cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jmars@untan.ac.id
Editorial Address
Gedung Program Studi Arsitektur Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura Jalan Prof Dr. H. Hadari Nawawi, 78124
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur
ISSN : -     EISSN : 27465896     DOI : -
Core Subject : Engineering,
JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur (sebelumnya Jurnal Online Mahasiswa S1 Arsitektur UNTAN) adalah jurnal nasional yang berisi kumpulan naskah/ artikel hasil perancangan arsitektur yang fokus pada kegiatan "analisis dan sintesis" yang mendukung proses-proses perancangan arsitektur dan menghasilkan karya arsitektural. Substansi naskah dapat berupa kajian mengenai metode perancangan, proses analisis dalam perancangan, pengambilan keputusan dalam proses desain, proses penciptaan karya arsitektural, dan teori yang mendukung proses perancangan. Selain itu, JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur juga menerima (terbatas) naskah dengan pendekatan "penelitian" kajian arsitektural lainnya, seperti sejarah, teori, dan kritik arsitektur, teknologi bangunan, serta kota dan permukiman. JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur mempunyai ISSN 2746-5896 (media online)
Arjuna Subject : -
Articles 40 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 2 (2018): September" : 40 Documents clear
PONTIANAK ELECTRONIC & E-SPORT CENTRE (PEEC) DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR HI-TECH Frendi Frendi
JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur Vol 6, No 2 (2018): September
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jmars.v6i2.30881

Abstract

Perkembangan IPTEK di era globalisasi ini telah membawa manfaat luar biasa bagi kemajuan peradaban umat manusia. Salah satunya adalah kegiatan komunikasi melalui dunia virtual dengan mengandalkan media eletronik dan jaringan. E-sport atau singkatan dari Electronic sport adalah olahraga yang dilakukan pada media elektronik berupa game. Saat ini E-sport menjadi aktivitas yang dilakukan oleh banyak orang di seluruh dunia termasuk Indonesia. Hal ini membuktikan elektronik sudah semakin berkembang dan terjadi peningkatan kebutuhan pada barang-barang elektronik. Kota Pontianak sebagai ibukota provinsi Kalbar belum memiliki sebuah pusat perbelanjaan barang-barang elektronik yang lengkap seperti kota-kota lain di Indonesia. Dalam memenuhi perlengkapan elektronik, masyarakat Kota Pontianak harus membeli di toko elekronik yang terpecah dan terbagi di beberapa tempat di Kota Pontianak. Maka dari itu diperlukan wadah untuk masyarakat mendapatkan barang-barang elektronik dan wadah yang dapat menampung minat masyarakat Kota Pontianak melakukan aktivitas E-sport.Perkembangan dan kemajuan teknologi menghadirkan gaya arsitektur dengan memperlihatkan teknologi dalam bangunan dengan mengekspos teknologi-teknologi yang digunakan dalam bangunan seperti struktur, ultilitas bahkan interior. Pendekatan arsitektur Hi-tech ini merupakan hal yang paling sesuai dengan fungsi bangunan karena lahir dari perkembangan teknologi pada masa kini serta mampu menggambarkan perkembangan di masa depan. Kata kunci: Electronic centre, Game centre,E-sport centre, Arsitektur Hi-tech & Pontianak
EVALUASI PASCA HUNI TERHADAP ASPEK FUNGSIONAL KAWASAN LEMBAGA PERGURUAN MUJAHIDIN PONTIANAK Raihan, Muhammad Hary
JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur Vol 6, No 2 (2018): September
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jmars.v6i2.28926

