cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
media.konservasi@gmail.com
Editorial Address
Jln Ulin, Kampus IPB Darmaga, Bogor 16680, Indonesia
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
MEDIA KONSERVASI
ISSN : 02151677     EISSN : 25026313     DOI : https://doi.org/10.29244/medkon
Core Subject : Science, Education,
Media Konservasi is a scientific journal in the field of Natural Resources and Environmental Conservation and the first in Indonesia to discuss issues about conservation. Media Konservasi is published three times a year in April, August, and December. Media Konservasi is committed to publishing good quality scientific papers based on original research, library research, article, and book reviews. This journal focuses on publications in the field of forest resource conservation and the tropical environment derived from research, literature studies, and book reviews. This journal accepts manuscripts covering all aspects of ecology, landscape ecology, in-situ conservation of wildlife, sustainable use of plants and wildlife, ethnobotany, bioprospecting, ecotourism, management of conservation & protection areas, urban forests, services, and environmental education
Arjuna Subject : -
Articles 669 Documents
POTENSI KODOK BUDUK (Duttaphrynus melanostictus Schneider 1799) SEBAGAI PENGENDALI ALAMI HAMA DI DAERAH URBAN: The Potential of Asian Toad (Duttaphrynus melanostictus Schneider 1799 ) As Natural Enemy For Pest in Urban Area Suci Ninda Utari; Mirza Dikari Kusrini; Noor Farikhah Haneda
Media Konservasi Vol 25 No 1 (2020): Media Konservasi Vol. 20 No. 1 April 2020
Publisher : Department of Forest Resources Conservation and Ecotourism - IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.91 KB) | DOI: 10.29244/medkon.25.1.10-16

Abstract

Kodok buduk (Duttaphrynus melanostictus) merupakan jenis kodok yang umum dijumpai di perkotaan dan keberadaannya sering diabaikan. Tujuan penelitian adalah menganalisis pemilihan pakan dari kodok buduk di habitat alamnya, kelimpahan pakan, lebar relung dan tumpang tindih relung serta mengetahui potensi kodok ini sebagai pengendali serangga hama. Analisis dilakukan pada 100 spesimen kodok buduk (50 jantan dan 50 betina) dari sekitar kampus IPB Darmaga, Bogor dengan cara pembedahan. Frekuensi pakan tertinggi di lambung jantan maupun betina kodok buduk adalah Ordo Hymenoptera, Coleoptera, Blattaria, Diplopoda, dan Isoptera. Dari segi volume, pakan tertinggi adalah Blattaria, Coleoptera, dan Scolopendromorpha, namun berdasarkan densitas relatif pakan di lambung didominasi oleh Isoptera, Hymenoptera dan Coleoptera. Ordo-ordo yang disebut di atas termasuk hama yang merugikan manusia seperti kecoak dan rayap. Tidak terdapat korelasi antara ukuran tubuh dengan volume pakan, karena terdapat bias pada data spesimen yang diambil yakni dengan ukuran tubuh 60-90 mm atau ukuran dewasa. D. melanostictus adalah satwa oportunis, namun pemilihan pakan cenderung pada jenis tertentu saja sehingga menyebabkan rendahnya nilai relung. Jantan dan betina mempunyai komposisi pakan yang sama, sehingga tumpang tindih relung menjadi tinggi. Secara umum, kodok buduk penting sebagai predator hama di daerah perkotaan. Kata kunci: analisis kodok, kebiasaan pakan, musuh alami, sumberdaya pakan
PERSPEKTIF MASYARAKAT TERHADAP PROGRAM KEMITRAAN KEHUTANAN SEBAGAI SOLUSI KONFLIK TENURIAL DI KESATUAN PENGELOLAAN HUTAN LINDUNG RINJANI BARAT: Community Perspective to Forestry Partnership Programme as Land Tenure Conflict Solution in Protected Forest Management Unit Rinjani Barat Gista M. Rukminda; Rinekso Soekmadi; Soeryo Adiwibowo
Media Konservasi Vol 25 No 1 (2020): Media Konservasi Vol. 20 No. 1 April 2020
Publisher : Department of Forest Resources Conservation and Ecotourism - IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.725 KB) | DOI: 10.29244/medkon.25.1.17-25

