Cermin Dunia Kedokteran
Cermin Dunia Kedokteran (e-ISSN: 2503-2720, p-ISSN: 0125-913X), merupakan jurnal kedokteran dengan akses terbuka dan review sejawat yang menerbitkan artikel penelitian maupun tinjauan pustaka dari bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat baik ilmu dasar, klinis serta epidemiologis yang menyangkut pencegahan, pengobatan maupun rehabilitasi. Jurnal ini ditujukan untuk membantu mewadahi publikasi ilmiah, penyegaran, serta membantu meningkatan dan penyebaran pengetahuan terkait dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Terbit setiap bulan sekali dan disertai dengan artikel yang digunakan untuk CME - Continuing Medical Education yang bekerjasama dengan PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia)
Articles
25 Documents
Search results for
, issue
"Vol 45, No 11 (2018): Neurologi"
:
25 Documents
clear
Therapeutic Effect of Avocatin B in Avocados Toward Acute Myeloid Leukemia
Rima Sutiono, Dias;
Ryan Pantoni, Anthony
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 11 (2018): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (485.75 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v45i11.564
Acute myeloid leukemia is the abnormal division of immature myeloid precursor cells in the bone marrow affecting mostly older people. Till date, there are no potent treatments due to the fact that it cannot target leukemic stem cells which are responsible for relapse and initiation of leukemia. Current treatments can also pose side effects that might to be too harsh for older people. Avocatin B is a lipid derived from avocado that can be a novel potent drug to replace or go along with the current therapies. Avocatin B is able to induce leukemic cell death and their stem cells while leaving normal cells unharmed. Their mechanisms of actions include inhibiting fatty acid oxidation which causes reactive oxygen species mediated apoptosis and lipotoxicity. Their selectivity towards leukemic cells over normal cells are due to the fact that they are able to target leukemic mitochondria which are different from the normal cells’ mitochondria in terms of their metabolic pathways.Leukemia myeloid akut merupakan sel precursor myeloid dalam sumsum tulang dewasa yang abnormal. Hingga saat ini, belum ada terapi yang tepat untuk leukemia myeloid akut. Avocatin B adalah lipid yang berasal dari alpukat, dapat menjadi obat baru atau digabungkan dengan terapi saat ini. Avocatin B mampu menginduksi kematian sel leukemia dan sel induknya. Mekanisme Avocation B meliputi penghambatan oksidasi asam lemak yang menyebabkan oksigen reaktif memediasi apoptosis dan lipotoksisitas. Selektivitas avocatin B terhadap sel-sel leukemia karena dapat menarget mitokondria penderita leukemia yang berbeda jalur metabolisme dari mitokondria sel-sel normal.
Metode Diagnostik Dermatitis Kontak Protein
Suryawati, Nyoman;
Paramita, Christiana
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 11 (2018): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (610.005 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v45i11.575
Dermatitis kontak protein (DKP) adalah reaksi alergi pada kulit yang dipicu oleh protein berasal dari tanaman atau hewan. DKP merupakan dermatitis kontak tipe cepat dipicu oleh protein bermolekul tinggi diduga suatu reaksi hipersensitivitas tipe I atau gabungan reaksi hipersensitivitas tipe I dan IV. DKP penting dipertimbangkan sebagai diagnosis banding dermatitis kronis pada tangan terutama pada individu dengan pekerjaan berisiko tinggi kontak dengan protein. Tes tusuk merupakan metode diagnostik baku emas. Penatalaksanaan DKP yang utama adalah menghindari alergen penyebab dan terapi topikal kortikosteroid potensi tinggi.Protein contact dermatitis (PCD) is an allergic skin reaction induced principally by proteins of either animal or plant origin. PCD is immediate contact reaction caused by protein of greater molecular weight with possible type 1 immediate hypersensitivity reaction or a combined type 1 and type 4 hypersensitivity reaction. It is important to consider PCD as clinical differential diagnosis of chronic hand dermatitis, especially in high risk occupation contact with protein. Clinical presentation PCD is chronic recurrent dermatitis involving hand and forearms. Prick test is a gold standard test for PCD. The primary step of treatment is avoidance particular allergen and high-potency corticosteroids topical agents.
Potensi Antibakterial Nilam Aceh (Pogostemon cablin Benth.)
