cover
Contact Name
Hasanuddin
Contact Email
prismafisika@physics.untan.ac.id
Phone
+65895372682757
Journal Mail Official
prismafisika@physics.untan.ac.id
Editorial Address
Kantor Jurusan Fisika, Komplek Fakultas MIPA, Universitas Tanjungpura Jl. Proff. Dr. Hadari Nawawi
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
PRISMA FISIKA
ISSN : 23378204     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Jurnal ini berisi publikasi ilmiah hasil penelitian di bidang fisika baik yang bersifat teoritis maupun terapan.
Articles 409 Documents
Penentuan Status Mutu Air Sungai Kapuas Menggunakan Metode Storet dan Logika Fuzzy Mamdani
PRISMA FISIKA Vol. 10 No. 2 (2022)
Publisher : FMIPA, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/pf.v10i2.55246

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang penentuan status mutu air sungai kapuas menggunakan metode storage and retrieval (STORET) dan logika fuzzy mamdani. Penelitian ini menggunakan data parameter fisika yang meliputi suhu, total suspended solids (TSS), dan kekeruhan serta parameter kimia yang meliputi derajat keasaman (pH), chemical oxygen demand (COD), nitrit, dan biochemical oxygen demand (BOD) dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2018. Pada penelitian ini dilakukan perbandingan kualitas air sungai kapuas antara metode STORET dan logika fuzzy mamdani. Metode fuzzy mamdani digunakan untuk mengklasifikasikan kualitas air sungai ke dalam empat kelas yaitu memenuhi baku mutu (kondisi baik), tercemar ringan, tercemar sedang, dan tercemar berat dan metode STORET digunakan sebagai pembandingnya. Dari hasil yang diperoleh, didapatkan bahwa akurasi metode fuzzy mamdani terhadap hasil perhitungan metode STORET adalah sebesar 88,89 %. Kata Kunci : Status Mutu Air, Metode STORET, Logika Fuzzy Mamdani
Identifikasi Struktur Bawah Permukaan Daerah Panas Bumi dengan Metode Magnetik di Daerah Tarutung Bagian Selatan dan Sekitarnya, Provinsi Sumatra Utara
PRISMA FISIKA Vol. 10 No. 2 (2022)
Publisher : FMIPA, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/pf.v10i2.55463

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang identifikasi struktur bawah permukaan daerah panas bumi melalui pemodelan 2D metode magnetik di daerah Tarutung bagian Selatan dan sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur lapisan bawah permukaan pada lokasi manifestasi panas bumi di daerah penelitian. Pemodelan 2D dilakukan berdasarkan hasil anomali magnetik regional dan didukung oleh informasi geologi daerah tersebut. Penggunaan metode kontinuasi ke atas pada data anomali magnetik menghasilkan nilai anomali magnetik regional mulai dari -86,7 nT hingga 108,9 nT yang berasosiasi dengan terdapatnya sesar dan mata air panas. Daerah prospek ini didominasi oleh batuan andesit dan aglomerat berasal dari Formasi Gunung Api Toru (Tmvo) dan batuan tufa berasal dari Satuan Tufa Toba (Qvt). Lebih lanjut, pemodelan 2D pada penampang sayatan A-A"™, sayatan B-B"™, sayatan C-C"™, dan sayatan D-D"™ menguatkan hasil interpretasi sebelumnya terkait keberadaan struktur sesar. Terdapat 3 perlapisan batuan untuk setiap profil pada sayatan, yaitu andesit dan aglomerat, cap rock (tufa dan aluvium) sebagai tempat keluarnya air panas, dan zona reservoir yaitu batu pasir. Proses demagnetisasi akibat alterasi hidrotermal ditunjukkan oleh adanya bagian dari daerah penelitian yang memiliki nilai suseptibilitas kecil.
Variasi Harian Komponen H Medan Magnet Bumi Di Wilayah Ekuator Pada Saat Badai Geomagnetik (Studi Kasus: 1 September 2019 dan 20 April 2020)
PRISMA FISIKA Vol. 10 No. 2 (2022)
Publisher : FMIPA, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/pf.v10i2.55549