Abstract

Sebagai bagian penting dari perbaikan tata kelola hutan, Indonesia kini tengah giat mempromosikan dua institusi baru: Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) dan program Kemitraan Kehutanan (salah satu tipe dari Perhutanan Sosial). Salah satu KPH model di Indonesia adalah KPH Lindung Rinjani Barat atau KPHL RB yang merupakan KPH terbaik pada tahun 2015 melalui pencapaian program Kemitraan Kehutanan sebagai solusi konflik tenurial di wilayah kerja mereka. Penelitian bertujuan untuk menganalisis bagaimana keberhasilan atau kegagalan program Kemitraan Kehutanan dilihat dari perspektif manajemen organisasi dan pandangan masyarakat setempat. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif yang dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pertama, melalui program Kemitraan Kehutanan intensitas konflik tenurial antara KPHL RB dan warga lokal berkurang sebesar 80 persen (di dalam peta diindikasikan oleh berubahnya warna merah menjadi kuning). Perjanjian Kemitraan antara KPHL RB dan warga lokal yang melegitimasi (himpunan) hak akses warga di dalam kawasan hutan, menjadi faktor penentu turunnya intensitas konflik tenurial. Kedua, sebagian besar responden (yang merupakan representasi warga lokal) menyatakan bahwa berkat perjanjian Kemitraan mereka memiliki akses yang legitimate ke dalam kawasan hutan. Walau peningkatan kesejahteraan warga lokal belum tampak signifikan sebagai akibat Kemitraan Kehutanan, namun warga kini memiliki security of tenure (keamanan tenurial) yang menjadi landasan penting bagi sustainable livelihood security (keamanan nafkah yang berkelanjutan). Dari perspektif institusi, dapat disimpulkan bahwa Kemitraan Kehutanan merupakan program yang terbilang sukses baik di mata komunitas sekitar maupun KPHL RB. Namun demikian, masa depan keberlanjutan program ini menjadi pertanyaan ketika motor program ini, yakni KPHL RB, saat ini berada dalam kondisi yang lemah. Kata kunci: hak akses, kemitraan kehutanan, konflik tenurial, KPHL RB
KOMUNITAS BURUNG PADA RUANG TERBUKA HIJAU DI KOTA PALU PROVINSI SULAWESI TENGAH: Bird Community at Green Open Space in Palu City Central Sulawesi Province Abdul Vikar; Agus Priyono Kartono; Yeni A. Mulyani
Media Konservasi Vol 25 No 1 (2020): Media Konservasi Vol. 20 No. 1 April 2020
Publisher : Department of Forest Resources Conservation and Ecotourism - IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.901 KB) | DOI: 10.29244/medkon.25.1.26-35

Abstract

Ruang terbuka hijau (RTH) dapat berfungsi sebagai habitat bagi komunitas burung di perkotaan. Bentuk atau tipe RTH bervariasi sehingga diduga terdapat perbedaan komunits burung yang memanfaatkannya. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi komposisi komunitas burung dan menghitung indeks keanekaragaman jenis burung di lima RTH di Kota Palu. Penelitian dilakukan di RTH Hutan Kota, Taman hutan raya (Tahura), dan Taman Kota (Palu Barat, Palu Selatan dan Palu Timur). Pengumpulan data jenis burung dilakukan menggunakan metode titik hitung dengan radius 25 m dan jarak antar titik hitung 100 m. Lama waktu pengamatan pada setiap titik hitung adalah 10 menit. Kondisi vegetasi pada setiap RTH diamati menggunakan metode jalur berpetak. Jumlah jenis burung yang berhasil dijumpai dari seluruh RTH yang diamati adalah sebanyak 58 jenis dari 31 famili, terdiri atas 44 jenis burung penetap dan 4 jenis burung migran. Di antara 58 jenis tersebut terdapat 10 jenis burung yang merupakan jenis endemik Sulawesi dan Walacea. Columbidae merupakan famili yang mendominansi RTH dengan anggota terbanyak yakni sebanyak sembilan jenis (15,5%), diikuti famili Ardeidae dan Cuculidae masing-masing sebanyak empat jenis (6,9%). Sebanyak empat jenis burung termasuk dalam kategori dilindungi berdasarkan PP No. 7 Tahun 1999 dan tercantum dalam Lampiran Permen LHK Nomor 106 Tahun 2018, yakni: Haliastur indus, Milvus migrans, Ardea sumatrana, dan Loriculus stigmatus. Di seluruh RTH yang diamati tidak ditemukan jenis-jenis burung yang terancam punah menurut IUCN, namun terdapat dua jenis burung yang tercantum dalam Appendix II CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora), yakni Haliastur indus dan Milvus migrans. Indeks keanekaragaman (H') burung tertinggi dijumpai di Tahura Sulawesi Tengah dengan nilai H'= 2,6 sedangkan terendah di Taman Kota Palu Selatan dengan nilai H' = 1,97. Kata kunci: indeks keanekaragaman, komunitas burung, ruang terbuka hijau
PENDUGAAN POPULASI PESUT (Orcaella brevirostris) PADA BULAN FEBRUARI DI RESORT SUNGAI PERLU TAMAN NASIONAL TANJUNG PUTING KALIMANTAN TENGAH: Population Estimation of Irrawaddy Dolphin (Orcaella brevirostris) at Sungai Perlu Resort on February in Tanjung Puting National Park, Central Kalimantan Fajar Rahayu; Muflihati Muflihati; Sofwan Anwari; Budi Suriansyah
Media Konservasi Vol 25 No 1 (2020): Media Konservasi Vol. 20 No. 1 April 2020
Publisher : Department of Forest Resources Conservation and Ecotourism - IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (611.596 KB) | DOI: 10.29244/medkon.25.1.36-46

