cover
Contact Name
YANTI
Contact Email
midarelhakim1983@uin-suska.ac.id
Phone
+6281374281098
Journal Mail Official
midarelhakim1983@uin-suska.ac.id
Editorial Address
Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UIN Sultan Syarif Kasim Riau
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
Kutubkhanah Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan
ISSN : 24071633     EISSN : 16938186     DOI : 10.24014/ku.v21i2.
Core Subject : Religion, Social,
Kutubkhanah adalah jurnal yang diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Sultan Syarif Kasim Riau sejak tahun 1998. Terbit dua kali setahun pada bulan Juni dan Desember. Jurnal Kutubkhanah memuat kajian-kajian sosial keagamaan sebagai hasil atau temua penelitian. Kajian-kajian tersebut meliputi berbagai aspek kehidupan masyarakat, seperti ekonomi, politik, sosial, budaya, gender, psikologi, pendidikan dan dikaji dalam perspektif Agama Islam. Jurnal ini merupakan media komunikasi akademik bagi para peneliti dan pemerhati perkembangan hasil penelitian ilmu sosial dalam perspektif Islam. Dengan kata lain jurnal Kutubkhanah adalah jurnal yang memuat berbagai tulisan ilmiah tentang hasil penelitian atau temuan penelitian di bidang ilmu-ilmu sosial keagamaan.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 14, No 2 (2011): Juli - Desember 2011" : 7 Documents clear
PENGGUNAAN KATA TANYA/ ISTIFHANIAH DALAM ALQUR’AN (SUATU KAJIAN TAFSIR TEMATIK DALAM TAFSIR AL MISHBAH PADA SURAT AL BAQARAH, ALI IMRAN, AN NISA’) Mainizar Mainizar
Kutubkhanah Vol 14, No 2 (2011): Juli - Desember 2011
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.836 KB) | DOI: 10.24014/kutubkhanah.v14i2.268

Abstract

Al-Qur’an sebagai mukjizat terbesar bagi nabi Muhammad SAW dalam bentuk mu’jizat ma’nawiyah yaitu suatu mukjizat yang dapat disaksikan oleh seluruh umat sepanjang zaman baik dari segi lafaz, makna dan isi kitab ini merupakan tantangan bagi orang-orang yang mengingkari kebenarannya baik orang-orang arab sendiri maupun bangsa lain. Al-Quran telah memberikan petunjuk yang jelas melalui uslub (gaya bahasa) dalam menyampaikan ayatnya yang dapat dilihat dari pembukaan/permulaan surat al- Qur’an. Keberadaan kata tanya dalam al-Quran pasti banyak mempunyai rahasia dan hikmahnya bagi manusia khususnya umat Islam KajianTafsir Tematik dalam Tafsir al-Misbah pada surat-surat al-Qur’an perlu kita dalami. Agar kaum muslimin dapat membaca dan memahami dengan baik serta merenungkan makna kata tanya yang ada dalam surat-surat ini dalam rangka meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah dan rasulnya agar al-Qur’an betul-betul menjadi petunjuk bagi mereka untuk kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat
PERSPEKTIF ISLAM TENTANG PENGINTEGRASIAN ILMU AKHLAK DALAM PEMBELAJARAN ILMU SAINS DAN PENERAPANNYA DI LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM Nasharuddin Yusuf
Kutubkhanah Vol 14, No 2 (2011): Juli - Desember 2011
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.35 KB) | DOI: 10.24014/kutubkhanah.v14i2.404

Abstract

Al-Qur`an banyak memuat tentang pokok-pokok bahasan ilmu Biologi kompensional (umum), sebagaimana yang termaktub dalam kurikulum ilmu Biologi tersebut. Di samping adanya kaitan ayat-ayat al-Qur`an dengan pokokpokok bahasan ilmu biologi, ia memiliki urgenitas, yaitu adanya pertemuan antara ayat kawniyah dengan ayat qur`aniyah yang saling bersesuaian dan bersepadanan. Apabila dilakukan pola komfirmasi dan komunikasi pokok bahasan ilmu Biologi dengan ayat-ayat al-Qur`an, maka dapatlah dipertemukan sebuah “ model kurikulum terintegrasi pada mata pelajaran ilmu Biologi dan Akhlak Mulia “, sebab, al-Qur`an mengaitkan pokok bahasan ilmu Biologi dengan aspek akhlak mulia, soal iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jadi, model kurikulum terintegrasi penting dilaksanakan oleh lembaga pendidikan Islam. Karena lembaga pendidikan Islamlah yang dapat dianggap mempelopori model kurikulum terintegrasi ini.
RESPON MASYARAKAT PESANTREN KOTA PEKANBARU TERHADAP FENOMENA NIKAH SIRRI Wahidin Wahidin
Kutubkhanah Vol 14, No 2 (2011): Juli - Desember 2011
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (461.494 KB) | DOI: 10.24014/kutubkhanah.v14i2.257