Abstract

Dampak aktivitas tidak beraturan di matahari dapat menimbulkan berbagai fenomena cuaca antariksa, salah satunya badai geomagnetik. Badai geomagnetik yang terjadi di ruang lingkup wilayah ekuator bumi dapat meningkatkan eksistensi arus cincin. Konsekuensinya, sistem arus ionosfer menjadi termodifikasi dan berpotensi mengakibatkan perubahan secara impulsif pada nilai variasi harian komponen H medan magnet bumi yang umumnya ditandai dengan penurunan tajam. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui variasi harian komponen H medan magnet bumi di wilayah ekuator pada saat badai geomagnetik, tepatnya tanggal 1 September 2019 maupun 20 April 2020. Metode yang digunakan adalah metode variasi harian medan magnet bumi dan analisis deskriptif kuantitatif. Penelitian ini menggunakan data nilai komponen H medan magnet bumi dari Stasiun BPAA Pontianak"“LAPAN beserta data aktivitas geomagnetik, seperti indeks Kp, Dst, SYM-H, katalog IQD"™s dan Top 50 Geomagnetic Storm.Berdasarkan hasil analisis komparatif yang diperoleh dengan beragam jenis informasi aktivitas geomagnetik, teridentifikasi bahwa kedua studi kasus merupakan badai berkekuatan kecil (Kpmax=5) hingga sedang (Dstmin>-50). Kedua badai tersebut terjadi ketika fase minimum bintik matahari siklus Ke-24/Ke-25 dan berkaitan dengan CME. Dalam kasus pertama, 1 September 2019, terjadi penurunan tajam pada parameter komponen dan sebesar -66,8 nT dan -55,6 nT, sedangkan dalam kasus kedua, 20 April 2020,tercatat sebesar -143,5 nT dan -186,7 nT. Masing-masing kasus memiliki tipe badai yang berbeda, yaitu 1 September 2019 tipe SG dan 20 April 2020 tipe SSC. Penelitian ini dapat dimanfaatkan pihak surveyor geofisika untuk mengidentifikasi badai geomagnetik dan sebagai langkah awal untuk mitigasi dampak arus GIC akibat badai geomagnetik.
Identifikasi Struktur Bawah Permukaan Menggunakan Data Anomali Magnetik Lembar Kupang
PRISMA FISIKA Vol. 10 No. 2 (2022)
Publisher : FMIPA, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/pf.v10i2.55571

Abstract

Telah dilakukan identifikasi struktur bawah permukaan menggunakan data anomali magnetik pada daerah Kupang, Nusa Tenggara Timur dengan koordinat 10 °7"™6,3" - 10 °23"™9,2" LS dan 123 °30"™0,8" "“ 123 °48"™2,9" BT. Data yang digunakan dalam penelitian merupakan data sekunder yang diperoleh dari Pusat Survei Geologi (PSG) Bandung. Data magnetik diolah menggunakan transformasi reduksi ke kutub, transformasi kontinuasi ke atas kemudian dilakukan pemodelan 3D yang bertujuan untuk mengetahui struktur bawah permukaan. Model 3D suseptibilitas daerah penelitian memiliki nilai suseptibilitas antara -0,0051 hingga 0,0068 SI. Berdasarkan hasil penampang 2D dari model 3D pada tiga sayatan disusun oleh batu gamping, batu lempung, dan batu pasir, batu serpih. Pada setiap penampang diduga terdapat mineral yang bersifat non-magnetik yaitu mineral kuarsa dan mineral kalsit.Kata Kunci : Metode magnetik, reduksi ke kutub, kontinuasi ke atas, Pemodelan 3D, Kupang
Interpretasi Kualitatif Sebaran Batuan di Kabupaten Belu dan Sekitarnya Berdasarkan Data Anomali Magnetik
PRISMA FISIKA Vol. 10 No. 2 (2022)
Publisher : FMIPA, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/pf.v10i2.55586