Abstract

Pesut adalah jenis lumba-lumba tanpa moncong yang hidup pada air tawar, payau dan asin termasuk kedalam golongan mamalia laut besar. Pesut ditetapkan sebagai spesies yang menjadi fokus dan prioritas upaya konservasi jenis di Indonesia karena termasuk kedalam spesies endangered. Jumlah individu yang terus berkurang dan meningkatnya ancaman membuat spesies ini semakin terancam jumlahnya. Penelitian bertujuan untuk menduga populasi pesut yang berada di Resort Sungai Perlu SPTN Wilayah II Taman Nasional Tanjung Puting yang dilakukan pada bulan februari yang mana menurut nelayan lokal adalah waktu yang paling tepat untuk melakukan pengamatan pesut karena kondisi gelombang laut yang sedang tenang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Capture-Mark-Recapture dengan menggunakan foto sirip punggung sebagai identitas individu setiap pesut. Pendugaan jumlah populasi menggunakan analisis persamaan Chapman. Hasil penelitian mendapatkan jumlah populasi pesut sebesar 55 individu. Karakteristik sirip punggung yang mendominasi adalah bulat telur, segitiga, bercabang, dan datar. Kata kunci: pesut, populasi, sirip punggung, Taman Nasional Tanjung Puting
ETNOBOTANI RUMAH ADAT ETNIS DAWAN DI KABUPATEN TIMOR TENGAH UTARA: Ethnobotany of Traditional House of Dawan Ethnicity in North Central-Timor Regency Emili Juliyanti Bria; Remigius Binsasi
Media Konservasi Vol 25 No 1 (2020): Media Konservasi Vol. 20 No. 1 April 2020
Publisher : Department of Forest Resources Conservation and Ecotourism - IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.365 KB) | DOI: 10.29244/medkon.25.1.47-54

Abstract

Rumah tradisional merupakan salah satu kearifan lokal yang diwariskan dari para leluhur ke keturunannya dalam suatu komunitas masyarakat. Penelitian bertujuan untuk memahami keanekaragaman dan ketersediaan spesies tumbuhan yang digunakan sebagai bahan bangunan rumah tradisional etnis Dawan dan pemanfaatannya oleh masyarakat setempat. Jumlah sampel sebanyak tiga rumah adat dari wilayah yang berbeda yakni rumah adat Tunbaba, Fafinesu, dan Tamkesi. Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan etnobotani dan etnoekologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 15 spesies tumbuhan yang digunakan sebagai bahan bangunan rumah adat tradisional terdiri atas kategori kayu, tali, dan atap. Spesies tumbuhan yang memiliki indeks nilai penting tertinggi dari ketiga sampel rumah adat adalah kayu merah (Pterocarpus indicus Willd) berturut-turut 14,64; 112,14; dan 57,70 dan trengguli (Cassia fistula L.) berturut-turut 105,44; 13,52; dan 50,06. Distribusi spesies tumbuhan tidak merata di setiap wilayah menunjukkan adanya pengaruh faktor lingkungan abiotik dan aktivitas manusia yang sangat memengaruhi keberadaan tumbuhan dalam hal pelestarian. Kata kunci: bahan bangunan, kearifan lokal, rumah tradisional
EVALUASI KEPUASAN PENGUNJUNG DAN KINERJA PENGELOLAAN WISATA ALAM PERKEMAHAN GUNUNG BUNDER TAMAN NASIONAL GUNUNG HALIMUN SALAK JAWA BARAT: Visitor Satisfication and Performance Evaluation of Nature Tourism in Gunung Bunder Camp, Gunung Halimun Salak National Park, West Java T. Maya Safira; Sambas Basuni; Nandi Kosmaryandi
Media Konservasi Vol 25 No 1 (2020): Media Konservasi Vol. 20 No. 1 April 2020
Publisher : Department of Forest Resources Conservation and Ecotourism - IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.363 KB) | DOI: 10.29244/medkon.25.1.55-63

Abstract

Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) merupakan salah satu Taman Nasional yang menawarkan objek wisata alam, salah satu yang digemari pengunjung adalah Wisata Bumi Perkemahan Gunung Bunder. Penelitian dilakukan untuk mengukur tingkat kepuasan berbasis kegiatan wisata sebagai dasar pengembangan dan perbaikan bagi penyedia/pengelola wisata perkemahan melalui indikator kepuasan yang diharapkan oleh pengunjung. Penelitian dilakukan pada September-Oktober 2018 dan Juli-Agustus 2019 menggunakan skala Likert untuk mengungkap persepsi pengunjung dengan menilai 47 indikator wisata alam sehingga didapatkan indikator potensial dan indikator yang baik. Penelitian ini menggunakan metode CSI untuk mengetahui tingkat kepuasan pengunjung, kemudian menggunakan metode IPA untuk memetakan hubungan antara kepentingan dengan kinerja dari masing-masing indikator. Pada analisis IPA dalam diagram kartesius menunjukkan tujuh indikator kinerja rendah yang menjadi prioritas utama yang harus dikelola, maka indikator pada kuadran ini harus ditingkatkan lagi kinerjanya dengan indikator ketersediaan media informasi, ketersediaan MCK pria dan wanita, ketersediaan tempat sampah, ketersediaan tempat sampah organik dan non-organik, pendistribusian karcis kepada pengunjung, kecepatan tanggap petugas kebersihan, dan harga tiket sesuai dengan ketentuan. Rekomendasi dari penelitian ini adalah pengelolaan bumi perkemahan Gunung Bunder dapat mengacu pada peraturan perundang-undangan dan ketentuan standar yang berhubungan dengan kegiatan wisata alam perkemahan. Kata kunci: evaluasi, kinerja, kepuasan, pengunjung
THREATS AND CONSERVATION EFFORTS OF THE LAST REMAINING BANTENG (Bos javanicus lowi) IN UNPROTECTED AREAS AT BELANTIKAN HULU, CENTRAL KALIMANTAN Mia Clarissa Dewi; Iman Sapari; Eddy Santoso
Media Konservasi Vol 25 No 1 (2020): Media Konservasi Vol. 20 No. 1 April 2020
Publisher : Department of Forest Resources Conservation and Ecotourism - IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (352.185 KB) | DOI: 10.29244/medkon.25.1.64-72