Reiza, Yaumil
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 11 (2018): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (548.493 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v45i11.560
Nilam aceh (Pogostemon cablin Benth.) menghasilkan minyak atsiri yang dinamai minyak nilam. Kon¬stituen utama minyak nilam yang berperan sebagai antibakterial adalah alkohol nilam dan pogostone. Penelitian telah menunjukkan efektivitas nilam aceh dalam menghambat berbagai spesies bakteri Gram-positif dan Gram-negatif. Target kerjanya adalah menghambat penicillin-binding proteins (PBP), dihidrofolat sintetase (DHPS), dihidrofolat reduktase (DHFR), DNA girase, dan RNA polimerase yang diperlukan dalam biosintesis berbagai struktur bakteri.Patchouli (Pogostemon cablin Benth.) produces an essential oil called patchouli oil. Main constituents of patchouli oil that acts as antibacterial are patchouli alcohol and pogostone. Studies have demonstrated the effectiveness of patchouli against various species of Gram-positive and Gram-negative bacteria. Its mechanism of action is targeting penicillin-binding proteins (PBP), dihydrofolate synthetase (DHPS), dihydrofolate reductase (DHFR), DNA gyrase, and RNA polymerase that are required in biosynthesis of various bacterial structures.
Evaluasi dan Manajemen Sinkop di Instalasi Gawat Darurat
-, Sukamto
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 11 (2018): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (714.459 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v45i11.576
Sinkop didefiniskan sebagai hilang kesadaran sementara disebabkan hipoperfusi otak global, onset tiba-tiba dan pemulihan spontan. Sinkop sering ditemui di Instalasi Gawat Darurat (IGD). Diagnosis banding sinkop sangat luas dan manajemennya sangat tergantung etiologi utamanya. Kasus sinkop menjadi tantangan bagi dokter umum di IGD untuk memilah pasien yang aman untuk rawat jalan atau perlu evaluasi lanjutan dan rawat inap karena dapat membahayakan.Syncope is defined as a transient loss of consciousness due to cerebral hypoperfusion with spon-taneous return to baseline function without intervention. It is a common chief complaint in emergency ward. The differential diagnosis for syncope is broad and the management varies significantly depending on the underlying etiology. In the emergen¬cy department, syncope presents a challenge to general practitioner to differentiate patients safe for discharge from those who require emer¬gency evaluation and in-hospital management for potentially life-threatening etiologies.
Respons Sistem Imun pada Epilepsi
Juwita Endrawati, Komang
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 11 (2018): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (723.697 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v45i11.561
Epilepsi merupakan kondisi kronis dengan penyebab multifaktorial. Jumlah pasien resisten obat sekitar 20-40% diduga akibat keterlibatan peran imun dalam epileptogenesis. Beberapa komponen imunitas neuron berperan pada patogenesis epilepsi dan penggunaan obat anti epilepsi berpengaruh pada sistem imun. Obat anti epilepsi bersifat imunosupresan; imunitas innate dan adaptif berubah bermakna saat dan setelah kejang.Epilepsy is a chronic condition with multifactorial causes. Aproximately 20-40% patients are drug resistant thought to be due to role of immunity in epileptogenesis. Some components of immunity in neurons play a role in the pathogenesis of epilepsy. Anti-epilepsy drugs are immunosuppressive; innate; adaptive immunity changes significantly during and after seizures.
Efek Penambahan Laktulosa Pada Susu Formula Bayi: Tinjauan Sistematik
Damayanti, Moretta;
Rusli Sjarif, Damayanti
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 11 (2018): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (519.075 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v45i11.567
Pendahuluan: Salah satu komponen terbesar dalam air susu ibu (ASI) adalah oligosakarida. Oligosakarida berperan penting pada saluran cerna bayi melalui efek prebiotiknya. Laktulosa sebagai salah satu oligosakarida sintetis, telah dikategorikan sebagai prebiotik dan memiliki efek menyerupai ASI dalam hal mengubah komposisi mikrobiota usus. Metode: Tinjauan sistematis efek penambahan laktulosa ke dalam susu formula bayi. Hasil: Laktulosa bisa memperbaiki konsistensi dan frekuensi tinja, hingga menyerupai tinja bayi yang mendapat ASI. Efek simpang campuran prebiotik yang sering ditemui adalah diare, kembung dan muntah. Simpulan: Masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk merekomendasikan penambahan laktulosa secara rutin pada susu formula bayi.Introduction. One of the largest components of breast milk is human milk oligosaccharides (HMO). These components play an important role in the infant gastrointestinal tract based on their prebiotic effect. Lactulose is one of synthetic oligosaccharides, categorized as prebiotic; its effect resembles breastmilk in altering intestinal microbiota composition. Method. A systematic review on the effects of lactulose addition to infant formula. Results. Our search indicates that lactulose can improve the consistency and frequency of feces to resemble the stools of breast-fed infants. Adverse effects of mixed prebiotics are diarrhea, bloating and vomiting. Conclusion. Further research is still needed. Routine addition of lactulose in infant formula is not yet recommended.
