cover
Contact Name
Wardi
Contact Email
wardi050693@gmail.com
Phone
+6282137475060
Journal Mail Official
wardi050693@gmail.com
Editorial Address
STT SANGKAKALA SALATIGA Jl. Raya Kopeng KM.7 Salatiga 50701. Dsn. Kenteng, Ds. Sumogawe Kec.Getasan, Kab. Semarang. Atau STTJKI SALATIGA Jl. Hasanudin 134, Ngawen Salatiga 50721
Location
Kab. semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
SAGACITY : Journal of Theology and Christian Education
ISSN : -     EISSN : 27468550     DOI : https://doi.org/10.17605/OSF.IO/8EVWP
Core Subject : Religion, Education,
Biblical theology Systematic Theology Applied Theology Christian Education Humanities and Local Wisdom
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 1 No. 2 (2021): JUNI 2021" : 6 Documents clear
DEMISE AND COHERENCE WITHIN HEGEL’S CONTINGENCY AND EXISTENCE Stephen Curkpatrick
SAGACITY : Journal of Theology and Christian Education Vol. 1 No. 2 (2021): JUNI 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sangkakala & Sekolah Tinggi Jemaat Kristus Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.707 KB)

Abstract

Everything finite is finally contingent, yet contingency is durability within nature and more so, creativity within human existence. The thesis of this article, which is cast within Hegel’s relationship between necessity and contingency, is this: within aspirational fidelity and volitional integrity, loss and gain in human existence are not symmetrical; loss and gain are asymmetrical and so in principle, redemptive. Out of demise, by retrospective creativity, gain can surpass loss—a tacit christological perspective. Inspirited by human aspiration, creative possibilities are generated; movement, growth and change occur within a dialectical movement of moments exhibiting contradiction, mediation and novel development. Segala sesuatu yang terbatas akhirnya memiliki ketidakpastian. Namun kontingensi adalah daya tahan di dalam alam dan lebih dari itu, kontingensi merupakan kreativitas dalam keberadaan manusia. Tesis artikel ini, yang diutarakan dalam hubungan Hegel antara kebutuhan dan kontingensi, adalah ini: dalam kesetiaan aspirasional dan integritas kehendak, kerugian dan keuntungan dalam keberadaan manusia tidak simetris; kerugian dan keuntungan bersifat asimetris dan pada prinsipnya, begitu juga dengan penebusan. Karena kematian, dengan kreativitas retrospektif, keuntungan dapat mengalahkan kerugian — perspektif Kristologis. Terinspirasi oleh aspirasi manusia, kemungkinan kreatif dihasilkan; gerakan, pertumbuhan, dan perubahan terjadi dalam gerakan dialektika momen-momen yang menunjukkan kontradiksi, mediasi dan perkembangan baru.
Genealogies, Theology of the Seed & Revelation 12 Daniel Trihandarkha
SAGACITY : Journal of Theology and Christian Education Vol. 1 No. 2 (2021): JUNI 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sangkakala & Sekolah Tinggi Jemaat Kristus Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.007 KB)

Abstract

Abstract When God pronounced the promise of salvation by the seed to the fallen man, little did Adam and Eve probably knew the impact of that the instigation of divine war would have been. This war surely determining the course of life of human race in the world and also it reveals the subsequent of God’s revelation of His salvation plan for humankind. The book of Genesis itself contains the extended family line of the seed throughout history. We argue that the Book of Revelation chapter 12 contains the summary of journey of seed’s family line and things yet to come where culmination of divine war will be consummated. Theology will not merely stand in creating hypothesis based on the literature analyses, theology must give a possible thesis toward certainty to which literature (apocalypse) foreshadows toward reality in history to come. Abstraksi Ketika Tuhan menyatakan janji keselamatan lewat benih orang berdosa, kemungkinan Adam dan Hawa tidak mengetahui seberapa besar dampak penyebab terjadinya perang ilahi itu atas umat manusia. Hal ini tentu saja menentukan alur dari kehidupan umat manusia dan dunia, dan juga menyatakan penyataan Tuhan kemudian atas rencana keselamatan-Nya bagi umat manusia. Kami berargumen bahwa Wahyu pasal 12 berisi rangkuman perjalanan dari benih ini hingga halyang akan datang termasuk di antaranya puncak dari perang ilahi ini. Teologi tidak boleh hanay berdiri membuat sebuah hipotesa berdasar analisis literature semata, teologi harus dapat memberikan sebuah tesis menuju kepada kepastian yang dimana literature (apokalip) memberi bayangan kepada sebuah realita dalam sejarah yang akan datang.
ROH KUDUS PEMBERI KEKUATAN DAN PENEGUHAN Analisa Wacana Kritis Terhadap Narasi Efesus 3:16-17 Petrus Baela; Mahattama Banteng Sukarno
SAGACITY : Journal of Theology and Christian Education Vol. 1 No. 2 (2021): JUNI 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sangkakala & Sekolah Tinggi Jemaat Kristus Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.368 KB)