Abstract

Bornean banteng is classified as endangered and found only in Borneo island. The existence of a wild population of Bornean Banteng in Belantikan Hulu, in the north-western part of Indonesia’s Central Kalimantan Province, has been confirmed from the results of camera-trap programme since 2013, but its population size has yet to be determined. The study aimed to identify the threats to the banteng population in Belantikan Hulu and describe the conservation efforts that have already been taken there. Although Belantikan Hulu is now one of the priority habitats for conserving banteng in Kalimantan, the area lies outside the nationally-designated conservation area network. Hunting is one of the greatest threats that can lead directly to failure in their population. Local informants were able to describe the location and number of 24 banteng that were killed over a 65-year period, from the 1950’s to 2015. The true number is likely to be much higher, since these data were derived from a sample representing only 30% of the local hunting community, and they did not include information from any outsiders. Logging, mining and shifting cultivation in around banteng habitats are important factors that are currently contributing to the destruction and degradation of their habitats in Belantikan Hulu. Conservation efforts have got a lot of supports from local stakeholders. These efforts have led to a customary regulation being adopted that prohibits hunting of banteng or degradation of their habitats around their key saltlicks and feeding sites, and the creation of local conservation area of 1,700 ha (on land voluntarily released by the logging company) that includes these key sites. Keywords: bornean banteng, conservation, habitat, hunting, threat
ETNOBOTANI OBAT PADA MASYARAKAT SUKU PENGULUH DI KPHP LIMAU UNIT VII HULU SAROLANGUN, JAMBI: Medicinal Ethnobotany of Penguluh Ethnic at The KPHP Limau Unit VII Hulu Sarolangun, Jambi Dini Hardiani Has; Ervizal A. M. Zuhud; Agus Hikmat
Media Konservasi Vol 25 No 1 (2020): Media Konservasi Vol. 20 No. 1 April 2020
Publisher : Department of Forest Resources Conservation and Ecotourism - IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.367 KB) | DOI: 10.29244/medkon.25.1.73-80

Abstract

Masyarakat Suku Penguluh merupakan masyarakat lokal yang tinggal di kawasan pegunungan karst di daerah Bukit Bulan, Kecamatan Limun, Kabupaten Sarolangun. Pengetahuan pemanfaatan tumbuhan telah melekat dalam kebudayaan masyarakat sebagai obat, pangan, bahan bangunan dan sebagai bahan ritual. Penurunan pengetahuan pengobatan secara trandisional bagi generasi muda dikhawatirkan menyebabkan hilangnya informasi mengenai pemanfaatan tumbuhan sebagai obat. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi etnobotani spesies tumbuhan obat oleh masyarakat Suku Penguluh serta menyusun strategi konservasi dalam pengembangan spesies tumbuhan obat di kawasan hutan produksi KPH Limau Unit VII Hulu di Kabupaten Sarolangun Jambi. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2018 – Januari 2019. Data etnobotani diperoleh melalui metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data wawancara mendalam. Tercatat 100 spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mengobati 33 jenis penyakit. Spesies yang memiliki nilai ICS yang tinggi mengidentifikasikan bahwa spesies tersebut sangat berperan dalam kehidupan masyarakat terhadap penyembuhan penyakit yaitu rambutan (Naphelium lappaceum), kasai (Pometia alnifolia), pisang kemali (Musa balbisiana), Kates (Carica papaya) dan pinang (Areca catechu). Strategi konservasi dalam pengembangan tumbuhan tumbuhan obat dapat dilakukan dengan cara : (1) Memaksimalkan pemakaian obat herbal yaitu dapat dilakukan dengan: a) Membuat pelatihan dalam mengolah obat herbal menjadi sebuah produk yang siap pakai oleh pihak KPHP, b) Pengaturan dosis obat herbal yang mempercepat penyembuhan oleh perguruan tinggi, c) Pemasaran tumbuhan obat yang sudah ada sehingga masyarakat mudah menjualnya oleh pemerintah daerah; (2) Pengembangan budidaya dan model-model pemanfaatan yang tidak mengganggu populasi; (3) Pengembangan obat tradisional menjadi nilai ekonomi. Kata kunci: etnobotani, pengetahuan tradisional, strategi konservasi, suku penguluh, tumbuhan obat
PREFERENSI RELUNG PAKAN BADAK JAWA DAN BANTENG: Dietary Niche Preference of Javan Rhinoceros and Bull Rois Mahmud; Agus Priyono Kartono; Lilik Budi Prasetyo
Media Konservasi Vol 25 No 1 (2020): Media Konservasi Vol. 20 No. 1 April 2020
Publisher : Department of Forest Resources Conservation and Ecotourism - IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (490.725 KB) | DOI: 10.29244/medkon.25.1.81-88