Abstract

Lembaga Perguruan Mujahidin adalah sekolah Islam terpadu yang didirikan dan beroperasi sejak tahun 1982. Lembaga Perguruan Mujahidin mengalami pasca huni dari standar dan perancangan masa lalu sehingga diperlukan peninjauan kembali terhadap bangunan dan lingkungan binaan. Tujuan penelitian ini untuk meninjau kembali bangunan dan lingkungan terhadap aspek fungsional yaitu pengelompokan fungsi, sirkulasi, faktor manusia, dan fleksibilitas/perubahan pada Lembaga Perguruan Mujahidin. Hasil yang diharapkan berupa rekomendasi usulan desain sebagai acuan pengembangan mendatang. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif. Teknik penelitian menggunakan teknik komparasi untuk membandingkan hasil responden pasca huni terhadap standar dan hasil perancangan/perencanaan masa lalu di Lembaga Perguruan Mujahidin. Hasil penelitian menunjukkan hasil responden pasca huni terhadap standar dan perancangan/perencanaan masa lalu telah berhasil karena sebagian besar menyatakan nyaman terhadap aspek fungsional dengan hasil yaitu 57.80% pengelompokan fungsi, 78.70% sirkulasi ruang luar, 80.50% sirkulasi ruang dalam, 72.90% faktor manusia, dan 61.30% fleksibilitas/perubahan. Rekomendasi usulan desain dihasilkan berdasarkan hasil pasca huni untuk menyelesaikan permasalahan pada aspek fungsional di Lembaga Perguruan Mujahidin berupa perubahan fasade, sirkulasi, penataan ulang tata ruang dalam dan tata ruang luar untuk acuan pengembangan mendatang. Kata kunci: Evaluasi Pasca Huni, Lembaga Perguruan Mujahidin
GEDUNG PELATIHAN OLAHRAGA BELADIRI DI PONTIANAK Mohlisin, Gusti
JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur Vol 6, No 2 (2018): September
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jmars.v6i2.28024

Abstract

Olahraga bela diri saat ini diminati oleh banyak orang dari berbagai kalangan, mulai dari atlet, pelajar, hingga masyarakat umum. Olahraga ini diminati karena dapat menjaga kebugaran tubuh dan dapat digunakan  untuk membela diri dari tindakan kejahatan. Jenis bela diri yang populer di Kalimantan Barat adalah silat, karate, dan taekwondo. Ketiga jenis bela diri tersebut sering dilombakan baik di tingkat profesional, amatir hingga sekolah. Namun kondisi fasilitas yang minim membutuhkan perhatian maka perlunya penyediaan fasilitas yang layak berupa gedung untuk mewadahi aktifitas beladiri. Berdasarkan amatan dan data terdapat kesamaan yang memungkinkan ketiga bela diri tersebut digabungkan dalam satu buah gedung pelatihan bersama. Lokasi perancangan gedung ini berada di komplek stadion Sultan Syarif Abdurrahman Alqadri. Dengan Adanya gedung pelatihan bela diri ini diharapkan mampu mendorong prestasi para atlet di Kalimantan Barat. Gedung ini terdiri dari dua massa bangunan yang pertama untuk aktifitas beladiri dan yang kedua untuk penginapan atlet atau asrama atlet. Gedung pelatihan ini juga dilengkapi dengan fasilitas gym yang berfungsi untuk menjaga kebugaran para atlet. Gedung Pelatihan Bela diri ini lebih mengedepankan fungsi daripada bentuk. Ini dilakukan untuk memaksimalkan fungsi utama yang harus mampu mewadahi tiga cabang bela diri sekaligus.Kata kunci: bela diri, ruang bersama, fungsi
PASAR PAGI JALAN DOKTER WAHIDIN KOTA PONTIANAK Rinata, Katharina Okta
JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur Vol 6, No 2 (2018): September
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jmars.v6i2.27549