Abstract

Telah dilakukan interpretasi kualitatif terhadap sebaran batuan di Kabupaten Belu dan sekitarnya berdasarkan data anomali magnetik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keberadaan sebaran batuan berdasarkan anomali medan magnet residual. Data anomali magnetik masih mengandung anomali medan magnet regional dan residual. Pemisahan kedua anomali tersebut menggunakan metode kontinuasi ke atas. Anomali medan magnet residual pada daerah penelitian menunjukkan nilai anomali berkisar antara -167,6 nT hingga 89,9 nT dengan dugaan terdapat sebaran penyusun batuan yang lebih tua anomali tinggi dengan rentang nilai 21,9 nT hingga 89,9 nT yang diduga mencerminkan adanya keterdapatan penyusun batuan yang lebih tua diantaranya berasal dari Formasi Bisane, Formasi Aitutu dan Formasi Maubisse. Anomali menengah dengan rentang nilai 58,4 nT hingga 16,8 nT yang diduga mencerminkan adanya batuan malihan pada formasi Noele serta anomali rendah dengan rentang nilai -167,6 nT hingga -65,1 nT yang diduga mencerminkan adanya endapan aluvium.
Analisis Tingkat Kebisingan Pada Area Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Wilayah Kabupaten Kubu Raya
PRISMA FISIKA Vol. 10 No. 2 (2022)
Publisher : FMIPA, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/pf.v10i2.55633

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang tingkat kebisingan di lokasi pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) wilayah kabupaten Kubu Raya Kalimantan Barat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat kebisingan dan tingkat polusi kebisingan di area PLTD wilayah kabupaten Kubu Raya. Metode pengukuran yang digunakan mengacu ke pada nilai ambang batas (NAB) kebisingan menurut Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No.48/MENLH/11/1996. Alat yang digunakan untuk pengukuran tingkat kebisingan adalah Sound Level Meter. Pengambilan data dilakukan di area PLTD pada hari Jum"™at, Sabtu dan Minggu selama 24 jam. Titik intensitas kebisingan yang paling tinggi berdasarkan jarak tingkat kebisingan semakin jauh jarak pengukuran maka semakin rendah nilai tingkat kebisingannya dan berdasarkan waktu pengukuran siang nilai tingkat kebisingan lebih tinggi dari pada pengukuran malam. Tingkat polusi kebisingan (LNP) pada area PLTD wilayah kabupaten Kubu Raya di semua titik selama 24 jam memiliki nilai intensitas kebisingan berkisar 66,6 "“ 86,3 dB melebihi nilai ambang batas dan dikategorikan normal tidak dapat diterima
Analisis Tingkat Energi Osilator Kuantum Anharmonik dengan Metode Runge Kutta Orde Empat
PRISMA FISIKA Vol. 10 No. 2 (2022)
Publisher : FMIPA, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/pf.v10i2.55687

Abstract

Penelitian tentang osilator kuantum anharmonik sudah banyak dilakukan dengan berbagai metode. Pada penelitian ini menggunakan metode Runge Kutta orde empat dengan tujuan untuk mencari tingkat energi osilator kuantum anharmonik pada satu dimensi. Untuk mendapatkan besar tingkat energi dengan cara mencari solusi persamaan diferensial Schrödinger dengan metode Runge Kutta orde empat. Potensial osilator kuantum anharmonik yang digunakan berupa dengan adalah konstanta pada energi potensial bernilai 0.01 dan adalah suku gangguan. Nilai pada suku gangguan divariasikan adalah , , dan . Hasil menunjukkan bahwa selisih energi setiap tingkat osilator kuantum anharmonik berbeda-beda jika dibandingkan dengan osilator kuantum harmonik.
Korelasi Konsentrasi Particulate Matter (PM10) dan Curah Hujan di Kalimantan Barat
PRISMA FISIKA Vol. 10 No. 2 (2022)
Publisher : FMIPA, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/pf.v10i2.56064