Abstract

Populasi badak jawa yang hidup di Taman Nasional Ujung Kulon merupakan populasi terakhir spesies tersebut di dunia. Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa telah terjadi persaingan antara badak jawa dan banteng berdasarkan banyaknya tumpang tindih relung ekologisnya. Namun penelitian terakhir mengenai status interaksi interspesifik dari kedua spesies menunjukkan adanya indikasi pembagian relung ruang dan waktu dengan tanpa adanya indikasi perilaku agresif. Penelitian ini bertujuan untuk menyimpulkan kembali persaingan relung pakan antara badak jawa dan banteng di Taman Nasional Ujung Kulon. Penelitian dilakukan dengan pengamatan delapan plot analisa vegetasi di semenanjung Ujung Kulon yang mewakili area konsetrasi badak jawa dan banteng. Inventarisasi bekas pakan badak jawa dan banteng beserta ketersediaan seluruh jenis tumbuhan pada lokasi pengamatan dilakukan untuk menilai preferensi pakan dari kedua spesies. Analisa preferensi dilakukan dengan perhitungan indeks Neu untuk setiap plot pengamatan dan membandingkan nilai preferensi yang sudah distandarisasi dari seluruh plot pengamatan. Hasil pengamatan mendapatkan 65 jenis tumbuhan yang dimakan kedua spesies dengan 15 jenis tumbuhan yang tumpang tindih. Jenis yang disukai badak jawa merupakan jenis yang tidak disukai oleh banteng dan sebaliknya. Temuan tersebut menunjukkan bahwa tidak terjadi persaingan baik yang bersifat exploitative dan terdapat indikasi terjadinya pembagian relung pakan antara badak jawa dan banteng. Kata kunci: badak jawa, banteng, pembagian relung, preferensi pakan, Taman Nasional Ujung Kulon
POPULASI DAN KARAKTERISASI FENOTIP KANTONG SEMAR (Nepenthes spp.) DI TAMAN KEANEKARAGAMAN HAYATI HUTAN PELAWAN KABUPATEN BANGKA TENGAH, PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG: Pupulation And Phenotive Characterization Of Pitcher Plant (Nepenthes spp.) In Pelawan Forest Biodiversity Park at Central Bangka Regency, Bangka Belitung Islands Province Armanda Armanda; Anggraeni Anggraeni; Tri Wahyuni
Media Konservasi Vol 25 No 1 (2020): Media Konservasi Vol. 20 No. 1 April 2020
Publisher : Department of Forest Resources Conservation and Ecotourism - IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (453.094 KB) | DOI: 10.29244/medkon.25.1.89-97

Abstract

Kantong semar (Nepenthes spp.) merupakan tumbuhan yang mampu menjebak serangga dan binatang kecil lainnya. Tercatat sebanyak 139 jenis tersebar di Asia Tenggara. Di provinsi Bangka Belitung, Nepenthes spp. ditemukan di Taman Keanekaragaman Hayati Hutan Pelawan. Informasi data mengenai karakteristik fenotif dan habitat Nepenthes spp. belum pernah dilaporkan. Tujuan penelitian yaitu mendata jumlah populasi dari masing-masing jenis dan mengkarakterisasi fenotip Nepenthes spp. Metode pengambilan data menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menemukan 3 spesies yaitu Nepenthes gracilis Korth dengan populasi sebanyak 348 individu, Nepenthes rafflesiana Jack dengan populasi sebanyak 18 individu dan Nepenthes ampullaria Jack dengan populasi sebanyak 45 individu. Indeks keanekaragaman (H’) sebesar 0,36 dan tergolong rendah. Karakteristik fenotif jumlah daun steril berkisar 2-37 helai, daun fertil berkisar 1-12 helai, panjang daun berkisar 9,5-37,2 cm, lebar daun berkisar 1,7-8,2 cm dan tebal daun berkisar 2,1-3,6 mm. Panjang kantong berkisar 3,4-22,2 cm dan diameter kantong berkisar 1,6-4,4 cm. Bentuk silinder (gracilis), tempayan (ampullaria), terompet (rafflesiana kantong atas), bulat telur (rafflesiana kantong bawah). Variasi corak kantong berupa bintik-bintik merah, sayap dan renda bervariasi, kantong atas tidak bersayap, yang bersayap umumnya kantong bawah dan ber-renda, tutup kantong terdiri atas bentuk proporsional dan tak proporsional. Panjang batang berkisar 44-550 cm, diameter batang berkisar 7,0-8,5 mm dan panjang sulur berkisar 1,0-34,4 cm. Posisi sulur terdiri atas posisi membelakangi, menyamping dan di depan mulut kantong. Kata kunci: karakteristik fenotif, keanekaragaman, Nepenthes spp.