Abstract

Berbelanja merupakan kegiatan yang dilakukan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kegiatan berbelanja memerlukan wadah khusus sebagai fasilitas. Fasilitas yang diperlukan berupa pasar, yang di dalamnya terdapat berbagai jenis barang dan jasa. Kota Pontianak, Kalimantan Barat memiliki banyak pasar, tetapi belum terfasilitasi dengan baik. Salah satunya Pasar Tradisional Jalan Dokter Wahidin, Kelurahan Sungai bangkong, Pontianak Kota. Sudah terdapat aktivitas pasar, tetapi tidak terdapat bangunan sebagai wadah utamanya. Pasar pagi Jalan Dokter Wahidin memerlukan perancangan khusus, yang sesuai dengan standar-standar perancangan pasar. Konsep utama dari Pasar Pagi Jalan Dokter Wahidin Kota Pontianak adalah “Interaksi”. Interaksi merupakan ciri khas utama dari pasar tradisional, yaitu sistem transaksi jual beli dilakukan secara langsung, pembeli dan penjual saling berinteraksi. Pengaplikasian konsep terhadap bangunan yaitu, bangunan didesain lebih terbuka sehingga tidak banyak menggunakan dinding sebagai pembatas antar ruang. Pengaplikasian lainnya yaitu, sirkulasi yang saling menghubungkan antar ruang, dan penempatan los pada ramp. Penempatan los pada ramp, bertujuan agar pembeli dan pedagang dapat saling berkomunikasi disepanjang sirkulasi menuju lantai satu. Los tidak dibatasi dinding, hanya berupa sekat-sekat antar los sebagai pembatas. Los yang didesain terbuka mempermudah para pedagang untuk saling berkomunikasi dan berinteraksi satu sama lain.                                               Kata Kunci : Pasar Tradisional, Kota Pontianak, Interaksi
PET CENTRE DI PONTIANAK Sinaga, Irwan Adhitama
JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur Vol 6, No 2 (2018): September
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jmars.v6i2.31482

Abstract

Dewasa ini, peminat hewan peliharaan di Kota Pontianak semakin meningkat. Hal ini menyebabkan tingginya antusiasme pencinta hewan yang berdampak terhadap permintaan akan semua fasilitas mengenai pencinta hewan. Akan tetapi di Kota Pontianak saat ini belum terdapat fasilitas atau wadah yang menampung segala kebutuhan mengenai hewan peliharaan dalam satu wadah seperti dalam sebuah Pet Centre. Dimana, Pet Centre ini merupakan suatu wadah yang berfungsi sebagai pemenuh kebutuhan perdagangan dan jasa terhadap hewan kesayangan. Adapun kegiatan dalam Pet Centre tersebut dapat terdiri dari beragam aktifitas jual beli hewan kesayangan, sarana kesehatan hewan hingga sarana untuk berkumpul bagi pecinta hewan kesayangan. Oleh karena itu keberadaaan Pet Centre di Kota Pontianak diharapkan akan memenuhi segala kebutuhan masyarakat akan kecintaan mereka terhadap hewan kesayangan yang semakin ramai peminatnya saat ini. Dalam proses perancangan Pet Centre di Kota Pontianak ini, ada beberapa langkah-langkah yang digunakan yakni dimulakan dari suatu gagasan, pengumpulan data, analisis, sintesis rancangan awal hingga pengembangan rancangan. Bentuk massa bangunan yang dirancang ini menggunakan pendekatan fungsi dari Pet Centre yakni aktraktif dan dinamis. Kata Kunci: Pet, Centre, Kota Pontianak
REST AREA KABUPATEN MEMPAWAH Firhandy, Aldie Ramadhanu
JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur Vol 6, No 2 (2018): September
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jmars.v6i2.30882

Abstract

menghasilkan rancangan rest area yang dapat membantu pengendara beristirahat selama perjalanannya. Lokasi perancangan berada di kabupaten Mempawah, karena daerah tersebut merupakan daerah yang menghubungkan kota – kota besar di Kalimantan Barat. Sebelum adanya fasilitas rest area ini, para pengemudi hanya beristirahat di tepi – tepi jalan, baik itu seperti warkop kecil, rumah makan, dan lain – lain yang tentunya hanya memiliki fasilitas dan kapasitas yang tidak memadai. Metode perancangan menggunakan metode lima tahap dari Asimov, yaitu tahap permulaan, persiapan, pengajuan usul, evaluasi, dan tahap tindakan. Pada perancangan rest area tipe A ini, akan dibangun fasilitas – fasilitas yang sering menjadi tujuan persinggahan para pengemudi semasa waktu perjalanan, fasilitas tersebut berupa tempat makan, bengkel, toilet, musholla, minimarket, SPBU dan lain – lain. Perancangan kawasan rest area ini menggunakan konsep sirkulasi yang nyaman dan efisiensi lahan serta ruang, untuk memudahkan dan memberikan rasa nyaman para pengunjung kawasan saat menggunakan fasilitas yang disediakan. Kata kunci: Rest Area, Jalan Trans, Kabupaten Mempawah
PUSAT PERBELANJAAN MODERN (MALL) DENGAN PENEKANAN RUANG TERBUKA PUBLIK Savitri, Rika
JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur Vol 6, No 2 (2018): September
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jmars.v6i2.30631