Abstract

Pernikahan atau yang lazim disebut Perkawinan, dalam Islam sebagaimana didasarkan pada QS.al-Nisa’ ayat 3, dan dalam Hukum Perkawinan di Indonesia (Undang-undang No.1 Tahun 1974 Pasal 3) pada azasnya adalah monogamy, yaitu bahwa dalam suatu perkawinan seorang pria hanya boleh mempunyai seorang istri. Namun demikian, baik dalam Hukum Islam maupun Hukum Perkawinan di Indonesia keduanya membuka kemungkinan bagi seorang suami untuk berpoligami dengan syarat harus mendapat izin dari Pengadilan Agama dengan disertai alasan-alasan tertentu. Aturan hukum tentang persyaratan yang harus dipenuhi bagi seorang pria untuk berpoligami dirasakan amat menyulitkan bagi sementara pihak sehingga untuk tetap dapat melaksanakan hajatnya dalam berpoligami, maka jalan yang ditempuh adalah melangsungkan pernikahan secara sembunyi-sembunyi (tidak tercatat di Kantor Urusan Agama), atau yang lebih dikenal istilan Nikah Sirri. Fenomena Nikah Sirri telah banyak menimbulkan respon pro dan kontra, sikap positif dan negatif, baik di kalangan pakar Hukum Islam, pakar Hukum Positif, Pemerintah maupun masyarakat Indonesia umumnya, termasuk masyarakat di lingkungan Pondok Pesantren yang ada di Kota Pekanbaru. Fenomena Nikah Sirri ini menjadi semakin lebih menarik untuk diteliti karena selain pelakunya tokoh agama, pejabat negara, masyarakat awam, juga masyarakat di lingkungan Pondok Pesantren yang ada di Kota Pekanbaru. Penelitian ini bersifat kualitatif, dilakukan di 14 Pondok Pesantren yang ada di Kota Pekanbaru. Sampel yang diambil sebanyak 502 orang dari 5.020 populasi yang ada, dari angket disebarkan kepada mereka ternyata responden yang mengembalikan lembar angket kepada penulis sebanyak 435 responden dan dari jumlah tersebut yang tidak dapat diolah karena rusak sebanyak 35 lembar angket. Dengan demikian, maka jumlah angket yang dapat diolah dengan tabulasi dan perhitungan sebanyak 400 lembar angket. Karakteristik responden terdiri dari responden terdiri dari Kyai/Buya/Ustadz sebanyak 135 orang (33,75%), Ustadzah 65 orang (16,25%), sebanyak dan sisanya yang terbanyak adalah Santri/Alumni sebanyak 200 orang (50,00%). Respon masyarakat Pondok Pesantren terhadap fenomena nikah sirri di Kota Pekanbaru menunjukkan kecenderungan negatif. Respon tersebut secara detail terbagi ke dalam tiga kelompok yang keseluruhannya bersifat negatif, yaitu : (1)Respon masyarakat respon yang berupa komentar dan pendapat masyarakat Pesantren di Kota Pekanbaru terhadap fenomena nikah sirri diketahui berada pada level negatif, ditunjukkan dengan skor 56,8%, (2) Respon yang berupa sikap masyarakat Pesantren di Kota Pekanbaru terhadap fenomena nikah sirri diketahui berada pada level negatif, ditunjukkan dengan skor 51,2% dan (3) Respon yang berupa tindakan masyarakat Pesantren di Kota Pekanbaru terhadap fenomena nikah sirri diketahui berada pada level negatif, ditunjukkan dengan skor 56,0%.
PENANGANAN PATOLOGI SOSIAL DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGI HUKUM ISLAM (Studi Kasus Penutupan Lokalisasi Teleju Oleh PEMKO PEKANBARU) Bambang Hermanto
Kutubkhanah Vol 14, No 2 (2011): Juli - Desember 2011
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (551.271 KB) | DOI: 10.24014/kutubkhanah.v14i2.270