Abstract

The Holy Spirit is part of the discourse that develops in the communities of Christ’s disciples. The Holy Spirit becomes a discourse, because it is closely related to social praxis in social interactions and experiences, both in the community of believers and the general public. This study tries to understand how the function of the discourse about the “Holy Spirit, The Giver of Strength and Affirmation’ in the text of Ephesians 3:16-17. Functionally, there are at least two things, among others: first, the Holy Spirit as the Giver of Strength and Confirmation of Faith; and second, the Holy Spirit as the Giver of Strength and Affirmation in maintaining a substantial identity. Both functions can be performed, when the Holy Spirit is in the inner man. These conditions will help humans to have a complete self-awareness of the mystery of Christ. The mystery of Christ which is understood only using reason will lead to division, but if assisted by the Holy Spirit who is in the heart, the mystery of Christ will lead to salvation and peace.
TINJAUAN TEOLOGIS TENTANG PENGINJILAN DALAM KONTEKS INDONESIA Hery Susanto
SAGACITY : Journal of Theology and Christian Education Vol. 1 No. 2 (2021): JUNI 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sangkakala & Sekolah Tinggi Jemaat Kristus Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (142.991 KB)

Abstract

The term evangelism broadly has the meaning of proclaiming the good news to others, but it is specifically interpreted as an effort to convey the gospel to others and often causes fear to the news bearers because they already have their respective beliefs. It is very different from what should happen as in the Bible in that they preach the news of joy without fear because it is a fact and joy follows them. Jesus' disciples convey it lightly because it is a grace that they can proclaim their happiness and joy based on what they experience. Meanwhile, in the context of Indonesia, evangelism becomes a place for debate and rubs against the spirit of brotherhood and tolerance. So how exactly should this evangelism be carried out in the Indonesian context theologically with regard to apologetics, conversion and transformation. Istilah penginjilan secara luas memiliki arti sebagai mewartakan kabar baik kepada orang lain, namun secara khusus dimaknai sebagai upaya untuk menyampaikan Injil kepada sesama dan tidak jarang menimbulkan ketakutan bagi si pembawa berita karena mereka sudah memiliki keyakinan masing-masing. Hal ini sangat berbeda dengan apa yang semestinya terjadi seperti di dalam Alkitab bahwa mereka menyampaikan kabar sukacita itu tanpa takut karena itu sebuah fakta dan sukacita mengikuti mereka. Murid Yesus menyampaikannya dengan ringan karena itu merupakan kasih karunia bahwa mereka dapat mewartakan kebahagiaan dan sukacita mereka berdasar apa yang mereka alami. Sementara itu dalam konteks Indonesia justru penginjilan ini menjadi ajang perdebatan dan bergesekan dengan semangat persaudaraan dan toleransi. Jadi bagaimana sesungguhnya penginjilan ini seharusnya dilakukan dalam konteks Indonesia secara teologis berkaitan dengan apologetika, konversi dan transformasi.
PANDANGAN TEOLOGIS TERHADAP KAUM DISABILITAS DAN IMPLEMENTASINYA BAGI GEREJA MASA KINI Theodorus Miraji
SAGACITY : Journal of Theology and Christian Education Vol. 1 No. 2 (2021): JUNI 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sangkakala & Sekolah Tinggi Jemaat Kristus Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.481 KB)