Tatalaksana Status Epileptikus di Instalasi Gawat Darurat
Prasetyo, Agung;
Prasetyo, Bowo Hery
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 11 (2018): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (714.459 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v45i11.577
Status epileptikus merupakan suatu kondisi kegawatdaruratan neurologis dengan morbiditas dan mortalitas tergantung durasi bangkitan. Tujuan terapi status epileptikus adalah penghentian segera aktivitas serangan agar mengurangi mortalitas dan morbiditas. Pedoman saat ini merekomendasikan benzodiazepin sebagai terapi lini pertama, fosfenitoin, asam valproat dan levetirasetam sebagai terapi lini kedua, serta agen anastesi sebagai terapi lini ketiga.Status epilepticus is a neurologic emergency with morbidity and mortality that depends on the duration of seizures. The goal of status epilepticus therapy is immediate cessation of seizure activity which will reduce mortality and morbidity. Current guideline recommend the use of benzodiazepines as first-line therapy, phosphenitoin, valproic acid and levetiracetam as second-line therapy and anesthetic agents as third-line therapy.Â
Hidrosefalus dan Tatalaksana Bedah Sarafnya
Rangga Permana, Khrisna
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 11 (2018): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (542.25 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v45i11.562
Hidrosefalus merupakan kondisi penumpukan carian serebrospinal (CSS) mengakibatkan peningkatan tekanan intrakranial (TIK) dan juga penekanan jaringan normal sekitar. Hidrosefalus dapat akibat gangguan produksi, aliran atau penyerapan CSS. Prevalensi hidrosefalus sekitar 3 tiap 1000 kelahiran. Penanganan dengan shunt atau pengaliran ke tempat lain melalui teknik ETV (endoscopic third ventriculostomy).Hydrocephalus is a condition when cerebrospinal fluid (CSF) build-up results in increased intracranial pressure (ICP) and suppression to normal surrounding tissue. Hydrocephalus may occur due to interference with the production, flow or absorption of CSF. The prevalence is about 3 per 1000 births. CSS excess is managed by shunt or drainage through ETV (endoscopic third ventriculostomy).
Intoleransi Makanan pada Neonatus Kurang Bulan
Handayani Ardy, Nurul;
Sianturi, Pertin
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 11 (2018): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (492.433 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v45i11.570
Intoleransi makanan adalah masalah pencernaan yang paling umum pada bayi prematur saat menyusui. Intoleransi makanan akan menyebabkan kurangnya nutrisi neonatus sehingga mempengaruhi proses pertumbuhan. Mekanisme intoleransi makanan tidak jelas tetapi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor fisiologis seperti pematangan motilitas saluran pencernaan, penundaan pengosongan lambung, saluran pencernaan dan penyerapan yang belum matang. Intoleransi makanan juga berhubungan dengan morbiditas seperti sepsis neonatal dan Necrotizing Enterocolitis (NEC).Food intolerance is the most common digestive problems in preterm infants during breastfeeding. Infant with food intolerance will get less nutrients thus affecting growth. The exact mechanism of food intolerance may be affected by several physiological factors such as maturation of the gastrointestinal tract motility, delayed gastric emptying, gastrointestinal tract and malabsorption. Food intolerance is also associated with morbidity such as neonatal sepsis and necrotizing enterocolitis (NEC)
Aturan Papan Praktik
Paranadipa M, Mahesa
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 11 (2018): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (461.483 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v45i11.578
Pada pasal 7 UU No.36 tahun 2009 tentang Kesehatan disebutkan : Setiap orang berhak untuk mendapatkan informasi dan edukasi tentang kesehatan yang seimbang dan bertanggung jawab. Dan jika mengenai informasi publik, kita telah memiliki Undang-Undang No. 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik.