cover
Contact Name
Dita Archinirmala
Contact Email
dorotea.ditaarchinirmala@kalbe.co.id
Phone
+6281806175669
Journal Mail Official
cdkjurnal@gmail.com
Editorial Address
http://www.cdkjournal.com/index.php/CDK/about/editorialTeam
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Cermin Dunia Kedokteran
Published by PT. Kalbe Farma Tbk.
ISSN : 0125913X     EISSN : 25032720     DOI : 10.55175
Core Subject : Health,
Cermin Dunia Kedokteran (e-ISSN: 2503-2720, p-ISSN: 0125-913X), merupakan jurnal kedokteran dengan akses terbuka dan review sejawat yang menerbitkan artikel penelitian maupun tinjauan pustaka dari bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat baik ilmu dasar, klinis serta epidemiologis yang menyangkut pencegahan, pengobatan maupun rehabilitasi. Jurnal ini ditujukan untuk membantu mewadahi publikasi ilmiah, penyegaran, serta membantu meningkatan dan penyebaran pengetahuan terkait dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Terbit setiap bulan sekali dan disertai dengan artikel yang digunakan untuk CME - Continuing Medical Education yang bekerjasama dengan PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia)
Articles 23 Documents
Search results for , issue "Vol 44, No 7 (2017): THT" : 23 Documents clear
Scabies : Terapi Berdasarkan Siklus Hidup Tansil Tan, Sukmawati; Angelina, Jessica; -, Krisnataligan
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 7 (2017): THT
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (320.003 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v44i7.753

Abstract

Skabies merupakan salah satu infeksi parasit yang cukup banyak dan menjadi isu penting terutama daerah padat penduduk. Penyakit ini dapat menyerang segala usia dan berbagai kalangan sosial. Beberapa penyebab tingginya angka kejadian skabies adalah penularan yang cepat, siklus hidup Sarcoptes scabiei yang pendek, dan ketidakpatuhan pasien pada terapi. Tulisan ini mengusulkan terapi permethrin 5% diberikan tiga kali, dengan jarak satu minggu; didasarkan pada siklus hidup Sarcoptes scabiei sekaligus mencegah kegagalan terapi.Scabies is a common parasitic infection and a very important issue especially in densely populated areas. The disease can affect all ages and social strata. The high incidence is caused by rapid transmission, short life cycle of Sarcoptes scabiei, and poor compliance. This paper proposes therapy with permethrin 5 % given three times, with one week interval, based on the life cycle of Sarcoptes scabiei. This regimen can prevent treatment failure.
Pengaruh Varian Organic Cation Transporter 1 (OCT-1) terhadap Bioavailabilitas dan Intoleransi Metformin Tandiawan, Fedrick
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 7 (2017): THT
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (590.536 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v44i7.754

Abstract

Metformin, suatu derivat biguanid merupakan agen terapi oral hiperglikemia untuk diabetes tipe 2. Respon individu terhadap metformin signifikan berbeda. Heterogenitas ini dapat dijelaskan oleh faktor genetik yang mempengaruhi transporter obat tersebut. Salah satunya adalah OCT1 yang diekspresikan di enterosit, sel hepar dan ginjal. Variasi genotipe, disfungsi OCT1 dan obat penghambat OCT1 dapat mempengaruhi bioavailabilitas metformin dan efek klinisnya.Metformin, a biguanid derivate is an oral antihyperglycemic drug for type 2 diabetes mellitus treatment. Response to metformin varies significantly at individual level. This heterogeneity may be explained by genetic factors that influence drug transporters. One of the transporters - OCT1, is expressed on enterocytes, hepatocytes, and kidney. Genotype variants, OCT1 dysfunction and OCT1 inhibitors may change the bioavailability of metformin and its clinical effects.
Karakteristik Nyeri Punggung Bawah Anggota Aktif TNI AD di RSPAD Gatot Soebroto Jakarta Suryo, Army Pambudi; -, Sasmoyohati; Hadiarso, Lukas
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 7 (2017): THT
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.377 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v44i7.745

Abstract

Nyeri punggung bawah (NPB) adalah nyeri di daerah punggung bagian bawah, dapat nyeri lokal, radikular atau keduanya. NPB menempati urutan kedua tertinggi kasus nyeri setelah sefalgia; angka kehilangan kerja bisa mencapai 6 – 7 minggu/tahun. Anggota TNI AD yang memiliki tugas pokok menjaga kedaulatan NKRI, memiliki beberapa faktor risiko NPB, hal ini dapat menurunkan kesiapan dalam tugas. Jumlah responden penelitian ini 57 orang dengan kasus : kontrol adalah 1:1, data dianalisis univariat, bivariat menggunakan uji Chi Square, dan multivariat menggunakan uji regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan keluhan NPB terbanyak karena HNP (Herniasi Nukleus Pulposus) dengan persentase 64,9%, kejadian NPB terbanyak pada kelompok pangkat Bintara (35%). Variabel bebas yang diuji adalah usia (p : 0,039), pangkat (p : 0,036), aktivitas fisik (p : 0,008), kebiasaan merokok (p : 0,558), dan IMT (p : 0,036). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa aktivitas fisik merupakan faktor risiko NPB paling dominan, kemungkinan NPB pada anggota aktif TNI AD yang memiliki aktivitas fisik berat sebesar 35,7%, sedangkan jika ada ketiga faktor risiko utama (aktivitas fisik berat, usia >40 tahun, dan IMT ≥25), risiko NPB mencapai 89,9%. Pencegahan dan meminimalkan faktor risiko diharapkan dapat menurunkan kejadian NPB angka kehilangan kerja pada anggota aktif TNI AD serta.Low back pain (LBP) is a pain in lower back area, could be local, radicular or both. LBP ranks as 2nd highest cause of pain after cephalgia, may cause 6 – 7 weeks/year work absence. Indonesian Army which has the duty of keeping Indonesia’s sovereignty, has some risks for LBP that can decrease their duty readiness. This study included 57 respondents, case : control 1:1. Data was analyzed by univariate, bivariate using Chi Square, and multivariate using Logistic Regression analysis. The results showed most LBP is due to HNP (Herniation of the Nucleus Pulposus) (64,9%), mostly in Bintara rank (35%). Variables tested were age (p : 0,039), rank (p : 0,036), physical activity (p : 0,008), smoking habit (p : 0,558), and Body Mass Index (BMI) (p : 0,036). The result of the multivariate analysis demonstrated that heavy physical activity was the most dominant risk factor, with 35,7% probability for LBP. If three major risk factors (heavy physical activity, age above 40 years old, and BMI ≥25) were combined, probability of LBP was increased to 89,9%. Prevention and minimizing risk factors are expected to decrease LBP and work absence among the Indonesian Army.
Defisiensi Adenosine Deaminase Sari Purba, Diana Puspita
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 7 (2017): THT
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (162.271 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v44i7.750

Abstract

Defisiensi enzim adenosine deaminase (ADA) adalah suatu kelainan genetik autosomal resesif.Kondisi ini umum berkaitan dengan kondisi imunodefisiensi yang kompleks dan fatal karena disfungsi sel T, B dan sel natural killer pada bulan – bulan pertama kehidupan. Pada beberapa kasus kondisi ini bermanifestasi pada usia dewasa dan lebih ringan. Variasi manifestasi klinis ini diyakini terkait dengan variabilitas mutasi genetik dan penting diperhatikan dalam diagnosis dan terapi.Adenosine deaminase (ADA) deficiency is an autosomal recessive genetic disorder. This condition typically leads to a severe combined immunodeficiency (SCID) with dysfunction of T, B, and natural killer (NK) cells in the first few months of life. Some cases are with later onset and relatively milder disease. This spectrum of phenotype is largely related to the variability in genetic mutations and poses challenge for diagnosis and therapeutic option for clinician.
ASI Eksklusif sebagai Salah Satu Proteksi terhadap Pneumonia pada Anak Saunders, Ricky
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 7 (2017): THT
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (121.919 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v44i7.755

Abstract

Pneumonia merupakan inflamasi parenkim paru yang sering ditemukan dan menjadi salah satu penyebab kematian terbanyak pada anak. Berbagai penelitian menunjukkan pemberian ASI menurunkan angka morbiditas, jumlah kasus rawat inap, dan mortalitas akibat pneumonia pada anak. Komponen-komponen imunologis dalam ASI berperan penting dalam pencegahan infeksi termasuk pneumonia baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan menjadi salah satu strategi Global Action Plan for Prevention and Control of Pneumonia untuk menurunkan angka kematian anak akibat pneumonia dan insiden pneumonia berat.Pneumonia is an inflammatory condition of lung parenchyma which is common and become one of the highest mortality cause in childhood. Many studies have shown breastfeeding reduced morbidity, hospital-admission, and mortality caused by pneumonia in childhood. Immunological components in the human milk have important direct and indirect role against infection in children including pneumonia. Exclusive breastfeeding for 6 months has been one of the strategies of Global Action Plan for Prevention and Control of Pneumonia in reducing the mortality of childhood pneumonia and incident of severe pneumonia.
Pengaruh Iklim terhadap Insidensi Malaria di Provinsi Lampung -, Apriliana
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 7 (2017): THT
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1127.174 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v44i7.746

Abstract

Malaria merupakan penyakit demam karena infeksi parasit yang ditularkan oleh nyamuk Anopheles betina. Di Indonesia insidensi malaria menurun dari tahun 2010 – 2011, namun di Provinsi Lampung justru meningkat. Faktor lingkungan, khususnya iklim sangat berpengaruh pada sebaran dan kejadiannya, yang mungkin sekali juga terjadi di Provinsi Lampung. Penelitian ini menggunakan analisis regresi linear untuk mengetahui faktor iklim dominan yang mempengaruhi insidensi malaria. Data insidensi malaria per bulan selama 3 tahun (2010 – 2012) diambil dari Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, sedangkan data iklim (curah hujan, hari hujan, temperatur udara, kelembapan udara, arah dan kecepatan angin) didapatkan dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Pada musim hujan periode bulan Januari – April, unsur iklim yang berpengaruh terhadap insidensi malaria adalah arah dan kecepatan angin bulan Januari, Februari, dan April. Pada musim kemarau periode bulan Mei – Oktober, temperatur udara dan kelembapan udara merupakan faktor dominan yang berpengaruh terhadap insidensi malaria. Meningkatnya temperatur sebesar 1oC akan menurunkan insidensi malaria sebesar 0,096‰ [koefisien regresi (β) = -0,096; p = 0,025]. Sebaliknya meningkatnya 1 poin kelembapan akan meningkatkan sebanyak 0,009‰ [(β) = 0,009; p = 0,017]. Pada musim hujan periode bulan November – Desember, unsur iklim yang berpengaruh terhadap insidensi malaria adalah arah dan kecepatan angin bulan Desember. Dapat disimpulkan terdapat perbedaan unsur iklim yang berpengaruh terhadap insidensi malaria pada setiap musim di Provinsi Lampung.Malaria is a fever diseases cause of parasite infected by female Anopheles mosquito. Malaria incidence in Indonesia from 2010 to 2011had decreased, while in Lampung Province showed an increasing pattern. The environment factors, especially climate are very influential to its spreading and incidence, and it is also possible in Lampung Province. The data on malaria incidence per month for 3 years (2010 – 2012) were taken from the Department of Health of the Lampung Province, while climate data (rain fall, rain days, temperature, humidity, wind direction and wind velocity) were obtained from the Meteorology, Climatology and Geophysics Agency (BMKG). Linear regression was used to determine the dominant factors related to the malaria incidence. In January until April rainy season period, climate factors that influenced malaria incidence are wind direction and wind velocity in January, February, and April. In May until October dry season period, temperature and air humidity are the dominant factors on malaria incidence. The increase of 1oC of air temperature will reduce the malaria incidence by 0,096‰ [regression coefficient (β) = -0,096; p = 0,025]. While the increase of one point of air humidity will increase the malaria incidence by 0,009‰ [(β) = 0,009; p = 0,017]. In November until December rainy season period, climate factors that influence malaria incidence are wind direction and wind velocity in December. This research concludes that the influence of climate on malaria incidence in Lampung Province is different in every season.
Reaksi Reversal pada Release From Treatment Morbus Hansen Multibasiler (MB) Calistania, Chrysilla; Kunta Adjie, Hendrik
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 7 (2017): THT
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.815 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v44i7.751

Abstract

Introduksi Terdapat dua jenis reaksi kusta, yaitu reaksi tipe 1(reaksi reversal) dan reaksi tipe 2 (reaksi ENL). Reaksi reversal setelah selesai pengobatan penting dibedakan dari relaps mengingat penatalaksanaannya berbeda. Kasus Pria, 30 tahun asal Sumbawa, dengan keluhan nyeri dan mati rasa pada jari manis dan kelingking tangan kanan mendadak disertai membengkoknya kedua jari tersebut. Pasien sudah didiagnosis kusta sekitar 2 tahun dan telah menyelesaikan pengobatan MDT-MB selama 1 tahun. Didapatkan lesi infiltrat eritematosa, sirkumskrip, ukuran lentikuler pada lengan kanan bawah; clawing dan gangguan fungsi sensorik-motorik pada digiti IV-V manus dekstra; pembesaran nervus auricularis magnus dekstra dan nervus ulnaris dekstra dengan konsistensi keras disertai nyeri. Pasien diterapi prednison selama 12 minggu (tapering off). Didapatkan perbaikan kondisi klinis bermakna. Simpulan Diagnosis dan tatalaksana yang tepat penting untuk mencegah disabilitas permanen akibat reaksi kusta. Reaksi kusta berespon sangat baik terhadap prednison.Introduction There are two types of leprosy reactions, type-1 reaction (reversal reaction) and type-2 reaction (ENL reaction). Reversal reaction after medical treatment completion is crucial to be differentiated from relapse, considering the difference of management. Case Male, 30 years old, Sumbawa origin, with sudden pain and numbness on his right fourth and fifth fingers followed by clawing. The patient was already diagnosed with leprosy since 2 years and has completed MDT-MB. Erythematous, circumscribed, lenticular sized infiltrate lesions was found in the lower arm; clawing as well as sensory and motor deficit in right fourth and fifth fingers; hard enlargement of right great auricular and ulnar nerve with pain. Patient was treated with prednisone for 12 weeks (tapering off). The patient’s clinical conditions was significantly improved. Conclusion Accurate diagnosis and management are indispensable to prevent permanent disability caused by leprosy reaction. Leprosy reaction during release from treatment responds especially well on prednisone administration.
Celecoxib sebagai Terapi Add-on pada Depresi Renita Sanyasi, Rosa De Lima; Taslim Pinzon, Rizaldy
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 7 (2017): THT
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (116.974 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v44i7.756

Abstract

Latar Belakang: Depresi merupakan gangguan suasana perasaan yang sering ditemukan. Banyak pasien depresi tidak memberikan respon baik terhadap terapi anti-depresan standar. Celecoxib, obat golongan penghambat COX 2, dapat digunakan sebagai terapi add-on. Tujuan: Mengetahui manfaat celecoxib sebagai terapi add on pada depresi. Pembahasan: Depresi memiliki kaitan erat dengan proses inflamasi, yang ditunjukkan dengan peningkatan kadar CRP dan sitokin pro-inflamasi, khususnya IL-6, IL-1, serta TNF-. Celecoxib bekerja menghambat sintesis PG, sehingga tidak terbentuk metabolit aktif PG yaitu PGE2 yang berperan dalam patofisiologi depresi. Celecoxib juga dapat meningkatkan neurotransmitter serotonin dan noradrenalin di SSP dan menekan aktivitas berlebih aksis HPA. Celecoxib sebagai terapi add on mengurangi skor HDRS, menurunkan kadar IL-6 serum, menunjukkan tingkat respon dan remisi lebih baik daripada anti-depresan tunggal atau plasebo. Dosis celecoxib yang paling sering digunakan untuk efek anti-depresan adalah 400 mg/hari selama 6 minggu. Celecoxib dapat ditoleransi dengan baik pada mayoritas pasien. Simpulan: Celecoxib efektif menurunkan gejala depresi, menurunkan konsentrasi sitokin pro-inflamasi dalam darah, menurunkan skor HDRS, dan dapat ditoleransi dengan baik.Background: Depression is the most frequent mood disorder. Many depression patients are not responsive to standard anti-depressant. Celecoxib, a COX-2 inhibitor, can be used as add-on therapy. Objective : To learn the benefits of celecoxib as add-on therapy for depression. Discussion : Depression is related to inflammatory processes, indicated by the elevated level of CRP and pro-inflammatory cytokines, such as IL-6, IL-1, and TNF-α. Celecoxib works by inhibiting the synthesis of PG, so no active metabolite PGE2 which has an important role in depression pathophysiology, is produced. Celecoxib also increases the production of serotonin and noradrenalin in the CNS and suppress the hyperactivity of HPA axis. Previous studies proved celecoxib as an add-on therapy reduced HDRS score, lowered the level of IL-6, increased the response and remission rate, better than placebo or a single anti-depressant. The most frequent dosage was 400mg/day for 6 weeks. Celecoxib is proved to be well tolerated in the majority of patients. Conclusion : Celecoxib is effective in reducing depression symptoms, blood pro-inflammatory cytokines concentration, HDRS score, and well tolerated.
Talakasana Otitis Media Efusi pada Anak Aquinas, Rimelda
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 7 (2017): THT
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (481.439 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v44i7.747

Abstract

Otitis media efusi (OME) adalah proses inflamasi mukosa telinga tengah ditandai dengan cairan purulen di telinga tengah tanpa tanda infeksi akut. Diketahui 90% anak- anak di bawah usia 10 tahun pernah sekurangnya satu kali menderita OME. Setiap tahun, biaya pengobatan OME mencapai 2 hingga 4 milyar USD. OME dapat mengakibatkan gangguan perkembangan anak, seperti gangguan pendengaran, berbicara, berbahasa, komunikasi, performa di sekolah, dan inteligensia. OME merupakan alasan operasi pada anak-anak. Diagnosis OME sedini mungkin penting agar perkembangan anak berjalan baik.Otitis media with effusion (OME) is an inflammation in the middle ear mucosa characterized by accumulation of purulent ear fluid without symptoms or signs of acute infection. Up to 90% of children will experience OME at least once by the age of 10 years. About $2 billion to $4 billion per year is spent for treating OME. OME can influence child development such as hearing, speech, language, communication, school performance, and intelligence. Early diagnosis should facilitate better child development. 
Tetanus pada Anak Tanpa Imunisasi DPT Lengkap Yusufina Lubis, Marini; Umar Lubis, Nuchsan
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 7 (2017): THT
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.03 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v44i7.752

Abstract

Tetanus adalah penyakit dengan tanda utama kekakuan otot tanpa gangguan kesadaran. Gejala ini disebabkan oleh tetanospasmin, neurotoksin yang dihasilkan oleh kuman basil anaerob Clostridium tetani. Generalized tetanus sering dijumpai dengan karakteristik peningkatan tonus otot dan spasme umum. Gejala pertama biasanya kesulitan membuka mulut (trismus atau lock jaw. Pencegahan tetanus dengan imunisasi DPT agar kejadian tetanus di Indonesia dapat dikurangi.Tetanus is a disease characterized by generalized increased rigidity and convulsive spasm of skeletal muscles without consciousness disturbances. The condition caused by tetanospasmin, neutoroxin produced by anaerobic bacillus Clostridium tetani. Generalized tetanus is commonly found with increasing muscular contractions and spasm, usually begin in the jaw (trismus or lock jaw), neck and later generalized. Tetanus can be reduced by DPT immunizations.

Page 1 of 3 | Total Record : 23


Filter by Year

2017 2017


Filter By Issues
All Issue Vol 50 No 11 (2023): Pediatri Vol 50 No 10 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 9 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 8 (2023): Dermatiologi Vol 50 No 7 (2023): Kardiovaskular Vol 50 No 6 (2023): Edisi CME Vol 50 No 5 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 4 (2023): Anak Vol 50 No 3 (2023): Kardiologi Vol 50 No 2 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 1 (2023): Oftalmologi Vol 49, No 4 (2022): Infeksi - COVID-19 Vol 49 No 12 (2022): Dermatologi Vol. 49 No. 11 (2022): Neurologi Vol 49 No 10 (2022): Oftalmologi Vol. 49 No. 9 (2022): Neurologi Vol. 49 No. 8 (2022): Dermatologi Vol 49, No 7 (2022): Vitamin D Vol 49 No 7 (2022): Nutrisi - Vitamin D Vol 49 No 6 (2022): Nutrisi Vol 49, No 6 (2022): Nutrisi Vol 49, No 5 (2022): Jantung dan Saraf Vol 49 No 5 (2022): Neuro-Kardiovaskular Vol 49 No 4 (2022): Penyakit Dalam Vol 49 No 3 (2022): Neurologi Vol 49, No 3 (2022): Saraf Vol 49 No 2 (2022): Infeksi Vol 49, No 2 (2022): Infeksi Vol 49 (2022): CDK Suplemen-2 Vol 49 (2022): CDK Suplemen-1 Vol 49 No 1 (2022): Bedah Vol 49, No 1 (2022): Bedah Vol 48 No 11 (2021): Penyakit Dalam - COVID-19 Vol 48, No 7 (2021): Infeksi - [Covid - 19] Vol 48 No 1 (2021): Infeksi COVID-19 Vol. 48 No. 10 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 4 Vol 48 No 8 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 3 Vol 48 No 5 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 2 Vol. 48 No. 2 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 1 Vol 48 No 12 (2021): Penyakit Dalam Vol 48, No 12 (2021): General Medicine Vol 48, No 11 (2021): Kardio-SerebroVaskular Vol 48, No 10 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 9 (2021): Neurologi Vol 48, No 9 (2021): Nyeri Neuropatik Vol 48, No 8 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 7 (2021): Infeksi Vol 48 No 6 (2021): Kardiologi Vol 48, No 6 (2021): Kardiologi Vol 48, No 5 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 4 (2021): Dermatologi Vol 48, No 4 (2021): Dermatologi Vol 48, No 3 (2021): Obstetri dan Ginekologi Vol. 48 No. 3 (2021): Obstetri - Ginekologi Vol 48, No 2 (2021): Farmakologi - Vitamin D Vol 48, No 1 (2021): Penyakit Dalam Vol 47, No 12 (2020): Dermatologi Vol 47, No 11 (2020): Infeksi Vol 47, No 10 (2020): Optalmologi Vol. 47 No. 10 (2020): Dermatologi Vol 47 No 9 (2020): Infeksi Vol 47, No 9 (2020): Neurologi Vol 47, No 8 (2020): Kardiologi Vol. 47 No. 8 (2020): Oftalmologi Vol. 47 No. 7 (2020): Neurologi Vol 47, No 7 (2020): Bedah Vol 47 No 6 (2020): Kardiologi & Pediatri Vol. 47 No. 5 (2020): Bedah Vol 47, No 5 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol. 47 No. 4 (2020): Interna Vol 47, No 4 (2020): Arthritis Vol. 47 No. 3 (2020): Dermatologi Vol 47, No 3 (2020): Dermatologi Vol 47, No 2 (2020): Penyakit Infeksi Vol 47 No 2 (2020): Infeksi Vol 47, No 1 (2020): Bedah Vol 47 No 1 (2020): Bedah Vol 47, No 1 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol. 46 No. 7 (2019): Continuing Medical Education - 2 Vol 46 No 12 (2019): Kardiovakular Vol 46, No 12 (2019): Kardiovaskular Vol 46, No 11 (2019): Kesehatan Anak Vol. 46 No. 11 (2019): Pediatri Vol 46, No 10 (2019): Farmasi Vol. 46 No. 10 (2019): Farmakologi - Continuing Professional Development Vol 46 No 9 (2019): Neurologi Vol 46, No 9 (2019): Neuropati Vol 46, No 8 (2019): Kesehatan Anak Vol. 46 No. 8 (2019): Pediatri Vol 46, No 7 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 46, No 6 (2019): Diabetes Mellitus Vol 46 No 6 (2019): Endokrinologi Vol. 46 No. 5 (2019): Pediatri Vol 46, No 5 (2019): Pediatri Vol. 46 No. 4 (2019): Dermatologi Vol 46, No 4 (2019): Dermatologi Vol 46, No 3 (2019): Nutrisi Vol. 46 No. 3 (2019): Nutrisi Vol. 46 No. 2 (2019): Interna Vol 46, No 2 (2019): Penyakit Dalam Vol 46, No 1 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 46, No 1 (2019): Obstetri - Ginekologi Vol 46 No 1 (2019): Obstetri-Ginekologi Vol 45, No 12 (2018): Farmakologi Vol 45 No 12 (2018): Interna Vol. 45 No. 11 (2018): Neurologi Vol 45, No 11 (2018): Neurologi Vol. 45 No. 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45 No 9 (2018): Infeksi Vol 45, No 9 (2018): Infeksi Vol. 45 No. 8 (2018): Dermatologi Vol 45, No 8 (2018): Alopesia Vol 45, No 7 (2018): Onkologi Vol 45 No 7 (2018): Onkologi Vol. 45 No. 6 (2018): Interna Vol 45, No 6 (2018): Penyakit Dalam Vol 45, No 5 (2018): Nutrisi Vol. 45 No. 5 (2018): Nutrisi Vol 45, No 4 (2018): Cedera Kepala Vol 45 No 4 (2018): Neurologi Vol 45, No 4 (2018): Cidera Kepala Vol. 45 No. 3 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 3 (2018): Muskuloskeletal Vol. 45 No. 2 (2018): Urologi Vol 45, No 2 (2018): Urologi Vol 45 No 1 (2018): Dermatologi Vol 45, No 1 (2018): Suplemen Vol 45, No 1 (2018): Dermatologi Vol 44, No 12 (2017): Neurologi Vol 44, No 11 (2017): Kardiovaskuler Vol 44, No 10 (2017): Pediatrik Vol 44, No 9 (2017): Kardiologi Vol 44, No 8 (2017): Obstetri-Ginekologi Vol 44, No 7 (2017): THT Vol 44, No 6 (2017): Dermatologi Vol 44, No 5 (2017): Gastrointestinal Vol 44, No 4 (2017): Optalmologi Vol 44, No 3 (2017): Infeksi Vol 44, No 2 (2017): Neurologi Vol 44, No 1 (2017): Nutrisi Vol 43, No 12 (2016): Kardiovaskular Vol 43, No 11 (2016): Kesehatan Ibu - Anak Vol 43, No 10 (2016): Anti-aging Vol 43, No 9 (2016): Kardiovaskuler Vol 43, No 8 (2016): Infeksi Vol 43, No 7 (2016): Kulit Vol 43, No 6 (2016): Metabolik Vol 43, No 5 (2016): Infeksi Vol 43, No 4 (2016): Adiksi Vol 43, No 3 (2016): Kardiologi Vol 43, No 2 (2016): Diabetes Mellitus Vol 43, No 1 (2016): Neurologi Vol 42, No 12 (2015): Dermatologi Vol 42, No 11 (2015): Kanker Vol 42, No 10 (2015): Neurologi Vol 42, No 9 (2015): Pediatri Vol 42, No 8 (2015): Nutrisi Vol 42, No 7 (2015): Stem Cell Vol 42, No 6 (2015): Malaria Vol 42, No 5 (2015): Kardiologi Vol 42, No 4 (2015): Alergi Vol 42, No 3 (2015): Nyeri Vol 42, No 2 (2015): Bedah Vol 42, No 1 (2015): Neurologi Vol 41, No 12 (2014): Endokrin Vol 41, No 11 (2014): Infeksi Vol 41, No 10 (2014): Hematologi Vol 41, No 9 (2014): Diabetes Mellitus Vol 41, No 8 (2014): Pediatrik Vol 41, No 7 (2014): Kardiologi Vol 41, No 6 (2014): Bedah Vol 41, No 5 (2014): Muskuloskeletal Vol 41, No 4 (2014): Dermatologi Vol 41, No 3 (2014): Farmakologi Vol 41, No 2 (2014): Neurologi Vol 41, No 1 (2014): Neurologi More Issue