Filter by Year

1987 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 31 No. 1 (2026): Media Konservasi Vol 31 No 1 January 2026 Vol. 30 No. 4 (2025): Media Konservasi Vol 30 No 4 November 2025 Vol. 30 No. 3 (2025): Media Konservasi Vol 30 No 3 September 2025 Vol. 30 No. 2 (2025): Media Konservasi Vol 30 No 2 May 2025 Vol. 30 No. 1 (2025): Media Konservasi Vol 30 No 1 January 2025 Vol. 29 No. 4 (2024): Media Konservasi Vol 29 No 4 September 2024 Vol. 29 No. 2 (2024): Media Konservasi Vol 29 No 2 May 2024 Vol. 29 No. 1 (2024): Media Konservasi Vol 29 No 1 January 2024 Vol. 29 No. 3 (2024): Issue topic: Conservation of Nature and Culture Through Responsible Tourism Vol. 28 No. 3 (2023): Media Konservasi Vol 28 No 3 December 2023 Vol. 28 No. 2 (2023): Media Konservasi Vol 28 No 2 Agustus 2023 Vol. 28 No. 1 (2023): Media Konservasi Vol 28 No 1 April 2023 Vol 28 No 1 (2023): Media Konservasi Vol 28 No 1 April 2023 Vol 27 No 3 (2022): Media Konservasi Vol 27 No 3 December 2022 Vol. 27 No. 3 (2022): Media Konservasi Vol 27 No 3 December 2022 Vol 27 No 2 (2022): Media Konservasi Vol 27 No 2 Agustus 2022 Vol. 27 No. 1 (2022): Media Konservasi Vol 27 No 1 April 2022 Vol 26 No 3 (2021): Media Konservasi Vol. 26 No. 3 Desember 2021 Vol. 26 No. 3 (2021): Media Konservasi Vol. 26 No. 3 Desember 2021 Vol 26 No 2 (2021): Media Konservasi Vol. 26 No. 2 Tahun 2021 Vol 26 No 1 (2021): MEDIA KONSERVASI VOL. 26 NO. 1 APRIL 2021 Vol 25 No 3 (2020): Media Konservasi Vol. 25 No. 3 Desember 2020 Vol 25 No 2 (2020): Media Konservasi Vol. 25 No. 2 Agustus 2020 Vol 25 No 1 (2020): Media Konservasi Vol. 20 No. 1 April 2020 Vol 24 No 3 (2019): Media Konservasi Vol. 24 No. 3 Desember 2019 Vol 24 No 2 (2019): Media Konservasi Vol. 24 No. 2 Agustus 2019 Vol 24 No 1 (2019): Media Konservasi Vol. 24 No. 1 April 2019 Vol 23 No 3 (2018): Media Konservasi Vol. 23 No. 3 Desember 2018 Vol. 23 No. 3 (2018): Media Konservasi Vol. 23 No. 3 Desember 2018 Vol 23 No 2 (2018): Media Konservasi Vol.23 No. 2 Agustus 2018 Vol. 23 No. 2 (2018): Media Konservasi Vol.23 No. 2 Agustus 2018 Vol 23 No 1 (2018): Media Konservasi Vol. 23 No. 1 April 2018 Vol. 23 No. 1 (2018): Media Konservasi Vol. 23 No. 1 April 2018 Vol 22 No 3 (2017): Media Konservasi Vol. 22 No. 3 Desember 2017 Vol 22 No 2 (2017): Media Konservasi Vol. 22 No. 2 Agustus 2017 Vol. 22 No. 1 (2017): Media Konservasi Vol. 22 No. 1 April 2017 Vol 22 No 1 (2017): Media Konservasi Vol. 22 No. 1 April 2017 Vol. 21 No. 3 (2016): Media Konservasi Vol. 21 No. 3 Desember 2016 Vol 21 No 3 (2016): Media Konservasi Vol. 21 No. 3 Desember 2016 Vol 21 No 2 (2016): Media Konservasi Vol. 21 No. 2 Agustus 