within the region, it becomes important for the country to involve NATO as one of its key partners, despite issues concerning the country and the organization. For the purpose of this paper, the aforementioned argument will further be supported using concepts of security dilemma, hegemonic stability theory, and the balance of threat.
Diplomasi Konferensi Indonesia Terkait Konflik Etnis Rohingnya di Myanmar Cheryl Natasha; M. Daffi Fauzan; Georgiana Rhea H.; Patricia Mutiara Tresna Putri; Ivana Lulu; Edina Yasmeen P.
Jurnal Sentris 2021: Jurnal Sentris Edisi Khusus Diplomasi
Publisher : Kelompok Studi Mahasiswa Pengkaji Masalah Internasional Unpar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diplomasi konferensi menjadi cara Indonesia mewujudkan kepentingan negaranya dan berpartisipasi dalam resolusi konflik internasional. Dalam KTT ASEAN ke-35, Indonesia mengartikulasikan niatnya untuk berkontribusi dalam penyelesaian konflik Rohingya. Tindakan Indonesia tersebut dijelaskan menggunakan teori diplomasi konferensi yang dikemukakan oleh A.J.R Groom. Selain itu, diplomasi konferensi Indonesia terkaitkonflik Rohingya juga memiliki kekuatan, kelemahan, peluang, hingga ancamannya tersendiri. Kesamaan mayoritas penduduk Muslim, identitas Indonesia dalam sistem internasional, hingga dukungan masyarakat domestik menjadi kekuatan bagi Indonesia. Namun, keterbatasan dana disertai instabilitas ekonomi dalam negeri, dan sikap Indonesia yang tidak tegas menjadi kelemahan Indonesia. Indonesia mendapatkan banyakdukungan dari pihak eksternal seperti, NGO, yayasan bantuan dana, dan negara anggota ASEAN. Namun di satu sisi, Myanmar justru menolak sikap Indonesia yang dinilai terlalu ikut campur. Dinamika tersebut membuat diplomasi konferensi Indonesia di era kepemimpinan Presiden Joko Widodo terkait etnis Rohingya di Myanmar belum sepenuhnya berhasil. Kata Kunci: Diplomasi konferensi, Rohingya, Indonesia, Analisis SWOT
Analisis Signifikansi Keterkaitan Geopolitik dalam Pelaksanaan Diplomasi Preventif Indonesia pada Kasus Laut Cina Selatan Michelle Nagakanya Putrika Tandy; Elbert Gerardo Chen; Alana Maria; Cut Hasya Arrumaisha; Vanessa Eustacia Jackson; Brigitta Valerie
Jurnal Sentris 2021: Jurnal Sentris Edisi Khusus Diplomasi
Publisher : Kelompok Studi Mahasiswa Pengkaji Masalah Internasional Unpar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kehadiran Tiongkok di Laut Cina Selatan (LCS) menciptakan ketegangan di kawasan Asia Tenggara akibat klaim sepihak terhadap wilayah LCS. Indonesia sebagai salah satu negara di dalamnya ikut terkena dampak dari ketegangan yang terbentuk melihat terancamnya kepentingan Indonesia dalam aspek keamanan dan ekonomi berkaitan dengan Perairan Natuna. Tidak hanya itu, kehadiran Indonesia di tengah-tengah konflik LCS juga didukung dengan posisinya sebagai pemimpin de facto ASEAN untuk menjaga keamanan maritim kawasan. Penelitian ini menggunakan konsep kepentingan nasional untuk melihat motivasi Indonesia, konsep diplomasi preventif untuk melihat usaha Indonesia dalam menyukseskan tiga kerangka kerja sama yaitu ASEAN Outlook on Indo-Pacific (AOIP), Belt and Road Initiative (BRI), dan juga Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) dan pendekatan geopolitik dalam melihat implikasinya terhadap kawasan. Maka, penelitian ini berargumen bahwa kepentingan Indonesia dalam aspek keamanan dan ekonomi mendorong keikutsertaannya dalam tiga kerjasama sekaligus sebagai bentuk diplomasi preventif dalam meredam tensi di LCS. Kata Kunci: Indonesia, Laut Cina Selatan, Diplomasi Preventif, Kepentingan Nasional, Geopolitik
Diplomasi Ekonomi Indonesia terhadap Vietnam melalui Kerjasama Ekspor Benih Lobster pada tahun 2020-2021 Hanna Fernandus; Adzraa S. Andira; Caitlyn Leonardi; Haszna Fadhilah; Abdiel Joses
Jurnal Sentris 2021: Jurnal Sentris Edisi Khusus Diplomasi
Publisher : Kelompok Studi Mahasiswa Pengkaji Masalah Internasional Unpar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di era pemerintahan Presiden Joko Widodo, Indonesia terus mencoba meningkatkan kerjasamanya dengan negara lain di berbagai aspek kenegaraan, tak terkecuali ekonomi melalui praktek Diplomasi Ekonomi. Salah satu aktivitas yang menjadi sorotan adalah kerjasama ekspor benih lobster yang dilakukan dengan Vietnam. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana potensi kelangsungan hubungan Indonesia dengan Vietnammelalui kerjasama Lobster Aquaculture Development, ditinjau dari kacamata diplomasi ekonomi dengan menyertakan analisis strengths, weaknesses, threats, dan opportunities. Penelitian ini berargumentasi bahwa kerjasama ekspor benih lobster yang dilakukan Indonesia dan Vietnam dilakukan atas dasar adanya keinginan untuk memfortifikasi strategic partnership antar kedua negara, adanya mutual needs antara kedua negara, dansebagai perwujudan kepentingan perekonomian nasional Indonesia; yang mana ketiganya menjustifikasi bahwa terdapat unsur diplomasi di dalam aktivitas ekonomi yang terjadi. Selain itu, tulisan ini juga berargumentasi bahwa strength dan opportunities yang diperoleh Indonesia melalui kerjasama ini meliputi perbaikan citra dan reputasi Indonesia, pemangkasan upaya ekspor benih lobster melalui pasar gelap, penaikan pamor Indonesia dipasar maritim internasional, serta fortifikasi hubungan baik antara Indonesia dan Vietnam; sedangkan weaknesses dan threats yang harus dihadapi Indonesia meliputi potensi eksploitasi dan kerusakan sumber daya maritim Indonesia, inkonsistensi kebijakan domestik, potensi pelanggaran regulasi kemaritiman oleh mitradagang, serta kemungkinan adanya potensi dampak dari kontestasi geopolitik Laut Tiongkok Selatan. Kata Kunci: diplomasi ekonomi; benih lobster; Indonesia; Vietnam; kerjasama
Pengaruh Border Trade Agreement (BTA) dan Border Crossing Agreement (BCA) sebagai Landasan Hubungan Diplomatik Indonesia-Malaysia Cindy Christina; Charlene Janice; Agnes Milka Kurniawan; Theresia Lukito; Lindsay Winola; Ahmad Alfary Arkan
Jurnal Sentris 2021: Jurnal Sentris Edisi Khusus Diplomasi
Publisher : Kelompok Studi Mahasiswa Pengkaji Masalah Internasional Unpar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kedekatan hubungan bilateral Indonesia dan Malaysia sudah terbukti di berbagai sektor, mulai dari perdagangan hingga investasi. Namun, tidak dapat dipungkiri pula bahwa kedua negara juga kerap berkonflik, salah satunya konflik yang berkaitan dengan masalah perbatasan. Konflik terkait perbatasan ini turut memicu munculnya permasalahan lain yang terkait, utamanya perpindahan sumber daya alam dan manusia secara ilegal.Border Trade Agreement (BTA) dan Border Crossing Agreement (BCA) kemudian dibuat untuk mengatasi permasalahan tersebut. Dengan menggunakan konsep servitude dan liberal internasionalisme, studi ini ingin melihat pengaruh BTA dan BCA dalam hubungan bilateral Indonesia dan Malaysia. Melalui studi kasus penyelundupan gula dan narkoba, studi ini menemukan bahwa penerapan BTA dan BCA berdampak positif terhadap hubungan bilateral kedua negara. BTA dan BCA mampu menjadi kerangka regulasi yang menciptakan suasana yang adil bagi kedua negara berdasarkan supremasi regulasi dan praktiknya. Pengaruh Border Trade Agreement (BTA) dan Border Crossing Agreement (BCA) sebagai Landasan Hubungan Diplomatik Indonesia-Malaysia Kata Kunci: Diplomasi Bilateral, Indonesia, Malaysia, Border Trade Agreement, Border Crossing Agreement.
Aktivitas Diplomasi Kesehatan Indonesia-Tiongkok di Masa Pandemi COVID-19 Valerie Tania Margono; Nivy Irawan; Jacinda Graciella; Veronica Ivana Putri Calista; Henny Kristanto Setiawan
Jurnal Sentris 2021: Jurnal Sentris Edisi Khusus Diplomasi
Publisher : Kelompok Studi Mahasiswa Pengkaji Masalah Internasional Unpar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan COVID-19 sebagai pandemi. Kondisi inimemperlihatkan bahwa isu kesehatan menjadi salah satu hal yang tidak dapat dihindarkan dari permainan kepentingan banyak negara. Walaupun diplomasi kesehatan adalah salah satu bentuk diplomasi yang jarang dilakukan, namun dengan adanya pandemi COVID-19, diplomasi kesehatan kembali digunakan. Seperti yang kemudian dilakukan oleh Indonesia dan Tiongkok, kedua negara melaksanakan diplomasi kesehatan demi menghentikan penyebaran virus dan meningkatkan kesehatan warga negara masing-masing. Indonesia dan Tiongkok memanfaatkan diplomasi kesehatan sebagai salah satu agenda kesehatan nasional dan seringkali hal tersebut menciptakan sebuah peluang namun juga kerugian yang belum terlihat. Oleh karena itu, artikel ini ingin membahas terkait aktivitas dari diplomasi kesehatan Indonesia-Tiongkok di masa pandemi COVID-19 menggunakan konsep diplomasi kesehatan. Analisis ini didasarkan pada studi kasus atas aktivitas diplomasi Indonesia-Tiongkok terkait pemenuhan kepentingan kesehatan nasional masing-masing negara dan penjabaran mengenai strengths, weaknesses, opportunities, dan threats terhadap Indonesia atas diplomasi kesehatan yang dilakukannya dengan Tiongkok. Kata Kunci: Indonesia-Tiongkok; kepentingan nasional; diplomasi kesehatan; COVID-19; analisis SWOT

Page 8 of 17 | Total Record : 161