Abstract

Ditutupnya lokalisasi teleju oleh Pemerintah Kota Pekanbaru pada tahun 2009 disinyalir akan menyebabkan tindakan prostitusi semakin sulit diberantas karena sulit untuk dideteksi keberadaannya yang tersembunyi. Di sisi lain ada persepsi yang berkembang di tengah masyarakat dengan ditutupnya lokalisasi ini merupakan salah satu hal yang bijaksana dalam penanganan patologi sosial di kota Pekanbaru. Secara umum usaha untuk menanggulangi pelacuran dapat dilakukan secara preventif, represif dan rehabilitatif. Usaha preventif dilakukan dengan cara memberikan sanksi hukum kepada pihak-pihak yang terlibat dalam pelacuran, baik berupa denda maupun kurungan. Penutupan lokalisasi teleju didasarkan pada ketentuan yuridis karena keberadaan lokalisasi teleju bertentangan dengan beberapa aturan yang sudah dibuat sebelumnya oleh PEMKO Pekanbaru antara lain PERDA Kota Pekanbaru Nomor 12 Tahun 2008 Tentang Ketertiban Sosial. Sementara itu dalam perspektif hukum Islam, penanganan lokalisasi dengan pendekatan jinayah merupakan tindak preventif yang radikal dan diyakini dapat menangani persoalan prostitusi secara keseluruhan. Namun disamping itu pemaknaan hukum Islam tidak harus dilihat dari perspektif nilai saja, tetapi perlu dicari keterkaitan secara organik dan struktural dalam kehidupan sosial. Dengan pendekatan ini diharapkan hukum Islam lebih dapat diterima dan dilaksanakan sebagai solusi dalam menyelesaikan persoalan penyakit sosial.
MOTIVASI IBU-IBU DALAM MENGIKUTI KEGIATAN MAJELIS TA’LIM (STUDI TERHADAP MAJELIS TA’LIM AL-UMMAHAT MASJID AL-IHSAN MARKAZ ISLAMI KABUPATEN KAMPAR) Nelly yusra
Kutubkhanah Vol 14, No 2 (2011): Juli - Desember 2011
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.523 KB) | DOI: 10.24014/kutubkhanah.v14i2.258

Abstract

Dalam sejarah Islam, ternyata sosialisasi agama Islam, pengembangan dan pemberdayaannya di mulai dari Majelis Ta’lim dalam bentuk yang sederhana. Sejarah mencatat bahwa pada mulanya secara diam-diam dan tersembunyi, Rasulullah Muhammad SAW memulai Majelis Ta’lim di pinggang bukit Shafa di rumah Arqam ibn Abi Arqam. Pada Majelis Ta’lim pertama inilah Rasulullah menjelaskan dan mengajarkan Islam kepada sahabat-sahabat beliau pada waktu itu. Sekalipun Majelis Ta’lim yang diselenggarakan Rasulullah sangat sederhana tetapi keberhasilannya sungguh luar biasa. Bukan para sahabat saja yang tertarik, bahkan ada terdapat beberapa orang non muslim yang datang secara diam-diam dan sembunyi-sembunyi mengikutinya. Setelah Rasulullah berhijrah ke Yastrib (Madinah), Majelis Ta’lim mengalami perkembangan dan dilaksakan secara terbuka di masjid Nabawi. Tradisi Majelis Ta’lim ini berkembang terus menerus dan meluas sampai ke masjidil haram dan berbagai Wilayah di Timur Tengah sejalan dengan perkembangan yang terjadi. Selanjutnya, pada abad-abad kejayaan umat Islam (abad 7-13 M), ternyata Majelis Ta’lim bukan saja sebagai tempat mendalami ajaran Islam, tetapi juga sebagai tempat para ulama dan pemikir menyebarkan luaskan penemuan mereka (hasil ijtihadnya). Para ilmuan Islam dalam berbagai disiplin ilmu seperti fiqh, tauhid, tafsir, hadist, taSAWuf, bahkan juga dalam berbagai ilmu yang dewasa ini dikenal dengan ilmu seperti IPA, kedokteran, bahasa, politik, matematika dan sebagainya adalah produk Majelis Ta’lim yang ada pada waktu itu. Namun pada saat ini, meskipun majelis-Majelis Ta’lim sudah hampir secara menyeluruh ditemukan di setiap masjid atau mushallah di Indonesia, tetapi perannya dalam membawa umat ke dalam kehidupan yang berperadaban belum begitu besar. Hal ini agaknya disebabkan oleh banyak faktor antar lain, masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam mengikuti majelis-Majelis Ta’lim, disisi lain, majelis-majelis ta’lim belum dikelola secara profesional.
PEMBINAAN KEAGAMAAN LANJUT USIA DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDA KHUSNUL KHOTIMAH PEKANBARU RIAU Silawati Silawati
Kutubkhanah Vol 14, No 2 (2011): Juli - Desember 2011
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (158.615 KB) | DOI: 10.24014/kutubkhanah.v14i2.259