2016 Vol. 21 No. 2 (2016): Media Konservasi Vol. 21 No. 2 Agustus 2016 Vol 21 No 1 (2016): Media Konservasi Vol. 21 No. 1 April 2016 Vol 20 No 3 (2015): Media Konservasi, Vol. 20, No. 3 Desember 2015 Vol 20 No 1 (2015): Media Konservasi, Vol. 20, No. 1 April 2015 Vol 20 No 2 (2015) Vol 19 No 3 (2014): Vol 19, No.3 2014, Media Konservasi Vol 19 No 2 (2014): Vol 19, No.2 2014, Media Konservasi Vol 19 No 1 (2014): Media Konservasi Vol 19. No. 1 April 2014 Vol 18 No 3 (2013): Media Konservasi Vol. 18 No. 3 Desember 2013 Vol 18 No 2 (2013): Media Konservasi Vol. 18 Nomor 2, Agustus 2013 Vol 18 No 1 (2013): Media Konservasi Vol. 18 No. 1 April 2013 Vol 17 No 3 (2012): Media Konservasi Vol. 17 Nomor 3, Desember 2012 Vol 17 No 2 (2012): Media Konservasi Vol. 17 No. 2 Agustus 2012 Vol 17 No 1 (2012): Media Konservasi Vol. 17 Nomor 1, April 2012 Vol 16 No 3 (2011): Media Konservasi Vol. 16 Nomor 3, Desember 2011 Vol 16 No 2 (2011): Media Konservasi Vol. 16 Nomor 2, Agustus 2011 Vol 16 No 1 (2011): Media Konservasi Vol. 16 No. 1 April 2011 Vol 15 No 3 (2010): Media Konservasi Vol. 15 No. 3 Desember 2010 Vol 15 No 2 (2010): Media Konservasi Vol. 15 Nomor 2, Agustus 2010 Vol 15 No 1 (2010): Media Konservasi Vol. 15 No. 1 April 2010 Vol 14 No 2 (2009): Media Konservasi Vol. 14 Nomor 2, Agustus 2009 Vol 14 No 1 (2009): Media Konservasi Vol. 14 No. 1 April 2009 Vol 13 No 3 (2008): Media Konservasi Vol 13 No 2 (2008): Media Konservasi Vol 13 No 1 (2008): Media Konservasi Vol 12 No 3 (2007): Media Konservasi Vol 12 No 2 (2007): Media Konservasi Vol 12 No 1 (2007): Media Konservasi Vol 11 No 3 (2006): Media Konservasi Vol 11 No 2 (2006): Media Konservasi Vol 11 No 1 (2006): Media Konservasi Vol 10 No 2 (2005): Media Konservasi Vol 10 No 1 (2005): Media Konservasi Vol 9 No 2 (2004): Media Konservasi Vol. 9 No. 2 2004 Vol 9 No 1 (2004): Media Konservasi Vol. 9 No. 1 2004 Vol. 8 No. 3 (2003): Media Konservasi Vol. 8 No. 3 Desember 2003 Vol 8 No 3 (2003): Media Konservasi Vol. 8 No. 3 Desember 2003 Vol 8 No 2 (2003): Media Konservasi Vol.8, No 2 Juni 2003 Vol. 8 No. 1 (2002): Media Konservasi Vol 8 No 1 December 2002 Vol 7 No 2 (2001): Media Konservasi Vol 7 No 1 (2000): Media Konservasi Vol 6 No 1 (1999): Media Konservasi Vol 5 No 2 (1997): Media Konservasi Vol 5 No 1 (1996): Media Konservasi Vol 4 No 2 (1993): Media Konservasi Vol 4 No 1 (1992): Media Konservasi Vol 3 No 3 (1991): Media Konservasi Vol 3 No 2 (1991): Media Konservasi Vol 3 No 1 (1990): Media Konservasi Vol 2 No 4 (1989): Media Konservasi Vol 2 No 3 (1989): Media Konservasi Vol 2 No 2 (1989): Media Konservasi Vol 1 No 4 (1987): Media Konservasi More Issue