Abstract

Telah dilakukan penelitian korelasi konsentrasi particulate matter (PM10) dan curah hujan di wilayah Kalimantan Barat. Penelitian ini menggunakan data spasial PM10 dan curah hujan dalam kurun waktu 10 tahun. Berdasarkan data intensitas curah hujan dan data PM10 yang diperoleh, dapat diketahui rata-rata setiap bulannya. Curah hujan dan PM10 memiliki hasil korelasi yang kuat yaitu -0,60 dengan menunjukkan korelasi yang tidak searah. Apabila curah hujan meningkat maka terjadinya penurunan tingkat kualitas udara (PM10), sedangkan apabila curah hujan menurun maka terjadinya fluktuasi pada PM10 yang dapat mempengaruhi kesehatan makhluk hidup.
Analisis Data Resistivitas Konfigurasi Dipole-dipole untuk Identifikasi Akuifer Daerah Cipayung, Jakarta Timur
PRISMA FISIKA Vol. 10 No. 2 (2022)
Publisher : FMIPA, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/pf.v10i2.56587

Abstract

Kebutuhan air tanah di Jakarta yang terus meningkat disebabkan oleh pertumbuhan penduduk, tingkat urbanisasi dan perkembangan kawasan industri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi dan sebaran akuifer daerah penelitian berdasarkan nilai resistivitas. Pengukuran geolistrik 2D digunakan untuk mengetahui sebaran nilai resistivitas material daerah penelitian. Akuisisi data dilakukan sebanyak 4 lintasan menggunakan konfigurasi dipole-dipole. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan software RES2Dinv. Hasil analisis penampang resistivitas diperoleh empat kelas resistivitas yaitu : resistivitas rendah (>8 Ω.m) dengan litologi berupa lempung tufan, resistivitas sedang (8-25 Ω.m) terdiri dari litologi pasir lempungan dan lempung pasiran, resistivitas sedang (26-50 Ω.m) terdiri dari litologi pasir tufan dan resistivitas tinggi (51-800 Ω.m) dengan litologi berupa pasir. Dari karakteristik batuan diintrepetasikan lapisan akuifer berupa batupasir, lapisan akuiklud berupa lempung tufan dan lapisan akuitar terdiri pasir lempungan, lempung pasiran, dan pasir tufan. Akuifer daerah penelitian diidentifikasikan berupa kuifer semi tertekan dan merupakan akuifer dangkal yang ditemukan pada kedalaman berkisar 7-54 m.
Pola Persebaran Batubara berdasarkan Analisis Data Well Logging Blok X PT. Y Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan
PRISMA FISIKA Vol. 10 No. 2 (2022)
Publisher : FMIPA, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/pf.v10i2.56593

Abstract

Studi ini difokuskan pada rekognisi persebaran lapisan batubara (coal seams) berdasarkan analisis data well logging, terutama log gamma ray dan log densitas dari beberapa sumur pemboran dangkal di daerah Musi Bnayuasin. Kedua data log tersebut dianalisis untuk mengidentifikasi jenis litologi dan keterdapatan lapisan batubara pada kedalaman tertentu. Hasil analisis memperlihatkan daerah penelitian memiliki tujuh lapisan batubara, berturut-turut dari paling atas hingga terbawah dinamai sebagai lapisan A,B,C,D,E,F dan G. Korelasi layer-layer tersebut memperlihatkan arah umum persebaran batubara relative timurlaut-baratdaya, dan khusus lapisan C terlihat adanya percabangan (splitting) batubara di tiga sumur bor. Hasil estimasi ketebalan rerata menunjukkan bahwa setiap lapisan batubara memiliki tebal beragam, yaitu seam A memiliki nilai 2,20 m, seam B 1,45 m, seam C 4,85 m, seam D 2,2 m, seam E 1,01 m, seam F 1,02 dan seam G 2,45 m. Lapisan batubara yang paling tebal diinterpretasikan yaitu seam C. Persebaran seam paling banyak terdapat pada seam C, D dan E karena ditemukan pada semua sumur pemboran, sedangkan seam G merupakan lapisan batubara dengan persebaran paling sedikit di daerah studi, karena hanya ditemukan pada dua sumur pemboran.