Abstract

One of phenomenon which adequately pulls deep its nation-building problem far advanced in years (lansia). lansia's population at Indonesian tending worked up continually which is 6,9% (1990), 7,18% (2000), predict 9,77% (2010), and 11,34% (2020) (BPS: 1998). It logical consequence, necessary well-being service step-up for old age at various area as social as, health, keagamaan's education and construction. Base Commanding regulation No. 43 Years 2004 about well-being Increasing Effort Performings far advanced in years Sections 1, that lansia the so called is someone already reach age 60 years onto. As follow-up of that Mensos's decision, at arranges Social Service Guidance Far Advanced In Years at Panti (No.. 4 / PRS 3 / KPTS / 2007) one that meaty about construction pattern / leadings for far advanced in years at panti social. There is pattern even construction / intended leading deep that guidance as guidance of spiritual's mental and spirituality by use of discourse method, demonstration and discussion, religious service guidance everyday, pengajian, read al-quran. Result observationaling to show that religion construction at Panti this Social, we give construction as discourse of religion, spirituality guidance, manner, moral, and another dogma. There are many sometimes clients a new one comes here not know ridicule which makes the point sholat, get ablution, etc.. Nah that is task we in here, from them that don't know whatever good it good sholat procedure, get ablution that really, until they can and know it with every consideration and truth. Now they have known it and understands ridicule which sholat's procedure, get ablution’ and another religion fomentation with every consideration and truth. At while do keagamaan's construction officer divides clients available one come under into individual and group.
SISTEM KEWARISAN ADAT MELAYU ROKAN HULU (ANALISIS SOSIOLOGIS DAN HUKUM ISLAM) ZASRI M.ALI
Kutubkhanah Vol 14, No 2 (2011): Juli - Desember 2011
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (574.602 KB) | DOI: 10.24014/kutubkhanah.v14i2.260

Abstract

Kajian tentang hukum waris, selain membuat deskripsi tentang bagaimana suatu masyarakat memindahkan haknya dalam bentuk benda atau lainnya dari suatu generasi ke generasi berikutnya atau dari multidimensi bahkan multi disiplin. Kondisi hukum waris dari suatu masyarakat memberikan informasi dan mempunyai hubungan dengan sistem kekerabatan, sistem nilai, sejarah dan perubahan-perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat yang bersangkutan. Kabupaten Rokan Hulu mewarisi suatu kebudayaan besar yaitu kebudayaan Melayu. Di daerah ini lahir suatu kerajaan yang dikenal kemudian dengan kerajaan Tambusai yang telah meletakkan dasar-dasar kebudayaan Melayu yang bercorak Islam. Masalah pokok yang akan dijawab melalui penelitian ini adalah sebagai berikut : Bagaimana bentuk sistem kewarisan masyarakat Melayu Rokan Hulu?, dan sejauhmana pengaruh Hukum Waris Islam terhadap sistem kewarisan suku Melayu di Rokan Hulu? Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hukum waris yang berlaku dalam masyarakat Rokan Hulu hingga saat ini masih bersifat pluralistik. Artinya, bermacam-macam sistem hukum waris berlaku bersama-sama, dalam waktu dan wilayah yang sama pula. Mencermati kedua sistem hukum waris yang berlaku di Rokan Hulu, terdapat perbedaan yang sangat prinsipil antara Hukum Waris Islam di satu pihak dengan Hukum Waris Adat di lain pihak terutama dalam penentuan bahagian ahli waris. Sebagai contoh, menurut ketentuan dalam Hukum Waris Islam anak laki-laki memperoleh bagian dua kali lipat dari bagian anak perempuan. Sedangkan menurut Hukum Waris Adat anak laki-laki dan anak perempuan sebagai ahli waris, bagian mereka tidak dibedakan. Jadi bagian masing-masing akan ditentukan berdasakan kesepakatan diantara ahli waris.

Page 1 of 1 | Total Record : 7