Abstract

Kota Pontianak merupakan salah satu ibukota di Indonesia yang sektor perekonomiannya sedang berkembang. Perkembangan aktivitas perekonomiannya dilihat dengan muncul beragam jenis perdagangan dan jasa. Melihat data Pusat Perbelanjaan Modern (Mall) yang berdiri dalam 10 tahun terakhir, sistem Mall yang digunakan memiliki jenis bangunan yang hanya terfokus di dalam bangunan tanpa memiliki hubungan dengan alam luar. Hal tersebut menyimpang dari konsep dasar pusat perbelanjaan yaitu menyatukan hubungan antara kegiatan dalam bangunan dengan alam terbuka. Dengan melakukan pembangunan Pusat Perbelanjaan Modern (Mall) dengan penekanan ruang terbuka publik pada kawasan pinggiran Sungai Kapuas dapat mengembalikan esensi dari konsep dasar pusat perbelanjaan, serta dapat mengembangkan perekonomian dan memperdayagunakan sumber daya alam Kota Pontianak. Hasil perancangan ini menunjukkan pemecahan massa bangunan menjadi 2 bagian untuk menciptakan jalur pedestrian dan jalan utama pada tengah zona gedung utama. Jalur tersebut memberikan ruang bebas pandang mulai dari pintu masuk hingga ke Sungai Kapuas. Area yang menghadap ke sungai dijadikan sebagai area publik dengan menjadikan sungai sebagai magnet view, sehingga konektivitas dapat terwujud. Selain itu, terdapat ramp yang dapat diakses melalui taman untuk ke rooftop, sehingga hubungan antara taman sebagai area terbuka publik dan bangunan tidak terputus. Kata kunci: Pusat Perbelanjaan Modern (Mall), Ruang Terbuka Publik, Sungai Kapuas,Mall dengan Ruang Terbuka Publik
TAMAN BUDAYA KABUPATEN MEMPAWAH Zulfi Heryandi
JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur Vol 6, No 2 (2018): September
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jmars.v6i2.28625

Abstract

Taman Budaya merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Taman Budaya adalah gabungan antara wadah yang melindungi dan mempertahankan suatu karya ciri atau identitas dari suatu daerah. Kabupaten Mempawah memiliki potensi kebudayaan dalam bidang kesenian salah satunya sanggar seni, namun masih kurang dioptimalkan. Kabupaten Mempawah pada saat ini belum tersedia sarana dan prasarana untuk melestarikan kebudayaan daerah. Keberadaan Taman Budaya Kabupaten Mempawah adalah pilihan yang tepat untuk dapat mewadahi aktivitas kebudayaan tersebut. Tema atau konsep Arsitektur Lokal Melayu akan diterapkan dalam perencanaan bangunan dengan mengangkat nilai-nilai lokalitas, untuk memperkuat identitas daerah Kabupaten Mempawah. Bentuk bangunan serta ornamen yang ada di daerah perancangan akan diterapkan di dalam perancangan. Perancangan Taman Budaya tidak mengalahkan landmark bangunan daerah yaitu Keraton Amantubillah Kabupaten Mempawah. Penerapan konsep lokalitas pada Taman Budaya di harapkan selain sebagai tempat pelestarian kebudayaan, juga dapat mengangkat nilai-nilai kearifan lokal. Kata kunci: Taman Budaya, Kebudayaan, Kabupaten Mempawah
RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA DI KOTA SINGKAWANG Komarudin, Nanang
JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur Vol 6, No 2 (2018): September
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jmars.v6i2.27962

Abstract

Kota Singkawang merupakan kota terbesar kedua di Provinsi Kalimantan Barat. Menurut data BPS, Kota Singkawang pada tahun 2016 memiliki jumlah penduduk sebesar 211.508 jiwa. Sebanyak 84,8% penduduk Kota Singkawang tinggal di rumah sendiri, sementara sisanya masih menyewa atau mengontrak. Sebagian besar masyarakat yang tidak memiliki rumah tersebut merupakan golongan menengah ke bawah. Sesuai amanat UU No. 1 Tahun 2011, permasalahan tersebut merupakan kewajiban yang harus diselesaikan oleh pemerintah. Hal ini sejalan dengan wacana Pemerintah dan anggota DPRD Kota Singkawang untuk membangun rumah susun sederhana sewa bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dan mahasiswa. Pembangunan rusunawa tersebut memerlukan suatu perencanaan yang baik dengan mengacu pada standar yang ditetapkan. Perencaan rusunawa ini dibuat dengan mengusung konsep vertikal atau bertingkat. Konsep tersebut direncanakan untuk memaksimalkan lahan yang tersedia. Rusunawa ini terdiri dari empat blok bangunan yang terletak secara terpisah. Denah bangunan didominasi oleh ruangan-ruangan kamar dengan jenis atau tipe yang berbeda. Denah per lantai dibuat tipikal untuk menghemat biaya konstruksi dan operasional bangunan. Perancangan Rusunawa Singkawang ini juga dilengkapi dengan fasilitas pendukung seperti taman, kantin, mushala, lapangan olahraga, dan jogging track. Fasade bangunan dibuat sederhana sesuai dengan fungsi bangunan. Semua perencanaan tesebut dilakukan agar tercipta hunian yang layak dan nyaman bagi para penghuninya. Kata kunci: Tipikal, Vertikal, Sederhana
AKADEMI KOMUNIKASI DI KOTA PONTIANAK Asrihartati, Melly
JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur Vol 6, No 2 (2018): September
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jmars.v6i2.31500

Abstract

Dunia informasi dan komunikasi di Indonesia saat ini mengalami perkembangan yang sangat pesat dengan hadirnya berbagai teknologi media massa sehingga manusia mendapatkan segala macam informasi yang dibutuhkan. Perkembangan media informasi tersebut menuntut akan adanya kebutuhan tenaga-tenaga profesional di bidang komunikasi, sementara itu sumber daya manusia yang menguasai pengetahuan tersebut masih sangat terbatas dan salah satu penyebabnya adalah keterbatasan sarana dan prasarana pendidikan komunikasi. Maka dari itulah dibutuhkan tempat atau wadah sarana pendidikan untuk perkembangan komunikasi di Pontianak sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan komunikasi yaitu Akademi Komunikasi di Kota Pontianak. Lokasi Perancangan Akademi Komunikasi tentu membutuhkan ruang untuk menampung kegiatan pendidikan, praktek, dan pelayanan. Perancangan bangunan Akademi Komunikasi diambil dari bentukan yang formal dan teratur yaitu bentukan persegi yang mengalami pengurangan dan penambahan bentuk. Selain itu, bentuk bangunan mempertimbangkan faktor lingkungan sekitar seperti orientasi, iklim, arah matahari, kebisingan, view, sirkulasi dan peraturan setempat. Bentuk bangunan kemudian disesuaikan dengan 3 fungsi yaitu fungsi utama, penunjang, dan pelengkap. Fungsi-fungsi ini melahirkan 3 karakter yaitu keahlian, media, dan komunikasi sehingga bangunan terbagi menjadi 3 massa yaitu auditorium, bangunan pendidikan, dan bangunan pengelola. Kata kunci : akademi, komunikasi, akademi komunikasi

Page 4 of 4 | Total Record : 40