Abstract

This paper aims to provide a theological view of persons with disabilities based on the Bible. Using a non-experimental qualitative design, the authors collected data by conducting research on Systematic Theology. From Proper Theology, the results show that humans, including people with disabilities, are God's creation. God is a Perfect and Omnipresent Person. Research on theology about man has resulted in the view that man is Imago Dei, formed by God himself. Sin should not be viewed from physical deficiencies as some have viewed it, because the real sin is disobedience to God which causes human separation from God, and it is precisely in physical weakness that God will work for His glory. This is what Jesus did in His work of salvation, namely to achieve the restoration of the relationship between man and God. The Holy Spirit is a helper who is able to empower people with disabilities, and the Holy Spirit is a comforter for humans, including people with disabilities. The church needs to actively carry out its main function and vocation, namely Koinonia and Diakonia, so that all humans, including people with disabilities, continue to hope for a glorified body. The implementation that must be done by the church is to see people with disabilities correctly, to provide proper teaching, to serve supernaturally and to provide service spaces for people with disabilities. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan pandangan Teologis mengenai kaum disabilitas yang didasarkan kepada Alkitab. Penelitian ini menggunakan rancangan kualitiatif non eksperimental, penulis mengumpulkan data dengan cara melakukan riset terhadap Teologi Sistematika. Dari Teologi Allah didapatkan hasil bahwa manusia termasuk kaum disabilitas merupakan ciptaan Tuhan. Pribadi Tuhan merupakan pribadi yang Mahasempurna dan Mahahadir. Riset terhadap Teologi tentang manusia menghasilkan pandangan bahwa manusia merupakan Imago Dei, yang dibentuk oleh Allah sendiri. Dosa tidak boleh dipandang dari kekurangan fisik seperti pandangan beberapa kalangan, karena dosa yang sebenarnya adalah ketidak taatan kepada Allah yang menyebabkan keterpisahan manusia dengan Allah, dan justru dalam kelemahan fisik Allah akan bekerja untuk kemuliaan-Nya. Hal inilah yang dikerjakan Yesus dalam karya keselamatan-Nya, yaitu tercapainya pemulihan hubungan antara manusia dengan Allah. Roh Kudus adalah pribadi penolong yang mampu memberdayakan kaum disabilitas, dan Roh Kudus adalah penghibur bagi manusia termasuk kaum disabilitas. Gereja perlu secara aktif melakukan fungsi dan panggilan utamanya yaitu Koinonia dan Diakonia, agar semua manusia termasuk kaum disabilitas terus berada pada pengharapan akan tubuh kemuliaan. Implementasi yang harus dilakukan gereja adalah memandang kaum disabilitas secara benar, memberikan pengajaran yang tepat, melayani secara supranatural dan memberikan ruang pelayanan kepada kaum disabilitas.
PANDANGAN PAHAM FEMINISME RADIKAL TERHADAP PERKAWINAN PITI MARANGGANG DALAM ADAT PERKAWINAN SUMBA TIMUR DI DAMEKA, KATIKUTANA SELATAN, KABUPATEN SUMBA TENGAH Martha Mardiani; Fibry Jati Nugroho; Yusup Rogo Yuono
SAGACITY : Journal of Theology and Christian Education Vol. 1 No. 2 (2021): JUNI 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sangkakala & Sekolah Tinggi Jemaat Kristus Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.563 KB)

Abstract

Piti Maranggangu (Ambil dalam pertemuan) sering juga disebut dengan ungkapan Maranggang Mamoha (menjemput pengantin). Kata Maranggangu memiliki arti menjumpai, menemui seseorang yang berada di dalam perjalanan atau luar rumah/kampung. Adat perkawinan ini dilakukan dulunya hanya dilakukan oleh para bangsawan atas persetujuan keluarga kedua belah pihak. Melalui metode kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi kasus, peneliti berusaha memaknai dan memahami pandangan pada subjek penelitian dalam rangka mengulas lebih dalam lagi tentang Pandangan Paham Feminisme Radikal Terhadap Perkawinan Piti Maranggang Dalam Adat Perkawinan Sumba Timur di Dameka, Katikutana Selatan, Kabupaten Sumba Tengah. Didapati bahwa tradisi Piti Maranggang mengalami pergeseran makna sehingga saat ini dikenal dengan sebutan Kawin Tangkap.

Page 1 of 1 | Total Record : 6